الاثنين، 6 يوليو 2020

Penegasan (Itsbat) dan Penafian (Nafy); Prinsip Utama dalam Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqih dan Ilmu Akhlak (Tasawuf Sunni/Atsari). Bagian 1.

Penegasan (Itsbat) dan Penafian (Nafy); Prinsip Utama dalam Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqih dan Ilmu Akhlak (Tasawuf Sunni/Atsari). Bagian 1.

By. Idrus Abidin.

Islam adalah perpaduan antara akidah, ibadah dan akhlak (tauhid, fiqih dan adab). Akidah adalah kumpulan informasi seputar masalah ghaib yang membutuhkan sikap penerimaan dari manusia dengan cara membenarkannya. Sikap membenarkan informasi ghaib inilah yang disebut iman. Sedang menolak dan tidak percaya kepada informasi ghaib ini disebut kufur. Prinsip penerimaan dan penolakan ini ternyata mencakup semua bidang studi dalam ranah intelektual Islam, terutama :

1. Tauhid; karena ia merupakan perpaduan Antara Kepercayaan (itsbat) dan Penolakan (nafy).

2. Melaksanakan Perintah dan Menjauhi Larangan; Wujud Utama Penegasan (itsbat) dan Penafian (nafy) dalam Ranah Fiqih Islam. 

3. Membuang Karakter Buruk (Takhliyah) dan Menghiasi Diri dengan Karakter Terpuji (Tahliyah) ; Konsep Dasar Ilmu Akhlak (Tasawuf).

4. Loyalitas Terhadap Kebenaran (Wala') dan Sikap Disloyalitas Terhadap Keburukan (Bara') ; Intisari Kalimat Tauhid.

Tulisan ini berusaha membahas hal-hal tersebut di atas dalam beberapa seri; in syaa Allah. Semoga Allah mudahkan dengan Taufiq dan hidayahNya. Aamiin

Tauhid; Perpaduan Antara Kepercayaan dan Penolakan.

Salah satu informasi ghaib (aqidah) yang sebenarnya wajib diimani adalah masalah tauhid. Sehingga ada yang menyebutnya dengan istilah akidah at-Tauhid. Artinya, tauhid adalah bagian akidah; bahkan tauhid ini adalah inti sari akidah itu sendiri. Maka disebutlah tauhid sebagai prioritas utama dalam tangga kewajiban makhluk (awjabul wajibat). 

Karena tauhid merupakan informasi tentang kesempurnaan Allah dan kesucianNya dari berbagai kelemahan. Maka masalah tauhid harus dipadukan antara penegasan atas segala kesempurnaanNya itu dengan tahmid; disertai pengingkaran terhadap tuduhan kelemahan dariNya dengan tasbih (tanzih). Sebagai contoh, surat Al-Ikhlas sebagai ayat yang berbicara tentang kemurnian iman kepada Allah ta'alaa memuat tasbih dan tahmid secara utuh. Pada firmanNya, qul huwallahu Ahad (katakanlah Allah itu esa) Allahu ash-Shamad (Allah maha kaya; tempat bergantung semua mahluk). Kedua ayat tersebut menegaskan kesempurnaan Allah dari sisi keunikan dan kesaanNya (Tahmid). Sementara bunyi ayat setelahnya, lam yalid walan yulad (tidak beranak dan tidak diperanakkan). Ayat ini menegaskan perbedaan dan keunikan (keesaan) serta keistimewaan Allah dibanding makhlukNya, termasuk kekayaanNya sehingga tidak butuh anak dan istri layaknya makhluk. Jika makhluk berpasangan (zaujiyyah), maka Allah unik dan esa; tidak mengenal dan tidak butuh pasangan. Keunikan, keesaan dan kekayaanNya inilah yang ditegaskan kembali dengan firmanNya, walam yakun lahu kufuwan Ahad (tidak ada siapapun yang setara dan mirip apalagi selevel denganNya. Artinya, menegaskan (itsbat) kesaanNya dan KekayaanNya merupakan keharusan. Demikian pula menafikan kebutuhanNya kepada anak dan istri juga wajib (nafy). Penafian ini bukan penafian mutlak, tetapi mengandung penegasan makna sebaliknya. Penegasan di sini adalah sikap membenarkan informasi Allah tentang kesempurnaanNya. Sedang Penafian merupakan bentuk pengingkaran terhadap kelemahan yang dituduhkan makhluk kepadaNya. Itulah sikap yang tepat dan proporsional dalam menyikapi berita; terutama berita langit (Wahyu). Karena berita memang sejatinya adalah sesuatu yang mengandung kejujuran/kebenaran atau kebohongan/hoaks. Dalam istilah agama disebut Khabar. Lawannya adalah insya'; yaitu ucapan yang mengandung perintah atau larangan. Perintah dan larangan ini akan dibahas nanti  pada ranah fiqih atau tauhid praktis. 

Itulah prinsip umum dalam berinteraksi dengan ayat-ayat tauhid. Agar makin tegas, ketika Allah menegaskan Dia bertangan, bersemayam di atas Arasy, berfirman (berbicara) sesuai dengan keagunganNya; lalu diingkari oleh manusia, tentu sikap tersebut termasuk bentuk penyimpangan (ilhad). Walaupun ditakwilkan dengan beragam penafsiran, bahkan diserahkan pemaknaannya kepada Allah dengan metode tafwid. Takwil dipastikan merusak keimanan terhadap informasi Allah dan rasulNya tentang diriNya. Sedangkan tafwid makna (bukan tafwid kaifiyah) menganggap dan menuduh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidak memahami makna firman Allah. Terutama mereka yang beranggapan bahwa ayat seputar sifat Allah itu katanya masuk kategori ayat yang tidak jelas (mutasyabihat). Belum lagi konsekwensi buruk berupa sikap mengeliminasi Wahyu dari pemaknaa dan kandungannya yang disebut ta'thil. Ditambah dengan sikap demikian termasuk mendahulukan rasio dan nalar yang serba terbatas melampaui persfektif Wahyu yang tak berbatas. Sehingga akal sudah dianggap referensi yang menentukan pemaknaan Wahyu melampaui otoritas Wahyu yang tak mungkin salah. Padahal, pada perkara akidah tauhid, akal hanya sebatas alat memahami (fungsional dan bukan referensi). Karena demikianlah posisi akal ditempatkan Allah ketika berhadapan dengan Wahyu. 

Di sinilah pentingnya pemahaman Salaf (Atsariyah) seputar tauhid dan akidah demi menjaga orisinilitas tauhid; walaupun sering dibenturkan dengan imam besar seperti imam Gazali, imam Ibnu Hajar al-Asqalani, imam Nawawi rahimahumullah dan imam-imam lain dari kelompok Maturidiyah. Bagi kami, mendahulukan ucapan Allah dan rasulNya lebih penting dibandingkan kebesaran tokoh-tokoh ulama (Iytsar al-Haqq 'ala al-Khalq). Beradab terhadap para alim ulama tidak berarti menerima segala ucapan mereka. Atau, tidak menerima pendapat mereka pada bagian kecil masalah tauhid tidak berarti tidak menghargai mereka. Tidak beradab kepada ulama artinya merusak citra pribadi dan wibawa mereka; bukan tidak menerima pendapat mereka. Maka pendapat ulama masa lalu tetap bisa dikritisi seperti layaknya dalam bab fikih dan Ushul, tapi yang tidak boleh adalah merusak citra pribadi dan kehormatan mereka sebagai ulama dan referensi ummat. Keduanya harus dibedakan. Itulah makna ucapan, raf'u al-Malam 'an Aimmati al-'A'lam. Maka, jangan heran kadang ulama digunakan karyanya dlm bidang akidah tauhid, tapi di bidang fikih tidak. Kadang pula di bidang fikih, ada ulama dianggap ulama Syi'ah malahan; tapi tetap dipelajari kitabnya. Seperti imam ash-Shan'ani misalnya, beliau Syi'ah Zaidiyah, tapi bukunya; Subulussalam dianggap kitab terbaik dalam bidang Syarah hadits Bulugul Maram dalam bidang perbandingan Mazhab. Demikianlah keadilan dalam dunia intelektual harus ditegakkan. 

Kesimpulan.

Ditinjau dari sisi ilmu tauhid, ternyata tauhid terbagi dua :

1. Tauhid Ilmu dan Informasi (Tauhid Ilmi/Khabari). Seperti yang terdapat pada surat Al ikhlas. Inilah yang sedang kita bahas pada status kali ini.

2. Tauhid Praktis (Thalabi/Irady). Seperti firmanNya, Qul ya ayyuhal kafirun (wahai orang-orang kafir), la i'budu maa ta'budun  (saya tidak akan menyembah tuhan yang kalian sembah) wa laa antum 'abiduna maa a'bud (dan kalian pun tidak perlu menyembah Tuhan yang kami sembah), lakum dinukum waliya din (agamamu agamamu, agamaku agamaku) tidak ada kerjasama dalam bidang ibadah dan akidah dengan non muslim secara mutlak selamanya. Masalah ini akan dibahas pada status berikutnya in syaa Allah. Wallahu a'lam.

Jakarta, Selasa, 17 Maret 2020.

Mahligai Rumah Tangga antara Impian dan Kenyataan.

Mahligai Rumah Tangga antara Impian dan Kenyataan.

Oleh : Idrus Abidin.

Mahligai keluarga adalah siklus kehidupan yang pasti  umumnya manusia akan melewati setiap ruas-ruas dan episode yang ada di dalamnya. Namun, sebelum masa itu datang, beribu gambaran dalam benak menjadi bagian dari khayalan. Setiap kita punya bayangan dan imajinasi pribadi tentang apa itu kehidupan keluarga. Terlepas benar salahnya, yang jelas umumnya kita memandang keluarga sebagai ruang kebahagiaan dan masa-masa indah penuh pesona. Apalagi imajinasi itu hadir di saat lelaki atau wanita sudah merasakan getaran-getaran khusus terhadap lawan jenis; sebagai bukti bahwa mereka adalah manusia normal. Umumnya muda mudi yang telah merasakan tarbiyah dan terbina dalam lingkup "hijrah". Dan, mereka berusaha menjauhi gaul muda-mudi milenial dengan pacaran. Pada saat memasuki masa-masa asmara,  mereka tetap berusaha agar fenomena normal itu tidak menciderai Trac record keislaman atau kehormatan mereka.

Salah satu "kesalahan imajinasi" masa muda seputar kehidupan keluarga adalah melupakan unsur tanggung jawab dalam indahnya pesona suami istri. Akhirnya, kematangan sebagai peserta dalam kelas rumah tangga lupa dibina dan disiapkan lebih kokoh lagi. Bahkan, tidak sedikit yang tergesa-gesa. Padahal, status sebagai mahasiswa/i masih sedang aktual-aktualnya. Pepatah Arab berbunyi, "Dzubihati al-Ilm baina fakhizai al-Mar'ah." Ilmu sakarat di hadapan kelamin kaum wanita. Maksudnya, ketika kaum lelaki masih berstatus mahasiswa S1, sedang semangat menikah sudah menggebu, seolah tak tertahankan lagi, maka pernikahan akan menguras energinya. Ilmu tidak lagi menjadi "istri pertama" yang diprioritaskan. Sekalipun tetap saja ada yang berhasil memadukan kuliah S1 di samping statusnya sebagai nakhoda rumah tangga. Tapi umumnya hasil tidak sebaik mereka-mereka yang fokus pada ilmu. Orang-orang Bugis punya bahasa sendiri ketika salah satu anggota keluarga mereka terkesan terburu-buru mau menikah dini. "Mulleniga maccenneri dapurengngE wekkapitu." (Apa kamu sudah mampu mengelilingi dapur 7 x?!. Maksudnya, apakah pemuda yang terkesan kebelet menikah itu sudah punya kesiapan mental untuk memikul beban keluarga sepenuhnya tanpa membebani keluarga besar. Apalagi bagi suami baru, memahami kemauan istri yang sebenarnya; terhitung sulit. Karena perempuan umumnya dalam hal komunikasi, seringkali terpaut secara dalam dengan perasaan. Sehingga tidak mudah ditebak antara bahasa lisan dan hakikat perasaan mereka yang sebenarnya.

Tanggung Jawab Keluarga.

Yang dimaksud pepatah Bugis itu adalah bahwa sebagai suami atau istri, kesiapan untuk mengurus pasangan masing-masing jauh lebih perlu diimajinasikan sebelum benar-benar tiba di gerbang pernikahan. Sehingga ketika sah sebagai suami atau istri; mereka berdua sudah siap membuktikan kecintaan dibanding merasa atau menunggu untuk diberi bukti cinta. Atau, saat pernikahan sudah diresmikan, masing-masing pasangan siap berbakti dan berfungsi aktif; tanpa ada kesan saling menunggu untuk dilayani. Karena kesalahan imajinasi seperti ini sering kali menjadi awal kekecewaan rumah tangga. Merasa bahwa dengan pernikahan berarti sudah ada yang mencuci dan memasak untukmu wahai sang pemuda sebenarnya bentuk ketidaksiapanmu untuk memasuki gerbang pernikahan. Demikian pula sang gadis yang merasa dengan menerima pinangan seorang Ikhwan berarti biaya hidup sudah ada yang nanggung dan sudah ada yang memanjakan tiap saat; semua itu mental pecundang dalam berkeluarga. Pastikan bahwa jika  sudah merasa siap memasuki kehidupan berumah tangga, anda betul-betul siap menjadi pelayan. Karena kata pepatah Arab, "Sayyidul Qaum Khadimuhum." Hakikat pemimpin itu adalah pelayan bagi anggotanya. Jika pemahaman dan motivasi pernikahan sudah demikian adanya maka, ucapkanlah bismillah dan tawakkalah kepada Allah. In syaa Allah roda keluarga akan berlabuh menuju arah yang jelas dengan kekuatan dan kesiapan melawan gelombang biduk rumah tangga saat angin kehidupan bertiup tidak sesuai yang diharapkan.

Sebaiknya, Kelarkan Sarjana Aja Dulu.

Umumnya, muda mudi merasakan gelora jiwa dan kenikmatan tersendiri ketika mendapat perhatian dari lawan jenis dari sejak usia SMA atau yang sederajat. Gelora itu makin berasa ketika memasuki masa-masa perkuliahan di kampus atau universitas. Apalagi relasi dan hubungan muda-mudi itu semakin longgar ketika lepas dari bangku SMA dan sederajat. Bagi mereka yang tidak terarah melalui grup-grup studi Islam pekanan (Liqo) atau tidak tergabung dengan salah satu organisasi keislaman yang secara rutin dan berkala memberikan pendidikan Islam kepada para anggotanya, dikhawatirkan terlibat dalam hubungan muda-mudi yang terlarang. Hamil di luar nikah adalah aib yang terkadang terjadi, salah satunya akibat longgarnya hubungan muda mudi di bangku perkuliahan. Bagi yang telah mengenal hijrah dalam hidupnya dan tergabung dalam klub studi-studi keislaman kampus atau yang sejenisnya, terkadang hubungan bebas di dunia kampus seperti ini  menjadi alasan untuk menikah dini. Satu sisi, argumen demikian benar adanya. Tapi, bertahan menjaga kesucian diri dengan banyak sibuk dengan hal-hal yang terkait dengan percepatan studi. Atau, aktif di rohis-rohis kampus agar terus berada di lingkungan yang cukup "bersih" dari polusi pacaran hingga masa studi selesai; tentu jauh lebih prioritas. Karena belajar membina diri secara intelektual dan melatih sisi leadership dengan terlibat pada kegiatan organisasi merupakan bagian dari kematangan pribadi yang dibutuhkan dalam membina mahligai rumah tangga. Perlu jadi pertimbangan bagi muda mudi, bahwa kehidupan keluarga lebih dari sekedar tanggung jawab dibanding kesenangan yang memanjakan diri. Artinya, ketergesaan untuk memasuki dunia keluarga jangan sampai hanya sebatas imajinasi kenikmatan yang seolah steril dari tanggung jawab. Padahal keluarga adalah perjuangan yang kenikmatannya bisa dipetik setelah tanggung jawab itu benar-benar telah ditunaikan. Mungkin bahasa yang sering terdengar dalam hal ini adalah bahwa tidak ada kenikmatan gratis. Nilai kebahagiaan dan kepuasaan ada pada sejauh mana keringat menetes dalam sebuah proses perjuangan. Mungkin inilah maksud dari sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ketika ditanya, penghasilan  apa yang masuk kategori terbaik?, dengan tegas Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjawab, "Penghasilan yang diperoleh dari hasil cucuran keringat sendiri." Fokus cari uang setelah konsisten mencari ilmu dan keterampilan adalah salah satu pilar ketahanan keluarga. 
Selama dalam proses menuju kemandirian, kematangan dan keterampilan, sebaiknya seorang lelaki banyak melakukan puasa sunnah Senin Kamis. Sebab selain sebagai amalan sunnah yang potensial meng-up grade ketakwaan, juga berfungsi menetralisir gejolak nafsu seksual. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menegaskan, "Wahai kalian para pemuda, siapa pun yang sudah siap dan memiliki kemampuan, menikahlah. Karena dengan menikah, pandangan lebih bisa dikendalikan dan kemaluan lebih mungkin dibentengi (dari perbuatan-perbuatan keji).
Di sini, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sangat menganjurkan pernikahan bagi yang telah siap dan memiliki kemampuan untuk itu. Namun, beliau juga memberi solusi prefentif bagi yang masih dalam proses menuju kesiapan dan keterampilan keluarga, yaitu puasa sunnah dan berusaha membatasi pandangan dari objek-objek yang bisa memancing nafsu seksual (gaddul bashar).

Di zaman modern seperti sekarang, terutama ketika banyak keterampilan ditawarkan lewat kursus singkat atau daurah-daurah pemantapan. Sangat dianjurkan muda mudi ikut dalam kursus atau kuliah pra nikah. Setidaknya, mereka yang sedang proses menuju pernikahan, hendaknya memiliki bacaan tentang hal-hal seputar fikih pra nikah yang sudah banyak beredar di tengah masyarakat. Juga kita jumpai adanya semacam wadah online yang memang khusus mengawal para muda mudi yang sudah siap memasuki tangga pernikahan sesuai dengan tuntunan Islam.

Ikhtiar Mencari Pasangan Hidup Impian.

Kini, tibalah saatnya kita melangkah ke jenjang pencarian pasangan hidup. Bagi kaum lelaki, fisik wanita adalah faktor utama yang paling muda mencuri perhatian mereka. Mungkin inilah salah satu hikmah kenapa hijab seperti jilbab, kerudung, termasuk cadar; disyariatkan dalam Islam. Sementara kaum wanita lebih tertarik kepada rasa aman dan nyaman yang diharapkan dari calon pasangan hidupnya. Keamanan fisik serta keamanan finansial menjadi faktor penting dalam hidup kaum wanita dibanding tampilan macho seorang lelaki. Faktor lain yang juga termasuk dalam daftar pencarian kaum lelaki adalah aspek keturunan, kekayaan dan kedudukan. Keturunan memang penting. Karena hal ini termasuk jaminan harga diri dan identitas kehormatan. Jejak rekam keturunan yang baik biasanya menjadi semacam koridor yang membingkai nilai dan tata krama keluarga. Maka tak heran, orang-orang Arab sebagai pilar pertama dan penyangga utama Islam memiliki budaya yang sangat disetujui dalam Islam. Yaitu kebiasaan memberi nama kepada seorang anak dengan rangkaian nama bapak, kakek hingga ke buyut. Seperti Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sendiri. Beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib. Dengan nama itu, rekam jejak keluarga mudah terbaca. Budaya ini termasuk hal yang kurang diperhatikan oleh kita bangsa Indonesia. Buktinya, seorang anak, terutama di wilayah Jabodetabek, terkadang diberi 3 rangkaian nama tanpa melibatkan bapaknya sendiri. Seperti menamai seorang anak dengan Rezki Maulida  Amaliah. Bapak sebagai wali sama sekali tidak mendapatkan porsi dalam rangkaian panjang nama sang anak tersebut. Apalagi sang Kakek. Padahal anjuran Islam dalam masalah kejelasan silsilah keturunan ini, agar diperhatikan dengan baik; sangat jelas. Itulah masalah keturunan. Sedang kedudukan wanita, termasuk faktor penting dalam pencarian seorang pendamping hidup bagi kaum lelaki. Kedudukan di sini maksudnya adalah status sosial yang menunjang nilai manfaat dan kontribusi sang wanita dalam lingkup sosial. Seperti seorang guru, seorang pegawai negeri atau pegawai swasta dll. Walaupun wanita dalam Islam tidak diprioritaskan untuk keluar rumah berlebihan tanpa tuntunan tanggung jawab kedudukan. Kalau pun harus demikian,  fungsi utama sebagai seorang ibu yang seharusnya fokus mengurus keluarga tetap harus diprioritaskan. Di sini, sang lelaki sebaiknya jangan melihat kedudukan sang calon istri sebagai pabrik uang. Tetapi kedudukan yang dimaksud adalah peranannya sebagai wanita yang bermanfaat dalam lingkungan sosialnya.

Akidah, Basis Utama dan Prioritas Unggulan.

Dari semua dasar pertimbangan dalam rangka hunting calon pendamping, faktor utama yang harus dinomorsatukan adalah sikap beragama. Dengan keislaman yang baik calon suami atau istri memiliki bekal utama dan basis kuat dalam membangun pondasi keluarga. Karena agama memberi setiap insan landasan ibadah yang kokoh dan rasa tanggung jawab yang tinggi. Orang-orang yang berislam dengan baik memandang kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, kehidupan sosial, kehidupan ekonomi, bahkan kehidupan politik sebagai wujud kesempurnaan ibadah dan tanggung jawab sekaligus. Dengan modal keagamaan seperti ini, peluang untuk bertindak zhalim menjadi terbatas. Hidup semuanya adalah lahan ibadah dan tanggung jawab. Maka, amanah sebagai suami atau istri adalah sikap yang sangat dibutuhkan. Takut kepada Allah adalah faktor utama ibadah. Pencetus segala kebaikan dan rem paling pakem yang siap menyetop manusia dari khianat dan sikap tak bertanggung jawab.

Kadang faktor keberagamaan ini berbenturan dengan tampilan fisik. Misalnya, calon yang kita dapatkan lolos secara agama namun terhitung "sangat standar" dari sisi fisik. Maka, berdasarkan pengarahan Allah dan rasul-Nya, faktor agama minta diutamakan. Terkadang ada anak muda terlalu over kepedean. Katanya, kalau masalah agama sih masih bisa diupayakan melalui serangkaian pengajian. Adapun masalah wajah dan kecantikan, sudah pakem dari sononya. Yaaaah.....tentu bahasa ini hanyalah legalitas atau sekedar alasan supaya orang fokus wajah dan mengesampingkan pertimbangan agama. Yang berharga di dunia ini adalah hati yang bertauhid. Bukan wajah yang tampan atau cantik. Bukankah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, "Sungguh Allah tidak melihat postur dan wajahmu, tetapi fokus kepada hatimu."

Wali sebagai penanggung jawab seorang gadis pun, dalam menerima pinangan dianjurkan agar mendahulukan faktor agama ini untuk putri dan gadis mereka. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menasehati, "Jika datang pemuda yang engkau terima dan ridhai cara keislamannya maka nikahkanlah dengan putrimu. Karena kalau tidak, fitnah dan kerusakan akan banyak terjadi di bumi ini."
Sebuah kisah menarik dan sarat pelajaran. Seorang gadis cantik rupawan, lulusan pesantren dari lingkungan keluarga terhormat di Sulawesi Selatan. Pernah dilamar oleh beberapa pemuda tampan dari keturunan bangsawan, dengan status sosial sebagai pejabat daerah. Ada yang bupati, anggota dewan dan pegawai negeri. Namun, yang diterima malahan Ust pondok, sekali pun berasal dari keturunan terhormat. Tapi secara sosial pasti tidak selevel dengan para pelamar sebelumnya. Hidup mereka hanya di sekitar pondok sebagai tenaga pengajar dengan gaji pas-pasan. Anak-anak mereka terhitung banyak. Mereka semua terbina di pondok. Ada yang hafiz Qur'an dan mereka umumnya belajar agama. Di masa senja, sang Ibu pernah menceritakan para pelamarnya dari kalangan bangsawan dan pejabat. Tapi qadarullah sang suami adalah guru pesantren biasa. Tapi dengan penuh keridhaan ia mengakui bahwa Allah tunjukkan hikmahNya. Karena semua anaknya-anaknya terhitung shaleh dan mereka semua mengabdi sebagai penyebar dakwah Islam. Demikianlah akidah diperjuangkan. Terkadang tampak miris secara duniawi, tapi in syaa Allah tetap mulia di banyak hati manusia. Apalagi di mata Allah. In syaa Allah.

Serba Serbi Ta'aruf.

Islam tidak mengenal istilah pacaran pra nikah. Pacaran adalah cinta terlarang karena menghalalkan berduaan tanpa adanya mahram. Pihak ketiga tak lain hanyalah setan. Untuk melangkah ke pernikahan, ta'aruf adalah prosedur resmi yang diajarkan Islam. Caranya, pihak lelaki berusaha mengenal calon pasangannya melalui bio data. Jika bio data akhwat secara umum masuk dalam kriteria sang Ikhwan, bio data sang Ikhwan pun bisa diberikan kepada sang akhwat. Setelah ada kecocokan pada langkah pertama itu, diupayakan adanya pertemuan langsung dengan kawalan mediator terpercaya. Di sini, di samping berkesempatan saling bertemu muka secara langsung, juga bisa saling menggali informasi yang belum tentu diperoleh via bio data singkat sebelumnya. Terutama hal-hal seperti : rencana kehidupan setelah pernikahan. Konsep keluarga islami yang mereka impikan. Rencana domisili dan tempat tinggal. Kesiapan ngontrak rumah sebelum ada kemampuan beli rumah sendiri. Bagaimana status istri setelah menikah, Diizinkan tetap kerja atau bagaimana....
Setelah ketemu langsung dan hasilnya positif, sang Ikhwan sebaiknya tetap berusaha mencari info lebih tentang sang calon dengan berusaha ta'aruf dengan keluarga besarnya. Di sini, sang Ikhwan berusaha mendapat info sebanyak yang bisa didapatkan. Sekaligus keluarga akhwat bisa mengetahui sosok pemuda yang sedang proses ta'aruf dengan anak gadisnya. Jika sinyal positif dari ta'aruf ini tampak jelas, bisa dilanjutkan ke proses selanjutnya; ta'aruf ke tetangga sang akhwat. Tujuannya agar kesan tetangga tentang sang akhwat bisa diperoleh; umumnya baik atau bagaimana. Terutama hal-hal terkait kemampuan bersosialisasi dengan baik dengan lingkungannya. Agar informasi yang diperoleh lebih akurat, ta'aruf juga perlu dilakukan dengan bertemu beberapa rekan kerja sang akhwat atau ikhwan. Keseharian mereka dalam bekerja apakah termasuk disiplin. Ikut aktifkan dalam kegiatan keislaman kantor. Sikapnya dengan rekan kerja apakah termasuk baik. Hadir di tempat kerja dan pulang kantornya apakah tetap disiplin dsb. Jika semua langkah itu telah ditempuh dengan baik. Dan, ada banyak kecocokan. Tentu sebaiknya melakukan shalat istikharah agar hati benar-benar mantap untuk melangkah bersama ke jenjang kehidupan keluarga.

Masa Penentuan Calon Yang Menggelisahkan.

Biasanya, Ikhwan dan akhwat merasakan kegelisahan luar biasa saat-saat mereka diminta memastikan dan menentukan calon pasangan. Seolah muncul pertanyaan dalam benak, bahwa inikah pasangan yang benar-benar diimpikan selama ini. Bukankah di luar sana mungkin masih banyak yang jauh lebih dibanding yang ada sekarang. Di sinilah fungsi shalat istikharah perlu dimaksimalkan agar bisa mengurangi tingkat kegelisahan. Karena kita senantiasa berusaha melibatkan Allah dalam setiap proses. Maka, sebaiknya juga setiap muda mudi yang sudah merasa siap menuju pelaminan agar sering-sering berdoa agar diberikan pasangan yang menyayanginya dan menyayangi keluarga besarnya. Karena tidak sedikit pasangan yang kurang akur dengan keluarga besar pasangan mereka masing-masing. Tentu itu juga bagian dari kesedihan yang potensial mengganjal kebahagiaan keluarga ke depannya.

Tak Perlu Mengumbar Janji-Janji palsu.

Bagi Ikhwan, selama melakukan ta'aruf kepada akhwat dan juga kepada keluarganya, sebaiknya jangan terlalu mengumbar kekayaan dan janji-janji palsu yang tidak realistis. Kadang kita menemukan seorang Ikhwan berusaha menggaet calon pasangan dengan janji-janji palsu. Sang akhwat pun begitu sumringah dengan imajinasi tersebut sehingga ikut menyebarkan harapan-harapan besar itu ke keluarga besarnya. Namun, ketika tiba masa pernikahan dan kehidupan awal rumah tangga, ternyata semua omongan itu hanyalah pepesan kosong. Tidak ada bukti faktual yang menunjukkan kebenaran dari semua iming-iming yang pernah diungkapkan. Akhirnya, keluarga besar merasa dibohongi dan mencap sang lelaki sebagai orang yang besar mulut dan pembohong ulung. Naudzubillah. Akhirnya, hari-hari berikutnya penuh dengan ketidakpercayaan keluarga besar kepada pasangan yang baru membina rumah tangga baru tersebut. Mereka akan kesusahan sendiri untuk meyakinkan keluarga besar jika suatu hari nanti Mereka memiliki rencana-rencana besar yang hendak disampaikan.

Pintu gerbang pernikahan.

Hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa mahar seorang wanita sebaiknya jangan sebatas pada seperangkat alat shalat. Kecuali kalau mushalla atau masjid termasuk di dalamnya... hehehe... Bercermin pada diri Rasulullah, ketika beliau menikah dengan Khadijah, mahar beliau berupa unta 20 ekor. Terbayang betapa bagusnya penghargaan beliau kepada wanita. Yang dimaksud bagian keberkahah seorang wanita adalah biaya pernikahannya yang terhitung murah dan sesuai kemampuan. Walau bagaimanapun, mengadakan pesta walimah adalah sunnah yang sangat dianjurkan. Sekalipun tidak harus mewah dan seolah menjadi salah satu momen memperlihatkan status sosial. Walaupun kenyataan miris yang sering disaksikan di masyarakat adalah begitu banyaknya yang memaksakan diri (takalluf) untuk tampil mewah dalam pelaksanaan pesta pernikahan, sekali pun dana yang digunakan berasal dari piutang. Uang sewa hotel yang mahal beserta dana catering yang luar biasa. Tentu kalau mampu, ya.... sah-sah saja. Tapi kalau benar-benar tidak sesuai tentu hal demikian sangat disayangkan.

Bulan Madu Sambil Penyesuaian Diri.

Setelah akad nikah dilangsungkan, seorang suami dianjurkan fokus bersama istrinya selama 7 hari. Tujuannya agar terbina keakraban dari sejak awal kebersamaan. Kemampuan berkomunikasi dengan akrab merupakan salah satu keterampilan yang dibutuhkan. Suami memuji kelebihan istri dan demikian pula sebaliknya.

Iman

Iman
(Serial pertama Oase Keimanan Dalam Nalar Intelektual Ibnul Qayyim)

By. Idrus Abidin.

Salah satu alim ulama yang dikenal ketajaman analisanya seputar masalah iman pada banyak karya tulisnya adalah imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah. Pada serial kali ini, kami berusaha menghadirkan kilas-kilas keimanan tersebut dari hasil goresan pena beliau yang telah disistematika secara apik oleh Prof Dr. Umar Sulaiman al-asyqar dalam kitab al-Iman Billah (Wahah al-Iman 'Inda Ibnul Qayyim al-Jauziyah 1).
Pengertian Iman.

Iman dalam madrasah teologi Islam menjadi ajang perdebatan antar masing-masing Mazhab; termasuk dalam internal Ahlu Sunnah sendiri. Keragaman persfektif seputar iman tersebut telah kami ringkas dalam "Sikap Moderat dan Profesional Ahlu Sunnah Atsariyah Seputar Keimanan." Di sini, tulisan fokus pada persfektif Ibnul Qayyim seputar hal tersebut dengan beragam argumentasi kokoh yang menjadi ciri khas beliau dalam banyak karya-karyanya. Inti pendapat beliau seputar iman secara istilah adalah perpaduan antara ucapan dan perbuatan. Yang mana, baik ucapan maupun perbuatan masing-masing terbagi dua :
✍️ Pertama, ucapan yang mencakup ucapan hati berupa keyakinan dan ucapan lisan berupa syahadat.
✍️ Kedua, perbuatan yang terbagi dalam dua kategori. Perbuatan hati berupa niat dan keikhlasannya serta perbuatan fisik seperti shalat, puasa dll.
Kepercayaan dengan hati dan ucapan dg lisan belum cukup tanpa adanya bukti-bukti fisik (perbuatan) berupa amal shaleh.
Ada yang mengatakan, iman itu cukup pengetahuan dan keyakinan dalam hati. Perbuatan tidak termasuk dalam cakupan iman. Anggapan seperti ini ditolak oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyah dengan beberapa argumentasi berikut :

1. Iblis sebagai pionir utama keburukan.

Dalam hal pengetahuan dan keyakinannya terhadap Allah, iblis tidak dianggap bermasalah sama sekali. Iblis sangat sadar akan keagungan dan kemuliaanNya. Meyakini adanya hari kiamat, surga dan neraka (QS al-Hijr : 36). Namun, dengan penuh kesadaran,  iblis memilih kekafiran akibat kesombongannya yang serba akut. Sehingga pengetahuan dan keyakinannya tidak memberi nilai apapun dalam lingkup keimanan. Juga tidak membebaskannya dari laknat dan ancaman neraka. Kekafiran Iblis ini termasuk dalam kategori kufur keras kepala (kufur 'inad) ; bukan kufur karena kebodohan (jahl) semata. 

2. Fir'aun. 

Nabiyullah Musa alaihissalam berkata kepadanya, "Sungguh engkau sangat mengetahui bahwa Taurat yang kumiliki (beserta 9 bukti kemukjiatan lainnya) tidak mungkin diturunkan oleh selain Allah. Itulah bukti-bukti valid kenabianku (bashair)." (QS al-Israa : 102). Namun, Taurat serta beberapa bukti-bukti valid kenabian Musa alaihissalam diingkari secara langsung oleh Fir'aun sekali pun sebenarnya Fir'aun  sendiri beserta kaumnya meyakini dalam jiwa terdalam mereka (fitrah) kebenaran hal tersebut. Namun, keyakinan fitrawi itu ditutupi oleh sikap zhalim dan kesombongan ('uluw). Maka, kekafiran Fir'aun sama statusnya dengan kekafiran Iblis; keduanya kafir karena keras kepala ('inad). Sama sekali bukan karena ketidaktahuan atau karena faktor kebodohan. (QS an-Naml : 13-14).

3. Kalangan Ahlu Kitab (Yahudi dan Nasrani).

Mereka dengan penuh sikap keras kepala menolak al-Qur'an dan kerasulan nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bukan karena tidak mengetahui kebenarannya. Namun murni karena sikap sombong (keras kepala) dan kezaliman yang tiada terkira. (QS Ali Imran : 70-71). Sehingga kalangan ahlul kitab tidak bermasalah secara konsep pengetahuan iman. Permasalahan mereka ada pada sikap sombong dan keangkuhan. Sama seperti sikap sombong iblis dan Fir'aun. Naudzubillah.

Ke-3 argumentasi tersebut ditegaskan Ibnul Qayyim al-Jauziyah. Sekalipun, Masih banyak fakta-fakta serupa yang disodorkan oleh beliau. Namun, beliau menutup argumentasinya  dengan kenyataan bahwa orang-orang kafir ketika melihat siksaan neraka secara langsung sangat berharap dikembalikan lagi ke dunia karena menyesal dengan penolakan dan sikap kufur serta congkak mereka selama di Dunia. Mereka berharap menjadi mukmin yang baik (jujur) agar terhindar dari azab neraka. Tapi Allah menyatakan, sekalipun mereka dikembalikan ke dunia lagi, setelah mereka melihat secara langsung azab neraka, sikap mereka tidak akan pernah berubah. Tetap saja mereka akan melanggar aturan-aturan syari'atNya (QS al-An'am : 27-28). 

Demikianlah sedikit cuplikan iman dalam nalar Ibnul Qayyim al-Jauziyah. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Bahwa iman adalah perpaduan apik antara keyakinan hati, ucapan lisan dan perbuatan fisik. Wallahu a'lam.

Rabu, 1 Januari 2020 waktu pesawat. (Jeddah To Jakarta).

Baik Buruk dalam Internal Ahlu Sunnah dan Muktazilah. (Rasional Murni Atau Syari'at Murni Ataukah Perpaduan Antara Rasio dan Syari'at Sekaligus?)

 Baik Buruk dalam Internal Ahlu Sunnah dan Muktazilah.
(Rasional Murni Atau Syari'at Murni Ataukah Perpaduan Antara Rasio dan Syari'at Sekaligus?)

Perbedaan Atsariyah, Asy'ariyah, Maturidiyah dan Muktazilah dalam studi Akidah Secara Umum.


By. Idrus Abidin.

Salah satu fakta unik dan sisi keunggulan Ahlu Sunnah Wal Jama'ah seputar kejelasan dan kepastian metodologi mereka dalam hal baik buruk rasional ala Wahyu adalah kemampuan mereka memadukan syari'at dan rasio sekaligus; sebagai mana sikap mereka pada semua bidang kajian yang ditunjukkan sebelumnya via status kami di FB ini.
Dalam masalah baik buruk ini setidaknya terdapat 3 persfektif :

1. Baik buruk murni via rasio. Pendapat ini didukung oleh Muktazilah dan Maturidiyah (Ahlu Sunnah);
2. Baik buruk murni via syari'at. Pendapat ini milik kalangan Asy'ariyah (Ahlu Sunnah);
3. Baik buruk via syari'at dan rasio sekaligus. 

Inilah subtansi pendapat kalangan Ahlu Sunnah Atsariyah yang kami anggap paling moderat, proporsional dan profesional.
Agar masalah ini mudah, Ahlu Sunnah Atsariyah (Hanabilah) membuat kategori terperinci agar masalah ini tidak liar. Karena walau bagaimanapun, baik buruk termasuk istilah umum yang perlu rincian agar kita tidak salah menyikapinya. Dan, ini adalah sikap resmi Ahlu Sunnah Atsariyah pada semua lafaz-lafazh global (mujmal) yang digunakan dalam masalah akidah; terutama lafazh seperti sifat (ardh), fisik (jism), batasan (hudud), tempat (tahayyuz) dll, yang banyak digunakan ahlul kalam. Namun, masalah ini nanti dibahas belakangan saja.
Pada permasalahan kali ini,  baik buruk sebaiknya dilihat dulu dari 3 aspek (rincian) :

1. Kesesuaian atau ketidakcocokannya dengan tabiat;
2. Kesempurnaan dan kekurangan. Artinya, kebaikan adalah indikator kesempurnaan seperti pengetahuan. Sedang keburukan merupakan indikasi kekurangan/kelemahan, seperti kebodohan. Kebaikan dan keburukan berdasarkan kedua aspek ini jelas sangat rasional. Artinya, rasio bisa mandiri dalam memahami dan mengetahui; tanpa tergantung pada syariat;
3. Pujian dan pahala serta celaan dan dosa. Baik buruk versi ini menjadi inti perdebatan di kalangan ahli kalam.

Di sini, Ahlu Sunnah Atsariyah menegaskan pendapatnya berupa :

  • A. Baik buruk merupakan sifat melekat pada setiap perbuatan. Sifat baik buruk perbuatan ini bisa dikenal via rasio atau melalui fitrah suci atau via syari'at. Rasio dan fitrah menyatakan persfektif baik buruknya; sedang syari'at tidak akan menyalahi persfektif itu. Syari'at pun menegaskan persfektif baik buruknya. Semua perintah syari'at pasti baik; yang dianggap buruk pun pasti jelek. Dengan demikian, baik fitrah, rasio maupun syari'at menjadi jalur untuk mengenal baik buruk.
  • B. Pengetahuan fitrah dan rasio seputar baik buruk bisa diketahui hikmahnya. Sedang baik buruk versi syari'ah; terkadang tidak diketahui hikmah dan alasannya oleh rasio kerdil kita. Yang jelas, baik buruk versi syari'at tentu punya hikmah dan alasan yang diketahui Allah. Kewajiban kita adalah menerima sepenuhnya persfektif syari'at tersebut disertai sikap patuh dan taat. Dialah Allah yang maha tahu, maha bijak. Ini juga menunjukkan bahwa Allah tidak membiarkan diriNya zhalim atau mencegah keadilan. Dialah yang maha sempurna kebijakanNya.
  • C. Baik buruk via fitrah dan rasio tidak berkonotasi pujian atau celaan; apalagi pahala atau dosa sebelum rasul diutus. Karena dalil syariat memastikan pujian dan celaan; pahala dan dosa setelah hujjah ditegakkan via nabi dan kitab suci. Jadi, pujian dan celaan serta pahala dan dosa merupakan konsekwensi logis dan murni di bawah otoritas penuh syari'at.
Pendapat ini diselisihi oleh :

1. Muktazilah.

Inti utama pendapat Muktazilah, bahwa rasio menganggap baik atau buruk suatu perbuatan secara mandiri; tanpa tergantung pada syariat. Sikap ini mewujudkan kontradiksi berupa :

A. Akal menjadi standar utama; bukan syari'at. Memang inilah metode Muktazilah dlm semua permasalahan teologis. Syari'at bagi Muktazilah hanya sekedar ekplorasi terhadap rasionalitas mereka;
B. Mewajibkan Allah melakukan perbuatan-perbuatan paling maslahat. Yaitu kebaikan versi rasio Muktazilah dan keburukan versi akal mereka;
C. Rasio bertindak sendiri memuji dan memberi pahala. Ia juga bertindak langsung dalam mencela dan memberi dosa atau hukuman;
D. Allah diserupakan dengan makhluk dengan cara; seperti pernyataan mereka sendiri, yang baik menurut rasio makhluk pasti baik pula di sisi Allah. Yang buruk di rasio mereka, tentu buruk pula padaNya. Padahal, berdasarkan kesempurnaan hikmahNya, tidak ada keburukan di sisiNya sedikit pun. Keburukan diadakan Allah bukan karena zatnya; tapi karena sebuah hikmah berupa ujian dan hikmah lain di sisiNya.

2. Asy'ariyah.

Inti pandangannya, baik buruk murni otoritas Syariah. Sikap ini menghasilkan beberapa konsekwensi buruk seperti :
A. Menyelisihi rasio murni dan fitrah suci dengan menganggap baik buruknya perbuatan sama saja di mata mereka. Zhalim dan keji tak dibedakan dengan sikap Adil dan Ihsan. Bahkan, mereka berpandangan, bisa saja Allah memerintahkan kesyirikan. Atau bisa jadi Allah melarang tauhid. Padahal, sangat jelas syari'at sesuai dan searah dengan fitrah suci dan rasio murni. Tidak mungkin ada sesuatu yang melekat pada fitrah dan rasio yang bisa membatalkan syar'iat. Akal dengan sendirinya memahami baiknya ibadah kepada Allah dan keburukan syirik;
B. Mereka menegasikan adanya hikmah dan alasan di balik perbuatan Allah. Mereka mengatakan, Allah menyuruh dan melarang tanpa adanya hikmah dan alasan/sebab. Dia tidak menciptakan sesuatu karena pertimbangan hikmah. Tapi kehendakNya sendiri yang membuat segalanya terjadi. Mereka tidak menegaskan kecuali kehendak dan iradah Allah. Padahal, itu sangat diketahui kebatilannya via Qur'an dan Sunnah serta konsensus kalangan generasi awal ummat ini. Belum lagi juga menyelisihi rasio murni. Di banyak tempat, Allah menyatakan hikmahNya di banyak ayat, demikian pula Dia menyatakan diriNya bebas dari kekejian. Allah menegaskan pantanganNya menyamakan kebaikan dan keburukan;
C. Mereka berargumen dengan tidak adanya azab sebelum diutusnya rasul sebagai bukti tidakadanya baik buruk secara rasional; sekaligus melegalisasi kesamaan baik buruknya perbuatan. Padahal, menegaskan keberadaan baik buruk rasional tidak otomatis menganggap pahala dan dosa terjadi. Karena terjadinya pahala dan dosa merupakan kebijakan dan ketetapan syari'at secara penuh. 

Catatan 1 : 

Jalan Tengah Ahlu Sunnah Atsariyah.

Dengan sikap proporsional Ahlu Sunnah di atas, mereka bebas dari kerancuan dua kelompok teologis tadi. Mereka menegaskan hikmah dan alasan tertentu yang Allah tegaskan sendiri di setiap perintahNya. Ahlu Sunnah juga memahasucikan Allah dari memerintahkan keburukan dan kejelekan karena kesempurnaan hikmah, ilmu dan keadilanNya. Maka mereka dengan tegas mengatakan, tidak mungkin syari'at membawa ajaran yang menyelisihi fitrah suci dan nalar murni. Betul, terkadang syari'at membawa ajaran yang membuat akal bingung memahami dan mengetahuinya. Maka, mereka pun mengakui adanya baik buruk secara rasional. Hanya saja, hal itu tidak dianggap pemutus dalam hal tepuji atau tercelanya sesuatu. Atau, pahala dan dosa; karena itu murni keputusan syari'at. Rasio sama sekali tidak memiliki wewenang itu.
Dalam menegaskan persfektif ini, Ahlu Sunnah Atsariyah memiliki beberapa prinsip dasar :
1. Mereka menegaskan adanya hikmah dan alasan di balik perbuatan dan hukum Allah. Jadinya, semua perintah dan larangan mengandung maslahat bagi ummat manusia;
2. Semua perbuataNya bagus dan baik. Tidak ada burukNya sedikit pun. Jadi, perbuatan Allah berbeda secara diametral dengan perbuatan-perbuatan manusia;
3. Mereka menetapkan sifat-sifat untuk Allah sesuai yang ditetapkan sendiri oleh Allah dan rasulNya terhadap diriNya sendiri. Di sana tidak ada perubahan (tahrif), tanpa eliminasi kandungan makna (tha'thil), tanpa mempertanyakan wujudNya (takyiiif), juga tanpa unsur penyerupaan dengan makhlukNya (tamtsil/tasybih);
4. Mereka tidak mewajibkan apapun terhadap Allah seperti sikap Muktazilah.  Tetapi mewajibkan apa yang Allah wajibkan sendiri terhadap diriNya; sebagai wujud kasih sayang, karunia dan hadiah terindah terhadap seluruh makhluk;
5. Mereka mengatakan bahwa Allah tidak akan mengazab siapa pun sebelum Dia menegakkan hujjah berupa paket  kitab suci dan rasul.
6. Bahwa syar'iat datang demi menegaskan kebaikan yang dimiliki fitrah dan rasio; termasuk menganggap baik sesuatu dan sekaligus mengarahkannya. Dan, menganggap buruk suatu hal dan mencegahnya sekaligus. Maka jelas, syari'at dan rasio murni tidak mungkin kontradiktif;
7. Rasio tidak memiliki akses terhadap penetapan hukum-hukum syari'at. Juga tidak memiliki peran dalam mengaitkan perbuatan dengan status terpuji atau tercela di dunia ini.  Demikian pula, rasio tidak punya hak dalam penetapan pahala dan pemutusan dosa serta sanksi tertentu di akhirat kelak. Itu semua harus lewat persfektif dan otoritas Wahyu. 

Catatan 2 :

Masalah lain yang timbul di sini adalah pertanyaan seputar apakah berterima kasih kepada Allah via rasio atau syari'at?
Dengan jelas Muktazilah menyatakan wajib via rasio. Sedang Asy'ariyah cenderung pada sikap bahwa itu harus via syari'at; rasio tidak berhak sama sekali. Ahlu Sunnah menyatakan, berterimakasih kepada Allah wajib via syari'at, dengan rasio dan fitrah sekaligus. 

Catatan 3 :

Masalah baik buruk versi rasio ini seharusnya diperjelas secara detail, karena lafaz ini terhitung global (mujmal) yang seharusnya tidak disebut secara bebas (mutlak) tanpa perincian. Caranya :
1. Jika yang dimaksud dengan baik buruk versi rasio adalah penetapan pahala dan dosa; tentu tidak boleh.
2. Tapi jika maksudnya adalah bahwa akal mengetahui baiknya kebaikan dan buruknya kejelekan; tentu jawabannya pasti yes.
Semoga rincian ini yang dimaksud pihak-pihak yang meyakininya secara mutlak; tanpa upaya merinci atau membatasi pemaknaan. 

Catatan 4 :

Pada permasalahan ini, terkadang Ahlu Sunnah Atsariyah dan Asyaairah disamakan secara total. Ataupun Ahlu Sunnah Atsariyah dianggap mirip dengan Muktazilah. Tapi dengan rincian penjelasan tadi; in syaa Allah sidang pembaca bisa mengerti sisi perbedaan Ahlu Sunnah Atsariyah dan Muktazilah; pun antara Ahlu Sunnah Asy'ariyah dengan Ahlu Sunnah Atsariyah. 🤝
 
Catatan 5 : 
 
Apakah perintah dan larangan Allah berlaku sebelum turunnya syari'at?
Muktazilah, ia. Cukup dengan akal. Asy'ariyah, tidak. Nunggu syari'at. Ahlu Sunnah, ikut syari'at. Sebelum syari'at datang, hanya baik buruk versi rasio atau terpuji tercela menurut akal. Pahala dan dosa itu setelah syari'at turun.
Semoga penjelasan singkat ini menjadi modal dasar bagiku memahami Allah dan rasulNya dengan prinsip sami'naa wa atha'naa. Sehingga upaya dan semangat mendekat padaNya mendapat taufik dan inayahNya. Allahu waliyut Taufiq. Wallahu yatawallas shalihin.  Aamiin.

Makkah, 15 November  2019.

Referensi Rujukan :

  • Ma'alim Ushul Fiqih Inda Ahlu Sunnah Wal Jama'ah. Karya, Dr. Muhammad bin Husain bin Hasan al-Jizani. Hal. 337-340.
  • Al-Qadha Wa al-Qadhar Fi Dha'uil Kitab Wa Sunnah Wamazahibun Nas Fihi. Karya, Dr. Abdul Rahman Shaleh al-Mahmud, hal. 248-257.

Menang Kalah Versi Dunia.

Menang Kalah Versi Dunia.

By. Idrus Abidin.

Dunia ini wadah ujian dalam keberpihakan terhadap kebenaran, kejujuran dan keadilan. Tidak ada kata kalah dalam kamus ini. Karena kalah sesungguhnya adalah kecurangan sekali pun legal secara konstitusi. Di sinilah ketangguhan dan konsistensi pejuang diuji. Pemahamannya tentang menang kalah tidak selalu duniawi. Mereka yang gugur dianggap syuhada. Mereka yang konsisten dianggap sedang dalam masa tunggu. Mereka sama sekali tidak akan merubah haluan hingga saatnya kembali kepada Allah tiba. 

Hakim kata Rasulullah, tidak bisa merubah fakta haram jadi halal. Demikian pula halal menjadi haram. Tugas mereka, memutuskan perkara berdasarkan fakta dominan. Jika mereka mengabaikan fakta dominan itu dengan sengaja; karena faktor keselamatan atau alasan serupa, neraka jelas menunggu. Rasulullah menegaskan, "Siapa pun yang sadar bahwa sebuah harta bukan miliknya. Tapi dia berusaha memilikinya dengan Kecurangan (pintar bersilat lidah dan memalsukan bukti-bukti) sehingga saya (sebagai otoritas kehakiman) memutuskan dirinya sebagai yang berhak; maka ketahuilah itu api neraka yang kuberikan kepadanya". (Hadits Shahih)

Di dunia ini, peluang kejahatan dan kebenaran menang sama. Karena dunia ini ujian. Allah mengizinkan kecurangan menang walau Dia sendiri tak senang. HikmahNya, (1). Menumpuk dosa orang-orang buruk agar terbukti trac record mereka sebagai pemimpin keburukan (aimmatan yad'una ilannar); (2). Diarahkan kepada azab akhirat yang jauh lebih keras; (3). Istidraj. Yaitu sikap merasa benar dalam kesesatan. Sehingga seseorang atau sekelompok orang mati dalam kemunafikan dan kekafiran; (4). Seleksi keimanan antara yang jujur dan munafik (tamhis). (5). Ampunan terhadap dosa dan kesalahanan; (6). Peningkatan derajat kemuliaan, khususnya para nabi yang digaransi tak memiliki dosa dan maksiat. Poin 4-6 hikmah khusus untuk kalangan beriman dengan kemenangan kelompok kebatilan. 

Dalam kamus perjuangan Islam, hanya ada dua prinsip; hidup mulia atau mati syahid. Mulia karena bersama kejujuran dan para pendukungnya. Mati syahid karena berjuang menolak kezhaliman dan penipuan. Maka keputusan hakim legal secara duniawi. Muslim konsisten hanya bisa dikuasai fisiknya oleh sistem korup, tapi hatinya tetap merdeka bersama Allah. Setiap kali Allah menutup satu pintu dengan hikmahNya,  pasti Dia akan membuka beragam pintu lain karena kasih sayangNya. 

Hasbunallah Wanikmalanikmal Wakil, Nikmah al-Maula Wanikmah an-Nashir. Ikfina Syarrahum Bima Syi'ta Ya Qawiy Wa Ya Aziz. Allahumma amiiiin. 

Selamat menikmati perjuangan menuju sumber dan hakikat kebenaran (Allah Ta'ala).

Mengenal Ciri dan Sepak Terjang Islam Liberal.

Mengenal Ciri dan Sepak Terjang Islam Liberal. 
(Bagian Pertama)
By. Idrus Abidin.

Islam liberal adalah sebuah aliran sempalan dan sekte sesat yang menjamur di dunia Islam di zaman modern. Persis seperti khawarij, Syi'ah, muktazilah dan beragam aliran sesat di masa lalu. Namun, umumnya pengamat aliran dan kepercayaan modern mengkategorikan mereka sebagai muktazilah plus. Tak lain karena kesamaan prinsip mereka sebagai pengasong rasionalitas. Bahkan, Islam liberal disebut kelompok rasional materil (aqliyah maddiyah). Dua ciri utama kaum sekuler moderen. Karena Islam liberal memang lahir dari rezim sekuler. Bahkan, mereka adalah kaum intelektual terjajah yang begitu terkagum-kagum sekaligus minder ketika berhadapan dengan peradaban Barat. 

Dari sisi nama, Islam liberal sudah bermasalah. Islam tak mungkin liberal. Dan, liberal tak mungkin Islam. Kalau muslim liberal masih mungkin. Walaupun, kata KH. Hasyim Muzadi, mereka itu muslim tanggung dan kafir tak jelas. Di barat dianggap kurang kafir, di Islam tak diakui muslim benar. Mungkin inilah yang disebut muslim bingung, ragu, tak berprinsip dan beragam istilah banci dan bernuansa munafik lainnya. Namun, walau bagaimanapun, sebagai mana sikap Rasulullah, mereka masih dianggap secara lahiriah. Adapun hakikat mereka, diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Satu hal yang membedakan Islam liberal modern dengan Islam liberal masa lampau adalah kondisi kaum muslimin. Di masa lalu, Islam liberal bermanuver secara intelektual di saat peradaban Islam berada di puncak zaman keemasan. Sehingga mereka mendapatkan perlawanan ekstra keras dari khilafah dan ulama. Sekarang, Islam liberal menikmati kemunduran Islam dan kemajuan peradaban Barat. Media dan kekuasaan senantiasa mereka dekati sebagai dua alat ampuh untuk menyukseskan visi misi mereka. 

Koreksi Atas Nama Islam Liberal.

Dari sisi labeling, Islam liberal sebagai kata majemuk sudah menunjukkan kontradiksi akut yang menggambarkan kebingungan para pengasongnya. Islam adalah simbol keikhlasan dan kecintaan manusia menyerahkan diri sepenuhnya kepada aturan Allah dan rasul-Nya. Ikhlas kepada Allah di sini adalah ungkapan kemerdekaan muslim dari pengaruh dan was-was syaitan. Itulah makna la Ilaha Illallah. Tentu makna ini tidak dikehendaki oleh pengasong liberal. Padahal, mereka seringkali mempekosa Islam secara kebahasaan sebagai sikap berserah diri kepada Allah, apa pun agamanya (pluralisme agama). Di situlah salah satu tafsiran/kelicikan/kesesatan Islam liberal. Adapun Islam secara istilah sebagai perpaduan antara keimanan (dibenarkan dengan hati), diwujudkan dengan ucapan (syahadat dan beragam simbol Islam seperti takbir dll), dan dibuktikan dengan perbuatan secara praktis berupa shalat, puasa, zakat, dll, tak diakui oleh mereka. 

Liberal adalah simbol kebebasan (liberty). Tetapi kebebasan yang mereka maksud bukan makna Islam secara bahasa seperti yang kita jelaskan sebelumnya. Tetapi bebas dalam artian Islam baru yang lebih rasional dan lebih material. Islam yang bebas dari makna ghaib, mukjizat, sakral dll. Islam dengan Qur'an sebagai produk budaya cerdas Arab, bukan sebagai Wahyu. Nabi Muhammad sebagai nabi cerdas tanpa embel-embel mukjizat, tanpa perlu tunduk patuh pada Sunnah-Sunnahnya secara literal. Cukup dianggap nabi yang hebat sesuai zamannya. Adapun sekarang, Qur'an dan Sunnah itu kitalah yang lebih mengerti tafsirannya. Islam masa lalu telah menyejarah. Biarkanlah kami bikin format Islam baru yang serba rasional dan material versi Barat. Itulah hakikatnya. Maka sikap inkar Sunnah menjadi ciri umum di kelompok sesat ini. al-Qur'an dan hadits tidak ditafsirkan berdasarkan prosedur resmi ulama (teks/ma'tsur), tapi berdasarkan realitas yang berlaku saat ini (aktual/kontekstual). Sayang konteks yang mereka maksud adalah peradaban Barat seperti HAM, emansipasi wanita dan kepemimpinan kaum wanita dll.


1. Menetralisir pengaruh agama dalam ranah sosial (Masyarakat dan negara). Islam hanya urusan pribadi.
2. Berusaha mempelajari dan mengarahkan Islam berdasarkan kacamata peradaban Barat Material.
3. Berusaha Menghilangkan batas-batas psikologis agama dengan istilah pluralisme agama.
4. Bekerja keras melawan gerakan formalisasi syari'at.
5. Emansipasi wanita. 

Ciri-Ciri Islam liberal : 

1. Kurang memahami akidah Ahlu Sunnah (lebih senang akidah rasional muktazilah).
2. Tidak berpedoman pada aturan hukum dan etika Islam.
3. Bekerja sama dan saling mendukung dalam proyek liberalisasi Islam.

Hak dan Batil ; Seteru Abadi Sepanjang Lorong Duniawi

Hak dan Batil ; Seteru Abadi Sepanjang Lorong Duniawi

By. Idrus Abidin.

"Jangan hitam putih bang," kata kawan ketika melihat seseorang yg diasumsikan fundamentalis. "Santai aja hidupnya kang," sergah yg lain. Padahal dunia ini memang ujian. Ketegangan pasti mengiringi. Walau optimisme tampil menghibur. Galaunya seorang manusia karena diaspora maksiat di mana-mana merupakan citra positif sebagai tanggung jawab hamba. Tampillah dia sebagai marketer ilahi. Qur'an dan Sunnah beserta pemahaman ulama lurus berdedikasi, dijadikan produk utama kepada beragam customer. 

Qur'an dan Sunnah dijelaskan sebagai manhaj/metode (hidayah) dg kejelasan maksimal. "Tiada keraguan pada Al-Qur'an," tegas Allah pada potongan awal Al Baqarah. Artinya kepastian, kejelasan, keterangan dan keyakinan terpampang dg sangat nyata di setiap ayatnya. Namun, tersisa sebuah tanya oleh seorang kawan suatu ketika. "Jika Qur'an dan Sunnah itu jelas, sebagaimana penegasan Allah dan Rasul-Nya, lalu kenapa "banyak" manusia dan jin mengingkarinya. Baik terang-terangan seperti orang kafir maupun sembunyi-sembunyi layaknya komunitas munafik?." "Cerdas juga kawanku ini," ucapku. 

Yaaaaah...itu emang sebuah misteri. Jika terbuka dalam perspektif manusia, tentu mereka manggut-manggut dg fitrahnya yg lurus penuh sikap tulus. "Sejelas apa pun Qur'an dan Sunnah jika dihadapkan kepada orang buta, tuli, gila dan berhati batu, takkan ada efeknya. Demikianlah Allah menegaskan pada ayat 6-7 surat al-Baqarah tentang sikap dan alasan orang-orang kafir." Begitulah sekelumit penjelasanku. "Di banyak ayat di sejumlah surat, seragam banget penegasan demikian," tambahku. 

Itulah gambaran normatif dan realitas hidup ini. Keterbukaan dan ketertutupan menjadi alasan berhadap-hadapannya kebenaran dan kebatilan. Hidayah diperoleh via mata, telinga, akal dan hati. Itulah keterbukaan orang beriman demi mendownload kebenaran, lalu meresapinya begitu dalam pada bilik-bilik sanubarinya. Makanya, jgn heran, cuma mereka yg disebut Allah Ulul albab (berhati), Ulul Abshor (bermata), Ulun Nuha (berakal). Sedang kafir dan munafik menutup diri dari sumber hidayah itu. Gemboklah (gisyawah) yg menutup mata, telinga, akal dan hatinya sehingga cahaya hidayah takkan pernah menembus rerelung jiwanya. Gembok itu adalah maksiatnya. Semakin maksiat, gembok itu makin kuat pula daya rekatnya. Pantaslah kalau orang-orang beriman dijadikan musuh bersama secara abadi sepanjang bentangan sejarah. Bahkan kini dan nanti. Semua kompetensi dg beragam piranti mereka maksimalkan demi mereduksi, bahkan mengkorupsi kitab suci. Seperti tindak Yahudi, laknatullah 'alaih. Cuman satu asaku. Semoga hidupku dan semua saudara muslimku berakhir pada garis finish orang2 beriman dan bertaqwa. Tentunya karena tidak pindah rel perjuangan dan gerbong keberpihakan. Amin...

Monitoring Islam Liberal dari Bilik Islam Klasik.

Monitoring Islam Liberal dari Bilik Islam Klasik.
Pengembaraan Intelektual. (Catatan Perjalanan Akademik). Bagian 2.

By. Idrus Abidin.

Tulisan ini memadukan antara :

1. Sikap Intelektual Islam Liberal (Mengurai Kejumudan Berfikir, Merusak Citra Agama Atas Nama Pembaharuan).
2. Sikap Intelektual Islam Moderat (Pembaharuan Islam Ala Klasik. Modern tanpa kebablasan). Berhati-hati tanpa telat berkontribusi. 
3. Pengalaman real lapangan. 

Masa-masa karantina LIPIA sebagai basis akademik Islam klasik (S1 plus) sudah sangat tepat. Versi Islam lurus, sejarah peradaban itu mengikuti alur berikut :

A. Era tauhid.
B. Masa-masa degradasi tauhid menuju maksiat.
C. Era kesyirikan.

Versi ini, manusia berawal dari tauhid dan hidayah sejak masa nabiyullah Adam dan Hawa. Terjadinya kemunduran taqwa berawal dari perselisihan saudara kandung; Qabil dan Habil atas nama pesona kecantikan wanita. Itulah masa era tauhid menuju degradasi. Keturunan Qabil mewarisi degradasi, sedang Habil meneruskan otoritas Tauhid. Hadir di masa setelah itu nabi Idris alaihissalam. Nabi pertama yang terampil dalam industri jahitan versi Ibnu Katsir dalam Qashas Anbiyaa beliau. Syirik menjadi dominan, sehingga Allah mengutus rasul pertama; Nuh alaihissalam. Dalam penuturan Ibnu Katsir, interval waktu antara Adam dan Nuh kisaran 9 generasi x 1000 tahun = 9.000 tahun. Karena rata-rata umur mereka per generasi adalah 1000 tahun.

Berbeda dengan persfektif Islam lurus di atas, kalangan Islam liberal mengikuti alur peradaban versi sekuler, yaitu :

A. Era mitos.
B. Masa keagamaan.
C. Era Sains dan teknologi (positivisme).

Agama versi Islam liberal hanya masa-masa peralihan dari era mitos. Era makhluk pra sejarah yang umumnya mengakui teori evolusi Darwin dengan monyet sebagai asal-usul (nenek moyang) manusia. Agama menjadi kerdil peranan kemasyarakatannya karena (realitas) sains dan teknologi merajai kehidupan sosial. Maka, pemisahan agama dengan dunia mutlak dilakukan oleh mereka via proyek pembaharuan. Politik menjadi ajang bersih-bersih dari campur tangan agama. Ruang publik disterilkan dari perspektif agama. Agama cukup menjadi doktrin pribadi yang tak punya hak dan akses ke ranah publik. Ilmiah versi Barat bukan sekedar ilmu yang sistematis, tapi juga harus empiris (indrawi). Agama pun tak punya hak menyandang status "ilmiah" sekalipun memiliki sistematika unik melampaui ilmiahnya ilmu peradaban mana pun, seperti yang dimiliki ilmu hadits (kritik sanad). 

---------------

Selama kami berkutat di kampus dg sejumput mata kuliah yang telah disebutkan pada status sebelumnya, di sela-sela kuliah tahun pertama di wilayah Salemba, Jakarta Timur, saya juga ikut taklim pekanan kurleb setahun di masjid kompleks BRI yang terletak di bilangan jalan Pramuka menuju ke jalan Pemuda atau ke jalan Salemba Raya. Di situlah saya mengenal syari'at jenggot yang diajarkan taklimnya oleh Ust. Abdul Hakim Abdat dengan Shahih Bukhari sebagai pegangan taklim resmi. Itu berlangsung tiap Sabtu pagi di akhir pekan (weekend). Termasuk ketika itu mengeritisi kandungan majalah Sabilii yang dianggap menyimpang oleh sang Ustadz. Sesekali juga di hari Selasa sore ikut taklim di masjid Dewan Dakwah (DDI Pusat) yang diampuh oleh Ustadz Yazid Jawwaz. Riyadhusshalihin dijadikan panduan taklim rutin. Suatu ketika, saat saya sedang asyik-asyiknya menikmati buku-buku berhaluan haraki-ikhwani, terjadi polemik di internal -cikal bakal- Salafi Indonesia itu. Pemantiknya adalah bagaimana menempatkan status bagi syekh Muhammad Abduh di Mesir dengan majalah al-Urwatul Wutsqaa serta Universitas Al-Azhar-nya di Kairo, Mesir. Versi almarhum Ust. Ja'far Umar Thalib dan Ust. Hakim Abdat, Syaikh Muhammad Abduh termasuk bermasalah secara manhaj (waktu itu belum ada istilah polisi manhaj apalagi cyber army manhaj). Sedang Ust. Yazid Jawwaz terhitung positif menanggapi status sang syekh, kala itu.

Serasa ada titik balik pada diri ana sehingga sementara waktu lock down dari kajian beliau berdua. Ana melanjutkan tradisi baru yang doyan melahap buku-buku pergerakan yang juga getol menyinggung musuh intelektual kiri, terutama polemik Islam kiri dan Islam kanan di Mesir dan di Indonesia tercinta. Tulisan kritis Ustadz Hartono Ahmad Jaiz terhadap pembaharuan salah kaprah itu, termasuk di antara list menu harian kami. Buku-buku Syaikh Yusuf Qardhawi (terutama al-Ibadah Fii al-Islam dan Tsaqafatu ad-Daiyah), Syaikh Quthub (terutama Fii Zhilal Al-Qur'an, Ma'alim Fii at-Thariq dan Dirasat Islamiyah dll), Syaikh Sa'id Hawwa dg Tazkiyatunnafs dan Rambu-Rambu jalan Ruhani serta buku-buku Ibnul Qayyim al-Jauziyah seperti ringkasan kitab Madarijussalikin dan volume 1 kitab Zaad al-Ma'ad. Kesemuanya menjadi menu spiritual yang mengiringi kuliah normatif Islam di kampus. Buku-buku dan kitab-kitab itu layaknya pizza huts yang menggiurkan enaknya. Setidaknya, sesuai salah satu kitab penulis terkenal Syi'ah; Hernowo, yang diterbitkan Kaifa publishing Bandung (salah satu imprint penerbit Mizan) sekitar tahun 2003. Walaupun ketika LIPIA sudah pindah ke kampus baru di Buncit Raya, Jakarta Selatan; saya dengan teman kost sesama alumni satu almamater dari pondok pesantren al-Urwatul Wutsqaa, Sidrap, Sulawesi Selatan; masih betah mondar mandir di sekitaran Salemba Raya. Di samping faktor lain, keberadaan Gramedia sebagai tokoh buku unik dan lengkap; menambah gairah untuk tetap betah di tempat lama ini. 

Di Fakultas Syari'ah, kami bahkan dipandu langsung Dr. Daud Rasyid di mata kuliah hadits ahkam (Kitab Subulussalam). Ketika itu, beliau terhitung doktor mudah yang dianggap kritis terhadap pemikiran Neo Muktazilah  Prof. Dr. Harun Nasution dan Dr. Nur Kholis Majid. Sejumlah buku beliau tulis seputar itu, termasuk buku berbahasa Arab; as-Sunnah Fii Indonesia. Di sela-sela kuliah, terkadang beliau terpancing juga menceritakan polemik Islam kiri dan Islam kanan. Bahkan, terasa itu adalah oase baru yang makin memacu kami menguasai kitab-kitab klasik. Dari beliau lah kami banyak mendapat info kitab-kitab modern yang pro Islam kanan. Seperti kitab as-Sunnah wa Makanatuha Fii at-Tasyrii al-Islami, karya Dr. Musthafa as-Siba'i, kitab as-Sunnah Qabla at-Tadwin karya Dr. Ujaj Al-Khatib dll. Termasuk mendengar buku-buku kiri seperti buku Ali Abdul Razik; Al-Islam wa Ushul al-Hukm, al-Qashah al-Qur'ani tulisan Khalafallah yang mengklaim kisah Al-Qur'an hanya sebatas rekaan imajiner; tidak real karena hanya sebatas pembelajaran dan pendidikan. Saat kami di fakultas syari'ah ini pula terbit majallah Islam liberal bernama Syir'ah. Hanya 1 edisi yang sempat saya lirik. Klo tidak salah, sempat membahas masalah budaya; tari perut yang terkenal di Mesir itu dalam pandangan Islam (Liberal). Entah majallah itu keluaran JIL (Jaringan Islam Liberal) yang berkantor di Utan Kayu, Jakarta Timur; dekat tempat kerja saya sekarang atau bukan. 

Semua tumpukan literatur itu berdialog tidak karuan dalam file-file memori kami. Namun tampaknya belum cukup kuat untuk dijadikan sebuah ledakan pemikiran. Bukan karena minimnya literatur, tapi tak lebih karena kurangnya keahlian menulis kami. Namun sebagai "row material", bahan baku itu cukup mumpuni untuk menemani kami dalam petualangan intelektual berikutnya. Terutama dengan kehadiran Jurnal pemikiran dan peradaban Islam pertama di Indonesia; ISLAMIA. Produk intelektual muda muslim Indonesia; hasil didikan prof Dr. Naquib Al Attas di Malaysia. Jurnal ini dikomandani oleh Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi dan Dr. Adian Husaini. Mereka berdua tokoh INSIST Jakarta.

Pertama kali jurnal ini dibawa oleh seorang teman sekelas yang belakangan ini menjadi ustadz fenomenal di jejaring sosial FB; Ustadz Anshari Taslim, Lc. Jurnal inilah yang semakin mendobrak dan membuka kesadaran ilmiah kami; tentang bagaimana literatur klasik itu memandang dan didialogkan dengan literatur pemikiran modern yang serba kiri. Belum lagi sumber-sumber orientalis yang banyak dibedah pemikiran mereka di jurnal tersebut. Pembahasan yang diangkat pun di edisi perdana langsung ke Hermeneutika. Basis umum metodologi pemikiran yang menjadi keahlian wajib di madrasah intelektual liberal. Kata dan istilah tafsir disamakan dengan Hermeneutika secara total, tanpa membedakan latar belakang budaya yang membedakan/melahirkan kedua istrilah tersebut. Hampir semua tema-tema pemikiran kontemporer sempat dipublis dan dianalisis secara cerdas dan kritis pada jurnal pemikiran dan peradaban Islam ini. Mulai dari pluralisme agama, framework studi Islam orientalis, kerancuan berpikir tokoh liberal, akar peradaban Barat dll; hadir di sini dengan bahasa ilmiah. Masa-masa itu, terkadang saya merasa, mata pelajaran dan rutinitas kuliah di LIPIA seolah merecoki kegemaran kami meliterasi di bidang pemikiran dan pergerakan. Karena terkadang buku-buku pergerakan dan pemikiran itu mengaduk-aduk semangat dan jiwa untuk berbua sesuatu. Sedang mata kuliah berasa hampa dan tekanan "tanggungjawab"nya lumayan tinggi. Tanpa disuruh; ayat, hadits, ijma', Qiyas, dll seolah harus dihapal. Kalau pun tidak, tentu bingung mau nulis apa pas lembaran ujian tiba. Namun, rasa itu kami sadari setelah lewat masa-masa karantina LIPIA dan terjun bebas di ranah dakwah dan pengajaran di salah satu pondok pesantren di Jawa Barat; Husnul Khatimah namanya. Anak-anak santri putra dan putri begitu doyan ketika di luar mata pelajaran; saya nyerempet ke cerita-cerita bernuansa pemikiran dan bersemangat dakwah. Seperti ketika kami di kampus LIPIA dulu. Itu berjalan sekitar 1,5 tahun lamanya. Sebelum peluang beasiswa Depag resmi di tangan untuk studi lanjutan di ilmu-ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. Itulah sekelumit modal intelektual yang coba kami terus rapikan dalam folder-folder otak; yang nantinya menemani kami dalam kelas-kelas bebas pemikiran di Pascasarjana. 

Sekian dulu ya. Dah tengah malam. Hehehe 😅. Maaf, terlalu serius. 

Ahad, 5 April 2020. (11 Sya'ban 1441 H)

Pengembaraan Intelektual. (Catatan Perjalanan Akademik)

Pengembaraan Intelektual. (Catatan Perjalanan Akademik)

Bagian 1.

By. Idrus Abidin.

Tulisan ini memadukan antara :

  1. Sikap Intelektual Islam Liberal (Mengurai Kejumudan Berfikir, Merusak Citra Agama Atas Nama Pembaharuan).
  2. Sikap Intelektual Islam Moderat (Pembaharuan Islam Ala Klasik). Modern tanpa kebablasan. 
  3. Pengalaman real lapangan. 

Titik sentral Pembaharuan (tajdid) yang digelorakan oleh kalangan muslim liberal dunia, termasuk di Indonesia; bertumpu pada realitas. Realitas tersebut umumnya berdasarkan pengertian Barat (Wordfiew) sekuler; termasuk prinsip praktis yang digunakan dalam membaca teks-teks syari'at (framework). Sehingga Islam dibaca dengan penafsiran tertentu dengan memberikan porsi keutamaan pada realitas. Bahkan, realitas tampaknya dianggap patokan pasti (qath'i), sedang teks-teks keagamaan/syariat harus mengikuti panduan realitas tersebut karena dianggap hanya sebatas perkiraan (zhanni). Itulah makna Islam sesuai dengan semangat setiap zaman dan semua tempat dalam nalar kaum liberal. Maka, jungkir baliklah standar baku prosedur memahami teks-teks keagamaan yang dipelopori oleh Nabi, sahabat, tabi'in. Prosedur baku dan terhitung sakral dalam internal Ahlu Sunnah; terutama kalangan Atsariyah. Prosedur baku tersebut dikenal dengan Tafsir bi al-Matsur dalam dunia Tafsir. Yaitu pendekatan dan prosedur pemahaman syariat mengikuti alur riwayat (atsar). Perbedaan ekstrim antara Islam kanan dan Islam kiri inilah yang melahirkan sikap saling tuduh antara dua pola dan dua kecenderungan tersebut. Islam progresif vs Islam Jumud. Islam ingklusif vs Islam Eksklusif. Islam liberal vs Islam Literal. Tampak hanya ada dua pilihan bagi publik awam dan pemula; seolah tidak ada kombinasi baru (sintesis). 

Alhamdulillah, kami sudah hidup dalam ke-2 nuansa intelektual tersebut. Yang dibilang (dituduh) Islam fundamental, Literal, eksklusif, Islam Jumud dll kami selami lewat studi perbandingan madzhab di kampus biru; LIPIA, Jakarta. Semua rumpun mata kuliah di kampus ini serba berbeda tinjuan mazhabnya. Walaupun itu bertahap adanya. Di akidah misalnya, diawali dengan akidah sederhana dalam bentuk mudzakkirah (catatan pendek sekedar rangkuman) di kelas persiapan bahasa (I'dad Lughawi) dan pemantapan bahasa (Takmili). Di Fakultas syari'ah, kitab al-Qaul al-Mufidnya Syaikh Utsaimin sebagai Syarah kitab at-Tauhid Muhammad bin Abdul Wahhab dipelajari. Masih satu pendekatan. Namun, di semester 4 kalau tidak salah, perbedaan pendapat dalam ranah teologi Islam dengan pendekatan ilmu Kalam yang serba filosofis bahasanya mulai dipelajari. Kitab Aqidah Thahawiyah karya imam Abul Izz al-Hanafi dijadikan mata kuliah resmi. Kepala kami pun cenut-cenut membaca teks klasik itu dengan perdebatan intelektual dialektis (jadal) tingkat tinggi. Bahkan, sejak selesai fakultas syari'ah tahun 2005 hingga hari ini, masih banyak yang belum saya pahami dengan baik dari kitab tersebut. Mungkin karena nilai intelektualnya yang tinggi; terutama di kalangan Ahlu Sunnah Atsariyah. Kadang harus dihapal jawabannya walau tidak ngerti isinya sebagai pertanggungjawaban di kelas-kelas ujian. 
 
Di fiqih dan Ushul Fikih pun sama. Awalnya satu Mazhab. Fikih Syafi'iyah yg merangkum ragam pendapat di internal mazhab tersebut ada di kitab Kifatyatul Akhyar. Sebagai Syarah dari kitab Matn Abi Syuja'. Lagi-lagi kepala cenut-cenut. Seolah bayi yang dipaksa makan nasi goreng pedes. Hehehe. Itu di Takmili. Ushul Fiqihnya pake kitab Syaikh Shalih Utsaimin. Sastra Arabnya (Balagah) yang berkategori 3 serangkai ; Badi', Bayan dan Ma'ani  tak kalah susahnya. 2 tahun pertama di I'dad Lughawi seolah merangkum 9 tahun belajar resmi di negara-negara Arab dari SD ke SMP. Sedang 1 tahun di Takmili seperti perasan ilmu 3 tahun di SMA Arab yang harus dijilat sempurna. Teks-teks sastra Arab itu seperti mantra-mantra sakti atau azimat yang berisi banyak simbol; susah dimengerti maksudnya. Bagi saya, 1 tahun di Takmili itu lebih "memenjarakan" dibanding 4 tahun di karantina fakultas syari'ah.  Gramatika Arabnya (Nahwu) memakai standar Alfiyah Ibnu Malik yang disederhanakan penjelasannya oleh kementerian pendidikan Arab Saudi. 

Di Fakultas Syari'ah, semuanya perbedaan pendapat. Hanya sejarah Dakwah Imam Abdul Wahhab dan Tarbiyah saja yang rada-rada standar. Mata kuliah lain serba njelimet 😅. Ushul Fiqih make Raudhatu an-Nazhir karya Ibnu Qudamah. Rekaman dialektik antara Mazhab fuqaha dan mutakkalimin hadir bagai sinetron persilatan Bramakumbara atau Tuturtinular atau sejenisnya di Indonesia. Seru tapi berat. Muktazilah pun selalu ikut serta dalam diskusi ala Indonesia Lawyers Club (ILC) itu. Tampak jauh berbeda dengan muktazilah plus hari ini yang doyan banget dg pluralisme agama. Di Fiqih, kitab Bidayatul Mujtahid karya filosof Ibnu Rusyd dipake. Tambah mumet kepala gue dg beragam perbedaan Mazhab. Di Hadits Hukum, buku Subulussalam; Syarah kitab Bulugulb Maram dijadikan panduan kuliah. Mazhab resmi Syi'ah Zaidiyah dengan Hadawiyah-nya dijadikan Mazhab ke-5 oleh Imam ash-Sha'nani. So, jangan anggap anak-anak LIPIA hanya belajar Sunnah tanpa tahu Syi'ah loh ya; terutama di ranah Fiqih. 

Di mata kuliah Tafsir pun lagi-lagi perbedaan yang tampak. Pendekatan riwayat (ma'tsur) dan metode rasional (dirayah) ikut meramaikan mata kuliah di ranah tafsir ini. Dirangkum oleh Imam asy-Syaukani  dalam kitab Fath al-Qadir; al-Jami' Baina Fannae ar-Riwayah wa ad-Dirayah min 'Ilmi at-Tafsir. Walaupun kadar jelimetnya lumayan standar. Di pelatihan penulisan karya ilmiah berupa skripsi di Indonesia, malah di Lipia 3 x (semester 4, 6 dan 8). Tentunya pake bahasa Arab resmi bro😅.  Di sini ada loh, pasukan cyber army yang terus mantau dosen yang make bahasa pasaran (ammiyah). Ga boleh pokoke. Krn Lipia adalah miniatur laboratorium pembelajaran bahasa Arab internasional untuk non Arab.

Yaaah... Itulah sekelumit pengembaraan intelektual kami di Islam tekstual kata para kaum liberal. Saya termasuk bersyukur (puas dan bangga) pernah "babak belur" dalam gemblengan naskah-naskah klasik ulama masa lalu di kampus biru itu (Kampus Arab Rasa Indonesia). Walaupun saya sendiri biasa-biasa aja ilmunya. Tidak sepertii alumni lain yang telah menasional, bahkan meng-internasional ; seperti Ust. Anis Matta, Ust. Bahtiar Nasir, Ust. Zaitun Rasmin,  (Trio Sul Sel). Ust. KH Dr. Asrorun Ni'am dan KH. Dr. Kholil Nafis di NU,  Ust. Ahmad Heryawan, Ust. Subki Al Buguri dll. Silahkan ditambahkan gaes ! Hehehe 😅

7 tahun lamanya penjara ilmiah itu kualami bersama teman seangkatan dengan beragam rasa (nano-nano kali 😅). Hingga kampus biru itu kontraksi suatu saat, lahirlah daku sebagai salah satu sarjana alam ghaib 😅 (selevel S.Ag di kampus nasional). 7 tahun lamanya, seperti masa studi fakultas kedokteran, tapi hanya beda jurusan. Mereka di Kesehatan biologis, kami di kesehatan psikologis keislaman 😅😅😅

Catatan :

1. Pengembaraan intelektual di Dunia Akademik "Progresif" ala liberal ntar nyusul aja ya bro. Biar ga kepanjangan dan ga ngebosenin. 

Bersambung. In syaa Allah.

Pagi di Jum'at Berkah, 3 April 2020
(9 Sya'ban 1441 H.)

Kekuatan Wahyu (Al-Qur'an dan as-Sunnah) Terhadap Sains/Teknologi Modern.

Kekuatan Wahyu (Al-Qur'an dan as-Sunnah) Terhadap Sains/Teknologi Modern.

By. Idrus Abidin.

 
Menurut Dr. Sa'ad bin Bajjad al-Utaibi, Terdapat 3 sikap dan perspektif intelektual muslim terhadap hasil temuan ilmu  pengetahuan modern :

1. Pemisahan Total antara Islam dan Sains/Tekhnologi modern. Masing-masing dianggap memiliki domain tertentu. Semuanya dianggap benar berdasarkan metodologinya masing-masing. 

Pendapat ini yang diamini oleh banyak tokoh Kristen modern. Mereka tidak mempermasalahkan temuan universitas yang kontradiksi dengan kitab suci Bibel. Sikap ini pula yang diikuti oleh kalangan muslim yang kebarat-baratan; yang sangat getol dengan filsafat Realisme (Positivisme) atau Materialisme atau Marksisme. Akhirnya, mereka membuat slogan; Agama dipisahkan dari sains dan teknologi. 

Sikap dan perspektif seperti ini tidak ada tempatnya dalam Islam. Bukan saja bertentangan dengan nuansa keimanan sebagai mana penegasan teks-teks keagamaan, tetapi karena setiap orang yang mempelajari Al-Qur'an dan as-Sunnah dengan penuh sikap objektif pasti akan menemukan kesesuaian total antara Islam dan penemuan terkini.  

2. Pandangan yang melihat adanya kesesuaian antara Islam dan temuan Sains/teknologi. Namun, perspektifnya tetap mengunggulkan sains dan teknologi. Artinya, jika tampak adanya kontradiksi; sains dan teknologi lah yang menjadi referensi. Penafsiran ulang teks-teks keagamaan mutlak dilakukan agar searah dengan temuan Sains dan teknologi modern. Itu tentunya terjadi jika teks Wahyu tersebut mungkin ditafsirkan dengan cara baru. Malahan terkadang teks Wahyu ditolak dengan alasan hanya berkategori zhanni. Sehingga dianggap tidak relevan ketika berhadapan dengan fakta-fakta ilmiah terkini. 

Sikap ini tidak bisa diterima. Islam adalah pionir; bukan pembeo. Tidak mungkin teks syariat dikerdilkan atau dianggap ambigu hanya karena kesan ilmiah. Istilah yang belum tentu sampai ke level meyakinkan sebagaimana standar baku yang diterima di tengah komunitas ilmiah dunia. Karena ilmu didasari oleh hipotesis dan asumsi yang diuji terus menerus agar bisa menjadi fakta ilmiah tanpa batas. Ini adalah sisi kelemahan utama sains dan teknologi; sekalipun itu juga  yang menjadi rahasia keberlangsungan dan eksistensinya. 

3. Perspektif yang meyakini Islam tetap menempati posisi tertinggi sekaligus mengakui semua sarana ilmu yang otoritatif, sembari tetap memanfaatkan temuan-temuan ilmiah demi terwujudnya tujuan utama sains dan teknologi berupa kemudahan hidup manusia. Walaupun kebahagiaan tetap saja domain Islam. 

Sebenarnya, semua temuan Sains dan teknologi pada seluruh peradaban yang pernah ada menjadi pelayan ideologi. Makanya, akidah yang lurus dan nilai-nilai mendasar tetap mengarahkan laju Ilmu Pengetahuan menuju kebaikan dan kemaslahatan. Jika akidah dan ideologi bermasalah, ilmu hanya menjadi sarana buruk bagi kekuatan yang akan menghancurkan masa depan kemanusiaan. Hanya Islam yang mampu memberikan perspektif akidah yang benar sehingga Ilmu Pengetahuan menemukan ekosistem yang baik untuk terus berkembang; sehingga bisa diarahkan menuju puncak kemajuan dan perbaikan. 

---------------

Walau bagaimanapun, jika diasumsikan adanya kontradiksi antara Wahyu dengan ilmu pengetahuan modern, tetap saja teks Wahyu dinomorsatukan. Karena teks syar'i merupakan Wahyu dari Allah yang maha  mengetahui segala sesuatu secara total. Sedang pengetahuan modern hanya sebatas pengetahuan manusia yang berbentuk penemuan baru. Sedetil apapun pengetahuan itu tetap saja sebatas pengetahuan manusia yang senantiasa tunduk patuh pada rasio  yang serba relatif, lemah, kurang dan pendek jangkauannya. 

Bukti empiris pernyataan ini termuat dalam salah hadits berikut :

عن أبي سعيد : أن رجلا أتى النبي صلى الله عليه و سلم فقال أخي يشتكي بطنه فقال ( اسقه عسلا ) . ثم أتاه الثانية فقال ( اسقه عسلا ) . ثم أتاه الثالثة فقال ( اسقه عسلا ) . ثم أتاه فقال قد فعلت ؟ فقال ( صدق الله وكذب بطن أخيك اسقه عسلا ) . فسقاه فبرأ

Dari Abi Sa’id: “Ada seseorang menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata: ‘Saudaraku mengeluhkan sakit pada perutnya.’ Nabi berkata: ‘Minumkan ia madu.’ Kemudian orang itu datang untuk kedua kalinya, Nabi berkata: ‘Minumkan ia madu.’ Orang itu datang lagi pada kali yang ketiga, Nabi tetap berkata: ‘Minumkan ia madu.’Setelah itu, orang itu datang lagi dan menyatakan: ‘Aku telah melakukannya (namun belum sembuh juga malah bertambah mencret).’ Nabi bersabda: ‘Allah Mahabenar dan perut saudaramu itu dusta. Minumkan lagi madu.’ Orang itu meminumkannya lagi, maka saudaranya pun sembuh.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim –redaksi dari al-Bukhari-).

Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkomentar, "Penegasan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bahwa Allah maha benar, perut temanmulah yang berbohong," merupakan penguat akan manfaat madu (obat). Keberadaan penyakit bukan karena lemahnya obat dg sendirinya, tetapi karena kebohongan perut dan begitu menumpuknya penyakit dalam tubuh. Sehingga beliau meminta agar diberikan obat (madu) berulang kali karena faktor tumpukan penyakit tersebut. Sungguh pengobatan Nabi tidak akan serupa dengan pengobatan ahli kesehatan mana pun. Pengobatan nabi bersifat meyakinkan, pasti dan bernuansa ilahi; berasal dari Wahyu dan cahaya kenabian serta kesempurnaan rasio. Sedang pengobatan lain hanya umumnya sebatas intuisi (hadas), perkiraan dan observasi. Tidak dipungkiri banyaknya orang sakit yang tidak mendapatkan kesembuhan dari pengobatan Nabi. Karena pengobatan Nabi hanya bermanfaat bagi yang menerimanya, yakin akan datangnya kesembuhan, disertai sikap iman dan ketundukan dalam menerimanya. Inilah Al-Qur'an sebagai obat jiwa -Jika tidak diterima sedemikian rupa- fungsinya mengobati penyakit jiwa tidak akan tampak. Bahkan, kaum munafik malah tambah kenceng dan berlipat ganda penyakit nifaqnya. Lalu bagaimana coba posisi pengobatan fisik dari kehebatan pengobatan Al-Qur'an?! Jadinya, pengobatan nabi tidak cocok kecuali dengan jiwa yang baik, sebagai mana halnya fungsi Al Qur'an sebagai obat; tidak akan berefek kecuali terhadap jiwa-jiwa suci  dan hati yang hidup. Penolakan masyarakat terhadap pengobatan Nabi sama halnya dengan penolakan terhadap pengobatan Al Qur'an - yang merupakan obat yang bermanfaat- Masalahnya bukan pada lemahnya obat, tapi karena buruknya tabiat manusia, jeleknya objek dan tidak adanya penerimaan tubuh dan jiwa terhadapnya." Dikutip oleh Dr. Sa'ad bin Bajjad al-Utaibi dari kitab Zaad al-Ma'ad Fii Hadyi Khairi al-'Ibad. 

Depok, 1 April 2020 (7 Sya'ban 1441 H)

Diadaptasi dari :

  • Mauqif Al-Ittijah al-Aqlani al-Islami al-Muashir Min an-Nash asy-Syar'i, Dr. Sa'ad bin Bajjad al-Utaibi.

Intuisi, Sarana Ilmu Pengetahuan Ke-3 Selain Indra dan akal.

Intuisi, Sarana Ilmu Pengetahuan Ke-3 Selain Indra dan akal.

By. Idrus Abidin.

Ringkasan materi kuliah Efistemologi Ilmu (Filsafat Ilmu-Nazhariyatul Ma'rifah) Mahasiswa STIS al-Manar, Semester VIII

Indra dan Akal tetap belum cukup memenuhi semua kebutuhan kita terhadap pengetahuan. Ketika kita mimpi dalam tidur, semuanya serba masuk akal. Namun, saat kita terbangun barulah kita sadar ada hal-hal yang tidak masuk akal pada mimpi tersebut. Berdasarkan akal, semua ruang kelas sama. Namun berdasarkan intuisi (hati), antara kelas yang satu dengan kelas lainnya berbeda-beda rasanya. Di sinilah akal gagal memberikan kita pengetahuan. Akal mampu mengeja CINTA tapi tak mengerti rasa dan makna cinta tersebut. Rasa manusialah yang mengerti makna cinta.
Itulah kelemahan pertama akal sekaligus kelebihan pertama intuisi. Akal hanya bisa berfungsi sebagai referensi ilmu yang bernuansa inteligensia, tapi gagal menjadi informan seputar sisi emosional manusia. Maksudnya, akal hanya berpikir konsep (sebagaimana seharusnya), bukan sebagai mana realitasnya (pengalaman parsial).

Kelemahan ke-2.

Akal hanya memahami objek secara umum. Tidak bisa mengerti objek secara khusus. Versi akal, 1 menit sama saja di mana pun manusia berada. Padahal, menurut intuisi setiap menit dalam kehidupan manusia itu selalu unik. Itulah kenapa manusia memahami adanya hari buruk dan hari baik, sesuai keyakinan masing-masing. Demikian pula, setiap manusia memiliki tempat yang dianggap sakral dan ada pula yang profan (biasa saja).

Kelemahan ke-3. 

Akal hanya memahami simbol (kata-kata) suatu objek, namun tidak mampu mengerti secara langsung hakikat simbol tersebut. Intuisilah yang mampu memahaminya. Contoh, akal mampu memahami "makan" sebagai aktivitas simbolik, tapi takkan bisa mengerti rasa makanan tersebut. Intuisilah yang mengerti rasa dari aktivitas makan secara langsung. Itulah kenapa, orang kenal semua kata "martabak" secara simbolis, namun rasa antara martabak satu dengan lainnya berbeda-beda sesuai intuisi masing-masing.
Untuk menutupi kelemahan akal tersebut, manusia dibekali oleh Allah hati yang menjadi sumber intuis sehingga sempurna perangkat ilmu pada diri manusia. Dengan hati, manusia bisa memahami seseorang dgn suara, atau dengan melihat matanya.  Akal hanya mengerti sesuatu dalam lingkup kesadaran. Sementara hati (intuisi) bisa memasuki alam bawa sadar (alam ghaib). Inilah yang diterima oleh para nabi via hati dengan potensi khusus yang dikaruniakan oleh Allah. Maka, hati layaknya sebuah radar yang mampu berkomunikasi dg makhluk gaib di sekitarnya. Seperti komunikasi dengan "malaikat" ; jika imannya lagi kokoh. Atau, berkomunikasi dengan setan jika imannya melemah. Karena hati bak radar, maka terkadang ia mampu menangkap sinyal lagit begitu nyata, betapapun redupnya sinyal itu versi akal. Inilah yang dikenal dengan lammah dalam hadits. 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِلشَّيْطَانِ لَمَّةً بِابْنِ آدَمَ وَلِلْمَلَكِ لَمَّةً فَأَمَّا لَمَّةُ الشَّيْطَانِ فَإِيعَادٌ بِالشَّرِّ وَتَكْذِيبٌ بِالْحَقِّ وَأَمَّا لَمَّةُ الْمَلَكِ فَإِيعَادٌ بِالْخَيْرِ وَتَصْدِيقٌ بِالْحَقِّ فَمَنْ وَجَدَ ذَلِكَ فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مِنَ اللَّهِ فَلْيَحْمَدْ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ اْلأُخْرَى فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ثُمَّ قَرَأَ الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمْ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ َالاَيَةَ

Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya setan memiliki bisikan pada manusia, malaikat juga memiliki bisikan. Bisikan setan  menjanjikan keburukan dan mendustakan kebenaran. Sedangkan bisikan malaikat  menjanjikan kebaikan dan mempercayai kebenaran. Barangsiapa mendapatkannya, maka ketahuilah bahwa itu dari Allah Azza wa Jalla, kemudian hendaklah dia memuji Allah Azza wa Jalla . Dan barangsiapa mendapatkan yang lain, maka hendaklah dia berlindung kepada Allah Azza wa Jalla dari setan yang dilaknat”. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِالْفَحْشَآءِ

Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir) ( al-Baqarah/2: 268) [HR. Tirmidzi, no. 2988, dishahîhkan oleh syaikh al-Albâni]

Sebagai penutup, hati mampu mengenal objeknya lebih akrab dan secara langsung. Ia mengerti manis bukan via buku atau cerita, tapi langsung mencicipinya. Cinta tidak dimengerti oleh akal. Hatilah yang merasakan hakikat cinta itu secara langsung, walaupun hati tidak mampu mengungkapkan perasaan cinta itu tanpa melalui kata dan narasi yang serba tunduk pada "aturan" bahasa yang serba rasional. 

Pengetahuan hati (intuisi) hadir pada diri seseorang. Seolah tak ada lagi batas dan jarak  antara seseorang dengan objeknya. Akal bisa jadi mengukur sesuatu secara jarak yang begitu jauh, tapi dekat secara hati (intuisi). Demikian pula sebaliknya. Inilah makna ungkapan Ibnul Qayyim al-Jauziyah, "Secara jarak (akal), kita dengan Allah jauh. Tapi dengan hati kita sebenarnya sangat dekat." Atau, kata beliau lagi, "Kita menuju Allah itu dengan hati. Maka, takwa itu pada dasarnya takwa hati, sebelum takwa lisan dan takwa fisik". Wallahu a'lam. 

Catatan :

  • 1. Islam menyatukan antara dua kutub ekstrim dalam Efistemologi pengetahuan. Yaitu antara filsafat idealisme (mitsaliyah) dengan filsafat realitas (waqi'iyyah)
  • 2. Batasan "rasional" dan "intuisi" ini, klo dalam Islam tetap mengikuti standar Al-Qur'an dan Sunnah; Biar tidak liar. Jadinya, Ilham dll nanti ada pembahasan khusus dlm akidah Islam.

Selasa, 31 Maret 2020

Koreksi Terhadap Pernyataan Prof. Quraish Shihab.

Koreksi Terhadap Pernyataan Prof. Quraish Shihab.

By. Idrus Abidin.

Beberapa hari ini, Ust. Prof Dr. Quraish Shihab rutin tampil di Indosiar menasehati kita seputar hikmah di balik Covid-19. Sungguh inisiatif Indosiar tersebut patut diapresiasi. Prof Quraish Shihab adalah salah satu nara sumber bermutu dalam studi keislaman (dengan segala kelemahan manusiawi yang beliau miliki). Belum lagi tampilan kecil di sudut Tv Indosiar yang mengingatkan masyarakat tiap hari akan dekatnya bulan suci Ramadhan. Itu semua patut dihargai. 

Namun, ada sedikit pernyataan beliau perlu koreksi dan perbaikan. Beliau menyatakan, 'Islam (terkadang) mendahulukan kemanusiaan daripada keberagamaan." Pernyataan ini merupakan dasar untuk menyimpulkan legalitas dan dukungan beliau terhadap fatwa MUI dan sikap pemerintah yang meminta warga beribadah di rumah; dengan tidak berjamaah 5 waktu di masjid. Cukup azan (sebagai informasi masuknya waktu shalat) dan perwakilan kecil yang shalat jama'ah di masjid agar azan tetap berkumandang. Juga supaya fardhu kifayah tetap berlangsung. Termasuk Jum'atan diganti duhuran. 

Mungkin maksud beliau hafizhahullah, DALAM KONDISI DARURAT, Islam mendahulukan kemanusiaan daripada keberagamaan. Seperti ketika nyawa terancam, sementara tidak ada makanan lain untuk bertahan hidup kecuali daging babi. Artinya, pernyataan beliau berusaha menetralisir kesalahpahaman orang-orang yang membenturkan antara ibadah (keberagamaan) dengan rasa takut dari covid-19. Sebatas itu, pernyataan beliau lurus-lurus saja. Namun, peryataan demikian seringkali dimanfaatkan kalangan muslim liberal untuk membenturkan fakta keislaman dengan filsafat Realisme, Positivisme, dll untuk kepentingan buruk. 

Kalau persfektif ana yang terbatas, seharusnya dikatakan, dalam kondisi darurat, Islam mengizinkan manusia beribadah secara pribadi di rumah masing-masing. Sehingga tidak ada kesan kontradiksi antara agama (Islam) dan kemanusiaan. 

Keberagamaan (Islam) itulah yang menyatu dengan kemanusiaan. Istilahnya, rabbaniah-insaniyah. Islam menyatu dengan kemanusiaan secara utuh. Tidak ada pemisahan, tidak ada kontradiksi. Adanya hanya kompromi, akurasi dan sinergi. Hanya Allah yang mampu melakukan itu. Menyatukan langit dan bumi serta dunia akhirat dalam sebuah visi misi yang komprehensif dan proporsional. Islam itu menyatukan semua yang berpasangan (berlawanan) dalam sebuah harmoni (tauhidi). Tidak seperti pemikiran sekuler, liberal, materialistik dan rasional kebablasan; yang seringkali mempertentangkan banyak hal. Langit dan bumi. Laki dan perempuan. Idealisme dan realisme.

Selama Islam ini dipahami dengan baik, in syaa Allah efeknya pasti baik dunia akhirat.  Bahkan, itulah salah satu perbedaan karakteristik antara Allah dan hambaNya.  Makhluk berpasangan, sedang Allah unik, istimewa dan esa. Tidak butuh istri, anak dan apapun dan siapapun. Itulah makna tauhid. Sementara makhluk itu berpasangan (zaujiyah). Maksudnya, dalam kondisi darurat pun, Islam senantiasa Rabbani dan insani sekaligus. 

Catatan :

Anggaplah perbedaan ini tidak substantif, tapi hanya sebatas perbedaan istilah saja (khilaf lafdzi). Atau ini hanya perbedaan variatif (tanawwu), bukan perbedaan kontradiktif (thadad). Wallahu a'lam.

Menurut antum gimana gaes ? 

Depok, 2 April 2020 (Kamis, 8 Sya'ban 1441 H)

Categories

About Us

There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form.

نموذج الاتصال