‏إظهار الرسائل ذات التسميات Renungan.. إظهار كافة الرسائل
‏إظهار الرسائل ذات التسميات Renungan.. إظهار كافة الرسائل

الاثنين، 6 يوليو 2020

Hak dan Batil ; Seteru Abadi Sepanjang Lorong Duniawi

Hak dan Batil ; Seteru Abadi Sepanjang Lorong Duniawi

By. Idrus Abidin.

"Jangan hitam putih bang," kata kawan ketika melihat seseorang yg diasumsikan fundamentalis. "Santai aja hidupnya kang," sergah yg lain. Padahal dunia ini memang ujian. Ketegangan pasti mengiringi. Walau optimisme tampil menghibur. Galaunya seorang manusia karena diaspora maksiat di mana-mana merupakan citra positif sebagai tanggung jawab hamba. Tampillah dia sebagai marketer ilahi. Qur'an dan Sunnah beserta pemahaman ulama lurus berdedikasi, dijadikan produk utama kepada beragam customer. 

Qur'an dan Sunnah dijelaskan sebagai manhaj/metode (hidayah) dg kejelasan maksimal. "Tiada keraguan pada Al-Qur'an," tegas Allah pada potongan awal Al Baqarah. Artinya kepastian, kejelasan, keterangan dan keyakinan terpampang dg sangat nyata di setiap ayatnya. Namun, tersisa sebuah tanya oleh seorang kawan suatu ketika. "Jika Qur'an dan Sunnah itu jelas, sebagaimana penegasan Allah dan Rasul-Nya, lalu kenapa "banyak" manusia dan jin mengingkarinya. Baik terang-terangan seperti orang kafir maupun sembunyi-sembunyi layaknya komunitas munafik?." "Cerdas juga kawanku ini," ucapku. 

Yaaaaah...itu emang sebuah misteri. Jika terbuka dalam perspektif manusia, tentu mereka manggut-manggut dg fitrahnya yg lurus penuh sikap tulus. "Sejelas apa pun Qur'an dan Sunnah jika dihadapkan kepada orang buta, tuli, gila dan berhati batu, takkan ada efeknya. Demikianlah Allah menegaskan pada ayat 6-7 surat al-Baqarah tentang sikap dan alasan orang-orang kafir." Begitulah sekelumit penjelasanku. "Di banyak ayat di sejumlah surat, seragam banget penegasan demikian," tambahku. 

Itulah gambaran normatif dan realitas hidup ini. Keterbukaan dan ketertutupan menjadi alasan berhadap-hadapannya kebenaran dan kebatilan. Hidayah diperoleh via mata, telinga, akal dan hati. Itulah keterbukaan orang beriman demi mendownload kebenaran, lalu meresapinya begitu dalam pada bilik-bilik sanubarinya. Makanya, jgn heran, cuma mereka yg disebut Allah Ulul albab (berhati), Ulul Abshor (bermata), Ulun Nuha (berakal). Sedang kafir dan munafik menutup diri dari sumber hidayah itu. Gemboklah (gisyawah) yg menutup mata, telinga, akal dan hatinya sehingga cahaya hidayah takkan pernah menembus rerelung jiwanya. Gembok itu adalah maksiatnya. Semakin maksiat, gembok itu makin kuat pula daya rekatnya. Pantaslah kalau orang-orang beriman dijadikan musuh bersama secara abadi sepanjang bentangan sejarah. Bahkan kini dan nanti. Semua kompetensi dg beragam piranti mereka maksimalkan demi mereduksi, bahkan mengkorupsi kitab suci. Seperti tindak Yahudi, laknatullah 'alaih. Cuman satu asaku. Semoga hidupku dan semua saudara muslimku berakhir pada garis finish orang2 beriman dan bertaqwa. Tentunya karena tidak pindah rel perjuangan dan gerbong keberpihakan. Amin...

Monitoring Islam Liberal dari Bilik Islam Klasik.

Monitoring Islam Liberal dari Bilik Islam Klasik.
Pengembaraan Intelektual. (Catatan Perjalanan Akademik). Bagian 2.

By. Idrus Abidin.

Tulisan ini memadukan antara :

1. Sikap Intelektual Islam Liberal (Mengurai Kejumudan Berfikir, Merusak Citra Agama Atas Nama Pembaharuan).
2. Sikap Intelektual Islam Moderat (Pembaharuan Islam Ala Klasik. Modern tanpa kebablasan). Berhati-hati tanpa telat berkontribusi. 
3. Pengalaman real lapangan. 

Masa-masa karantina LIPIA sebagai basis akademik Islam klasik (S1 plus) sudah sangat tepat. Versi Islam lurus, sejarah peradaban itu mengikuti alur berikut :

A. Era tauhid.
B. Masa-masa degradasi tauhid menuju maksiat.
C. Era kesyirikan.

Versi ini, manusia berawal dari tauhid dan hidayah sejak masa nabiyullah Adam dan Hawa. Terjadinya kemunduran taqwa berawal dari perselisihan saudara kandung; Qabil dan Habil atas nama pesona kecantikan wanita. Itulah masa era tauhid menuju degradasi. Keturunan Qabil mewarisi degradasi, sedang Habil meneruskan otoritas Tauhid. Hadir di masa setelah itu nabi Idris alaihissalam. Nabi pertama yang terampil dalam industri jahitan versi Ibnu Katsir dalam Qashas Anbiyaa beliau. Syirik menjadi dominan, sehingga Allah mengutus rasul pertama; Nuh alaihissalam. Dalam penuturan Ibnu Katsir, interval waktu antara Adam dan Nuh kisaran 9 generasi x 1000 tahun = 9.000 tahun. Karena rata-rata umur mereka per generasi adalah 1000 tahun.

Berbeda dengan persfektif Islam lurus di atas, kalangan Islam liberal mengikuti alur peradaban versi sekuler, yaitu :

A. Era mitos.
B. Masa keagamaan.
C. Era Sains dan teknologi (positivisme).

Agama versi Islam liberal hanya masa-masa peralihan dari era mitos. Era makhluk pra sejarah yang umumnya mengakui teori evolusi Darwin dengan monyet sebagai asal-usul (nenek moyang) manusia. Agama menjadi kerdil peranan kemasyarakatannya karena (realitas) sains dan teknologi merajai kehidupan sosial. Maka, pemisahan agama dengan dunia mutlak dilakukan oleh mereka via proyek pembaharuan. Politik menjadi ajang bersih-bersih dari campur tangan agama. Ruang publik disterilkan dari perspektif agama. Agama cukup menjadi doktrin pribadi yang tak punya hak dan akses ke ranah publik. Ilmiah versi Barat bukan sekedar ilmu yang sistematis, tapi juga harus empiris (indrawi). Agama pun tak punya hak menyandang status "ilmiah" sekalipun memiliki sistematika unik melampaui ilmiahnya ilmu peradaban mana pun, seperti yang dimiliki ilmu hadits (kritik sanad). 

---------------

Selama kami berkutat di kampus dg sejumput mata kuliah yang telah disebutkan pada status sebelumnya, di sela-sela kuliah tahun pertama di wilayah Salemba, Jakarta Timur, saya juga ikut taklim pekanan kurleb setahun di masjid kompleks BRI yang terletak di bilangan jalan Pramuka menuju ke jalan Pemuda atau ke jalan Salemba Raya. Di situlah saya mengenal syari'at jenggot yang diajarkan taklimnya oleh Ust. Abdul Hakim Abdat dengan Shahih Bukhari sebagai pegangan taklim resmi. Itu berlangsung tiap Sabtu pagi di akhir pekan (weekend). Termasuk ketika itu mengeritisi kandungan majalah Sabilii yang dianggap menyimpang oleh sang Ustadz. Sesekali juga di hari Selasa sore ikut taklim di masjid Dewan Dakwah (DDI Pusat) yang diampuh oleh Ustadz Yazid Jawwaz. Riyadhusshalihin dijadikan panduan taklim rutin. Suatu ketika, saat saya sedang asyik-asyiknya menikmati buku-buku berhaluan haraki-ikhwani, terjadi polemik di internal -cikal bakal- Salafi Indonesia itu. Pemantiknya adalah bagaimana menempatkan status bagi syekh Muhammad Abduh di Mesir dengan majalah al-Urwatul Wutsqaa serta Universitas Al-Azhar-nya di Kairo, Mesir. Versi almarhum Ust. Ja'far Umar Thalib dan Ust. Hakim Abdat, Syaikh Muhammad Abduh termasuk bermasalah secara manhaj (waktu itu belum ada istilah polisi manhaj apalagi cyber army manhaj). Sedang Ust. Yazid Jawwaz terhitung positif menanggapi status sang syekh, kala itu.

Serasa ada titik balik pada diri ana sehingga sementara waktu lock down dari kajian beliau berdua. Ana melanjutkan tradisi baru yang doyan melahap buku-buku pergerakan yang juga getol menyinggung musuh intelektual kiri, terutama polemik Islam kiri dan Islam kanan di Mesir dan di Indonesia tercinta. Tulisan kritis Ustadz Hartono Ahmad Jaiz terhadap pembaharuan salah kaprah itu, termasuk di antara list menu harian kami. Buku-buku Syaikh Yusuf Qardhawi (terutama al-Ibadah Fii al-Islam dan Tsaqafatu ad-Daiyah), Syaikh Quthub (terutama Fii Zhilal Al-Qur'an, Ma'alim Fii at-Thariq dan Dirasat Islamiyah dll), Syaikh Sa'id Hawwa dg Tazkiyatunnafs dan Rambu-Rambu jalan Ruhani serta buku-buku Ibnul Qayyim al-Jauziyah seperti ringkasan kitab Madarijussalikin dan volume 1 kitab Zaad al-Ma'ad. Kesemuanya menjadi menu spiritual yang mengiringi kuliah normatif Islam di kampus. Buku-buku dan kitab-kitab itu layaknya pizza huts yang menggiurkan enaknya. Setidaknya, sesuai salah satu kitab penulis terkenal Syi'ah; Hernowo, yang diterbitkan Kaifa publishing Bandung (salah satu imprint penerbit Mizan) sekitar tahun 2003. Walaupun ketika LIPIA sudah pindah ke kampus baru di Buncit Raya, Jakarta Selatan; saya dengan teman kost sesama alumni satu almamater dari pondok pesantren al-Urwatul Wutsqaa, Sidrap, Sulawesi Selatan; masih betah mondar mandir di sekitaran Salemba Raya. Di samping faktor lain, keberadaan Gramedia sebagai tokoh buku unik dan lengkap; menambah gairah untuk tetap betah di tempat lama ini. 

Di Fakultas Syari'ah, kami bahkan dipandu langsung Dr. Daud Rasyid di mata kuliah hadits ahkam (Kitab Subulussalam). Ketika itu, beliau terhitung doktor mudah yang dianggap kritis terhadap pemikiran Neo Muktazilah  Prof. Dr. Harun Nasution dan Dr. Nur Kholis Majid. Sejumlah buku beliau tulis seputar itu, termasuk buku berbahasa Arab; as-Sunnah Fii Indonesia. Di sela-sela kuliah, terkadang beliau terpancing juga menceritakan polemik Islam kiri dan Islam kanan. Bahkan, terasa itu adalah oase baru yang makin memacu kami menguasai kitab-kitab klasik. Dari beliau lah kami banyak mendapat info kitab-kitab modern yang pro Islam kanan. Seperti kitab as-Sunnah wa Makanatuha Fii at-Tasyrii al-Islami, karya Dr. Musthafa as-Siba'i, kitab as-Sunnah Qabla at-Tadwin karya Dr. Ujaj Al-Khatib dll. Termasuk mendengar buku-buku kiri seperti buku Ali Abdul Razik; Al-Islam wa Ushul al-Hukm, al-Qashah al-Qur'ani tulisan Khalafallah yang mengklaim kisah Al-Qur'an hanya sebatas rekaan imajiner; tidak real karena hanya sebatas pembelajaran dan pendidikan. Saat kami di fakultas syari'ah ini pula terbit majallah Islam liberal bernama Syir'ah. Hanya 1 edisi yang sempat saya lirik. Klo tidak salah, sempat membahas masalah budaya; tari perut yang terkenal di Mesir itu dalam pandangan Islam (Liberal). Entah majallah itu keluaran JIL (Jaringan Islam Liberal) yang berkantor di Utan Kayu, Jakarta Timur; dekat tempat kerja saya sekarang atau bukan. 

Semua tumpukan literatur itu berdialog tidak karuan dalam file-file memori kami. Namun tampaknya belum cukup kuat untuk dijadikan sebuah ledakan pemikiran. Bukan karena minimnya literatur, tapi tak lebih karena kurangnya keahlian menulis kami. Namun sebagai "row material", bahan baku itu cukup mumpuni untuk menemani kami dalam petualangan intelektual berikutnya. Terutama dengan kehadiran Jurnal pemikiran dan peradaban Islam pertama di Indonesia; ISLAMIA. Produk intelektual muda muslim Indonesia; hasil didikan prof Dr. Naquib Al Attas di Malaysia. Jurnal ini dikomandani oleh Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi dan Dr. Adian Husaini. Mereka berdua tokoh INSIST Jakarta.

Pertama kali jurnal ini dibawa oleh seorang teman sekelas yang belakangan ini menjadi ustadz fenomenal di jejaring sosial FB; Ustadz Anshari Taslim, Lc. Jurnal inilah yang semakin mendobrak dan membuka kesadaran ilmiah kami; tentang bagaimana literatur klasik itu memandang dan didialogkan dengan literatur pemikiran modern yang serba kiri. Belum lagi sumber-sumber orientalis yang banyak dibedah pemikiran mereka di jurnal tersebut. Pembahasan yang diangkat pun di edisi perdana langsung ke Hermeneutika. Basis umum metodologi pemikiran yang menjadi keahlian wajib di madrasah intelektual liberal. Kata dan istilah tafsir disamakan dengan Hermeneutika secara total, tanpa membedakan latar belakang budaya yang membedakan/melahirkan kedua istrilah tersebut. Hampir semua tema-tema pemikiran kontemporer sempat dipublis dan dianalisis secara cerdas dan kritis pada jurnal pemikiran dan peradaban Islam ini. Mulai dari pluralisme agama, framework studi Islam orientalis, kerancuan berpikir tokoh liberal, akar peradaban Barat dll; hadir di sini dengan bahasa ilmiah. Masa-masa itu, terkadang saya merasa, mata pelajaran dan rutinitas kuliah di LIPIA seolah merecoki kegemaran kami meliterasi di bidang pemikiran dan pergerakan. Karena terkadang buku-buku pergerakan dan pemikiran itu mengaduk-aduk semangat dan jiwa untuk berbua sesuatu. Sedang mata kuliah berasa hampa dan tekanan "tanggungjawab"nya lumayan tinggi. Tanpa disuruh; ayat, hadits, ijma', Qiyas, dll seolah harus dihapal. Kalau pun tidak, tentu bingung mau nulis apa pas lembaran ujian tiba. Namun, rasa itu kami sadari setelah lewat masa-masa karantina LIPIA dan terjun bebas di ranah dakwah dan pengajaran di salah satu pondok pesantren di Jawa Barat; Husnul Khatimah namanya. Anak-anak santri putra dan putri begitu doyan ketika di luar mata pelajaran; saya nyerempet ke cerita-cerita bernuansa pemikiran dan bersemangat dakwah. Seperti ketika kami di kampus LIPIA dulu. Itu berjalan sekitar 1,5 tahun lamanya. Sebelum peluang beasiswa Depag resmi di tangan untuk studi lanjutan di ilmu-ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. Itulah sekelumit modal intelektual yang coba kami terus rapikan dalam folder-folder otak; yang nantinya menemani kami dalam kelas-kelas bebas pemikiran di Pascasarjana. 

Sekian dulu ya. Dah tengah malam. Hehehe 😅. Maaf, terlalu serius. 

Ahad, 5 April 2020. (11 Sya'ban 1441 H)

Pengembaraan Intelektual. (Catatan Perjalanan Akademik)

Pengembaraan Intelektual. (Catatan Perjalanan Akademik)

Bagian 1.

By. Idrus Abidin.

Tulisan ini memadukan antara :

  1. Sikap Intelektual Islam Liberal (Mengurai Kejumudan Berfikir, Merusak Citra Agama Atas Nama Pembaharuan).
  2. Sikap Intelektual Islam Moderat (Pembaharuan Islam Ala Klasik). Modern tanpa kebablasan. 
  3. Pengalaman real lapangan. 

Titik sentral Pembaharuan (tajdid) yang digelorakan oleh kalangan muslim liberal dunia, termasuk di Indonesia; bertumpu pada realitas. Realitas tersebut umumnya berdasarkan pengertian Barat (Wordfiew) sekuler; termasuk prinsip praktis yang digunakan dalam membaca teks-teks syari'at (framework). Sehingga Islam dibaca dengan penafsiran tertentu dengan memberikan porsi keutamaan pada realitas. Bahkan, realitas tampaknya dianggap patokan pasti (qath'i), sedang teks-teks keagamaan/syariat harus mengikuti panduan realitas tersebut karena dianggap hanya sebatas perkiraan (zhanni). Itulah makna Islam sesuai dengan semangat setiap zaman dan semua tempat dalam nalar kaum liberal. Maka, jungkir baliklah standar baku prosedur memahami teks-teks keagamaan yang dipelopori oleh Nabi, sahabat, tabi'in. Prosedur baku dan terhitung sakral dalam internal Ahlu Sunnah; terutama kalangan Atsariyah. Prosedur baku tersebut dikenal dengan Tafsir bi al-Matsur dalam dunia Tafsir. Yaitu pendekatan dan prosedur pemahaman syariat mengikuti alur riwayat (atsar). Perbedaan ekstrim antara Islam kanan dan Islam kiri inilah yang melahirkan sikap saling tuduh antara dua pola dan dua kecenderungan tersebut. Islam progresif vs Islam Jumud. Islam ingklusif vs Islam Eksklusif. Islam liberal vs Islam Literal. Tampak hanya ada dua pilihan bagi publik awam dan pemula; seolah tidak ada kombinasi baru (sintesis). 

Alhamdulillah, kami sudah hidup dalam ke-2 nuansa intelektual tersebut. Yang dibilang (dituduh) Islam fundamental, Literal, eksklusif, Islam Jumud dll kami selami lewat studi perbandingan madzhab di kampus biru; LIPIA, Jakarta. Semua rumpun mata kuliah di kampus ini serba berbeda tinjuan mazhabnya. Walaupun itu bertahap adanya. Di akidah misalnya, diawali dengan akidah sederhana dalam bentuk mudzakkirah (catatan pendek sekedar rangkuman) di kelas persiapan bahasa (I'dad Lughawi) dan pemantapan bahasa (Takmili). Di Fakultas syari'ah, kitab al-Qaul al-Mufidnya Syaikh Utsaimin sebagai Syarah kitab at-Tauhid Muhammad bin Abdul Wahhab dipelajari. Masih satu pendekatan. Namun, di semester 4 kalau tidak salah, perbedaan pendapat dalam ranah teologi Islam dengan pendekatan ilmu Kalam yang serba filosofis bahasanya mulai dipelajari. Kitab Aqidah Thahawiyah karya imam Abul Izz al-Hanafi dijadikan mata kuliah resmi. Kepala kami pun cenut-cenut membaca teks klasik itu dengan perdebatan intelektual dialektis (jadal) tingkat tinggi. Bahkan, sejak selesai fakultas syari'ah tahun 2005 hingga hari ini, masih banyak yang belum saya pahami dengan baik dari kitab tersebut. Mungkin karena nilai intelektualnya yang tinggi; terutama di kalangan Ahlu Sunnah Atsariyah. Kadang harus dihapal jawabannya walau tidak ngerti isinya sebagai pertanggungjawaban di kelas-kelas ujian. 
 
Di fiqih dan Ushul Fikih pun sama. Awalnya satu Mazhab. Fikih Syafi'iyah yg merangkum ragam pendapat di internal mazhab tersebut ada di kitab Kifatyatul Akhyar. Sebagai Syarah dari kitab Matn Abi Syuja'. Lagi-lagi kepala cenut-cenut. Seolah bayi yang dipaksa makan nasi goreng pedes. Hehehe. Itu di Takmili. Ushul Fiqihnya pake kitab Syaikh Shalih Utsaimin. Sastra Arabnya (Balagah) yang berkategori 3 serangkai ; Badi', Bayan dan Ma'ani  tak kalah susahnya. 2 tahun pertama di I'dad Lughawi seolah merangkum 9 tahun belajar resmi di negara-negara Arab dari SD ke SMP. Sedang 1 tahun di Takmili seperti perasan ilmu 3 tahun di SMA Arab yang harus dijilat sempurna. Teks-teks sastra Arab itu seperti mantra-mantra sakti atau azimat yang berisi banyak simbol; susah dimengerti maksudnya. Bagi saya, 1 tahun di Takmili itu lebih "memenjarakan" dibanding 4 tahun di karantina fakultas syari'ah.  Gramatika Arabnya (Nahwu) memakai standar Alfiyah Ibnu Malik yang disederhanakan penjelasannya oleh kementerian pendidikan Arab Saudi. 

Di Fakultas Syari'ah, semuanya perbedaan pendapat. Hanya sejarah Dakwah Imam Abdul Wahhab dan Tarbiyah saja yang rada-rada standar. Mata kuliah lain serba njelimet 😅. Ushul Fiqih make Raudhatu an-Nazhir karya Ibnu Qudamah. Rekaman dialektik antara Mazhab fuqaha dan mutakkalimin hadir bagai sinetron persilatan Bramakumbara atau Tuturtinular atau sejenisnya di Indonesia. Seru tapi berat. Muktazilah pun selalu ikut serta dalam diskusi ala Indonesia Lawyers Club (ILC) itu. Tampak jauh berbeda dengan muktazilah plus hari ini yang doyan banget dg pluralisme agama. Di Fiqih, kitab Bidayatul Mujtahid karya filosof Ibnu Rusyd dipake. Tambah mumet kepala gue dg beragam perbedaan Mazhab. Di Hadits Hukum, buku Subulussalam; Syarah kitab Bulugulb Maram dijadikan panduan kuliah. Mazhab resmi Syi'ah Zaidiyah dengan Hadawiyah-nya dijadikan Mazhab ke-5 oleh Imam ash-Sha'nani. So, jangan anggap anak-anak LIPIA hanya belajar Sunnah tanpa tahu Syi'ah loh ya; terutama di ranah Fiqih. 

Di mata kuliah Tafsir pun lagi-lagi perbedaan yang tampak. Pendekatan riwayat (ma'tsur) dan metode rasional (dirayah) ikut meramaikan mata kuliah di ranah tafsir ini. Dirangkum oleh Imam asy-Syaukani  dalam kitab Fath al-Qadir; al-Jami' Baina Fannae ar-Riwayah wa ad-Dirayah min 'Ilmi at-Tafsir. Walaupun kadar jelimetnya lumayan standar. Di pelatihan penulisan karya ilmiah berupa skripsi di Indonesia, malah di Lipia 3 x (semester 4, 6 dan 8). Tentunya pake bahasa Arab resmi bro😅.  Di sini ada loh, pasukan cyber army yang terus mantau dosen yang make bahasa pasaran (ammiyah). Ga boleh pokoke. Krn Lipia adalah miniatur laboratorium pembelajaran bahasa Arab internasional untuk non Arab.

Yaaah... Itulah sekelumit pengembaraan intelektual kami di Islam tekstual kata para kaum liberal. Saya termasuk bersyukur (puas dan bangga) pernah "babak belur" dalam gemblengan naskah-naskah klasik ulama masa lalu di kampus biru itu (Kampus Arab Rasa Indonesia). Walaupun saya sendiri biasa-biasa aja ilmunya. Tidak sepertii alumni lain yang telah menasional, bahkan meng-internasional ; seperti Ust. Anis Matta, Ust. Bahtiar Nasir, Ust. Zaitun Rasmin,  (Trio Sul Sel). Ust. KH Dr. Asrorun Ni'am dan KH. Dr. Kholil Nafis di NU,  Ust. Ahmad Heryawan, Ust. Subki Al Buguri dll. Silahkan ditambahkan gaes ! Hehehe 😅

7 tahun lamanya penjara ilmiah itu kualami bersama teman seangkatan dengan beragam rasa (nano-nano kali 😅). Hingga kampus biru itu kontraksi suatu saat, lahirlah daku sebagai salah satu sarjana alam ghaib 😅 (selevel S.Ag di kampus nasional). 7 tahun lamanya, seperti masa studi fakultas kedokteran, tapi hanya beda jurusan. Mereka di Kesehatan biologis, kami di kesehatan psikologis keislaman 😅😅😅

Catatan :

1. Pengembaraan intelektual di Dunia Akademik "Progresif" ala liberal ntar nyusul aja ya bro. Biar ga kepanjangan dan ga ngebosenin. 

Bersambung. In syaa Allah.

Pagi di Jum'at Berkah, 3 April 2020
(9 Sya'ban 1441 H.)

Tidak Ada Ciptaan Allah Sia-Sia.

Tidak Ada Ciptaan Allah Sia-Sia.

By. Idrus Abidin.

Inti segala yang ada di dunia ini adalah rahmat. Rahmat yang berasal dari Ihsan Allah yang berwujud kekayaanNya yang tiada terkira. Siklus Ihsan, kekayaan, kasih sayang hingga berwujud pengampunan ; membuat segalanya terjadi seperti sekarang. Kekafiran, kemunafikan, kefasikan dibiarkan sementara sebagai bentuk pemberian kebebasan supaya ujian bisa berjalan di dunia ini. Yang taat dan maksiat akan tersingkap secara jelas. Itu dalam lingkup takdir syariat. 

Gempa bumi, banjir, letusan gunung berapi, termasuk covid-19 dibiarkan. Tujuannya apalagi kalau bukan ujian kesabaran. Karena itu semua masuk kategori ketentuan alam (takdir kauni) yang pasti terjadi. Belum lagi hikmah lain seperti teguran agar manusia kembali ke fitrah mereka. Kalau pun ada yg ditimpa covid-19 sebagai hukuman (ada yg mengaitkannya dengan Otoritas China yang menyiksa muslim Uighur), tentu Allah maha mengetahui siapa yang pantas mendapatkannya. Walaupun demikian, hal-hal yang diampuni olehNya jauh lebih besar dibandingkan ujian dan hukuman itu. Krn klo tidak demikian, maksudnya, Allah tidak penyayang lagi, tapi menggunakan standar keadilan di dunia ini, maka habislah seluruh manusia dan jin. Karena dosa dan kezaliman mereka sudah pantas membuat langit runtuh, lautan tsunami, bumi bergoyang penuh gempa dan semua bentuk ketidakseimbangan di alam semesta ini. Bahkan, ada yg menganalisa, covid-19 saat ini adalah bentuk lain dari upaya semesta untuk meraih kembali keseimbangannya. 

Selain rahmat Allah ada juga disebut hikmah.  Jika rahmat Allah terbagi 2 ; rahmat khusus dan rahmat umum, hikmahNya hanya bersifat khusus. Rahmat umum mencakup orang-orang kafir. Sedang Rahmat khusus hanya untuk orang-orang beriman. Disebut rahim. Al-Qur'an, secara umum disebut rahmat Allah. Atau disebut Hidayatul Irsyad (petunjuk umum). Sedang kemampuan muslim mengimani lalu melaksanakannya dalam kehidupan; hati, lisan dan anggota tubuh, pada lingkup pribadi, keluarga, masyarakat hingga negara disebut rahim. Atau, disebut pula hidayah Taufik. 

Biar tidak panjang, covid-19 ini, di antara hikmahNya, memberikan kesempatan padaku untuk banyak membaca buku-buku khusus yang telah lama dikoleksi. Terutama kitab-kitab yang membahas pemikiran liberal di dunia Islam dan perspektif Islam orisinil terhadapnya. Salah satunya adalah kitab, 

موقف الإتجاه العقلاني الإسلامي المعاصر من النص الشرعي

Sikap Cendekiawan Muslim Rasional Modern Terhadap Teks-Teks Syariat. 

Semoga goresan ringkas ini dan buku yg sedang dibaca; memberikan limpahan pemahaman dan ketajaman analisa. Agar bisa mempertebal Istiqomah dan kontribusi terhadap terangnya jalan lurus serta memberi nasehat kepada diri sendiri dan sesama muslim yang kurang tepat dalam metode argumentasi dan prosedur penalaran. Aamiin.

Ahad, 22 Maret 2020

الخميس، 18 أبريل 2019

Saksi Kebenaran (Keadilan dan Keihsanan) Via Pencoblosan (Pilpres).



By. Idrus Abidin.

Jadilah saksi Allah yang adil dan jujur serta menjunjung tinggi kebenaran. Demikian salah satu pesan ketuhanan dlm Al-Qur'an. Kebenaran (tauhid) yang telah disaksikan sendiri oleh Allah kebenarannya. Lalu malaikat dan para ulama dijadikan saksi Kebenarannya pula. Termasuk kebenaran Islam. (QS Ali Imran : 18-19)

Kebenaran dan kesaksian terhadapnya itu telah diwariskan setiap generasi ke generasi berikutnya hingga saat ini di negeri kita, Indonesia. Pencoblosan hari ini adalah bagian dari persaksian atas kebenaran itu. Kebenaran yang banyak diselewengkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dengan istilah takwil dan beragam istilah lain yang subtansinya penyelewengan dari kebenaran. Banyak orang tertipu dengan istilah-istilah yang tampak keren, tapi sebenarnya adalah penipuan dari orang-orang blm merasa tertipu. Penyelewengan dari kebenaran ini minimal ada empat kategori : (1). Kufur, (2). Fasiq, (3). Maksiat, (4). Murni kesalahan. 

Kesaksian tentang kebenaran Allah dan keesaanNya serta kebenaran Islam, termasuk kemaslahatan Islam dalam pilpres kali ini mencakup empat makna sekaligus :

(1). Pengetahuan dan keyakinan tentang kebenaran objek persaksian. 

(2). Pernyataan dan ungkapan tentang kebenaran tersebut.

(3). Pengumuman kepada orang sekitar kita akan kebenaran yg telah diketahui, yakini dan nyatakan, baik dengan ucapan ataupun perbuatan (sikap)

(4). Menerima konsekuensi logis kebenaran dlm seluruh perangkat diri (jiwa, lidah dan raga) dan semua sektor kehidupan (ibadah, sosial, pendidikan, politik dll) demi terwujudnya kebenaran, keadilan dan Keihsanan. 

Artinya, segala iman dan Islam kita beserta semua ucapan dan perbuatan kita adalah kesaksian terhadap pengetahuan dan keyakinan, ungkapan dan pernyataan, ajakan dan seruan serta kesiapan menerima konsekuensi dari semua itu. 

Kini, pada hari ini, kesaksian tentang siapa diantara 2 calon presiden yang kita ketahui, yakini, nyatakan, hingga kita info dan kampanye kan via lisan, sikap, tulisan, di media sosial; cetak dan online, bahkan kita wajib dan haruskan untuk keluarga, teman dan seluruh jaringan yang ada, telah dilakukan. Wilayah kita hanyalah usaha dan ikhtiar. Hasilnya hanya dominasi Allah. Dan Allah maha jujur terhadap segala janji-janjinNya. Ketika kemenangan bukan di pihak kita artinya ada yg salah dengan usaha kita; bukan pada prinsip kita insya Allah. Atau karena kecurangan yang akan dipertanggungjawabkan oleh pihak pelaksana. Namun, keberpihakan kepada yang benar itulah yang utama. Semoga diridhai dan dimenangkan Allah sekalipun dengan usaha kita yang bisa jadi belum maksimal. Aamiin. 

Pasir putih, Depok, 17 April 2019.

🌷🌷🌷🌵🌵🌵🍄🍄🍄

Ikuti update status nasehat dari kami via :
1. FB : Idrus Abidin
3. YouTube Channel : Gema Fikroh.
4. Telegram Channel : Gemah Fikroh.

الثلاثاء، 10 أبريل 2012

Syirik dan Tipu Daya Setan

SINOPSIS.

Syirik merupakan dosa yang menempati rating tertinggi dalam hirarki dosa-dosa bani adam. Bahkan karena dosa ini, manusia bisa keluar dari wilayah Islam menuju wilayah kekafiran. Wilayah yang manjadi dominasi setan yang terkutuk. Dalam wilayah inilah setan merancang berbagai system yang terpadu dengan dukungan sejumlah prangkat canggih, dilengkapi dengan sumber daya yang kompeten untuk mencari anggota baru dari kalangan bani adam dan kalangan jin. Karena memang kedua jenis terakhir itulah yang sedang menempuh perjalan menuju Allah swt. Dunia inilah yang menjadi tempat observasi mereka. Tempat di mana mereka berusaha mencari jalan yang lurus. Jalan yang telah direkomendasikan oleh sang pemilik kenikmatan dan siksaan (baca : Allah). Jalan yang telah dilewati oleh para nabi, syuhada, dan shalihin sebelumnya. Kelompok terakhir inilah yang telah berhasil menempuh sebuah perjalanan spiritual yang mencengangkan sehingga rival mereka dari kalangan setan tidak mampu membendung berbagai jurus yang mereka tampilkan selama dalam observasi mereka di dunia ini.

الخميس، 9 فبراير 2012

KETIKA CINTA BERBUAH SORGA


Oleh : Idrus Abidin.

PENDAHULUAN.

Mahabbatullah (mencintai Allah) merupakan wujud keimanan seorang muslim terhadap Allah swt. Kecintaan ini lahir dari pengenalan yang baik tentang Allah swt. Jika kita sadari bahwa para nabi adalah orang-orang yang paling mengenal Allah, maka dipastikan bahwa merekalah yang memendam cinta yang mendalam dalam hati mereka. Kecintaan kepada Allah swt akan menjadi landasan bagi amal yang shalih yang lahir dari keimanan yang benar. Sebuah amal yang dilakukan tanpa melibatkan rasa kecintaan akan melahirkan kehampaan. Bahkan menjadi beban yang menyesatkan dada.
Cinta, tak pelak lagi mempengaruhi kedalaman hati dan lahiriah seseorang. Ketika cinta diarahkan kepada yang seharusnya dicintai (Allah) maka akan mengawal lahirnya cinta yang menentramkan. Banyak fakta yang memperkuat hal ini. Jika cinta ditujukan kepada selain Allah maka biasanya akan membuat buta seseorang. Kecintaan demikian sering pula menghasilkan ketidakpastian, rasa penasaran dan kesenangan semu. Cinta kepada selain Allah akan hilang mana kala yang dicntai itu telah sirna dan tak berbekas lagi. Padahal cinta kepada Allah swt tidak mengenal ruang dan waktu. Kecintaan kepada orang tua, anak, istri, perhiasan dunia dan lainnya dibenarkan selama berada dalam koridor cinta kepada Allah swt dan tidak menyamai, apalagi melampauinya. Jika cinta kepada selain Allah dilandasi oleh syahwat, maka terhadap Allah, kecintaan itu biasanya dikawal oleh keimanan.
Dalam al-Qur'an juga ditemukan beberapa tingkatan cinta. Tahapan cinta ini memberikan gambaran kepada kita tentang bagaimana kita bercinta dan memposisikan cinta itu pada posisinya berdasarkan pada nilai-nilai Islam. Secara global, cinta diawali oleh perkenalan, lalu diikuti oleh hubungan hati yang mengarahkan perasaan simpati. Kelanjutannya menuju curahan hati dan rasa rindu yang ujungnya menyampaikan kepada kemesraan, dan bahkan sampai pada level memenjarakan jiwa (menghamba). Bagi seorang muslim, cinta pada level hubungan hati diusahakan tertuju kepada benda sebagai alat, misalnya, seperti mobil pribadi. Cinta bentuk ini mengejawentah pada perawatan dan penjagaan untuk dapat dimanfaatkan pada batas-batas yang dibolehkan oleh syari'at. Sedangkan level simpati diarahkan terhadap sesama manusia karena sejumlah aspek yang sangat mendasar. Pada tahap ini, interaksi dibangun dalam rangka menularkan nilai-nilai keislaman yang universal. Sedang level cinta yang memungkinkan teradinya curahan hati diarahkan kepada tali persaudaraan sesama muslim, yang dapat diberdayakan dalam mengembang nilai-nilai perjuangan da'wah. Kepada mereka disemai pula rasa kasih sayang dan dan saling cinta. Inilah jawaban kenapa sahabat-sahabat Rasulullah sendiri sangat rindu untuk bertemu dengan sesama sahabat, setelah mereka berpencar ke seluruh penjuru wilayah Islam yang baru terbuka. Cinta yang melahirkan kemesraan sebaiknya ditujukan kepada sesama mukmin, Rasulullah dan Islam. Sedang cinta yang membuat seseorang menghamba dan mengiba adalah cinta terhadap Allah semata.

CINTA ALLAH VERSUS CINTA YANG MENJERUMUSKAN.

Cinta merupakan sesuatu yang melekat pada diri manusia. Cinta ini jika tidak diarahkan kepada Zat yang seharusnya dicintai (Allah) maka ia akan tersalurkan kepada selain-Nya. Sebagaimana dijelaskan, lahirnya cinta karena adanya pengenalan terhadap obyek yang menarik. Jika pengetahuan kita tentang Allah sangat kerdil, maka jelas cinta kita pun aka nihil karenanya. Ketika cinta kepada Allah tidak memadai akibat ketidakadanya pengetahuan, maka cinta kita akan berporos pada apa-apa ang kita kenal di sekitar kita, seperti, anak, ibu, ayah, saudara, kendaraan, dll. Cinta terhadap hal-hal di atas tentu tidaklah dilarang oleh Islam. Tetapi jika cinta kita kepadanya menyamai, bahkan mlebihi cinta kepada Allah maka di sanala timbul permasalahan.
Tentang kecintaan terhadap perhiasan dunia, Allah mensinyalir, "Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga"). (QS Ali Imran : 14).  Jika cinta jenis ini menyamai, bahkan melebihi cinta manusia kepada Allah dan rasul-Nya, maka Allah menegaskan ancaman-Nya, "Katakanlah: "Jika bapak-bapak , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (QS. At-Taubah : 24). Urgensi cinta kepada Allah memang hendaknya ditegaskan, karena dengan penegasan demikian, cinta kepada selain Allah bisa diatur sesui dengan kadarnya dan ditempatkan dalam koridor kecintaan kepada Allah itu sendiri. Format cinta demikianlah yang merangkum spektrum cinta menjadi totalitas cinta kepada Allah dan tidak mempertentangkannya dengan kecintaan kepada-Nya.

INDIKASI CINTA.

Kecintaan melahirkan tanda-tanda yang merupakan wujud nyata dari kecintaan itu sendiri. Beberapa ciri kecintaan adalah selalu mengingat yang dicintai, mengaguminya, sering menyebut-nyebut namanya, rela dan siap berkorban untuknya dan penuh rasa khawatir dan harap terhadap yang dicintai. Indikasi demikian muncul setelah adanya upaya untuk mengenal. Dengan perkenalan inilah cinta dengan beragam manifestasinya beserta indkasinya bisa terlihat.
    Sering mengingat yang dicintai.
Rasa cinta yang diliputi kekaguman akan berefek pada seringnya seseorang mengingat yang dicintai. Orang beriman adalah orang yang memiliki cinta yang diliputi kekaguman dan pengagungan terhadap Allah swt. "Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah." (QS al-Baqarah : 165). Kecintaan inilah yang menggetarkan hatinya ketika nama sang kekasih disebutkan, karena memang hatinya terpaut dengan-Nya dan selalu mengisi relung jiwanya. Tetang orang beriman yang demikian, Allah menginformasikan, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal". (QS. Al-Anfal : 2).
    Kagum terhadap yang dicintai.
Cinta Allah memang akan membuat seseorang mengagumi-Nya. Kekaguman biasanya lahir dari kehebatan sesuatu. Dan tidak pelak  lagi bahwa Allah-lah pemilik segala kehebatan. Karenanya, kekagumana hanyalah pantas ditujukan kepada-Nya. Kekaguman yang melahirkan kesiapan untuk menghambakan diri kepada-Nya. Kekaguman inilah yang melahirkan pujian terhadap yang dicintai. Karenanya, Allahlah merupakan Zat yang harus dipuji sebagaimana Ia memuji dirinya sendiri dan mengharapkan para pecinta-Nya untuk memuji-Nya pula. Firman Allah, "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di hari Pembalasan." (QS al-Fatihah : 1-4).
    Rela (ridha) terhadap yang dicintai.
Cinta yang menggejala pada seseorang akan melahirkan keridha'an terhadap kekasihnya. Orang beriman juga demikian keadaanya terhadap Allah swt. Keridhaan inilah yang membuat mereka melakukan perintah Allah dengan penuh keikhlasan. Karena kerelaan seperti ini merupakan tanda cinta, Allah swt menegaskan pentingnya mencari keridha'an-Nya. Keridhaan Allah lahir setelah sebelumnya orang mukmin pun merelakan Allah sebagai Zat yang dicintainya. Allah swt menegaskan, "Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya". (QS. Al-Bayyinah : 8).
    Siap berkorban.
Siap berkorban merupakan konsekwensi cinta seseorang terhadap pihak yang dicintai. Sejauh manapun kecintaannya terpatri pada kedalaman sanubarinya, maka sejauh itulah kesiapannya berkorban. Dalam Islam, kesiapan berkorban terhadap Allah berwujud pada pembelaan, advokasi dan menda'wahkan Islam sebagai way of life di tengah peradaban manusia. Allah swt menerangkan kesiapan para pecinta-Nya untuk berkorban demi kejayaan Islam dan kaum muslimin, "Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya Karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya". (QS. Al-Baqarah : 207).
    Merasa khawatir (khauf) jika yang dicintai marah kepadanya.
Cinta menghasilkan perasaan khawatir bagi sang pecinta jika sendainya sang kekasih merasa tidak senang dengan tindak tanduk yang ditampilkanya. Rasa khawatir ini muncul sebagai akibat dari harapannya yang begitu besar untuk mendapatkan keridha'an kekasihnya. Ketika seorang muslim selalu khawatir jika perbuatannya banyak yang tidak pantas kepada Allah, maka itu artinya mereka merasakan betapa besar cinta dan harapannya terhadap keridhaan Allah kepadanya. Sehingga dalam berdo'a pun mereka tetap merasakan sikap demikian.
    Mengharap keridhaan (raja') sang kekasih.
Keridhaan sang kekasih merupakan tujuan utama sang pecinta sejati. Berbagai hal dilakukanya dalam rangka mencapai keridhaan yang menyampaikannya kepada rahmat-Nya. Orang mukmin adalah mereka-mereka yang mentargetkan rahmat Allah sebagai ujung kecintaanya kepada Allah. Rahmat yang lahir dari keridhaan Allah terhadap para pecinta-Nya.
    Mentaati kehendak sang kekasih (tha'ah).
Orang mukmin adalah orang yang mengobarkan kecintaan kepada Allah swt dalam sanubarinya. Cinta mereka inilah yang menjadi faktor utama kenapa mereka sangat mentaati aturan-aturan yang ditetapkan oleh Allah swt. Kesiapan untuk mematuhi segala aturan yang diterapkan oleh sang kekasih merupakan wujud nyata kecintaan yang menggelora dalam sanubari  orang-orang beriman.

TINGKATAN CINTA KEPADA ALLAH SWT.

    Hubungan (Ala'qah).
Terjalinnya hubungan merupakan bentuk cinta terendah. Orang  mukmin menempatkan cinta pada level ini pada benda-benda yang terdapat di dunia ini untuk dimanfaatkan sesui dengan fungsinya masing-masing. Jika hubungan ini dilakukan terhadap berbagai materi yang ada melebihi kadar yang seharusnya, berupa manfaat dan dilihat sebagai sesuatu yang sangat urgen sehingga disembah, sebagaimana orang-orang yang menyembah matahari, maka ketika itulah lahir kemusyrikan. Artinya, menjadikan level cinta terendah berupa hubungan terhadap materi menjadi tunduk kepadanya sebagai hamba.
    Simpati ('Athf).
Cinta yang melahirkan simpati hanyalah pantas ditujukan kepada sesama manusia (muslim dan non muslim) sebagai wujud kasih sayang dan kepedulian untuk mendakwahi mereka menuju keselamatan dunia dan akhirat.
    Empati (Shababah).
Empati merupakan sikap yang dapat melahirkan ukhuwah islamiyah antara sesama muslim. Dengan berempati, diharapkan akan lahir sikap saling memahami dan berlanjut pada kesiapan unutk saling tolong menolong dalam berbagai aspek kebaikan.
    Rindu (Syauq).
Level ini merupakan bentuk cinta yang seharusnya ditampilkan terhadap sesama orang mukmin untuk merekatkan ukhuwah islamiyah. Dari ukhuwah ini diharapkan terjalinnya sebuah formasi yang propesional untuk lebih meningkatkan peranserta dalam dunia kemasyarakatan. Tentunya bertolak dari nilai-nilai Islam. Karena, pada dasarnya, formasi demikian merupakan tim yang diharapkan memperjuangkan Islam pada level kenegaraan dan forum internasional. Pada perkumpulan demikianlah cinta yang berwujud kerinduan seharusnya diberdayakan.
    Mesra (Isyq).
Setelah rindu, muncullah kemesraan. Kemesaraan ini dalam Islam diharapkan agar dinyatakan terhadap Rasulullah dan Islam sebagai dua komponen yang sangat mendasar. Bentuk nyata dari kemesaraan ini adalah lahirnya kesiapan untuk berkorban untuk membela keduanya.
    Menghamba (Tatayyum).
Inilah level tertinggi dalam hirarki cinta. Ia hanya pantas ditujukan kepada Allah swt, Zat yang memang memiliki segala prangkat dan menguasai segalanya. Sehingga menghamba kepada-Nya karena rasa cinta, kagum, dan takjub merupakan keharusan. Bahkan segala yang terkait dengan kekuasaan, kehebatan dan keperkasaan Allah ditunjukkan sebagai bukti bahwa Ia adalah Zat yang harus dicintai. Kecintaan yang melahirkan kesiapan untuk menghambakan diri dengan segala konsekwensinya. Cinta inilah yang merupakan kandungan syahadatain, La Ilaha Illallah Muhammadun Rasulullah. Yaitu suatu bentuk penghambaan yang lahir dari kecintaan yang menghasilkan ketulusan yang mendalam berupa keihlasan.

KONSEKWENSI CINTA (LAWAZIM AL-MAHABBAH).

Kehidupan merupakan tempat mengekspresikan berbagai potensi yang dimiliki manusia. Potensi yang melekat pada diri manusia adalah rasa cinta dan rasa benci. Kecintaan merupakan bentuk ungkapan rasa yang lahir dari pengenalan yang menyebabkan seseorang merasa mampu mendapatkan keinginannya dan menjauhi bahaya yang mngancam melalui peran serta yang dicintai. Sedangkan kebencian merupakan faktor utama yang mengarahkan manusia untuk berlepas tangan dari hal atau pihak yang dibenci. Dalam Islam, kecintaan akan melahirkan loyalitas (wala') sedangkan kebencian akan menampilkan sikap berlepas diri (bara'). Kebencian ini sendiri lahir dari kecintaan kepada Allah swt. Konsekwensi cinta kepada Allah yang demikian berwujud seperti sikap-sikap berikut :
Loyalitas (wala').
    Mencintai siapa pun yang dicintai oleh sang kekasih (Allah).
Konsekwensi cinta kepada Allah adalah keharusan mencintai siapa pun yang dicintai oleh Allah sendiri. Para malaikat, nabi-nabi, shidiqin, syuhada dan orang-orang shaleh adalah kalngan yang dicintai oleh Allah swt. Firman-Nya, "Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya." (QS an-Nisaa' : 69).
    Mencintai apa yang dicintai oleh sang kekasih.
Jika benar cinta seseorang kepada Allah, maka pastilah ia gemar dengan segala yang dicintai oleh Allah swt. Hal-hal yang dicintai oleh Allah adalah segala yang direkomendasikan oleh-Nya untuk dijadikan ibadah, baik berupa perkataan dan perbuatan, lahir maupun batin. Ibadah wajib dan sunnah merupakan dua amalan yang selalu digunakan oleh pecinta sejati untuk menunjukkan kecintaanya kepada Allah swt.

Berlepas diri (bara').
    Membanci siapa pun yang dibenci oleh Allah swt.
Membenci siapa pun yang dibenci oleh Allah adalah konsekwensi cinta kepada Allah. Iblis adalah penghulu semua jin dan manusia yang berani menunjukkan pembangkangannya kepada Allah. Karena itulah, Allah mengharapkan manusia menjadikan mereka semua sebagai musuh utama. Firman Allah, "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu), Karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu Hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala". (QS Fathir : 6)
    Membenci apa pun yang dibenci oleh Allah swt.
Semua yang dibenci oleh Allah haruslah dibenci pula oleh orang yang mencinta Allah. Kesyirikan, kemunafikan, kefasikan, kekafiran, keraguan dll, merupakan deretan hal-hal yang dibenci Allah ta'ala.
Demikianlah tanda-tanda, tingkatan dan konsekwensi cinta kepada Allah swt yang dapat menggiring manusia kepada amaliah yang berdasarkan ilmu yang mendalam. Jika cinta kita dimenej secara apik maka akan membuahkan  sorga yang selama dingan-angankan oleh semua manusia yang beriman. Semoga kita termasuk salah seorang yang mencintai dan dicintai oleh Allah swt. Amin. Wallahu a'lam.

الجمعة، 20 يناير 2012

BEKAL ORANG-ORANG SABAR

                                                      Karya : Ibnu Qayyim al-Jauziyah
                                                       Alih Bahasa : Idrus Abidin

         Anas Bin Malik Radhiyallahu Anhu mengatakan, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berhenti pada sebuah pepohonan lalu beliau menggerakkannya sehingga berjatuhan dedaunannya. Beliau mengatakan, "musibah dan penyakit lebih cepat menggugurkan dosa dibanding bergugurannya dedaunan pohon ini"
Ibnu Abiddunya menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dengan menisbatkannya secara marfu' kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam . Hadits tersebut berbunyi, " tidak seorang muslim pun kecuali pasti didampingi oleh dua malaikat Allah swt, keduanya tidak pernah meninggalkannya sehingga diputuskan salah satu dari dua perkara baginya, yaitu meninggal atau tetap hidup. Jika para pelayat bertanya kepadanya : bagaimana kondisismu ? lalu ia jawab, "saya bersyukur kepada Allah swt karena saya baik-baik saja". Maka kedua malaikat itu mengatakan, "bergembiralah dengan darah yang lebih baik dari darahmu dan kesehatan yang lebih baik dari kesehatanmu". Jika ia mengatakan, "saya sangat kepayahan sekali dengan penyakitku", maka kedua malaikat itu mengatakan, "bersedihlah dengan darah yang lebih jelek dari darahmu dan musibah yang lebih lama dibanding dengan musibah yang menimpamu".
Hadits ini tidaklah bertentangan dengan ungkapan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ketika sedang sakit, "betapa sakit kepalaku" , dan perkataan sa'ad, "wahai Rasulullah ! penyakitku makin parah padahal saya adalah seorang hartawan", juga ungkapan Aisyah, "Betapa pening kepalaku", karena semua itu hanyalah sekedar informasi dan bukan merupakan bentuk keluhan terhadap para pelayat.  Jika seorang yang sakit menyebut kebesaran Allah swt lalu menyebut penyakitnya maka itu bukanlah bentuk keluhan. Tetapi jika ia menerangkan penyakitnya dengan penuh keluh kesah maka itu termasuk bentuk keluhan. Jadi dengan satu ungkapan saja seseorang bisa mendapatkan pahala dan bisa pula menuai dosa berdasarkan niat dan tujuannya.
        Tsabit Al-Bunani mengatakan, "kami berangkat bersama Hasan untuk menjenguk Sofwan Bin Mihraz. Lalu salah seorang anaknya keluar menemui kami sambil berkata : Dia sedang sakit perut. Anda tidak bisa menemuinya. Tiba-tiba Hasan berkata, "jika ayahmu hari ini berkurang daging dan darahnya maka itu lebih baik dibanding kalau dimakan oleh tanah".
    Tsabit juga mengatakan, kami pernah mengunjugi Rabi'ah Bin Harits ketika penyakitnya sedang parah. Ketika itu, ia mengatakan, "siapapun yang mengalami seperti ini maka akhirat pasti mendominasi hatinya. Dunia terasa kecil di matanya dibanding lalat". Disebutkan pula dari Anas sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, "jika seseorang sakit selama tiga hari maka ia bersih dari dosa-dosanya seperti ia baru saja dilahirkan dari perut ibunya".  Juga sebuah hadits dari beliau, "do'a orang yang sedang sakit tidaklah tertolak hingga ia sembuh".
    Ibnu Abiddunya menyebutkan sebuah hadits dari Ibnu Mas'ud, ia berkata : saya pernah duduk bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Tiba-tiba beliau tersenyum. Kami lalu bertanya, apa yang membuatmu tersenyum wahai Rasulullah ? beliau menjawab, " saya heran dengan penyakit yang menimpa seorang mukmin. Jika saja ia tahu apa yang ia peroleh selama sakit maka pasti ia ingin sakit selamanya hingga bertemu dengan Allah swt". Kemudian beliau tersenyum untuk kedua kalinya sambil menegadah ke langit. Kami bertanya lagi, ya Rasulallah ! kenapa engkau tersenyum sambil menegadah ke langit ? beliau menjawab, " saya heran dengan dua malaikat yang turun dari langit untuk mencari seorang mukmin yang selalu shalat berjamaah di masjid, tapi ia tidak mendapatkannya. Lalu keduanya kembali ke langit, lalu mengatakan, "wahai Tuhan ! hamba-Mu Yang mukmin selalu kami tulis amalannya siang dan malam, tapi ternayata ia sekarang sedang sakit sehingga kami tidak mencatat lagi pahalanya. Allah swt lalu berfirman, "tulislah pahala hamba-Ku seperti sebelumnya dan jangan sekali-kali menguranginya. Ia mendapatkan pahala selama ia sakit disamping pahala ibadahnya yang selalu ia lakukan ketika ia sedang sehat".
Disebutkan pula dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, " barang siapa yang sakit satu malam maka ia bersih  dari dosa-dosanya seperti layaknya baru keluar dari perut ibunya". Diantara hadits-hadits mursal Yahya Bin Katsir adalah ungkapannya bahwa  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah kehilangan salman, lalu beliau bertanya tentang ia dan dikabarkan bahwa Salman sedang sakit. Beliau lalu mengunjunginya dan berkata, "semoga Allah menyembuhkan sakitmu, memperbanyak pahalamu, mengampuni dosamu, dan meganugrahkan kesehatan pada agama dan badanmu hingga ajalmu berakhir. Engkau akan memperoleh dari penyakitmu ini empat hal. Pertama, peringatan dari Tuhanmu. Kedua, pembersih dari dosa-dosamu sebelumnya. Ketiga, berdoalah sebanyak-banyaknya karena do'a orang sakit sangat makbul".
Ziyad Bin Rabi' berkata, saya mengatakan kepada Ubay Bin Ka'ab, ada sebuah ayat yang membuatku sedih. Ia mengatakan, ayat apa itu? Saya bilang, "firman Allah yang berbunyi : "Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu". (An-Nisaa : 123). Dia berkata, "saya pikir anda lebih paham dibanding saya. Seorang mukmin tidaklah terjatuh atau salah urat kecuali karena sebuah dosa. Hanya saja Allah swt lebih banyak mengampuni".
Aisyah pernah ditanya tentang ayat ini. Ia berkata, "belum ada yang menanyakan ayat ini kepadaku semenjak saya menanyakannya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Beliau mengatakan, "wahai Aisyah ! itu adalah bentuk balasan Allah swt terhadap hamba-Nya, berupa sakit demam, sariawan, tertusuk duri dan tali sandal yang terputus. Bahkan barang yang disimpan di sakunya lalu hilang hingga ia kebingungan karenanya. Setelah itu ia temukan dalam genggamannya. Seorang mukmin akan terbebas dari dosa-dosanya layaknya emas murni yang keluar dari ampas las.  Wahab Bin Munabbih mengatakan, "seseorang tidaklah dianggap Ahli Fiqhi hingga ia meganggap cobaan sebagai ni'mat dan menganggap sehat sebagai cobaan. Sebabnya karena orang yang tertimpa musibah mengharapkan sehat dan orang yang sehat menunggu terkena cobaan".
Pada beberapa tempat dalam kitabullah disebutkan, "Allah swt menimpakan cobaan yang tidak disukai oleh hamba-Nya. Ia sebenarnya mencintai hamba-Nya itu, hanya saja ia mau melihat bagaimana hamba-Nya tadharru' (tunduk dengan penuh keluh kesah) kepada-Nya".
Ka'ab mengatakan, "saya menemukan dalam kitab Taurat : jika saja tidak membuat hamba-Ku yang mukmin bersedih maka aku membalut kepala orang kafir dengan pembalut yang terbuat dari besi. Pembalut itu tidak akan hancur selamanya". Ma'ruf Al-Karhi berkata, "Allah swt senantiasa menguji hamba-Nya dengan berbagai penyakit agar ia mengeluh kepada teman-temanya. Lalu Allah swt mengatakan, "demi kemulian dan keagungan-Ku. Aku tidak mengujimu dengan penyakit itu kecuali aku bersihkan engkau dari dosa-dosa. Karenanya, janganlah kalian mengadukan aku kepada teman-tamanmu".
Ibnu Abiddunya menyebutkan bahwa ada seseorang yang mengatakan, "wahai Rasulullah ! apa penyakit itu ? Rasul bertanya, "apa engkau tidak pernah sakit ?". Ia jawab , "tidak pernah". Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkata, "pergilah, anda bukanlah orang mukmin".
Abdullah Bin Mas'ud sakit parah, lalu ia dikunjuungi oleh sahabatnya. Ketika itu istrinya berkata, "aku yang menjadi tebusanmu. Kami tidak memberimu makan dan minum" (karena sakitnya telah parah sehingga makan dan minuman tidak bisa masuk lagi-pent). Ibnu mas'ud menjawab dengan suara lirih, "pekerjaan telah sirna dan tidur terasa panjang. Demi Allah, saya tidak merasa gembira jika penyakitku berkurang walau hanya sebanyak ujung kuku".
Khalid bin walid pernah menceraikan istrinya kemudian sering-sering memujinya. Ada yang bertanya kepadanya, "Kenapa engkau menceraikan istrimu ?" ia jawab, "Saya menceraikannya bukan karena sesuatu yang membuatku ragu padanya atau sesuatu yang menyakitiku, tetapi karena ia tidak pernah mendapat cobaan  selama bersamaku". Juga disebutkan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bahwa ia bersabda, "tidaklah seseorang keseleo kecauli dituliskan kebaikan untuknya dan dosanya dihapuskan serta derajatnya ditinggikan".
Semua itu tidaklah bertentangan dengan pembahasan sebelumnya bahwa musibah menghapuskan dosa-dosa, karena kebaikan yang diperoleh akibat kesabaran yang menjadi pilihannya. Itu merupakan sebuah amalan darinya. Ada seseorang dari kalangan muhajirin menjenguk temannya yang sedang sakit. Ia berkata, "orang yang sakit memiliki empat perkara yang tidak menjadi tanggungannya. Disamping itu ia memperoleh pahala seperti ketika ia sedang sehat. Penyakit akan menyisir setiap persendiaanya sehingga ia mengeluarkan dosa darinya. Jika ia panjang umur maka ia hidup dalam ampunan Allah swt. Jika ia meninggal, maka ia pun mendapatkan ampunan". Orang yang sedang sakit itu berkata, "ya Allah ! biarkan aku terbaring dalam keadaan sakit".
Dalam kitab musnad terdapat sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, "demi jiwaku yang berada dalam gengaman-Nya. Tidaklah Alah swt menetapkan suatu takdir terhadap hamba-Nya kecuali pasti baik. Jika ia mendapatkan nikmat maka ia bersyukur. Itulah yang terbaik baginya. Dan jika ia tertimpa cobaan maka ia bersabar. Dan kesabaran itu baik baginya. sikap itu tidak ditemukan kecuali pada diri kaum mu'min".

ATSAR-ATSAR DARI SAHABAT MAUPUN GENERASI SETELAH MEREKA TENTANG KESABARAN

Imam Ahmad mengatakan, "Waki' bercerita kepada kami dari Malik bin Mogol dari Safar, ia berkata, "Abu Bakar sakit lalu mereka mengunjunginya. Mereka bertanya, apa perlu kami panggilkan tabib ? ia menjawab, "saya sudah diperiksa oleh tabib" mereka bertanya, "apa saja yang ia katakan kepadamu?" Abu Bakar menjawab, "saya melakukan apa saja yang aku kehendaki".
Imam Ahmad mengatakan, "Abu Muawiyah bercerita kepada kami dari A'masy dari Mujahid, ia mengatakan, "Umar bin Khattab mengatakan, kami mendapati kehidupan yang baik ada pada kesabaran". Ia juga berkata, "sebaik-baik kehidupan yang kami dapati adalah kehidupan yang disertai kesabaran. Kalau saja kesabaaran lahir dari seorang laki-laki maka pasti ia mulia". Ali bin Abi Thalib berkata, "posisi sabar dalam keimanan seperti posisi kepala pada anggota tubuh. Jika kepala terpenggal maka jasmani akan hancur". Lalu beliau mengeraskan suaranya sambil berkata, "tiada keimanan bagi orang yang tidak memiliki kesabaran". Ia juga berkata, "kesabaran adalah kekayaan yang tak pernah habis".
Hasan berkata, "sabar adalah khazanah kebaikan yang tidak akan pernah diberikan Allah swt kecuali kepada hamba-Nya yang mulia". Umar bin Abdul Aziz mengatakan, "tidaklah ada kenikmatan yang dianugrahkan Allah swt kepada seseorang lalu dicabut kembali, kemudian diganti dengan kesabaran, kecuali penggantinya itu lebih baik dibanding yang pertama".
Maimun bin Mahran berkata, "seseorang tidak mendapati simpul kebaikan dan turunannya kecuali dengan kesabaran". Sulaiman bin Qosim berkata, "setiap amalan dapat diketahui pahalanya kecuali kesabaran". Allah swt berfirman, "Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas".( Az-Zumar : 10)  ia menjelaskan, "artinya bahwa pahala kesabaran layaknya air yang mengalir deras".
Sebagian orang-orang bijak menyimpan sejenis kartu di sakunya lalu setiap waktu mereka mengeluarkannya. Di situ tertulis, "Dan Bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, Maka Sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan kami". (At-Thur : 48) Umar bin Khattab Radiyallahu Anhu berkata, "jika saja kesabaran dan rasa syukur berupa sapi, maka saya tidak peduli yang mana pun aku tunggangi". Muhammad bin Syubrumah jika tertimpa musibah mengatakan, "ini hanyalah awan musim panas. Sebentar lagi pasti akan tersingkap".
Sufyan bin Uyainah mengomentari ayat yang berbunyi, " Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar" (As_Sajadah : 24) bahwa ketika mereka memegang inti persoalan, maka kami jadikan mereka sebagai pemimpin" . dikatakan kepada Ahnaf bin Qais, "apa itu sikap santun ? ia menjawab, "engkau bersabar sedikit menghadapi hal-hal yang kamu benci". Wahab berkata, "telah tertulis dalam hikmah : benteng kebodohan adalah rasa capek, benteng kebijaksanaan adalah ketenangan dan benteng kesabaran adalah kemenangan. Sedang benteng dan puncak sesuatu adalah tujuan dan buahnya".
Ia bearazam untuk memotongnya. Orang-orang lalu memotongnya dengan gergaji. Ketika  sampai ke tulangnya, ia meletakkan kepalanya di atas bantal sejenak dalam keadaan pingsan. Sejurus kemudian, ia sadar dan peluh bercucuran dari wajahnya sambil membaca tahlil dan takbir. Ia kemudian mengambil potongan kakinya lalu diciumi sambil berkata, "demi yang menyatukanku denganmu. Ia mengetahui bahwa aku tidak pernah membawamu kepada hal-hal yang diharamkan dan maksiat. Juga kepada hal-hal yang tidak diridhai oleh-Nya". Ia kemudian meminta agar dimandikan lalu dikafani dengan selembar kain kemudian dibawa ke pekuburan kaum muslimin. Setelah datang dari sisi Al- walid di madinah, keluarga dan sahabatnya menjemputnya sambil berta'ziah. Ia mengucapkan, "Sesungguhnya kita Telah merasa letih Karena perjalanan kita ini".(Al-Kahfi : 62). Ia tidak berkomentar lebih dari itu. Kemudian ia berkata, "saya tidak ke madinah lagi. Saya di sana hanya berada di antara orang yang bergembira dengan musibah yang menimpa orang lain atau orang-orang yang dengki dengan nikmat yang diperoleh". Ia lalu menuju ke benteng yang terletak di Aqiq. Ketika ia masuk ke bentengnya, Isa bin Thalhah berkata, "celakalah orang yang membencimu. Perlihatkan luka yang membuat kami berta'ziah kepadamu" ia lalu menyingkap kedua pahanya. Isa langsung berkata kepadanya, "kami tidak pernah menyiapkanmu sebagai pegulat. Allah swt masih membiarkan lebih banyak dari jasmanimu, akal, lisan, pengelihatan, kedua tangan, dan salah satu kakimu. Ia menjawab, "wahai Isa. Belum ada yang menghiburku seperti caramu menghiburku. Ketika orang-orang hendak memotong kakinya, mereka mengatakan kepadanya, "bagaimana kalau engkau minim sesuatu agar tidak merasakan sakit. Ia menjawab, "saya hanya mendapat cobaan untuk mengukur kesabaranku, apa aku menolak takdir-Nya atau tidak". Anak beliau, Hisyam pernah ditanya, bagaimana ayahmu ketika berwuhdu? Ia jawab, "ia membasuhnya".
Imam Ahmad mengatakan, "Abdusshomad menceritakan bahwa Salam berkata, "saya mendengar Qatadah berkata, " ketika Lukman ditanya oleh seseorang, hal apa yang baik ? ia jawab, "kesabaran yang tidak disertai rasa sakit". Ia ditanya lagi, "manusia bagaimana  yang baik ? ia jawab, "orang yang puas dengan apa yang ada padanya". Manusia yang mana paling berilmu ? ia jawab, "orang yang mengambil ilmu orang lain untuk digabung dengan ilmunya". Ditanya lagi, "modal apa yang paling baik, harta atau ilmu ?. ia jawab, "subahanallah ! tentu orang mukmin yang berilmu, jika mencari kebaikan padanya maka ia dapati. Jika tidak punya kebaikan maka ia menahan diri dari kejahatan. Cukuplah bagi orang mukmin jika mampu menahan diri dari perbuatan jahat". Hassan bin Abi Jibillah berkata, "siapa yang mengeluh maka bukanlah orang sabar". Juga diriwayatkan oleh ibnu abiddunya secara marfu' kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Jika benar, maka artinya mengeluh kepada manusia, bukan orang yang mengeluh kepada Allah swt. Hassan bin Abi  Jibillah juga mengatakan tentang firman Allah swt.: "Maka kesabaran yang baik Itulah (kesabaranku)" (Yusuf : 18) katanya, "tidak ada keluhan padanya". Ibnu Abiddunya meriwayatkannya secara marfu' pula.
Mujahid mengatakan, "sabar yang baik adalah yang tidak melahirkan kepanikan". Amr bin Qais berkata, "Maka kesabaran yang baik Itulah (kesabaranku)" katanya, "kerelaan menerima cobaan dan sikap menerima dengan baik". Sebagain salaf mengatakan, "Maka kesabaran yang baik Itulah (kesabaranku)" artinya tidak ada keluhan padanya". Hamam mengatakan sebuah berita dari qatadah tentang firman Allah swt : "dan kedua matanya menjadi putih Karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya)".(Yusuf : 84) ia mengatakan, "ia menahan amarahnya dengan penuh kesedihan tanpa mengatakan sesuatu yang tidak baik". Yahya bin Mukhtar menyampakan inforamsi dari Hasan bahwa makna menahan amarahnya adalah bersabar".  Hamam menyampika berita dari Qatadah tentang firman Allah swt yang berbunyi : "dan kedua matanya menjadi putih Karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya)".(Yusuf : 84). Artinya menahan rasa sedih. Hasan mengatakan, "tidak ada dua keberanian yang paling dicintai oleh Allah swt selain keberanian meghadapi cobaan yang menyakitkan lagi menyedihkan yang dihadapi dengan hiburan yang baik dan penuh dengan kesabaran. Juga keberanian meredam kemarahan dengan penuh rasa kelembutan".
Abdullah bin Mubarak berkata, "Abdullah bin lahi'ah menyampaikan berita dari Atha' bin Dinar bahwa Said bin Jubair mengatakan, "sabar adalah pengakuan seorang hamba terhadap Rab-nya dengan menerima cobaan dari-Nya sambil mengharap pahala. Seseorang terkadang panik, tetapi tetap bersabar. Ia tidak melihat kemungkinan lain selain kesabaran". Ungkapannya bahwa "pengakuan seorang hamba terhadap Rab-nya dengan menerima cobaan darinya" seolah tafsiran dari Firman Allah swt. "Kami hanyalah milik Allah swt" ia mengakui bahwa dirinya hanyalah milik Allah swt  yang berhak melakukkan apa saja padanya. Sedang ungkapan, " sambil mengharap pahala dari-Nya" seolah tafsiran dari firman-Nya, "dan kepadanyalah kami akan dikembalikan" (Al-Baqarah : 136) artinya kita dikembalikan kepadanya lalu pahala kesabaran diberikan kepada kita yang tidak mungkin disiasiakan oleh-Nya. Ungkapannya " Seseorang terkadang panik, tetapi tetap bersabar" artinya kesabaran bukanlah dengan berusaha bertahan, tetapi sabar adalah mencegah hati agar tidak membenci takdir dan menjauhkan lidah dari keluh kesah. Jadi siapapun yang berusaha menahan rasa sakit tetapi hatinya tetap diliputi amarah maka dia bukanlah orang yang sabar.
Yunus bin Yazid mengatakan, "saya bertanya kepada Rabi'ah bin Abi Abdurrahman, apa batasan kesabaran ? ia jawab, "hari-hari ketika tertimpa musibah sama dengan hari-harinya sebelum tertimpa musibah". Qais bin Hajjaj berkata tentang firman Allah swt, "Maka Bersabarlah kamu dengan sabar yang baik" (Al-Maarij : 5) bahwa orang yang terkena musibah tidaklah diketahui oleh masyaraktnya. Syamr ketika menghibur (berta'ziah) orang yang terkena musibah berkata, "sabarlah terhadap ketentuan Tuhanmu". Abu Uqail berkata, "saya menyaksikan Salim bin Abdullah bin umar membawa cambuk yang disembunyikan dengan sarung pada saat Waqid bin Abdullah meninggal. Ia tidak mendengar orang yang menangis dengan suara meraung-raung kecuali ia memukulnya".
Ibnu Abiddunya berkata, "Muhammad bin Ja'far bin Mahran bercerita kepadaku bahwa seorang perempuan dari suku Quraisy bersenandung :
Demi yang tiada kekal kecuali wajah-Nya
dan demi  yang memiliki kemuliaan yang tiada tandingannya.
Jika awal kesabaran pahit terasa
Maka orang yang mematahkannya  telah memetik buah yang manis.
Muhammad bin Ja'far juga berkata, "Amr bin Bukair bersenadung kepadaku :
Saya telah bersabar dan ternyata kesabaran adalah sebaik-baik kesudahan.
Apakah jika kepanikan menimpaku lalu aku harus panik ?
Saya berusaha menguasai derai air mata, hingga kumampu
Mengarahkannya kepada orang-orang yang melihatku.
Walaupun  mata hati tetap  saja mengucurkan air mata.
Ia juga mengatakan, "Ahmad bin Musa At-tsaqafi juga bersenandung kepadaku :
Berita khaulah kemarin adalah bahwa ia merasa panik
Dari sapaan masa (musibah)
Jaganlah panik wahai khaulah dan bersabralah !
Sungguh kemulian terbangun dari unsur kesabaran.
Ia juga berkata, "Abdullah bin Muhammad bin Ismail At-Taimi menceritakan bahwa ada seseorang yang berta'ziah kepada orang yang anaknya tertimpa musibah. Ia berkata, ……Ibnu Abi Sammak berta'ziah kepada seseorang dengan berkata, "hendaklah anda bersebar, di situlah pekerjaan orang yang mengharapkan pahala dan kepadanya pula orang-orang yang panik dikembalikan". Umar bin Abdul Aziz berkata, "ridha adalah posisi yang mulia, hanya saja Allah swt menjadikan kebaikan pada kesabaran". Ketika anak Abdul Malik meninggal, ia menshalatinya kemudian mengatakan, "semoga Allah memberimu rahmat. Engkau telah mendampingiku dan telah membantuku". Ia berkata, manusia manangis sedang kedua mata Abdul Malik tidak mengeluarkan air mata sedikit pun. Mutrif bin Abdillah terkena musibah anaknya. Lalu sekelompok orang datang berta'ziah. Ia keluar menemui mereka dengan tampilan yang baik. Ia  kemudian mengatakan, "saya sangat malu kepada Allah swt jika saya murung kerena mendapatkan musibah". Amr bin Dinar mengatakan, Ubaid bin Umair berkata, "bukanlah bentuk kepanikan ketika mata seseorang berderai air mata dan hatinya bersedih, tapi kepanikan yang sebenarnya adalah perkataan jelek dan asumsi yang salah (tentang Allah swt).
Ibnu Abiddunya berkata, Husain bin Abdul Aziz Al-Harwazi bercerita kepadaku, "telah meninggal anak yang sangat berarti bagiku. Lalu kukatakan kepada ibunya, "bertakwalah kepada Allah. Bersabarlah sambil berharap pahala dari-Nya". Tiba-tiba ia berkata, "musibah yang menimpaku lebih besar dibanding merusaknya dengan kepanikan". Ibnu Abiddunya berkata, " Umar bin Bukair mengimformaskan kepadaku tentang seorang syekh dari suku Quraisy yang berkata, "Hasan bin Husain yang merupakan ayah ubaidillah bin Hasan meninggal. Ketika itu ubaidullah adalah qadhi sekaligus amir di basrah sehingga banyak sekali yang mengunjunginya. Mereka semua membicarakan hal-hal yang menampakkan kepanikan dan kesabaran sang qadhi. Mereka sepakat bahwa dia jika meninggalkan sesuatu yang pernah dikerjakannya maka ia panik.
Khalid bin Abu Utsman Al-Qarsy berkata, "Said bin Jubair pernah berta'ziah kepadaku akibat musibah yang menimpa anakku. Ia mendapatiku sedang thawaf dekat ka'bah dengan memakai topeng. Ia melepaskan topengku lalu berkata, "lemas adalah termasuk kepanikan"

PASAL

Adapun pendapat mayoritas ulama dari kalangan kita (mazhab hanbali) dan yang senada dengannya bahwa tidak apa-apa bagi orang yang terkena musibah memakai ikat kepala sebagai tanda yang bisa dikenali. Mereka beralasan bahwa ta'ziah adalah sunnah. Sedang memakai tanda pengenal memudahkan orang-orang mengenalnya sehingga mudah untuk berta'ziah kepadanya. Pendapat ini perlu diteliti ulang. Syekh kita (ibnu taimiyyah) menolak pendapat ini. Tak diragukan lagi bahwa salaf tidak pernah melakukan hal demikian. Pendapat demikian juga tidak pernah dinukil seorang pun dari kalangan sahabat dan tabi'in. Atsar-atsar sebelumnya juga sangat jelas menolak pendapat ini. Ishak bin Rahawaih tidak membenarkan seseorang mengganti pakaian yang bisanya dipakai seelum tertimpa musibah. Bahkan beliau mengganggap hal seperti itu sebagai bagian dari kepanikan. Secara umum mereka (sahabat dan tabi'in) tidak pernah merobah tampilan mereka sebelum tertimpa musibah dan tidak meninggalkan apapun kebiasaan mereka sebelumnya. Semua prilaku demikian bertentangan dengan kesabaran. Wallahu A'lam.


HAL-HAL YANG BERKAITAN DENGAN MUSIBAH
SEPERTI : MENANGIS, MERATAP, MEROBEK PAKAIAN DAN PERILAKU JAHILIAH LAINNYA



Di antaranya adalah menagisi orang meninggal. Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah membolehkan tangisan, baik sebelum seseorang meninggal atau pun sesudahnya. Abu Ishak As-Syirazi juga mengikuti pendapat ini. As-Syafi'i dan mayoritas sahabatnya memakruhkan tangisan setelah seseorang meninggal, tapi memberikan Rukhsa (keringan) setelah ruh meninggalkan jasad. Mereka beralasan dengan hadits Jabir bin Atik bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam  datang menjenguk Abdullah bin Tsabit dan mendapatinya sedang sekarat. Lalu beliau menegurnya dan ia tidak bisa lagi menjawabnya, hingga Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam membaca inna lillahi wa innaa ilahi rajiun dan berkata, "kami mengatasimu wahai Abu Robi'". Kaum wanita lalu histeris dan menagis, hingga Ibnu Atik berusaha mendiamkan mereka. Tapi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan, "biarkan mereka menangis. Tapi jika telah pasti maka jangan biarkan seorang pun menagis"  mereka semua bertanya, "apa maksudnya "pasti" wahai rasulullah ? beliau menjawab, "mati". (HR Abu Daud dan An-Nasa'i).
Mereka mengatakan, "Dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim terdapat hadis dari Ibnu Unar bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "mayit disiksa karena keluarganya menagisinya" . Hadits ini hanyalah menunjukkan  tentang orang yang telah meninggal. Adapun sebelumnya, ia belum dianggap orang mati.
Dari ibnu umar bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam setelah datang dari menemui seseorang, lalu beliau mendengarkan wanita Bani Abdil Asyhal menangisi mayit mereka. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkata, "tapi Hamzah tidak ada yang menangisinya". Lalu wanita ansar datang menangisi hamzah di dekat beliau sehingga terbangun dari tidurnya. Beliau mengatakan, "celakalah mereka. Mereka datang ke sini untuk menangis hingga sekarang. Suruh mereka pulang dan jangan ada lagi seseorang yang menangisi mayit setelah hari ini"  (diriwayatkan oleh imam Ahmad). Hadits ini jelas menghapus kebolehan perkara sebelumnya.
Perbedaan antara setelah mati dan sesudahnya adalah bahwa sebelum seseoang meninggal masih ada harapan untuk sehat kembali, sementara  tangisan yang mengiringinya hanyalah bentuk rasa khawatir saja. Adapun setelah meninggal, harapan itu telah terputus dan takdir telah jelas. Tangisan tiada manfaatnya lagi ketika itu.
Orang-rang yang membolehkannya mengatakan, "Jabir bin Abdillah berkata, "pada perang uhud, ayah saya meninggal hingga saya menangis. Orang-orang melarangku menangis tapi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak melarangku. Tanteku, Fathimah ikut menangis. Tiba-tiba Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan, "engkau menangis atau tidak, malaikat akan terus menaunginya hingga mereka mengangkatnya ke langit"  (HR Bukhari dan Muslim)
Juga dalam kitab Shahihain terdapat sebuah hadits dari  Ibnu Umar, ia mengatakan, "Sa'ad bin Ubadah mengeluhkan sebuah keluhan yang dialaminya. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersama Abdurrahman bin Auf, sa'ad bin Abi Waqqash dan Abdullah bin Mas'ud datang menjenguknya. Ketika mereka masuk menemuinya, ia sedang pingsan. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mwngatakan, "ia telah meninggal". Mereka serempak mengatakan, "belum wahai rasulullah" maka beliau menangis. Ketika rombongan melihatnya menangis, mereka pun ikut menangis. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkata, "tidakkah kalian mengetahui bahwa Allah swt tidaklah menyiksa hanya karena sekedar cucuran air mata dan tidak pula karena kesedihan hati. Tetapi Allah swt menyiksa karena ini-Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menunjuk lidahnya-dan mengasihi".
Dalam kitab shahihaini juga terdapat hadits Usamah bin Zaid bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menuju salah satu rumah anaknya, sedang anaknya itu memiliki anak kecil yang telah meninggal. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam merangkul cucunya dengan nafas yang tesengal-sengal seperti sedang flu berat. Tiba-tiba kedua matanya mengeluarkan air mata. Sa'ad lalu berkata, "kenapa bisa begini wahai Rasulullah ? Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab, "ini adalah rahmat yang dititipkan oleh Allah swt ke dalam diri hamba-hamba-Nya. Allah swt hanya menyayangi hamba-hamba-Nya yang penuh dengan rasa kasih sayang".
Dalam musnad Imam Ahmad terdapat sebuah riwayat yang berasal dari ibnu Abbas, ia mengatakan, "Ruqayyah, Anak perempuan Rasulullah meninggal. Para wanita menangis sehingga dipukuli oleh Umar dengan cambuk. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan, "biarkan saja mereka menagis wahai umar. Tapi jauhilah kalian(wahai kaum wanita) longlongan setan" kemudian beliau mengatakan, "sungguh betapa pun yang terjadi pada mata dan hati, tetapi itu berasal dari Allah swt dan merupakan bagian dari kasih sayang. Adapun yang terjadi karena tangan dan lidah maka itu karena setan" dalam musnad juga terdapat riwayat Aisyah bahwa Sa'ad bin Muaz ketika meninggal disaksikan oleh rasullah saw, Abu bakar dan Utsman. Aisyah mengatakan. "demi yang jiwaku berada dala genggamannya, saya sangat bisa membedakan  tangisan Abu Bakar dengan tangisan Umar walau pun saya berada dalam kamarku"
Dari kitab musnad pula ditemukan sebuah riwayat dari Abu Hurairah bahwa ia mengatakan, "ada jenazah yang diantar melewati nabi dengan tangisan. Ketika itu saya besama nabi dan Umar bin Khattab. Umar lalu menghardik orang-orang yang menangisinya. Rasulullah saw menegurnya, "biarkan saja wahai Ibnul Khattab, sungguh jiwanya merasa tertimpa musibah, matanya bercucuran air mata sedang batas akhir begitu dekat"
Dalam kitab jami' At-Tirmidzi terdapat sebuah hadits dari Jabir bin Abdullah, ia mengatakan, "Rasulullah saw mengajak Abdurrahman bin Auf melihat anaknya, Ibrahim. Keduanya mendapati Ibrahim sedang sekarat. Rasulullah saw meletakkanya di pangkuannya sambil menangis. Maka Abdurrahman berkata "Kenapa menangis wahai rasulullah, bukannya engkau melarang tangisan ? rasulullah saw menjawab, "tidak, yang saya larang adalah suara bodoh yang jelek. Suara ketika sedang tertimpa musibah, mencakar wajah, merusak saku dan menjerit layaknya setan"  At-Tirmidzi berkata, "hadits ini baik (hasan). Telah ditemukan hadits shahih bahwa rasulullah saw mengunjungi kuburan ibunya sambil menangis, hingga orang-orang yang besamanya ikut menangis. Juga beliau pernah mencium Utsaman bin Maz'un hingga kedua matanya mengeluarkan air mata. Ia juga pernah melayat kepada Ja'far beserta kawan-kawannya sedang matanya bercucuran air mata. Abu Bakar As-Shiddik pernah menciumi nabi ketika meninggal sambil menangis.]
Inilah 12 hujjah yang menunjukkan bahwa menangis tidaklah makruh. Jadi, hadits-hadits yang melarang tangisan hanyalah yang disertai dengan ratapan. Karena itulah, sebagian lafazh hadits Umar ditemukan ungkapan seperti, "mayit diazab karena tangisan sebagian keluarganya" sebagian lagi berbunyi, "diazab karena diratapi". Bukhari mengatakan dalam kitab shahihnya, "umar mengatakan "biarkan mereka menangisi Abu Sulaiman -maksudnya Khalid Bin Walid- selama tidak memukul-mukul tanah dan bukan dengan suara yang meraung-raung".
Adapun anggapan bahwa hadits hamzah telah dinasakh, maka itu tidak benar. Karena maknanya adalah "jangan ada yang menangisi orang yang meninggal sejak hari ini, yaitu orang-orang yang terbunuh dalam  perang uhud".
Hal yang membuktikannya adalah bahwa nash-nash yang membolehkannya  kebanyakan datang setalah perang uhud. Diantaranya hadits Abu Hurairah, karena keisalaman dan keikutsertaannya bersama Nabi terjadi pada tahun ke-7 H. diantaranya pula, tangisan terhadap Ja'far dan sahabt-sahabatnya. Kesyahidan mereka terjadi pada tahun ke-9 H. Diantaranya juga, tangisan terhadap Zainab yang meninggal pada tahun ke-8 H. juga tangisan terhadap Sa'ad bin Muaz yang meninggal pada tahun ke-5 H. juga tangisan rasulullah saw di pekuburan ibundanya yang terjadi pada tahun ke-8 H saat setelah terjadinya Fathu Mekah.
Adapun perkataan mereka, "tangisan hanya dibolehkan sebelum seseorang meninggal sebagai wujud rasa khawatir dan itu berbeda jika telah meninggal" jawabannya adalah bahwa orang yang menangis sebelum seseorang meninggal tangisannya itu adalah wujud kesedihan, sementara kesedihannya setelah meninggal lebih besar, maka itu lebih utama diberikan keringanan untuk menagis dibanding kondisi yang masih ada harapan untuk hidupnya. Rasulullah saw telah mengisyaratkan hal itu dengan sabdanya, "mata bercucuran air mata dan hati sangat bersedih. Hanya saja kita tidak mengucapkan hal-hal yang membuat Allah swt marah. Sungguh kami sedih ditinggal olehmu wahai Ibrahim".    


PASAL

Adapun ratapan dan tangisan keras, imam Ahmad mengharamkannya. Ia mengatkan dalam riwayat Hambal, "tangisn keras adalah kemaksiatan". Sahabat-sahabat As-Syafi'i dan lain-lain mengatakan, "ratapan adalah haram". Ibnu Abdil Bar mengatakan, "ulama sepakat bahwa ratapan tidak boleh bagi laki-laki maupun wanita. Sebagia ulama mutaakhirin dari kalangan hambali berkata, "makruh dari segi adab". Ungkapan ini adalah lafaznya Abul Khattab dala kitab Al-Hidayah. Ia mengatakan, "dimakruhkan menangis keras, meratap, mencakar wajah dan merobek-robek saku. Yang benar adalah pendapat yang mengharamkan, berdasarkan hadits yang terdapat dalam kitab Shahihain dari Abdullah bin Mas'ud, bahwa rasulullah saw mengatakan, "bukanlah golonganku orang yang suka memukul wajah, merobek-robek saku dan meneriakkan ungkapan jahiliah". Dalam kitab Shahihai juga terdapat hadits dari Abu Burdah, ia mengatkan, "Abu Musa terimpa penyakit yang menyebakannya pingsan, sedang kepalanya berada diatas pangkuan salah seorang perempuan dari keluarganya. Tiba-tiba wanita tadi berteriak keras dan ia tidak bisa mencegatnya. Setelah Abu Musa siuman, ia mengatkan "saya berlepas diri dari hal yang rasulullah saw berlepas diri darinya. Sungguh rasulullah saw berlepas diri dari orang yang berteriak keras, berkata dengan perkataan yang keji dan orang yang tidak sabar". Dalam kitab Shahihaih juga tersapat sebuah hadits dari Mughirah bin Syu'bah, Ia berkata, "saya pernah mendengar rasulullah saw bersabda, "sungguh orang yang diratapi akan diazab dengan hal yang menyebabkannya diratapi"  juga dari kitqab shahihain dari Ummu Athiyyah ia berkata, "rasulullah mengambil sumpah kami ketika sedag berbaiat agar kami tidak meratap…



 

الخميس، 5 يناير 2012

PETUALANGAN AKIDAH SANG PENCARI KEBENARAN (NABI IBRAHIM)


Idrus Abidin

PENDAHULUAN.
Pada prinsipnya, manusia lahir dengan fitrah. Yaitu sebuah gambaran bathiniah yang duliputi oleh pengenalan terhadap pemilik kebenaran (baca : Allah). Karenanya manusia lahir ke dunia dengan sebuah tanggung jawab untuk menegaskan penghambaan. Suatu tugas yang mengharuskan wujudnya kebenaran setelah mengenal Sang Maha Kebenaran itu sendiri, yaitu Allah swt. Namun demikian, kehidupan tidaklah selamanya berjalan linear tanpa adanya hambatan. Di sana ada pihak-pihak yang menghendaki kebenaran tidak menjadi fenomena pribadi dan kemasyarakatan. Karena itulah, sejumlah hal dilakukan untuk memalingkan manusia dari rel kebenaran menuju penyimpangan. Sedikit demi sedikit kepekaan manusia terhadap kebenaran dikikis dan diformat ulang dengan keyakinan dan prilaku yang bersifat hewani. Ketika sebuah kesalahan menjadi karakter manusia dan menjadi cerminan pribadinya maka kebenaran akan tampak salah dan kesalahan menjadi tampak benar.
Demikianlah sikap dan prilaku mendominasi manusia. Ikhtiarnya untuk berpihak kepada kebenaran akan menggiringnya menuju kebenaran. Sebagaimana pilihannya pada jalur yang menyimpang akan menegaskan penyimpangannya. Jika pada golongan pertama Allah menegaskan dengan firman-Nya,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (69)
"Orang-orang yang bersungguh-sungguh meniti (jalan) kami maka pasti kami tunjukkan kepadanya jalur (kebenaran) kami", (al-Ankabut : 69)
maka golongan yang kedua dijelaskan oleh Allah swt penyebab ketidakmampuan mereka untuk melirik jalan yang benar (al-qur'an). Firman Allah swt,
إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ (13) كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
 "Yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat kami, ia berkata: "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu. Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka". (QS al-Muthaffifin : 13-14).
Karena adanya potensi sebuah kesalahan untuk menutupi kepekaan manusia terhadap kebenaran maka dibutuhkan sebuah usaha untuk menemukan kebenaran tersebut. Petualangan untuk mencari kebenaran tidaklah selamanya menjadi alur kehidupan manusia biasa saja. Bahkan tiga nabi besar ; Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Muhammad, yang merupakan pokok tiga agama besar, juga mengalami petualangan yang sama. Nabi Ibrahim mencari dibalik bintang, bulan dan matahari. Nabi Ibrahim terus bertanya dan mencari sehingga ia akhirnya menemukan apa yang selama ini mengusik kebersihan jiwanya. Hal serupa juga terjadi pada Nabi Musa. Ia manapaki gunung Sinai dan mencari keyakinan akan Allah swt. Allah menceritakan :

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ
"Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan kami) pada waktu yang Telah kami tentukan dan Tuhan Telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar Aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi Lihatlah ke bukit itu, Maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu[565], dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, Aku bertaubat kepada Engkau dan Aku orang yang pertama-tama beriman". (QS al-A'raf : 143). Dengan demikian, Musa pun memahami eksistensi Allah dan mendapatkan keyakinan tentang-Nya.
Pencarian juga dialami oleh nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau digelisahkan oleh kehidupan masyarakatnya yang tampak seperti dunia binatang. Kekuatan menjadi simbol segalanya sehingga eksistensi hanya terjamin jika didukung oleh keperkasaan. Pada kondisi demikianlah lelaki menjadi sentral dalam kehidupan dan wanita terpinggirkan. Bahkan mereka hanya berfungsi sebagai mainan di tengah cengkraman orang-orang kuat. Rasulullah pun sering-sering menjauh dari masyarakatnya dan berusaha menjernihkan pikirannya dengan harapan dapat memperoleh makna kebenaran dan hakikat kehidupan. Puncak pencarian itu menemukan titik terang ketika Jibril datang menemuinya dengan membawa pesan pertama dari Allah swt. Pesan tersebut berbunyi,
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,  Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya". (QS al-Alaq : 1-5).

PENCETUS PETUALANGAN.

Manusia terdorong untuk mencari, mengapa ia tidak puas dan mengapa ia tidak bahagia. Dorongan demikianlah yang membuat manusia mencari melalui dunia ini sehingga di tengah peroses pencariannya mereka berkiblat ke dunia semata.  Walaupun pada dasarnya, ketika itu, mereka sedang dalam peroses pencarian.untuk menemukan makna kehidupan. Memang tidak banyak orang menyadari bahwa ia sedang mencari. Tetapi beberapa di antaranya sadar sejak awal bahwa ia sedang dalam fase pencarian. Sehingga out put yang dihasilkan antara kedua golongan tersebut berbeda. Jika yang pertama mendapatkan makna dan tidak berubah secara ekstrim maka kelompok kedua biasanya berubah dengan sangat drastis.

NABI IBRAHIM BERPETUALANG.

Jika kita menelusuri jejak hidup nabi Ibrahim, kita mendapati sebuah realitas pencarian. Pencarian yang sesunguhnya untuk menegaskan fitrahnya. Fitrah yang mengatakan bahwa Sang Maha Kuasa adalah yang berhak untuk dijadikan tumpuan harapan, tempat berkeluh kesah, berlindung dan karenanya Ia berhak disembah, dicintai dan ditaati. Fitrah Nabi Ibrahim terusik dengan sangat kuat ketika ia mendapati kakaeknya, Azar, menjadikan berhala sebagai tuhan yang disembah. Sebuah kebiasaan yang telah mendarah daging pada komunitas yang melingkupinya. Ketika itulah, dengan nada menegur, Beliau mengatakan kepada kakeknya,
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ )
Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya Aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata." (QS. Al-An'am : 74 ).         
Sebenarnya pernyataan Ibrahim ini merupakan refleksi fitrahnya. Sungguh ia sebelumnya belumlah mendapatkan konsep ketuhanan yang transenden dengan pemahaman dan kesadarannya. Tetapi sedari awal fitrahnya tidak menerima keberadaan bintang, matahari dan bulan sebagai tuhan. Yaitu tuhan yang dalam benak Ibrahim berhak dicintai, ditaati dan disembah, ditempati berharap dan dijadikan sebagai entitas yang pantas ditakuti. Tuhan dalam fitrah Ibrahim tidaklah mungkin berwujud bintang, matahari dan bulan. Tidaklah mungkin pula tuhan yang sebenarnya itu adalah berhala yang terbuat dari kayu ataupun sesembahan yang berwujud batu. Karena semuanya tidaklah memiliki kemampuan mencipta, menghidupkan, mematikan, memberi rezki dan mengatur seluruh jalanya aktifitas alam raya. Dan memang fakta yang terlihat secara kasat mata bahwa mereka semuanya tidak mampu memiliki karakter Tuhan yang ditemukan Ibrahim pada fitrahnya.
Dengan petualangan pemikiran ini, Ibrahim menegaskan keberpihakannya kepada fitrahnya yang suci sekaligus menjadikannya landasan untuk mengingkari  dan menolak praktek-praktek kemusyrikan yang dilakukan oleh kakek dan masyarakatnya secara masip. Perkataanya kepada kakeknya, ""Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya Aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata, tampak tegas, padahal -berdasarkan informasi al-Qur'an- ia adalah orang bijak, lemah lembut, berakhlak mulia dan diliputi oleh kesadaran penuh. Namun ketika permaslahnnya berada pada wilayah aqidah, hubungan kekerabatan sebagi anak, sebagai saudara, sebagai teman memudar dan sikap lemah lembut, bijak dan penuh pengertian menjadi tidak pantas. Apalagi peristiwa ini terjadi terhadap orang yang direkomendaskan oleh Allah unutk dijadikan teladan dalam prinsip akidah dan perjuangan membelanya.
Dengan ketegasan Ibrahim dalam masalah akidah ini dan ketulusannya membela keyakinannya yang benar, basirah-nya mampu menyingkap kedalaman sanubarinya untuk dapat memahami banyak rahasia yang tersembunyi dibalik alam raya ini. Rahasia yang mampu mengarahkan dirinya untuk memperoleh bukti-bukti ketuhanan secara nyata. Firman Allah,
وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ (75)
"Dan Demikianlah kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin." (QS. Al-An'am : 74 ). 
Dengan fitrah yang suci, basirah yang terbuka, dan totalitasnya terhadap kebenaran membuat Ibrahim diperlihatkan rahasia dibalik apa yang terpampang di dalam jagad raya ini. fitranya, hatinya dan bukti-bukti keesaan Allah swt terhubungan secara total sehingga ia pindah dari kebersihan fitrah yang menolak kebenaran tuhan-tuhan palsu menuju keyakinan yang kokoh tentang Tuhan sesungguhnya. Demikianlah petualangan Ibrahim, dan pada jalan tersebutlah ia menemukan Allah swt. Ia mendapatinya dalam kalbunya, sebagaimana sekarang ia telah menemukannya dalam pikiran dan kesadarannya. Hal yang makin mengasah dan mempertajam basirah-nya. Itulah yang menyatukan antara Tuhan yang didapatinya selama ini dalam fitrahnya dengan Tuhan yang mengisi pandangan dan basirahnya secara apik dan integral.         Namun demikian, petualangannya tidaklah berhenti di sini saja. Potongan waktu masih akan mengisi jejek langkahnya dengan hipotesa mendalam mengenai tuhan yang didapatinya dalam fitrah sucinya.

LANGKAH-LANGKAH PETUALANGAN.

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ (76)
"Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam." (QS. Al-An'am : 75 ).
Inilah merupakan gambaran psikologis Ibrahim yang sedang diliputi keraguan tentang apa yang disembah oleh kakeknya beserta kaumnya. Bahkan bukan sekedar keraguan saja, tetapi juga pengingakaran yang begitu tegas. Kini permasalahan akidah selalu menggerayuti perhatiannya dan mengisi sendi-sendi kehidupannya. Bukan kali ini saja Ibrahim mengetahui bahwa kaumnya menyembah bintang-bintang dan rembulan. Tetapi malam itu, tampaknya bintang-bintang itu seolah lain dari biasanya dalam pandangan Ibrahim. Nampaknya ada kemiripan dengan sesuatu yang sedang meresahkannya ketika itu. Makanya ia mencoba mengatakan, "Inilah Tuhanku". Yakni dengan cahaya dan gemerlapnya, seolah bintang itu dekat dan pantas untuk dijadikan tuhan, jika dibanding dengan berhala batu atau kayu sebelumnya. Tetapi tidak ! ia sendiri mengelakkan dirinya.  "Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam." Sungguh, bintang itu pun menghilang. Ia benar-benar menghilang dengan jauh dari alam raya. Jika demikian, siapa yang akan mengurusi seluruhnya ?! Jika demikian, ia berarti bukanlah tuhan yang sebenarnya. Tuhan yang sesungguhnya tentu tidaklah hilang dari mahluk-Nya, kapan pun dan di mana pun. Bagi Ibrahim masalah ketuhanan adalah masalah hati yang mencintai dan Ibrahin tidak mencintai sesuatu yang menghilang dari mahluknya. Hipotesa awal ini akhirnya gagal.
فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ
"Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, Pastilah Aku termasuk orang yang sesat." (QS. Al-An'am : 77 ). 
Hipotesa kedua kembali dilanjutkan. Seoleh-oleh sebelumnya Ibrahim belum pernah melihat bulan sebelumnya. Tapi kali ini, sebagaimana pikirannya sedang terusik oleh pertanyaan besar, ia melihat bulan dengan padangan lain. Malam ini betapa sinar rembula lebih tajam dari lainnya. Sinar itu seolah penuh kasih sayang dan mendekap siapa pun dalam kesendirian. Karena itu, Ibrahim pun berucap, "Inilah Tuhanku". Namun ketika ia hilang pula, kembali Ibrahim kecewa dengan kehilangan itu. Ia tidak lebih dari percobaan pertama yang gagal karena masalah serupa. Saat demikianlah, Ibrahim merasakan kebutuhan yang sangat terhadap petunjuk Allah yang seungguhnya, yang ditemuinya dalam fitra dan hatinya, tetapi belum ditemuinya lewat kesadaran dan pengetahuannya. Karena itulah, dengan penuh kepasrahan ia berucap, "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, Pastilah Aku termasuk orang yang sesat."
Pada fase salanjutnya, perhatian Ibrahim mengarah kepada matahari sebagai hiasan bumi terbesar. Dengan hipotesa serupa ia mulai menjajakinya,
فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ
"Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, Ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, Sesungguhnya Aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. (QS. Al-An'am : 78 ).
Kebesaran matahari sebagai benda langit dijadikan alasan sementara unutk mengetahuinya sebagai tuhan. Di samping itu, cahaya yang membakar, memberi kehidupan terhadap mahluk lain berupa binatang dan tumbuh-tumbuhan. Hari ini betul ia berusaha mejejaki segala hal di sekitarnya dengan segala potensinya unutk mendapatkan tuhan yang bisa menenangkan kehausan pikirannya dan dapat menghapus kegalauannya. Namun sayang, yang diharapkannya itu juga terbenam sebagaimana kedua hipotesa sebelumnya. Pada saat itulah seberkas sinar terang merasuki hati sanubarinya, mengisi basirahnya dan menghubungkan keyakinan harinya dengan Tuhan yang sesungguhnya, yang selama ini ia cari lewat akal dan kesadarannya. Saat itulah Ibrahim mendapati Tuhannya, tetapi bukan pada bintang yang berpendar, bukan pula pada rembulan yang bercahaya lembut dan tidak pula pada matahari yang besinar terang. Ia tidak menemukannya melewati pandagan matanya yang digunakan unutk menyelidiki, buka pula lewat perasaan yang meliputinya. Ia mendapatinya pada kedalaman hatinya dan pada ftrahnya. Ia menemukannya lewat akal dan kesadarannya bahwa Ia ada pada semua wujud yang melingkupi dirinya. Ia mendapati Tuhannya itu sebagai pencipta segala yang dipandang oleh mata semua yang dirasakan oleh perasaan dan yang diketahui oleh akal.

KESIMPULAN PETUALANGAN.

Dengan penemuan yang meyakinkan itu, ia mendapati dirinya berlepas diri secara total dari semua bentuk kemusyrikan yang dilakukan oleh kaumnya. Semua gaya hidup dana tatanan kehidupan yang berporos pada tuhan-tuhan palsu yang disembah ditinggilkan oleh Ibrahim dengan tegas.
فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (78) إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (79)
"Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, Sesungguhnya Aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya Aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan Aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan." (QS al-An'am : 78-79).
Inilah bentuk keyakinan yang secara total mengarah kepada Allah swt sebagai pencipta langit dan bumi sekaligus Dzat Yang Harus Disembah. Keyakinan yang menyingkap secara apik persesuaian antara apa yang ada dalam fitrah dengan apa yang ada dalam akal pikiran. Inilah sebauh pemandangan akidah yang sedang mendominasi Ibrahim. Suatu kondisi yang menyampaikannya kepada kesimpulan yang membuat hatinya tenang. Pada petualangan ini ia merasakan pertolongan Allah yang mengarahkannya kepada-Nya berkat kesungguhan yang dicurahkan.
Kini tibalah saatnya keyakinan yang diangap baru oleh komunitasnya itu diuji dengan kedatangan para pembela status kuo. Mereka datang dengan mengkritisi kesimpulan yang diperoleh oleh Ibrahim salam petualangannya, sekaligus mengingatkanya tetang bahaya mengingkari tuhan-tuhan yang mereka sembah, jika seandainya murka  kepada Ibrahim. Tetapi tidak ada yang mereka dapati pada diri Ibrahim kecuali hujjah yang kokoh, yang lahir dari keyakinan yang tak tergoyahkan.

UJIAN KEYAKINAN.
  
وَحَاجَّهُ قَوْمُهُ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللَّهِ وَقَدْ هَدَانِ وَلَا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ (80) وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُمْ بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالْأَمْنِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (81)
"Dan dia dibantah oleh kaumnya. dia berkata: "Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal Sesungguhnya Allah Telah memberi petunjuk kepadaku". dan Aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ?. Bagaimana Aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?" (QS al-An'am : 80-81).
Ketika kepatuhan terhadap tradisi dibangun pada kebiasaan semata, tanpa dibarengi dengan upaya intelektual maka cendrung lemah dan tidak punya unsur penguat. Walaupun sekedar unutk mempertahankannya. Sementara di pihak lain, Ibrahim telah melewati proses spiritual yang menyampaikannya kepada keyakinan. Dalam perjalanan itu, ia merasakan betapa Allah mengarahkanya dan menjemputnya dengan tangan terbuka. pada kondisi demikianlah mereka datang unutk menguji kesimpulan Ibrahim. "Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal Sesungguhnya Allah Telah memberi petunjuk kepadaku". Yakni, mengapa kalian mendebatku tentang Allah padahal keberadaan-Nya sangat nyata. Dalam diriku terdapat bukti-bukti keberadaan-Nya sehingga aku tidak butuh bukti lain.
Sedang tetang ancaman mereka akan bahaya yang menimpa Ibrahim jika tetap pada keyakinannya, maka ia melihat bahwa apa yang kalian agung-agungkan itu melebihi kadar sesungguhnya. Mereka tidak lain adalah tuhan-tuhan plasu yang tidak pantas ditakuti. Mengapa harus terhadap mereka, padahal kalian sendiri tidak pernah takut kepada Tuhanku, padahal dalah yang mampu menimpakan bahaya kepada siapa pun yang dikhendakinya. Kalian mempersekutukan-Nya dengan tuhan lain yang, jauh dari karakteristik ketuhanan. Jika demikian halnya, siapa di antara kita yang seharusnya merasa takut dan siapa pula yang pantas merasa aman. Bagi seorang mukmin, selama mereka jauh dari kesyrikan maka sejauh itu pula mereka pantas merasa aman. Karena keyakinannya terhadap Allah sebagai pelindung akan menegaskan hatinya. Allah menegakan hal ini,
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ (82)
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk".  (QS. al-An'am : 82).     
Demikianlah petualangan akidah sang nabi dalam rangka mendapatkan keyakinan. Semoga kita mendapatkan kebenaran yang meneegaskan hati kita untuk dapat berjalan pada rel kebenaran hingga datangnya panggilan Allah swt. Amin.

Categories

About Us

There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form.

نموذج الاتصال