السبت، 11 يوليو 2026

MERENCANAKAN KEMATIAN TERBAIK DENGAN PENUH OPTIMIS DAN BERJUTA SENYUMAN.

 

MERENCANAKAN KEMATIAN TERBAIK DENGAN PENUH OPTIMIS DAN BERJUTA SENYUMAN.

 Ust. H. Idrus Abidin, Lc., M.A 

Pendahuluan.

Umumnya manusia sibuk memprogress hidup penuh sukacita; berprestasi sepanjang waktu dan penuh optimis dengan masa depan; yang diharapkan jauh lebih cerah. Bahkan, untuk orang-orang kafir, Allah mensinyalir mereka punya semangat hidup hingga seribu tahun lagi. (Teringat puisi heroik dan semangat hidup Khairul Anwar: Antara Karawang dan Bekasi). Walaupun jatah hidup sebesar itu, bagi orang kafir, tak memberi ruang ampunan, sekuntum ridha Allah dan peluang terbebas dari ancaman neraka. Malahan, durasi kehidupan itu mengokohkan mereka dalam lorong menuju neraka, tanpa sadar. Naudzubillah. Karena hati sedang mati, sementara lidah dan fisik tak berhenti mengejar bayang-bayang nikmat duniawi. 

Hidup Mulia Atau Mati Syahid.

Islam mengajarkan sebuah prinsip, hidup mulia atau mati syahid. Mulia di sini terkoneksi langsung dengan takwa. Yaitu deskripsi tentang kehidupan ideal manusia dengan sejumlah bekal kecintaan kepada Allah; yang membawanya ke ruang-ruang harapan akan luasnya rahmat dan ampunanNya. Sehingga ancaman neraka senantiasa mereka hindari dengan tameng-tameng iman dan amal shaleh yang memadai. Intinya, lari dari azab Allah menuju rahmatNya; dengan bekal cinta yang terus menyala.

Manusia dengan tipe seperti ini senantiasa sadar akan kematian. Bahwa jatah hidup itu sangat terbatas. Sementara tanggung jawab jauh lebih besar; jika manusia berharap tersenyum puas di alam berzakh; saat ditemani oleh seseorang yang sangat tampan; yang tak lain adalah hasil prestasi ibadahnya sendiri. Setiap saat Kematian itu tampak di depan mata batinnya karena pengaruh iman yang terus berkembang. Seolah teman yang merindu akan kedatangan sang pahlawan dengan sejuta prestasi ibadah.

Kematian; Penasehat Unggulan, Penuh Kejujuran. 

"Cukuplah kematian itu sebagai penasehat yang baik," kata Rasulullah suatu ketika. Ia adalah lorong, setiap makhluk pasti akan melewatinya; senang atau tidak, siap atau tidak, mau atau tidak. Jiwa yang terdidik dengan Qur'an dan Sunnah senantiasa merencanakan agar kematian itu datang di saat dia sedang berada di puncak terbaik khusyu'; menjadi hari paling indah selama hidup dan menjadi penutup umur yang paling bergengsi di dunia. Hidup memang perlu direncanakan agar kondisi terbaik bisa diperoleh. Tapi kematian yang merupakan gerbang menuju akhirat; jauh lebih prioritas, agar kita bisa mempersembahkan prestasi gemilang saat kematian itu tiba. Karena kehidupan sebenarnya tergantung pada besarnya iman yang menghiasi hati; baiknya ucapan yang diproduksi oleh lisan; bermutunya kualitas amal yang dihasilkan oleh fisik kita. Cemerlangnya sinar terang kehidupan terkait penuh dengan jelasnya nilai akhirat di jiwa; derasnya ucapan kebanggaan akan nikmat ukhrawi (syukur) dan besarnya amal yang memenuhi timbangan keikhlasan dan prosedur amalan yang bersesuaian dengan contoh teladan sang nabi. 

Tak Betah Tanpa Ibadah, Tak Nyaman Tanpa Dakwah.

Kematian yang membanggakan itu terwujud jika kita sebagai muslim sering-sering merasa sepi dan tidak betah jika hidup ini tidak ramai oleh satuan ibadah wajib dan amalan-amalan sunnah. Merasa menyesal karena shalat tak berjamaah. Merasa sesal akibat tilawah harian tak terlaksana. Merasa sial karena lupa dg zikir ketika keluar rumah, saat sebelum dan sesudah makan. Ketika bersama pasangan halal, saat bercermin, saat pagi petang. Pada setiap kondisi hidup ketika masih ada peluang tasbih, tahmid, Istighfar. Saat ada peluang ikut taklim, dengar tausiyah dan membaca buku-buku keislaman. Intinya, ibadah pada setiap kelipatan waktu; pada semua ruang-ruang alam semesta. Di semua unit-unit kerja yang tergolong halal dan thayyib. Itulah konsistensi diri dalam membina keshalehan pribadi dan keluarga. 

Termasuk kegelisahan yang menyeruak dalam jiwa orang-orang yang progresif dalam menyongsong kematian bermutu adalah kontribusi dalam dunia dakwah praktis. Maksudnya, ketika muslim konsekwen dg ibadah mahdahnya, maka itu merupakan teladan yg pasti mengusik fitrah orang-orang sekitar. Sebagaimana maksiat dan kesalahan seperti penyakit menular, keshalehan dan ketaatan pun juga termasuk kesehatan yang menular. 

Tak nyaman karena tak terlihat dalam dakwah lisan, baik sifatnya ngajar ngaji, ngajar Ilmu-ilmu yang dimiliki serta ngajar di majelis-majelis taklim; muda mudi millenial atau di forum-forum ilmiah atau di kedai-kedai kopi bahkan hingga kafe-kafe. Itu semua kegelisahan yang menyeruak dalam jiwa sang perindu syahid. Bahkan, saat lisan dan fisik tak mampu menyentuh objek dakwah; masih ada media sosial online siap menampung ide-ide perbaikan dan nasehat keimanan; yang berdosis dan bergizi spiritual tinggi. Masih ada rekaman video dan audio visual yang bisa menyampaikan energi ketakwaan ke ruang-ruang FB, Twitter, Instagram, Line dan beragam media sosial yang kini merajai semua sektor komunikasi. Bahkan ruang-ruang remaja dan pemuda yang biasanya tidak akrab dengan masjid, tak kenal majelis taklim dan tidak tahu adanya komunitas hijrah yang kini bertumbuh di mana-mana, bisa disemai dengan petuah Qur'an dan Sunnah suci. 

Tak Betah Menunggu Kerabat.

Saat kematian itu benar-benar nyata, ketidakbetahannya karena tak ibadah dan dakwah ketika di dunia; membuatnya makin tidak betah dipajang lama-lama di atas pembaringan mayat yang menunggu takziah keluarga dan kerabat hingga rekan kerja. Apa yang menunggunya di kuburan sana jauh lebih nikmat dibanding dunia dan segala pernak-perniknya. Maka tak heran jika baginda Rasulullah pernah berpesan, “Segerakanlah jenazah dikuburkan. Jika ia orang shaleh maka kalian mempercepat dirinya kepada kenikmatan & kebaikan. Jika tidak demikian, sungguh keburukan itu telah kalian jauhkan dari lingkungan kalian.”

Salah Satu Taman Surga.

Barzakh artinya pemisah antara dunia dan akhirat. Ia bisa menjadi taman impian yang membahagiakan atau lubang neraka yang menyiksa. Jika pertanyaan Munkar & Nakir terjawab tuntas, maka sebuah pintu surga terbuka lebar mengalirkan nikmat-nikmatnya kepada sang hamba. Dengan sigap sang penghuni baru berharap, segerakanlah kiamat. Karena surga asli yg menjadi muara nikmat kubur tak tersentuh kecuali kiamat benar-benar terjadi. 

Meluas Sejauh Mata Memandang.

Cukuplah ia menjadi ruang pribadi dengan hamparan yang meluas Sejauh mata memandang; tentunya dengan beragam fasilitas Surga dari satu pintu yang baru terbuka. Ruang yg dulu ketika di dunia dimiliki bersama; bahkan dipertengkarkan dg sanak keluarga, teman kerja hingga dunia politik. Kini ruang itu menjadi milik pribadi sebelum ruang surga dihuni. Berzakh barulah terminal antara yang memisahkan dunia dan surga. 

Tidur Pulas Layaknya Pengantin Baru Saat Bulan Madu. 

Di ruang pribadi itu, kenikmatan dinarasikan seolah pengantin baru yang sedang kecanduan bulan madu. Tentram hatinya. Seolah dunia milik sendiri; begitu nikmatnya. Kalo di dunia ini, orang pacaran ketika berduaan dalam kemesraan; dengan egoisnya berkata; dunia ini milik kita berdua. Tidak demikian di barzakh. Nikmat Barzakh dengan perluasan sejauh mata memandang; adalah milik sendiri dengan berjuta kebahagiaan. Memang hidup ini adalah mimpi. Kematian itu baru kehidupan sebenarnya.

Surga; Kenikmatan Sesungguhnya.

Inilah janji Allah yang pasti dipenuhi. Salah satu motivasi mukmin sejati, selain rasa cinta kepada pemilik surga; Allah subhanahu wa Ta'ala. Di surga inilah wajah Allah yang selama ini dicari; dengan iman, takwa, istiqamah, dan semua prestasi keshalehan akan benar tertata oleh mata kepala sendiri. Ketika di dunia saat kita dalam prosesi shalat, Ka'bah-lah arahnya. Ketika haji dan umrah, Ka'bah itu di depan mata. Kadang berasa sedang mimpi, padahal real adanya. Di surga, wajah yang selama ini menggerakkan segala pontensi, semua rasa, sepenuh jiwa; kini dengan jelas, tanpa ada yang menghalangi; terpampang utuh, dicerap oleh mata telanjang; sehingga kenikmatan surga seolah kecil karenanya. Semoga mata yang penuh maksiat ini, berhak untuk menatap wajah mulia itu pada saatnya nanti. Amiiiin. 

Mutiara Hadits

Dari Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ

Siapa yang dengan jujur meminta kepada Allah untuk mati syahid, maka Allah akan mengangkat derajatnya seperti derajat orang yang mati syahid, meskipun nantinya dia akan mati di atas ranjang tempat tidurnya. (HR. Muslim 5039, dan Ibnu Majah 2797).

Mutiara Hikmah

Syumaith bin ‘Ajlan berkata, “Barangsiapa yang menjadikan maut senantiasa ada di hadapan kedua matanya, maka dia tidak peduli lagi dengan sempit atau luasnya kehidupan duniawi.” [Sumber: Mukhtashar Minhajul Qashidin, hlm. 483, Tahqiq: Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi].

MENELUSURI KESESATAN SYI’AH (IMAMIYAH)

 

MENELUSURI KESESATAN SYI’AH (IMAMIYAH)

Ust. H. Idrus Abidin, Lc., M.A

 

Pendahuluan

Syi’ah pada awalnya merupakan gerakan politik. Namun, belakangan tampil sebagai mazhab akidah. Cita rasa gerakan politik sebagai pendukung kelompok tertentu mulai tampak ketika proses pemilihan Abu Bakar r.a. sebagai khalifah pertama Islam. Setelah wafatnya Rasulullah Saw, Syi’ah hanya terdiri dari kelompok kecil yang bersikeras agar Ali bin Abi Thalib tampil sebagai khalifah. Padahal, Ali sendiri tidak berharap demikian. Betul, ketika pemilihan Abu Bakar, Ali memang tidak hadir. Dan, ketika pembaiatan Abu Bakar, Ali juga tidak segera berbai’at karena sedang sibuk mengurus jenazah Rasulullah Saw. Kondisi ini diisukan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan diri sebagai pembela Ahlul Bait, bahwa Abu Bakar telah merampas kekuasaan Ali sehingga Ali kecewa berat.

Padahal, faktanya, Ali malahan tidak pernah berharap menjadi khalifah, apalagi menganggap Abu Bakar merampas haknya sebagai khalifah. Buktinya, ketika beliau terpilih sebagai khalifah, Ali berpidato, “Aku telah dibaiat oleh ummat yang pernah membaiat Abu Bakar, Umar dan Utsman. Tidak seoang pun yang hadir mempunyai pilihan lain atau sengaja tidak hadir karena tidak setuju. Semua ini merupakan hasil keputusan bersama antara kaum muhajirin dan anshar.”

Kebencian Terhadap Sahabat.

Karena isu bahwa Abu Bakar mencaplok hak Ali sebagai khalifah ini, maka kelompok Syi’ah sangat membenci Abu Bakar. Namun, yang mengherankan, kenapa kebencian itu berlanjut kepada Umar dan Utsman, bahkan hingga ke Ummul Mukminin, A’isyah. r.a. Padahal, terpilihnya Umar dan Utsman sebagai khalifah juga melalui mekanisme musyawarah. Ketika Umar hendak memimpin perang melawan Romawi, Ali bahkan mencegahnya. Dengan alasan, kalau Umar meninggal, kaum muslimin akan kehilangan pemimpin hebat. Dengan sejumlah fakta ini maka tidak terlihat kalau Ali merasa terzhalimi oleh pendahulunya.

Lalu apa alasan kebencian mereka kepada Umar, Utsman, dan Aisyah? Hal yang memungkinkan adalah alasan lain yang tidak terkait dengan unsur politik tadi. Hal itu adalah bahwa kelompok politik Syi’ah banyak dimotori oleh orang-orang Persia. Orang-orang Persia membenci Abu Bakar dan Umar karena mereka berdua berperan besar dalam mematikan api dan agama Majusi, yang menjadi simbol kebanggan mereka. Akhirnya, mereka berharap bisa balas dendam dengan memanfaatkan isu Ahlulbait yang terzhalimi. Hal ini terbukti ketika Umar terbunuh, ternyata pelakukanya adalah Abu Lu’lu, seorang Majusi yang berpura-pura masuk Islam. Dia telah bersekongkol dalam pembunuhan ini dengan Hurmuzan, salah satu pembesar Persia.  Belakangan, Abu Lu’lu ini digelari sebagai Baba Syuja’uddin (Bapak Pembela Agama). Dan, hari kematian Umar disambut sebagai hari raya bagi Syi’ah Iran dan dianggap hari wajib zakat di kalangan mereka.

Selain itu, sentimen Persia ini juga tampak pada perbedaan sikap Syi’ah yang lebih panatik kepada Husain daripada Hasan. Alasannnya lagi-lagi karena Husain adalah putra Ali yang dikawinkan dengan putri raja Sasanid Iran, Yazdajir, yang datang bersama sejumlah tawanan.

Peranan Abdullah bin Saba’

Pada zaman pemerintah Utsman, isu kepemimpinan Ali berkembang menjadi sikap pengkultusan terhadap pribadi Ali. Isu ini bersamaan dengan munculnya seseorang bernama Abdullah bin Saba’, keturunan Yahudi Yaman, yang pura-pura masuk Islam. Pendeta ini mengaku masuk Islam pada tahun 30 H dan hidup berpindah-pindah dari Hijaz, Bashra, Kufah hingga ke negeri Syam. Abdullah senantiasa menyebarkan fitnah terhadap sahabat setiap kali berada di suatu da’erah. Salah satu isu yang dikembangkan bahwa Rasulullah Saw. telah berwasiat kepada Ali agar menjadi khalifah setelah beliau meninggal. Namun, sahabat-sahabat itu tidak mematuhi wasiat nabi dan merebut kekuasaan Ali. Bahkan dia menebarkan fitnah lain yang lebih berbahaya, yaitu pengkultusan Ali dengan doktrin inkarnasi. Dia menyebarkan kepada masyarakat, “Saya sungguh heran kepada orang yang mengatakan bahwa kelak Isa akan datang lagi sedang mereka tidak percaya bahwa Ali akan kembali di kemudian hari setelah wafatnya”. Bahkan, lebih dari itu, pengikut Abdullah bin Saba’ menganggap Ali tidak mati karena mengandung unsur ketuhanan.

Ketika Ali mendengar hal itu saat menjabat kekhalifaan, beliau marah dan memerintahakan agar Abdullah didatangkan. Ketika bertemu, Abdullah bahkan berkata kepada Ali, “Engkau adalah Allah.” Ali menjawab, “Kamu sudah kesetanan. Tinggalkan ajaranmu dan bertaubatlah wahai orang celaka!” Setelah itu, Ali memerintahkan agar Abdullah dibakar. Namun dibela oleh kaum rafidhah (Syi’ah Ekstrim) dan meminta Ali untuk mengasingkannya saja. Akhiranya dia diasingkan ke wilayah Mada’in dan dilarang menyebarkan ajarannya. Adapun pengikut Abdullah bin Saba’ yang masih terus mempropagandakan ajarannya, dihukum oleh Ali dengan pengusiran, pembunuhan dengan pedang dan sebagian lagi dibakar hidup-hidup karena keyakinan mereka mempertuhankan Ali. Ketika hukuman keras ini diberlakukan Ali, akhirnya mereka menyembunyikan keyakinan mereka dengan prinsip taqiyyah (sembunyi-sembunyi). Bahkan belakangan mereka mempopulerkan sebuah prinsip, “Taqiyyah adalah agamaku dan agama nenek moyangku. Siapa yang tidak bertaqiyyah maka dia tidak beriman.”

Setelah meninggalnya Ali, Abdulllah bin Saba’ keluar dari pembuangannya dan meyebarkan isu baru bahwa Ali tidak mati dan tidak dibunuh. Ia tidak akan mati hingga menggiring bangsa Arab dengan tongkatnya dan memenuhi bumi ini dengan keadilan, karena sebelumnya telah dipenuhi kezhaliman. Kultus terhadap Ali ini berkembang semakin pesat di wilayah pinggiran seperti Mesir dan Irak, terutama mereka yang baru masuk Islam. Dikesankan seolah ada sengketa antara para sahabat dengan Ahlulbait. Isu ini terus dikembangkan bersamaan dengan isu lama berupa wasiat khusus Rasulullah kepada Ali dan keturunannya sebagai pengganti Rasulullah. Ujungnya dikesankan sebagai imam khusus di muka bumi ini. Dari sinilah muncul doktrin dan teologi imamah (teori kepemimpinan politik) menurut Syi’ah.

Imamah Sebagai Konsep Utama Akidah Syi’ah

Dengan keyakinan bahwa Ali dan keturunannya sebagai pemimpin politik resmi (imamah) di kalangan Syi’ah maka keimanan dan ketauhidan diukur berdasarkan loyalitas pengikut kepada doktrin imamah ini. Siapa pun menolak imamah maka mereka dipastikan kafir dan syirik. Alasannya, imamah telah masuk ke wilayah ketuhanan dan melebihi kenabian. Belakangan, kriteria kafir ini tidak lagi karena memusuhi, melaknat dan mencaci maki Ahlulbait saja tapi mereka yang tidak termasuk Syi’ah itsna asyari’ah (12 Imam yang diakui Syi’ah sebagai pemimpin ma’shum) adalah kafir. Masalah mendasarnya, konsep imamah dalam akidah Syi’ah ini sama sekali tidak pernah dikatakan oleh Ali sendiri. Namun, dalam kitab-kitab Syi’ah disebutkan bahwa derajat para imam-imam itu jauh lebih tinggi dari para nabi dan Malaikat sekalipun. Akhirnya, doktrin imamah sebagai akidah ini bukanlah merupakan produk Ali melainkan hasil kreasi ulama-ulama Syi’ah sendiri.  Tapi, walaupun demikian, imamah dalam keyakinan Syi’ah tetap dianggap sebagai rukun iman pertama yang harus dipenuhi. Siapa pun yang tidak mengimaninya, dianggap kafir, seperti kafirnya Ahlussunnah.

Perbedaan al-Qur’an, Penafsiran, Periwayatan Hadits, Nikah Mut’ah

Hal yang memprihatinkan, ternyata al-Qur’an pegangan Ahlussunnah tidak diakui oleh Syi’ah imamiyah dan dianggap kurang. Jumlah ayat al-Qur’an versi Syi’ah sebanyak 17.000 ayat. Ini berarti 3 kali lipat dibanding jumlah ayat al-Qur’an Ahlussunnah yang terdiri dari sekitar 6.666 ayat. Pernyataan seperti ini terdapat dalam kitab Usul al-Kafi karya al-Kulayni dll. Kalau pun Syi’ah tidak mengakui maka paling itu begian dari taqiyyah mereka.

Selain perbedaan seputar al-Qur’an, ternyata juga berbeda dalam hal penerapan tafsir. Mereka mengandalkan penafsiran batin yang terkadang jauh dari makna lahiriah ayat. Contohnya, firman Allah yang berbunyi, “Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dialah Tuhan yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut.” (QS an-Nahl: 51) Menurut penafsiran Syi’ah maksudnya adalah agar ummat Islam tidak mengangkat dua imam karena imam itu hanya satu.” (Tafsir al-Burhan, vol.2, hal.373). Penafsiran ini sangat dipengaruhi oleh doktrin imamah yang menjadi ciri khas Syi’ah imamiyah.

Dalam periwayatan hadits juga Syi’ah berbeda dengan Ahlussunnah. Karena dilatarbelakangi oleh kebencian terhadap sahabat nabi dan sikap fanatik terhadap konsep imamah, Syi’ah megartikan makna hadits sebagai perkataan, perbuatan dan keputusan al-ma’shum. Yang dimaksud al-ma’sum di sini adalah Rasulullah dan imam Ahlulbait sebanyak 12 orang. Hadits-hadits tentang kelebihan Ali beredar begitu banyak di kalangan Syi’ah dan tidak ada sumber rujukannya dalam hadits Ahlussunnah. Akibat dari perbedaan dalam masalah hadits ini, timbul pula perbedaan dalam hal kawin kontrak (mut’ah). Nikah mut’ah versi Syi’ah adalah nikah berbatas waktu, minimal dua kali hubungan dengan upah tertentu, dengan wanita tak terbatas. Dalam hadits Ahlussunnah, nikah mut’ah memang pernah diizinkan Rasulullah pada perang Fathu Makkah atau perang Hunain. Tapi setelah itu diharamkan hingga hari kiamat. Demikianlah sekelumit tentang Syi’ah yang kami ringkas dari Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam Islamia.

Mutiara Hikmah

Abu Zur’ah al-Razi berkata, “Bila Anda melihat seseorang mencela salah seorang sahabat Rasulullah Saw, ketahuilah bahwa orang itu zindik. Karena konsekwensi ucapannya itu akan membatalkan al-Qur’an dan Sunnah.”

Mutiara Hadits

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ اْلَأكْوَع ِرضى الله عنه قَالَ: رَخَّصَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَامَ أَوْطاَس فِي اْلمُتْعَةِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ثُمَّ نَهَى عَنْهَا

Dari Salamah bin Akwa` r.a, ia berkata, “Rasulullah Saw. memberikan keringanan dalam nikah mut’ah selama 3 hari pada masa perang Authas (perang Hunain). Lalu beliau melarang kami (melakukan nikah mut’ah untuk selamanya)”. (HR Muslim, no. 1405)

Kandungan Hadits

A.    Hukum asal kawin kontrak (mut’ah) adalah haram.

B.     Kawin kontrak ini pernah diberlakukan oleh Rasulullah Saw. pada perang Fathu Makkah atau perang Hunain selama tiga hari, sebagai bentuk keringan bagi para mujahidin.

C.     Keringan tersebut dicabut oleh Rasulullah Saw. selamanya hingga hari kiamat.

 

Mutiara Do’a

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّـبَاعَه ُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

Ya Allah Tunjukkanlah kepada kami kebenaran sehinggga kami dapat mengikutinya Dan tunjukkanlah kepada kami kejelekan sehingga kami dapat menjauhinya (HR al- Baihaqi dalam Syarah Muntahal Iradat dan Ibn Katsir dalam tafsir Surat al-Baqarah: 213)

Categories

About Us

There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form.

نموذج الاتصال