‏إظهار الرسائل ذات التسميات Ramadhan. إظهار كافة الرسائل
‏إظهار الرسائل ذات التسميات Ramadhan. إظهار كافة الرسائل

الثلاثاء، 25 يونيو 2019

Ramadhan Bulan Perubahan.



By. Idrus Abidin.

Hidup adalah gerak. Dinamikanya berjalan sesuai arah ideologi yang melatari. Bisa dipicu oleh iman (agama), mungkin juga digerakkan oleh ideologi. Iman dan ideologi memang mirip. Tapi hakikatnya tidak sama. Iman lahir dari kitab suci samawi. Sedang ideologi dipicu oleh filsafat. Iman berbasis pada keghaiban. Ideologi dibangun oleh rasionalitas. Iman akhirnya terbentuk oleh validitas informasi (Wahyu). Allah dan para rasullah aktor utamanya. Sementara ideologi tidak lebih dari sekedar intelektual. Maka, perubahan basisnya kalau bukan agama pasti filsafat. Namun agamalah yang menyentuh langsung denyut nadi kehidupan masyarakat. 

Perubahan  (Gerak) Tabiat Kehidupan.

Di semua lini kehidupan, segala sesuatu bergerak dan berubah. Matahari bergerak di porosnya sendiri. Bintang juga melaju di orbitnya. Bumi pun demikian. Tanaman dan tumbuhan terus bergeliat. Apalagi jika curah hujan cukup untuk mendukung laju dinamiknya. Bahkan, Alam semesta pun bergerak dan mengembang secara konstan (QS adz-Dzariyat : 47) Jika pergerakan itu mengalami stagnasi, alam semesta akan mengalami kehancuran sehingga kematian bisa menjadi realitas tak terelakkan. Itulah sunnatullah di dunia fisik. Di dunia kejiwaan pun gerak dan perubahan itu berjalan. Jiwa butuh asupan yang menjamin gerak dan pertumbuhannya. Karena di sana tercetus kemauan dan semangat hidup. 

Turunnya Qur'an Titik Tolak Perubahan.

Perubahan dalam Islam berawal di bulan Ramadhan. Sebelum Rasulullah menjadi nabi, nalar kritisnya sudah meyakini bahwa hidup pasti ada maksud dan tujuan. Sebagai bagian dari Quraisy, beliau ikut menjadi pebisnis internasional yang menyambangi banyak pasar-pasar di semenanjung jazirah Arab. Dari sejak umur 12 tahun hingga menikah di umur 25, bahkan puncaknya pada umur 37. Beliau telah menjadi bisnisman kaya dan marketer ulung yang menguasai lingkungan geografis; bahkan perkembangan politik tanah dan dunia Arab.  Maka, tak heran, pada rentang umur 37 hingga 40 beliau kadang jeda dari dunia bisnis dan sesekali menyendiri di gua Hira dengan bekal secukupnya. Beliau mencari fakta-fakta kehidupan secara filosofis. Kesimpulan dari fakta-fakta itulah yang disebut istiqra' (pencarian/pengamatan). 

Ketika al-Alaq turun, jelaslah bahwa memang perubahan itu berawal dari pengamatan dan pencarian. Iqra' hanya menjelaskan sumber dan semangat pencarian dan pengamatan itu ; Allah sang maha pencipta. Pencipta segalanya, khususnya manusia sebagai pemain utama semua lini dan sektor kehidupan. Yang mana, mereka dari tiada jadi ada. Demikian pula ilmu, dengan mengamati dan mencari dia akan ada dari ketiadaannya. Penalah sarana belajar itu. Walaupun bagi nabi, tidak melalui goresan pena. Tapi melalui berita langit yang dibawa oleh Jibril alaihissalam. Sebagaimana manusia memang umumnya ada lewat kelahiran. Tapi Adam ada via penciptaan. Dengan Qur'an ini, manusia mengenal semangat ketuhanan (ruh). Namun itu juga belum cukup. Perlu ada cahaya (nur) sehingga semangat perubahan itu berjalan pada jalur yang benar (shiratal Mustaqim). Di bulan Ramadhanlah konsep perubahan itu turun. Di sebuah malam yang disebut Lailatul Qadar; malam penetapan takdir manusia. Takdir berupa aturan dan ketetapan syari'at (agama Islam), disertai pula dengan ketetapan alam dan segala isinya (takdir kauni)

Islam, iman dan Ihsan (Takwa) Gerak Perubahan.

Perubahan dalam agama itu bernama Islam. Yaitu suatu proses dalam kehidupan manusia yang menghendaki perkembangan dan kemajuan. Manusia yang Ingin agar status quo yang hanya berdasarkan  pada budaya mitos itu menjadi budaya Tauhid yang berbasis pada keadilan. Sehingga ia menyerahkan hidupnya diatur oleh Allah sehingga tampak lahiriahnya sebagai manusia yang berislam dengan identitas seperti syahadat, shalat, puasa, zakat, haji dll. Perubahan dalam sisi lahiriah ini dicetuskan oleh iman terhadap rabbul a'lamiin. Dzat yang mengadakan segala sesuatu lalu mengarahkan mereka semua ke tahap kesempurnaan; sedikit demi sedikit sesuai siklus kehidupan itu sendiri. Selain dicetuskan oleh keyakinan kepada Allah, perubahan juga lahir dari iman terhadap adanya hari pengadilan yang bernama kiamat. Kedua hal ini menjadi semacam visi perubahan yang melandasi setiap misi perubahan yang digulirkan. Misi yang bergerak menyadarkan manusia tentang hakikat kehidupan yang tak lain sebagai ujian. Misi yang menegaskan bahwa terhadap manusia dan semua makhluk, kita harus adil dan Ihsan kepada mereka. Misi yang mendukung upaya untuk mengeksplorasi alam semesta dengan ilmu pengetahuan demi kemudahan hidup mereka dalam ketaatan kepada Allah Ta'ala. Sedang Ihsan adalah kondisi manusia yang mencapai puncak maksimal dalam hal iman sehingga Allah tampak dalam jiwanya. Keadaan ini menunjukkan tingginya harapannya kepada Allah sehingga menjadi manusia yang senantiasa berubah sesuai yang dicintai dan diridhai Allah. Atau Ihsan berupa kesadaran jiwa yang membuat seseorang merasa selalu diawasi Allah sehingga takut terhadap pelanggaran dan senantiasa komitmen dalam perintahNya. Sebuah kondisi lain yang melahirkan perubahan maksimal pada diri manusia.  Baik Kondisi harapan atau pun kondisi takut; keduanya melahirkan Ihsan pada diri manusia. Ihsan yang berarti manusia profesional dalam berislam dan beriman; berdasarkan ilmu yang mapan dan amal yang berkategori unggulan. 

Taubat Proses Mendasar Perubahan.

Jika dicermati perubahan manusia dari Islam ke iman hingga ke tahap Ihsan, ditemukan sebuah rahasia perubahan; itulah taubat. Yaitu penyesalan  manusia akibat kelalaian dari kebaikan (Allah dan segala aturanNya). Sehingga ia berusaha memperbaiki hatinya dengan tauhid (inti keimanan), lisannya dengan istighfar dan fisiknya dengan shalat, puasa, zakat, haji dan sejumlah akhlak mulia lainnya. Taubatlah yang mengantar manusia ke pangkuan Islam. Taubat pula yang merubahnya menjadi manusia yang benar-benar beriman. Bahkan taubat khusus melambungkan manusia ke derajat Ihsan. Tiada perbaikan tanpa penyesalan, lalu diiringi perbaikan terus menerus tanpa henti dan tak kenal stagnasi. Para nabi dan rasul dikenal dengan karakter mereka sebagai awwab; yaitu sikap merasa bersalah dan merasa belum maksimal mengagungkan Allah; sebagai mana mestinya. Pantaslah, penghulu para Rasul, nabi kita Muhammad berucap,
لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
"Aku tidak mengerti berapa seharusnya pujian yang pantas untukMu. Yang jelas, keterpujianMu hanya selevel dengan pujianMu sendiri terhadap diriMu". 

Taubat adalah energi yang terus menjalar pada setiap sendi-sendi perubahan. Mengawal manusia dan jin melewati jalur-jalur keislaman, menelusuri setiap lorong yang ada pada ruas-ruas keimanan. Bahkan, taubat pula yang mengantar manusia yang bernyali tinggi dan bersabar kokoh, menuju ruang-ruang ihsan yang telah berhasil ditelusuri dengan sempurna oleh para rasul Ulul Azmi. 

Ilmu, Pemicu Kesadaran dan Pencetus Taubat.

Dari mana taubat itu bermuara? Dari pengetahuan akan keagungan Allah Ta'ala. Seiring dengan pemahaman manusia akan kehebatan, kesempurnaan dan kekuasaan Allah, sejauh itu pula kesadaran akan lahir dan taubat dipastikan akan hadir, biiznillah. Egoisme manusia yang selama ini mencegahnya dari hidayah dan taubat tiba-tiba tersingkap menjadi kekerdilan di hadapanNya. Demikianlah ilmu mengembalikan segala sesuatu kepada porsi dan takarannya masing-masing (keadilan). Ketika ada orang tidak tahu menahu siapa sebenarnya yang dia lewati di jalan atau di tempat manapun tanpa sapaan dan teguran. Lalu diberi informasi kalau itu sang idola atau orang yang telah berjasa padanya di masa lalu; dengan segera ia merasa bersalah. Seperti itulah pengetahuan menggugah penyesalan, kesadaran dan taubat. Sehingga membuahkan perubahan kepada yang lebih tepat, proporsional dan profesional (Ihsan). Memang terkadang pengetahuan tidak melahirkan kesadaran, layaknya obat yang tidak menyembuhkan. Sebabnya, tembok ogoisme  begitu kokoh, menghalangi pengetahuan mencapai jantung kesadaran. Akhirnya, simbol perubahan itu ternyata ada pada siapa pun yang berilmu Amaliah dan beramal ilmiah. 

Statis, Lonceng Kematian. 

Dinamika seorang muslim demi lahirnya kebaruan dalam siklus perubahan begitu jelas bagi yang mengerti nilai ilmu dan manfaat hidayah. Waktu bagi mereka adalah lorong yang menyampaikan kepada kebaikan-kebaikan dan menjauhkan mereka dari lembah keterpurukan dan kubangan keburukan. Hidup dan semangat mereka melampaui kadar umur biologis. Sebaliknya, diam tanpa progres, murung tanpa target, hidup tanpa semangat bukan tipenya orang-orang beriman. Harapan akan indahnya negeri akhirat membuat semangat mereka berderu seolah tak kenal capek dan jeda istirahat. Mati bagi mereka bukanlah semata berpisahnya roh dari badan. Tapi hilangnya semangat perbaikan dan gelora keimanan. 

Muslim Tidak Mengenal Stagnasi;  Hanya Jeda dan Istirahat. 

Karena itu, muslim sesungguhnya adalah yang terus bergerak dalam skala perbaikan. Membangun jiwa via ilmu. Mengembangkan fitrah dengan Tazkiyatunnafs. Mensucikan hati dengan tauhid. Mereka memahami diam itu sebatas istirahat; karena memang tabiat manusia juga butuh jeda setelah sekian lama berjibaku dengan gerak kebaikan dan semangat perbaikan. Walau bagaimanapun, tubuh ini punya hak; dengan mengistirahatkan mata, telinga, nalar dan jiwa, walau hanya sejenak.  Keluarga pun punya hak; dengan memenuhi kebutuhan mereka secara fisik dan kejiwaan. 

Puasa, Langkah Perubahan.

Pada kewajiban puasa jelas sekali nuansa perubahan itu begitu tampak. Di sana ada ujian kejujuran untuk senantiasa menahan lapar, haus dan semua hal yang membatalkan puasa. Mudah bagi siapa pun yang tidak jujur mengelabui orang sekitar; seolah dia puasa. Padahal, dalam sepinya ruangan malah kenyang oleh nikmatnya makan dan lezatnya minuman. Kalau bukan karena ketulusan dan keikhlasan, puasa hanya sekedar hoaks, tanpa ada realitas. Maka, di sinilah kita mengerti, kenapa puasa itu langsung ditetapkan sendiri pahalanya oleh Allah Ta'ala. Karena kejujuranlah basis utamanya.  Tidak  mudah kena  riya' dan  sum'ah, seperti shalat, tilawah dll. Rasulullah bersabda : 

 كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ )

"Semua amal Bani Adam akan dilipat gandakan kebaikannya sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Azza Wa Jallah berfirman, ‘Kecuali puasa, maka ia murni untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan menetapkan kelipatan pahalanya." (HR. Muslim, no. 1151)

Zakat, Tahapan Perubahan.

Dengan puasa, beratnya rasa haus, susahnya kelaparan, walau hanya berbatas waktu, sebulan penuh, setiap hari antar subuh hingga magrib; terasa secara langsung bagaimana orang-orang yang tereliminasi dari sumber-sumber kekayaan seperti orang miskin, merasakan semua itu tanpa berbatas waktu. Bahkan tidak adanya kepastian kapan lapar itu berubah jadi kenyang, haus menjadi hilang dengan tegukan air tawar; berlangsung sepanjang waktu, di setiap tempat. Maka empati dipastikan akan hadir menjadi kepedulian minimal. Itulah zakat fitrah dan harta, bahkan infaq dan shadaqah. Shadaqah sendiri berarti bukti kejujuran iman (shidq) selain bukti persaudaraan kemanusiaan (shadaqah). Atas nama Allah, kepedulian itu menjadi semacam kebersamaan. Terutama di hari kebahagiaan internasional kaum muslimin di seluruh belahan dunia; hari raya Iedul Fitri. Tidak boleh ada sedih bagi siapapun pada hari itu karena makan dan minum saja belum jelas ketersediannya. 

I'tikaf Energi Perubahan.

Untuk mengasah kesadaran, mempertajam target besar yang belum terlaksana, mengukur diri dengan standar keislaman, keimanan dan keihsanan; dibutuhkan jeda waktu dari hiruk pikuk dunia kerja dan keluarga. Semacam fokus untuk menata diri dan menginstrospeksinya secara langsung dan dengan sangat mendalam. Supaya ketenangan dalam khusyuknya ibadah, kenikmatan dalam indahnya tilawah dan nikmatnya baca buku keislaman yang diselingi oleh tausiyah dan Taujih dari ahli di bidangnya; memberikan energi spiritual yang sangat dibutuhkan setelah ramadhan sudah tiada.  

Kadang jiwa ini tumpul akibat deru kesibukan duniawi. Seringkali jiwa ini melemah karena terlalu fokus dengan target-target materi. Bahkan, bisa jadi lemah spiritual karena terlalu mengandalkan rasionalitas dan kemampuan diri. Berat untuk fokus dalam shalat. Susah untuk merasakan indahnya nasehat. Semua itu karena jiwa lagi kurang asupan gizi spiritual. Maka, nasehat seolah tak melahirkan gelombang dalam jiwa. Untuk semua itu, i'tikaf hadir supaya jiwa mendapatkan kekuatannya kembali. Iman berasa kokoh, takwa bersemi dan optimisme pun  menatap masa depan dengan penuh senyuman.

Idul Fitri, Perayaan Status Baru. 

Di saat takbiran berkumandang, jiwa merasakan bahwa Allah penuh keagungan. Ketika puasa berakhir, fitrah seolah menemukan jati dirinya sebagai makhluk baru. Beban-beban yang selama ini mengekang jiwa, seolah sirna oleh kekuatan iman. Ketaatan membuahkan jalan baru menuju Ridha Allah dengan potensi surgaNya yang sangat menawan. Keyakinan seolah tenang oleh rindangnya pohon ketakwaan. Maka, iedul Fitri menjadi hari bahagia karena diri kembali ke fitrahnya yang suci. Bahagia karena tanggung jawab telah tertunaikan. Sebulan penuh disertai dedikasi untuk menahan lapar dan haus, termasuk menjauhkan diri dari kebohongan dan kepalsuan. Berusaha sekuat tenaga membangun kembali puing-puing kejujuran yang telah lama berantakan oleh pencitraan berlebihan. Bahwa kini, iman itu bukan sekedar hiasan bibir yang membuat orang lain takjub, sekali pun jauh panggang dari api. Tapi yang lebih penting dari itu semua, bahwa takwa berarti lahirnya manusia baru yang berbekal cinta Allah yang luar biasa. Memahami bahwa rahmat Allah diharapkan sepenuhnya. Sekaligus azab Allah sungguh sangat menakutkan di jiwa. Semoga demikian adanya. Aamiin. 

Depok, Tengah Malam,  18 Mei 2019. 

🌷🌷🌷🌵🌵🌵🍄🍄🍄

Ikuti update status nasehat dari kami via :

1. Telegram Channel : Gemah Fikroh.
2. YouTube Channel : Gema Fikroh.
4. Facebook Sudah Full Pertemanan.

Sejarah Puasa Lintas Peradaban Samawi.



By. Idrus Abidin.

Puasa adalah paket ibadah langit (samawi) yang telah ada sejak zaman dahulu. Persis seperti shalat, zakat, qurban, haji dll. (QS al-Maidah : 48 dan Al-Baqarah : 183). Fungsinya secara vertikal menguatkan sensitivitas ketakwaan dan rasa syukur atas karunia dan nikmat ilahi.  Secara sosial kemasyarakatan, puasa berperan sebagai daya rekat yang menghubungkan tali kekeluargaan antara muslim dengan keluarganya secara nasab dan mengokohkan ikatan keislamannya dengan sesama muslim dalam ikatan ukhuwah dan persaudaraan. Karena demikian adanya, puasa memiliki latar belakang sejarah dalam lintas peradaban agama samawi. Yahudi dan Nasrani adalah kalangan ahli kitab yang tentunya akrab dengan tradisi ini, seandainya mereka tidak menyimpang dari jalur shiratal Mustaqim. Berdasarkan sejarahnya, puasa melalui 4 tahapan sebelum kita mengenal tradisi puasa sebagai mana yang kita praktekkan hari ini. 

1. Puasa hari-hari putih (ayyamul bidh) dan 10 Muharram (Asyuraa'). 

Sejak Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau beserta kalangan sahabat membiasakan diri puasa 3 hari berturut-turut setiap bulan hijriah; hari ke-13, 14 dan 15. Rutinitas ini diiringi dengan puasa Asyuraa' yang telah menjadi budaya dalam internal kaum Yahudi di kota Madinah di sekitar wilayah Khaibar. Puasa yang mereka lakukan sebagai wujud rasa syukur terhadap bebasnya nabiyullah Musa beserta kaum muslimin di zamannya dari kejaran Fir'aun dan bala tentaranya. Puasa hari-hari putih sendiri, berdasarkan informasi valid yang dituturkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya, sudah ada sejak nabiyullah Nuh alaihissalam. 

2. Puasa Secara Opsional.

Memasuki tahun ke-2 hijriah di Madinah, beberapa bulan setelah pengalihan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka'bah di kota Makkah, perintah puasa; tepatnya di bulan sya'ban turun agar kaum muslimin memulai tradisi baru di bulan Ramadhan. Maka dengan suka rela mereka berpuasa pada tahun tersebut sesuai puasa kalangan ahli kitab; jika magrib tiba, mereka berbuka dengan riang gembira. Namun, jika mereka tidur atau ketiduran, baik sebelum atau setelah waktu isya maka mereka terhitung mulai imsak (puasa) hingga magrib berikutnya. Namun, model puasa seperti ini masih bersifat opsional. Karena siapa pun yang merasa tidak sanggup, boleh membatalkan puasanya dengan melakukan fidyah sebagai ganti puasa. Maka tidak heran, ketika perang Badar terjadi; ketika itu bertepatan dengan tahun ke-2 hijriah saat awal puasa ramadhan diperintahkan, ada sebagian sahabat yang fidyah puasa dan ada juga tetap puasa. Sekalipun fidyah dijadikan solusi opsional, tetap saja Allah mengutamakan puasa dibanding fidyah ini (QS Al-Baqarah : 184). Terutama kalangan muda yang masih segar dan jiwa masih kokoh. Tapi apa pun alasannya, tahapan ini memberikan penegasan betapa Allah memberlakukan setiap aturan syariat baru melalui serangkaian tahapan agar memudahkan hambaNya (at-tadarruj fit tasyri').

3. Puasa Secara Mutlak Tanpa Sahur. 

Setelah jama'ah kaum muslimin baru tersebut melaksanakan tradisi puasa di bulan mulia, sejumlah masalah terjadi. Ada yang kadang masih makan dan minum padahal sudah tidur. Ada juga yang masih berhubungan intim dengan pasangan sahnya setelah tidur di malam hari. Umar bin Khattab radhiyallahu anhu termasuk yang melanggar larangan bermesraan dengan pasangan di malam hari ramadhan setelah salah satu dari suami istri tertidur. Maka, di pagi hari, Umar langsung menemui Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melaporkan kesalahannya dengan penuh penyesalan sekaligus menanyakan solusinya. Namun, ketika itu langit belum memberikan solusi dan jawaban tertentu. 

Salah seorang muslim bersuku Anshar bernama Shirmah al-Anshari pulang dari kebunnya. Di rumah, ia menunggu waktu berbuka dan istrinya sedang mencari makanan untuk berbuka. Ternyata, karena kecapekan sehari bekerja, ia tertidur hingga lewat waktu Magrib. Saat istrinya datang, makanan tidak bisa lagi dinikmati. Maka, ia melanjutkan puasa hingga hari berikutnya. Tampak kepayahan menyeruak di wajahnya karena puasa 2 hari berturut-turut tanpa makan dan minum (seperti puasa wishal).  Dengan beragam kejadian ini, dengan Rahmat dan kasih sayangNya, Allah memberikan keringanan (rukhsah). Kaum muslimin diizinkan makan minum dan juga berhubungan suami istri di malam hari hingga waktu azan subuh berkumandang. Bahkan, sahur pun dianjurkan dengan janji berkah bagi yang melakukannya demi kemudahan puasa. Keringanan ini bisa dibaca di surat Al-Baqarah ayat 187. Bahkan, Allah menyebutkan bahwa mereka yang mengkhianati diri sendiri dengan makan dan minum serta berhubungan suami istri padahal sudah tidur di malam hari ; diketahui oleh Allah. Namun, Allah mengampuni (tawwab) mereka sekalipun hanya dengan penyesalan hati dan mencari solusi seperti Umar. Juga Allah memaafkan mereka ('afaa anhum) tanpa syarat, tapi murni karena kelembutan dan kebijakan Allah Ta'ala. 

4. Puasa Sesuai Yang Berlaku Sekarang. 

Dengan adanya keringanan ini, hanya kaum muslimin yang memiliki tradisi sahur dan tidak berpuasa di malam hari. Ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani, tidak mendapatkan karunia dan keberkahan sahur sebagai mana yang dinikmati kaum muslimin sejak era Rasulullah hingga akhir zaman. Itulah salah satu makna dari kemudahan dan kekhususan ajaran Islam dibanding agama serumpun ; Yahudi dan Nasrani. Selain kemudahan puasa, muslim juga mendapatkan perlakuan khusus seperti dihalalkannya shalat di seluruh penjuru bumi (bukan hanya di tempat ibadah saja seperti ahli kitab), dibolehkannya tayammum sebagai pengganti wudhu dalam kondisi tertentu, dihalalkannya harta rampasan perang (ganimah) dll. Semoga kemudahan ini juga bagian dari kemudahan kita terhindar dari neraka dan kemudahan masuk surgaNya. Aamiin. 

Stasiun Citayam, 5 Mei 2019. 

🌷🌷🌷🌵🌵🌵🍄🍄🍄

Ikuti update status nasehat dari kami via :
1. FB : Idrus Abidin
3. YouTube Channel : Gema Fikroh.
4. Telegram Channel : Gemah Fikroh.

Ramadhan, Puasa dan Nilai-Nilai Sosial.

Ramadhan, Puasa dan Nilai-Nilai Sosial. 

By. Idrus Abidin.

Siklus tahunan berupa ramadhan dan puasa sebentar lagi membersamai kita. Rindu untuk mendapatkan peluang ampunan, kesempatan memperbanyak pundi-pundi amal dan membebaskan diri dari ancaman neraka kian terbuka. Tak lupa do'a dan harapan untuk bertemu kembali ramadhan sudah sejak lama dilantunkan. "Berkahi kami ya Allah di bulan Rajab dan sya'ban dan sampaikan kami ke bulan ramadhan." Itulah lafaz do'a yang banyak dipanjatkan sebagai wujud dari kerinduan iman.

Momen Penguatan Hablun Minallah.

Ramadhan adalah peluang emas untuk kokohnya ikatan cinta dengan sang maha penguasa alam semesta. Semua hidayah berupa kitab suci; dari lembaran-lembaran suhuf nabiyullah Ibrahim, Taurat nabiyullah Musa, Zabur, Injil nabiyullah Isa dan Qur'annya nabiyullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam turun di bulan Ramadhan. Maka, surat cinta Allah ini mengajak setiap hamba agar senantiasa terkoneksi secara langsung dengan Allah Ta'ala. Pada bulan ini, Manusia diminta membangun keakraban dan  kedekatan khusus dengan Al-Qur'an. Sehingga bisa mengokohkan rasa cinta dan ketaatan mereka pada sang ilahi. Rasa syukur atas karunia petunjuk diwujudkan dengan ibadah total. Puasa di siang hari dan taraweh di malam hari; termasuk qiyamullail beserta lantunan tilawah. Semua itu bermuara; selain pada rasa syukur, juga pada takwa yang kian mekar. 

Dengan kedekatan kepada Allah, manusia diharapkan makin merasakan nilai tanggung jawab. Bahwa sebagai hamba, ia harus berkontribusi besar terhadap keislaman dan kemanusiaan. Berusaha untuk hidup mandiri penuh tawakkal dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar tanpa kenal lelah; selama itu memang murni lillah. 

Kesempatan Besar Mewujudkan Hablun Minannas. 

Dengan modal semangat dan harapan akan keridhaan Allah, kedekatan dengan sesama manusia kian diwujudkan. Tidak rela jika lingkungan keluarga besar dan lingkungan sekitar terjauhkan dari ketaatan dan hidayah. Tidak puas sebelum kaum lemah dan semua yang termarjinalkan mendapatkan kepedulian. Walau tidak selamanya dalam bentuk materi dan keuangan. Tapi cukup dengan distribusi zakat dari komunitas kompleks sendiri ditambah infaq dari mereka yang memang serba berkecukupan. 

Ukhuwah Kian Erat Ikatannya.

Di ramadhan seperti ini, nuansa kebersamaan begitu nyata. Di masjid ketika jama'ah dan tarawehan bersama. Juga ketika ngumpul di sore hari demi untuk berbuka dengan sesama rekan kerja atau dengan keluarga di rumah sendiri. Bahkan, di setiap masjid-masjid, tak jarang adanya memobilisasi buka puasa rutin bersama dengan kolak, kurma dan penganan khas Indonesia. Ketika musim  i'tikaf datang, remaja dan kalangan dewasa meramaikan masjid-masjid besar di ibukota dan kota-kota besar lainnya. Beragam kegiatan bersama dilakukan. Ada pembentukan kelompok, tilawah bersama, sip-sipan mengambil jatah makan sahur atau makan malam dan bahkan tausiyah atau Taujih rutin setelah duhur dan Azhar selain taklim dan kajian resmi mesjid pelaksana i'tikaf. Semua itu tentu menciptakan jejaring ukhuwah dan siklus kerja sama demi masa depan diri dan jama'ah yang diharapkan jauh lebih baik. 

Empati Terhadap Kaum Marjinal Meninggi.

Puasa adalah praktek secara langsung demi merasakan beratnya lapar dan haus, selain bentuk ketaatan kepada aturan Allah Ta'ala. Dengan lapar dan haus, setiap pribadi muslim merasakan betapa perlunya berempati kepada mereka yang lapar dan hausnya tidak dibatasi oleh waktu subuh hingga magrib, seperti layaknya muslim  yang berkecukupan. Tapi rasa haus dan lapar itu berlangsung sepanjang tidak adanya makan dan minum yang halal. Seperti yang dialami oleh mereka yang hidup di gerobak-gerobak kardus dengan istri serta anak-anaknya. Pemandangan yang tak pernah terlihat di wilayah pedesaan terpencil sekalipun. Tapi di ibu kota seperti Jakarta dan kota-kota besar lainnya, hal itu adalah pemandangan lazim harian. Bahkan, deretan gerobak itu seolah serentak meramaikan trotoar di ibu kota; terutama saat musim i'tikaf telah tiba. Mereka berderet di tengah malam dengan penyinaran seadanya dari pendar lampu jalan. Sesekali tampak adanya orang-orang yang mengulurkan bantuan; ada yang berupa makanan siap saji, sejumlah uang hingga lembaran pakaian. Itulah yang memancing mereka memenuhi jalan-jalan besar ibu kota; tingginya empati muslim perkotaan di ramadhan, terutama musim i'tikaf. 

Egaliter Makin Terasa.

Sikap kebersamaan menjadi sesuatu yang tampak, khususnya saat distribusi zakat fitrah kepada mereka yang memenuhi standar maksimal. Di pagi hari ketika takbir iedul Fitri menggema, dipastikan tidak ada yang bersedih; karena kebutuhan pokok berupa makan untuk beberapa hari dan pakaian baru sudah terjamin.  Anak yatim-piatu bahkan terkadang mendapatkan voucher belanja yang disponsori oleh lembaga zakat dari para Muhsinin dan donatur tetap masing-masing yayasan. Dengan itu semua,  egoisme yang biasanya menjangkiti kaum kaya seolah luntur oleh kepedulian dan empati. Kesombongan menjadi masa lalu yang telah ditangisi karena taubat telah dimengerti. Bahwa nilai kemuliaan tak selalu pada pangkat dan materi, tapi utamanya pada takwa yang sudah mulai dipelajari. 

Saat Kaum Papa Merasa Tak Sendiri Lagi.

Ramadhan akhirnya betul-betul menghubungkan tali kasih dan kepedulian terhadap sesama manusia atas nama Allah Ta'ala. Keadilan sosial dengan penuh ketulusan diwujudkan melalui ibadah ritual bernama puasa dan zakat fitrah disertai infaq dengan beragam bentuknya. Sehingga setiap hara raya berarti hari bahagia untuk semua komponen ummat Islam. Semoga semua itu merupakan perkembangan yang menggambarkan bahwa ramadhan tidak lagi sekedar ritual tahunan; namun juga rasa syukur dan ketakwaan yang dirasakan pula manfaatnya oleh mereka yang termarjinalkan. Aamiin.

Stasiun Manggarai, 30 April 2019.

🌷🌷🌷🌵🌵🌵🍄🍄🍄

Ikuti update status nasehat dari kami via :
1. FB : Idrus Abidin
3. YouTube Channel : Gema Fikroh.
4. Telegram Channel : Gemah Fikroh.

Categories

About Us

There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form.

نموذج الاتصال