‏إظهار الرسائل ذات التسميات Metodologi Studi Islam. إظهار كافة الرسائل
‏إظهار الرسائل ذات التسميات Metodologi Studi Islam. إظهار كافة الرسائل

الأربعاء، 15 يوليو 2020

Peta Mazhab dalam 3 Kategori Studi Tematik Islam.

Peta Mazhab dalam 3 Kategori Studi Tematik Islam. 

✍️ Idrus Abidin. 

Dalam setiap karir ilmiah akademik, setiap pembelajaran harus mengetahui peta umum konsep studi pada setiap cabang atau bidang keilmuan. Termasuk beragam mazhab yang ikut terlibat dalam diskusi dan pada setiap alur keilmuan.
Minimal, 3 peta umum studi Islam ini beserta mazhabnya harus diketahui. (1) Akidah [Teologi], (2). Fiqih [syari'ah], (3). Akhlak [Tasawuf]. Berikut uraian singkatnya : 

(1). Akidah (Teologi).

Dalam kategori akidah, Ahlu Sunnah Wal Jama'ah (Aswaja) umumnya terbagi dalam 3 Mazhab :
A. Mazhab Asy'ariyah.
B. Mazhab Maturidiyah.
C. Mazhab Atsariyah. 

Ke-3 mazhab Ahlu Sunnah itu umumnya sepakat pada beberapa prinsip rukun iman. Walaupun pada detil pembahasan tetap berbeda karena faktor pendekatan tekstual dan kontekstual (takwil rasional). Kesepakatan itu lebih jelas ketika berhadapan dengan "musuh intelektual" dalam bidang teologi. Seperti Muktazilah yang banyak mengadopsi penyimpangan Jahmiyah. Demikian pula Syi'ah yang banyak terpengaruh dengan konsep akidah Muktazilah. Di sisi lain, kelompok Khawarij juga termasuk gerakan politik yang akhirnya terlibat intens dalam pemikiran teologi Islam. Karena ini ranah perdebatan yang banyak melibatkan filsafat, kelompok Asy'ariyah dan Maturidiyah dianggap paling banyak terlibat belakangan. Walaupun sebenarnya keterlibatan Atsariyah via imam Ahmad, imam Abu Hanifah, imam Malik dan imam Syafi'i dalam membela perkara akidah juga sangat besar. Imam Ahmad menjadi terdepan karena beliaulah paling terkenal bertahan saat berhadapan dengan fitnah seputar Al-Qur'an; firman atau makhluk, yang dilancarkan oleh Muktazilah lewat tangan kekuasaan di Era awal Bani Abbasiyah. Fakta terakhir ini seringkali terabaikan dalam studi teologi. Belum lagi, Imam Abu Hanifah sering diseret sebagai bagian dari cikal bakal Mazhab Maturidiyah yang dikembangkan oleh imam al-Maturidi di Barat. Klaim terakhir ini tertolak di internal Atsariyah. Bahkan, kedekatan Asy'ariyah senior dengan Maturidiyah di masa lalu seringkali membuat kategorisasi Ahlu Sunnah hanya sebatas mereka berdua. Atsariyah seringkali dilupakan karena dianggap; di samping kritis terhadap Muktazilah, Atsariyah juga kritis kepada Asy'ariyah dan Maturidiyah. Bahkan, kedekatan mereka berdua (imam Asy'ari dan Imam Maturidi) diidentifikasi oleh Atsariyah sebagai hasil dari pengaruh intelektual imam Ibnu Kullab. Yang mana, karena itu, mereka bertiga dikategorikan sebagai sifatiyah. Yakni, mengakui sifat-sifat Allah dg perbedaan pada detail pembahasan. Sifatiyah itu sekedar istilah (identifikasi) yang membedakan mereka dg Muktazilah, yang menafikan sifat-sifat Allah dan hanya mengakui nama-namaNya dalam pengertian Tauhid.

(2). Fiqih (Syari'ah).

Dalam kategori Fiqih, Ahlu Sunnah sangat terkenal polarisasinya dalam 4 mazhab; Hanafiah, Malikiyah, Syafi'iyah dan Hambaliyah.  Mereka disatukan oleh Prinsip dasar  dalam hal referensi pengetahuan Fiqih, yaitu Al-Qur'an, as-Sunnah, Ijma' dan Qiyas. Walaupun mereka berbeda pendapat pada sumber Fiqih lain seperti mashalih mursalah, amalu ahlil Madinah, saddu dzara'i, syar'u man qablana, dll. 

Karena Fiqih adalah turunan Akidah, dalam merumuskan Prinsip-prinsil dan mekanisme ijtihad maka perdebatan teologi berdampak pula ke ranah Ushul Fiqih. Sehingga dalam bidang Ushul Fiqih pun terbentuk 2 Mazhab besar : Mazhab mutakkalimin (terutama poros mazhab Abu Hanifah) dan  fuqaha (poros mazhab Syafi'i). Walaupun ada juga poros sintesis dg dominasi fuqaha yang tetap memberdayakan dasar mutakkalimin seperti yang dilakukan Ibnu Qudamah dalam kitab Raudhatun Nazhir ilaa Jannatil Munazhir. Kita terakhir menjadi mata kuliah di LIPIA karena memadukan dua mazhab tersebut; termasuk pendapat ushuli kaum teolog luar Ahlu Sunnah wal Jama'ah; Muktazilah. 

(3). Akhlak (Tasawuf)

Kajian akhlak termasuk yang menjadi ranah perbedaan mazhab yang dipelopori oleh Mazhab Bayani (rasa dan intuisi), Burhani (rasio) dan Akhlaqi (Qur'ani Atsari). Ini sudah disinggung secara lebih luas pada status beberapa hari yang di link berikut :
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10212752037114711&id=1800833197
Silahkan dirujuk.

Adapun perdebatan Mazhab pada ilmu-ilmu alat seperti bahasa dengan Mazhab Kufiyah dan Bashariyahnya. Juga perbedaan mazhab dalam sastra Arab; itu nanti-nanti aja bahasnya. Walaupun sebenarnya perlu juga membahas mazhab dalam tafsir antara mazhab tekstual (ma'tsur) dengan Mazhab kontekstual (dirayah). Juga mazhab dalam Ilmu Hadits seperti kritik matan dan kritik sanad; baik di ilmu musthalahul hadits maupun ilmu Syarah hadits, tentu perlu juga didalami. Termasuk keragaman pandangan dalam hal otoritas dan kriteria ijma' dalam studi keislaman. Bahkan, mazhab dalam filsafat pun juga perlu disinggung; terutama menunjukkan mana yang benar-benar paling dekat dengan ruh keislaman.
Demikian coretan ringkas ini. Semoga memperkaya horisan keislaman kita semua di masa-masa PSPB seperti ini. Wallahu a'lam. Salam intelektual 

Depok, 18 April 2020 (Sabtu 24 Sya'ban 1441 H)

MANHAJ

MANHAJ
(Metode Berpikir [Studi]; Antara Klaim, Fakta dan Norma [Ideal]. 

By. Idrus Abidin.
__________________

Islam bukan sekedar membawa ajaran kebenaran di tingkat petunjuk pada setiap detil kehidupan (Masa'il). Dari hati, lisan, perbuatan; pribadi, keluarga, lingkungan sosial makro, hingga level negara. Tapi, Islam juga menekankan metode atau manhaj yang tepat, moderat, profesional dan proporsional (Wasa'il). Metode inilah yang disebut manhaj, shirat, sunnah, thariqah, Fiqih dll. Yang mana, substansinya adalah mengetahui dan mengamalkan sesuatu dengan cepat dan tepat (ash-Shirat al-Mustaqim). Terutama dalam hal jalan menuju surga dan terhindar dari neraka dengan cinta Allah (mahabbah). Itulah paket visi misi (konsep dan praktek dunia akhirat) dalam keislaman kita. Walaupun terkadang ada orang dan atau kelompok sudah benar secara manhaj, tapi karena ekstrim dalam klaim kebenaran (truth claim) akhirnya menyimpang juga. Kokohiyun kiri kanan terinfeksi penyakit ini (Takabbur), walaupun belum tentu merasa dan tersadar telah tertipu oleh perangkat lunak iblis ini (talbis iblis). Nadzubillah. 

Di tingkat teori (manhaj), memang kita bisa ideal. Tapi di tataran praktis kita kadang gagal. Karena dalam dunia praktis, kita terlibat secara rasa dan rasio. Intuisi dan nalar kita berduet dan berkolaborasi, walaupun sisi rasa kadang menyeret kita menjauh dari sikap sportif yang menjadi tuntunan akal (idealisme). Itulah manusia dan sikap manusiawinya yang selalu rentan dengan lumpur kesalahan. Sementara, di level teori, kita umumnya terlibat sebatas rasio dan nalar kita. Mungkin itulah hikmah kenapa kita diminta terkadang mengambil jarak dari realitas kehidupan praktis untuk merenungi kembali sisi idealisme kita dengan qiyamullail, i'tikaf dll. Termasuk masa-masa lock down karena covid-19 seperti sekarang. 

Sebenarnya bukan itu inti tulisan ini. Maunya sih ngomongin metode bayani dan burhani dalam tradisi studi Islam kita. Walaupun orang juga kadang abai dengan metode akhlaqi, terutama jika pendekatan diperluas ke ranah Tasawuf. Intinya, dalam eksplorasi pengetahuan Islam telah terbentuk 3 manhaj dan metodologi ilmiah dalam sejarah intelektual kita. Ketiganya adalah : [1]. Metode Irfani. [2]. Metode Burhani. [3]. Metode Akhlaqi. 

1. Metode Irfani (Sufi).

Adalah manhaj studi keislaman yang bertumpu pada teks-teks syari'at dengan pendekatan intuisi (rasa dan hati) yang lebih dominan. Termasuk royal menggunakan tafsir isyari atau makna batin teks-teks keagamaan. Sehingga mengalihkan makna tekstual kepada makna batin tersebut lazim dilakukan dengan alasan adanya tuntunan (qarinah). Takwil akhirnya menjadi konsekwensi yang tak terhindarkan. Baik di ranah Akidah, Fiqih dan Tasawuf. Bahkan, Fiqih dibagi lagi dengan hakikat, syar'iat dan thariqat. Namun, kalau di ranah Tasawuf, yang dimasukkan ke dalam kategori ini biasanya adalah Tasawufnya Rabi'ah al-Adawiyah yang bertumpu pada keikhlasan (cinta/mahabbah). Walaupun abai terhadap 2 paket lainnya; sisi harapan (raja') dan rasa takut (khauf) [wa'ad dan waid]. Maka tidak heran, demi menegaskan fokus mazhab ini kepada keikhlasan, keluarlah statement  bermasalah di mata Ahlu Sunnah (thariqah mu'tabarah). Yaitu, prinsip internal mereka yang berbunyi, "Siapa yang menyembah Allah karena berharap surga atau karena takut neraka, maka ia tergolong musyrik." Akhirnya, kalangan sahabat, tabi'in dll ikut dianggap syirik hanya dengan prinsip ekstrim seperti ini. Padahal, paket Tazkiyatunnafs [Tasawuf] yang lurus manhajnya mengakomodir cinta Allah, penuh harap dan rasa takut dalam lingkup keikhlasan. Itulah manhaj yang tepat. Disebut oleh intelektual belakang dg istilah Neo Tasawuf yang banyak dijelaskan prinsip-prinsipnya oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyah dg merujuk jalan rohani yang telah ditunjukkan oleh guru spiritual beliau ; Ibnu Taimiyah rahimahullah.

2. Metode Burhani (Falsafi).

Adalah sebuah metode studi Islam yang mengandalkan kekuatan rasio dalam mencerap ilmu pengetahuan. Keunggulannya adalah kemampuan menghasilkan pengetahuan konseptual (kata yang berfungsi sebagai istilah) dan pemahaman preposisi (kalimat yang berwujud pengertian). Sehingga kata meja dijadikan simbol benda yang berkaki empat yang berfungsi sebagai sarana belajar, alat makan dan hiasan di ruang tamu. Demikian pula manusia, yang dilihat oleh akal bukan personalnya per item; Zaid, Umar, Utsman, tapi sisi kemanusiaannya. Ini contoh pengetahuan konseptual yang menjadi tumpuan metode Burhani. Sedang pengetahuan preposisi adalah ilmu tentang sesuatu melalui kalimat sempurna. Seperti manusia itu bagus atau manusia itu jelek. Bagus jelek dalam kalimat ini adalah predikat yang disandangkan kepada subyek (manusia dalam contoh ini). Pengetahuan konseptual disebut tashawwur dalam logika Arab. Sedang pengetahuan preposisi disebut tashdiq dalam filsafat Arab.
Umumnya filosof muslim mengandalkan metode ini dg beragam kecenderungan mereka. Sehingga mereka menjadi pelanjut Platonisme atau Aristotelianisme dalam peradaban Islam. Sehingga ilmu filsafat dianggap ilmu hikmah agar tidak mudah dicurigai oleh intelektual muslim yang beraliran lain; terutama aliran Akhlaqi. Dialektik antara imam Ghazali dg Tahafut al-Falasifahnya  dengan imam Ibnu  Rusyd dengan Tahafut at-tahafutnya di masa lalu mencerminkan permasalahan internal di kalangan pecintah hikmah model ini. Bahkan di ranah Akidah, metode ini telah melahirkan polarisasi mendalam dg munculnya aliran menyimpang; Khawarij, Syi'ah, Jahmiyah, Muktazilah dll. Semuanya berlindung di balik istilah takwil yaitu menundukkan persfektif Wahyu di bawah pengarahan rasio yang terbatas. Akhirnya, mereka mereduksi Tuhan dg beragam cara; walaupun dg maksud mensucikanNya dari kelemahan. Ada yang menafikan semua sifat-sifatNya. Ada yang menafikan sifat informatif (khabariyah) saja. Adapula yang menganggap sifat-sifat Allah itu sama dan persis dg sifat-sifat makhluk dll. Alasan mereka semua sama; mensucikan Allah dari keserupaan dan kemiripan dengan makhluk (tanzih). Tapi karena lalai dari metode Al-Qur'an dan Sunnah, akhirnya akal dan rasio yang dianggap memproduksi bukti-bukti burhani itu malah menghasilkan perdebatan dan pertentangan luar biasa. Itu di bidang akidah. 

Di bidang Tasawuf, metode ini menghasilkan Mazhab Falsafi yang menjadi cikal bakal wahdatul wujud dan wahdatus Syuhud. Sehingga Tuhan bukan lagi yang ada dalam keimanan kita. Tapi Tuhan ahli wahdatul wujud itu sudah bereinkarnasi dalam tubuh para diri setiap wali. Pandangan yang melebihi jeleknya keyakinan Kristen yang menyatakan, Tuhan bereinkarnasi secara khusus pada diri Yesus.
3. Metode Akhlaqi.
Yaitu metode yang fokus dengan makna-makna yang terkandung dalam lahiriah teks dengan menghindari sikap boros dalam pemberdayaan takwil. Harapannya, menghindari sikap berlebihan dalam pemberdayaan rasio dan rasa bahkan dalam penggunaan teks-teks syari'at sehingga keluar dari rel moderat dan sikap profesional serta harapan untuk tetap konsisten pada jalur profesional (Ihsan/itqan). Mereka tidak anti terhadap intuisi yang dibangun kelompok Bayani dg rasa dan hati mereka. Mereka juga tidak memusuhi rasio dan Burhan yang dikembangkan oleh filosof. Tapi mereka hanya kritis terhadap sikap ekstrim kelompok Bayani dalam pemberdayaan intuisi serta rasa mereka. Sebagaimana mereka kritis pula dengan gaya ekstrim pendapuk Burhan nalar dan logika. Yang mana, menurut Mazhab Akhlaqi ini, rasio, rasa, intuisi dan logika itu telah mereduksi wahyu. Akibatnya, akal dan rasa dimutlakkan, sedang Wahyu dinisbikan (relatif). Karena bagi kelompok Akhlaqi ini, apabila teks Wahyu benar tidak mungkin kontradiksi dengan apapun. Baik itu Wahyu di internal sendiri (Qur'an dengan Qur'an. Hadits dg Qur'an. Hadits dg hadits), rasio (ilmu pengetahuan, realitas [sejarah], Maslahat) dan rasa (hakikat, thariqat, ilham, kasyf, karamah). Kalau pun terasa masih ada kontradiksi, paling pemahaman akal harus diperiksa; benarkah atau terjadi kegagalan dalam memahami maksud teks-teks syari'at. Kalau terbukti makna teks itu pasti, maka akurasi dan penyelarasan (jam'u) mutlak dilakukan. Kalau masih bermasalah, maka tarjih dg memilih yang dianggap paling kokoh sebagai yang terpilih (bisa versi Wahyu, bisa juga versi rasio) harus dilakukan ; tentunya dengan memastikan kronologis sejarah sehingga yang terakhir akan megabrogasi (nasikh) makna pertama. 

Artinya, metode Akhlaqi ini berusaha mengakomodasi dan menyelaraskan semua sarana keilmuan (berita [Wahyu], Indra, rasio, dan rasa tanpa menihilkan makna berita valid yang dibawa oleh syari'at. Sehingga qath'i dan zhanni proporsional. Agar bayani dan burhani berkolaborasi. Semua itu adalah upaya agar mutlaq muqayyad, aam khas, dan syari'at hakikat dll; bekerja sama secara moderat dalam manhaj keislaman kita; teoretis maupun praktisnya. Inilah yang kami upayakan dalam beragam kegiatan dakwah; lisan, tulisan dan pengajaran. Satu lagi, dalam dunia debat, seringkali metode Bayani itu disamakan dg metode agitasi (khithabiyah) yang satu arah, sehingga dianggap lemah ketika berhadapan dengan metode Burhani. Padahal, metode Burhani Al-Qur'an dan Sunnah jauh melebihi kemampuan manusia yang dianggap paling cerdas di alam ini. Karena ini merupakan perbandingan antara Allah dan hambaNya (Qiyas ma'al Fariq). Akhirnya, telinga, akal dan rasa dan semua Indra harus patuh pada Qur'an dan Sunnah. Sehingga telinga, akal, rasa dan Indra cukup sebagai sarana pengetahuan. Jangan sampai menjadi referensi yang menyaingi apalagi menentukan pemaknaan Qur'an dan Sunnah. Dalam kondisi terakhir, Qur'an dan Sunnah jadi makmum, sedang telinga, akal, rasa dan Indra menjadi imam. Nauzubillah. Hanya perpecahan ujungnya. Padahal segala sesuatu, pemutusi adalah Qur'an dan Sunnah serta ijma' ulama al-ummah. Sekian. Maaf, rada-rada serius dan relijius 😅. Mugi-mugi bawa arti dan inspirasi 😍; walaupun hanya lewat literasi dan panduan narasi. Wallahu a'lam.

الاثنين، 6 يوليو 2020

Penegasan (Itsbat) dan Penafian (Nafy); Prinsip Utama dalam Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqih dan Ilmu Akhlak (Tasawuf Sunni/Atsari). Bagian 1.

Penegasan (Itsbat) dan Penafian (Nafy); Prinsip Utama dalam Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqih dan Ilmu Akhlak (Tasawuf Sunni/Atsari). Bagian 1.

By. Idrus Abidin.

Islam adalah perpaduan antara akidah, ibadah dan akhlak (tauhid, fiqih dan adab). Akidah adalah kumpulan informasi seputar masalah ghaib yang membutuhkan sikap penerimaan dari manusia dengan cara membenarkannya. Sikap membenarkan informasi ghaib inilah yang disebut iman. Sedang menolak dan tidak percaya kepada informasi ghaib ini disebut kufur. Prinsip penerimaan dan penolakan ini ternyata mencakup semua bidang studi dalam ranah intelektual Islam, terutama :

1. Tauhid; karena ia merupakan perpaduan Antara Kepercayaan (itsbat) dan Penolakan (nafy).

2. Melaksanakan Perintah dan Menjauhi Larangan; Wujud Utama Penegasan (itsbat) dan Penafian (nafy) dalam Ranah Fiqih Islam. 

3. Membuang Karakter Buruk (Takhliyah) dan Menghiasi Diri dengan Karakter Terpuji (Tahliyah) ; Konsep Dasar Ilmu Akhlak (Tasawuf).

4. Loyalitas Terhadap Kebenaran (Wala') dan Sikap Disloyalitas Terhadap Keburukan (Bara') ; Intisari Kalimat Tauhid.

Tulisan ini berusaha membahas hal-hal tersebut di atas dalam beberapa seri; in syaa Allah. Semoga Allah mudahkan dengan Taufiq dan hidayahNya. Aamiin

Tauhid; Perpaduan Antara Kepercayaan dan Penolakan.

Salah satu informasi ghaib (aqidah) yang sebenarnya wajib diimani adalah masalah tauhid. Sehingga ada yang menyebutnya dengan istilah akidah at-Tauhid. Artinya, tauhid adalah bagian akidah; bahkan tauhid ini adalah inti sari akidah itu sendiri. Maka disebutlah tauhid sebagai prioritas utama dalam tangga kewajiban makhluk (awjabul wajibat). 

Karena tauhid merupakan informasi tentang kesempurnaan Allah dan kesucianNya dari berbagai kelemahan. Maka masalah tauhid harus dipadukan antara penegasan atas segala kesempurnaanNya itu dengan tahmid; disertai pengingkaran terhadap tuduhan kelemahan dariNya dengan tasbih (tanzih). Sebagai contoh, surat Al-Ikhlas sebagai ayat yang berbicara tentang kemurnian iman kepada Allah ta'alaa memuat tasbih dan tahmid secara utuh. Pada firmanNya, qul huwallahu Ahad (katakanlah Allah itu esa) Allahu ash-Shamad (Allah maha kaya; tempat bergantung semua mahluk). Kedua ayat tersebut menegaskan kesempurnaan Allah dari sisi keunikan dan kesaanNya (Tahmid). Sementara bunyi ayat setelahnya, lam yalid walan yulad (tidak beranak dan tidak diperanakkan). Ayat ini menegaskan perbedaan dan keunikan (keesaan) serta keistimewaan Allah dibanding makhlukNya, termasuk kekayaanNya sehingga tidak butuh anak dan istri layaknya makhluk. Jika makhluk berpasangan (zaujiyyah), maka Allah unik dan esa; tidak mengenal dan tidak butuh pasangan. Keunikan, keesaan dan kekayaanNya inilah yang ditegaskan kembali dengan firmanNya, walam yakun lahu kufuwan Ahad (tidak ada siapapun yang setara dan mirip apalagi selevel denganNya. Artinya, menegaskan (itsbat) kesaanNya dan KekayaanNya merupakan keharusan. Demikian pula menafikan kebutuhanNya kepada anak dan istri juga wajib (nafy). Penafian ini bukan penafian mutlak, tetapi mengandung penegasan makna sebaliknya. Penegasan di sini adalah sikap membenarkan informasi Allah tentang kesempurnaanNya. Sedang Penafian merupakan bentuk pengingkaran terhadap kelemahan yang dituduhkan makhluk kepadaNya. Itulah sikap yang tepat dan proporsional dalam menyikapi berita; terutama berita langit (Wahyu). Karena berita memang sejatinya adalah sesuatu yang mengandung kejujuran/kebenaran atau kebohongan/hoaks. Dalam istilah agama disebut Khabar. Lawannya adalah insya'; yaitu ucapan yang mengandung perintah atau larangan. Perintah dan larangan ini akan dibahas nanti  pada ranah fiqih atau tauhid praktis. 

Itulah prinsip umum dalam berinteraksi dengan ayat-ayat tauhid. Agar makin tegas, ketika Allah menegaskan Dia bertangan, bersemayam di atas Arasy, berfirman (berbicara) sesuai dengan keagunganNya; lalu diingkari oleh manusia, tentu sikap tersebut termasuk bentuk penyimpangan (ilhad). Walaupun ditakwilkan dengan beragam penafsiran, bahkan diserahkan pemaknaannya kepada Allah dengan metode tafwid. Takwil dipastikan merusak keimanan terhadap informasi Allah dan rasulNya tentang diriNya. Sedangkan tafwid makna (bukan tafwid kaifiyah) menganggap dan menuduh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidak memahami makna firman Allah. Terutama mereka yang beranggapan bahwa ayat seputar sifat Allah itu katanya masuk kategori ayat yang tidak jelas (mutasyabihat). Belum lagi konsekwensi buruk berupa sikap mengeliminasi Wahyu dari pemaknaa dan kandungannya yang disebut ta'thil. Ditambah dengan sikap demikian termasuk mendahulukan rasio dan nalar yang serba terbatas melampaui persfektif Wahyu yang tak berbatas. Sehingga akal sudah dianggap referensi yang menentukan pemaknaan Wahyu melampaui otoritas Wahyu yang tak mungkin salah. Padahal, pada perkara akidah tauhid, akal hanya sebatas alat memahami (fungsional dan bukan referensi). Karena demikianlah posisi akal ditempatkan Allah ketika berhadapan dengan Wahyu. 

Di sinilah pentingnya pemahaman Salaf (Atsariyah) seputar tauhid dan akidah demi menjaga orisinilitas tauhid; walaupun sering dibenturkan dengan imam besar seperti imam Gazali, imam Ibnu Hajar al-Asqalani, imam Nawawi rahimahumullah dan imam-imam lain dari kelompok Maturidiyah. Bagi kami, mendahulukan ucapan Allah dan rasulNya lebih penting dibandingkan kebesaran tokoh-tokoh ulama (Iytsar al-Haqq 'ala al-Khalq). Beradab terhadap para alim ulama tidak berarti menerima segala ucapan mereka. Atau, tidak menerima pendapat mereka pada bagian kecil masalah tauhid tidak berarti tidak menghargai mereka. Tidak beradab kepada ulama artinya merusak citra pribadi dan wibawa mereka; bukan tidak menerima pendapat mereka. Maka pendapat ulama masa lalu tetap bisa dikritisi seperti layaknya dalam bab fikih dan Ushul, tapi yang tidak boleh adalah merusak citra pribadi dan kehormatan mereka sebagai ulama dan referensi ummat. Keduanya harus dibedakan. Itulah makna ucapan, raf'u al-Malam 'an Aimmati al-'A'lam. Maka, jangan heran kadang ulama digunakan karyanya dlm bidang akidah tauhid, tapi di bidang fikih tidak. Kadang pula di bidang fikih, ada ulama dianggap ulama Syi'ah malahan; tapi tetap dipelajari kitabnya. Seperti imam ash-Shan'ani misalnya, beliau Syi'ah Zaidiyah, tapi bukunya; Subulussalam dianggap kitab terbaik dalam bidang Syarah hadits Bulugul Maram dalam bidang perbandingan Mazhab. Demikianlah keadilan dalam dunia intelektual harus ditegakkan. 

Kesimpulan.

Ditinjau dari sisi ilmu tauhid, ternyata tauhid terbagi dua :

1. Tauhid Ilmu dan Informasi (Tauhid Ilmi/Khabari). Seperti yang terdapat pada surat Al ikhlas. Inilah yang sedang kita bahas pada status kali ini.

2. Tauhid Praktis (Thalabi/Irady). Seperti firmanNya, Qul ya ayyuhal kafirun (wahai orang-orang kafir), la i'budu maa ta'budun  (saya tidak akan menyembah tuhan yang kalian sembah) wa laa antum 'abiduna maa a'bud (dan kalian pun tidak perlu menyembah Tuhan yang kami sembah), lakum dinukum waliya din (agamamu agamamu, agamaku agamaku) tidak ada kerjasama dalam bidang ibadah dan akidah dengan non muslim secara mutlak selamanya. Masalah ini akan dibahas pada status berikutnya in syaa Allah. Wallahu a'lam.

Jakarta, Selasa, 17 Maret 2020.

الخميس، 26 يناير 2017

Seputar Metodologi Studi Islam Oleh : Ust. Idrus Abidin, Lc., MA.

Seputar Metodologi Studi Islam

 Oleh : Ust. Idrus Abidin, Lc., MA.

Dosen STIS Al Manar Jakarta

Bagian ini merupakan orientasi umum kajian metodologi studi Islam yang mencakup 4 pembahasan: pertama, pengertian metodologi studi Islam ; kedua, urgensi dan signifikasni Metodologi studi Islam ; ketiga, objek studi Islam ; keempat, sejarah dan survey perkembangan studi Islam .

الخميس، 28 يونيو 2012

RASIONALITAS AL-QUR'AN SEBAGAI SUMBER AJARAN ISLAM

Oleh : Idrus Abidin, Lc., MA.
Dosen PSI al-Manar Jakarta.


1. AL-QUR’AN BERBICARA TENTANG AKAL/RASIO.

Di dalam al-Qur’an, tidak ditemukan kata akal secara formal. Yang ditemukan hanyalah fungsi akal seperti berakal, berpikir, memahami dll. Ini pula alasan yang mendasari bahwa akal hanya dikenal lewat fungsinya sesuai makna terminologis yang diajukan oleh kaum salaf. Akal tidak bisa dianggap sebagai perangkat yang independen, sebagaimana pendapat banyak filsosof. Menurut temuan al-Buraikan dalam disertasinya, terdapat 2 makna fungsional akal yang sering digunakan al-Qur’an :
         1)      Potensi yang dapat digunakan untuk menjaring ilmu pengetahuan dan kebenaran (sarana pengetahuan).
         2)      Pemahaman tentang Allah dan Rasul-Nya. (fungsi pengetahuan).

SIKAP AHLU SUNNAH TERHADAP LOGIKA (FILSAFAT) ARISTOTELES

Oleh : Dr. ‘Utsman ‘Ali Hasan MA.
Sumber : Manhaj al-Istidlal ‘ala Masa’il al-I’tiqad ‘inda Ahli Sunnah.
Alih Bahasa : Idrus Abidin, Lc., MA.
Dosen PSI al-Manar Jakarta.

1.            PENGERTIAN LOGIKA ARISTOTELES.
Ahli filsafat memandang bahwa logika itu terbagi dua kategori, yaitu: logika eksternal (lahirian) dan logika internal (bathiniah). Yang masuk kategori eksternal adalah lafazh dan penuturan. Tata-cara untuk meluruskannya adalah dengan gramatika (nahwu) pada prosa dan ilmu ‘arudh (aturan nada sya’ir) pada syair-syair. Adapun pembicaraan internal maka ia termasuk kerja-kerja rasio dan pemikiran. Tata-cara meluruskannya dengan metode logika yang telah dikenal secara terminologis.[1]

الأربعاء، 22 فبراير 2012

KONSEP PEMERINTAHAN AMANAH MENURUT IBN TAIMIYAH KARYA TARPIN

RESUME TESIS
Oleh : Idrus Abidin

BAB I
PENDAHULUAN

Pemikiran politik Islam sesungguhnya merupakan suatu usaha (ijtihad) ulama yang merefleksikan adanya penjelajahan pemikiran spekulatif rasional dalam rangka mencari landsan intelektual bagi fungsi dan peranan Negara serta pemerintahan sebagai sebuah faktor instrumental bagi pemenuhan kepentingan dan kesajahteraan rakyat, baik yang lahir maupun batin. Disamping itu, barangkali bisa ditambahkan pula bahwa lahirnya ijtihad politik yang spekulatif itu juga didorong oleh suatu keinginan untuk mendapatkan legitimasi dalam rangka mempertahankan sebuah tatanan politik yang ada.

نموذج لمقدمة البحث أو الرسالة


عيدروس عابدين الإندونيسي

أ‌-        موضوع البحث.
    لون تفسيرابن تيمية المسمى بدقائق التفسير.
ب‌-    خلفيات الموضوغ وسبب اختياره.
كما لا يخفى لدي جميع المسلمين أن القرآن وحي الله تعالى الذي أوحاه إلى محمد كرسول أرسله الله إلى الناس كافة. وقد تعامل المسلمون بهذا الكتاب المقدس منذ بداية نزوله إلى يومنا هذا. ففي زمن النبي صلى الله عليه وسلم –حينما كان القرآن في أثناء نزوله منجما- فإن الصحابة رضوان الله عليهم يقدمون جل اهتمامهم نحو القرآن، يتعلمونه آية تلو الآية ثم يطبقونه في حياتهم اليومية ولا يتجاوزون أكثر من عشر آيات. يقول ابن مسعود رضي الله عنه عن هذا : "كان الرجل منا إذا تعلم عشر آيات من القرآن, لم يتجاوزهن حتى يعرف معانيهن، والعمل بهن."[1]
بهذا نقول أن القرآن منذ عهده المبكر قد يكون مادة يتعلمها الصحابة كتلاميذ في مدرسة النبوة، والرسول صلى الله عليه وسلم كأستاذ يرشدهم ويوجههم ويفهمهم معاني تلك المادة الإلهية.  يقول الدكتور محمد عجاج الخطيب موضحا هذا الأمر :
"فإذا نظرنا إلى تلك الحقبة التي لا تتجاوز ربع قرن من عمرالزمن، منذ بدء دعوة محمد صلى الله عليه وسلم حتى وفاته، ألقينا أنفسنا أمام مدرسة كبيرة جدا تمر في مرحلة تربوية جديدة، يشرف على توجيهها وتربية طلابها وتعليمهم محمد صلى الله عليه وسلم، وموادها القرآن والسنة، وطلابها الصحابة رضوان الله عليهم." [2]
وبعد انتقال النبي صلى الله عليه وسلم إلى جوارربه أصبح القرآن يتناقله الصحابة حفظا وتدريسا، يتلونه آناء الليل وأطراف النهار. لأجل ذلك ظهر من بين الصحابة رجال معروفون بأنهم حاملوا تفسير معاني القرآن الكريم. ومن هؤلاء الرجال هم : عبد الله بن عباس وعبد الله بن مسعود وعلي بن أبي طالب وأبي بن كعب رضي الله عنهم. هذه الفترة المذكورة –أعني زمن الرسول وزمن الصحابة- يعتبر المرحلة الأولى للتفسير.
ثم في المرحلة الثانية، كان التابعون روادها. هم الذين يتمتعون بتوسع الإجتهاد في التفسير في زمانهم، خاصة لمن تلقى التفسير من ابن عباس في مكة الذي يعتبر أول من بدأ التفسير بالرأي[3]. في هذه الفترة ظهرت مدارس تفسيرية في مكة والمدينة والعراق.
ففي مكة، فإن مدرسة التفسير فيها قائمة بإشراف ابن عباس رضي الله عنه. لقد تعلم في هذه المدرسة عدد من التابعين البارزين -فينا بعد-  في مجال التفسير. من هؤلاء هم : سعيد بن جبيرومجاهد بن جبروعكرمة وطاوس بن كيسان اليماني وعطاء بن أبي رباح.
وفي المدينة كانت مدرسة التفسير تأسست بإدارة أبي بن كعب، وأهم رجالها : أبو العالية الرياحى ومحمد بن كعب القرظي وزيد بن أسلم. وفي العراق فإن ابن مسعود هو الذي يقوم بإشراف المدرسة التفسيرية فيها، حتى ظهر رجال يعتبرون من خريج هذه المدرسة. من الأسماء المذكورة في قائمة أسماء الطلاب في هذه المدرسة هو : علقمة بن قيس ومسروق والأسود بن يزيدومرة الهمداني وعامر الشعبي والحسن البصري وقتادة.
هكذا مرت المرحلة الأولى والثانية، والعلماء يسمون ها تين المرحلتين بفترة الرواية. وهي فترة بدأت نشأتها –كما سبق- من زمن النبي صلى الله عليه وسلم والصحابة والتابعين إلى أواخر دولة بني أمية وهي سنة (41 هـ / 661م – 132 هـ /749م).[4]
حيث إن المرحلة الأولى والثانية يعتبران فترة الرواية من حيث طريقة تحمل وأداء التفسير، فإن هناك عدة فوارق –مهما كان طفيفا- تميز بين هاتين المرحلتين. وهذه الفوارق في حد ذاتها نتيجة لتطور العلوم وانتشار الإسلام. من تلك الفوارق هي :
·       اتساع رواية الإسرائيليات بسبب دخول كثير من أهل الكتاب في الإسلام.
·   كثرة الخلافات التفسيرية وزيادتها عما كانت عليه التفسير في عصر الصحابة وأضافوا إليه آراء حسب اجتهادهم.[5]
وأما المرحلة الثالثة فإن التفسير فيها بدأ خطوة جديدة، وهي خطوة التدوين والتصنيف. وهذه المرحلة تبدأ من أواخر بني أمية وأول عهد العباسين، وهي سنة (132هـ /  749م – 656هـ / 1258م)[6]. والمراد بالتدوين هنا هو تدوين الحديث النبوي على أبواب ويكون التفسير ضمن تلك الأبواب. وأما التصنيف فهو زمن كتابة التفسير بالمأثور مستقلا عن الحديث، شاملا لآيات القرآن، مرتبا حسب ترتيب المصحف. و هذه المرحلة تمتد إلى يومنا هذا.
كل ما قدمناه في الحقيقة تاريخ التفسير مختصرا. وأما من ناحية أخرى فإن التفسير قد ينتج عدة تطورات جديدة، منها :
A.من ناحية طريقة الرواية، فإن التفسيربدأت تنتقل من الرواية المجردة إلى مرحلة التدوين والتصنيف.
B. من ناحية المنهج، فإن التفسير يتطور من مجرد النقل إلى استعمال العقل. والمنهج الأول معروف بالتفسير بالمأثور والثاني مشهور بتفسير القرآن بالرأ ي.
C.من ناحية الإتجاه، أعني بذلك اتجاه المفسرفي توجيه ما فهمه أو النهج الذي يسير عليه في تفسير القرآن. ومن هذه الناحية أجد أن التفاسير ظهرت كثيرة باتجاهات متنوعة. وهذه التفاسير بارزة بسبب تطور العلوم وظهور المذاهب في الكلام والفقه والعقائد. زد على ذلك ماحدث في الساحة السياسية التي مارسها المسلمون حينئذ. فلا غرابة إذا وجد تفسير كلامي وتفسيرفلسفي وتفسير لغوي وتفسيرفقهي وتفسير إشاري وغير ذلك في الساحة العلمية.
D.من ناحية الطريقة، فإن التفسير ينتقل من مجرد تفسير بعض الآيات إلى أن ظهرت تفسير موضوعي يتناول تفسير القرآن موضوعا موضوعا. حتى الآن أمامنا عدة طرق التفسير، منها طريقة تحليلية وطريقة إجمالية وطريقة موضوعية وطريقة المقارنة.
هكذا نجد التفسير يتطور من زمان إلى زمان، وإذا كنا نلفت أنظارناإلى ماوراء هذا فنجد أن هناك عدة أمور تدفع هذا التطور. ولكن عندي هناك عنصران أساسيان، وهما :
§       تأثر المفسرين بعضهم مع البعض.
§       وجود الحالات الإجتماعية المؤثرة حين كان أحدالمفسر يكتب تفسيره.
ولو نظرنا إلى العنصر الثاني فإنه ليس من المستحيل أن يظهرتفسير يحمل في طياته طابعا أدبيا إجتماعيا. وأعني بالتفسير الأدبي الإجتماعي هنا هو ذلك التفسيرالذي يهتم بأمور لغوية  من نحو وبلاغة ثم الإستنارة بأسرارها إلى معالجة المشاكل الإجتماعية التي واجهها المفسر، أو كما قال الذهبي، "معالجة النصوص القرآنية معالجة تقوم أولا وقبل كل شيئ على إظهار مواضع الدقة في التعبير القرآني ثم بعد ذلك تصاغ المعاني التي يهدف القرآن إليها في أسلوب شيب أخاذ، ثم يطبق النص القرآني على ما في الكون من سنن الإجتماع ونظم العمران.[7]
إذا عرفنا هذا ثم نضيف إليه الحالا ت الإجتماعية التي ظهرت فيها التفاسير، خاصة في زمن بني أمية وبني عباس والمملوكيين، فإننا نجد أن من بين التفاسير الموجودة في الساحة العلمية هو تفسير ابن تيمية المسمى بدقائق التفسير (661هـ/1263م- 728هـ/1328م). ألف هذا التفسير حينما تولى المملوكون حكم الدولة،  وهو سنة (648هـ/1250م- 923هـ/1517).
كتب ابن تيمية كتبا كثيرة في جميع مجال العلوم،  وخلف ثروة علمية هائلة تدل على غزارة علم هذا الرجل وخصوبة معرفته. حسب ما سجله قمر الدين خان في كتابه The Political Thought Of Ibnu Taimiyah نجد مؤلفات ابن تيمية - علي سبيل الإجمال-  تتكون من قسمين، قسم يدخل ضمن أعماله العامة وهي ست رسائل، وفتاواه بجميع أجزائه من هذا القسم، وقسم يدخل ضمن أعماله الخاصة.
ومؤلفاته الداخلة تحت أعماله الخاصة في القرآن الكريم تتكون من تسع رسائل، وفي الحديث الشريف تلات رسائل، وفي العقيدة خمسين رسالة، وفي علم الكلام تلاث عشرة رسالة، وفي التصوف والمتصوفة سبع رسائل، وفي علم الفلسفة أربع رسائل، وفي الفقه واحد وأربعين رسالة، وفي الأخلاق والسلوك ست رسائل، والقصائد سبع رسائل، والقائمة التي لم تصنف تصنيفا موضوعيا وضعها بروكلمان تتكون من ثلاث وعشرين رسالة، والمؤلفات التي لم يعثرعليها لكن ذكرها ابن شاكر الكتبي (ت 764هـ) في كتابه فوات الوفيات تتكون أكثر من مائة رسالة.
الظاهر عندي أن تفسير ابن تيمية يتلون باللون الأدبي الإجتماعي. لونه الإجتماعي يظهر في العبارات والأساليب التي استعملها ابن تيمية، حيث إن الرجل يفسر بعض الآيات ثم ساق المعاني التي أرادها بأسلوب أخاذ جذاب. وأما لونه الإجتماعي فإنه يعرف لما كان تفسيره يميل إلى المعايشة بالرد والقبول لما في المجتمع من الحالات الدينيية والدنيوية. والمثال من ذلك إنكاره لبعض الأفكار الدينية السائدة في زمانه، كنفي الصفات من الجهمية التي يراه ابن تيمية أنه أفكار دينية ضالة مضلة. وفي بعض تفسيره يظهر موافقته لبعض العلماء في زمانه. لأجل ذلك فإن الباحث يوجه طاقته للبحث عن تفسير ابن تيمية والتعمق فيه.
 بهذا البحث أراد الكاتب أن يغوص في بحر أفكار ابن تيمية الدينية، خاصة في مجال التفسير. بجانب ذلك، فإن هناك عدة أسباب دعتني لإختيار هذا الموضوع، وهي :
1) يعتبر تفسير ابن تيمية من بين التفاسير التي تتضمن فكرة التجديد لما كان الإسلام يعيش في فترة الإنهيار بسبب هجوم المغول لأكثر بلدان المسلمين. ولهذا من الممكن أن يكون فيه العزم القوي للرجوع إلى القيم الإسلامية الأصيلة. هذا الأمر يحتاج إلى تحقيقه في هذا البحث.
2) ظهر تفسير ابن تيمية في حالة كانت السياسة الإسلامية[8] والأفكار الإسلامية بلغت قمة الصراعات، وكانت قوة بني مملوك تتمكن بقوة على الأمة الإسلامية. لذلك من الممكن جدا أن يكون تفسير ابن تيمية يتلون باللون الإجتماعي التي يتعايش ويتعامل مع القوة الدولية والعلماء والأمة جمعاء ردا وقبولا. هذا الرأي يحتاج إلى تحقيقه في هذا البحث.
3) ظهر تفسير ابن تيمية كذلك تحت أنقاض الحضارة الإسلامية التي كان مركزها حينئذ في بغداد، ثم تتنقل بعد ذلك إلى مصر والشام حيث كان ابن تيمية فيه. والحضارة الإسلامية التي بلغت مجدها، في الحقيقة،  نتيجة لإمتزاج العرب بالفرس. لذلك أتصور أن في تفسير ابن تيمية روح تمزج بين تلك الحضارتين بتوسيع الأفكار والمباحث. هذا الرأي يحتاج كذلك إلى بيانه وإظهاره في هذ البحث.
لأجل هذه الأمور، أراد الباحث أن يحقق مدي صواب أو خطإ تلك التصورات عن طريق هذا البحث الذى بعنوان "لون تفسير ابن تيمية المسمى بدقائق التفسير."

ت‌-     المشاكل.
1)   معرفة المشاكل.
قد يقول البعض أن منهج ابن تيمية في تفسيره هو المنهج السلفي المعتمد على التفسير بالمأثور، ولكن بعد ما كتب صبري متولي حول منهج ابن تيمية في التفسير تبين أنه لا يكون إعتماده على ذلك فحسب، ولكن كان ابن تيمية كذلك يهتم بالمنهج العقلي، خا صة عندما يرد على الأفكار العقائدية المخالفة لمذهبه في التوحيد.[9]
ومن المسائل التي تمكن أن تظهر حول هذا الموضوع هي لون هذا التفسير من ناحية العقيدة أو الفقه أو التصوف أو الفلسفة أو غير ذلك من الألوان التفسيرية، لأن تفسير ابن تيمية كان يبحث كثيرا عن مسائل عقائدية، سواء مايراه هو ويثبته أوما يخالفه ويحاول أن يظهرأخطاءه وغلطه. كذلك في مجال الفقه، فإن الرجل كان ضمن المجتهدين المشهورين في المذهب الحنبلي.  لهذا كان آراؤه الفقهية مما يمكن ظهورها في تفسيره، خاصة لما تعرض للآيات التي تتعلق بأحكام الفقه.
أما في مجال التصوف، فإنه –مهما أنه مشهور بكثرة الرد على من ادعي بأهمية التصوف من رؤساء الطريقة في زمانه ومن قبله- لا يكثر ذلك في مجال التفسير كما يكثر تلميذه ابن القيم الجوزية في ذلك.

2)   تحديد المشاكل.
بهذا نقول أن هذا الموضوع لا نريد أن نبحث فيه جميع منهج ابن تيمية، وكذلك أفكاره الدينية جمعاء، وإنما المراد بهذا البحث الدراسة حول لون تفسيره المسمى بدقائق التفسير، وهو لون يحسبه الباحث داخل ضمن اللون الادبي الإجتماعي.
والمسألة التي تكون موضع الدراسة في هذا البحث هو تفسير ابن تيمية. وأما الامور التي نريد أن نحصل عليها خلال هذه الدراسة هي :
·       في أية حالة إجتماعية كان ابن تيمية يفسر الآيات القرآنية ؟
·   أية عناصركانت لها الأثر القوي في عملية تفسير ابن تيمية، وأي مجال الحياة الذي يريد ابن تيمية التأثيرعليها ؟
·       كيف كان منهج ابن تيمة في تفسير القرآن الكريم ؟
3)   تجلية المشاكل.
المشكلة الأساسية التي نريد تحقيقها في هذا البحث هي الأمور التي تتعلق بلون أو اتجاه تفسير ابن تيمية. فلذلك، الأجوبة المهمة التي نريد الحصول عليها هي الأشياء التي لها علاقة مع الأمور التي قد تم تقعيدها فيما يلي :
·   هل وجدت عناصر الرد والقبول  وتوسيع التصورات في تفسير ابن تيمية التي تدل على التجاوب مع ما حدث في المجتمع  الإسلامي في زمانه ؟ وكيف كان ابن تيمية يؤدي تلك العناصرفي تفسيره ؟
·   بالبحث عن عناصر التفسير، كما هوالمشار إليه في النقطة الأولى، فهل من الممكن أن نقول أن تفسير ابن تيمية يتلون با للون الأدبي الإجتماعي ؟

ث‌-     البحوث السابقة.
لقد كتب الكثيرون عن قوة ابن تيمية العلمية، سواء كان ذلك من قبل تلاميذه وأساتذته. وهذا العالم الرباني المشهور أصبح محل أنظار الباحثين- قديما وحديثا- لمعرفة أفكاره الدينية ومناهجه في كل فن من فنون العلوم. حسب معرفة الباحث، فإن البحوث حول هذا الرجل لم تكن كثيرا فيما يتعلق عن التفسير. وهذه القلة، ربما يكون سببها أن ابن تيمية كان مشهورا بكونه فقيها وأصوليا ومحدثا أكثرمن كونه مفسرا. بجانب ذلك، فإن تفسيره للقرآن الكريم إنما ينتشر في بطون مؤلفاته. يعني أنه لم يكن يكتب كتابا خاصا في مجال التفسير.
وبعد أن راجعت المكتبات فوجدت أن هناك كتبا عدة تجعل هذا الرجل موضوع البحث والدراسة. من تلك الكتب هي :
في جانب العقيدة والفلسفة والتصوف.
A.الإمام ابن تيمية وموقفه من قضية التأويل، تأليف : الدكتور السيد الجليند.
B. موقف ابن تيمية من الأشاعرة، تأليف الدكتور عبد الرحمن بن صالح بن صالح المحمود.
C.          Kritik Ibnu Taimiyah Terhadap logika Aristoteles. Karya Dr.Zainun Kamal.
D.           Pandangan Ibnu Taimiyah Terhadap Tasawuf. Karya A.Wahib Mu'thi
في الجانب الفقهي
E. الفكر الفقهي عند الإمام ابن تيمية. تأليف : الدكتور أحمد يوسف سليمان.
F. اختيارات شخ الإسلام ابن تيمية. تأليف : سامي بن محمد جار الله.
G.           Ijtihad Ibnu Taimiyah Dalam Bidang Fiqhi Islam. Karya Dr. Muhammad Amin.
H.           Efistemologi Hukum Islam (Suatu Telaah Tentang Sumber Illat Dan Tujuan Hukum Islam Serta Metode-Metode Pengujian Kebenarannya Dalam Sistem Hukum Islam Menurut Ibnu Taimiyah. Karya Dr.Juhaya S Praja.
I.             Konsep Benar Salah dalam Pemikiran Hukum Ibnu Taimiyah. Karya Dr.Muhammad Hasyim.
في الجانب السياسي والإجتماعي.
J.   النظريات الإجتماعية والسياسية لابن تيمية. تأليف : هنري لوست.
K.     التفكير السياسي لدي ابن تيمية. تأليف : قمر الدين خان.
في جانب التفسير.
L. منهج ابن تيمية في تفسيرالقرآن الكريم. تأليف : متولي صبري.
M.         Hadits-Hadits Dalam Daqa'iq Al-Tafsir Karya Ibnu Taimiyah (Studi Terhadap Kualitas Hadits). Karya Dr.Zainul Arifin.


ج‌-      أهداف البحث.
والهدف الذي من أجله يكتب الباحث هذاالبحث هو :
·   بيان عناصر القبول والرد وتوسيع الأفكارفي كتاب دقائق التفسيرالذي له معايشة وتعامل مع الواقع الذي يعايشه المجتمع الإسلامي.
·   تحقيق تصورات الباحث أن تفسير ابن تيمية المسمى بدقائق التفسير يتلون با للون الأدبي الإجتماعي، لما فيه من قوة المعايشة وقوة التعامل مع واقع الأمة الإسلامية في ذلك الزمان.


ح‌-      فوائد البحث.
        إذا كان الأهداف المذكورة تتحقق، فيمكن أن يكون هذا البحث مفيدا في الأمور التالية :

·   يؤتي مادة علمية لدارس التفسير أن ابن تيمية كان مفسرا متفوقا في زمانه، حيث إنه يقوم بتنبيه المجتمع إلى ضرورة الرجوع إلى القيم الإسلامية الأصيلة لمواجهة تحديات العصر.
·   يضيف إلى المكتبات الإسلامية المادة العلمية التي لها فوائد عظيمة للمجتمع الإسلامي، خاصة لمن يريد أن يغوص في بحر التفسير.
·   إكمال إحدى الشروط المطلوبة للحصول على درجة الماجستير في علوم التفسير في قسم الدراسات العليا بجامعة شريف هداية الله الإسلامية الحكومية بجاكرتا.

د‌-       منهج البحث ومصادره.
المنهج هو الطريق المتبع لدراسة موضوع معين لتحقيق هدف معين[10]. ولأجل الوصول إلى الهدف المراد، فإن منهج هذه الدراسة هو منهج الإسترداد التاريخي مع التركيز في نوعية الببلغرافي (.(Bibliografi
والمراد بالإسترداد التاريخي هو المنهج الذي يقوم على استرجاع الماضي وما خلفه من آثار. يعني أن هذا البحث يحاول أن يسترد التاريخ الذي يعيش فيه ابن تيمية لأجل معرفة النشاطات والأعمال التي يقوم بها.
ويقال بأنها تقوم على نوعية الببليغرافي لأن الباحث يجعل تفسير ابن تيمية كوثائق تبين آراء ومدي فهم ابن تيمية كالمفسرالمتميزفي القرن السابع الهجري. هذه الوثائق يمكن تفسيرها من ناحية العلم الذي يدرسه الباحث ويتعمق فيه في كلية الدراسات العليا بجامعة شريف هداية الله الإسلامية الحكومية في قسم القرآن الكريم وعلومه.
وأما المصادر التي يعتمد عليها الباحث في كتابة هذا البحث فهي نوعان : المصادر الأصلية والمصادر الثانوية. والمراد بالمصادر الأصلية هناهي الكتب التي ألفها ابن تيمية في مجال التفسير، سواء كان ذلك فيما جمعه الدكتور محمد السيد الجليند في ستة مجلدات وسماه بدقائق التفسير أم ما كان منتشرا في بطون مؤلفاته. والكتب التي تحوي أفكار ابن تيمية التفسيرية هي فتواه، خاصة الجزء 14، 15، 16، 17،  أو ما وجد في كتابه مقدمة في أصول التفسير.
وأما المصادر الثانوية فهي التي لا نأخذها من مصادرها الأصلية مباشرة، وإنما نأخذها من الوثائق كالكتب التي ألفها الباحثون الآخرون. وهذه المصادر نجعلها مساعدة للبحث وفهم مراد المصادر الأصلية. وهناك عدة كتب تكون مصدرا ثانويا لهذا البحث، منها : ابن تيمية : حيا ته وأثره، تأليف محمد أبو زهرة.

ذ‌-       خطة البحث.
هذا البحث يتكون من خمسة أبواب. الباب الأول يشمل المقدمة وعدة  مباحث ،منها : موضوع البحث، و خلفيات الموضوع وسبب اختياره،  والمشاكل، والبحوث السابقة، وأهداف البحث، و فوائد البحث، و منهج البحث ومصادره،  وخطة ا لبحث، ومراجع البحث.
والباب الثاني بموضوع  "ابن تيمية وخلفياته العلمية"  وهو يشمل ثلاثة مباحث، وهي : خلفيات ابن تيمية الشخصية ، ونشاطاته العلمية، والتاريخ والحصارة في زمن ابن تيمية.
والباب الثالث بعنوان "تفسير القرآن في زمن ابن تيمية"، وهو يشمل مبحثين، هما : عملية التفسير ومشاكله، والتفسير با لمأتور وأثره نحو دقائق التفسير.
والباب الرابع بعنوان "لون تفسير ابن تيمية" وهو يشمل مبحثين، هما : كتاب دقائق التفسير، ودقائق التفسير : التفسير الذي يتلون با للون الإجتماعي مع الميل إلى التعايش مع المجتمع ردا وقبولا.
والباب الخامس يتضمن على خلاصة البحث مع الخاتمة. في هذا الباب يقوم الباحث بكتابة نتائج  البحث مع ذكر التوصية التي ينبغي لمن يريد أن يبحث حول هذا الموضوع ، سواء كان ذلك توسيعا لما يتضمنه هذا البحث أو  ردا لما فيه.

ر‌-       مراجع البحث.
وقد كتب الباحث هذه الرسالة مع الإعتماد علي مراجع عدة، منها :
·       التفسير والمفسرون، د/ مصطفى محمد الذهبي، (القاهرة : دار الحديث)، الجزء الثالث، سنة الطبع 2005م.
·   منهج ابن تيمية في تفسير القرآن الكريم، صبري متولي، (الناشر : عالم الكتب)، سنة 1981م. دون ذكر المطبعة وعدد الطبع.
·         أصول التفسير وقواعده، خالد عبد الرحمن العك، (لبنان : دار النفائس)، الطبعة الثالث.
·   منهاج المدرسة العقلية الحديثة في التفسير، د/ فهد سليمان الرومي، (بيروت : مؤسسة الرسالة)، الطبعة الثانية سنة 1414 هـ.
·   السنة قبل التدوين، محمد عجاج الخطيب، (بيروت : دار الفكر)، الطبعة السادسة سنة 1418هـ/ 1997م.
·   أثر التطور الفكري في التفسير في العصر العباسي، د/ مساعد مسلم عبد الله آل جعفر، (بيروت : مؤسسة الرسالة)، الطبعة الأولى سنة 1984م.
·   من أعلام الحضارة الإسلامية، الدكتور حمد بن باصر، (المملكة العربية السعودية : دار السبيل)، الطبعة الثانية سنة 1993م.
·       البحث العلمي : حقيقته ومصادره ومناهجه وكتابته وطباعته ومناقشته، د/ عبد العزيز بن عبد الرحمن بن علي ربيعة، الطبعة الثانية سنة 1420هـ -   2000م.


[1]  رواه الطبري في مقدمة التفسيروالأثر (81) وقال الشيح شاكر في تخريجه : هذا إسناد صحيح (1: 80) طبعة دار المعارف بمصر.  هذا الأمر يؤكده كذالك أبو عبد الرحمن السلمي حيث قال، "حدثنا الذين يقرئوننا القرآن من أصحاب رسول الله صلي الله عليه وسلم أنهم كانوا يأخذون من رسول الله عشر آيات، فلا يأخذون عشر الأخرى حتى يعلموا ما في هذه من العلم والعمل. قال : فتعلمنا العلم والعمل جميعا." (رواه الإمام أحمد).
[2]  السنة قبل التدوين، محمد عجاج الخطيب، (بيروت : دار الفكر)، الطبعة السادسة سنة 1418هـ/1997. ص : 26.
[3] يبين الدكتور مساعد مسلم عبد الله أل جعفر هذا الكلام بقوله، "فإذا ذهبنا هذا المذهب، وهو أن الذي يفسر القرآن معتمدا على مدلول القرآن اللفظي أو ما يحتمله اللفظ يعتبر مفسرا بالرأي، نستطيع القول أن التفسير بالرأي نشأ في أيام الصحابة الكرام، وعلى أيدي أوائلهم الذين مارسوا التفسير، وإمامهم الأول أبوبكر الصديق رضي الله عنه، ثم عمر، ثم عثمان، ثم علي، ثم عبد الله بن مسعود. وقداتخذ شكلا مدرسيا على يد عبد الله بن عباس رضي الله تعالى عنه، حيث ثبت عنه تفسير لنصوص قرآنية  بالمدلول اللغوى مستشهدا على صحة تفسيره بمشاهدة مدلول الكلمة في الشعر العربي القديم،" (أثر التطور الفكري في التفسير في العصر العباسي، د/ مساعد مسلم عبد الله آل جعفر، (مؤسسة الرسالة : بيروت)، الطبعة الأولى سنة 1984م، ص : 92-93).
[4]  أصول التفسير وقواعده، خالد عبد الرحمن العك، (لبنان : دار النفائس)، الطبعة الثالثة، ص : 34.
[5]  منهاج المدرسة العقلية الحديثة في التفسير، د/ فهد سليمان الرومي، (بيروت : مؤسسة الرسالة)، الطبعة الثانية سنة  1414 هـ، ص : 20.
[6] هذاهوالكلام المشهورعند مؤرخي التفسير. وهذا التحديد الزمني إنما يراد به التدوين والتصنيف الرسمي الذي تبنته الدولة. أما التدوين الشخصي فقد وقع فعلا في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم وفي عهد الصحابة والتابعين، ولم تبق السنة مهملة طيلة القرن الأول إلى عهد عمر بن عبد العزيز، بل تم حفظها في الصدورجنبا إلى جنب مع حفظها في الصحف والكراريس. السنة قبل التدوين، د/عجاج الخطيب، (دار الفكر : بيروت)، الططبعة الخامسة سنة  1981م، ص : 341.
[7] التفسير والمفسرون، د/ مصطفى محمد الذهبي، (القاهرة : دار الحديث)، الجزء الثالث، سنة الطبع 2005م.
[8] يقول الدكتور حمد بن باصرعن الحالة السياسية في زمن ابن تيمية مجملا : "كا ن عصر ابن تيمية من الناحية السياسية مفككا مضطربا. قدعاث المغول في أنحاء العالم الإسلامي فتركوه مبعثرالأوصال، يشكو الظلم والجوروالهمجية الرعناء ووحشية القبائل التي تطبق سياسة الغاب. وهناك الصليبيون الذين احتلوا سواحل الشام وأقاموا حصون الهجوم والتخريب، وكانوا مع المغول بمثابة كماشة أطبقت على بلاد العرب والمسلمين من الغرب والشرق." من أعلام الحضارة الإسلامية، الدكتور حمد بن باصر، (المملكة العربية السعودية : دار السبيل)، الطبعة الثانية سنة 1993م، ص : 118.   
[9] يبين صبري متولي منهج ابن تيمية في تفسير القرآن مجملا بقوله : "فإني وجدت أن المنهج التفسيري عندابن تيمية منهج متميز فريد. فإنك تجد ابن تيمية، حينما يفسر الأية، يذكر تحتها كل الآثار المفسرة من أقوال رسول الله صلى الله عليه وسلم وأقوال الصحابة وأقوال التابعين، فتحسبه تفسيرا نمطيا تقليديا، ثم تجده يأتي بشتى الآيات التي تشترك مع الآية الأولى في موضوعها،  فتحسبه تفسيرا موضوعيا. ولكنك لايلبث أن يحلل أقوال المفسرين السابقين في نفس الآية، ثم يختارأقواها أو يرفضها جميعا ويذكرموقفه مبينا علة ذلك، ثم يقارن بين مذاهب الفرق المختلفة في نفس الآية بهدف الكشف عن ضلالها وصحة مذهب أهل السنة والجماعة." منهج ابن تيمية في تفسير القرآن الكريم، صبري متولي، (الناشر : عالم الكتب)، سنة 1981م. دون ذكر المطبعة وعدد الطبع. 
[10]  البحث العلمي : حقيقته ومصادره ومناهجه وكتابته وطباعته ومناقشته، د/ عبد العزيز بن عبد الرحمن بن علي ربيعة، الطبعة الثانية سنة 1420هـ -2000م، ص : 174.

Categories

About Us

There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form.

نموذج الاتصال