‏إظهار الرسائل ذات التسميات Tazkiyah. إظهار كافة الرسائل
‏إظهار الرسائل ذات التسميات Tazkiyah. إظهار كافة الرسائل

الثلاثاء، 25 يونيو 2019

Harap-Harap Cemas dalam Bingkai Cinta; Dalam Perjalanan Menuju Allah.


By. Idrus Abidin.

Hidup ini adalah episode ke-2 dalam perjalanan kita menuju keabadian (Rihlatul Khulud). Fokus masa depan dengan penuh konsistensi adalah ciri mukmin sejati. Masa lalu yang menyedihkan itu telah dibasuh dengan air mata penyesalan. Karena dosa bukan lagi status terkini para pecinta Allah. Taat adalah kendaraan resmi yang terus memuncak gasnya, seiring ilmu dan keimanan yang terus menyala. Itulah bahan bakar dalam perjalanan ini. Stagnan atau diam di tempat tanpa progres dunia dan akhirat adalah kerugian terkini yang perlu disesali; dengan segera. Karena itu berarti, indahnya masa depan akhirat mulai kabur oleh polusi kelalaian. Hati merasa cukup dengan dunia, popularitas, materi dan kursi empuk kuasa. Malas untuk ibadah tak lagi terhindarkan. Dunia kembali berkilau di hati. Naudzubillah. Gaji di tempat kerja menjadi satu-satunya kenikmatan. Sementara ibadah hanya beban yang menyesakkan jiwa. Bagi mereka yang telah merasakan nikmatnya khusyuk dalam ibadah, tilawah dan amal sosial serta pesona dakwah; kondisi ini layaknya musim kering yang mengancam jiwa. Harapan akan datangnya musim semi dengan rintik hujan keimanan dan guyuran semangat takwa; dinanti dan diusahakan dengan langkah pasti. Tidak betah rasanya mereka berlama-lama dalam ketidakpastian dan kekeringan fitrah suci. Walaupun, mereka mengerti fluktuasi iman adalah tabiat kehidupan. Tak mungkin mereka menghindarinya selama roda kehidupan masih terus berputar. 

Optimisme, Mutlak dalam Kehidupan Dunia Akhirat (Harapan).

Optimisme adalah tuas kehidupan yang tak boleh sepi dari bahan bakar motivasi. Bisa jadi harapan duniawi, tapi seharusnya tak luput dari dominasi nikmat masa depan ukhrawi. Mata boleh saja terkagum oleh indahnya pesona dan godaan duniawi. Tapi hati tidak boleh rabun akhirat, sehingga jiwa tak mengangkasa menuju Arasy Allah. Selama optimisme ini menyalakan mesin kehidupan, sejauh itu pula iman tetap memandang indah senyuman ghaib akhirat. Betapa indahnya pesan takwa. Bahwa jika engkau rindu bersamaku menuju indahnya keabadian, jadikanlah Allah visi utamamu. Ibadah akan terus menyertai hidupmu dengan asupan energi iman sehingga sang takwa menjadi statusmu secara resmi. Di akhiratlah Allah memberikan keadilanNya. Tak mungkin pelaku dosa disamakan dengan pecinta takwa. Di sana, minimal 10x lipat emas sepenuh langit dan bumi menjadi hakmu.  Potensi nikmat itu hingga 700 x lipat emas sepenuh bumi dan langit. Bahkan untuk para nabi, tak lagi terbatasi oleh kelipatan angka-angka duniawi. Itulah nilai iman dan takwamu di masa depan. Dunia ini totalnya hanya senilai air laut yang menempel pada benang yang kau rendam. Sediiiiikit sekali; maka jangan pernah terperdaya oleh kinclongnya pesona dunia. Cukuplah dunia ini sebagai tempat mewujudkan misi sebagai ahli ibadah, misi sebagai penegak keadilan dan marketing Ihsan kepada seluruh makhluk. Juga tak lupa mengeksplorasi alam ini dengan penelitian dan penemuan, sehingga alam tunduk dan siap menjadi alat yang memudahkan kita dalam mewujudkan visi dan misi ini. 

Rasa Takut dan Khawatir, Penyeimbang dari Terperdaya (Gurur) dan Sikap Kepedean ('Ujub).

Sekalipun umumnya iman, ibadah dan takwa telah terwujud lewat karunia hati, baiknya tutur kata yang memuji dan memahasucikan Allah, serta fisik yang tetap istiqamah di jalanNya. Namun jangan pernah terpedaya; merasa seolah surga sudah pasti engkau huni. Kapling surga seolah telah kamu ukur dengan ibadah dan takwamu. Kamu menjadi over Kepedean (ujub) sehingga tidak terkendali; tampil sebagai perwakilan Allah untuk manusia. Merasa seperti pendeta kaum Nasrani; berhak memberi stempel surat taubat dan pengampunan Allah kepada manusia. Bahkan, mengklaim nabi Isa alaihissalam meninggal sebagai tumbal dan tameng pengaman untuk mereka semua dari amukan azab dunia, kobaran siksa kubur dan jilatan api neraka. Mereka lalu tak pernah merasa takut akan dosa. Padahal mereka diliputi oleh maksiat dan pelanggaran. Mereka merasa yakin dan percaya dengan full optimisme bahwa surga tinggal menunggu waktu. Bahkan, dalam doktrin Yahudi, jika pun mereka masuk neraka, paling 40 hari; sejumlah hari penyembahan nenek moyang mereka terhadap sapi betina; saat nabi Musa menerima taurat di gunung Tursina, Mesir. Padahal, keterpedayaan dan over kepedean itu tipuan Iblis yang meninabobokan mereka dalam kelalaian, dosa dan maksiat. Mereka akhirnya tidak kenal taubat, tidak mengerti kenapa harus minta ampunan dengan lisan kepada Tuhan. Apalagi tersadar tentang makna berbenah diri terus menerus agar taat dalam keseimbangan; antara rasa penuh harap dan pentingnya rasa takut. Padahal, tidak ada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang yang penuh kerugian. Sungguh tepat pengarahan Allah dalam firmaNya, 

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَن يَأْتِيَهُم بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ (97) أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَن يَأْتِيَهُم بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ (98) أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ 

Apakah penduduk kota dan semua warga bumi merasa aman dari serangan azabKu saat tengah malam; ketika mereka terlelap dalam tidur nyenyak?! Ataukah mereka merasa aman dari ancaman siksaanKu, ketika mereka sedang lalai dalam hiburan di pagi hari?! Apakah mereka terus merasa aman dari siksaan Allah?! Sungguh, tidak ada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang rugi (QS al-A'raf : 97-99)

Di sinilah tersimpan sebuah rahasia, kenapa seorang muslim ketika takut kepada Allah justru tidak menjauh dariNya. Tapi malah mendekat kepada rahmatNya dengan taubat dan istighfar serta perbaikan diri terus menerus. Makin tinggi takwa makin mawas diri manusia dari keterpedayaan (gurur) dan kepercayaan diri berlebihan ('ujub). Belum lagi jika manusia sadar bahwa tidak ada tempat dan zaman di mana manusia bisa bersembunyi dan menjauh dari Allah. Semua kolong langit dan satuan waktu di bumi ini, berada di bawah kendali Allah. Jika di sini kita tidak bertaubat, di akhirat nanti pasti pengadilan dan keadilan Allah berlaku secara mutlak. Itulah kenapa, dalam banyak ayat, Allah senantiasa mengingatkan, "KepadaKulah kalian pasti kembali". "KepadaNyalah kalian akan dikembalikan". Termasuk ancaman Allah akan adanya hari akhirat, "Takutlah suatu hari ketika kalian dikembalikan kepada Allah. Lalu semua perbuatan kalian dibalas seadil-adilnya dan kalian tak mungkin terzhalimi sedikit pun." 

Salah satu sisi yang membuat khawatir seorang mukmin terus menerus adalah iman dan amalnya yang belum tentu diterima baik oleh Allah. Demikian pula dosa-dosanya, mereka belum mendapatkan kepastian, apa Allah telah mengampuni atau belum. Semua itu dengan secercah hikmah, bahwa rasa penuh harap akan terus memacu perjalanan muslim dengan gas iman, takwa dan amal shaleh. Sementara, rasa takut menahan mereka dari ujub dan gurur. Itulah perpaduan ragaban wa rahabaa. Atau khaufan wa thama'aa dalam banyak ayat Al-Qur'an. 

Semuanya Harus Karena Cinta PadaNya. 

Baik harapan maupun rasa takut harus didasari cinta kepada Allah. Jika tidak, orang Munafik hanya menikmati rasa takut kepada orang muslim saja. Takut pada Allah tidak mereka hiraukan. Yang ditakutkan pun hanya sebatas  terbongkarnya keaslian dan identitas kemunafikan mereka. Maka tak heran, mereka sangat malas shalat. Tidak banyak menyebut nama Allah. Padahal ciri pecinta sejati, yang dicintainya selalu menjadi buah bibir. Kerjaan mereka hanya pencitraan (riya') agar kemunafikan itu tertutup rapat. (QS an-Nisaa: 142). Tujuannya supaya mereka masih bisa mendapatkan keuntungan duniawi di balik topeng dan citra dirinya sebagai muslim. Akhirnya, shalat mereka di sisi Ka'bah dianggap oleh Allah sebagai siulan dan tepuk tangan semata (QS al-Anfal : 35).

Sedang harapan yang bukan karena Allah hanya bersifat materi dan duniawi sekali. Sesuatu yang membuat manusia menjadi kafir dan tidak bisa mengerti rahmat Allah. Ataupun dimengerti, namun manusia terlalu mengharap rahmat dan ampunanNya tanpa mengikuti aturan dan syariat resmi yang telah diatur sedemikian rupa oleh Allah sendiri. Di sinilah batas kecerdasan dan kebodohan berlaku. Bagi yang cerdas, ia senantiasa mengukur kesesuaian dirinya dengan Islam lalu bersungguh-sungguh berkarya untuk kepentingan akhirat. Sementara orang bodoh, terbawa oleh hawa nafsu (maksiat). Namun, berharap besar mendapatkan ampunan dan kasih sayangNya. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menegaskan :

الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

”Orang cerdas adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang lemah (bodoh) adalah yang mengikuti hawa nafsunya tapi berharap ampunan Allah Ta’ala (tanpa berusaha taat)“. (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah).
Semoga kita tetap terus mengejar Rahmat Allah, berlindung dari azabNya dengan cinta maksimal kepadaNya. Aamiin. 

Bandara Jeddah, 14 Juni 2019.

Shalat dan Penegakan Amar Ma'ruf dan Nahi Munkar.


By. Idrus Abidin.

Shalat adalah rutinitas harian yang diharuskan sebanyak minimal 5x dalam sehari. 17 rakaat semuanya. Tiap rakaat diharuskan membaca al-Fatihah sebagai wujud relasi hamba dengan Allah. Tuhan  dipuji sebagai penguasa semesta alam. Memiliki stok kasih sayang dan menguasai seutuhnya kejadian pada hari kiamat. Karena demikian realitasNya, Dialah yang pantas disembah. Inilah titik puncak ibadah, yang menjadi kewajiban hamba. Namun, tidak sekedar itu saja. Manusia pun punya hak sebagai makhluk lemah; meminta bantuan (isti'anah) kepada Allah demi memuluskan tugas kehambaan mereka. Meminta bantuan di sini, yang sangat dinomorsatukan dan paling prioritas adalah mengemis hidayah; baik yang sifatnya petunjuk (Irsyad) maupun yang bersifat praktis (Taufik). Itulah kesatuan ilmu dan amal. Tujuannya agar manusia tidak dimurkai karena bekal ilmu yang tak diamalkan. Atau tersesat karena amal tanpa petunjuk dan cahaya ilmu. Maka, jalan lurus itu ternyata ada pada berilmu Amaliah, beramal ilmiah. 

Konsekwensi Shalat; Mendukung Tauhid, Kritis Terhadap Kesyirikan dan Kecurangan (Ketidakadilan).

Shalat adalah tolak ukur keislaman dan keimanan. Fungsinya mencegah perbuatan keji dan mungkar pada diri manusia dan lingkungan sekitar. Sebuah sikap keberatan ditunjukkan oleh objek dakwah nabi Syuaib yang merasa gerah dengan sikap rewel dan kritis nabi Syuaib atas sesembahan mereka (berhala). Mereka juga keberatan, karena nabi Syuaib juga keritis terhadap praktek riba dan kecurangan mereka dalam bidang ekonomi dan bisnis. Memang ummat nabi Syuaib terkenal dalam sejarah dakwah sebagai ummat yang gemar mengurangi timbangan dan takaran dalam hal jual beli (QS Hud : 84) Nabi Syuaib pun mencegah mereka dari praktek syirik dan sikap curang. Beliau tegas mengerahkan mereka kepada tauhid dan kejujuran dalam hal timbangan dan standar Keadilan (QS Hud : 85) Maka tidak heran, sikap keberatan mereka terhadap amar makruf dan nahi mungkar nabi Syuaib ini direkam rapi oleh Allah dalam Al-Qur'an : 

قَالُوا۟ يَٰشُعَيْبُ أَصَلَوٰتُكَ تَأْمُرُكَ أَن نَّتْرُكَ مَا يَعْبُدُ ءَابَآؤُنَآ أَوْ أَن نَّفْعَلَ فِىٓ أَمْوَٰلِنَا مَا نَشَٰٓؤُا۟ ۖ إِنَّكَ لَأَنتَ ٱلْحَلِيمُ ٱلرَّشِيدُ

Mereka berkata: "Hai Syu'aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal". (Hud : 87)

Maka, pertanyaan penting yang perlu kita resapi adalah, sejauh mana shalat kita mengarahkan kepada sikap kritis terhadap kesyirikan dan semua bentuk kecurangan (ketidakadilan)?! Cukupkah shalat itu hanya sebatas tameng pribadi dari neraka tanpa usaha untuk menarik energinya ke dalam pusaran amar makruf dan nahi mungkar?! Kejujuranlah yang bisa menggelitik jiwa kita untuk memahaminya. Semoga.

Depok, 2 Juni 2019 (malam 29 ramadhan 1440 H)

السبت، 22 ديسمبر 2018

Khusyu', Puncak Kejernihan Iman.


Khusyu' adalah kondisi saat keagungan Allah tersingkap begitu mengagumkan dalam jiwa manusia. Biasanya hadir saat kita banyak bermuhasabah dengan bacaan-bacan islami, nasehat-nasehat spiritual. Saat kita melanglang buana dalam Rububiyah, mentadabburi nama-nama dan sifat-sifat Allah; hingga hati terpesona dalam uluhiyahNya. Cinta makin nambah, optimisme akan rahmatNya kian tiada Tara. Bahkan, potensi AzabNya tergiang-ngiang di telinga hingga kita mengucurkan air mata. 

Subuh di Jum'at ini, di waktu Madinah mulai saat jam 05.30. Imam dengan syahdunya melantunkan surah sajadah. Seolah bacaan itu mengaduk-aduk jiwa, dengan beragam fakta keesaan Rububiyah, fenomena uluhiyah hingga ancaman untuk mereka yang tak mau berubah; dari maksiat ke tha'ah, dari khianah jadi amanah, hingga jiwa tak lagi durhaka. 

Bahkan kiamat dihadirkan, saat ahli maksiat baru mau taat, ketika pendosa baru yakin atas semua titah rabbul 'alamin. Namun, apa daya, iman itu tak lagi bermakna. Yaah.... mereka dilupakan Allah secara sempurna. Karena telah lalai dan lupa diri dari Allah saat di bumi ini. Berlarian mereka kepingin keluar dari neraka. Tapi kata Allah, mereka ditarik kembali ke kerak neraka. Naudzubillah.

Fakta bahwa penentang di masa lalu telah hilang. Ada yg ditelan bumi layaknya Qarun. Ada pula yang ditenggelamkan laut dengan kejam. Hujan banjir yang menyapu bersih pelaku dosa. Bahkan, suara pekak yang mematikan. Semua itu tidak menjadi pelajaran bagi mereka yang lalim dan lalai. Terus saja mereka mereproduksi maksiat, melawan mereka yang masih taat. 

Akhirnya, ketika semua gambaran penduduk surga beserta amalan dan potensi surganya diangkat;  hati ikut bersujud saat ayat 15 tiba, diikuti sujud fisik semua jamaah; seketika.

Fenomena iman dan gambaran maksiat itu belum berakhir. Di rakaat kedua, sang imam memilih surah al-Insan. Dibuka dengan pertanyaan retoris yang menyayat hati. Bukankah dulu manusia mati (tidak ada)?!, Lalu diadakan dari mani, untuk sebuah ujian imani.

Maka kata Allah, dengan telinga dan mata pun mereka dibekali. Agar jalan sesat dan Jalur taat pun tak lagi tertutupi; oleh  syubhat dan kepungan syahwat. Surga pun beserta pesona nikmatnya dibahas sedemikian rupa beserta amalan-amalan penghuninya. Tak henti rasanya hati ini berkata, jadikan aku bagian dari mereka ya Allah. 

Pelayan Mereka saja adalah remaja-remaja, yang jika ditatap dengan mata kepala; seolah Kilauan nikmat tak biasa itu layaknya permata lu'lu yang bertaburan. Pesona kerajaan Allah yang agung telah melingkupi mereka, hingga dengan menatap mereka saja sudah melarutkan kita dalam nikmat tiada kira. Itulah balasan Allah padamu atas dedikasi amal dan usahamu yang disyukuri Allah. Maka sabarlah dalam jalan ini dan jangan sesekali kamu dengar apa lagi taat pada mereka para pendosa dan penikmat kekufuran.....(QS al-Insan : 22-24). 


By. Idrus Abidin.
Madinah Nabawiyah;  Jum'at, 21 Desember 2018.

الأحد، 9 ديسمبر 2018

Nasehat Berharga.


Bagi yang telah berumur 40, 50, 60 dan selebihnya. Semoga Allah membuatmu bahagia dengan limpahan ketaatan dan lautan kesehatan.

💦 Nasehat 1 💦

✒ Usahakan ikut terapi bekam 1x setahun, sekali pun anda tidak merasa ada keluhan atau sakit apa pun.

💦 Nasehat ke-2 💦

الجمعة، 7 ديسمبر 2018

Merawat Cinta dan Memenej Amarah Versi Islam

Cinta dan benci lahir dari hati manusia. Hati yg menjadi tempat ideologi (iman) dan keyakinan. Jika cinta menghasilkan keikhlasan dan ketundukan kepada Allah maka itulah ibadah. Karena memang ibadah adalah cinta yang berpadu dg ketaatan. Kalau hanya tunduk patuh tanpa disertai rasa cinta maka biasanya disebut nifaq. Sebuah istilah yang dinisbatkan kepada orang-orang yang menampakkan keislaman secara fisik, namun memendam kebencian kepada Islam dan pengikut setianya secara batin. 

Allah sebagai objek cinta merupakan zat yang telah berbuat baik (Ihsan) sepenuhnya kepada makhukNya dg penuh kasih sayang. Itulah Rububiyah Allah yang artinya mencipta, memberi rezeki, mengarahkan, membina mendidik, dg segala bentuk aktivitas yang terkandung dalam nama dan sifat-sifat Nya (Asmaul Husnaaa)

الأربعاء، 27 ديسمبر 2017

BAHAYA DOSA DAN MAKSIAT

Dosa dan maksiat adalah benalu yang menghalangi manusia untuk mendapatkan kesucian fitrahnya. Padahal, kebahagiaan tidak pernah bisa dirasakan kecuali melalui fitrah suci dan ketaatan kepada Allah. Karena itulah, manusia perlu mengenal dampak buruk dosa dan maksiat terhadap pribadi, masyarakat dan seluruh penduduk bumi ini. Beberapa diantaranya adalah :
1.      Dosa Menghalangi Ilmu dan Pemahaman.
Kebaikan manusia berawal dari ilmu dan pemahaman yang benar terhadap diri dan hal-hal yang ada di sekitarnya. Hal-hal tersebut seperti pemahaman tentang Allâh, manusia, kehidupan, akhirat dan hakikat-hakikat besar lainnya. Ketika manusia terlumuri oleh noda dosa, maka semua hakikat tersebut di atas pasti luput dari dirinya. Ia senantiasa lalai hingga tahap melupakan dan tidak mengenal dirinya sendiri. Umur terbuang begitu saja tanpa ada tujuan hidup yang jelas. Kebahagiaan yang dicari tak kunjung tiba di depan mata, apalagi terasa di hati.

الأربعاء، 14 ديسمبر 2011

TIPIKAL MANUSIA MENGHADAPI COBAAN ( الصبر عند المصائب )


Oleh : Idrus Abidin

SINOPSIS.
Sebagai manusia, cobaan hidup menjadi realitas kita sehari-hari. Cobaan ini sesungguhnya merupakan alat uji bagi manusia dalam menempuh perjalanan menuju Allah swt. Jika disadari dengan baik, siapa pun akan mengalami cobaan, baik karena ditinggal orang yang dicintai atau benda yang digemari. Hal ini karena, hidup kita memang banyak dikelilingi dan dipengaruhi oleh manusia dan benda-benda.
Mengingat kedatangan cobaan yang begitu nyata, untuk menyikapinya dengan baik, tentu membutuhkan pembelajaran. Pembelajaran yang dapat mengarahkan manusia untuk memiliki imunitas pribadi. Pembelajaran ini sesungguhnya bisa diperoleh dengan cara mengumpulkan berbagai data-data formal yang bisa memberikan pandangan dalam mengarahkan sikap kita kepadanya. Sebut saja, misalnya, hadits Rasulullah saw. yang menggambarkan betapa orang yang tercelup imannya dengan nuansa Rabbani dan hatinya memiliki ketundukan kepada-Nya, dapat mendulang keuntungan dari setiap situasi yang melingkupinya. Kala cobaan datang menyapa, kesabaran menjadi senjata utama baginya, sehingga ia mampu menahan diri dari ekses negatif. Demikian pula ketika kenikmatan berpihak kepadanya, syukur menjadi bahasa verbalnya, yang pada gilirannya mengantarkan dirinya pada hal-hal yang diridha'i oleh Allah swt.

الاثنين، 12 ديسمبر 2011

TAZKIYATUNNAFS (Upaya Membersihkan Jiwa)

Oleh : Idrus Abidin

URGENSI TAZKIYATUNNAFS. 

Tazkiyatunnafs memiliki beberapa urgensi berupa : 
  • Merupakan bagian dari missi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam .
Di antara missi besar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  adalah upaya untuk menetralisir berbagai pemikiran, konsep dan kepercayaan yang telah melembaga dalam komunitas manusia. Hal demikian banyak lahir dari ketidaktahuan manusia tentang Allah swt, sehingga berefek pada kekeruhan jiwa. Untuk menginternalisasi kembali nilai-nilai ilahi ke dalam struktur kepribadian manusia, dibutuhkan upaya pembersihan yang dikenal dengan istilah tazkiyah atau takhliyah. Tentang missi besar ini, Allah swt menegaskan :
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (2)
"Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS Al-Jumu'ah:2)

  • Jiwa merupakan tempat pergolakan abadi yang melibatkan manusia, malaikat dan setan.
Hati manusia merupakan sebuah wadah yang rentan terhadap berbagai pengaruh yang ditimbulkan oleh mata, pikiran dan pendengaran. Jika dimanfaatkan dengan baik, mata dan pendengaran serta pikiran dapat menstimulasi jiwa untuk mendapatkan kesucian. Dengan kesucian hati, malaikat akan memiliki tempat tersendiri padanya sehingga berperan dalam mengutkan manusia untuk dekat kepada Allah swt. Tetapi jika diisi  dengan berbagai kemaksiatan maka akan menjadi sarang setan. Di sana ia akan melancarkan berbagai tipu dayanya, sehingga yang bersangkutan melihat kemaksiatan sebagai kebaikan dan kebaikan sebagai kejahatan. Allah menegaskan hal ini dengan firman-Nya :
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (7) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (10)
"Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.  Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya". (QS. Al-Syams : 7-10).

  • Merupakan sumber kebahagiaan manusia.
Kebahagian manusia sesungguhnya bersumber pada kesucian jiwanya. Dengan kesucian jiwa, manusia jauh dari berbagai pikiran negatif. Hal yang biasanya meracuni perasaan dan membelenggunya. Jiwa yang bersih sangat potensial untuk melahirkan berbagai maha karya. Kumpulan orang-orang bersih jiwanya dalam sejarah Islam telah melahirkan peradaban yang mengungguli semua bentuk peradaban lain. Peradaban yang menjamin lahirnya kebahagian jiwa dan kepuasaan jasmani dalam koridor yang dibenarkan oleh agama.
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (28)
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram". (QS Ar-Ra'du : 28).

  • Sarana untuk mendapatkan kecintaan dan keridhaan Allah swt.
Jiwa yang bersih akan mengundang datangnya keridhaan dan kecintaan Allah swt. Firman Allah :
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ (222)
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (QS al-Baqarah : 222).
Taubat merupakan sarana penyucian jiwa. Sedangkan kesucian diri yang dimaksud pada ayat di atas adalah kesucian lahiriah. Ayat ini terkait dengan larangan mendekati wanita (istri) ketika sedang haid.

  • Kunci sukses di akhirat kelak.
Ketika manusia telah berada di akhirat kelak, rasa aman diperoleh hanya berdasarkan tingkat kesucain jiwanya. Orang-orang yang melumuri jiwanya dengan berbagai kemaksiatan, akan mendapatkan hidup yang mengerikan di akhirat kelak. Nila kesucain jiwa manusia yang menjadi tolak ukur kesuksesan ini tidak bisa ditebus dengan emas seisi langit dan bumi dan tidak bisa ditebus dengan anak atau oleh anak sendiri. Allah menginformasikan :
وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ (87) يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89)
"Dan janganlah Engkau hinakan Aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih". (QS. Asy-Syuara : 87-89).


RAGAM JIWA MANUSIA.

Berdasarkan pada kondisi hati manusia ketika mengalami interaksi dengan dunia luar (keadaan sehari-hari), maka ada tiga predikat yang bisa disandang oleh jiwa :
1. Nafs Mutmainnah.
Jiwa yang terisi oleh keimanan kepada Allah swt dan kepada malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para nabi-Nya, qadha dan qadhar-Nya serta adanya hari kiamat sangat berpotensi untuk memperoleh jiwa tipe ini. Sejauh apapun presentase keimanan ini terakam dalam jiwanya, maka sejauh itu pula ketentraman dalam hidup ini diperoleh. Jika dipersentaskan secara kasar, orang yang terisi hatinya dengan keimanan antara 55 % hingga 100 % akan merasakan jiwa seperti ini. Allah menerangkan keadaan orang yang memiliki jiwa demikian dengan firman-Nya :
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي جَنَّتِي (30)
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, Masuklah ke dalam syurga-Ku. (QS al-Fajr : 27-30).

2.  Nafs Lawwamah.
Jika tingkat keimanan manusia menurun dari kisaran 55 % hingga 45 % maka ia akan berada pada kondisi serba tidak menentu. Ketika berbuat kebaikan maka ia akan menyesali dirinya. Jika ia melakukan kejelekan demikian pula adanya. Hal ini terjadi karena ia berada pada wilayah tengah antara dominasi malaikat dan dominasi setan. Sehingga tidak ada dari keduanya yang mendominasi hati dan berhak memberikan perasaan tertentu. Karena itulah, jiwa jenis ini disebut nafsu lawwamah (suka menghina diri). Yaitu hati yang selalu menyesali dirinya, baik ketika berbuat baik maupun ketika berbuat jelek. Tentang hati demikian Allah berfirman :
لَا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ (1) وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ (2) أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَلَّنْ نَجْمَعَ عِظَامَهُ (3) بَلَى قَادِرِينَ عَلَى أَنْ نُسَوِّيَ بَنَانَهُ (4)
Aku bersumpah demi hari kiamat, Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)[1530]. Apakah manusia mengira, bahwa kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Bukan demikian, Sebenarnya kami Kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna. (QS al-Qiyamah : 1-4).

3. Nafs Ammarah.
Jika hati hanya terisi oleh keimanan sebesar 45 % ke bawah sedangkan 55 % lainnya didomonasi oleh setan akibat kelalain, maka jiwa akan mendapatkan predikat nafs ammarah. Yaitu jiwa yang tunduk terhadap kendali setan. Apa yang baik menurut agama akan tampak jelek dalam pandagannya. Kebaikan yang dilihat adalah sejauh mana suatu keadaan bertentangan dengan agama. Sehingga jiwa demikian selalu mengarahkan pemiliknya untuk berbuat kejelekan. Jiwa jenis ini tidak bisa dikendalikan oleh pemiliknya kecuali dengan bantuan Allah melalui usaha maksimal untuk merubah diri dan lingkungannya. Tentang jiwa demikian diterangkan oleh Allah melalui lisan Nabi Yusuf A.S :
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ (53)
Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang. (QS. Yusuf : 53).

LANGKAH-LANGKAH UNTUK MEMBERSIHKAN JIWA

Dalam rangka mengupayakan agar jiwa berada pada wilayah Nafs Mutmainnah, sebaiknya langkah-langkah berikut ini dilakukan :
1.      Memperdalam ilmu akidah yang mendorong wujudnya keihlasan dalam beribadah.
2.      Taubat.
3.      Memperbanyak amalan sunnah.
4.      Mentadabburi al-Qur'an.
5.      Memperbanyak zikir.
6.      Mengingat kematian.
7.      Bergaul dengan orang-orang shaleh.


KIAT MEMPERTAHANKAN KESUCIAN JIWA.

Sebagi manusia, kita diharapkan mempersembahkan prestasi ibadah terbaik di dunia ini sebagai modal menghadap kepada Sang Khaliq. Presatasi puncak dalam ibadah tidak akan pernah diraih kecuali dengan berusaha mempertahankan kesucian jiwa. Terdapat beberapa kiat yang direkomendasikan oleh ulama untuk maksud tersebut. Di antaranya :

A. Muraqabah.
Muraqabah adalah perasaan kaum beriman yang merasakan kontrol ilahiyah yang meliputi segala gerak geriknya dalam hidup ini. Perasaan demikian tidak akan pernah hadir kecuali jika keimanan seseorang terhadap Allah semakin meningkat pada level maksimal. Tetang muraqabah ini, Allah mengingatkan :
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ (18)
Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat Pengawas yang selalu hadir. (QS. Qaaf : 18).

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ (235)
Ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; Maka takutlah kepada-Nya,. (QS. al-Baqarah : 235).


B. Mu'ahadah.
Mua'hadah merupakan betuk komitmen seorang muslim unutk patuh terhadap nilai-nilai yang telah digariskan oleh Islam. Dengan komitmen demikian, seorang muslim akan berpegang teguh terhadap tali Allah yang kuat (al-Urwah al-Wutsqaa). Karena dengan komitmen demikian ia akan menjauh dari kubangan setan yang setiap saat hendak menggelincirkan manusia dari jalan lurus.

C. Muhasabah.
Mengevalusi diri dengan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai indiktor dikenal dalam Islam sebagai muhasabah. Muhasabah ini dilakukan untuk mengukur tingkat komitmen seorang muslim terhadap nilai-nilai yang diyakininya. Allah menegaskan pentingnya hal ini dengan firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (18)
18.  Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS al-Hasyr 18)


D. Muaqabah.
Sanksi yang diberlakukan seorang muslim terhadap dirinya jika teledor dari nilai-nilai Islam disebut dengan mu'aqabah. Hal ini penting dilakukan mengingat jiwa kita membutuhkan pelatihan dan pembiasaan secara terus menerus. Hanya saja sanksi yang ditetapkan hendaknya berupa hal-hal yang dibenarkan dalam Islam.

E. Mujahadah.
Optmalisasi dalam melakukan ibadah dan mempersembahkan amaliah terbaik untuk Allah adalah wujud utama mujahadah. Dengan mujahadah ini, jalan kebenaran makin tampak nyata dalam pandangan orang-orang yang memaksimalkan upayanya menuju Allah swt. Allah menegaskan :
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (69)
69.  Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS al-Ankabut : 69).
Demikian urain singkat ini. Wallahu A'lam.

الجمعة، 9 ديسمبر 2011

MENANGIS KARENA TAKUT DAN RINDU KEPADA ALLAH


SINOPSIS
Bagi kaum lelaki, menangis merupakan aib yang tidak dibenarkan. Kapan pun dan di mana pun. Karena, walau  bagaimana, kelelakian adalah merupakan simbol ketangguhan dan keperkasaan. Merupakan suatu tindakan cengeng jika tangisan menghiasi mata sang lelaki. Tindakan yang biasanya lumrah bagi wanita, sebagai ungkapan perasaannya, baik karena kesal atau karena rindu terhadap sang kekasih (suami) atau pun lainnya. Di hadapan Allah swt, tidak ada yang perkasa. Tidak ada yang gagah berani dan tidak ada pula yang hebat. Dia-lah yang memiliki segalanya. Sehingga tangisan di hadapan-Nya, baik karena takut maupun rindu, merupakan simbol kehambaan yang sudah seharusnya ditunjukkan oleh siapa pun. Sikap inilah yang ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. sebagai teladan sepanjang zaman.

Categories

About Us

There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form.

نموذج الاتصال