Monday, July 6, 2020

Intuisi, Sarana Ilmu Pengetahuan Ke-3 Selain Indra dan akal.

Intuisi, Sarana Ilmu Pengetahuan Ke-3 Selain Indra dan akal.

By. Idrus Abidin.

Ringkasan materi kuliah Efistemologi Ilmu (Filsafat Ilmu-Nazhariyatul Ma'rifah) Mahasiswa STIS al-Manar, Semester VIII

Indra dan Akal tetap belum cukup memenuhi semua kebutuhan kita terhadap pengetahuan. Ketika kita mimpi dalam tidur, semuanya serba masuk akal. Namun, saat kita terbangun barulah kita sadar ada hal-hal yang tidak masuk akal pada mimpi tersebut. Berdasarkan akal, semua ruang kelas sama. Namun berdasarkan intuisi (hati), antara kelas yang satu dengan kelas lainnya berbeda-beda rasanya. Di sinilah akal gagal memberikan kita pengetahuan. Akal mampu mengeja CINTA tapi tak mengerti rasa dan makna cinta tersebut. Rasa manusialah yang mengerti makna cinta.
Itulah kelemahan pertama akal sekaligus kelebihan pertama intuisi. Akal hanya bisa berfungsi sebagai referensi ilmu yang bernuansa inteligensia, tapi gagal menjadi informan seputar sisi emosional manusia. Maksudnya, akal hanya berpikir konsep (sebagaimana seharusnya), bukan sebagai mana realitasnya (pengalaman parsial).

Kelemahan ke-2.

Akal hanya memahami objek secara umum. Tidak bisa mengerti objek secara khusus. Versi akal, 1 menit sama saja di mana pun manusia berada. Padahal, menurut intuisi setiap menit dalam kehidupan manusia itu selalu unik. Itulah kenapa manusia memahami adanya hari buruk dan hari baik, sesuai keyakinan masing-masing. Demikian pula, setiap manusia memiliki tempat yang dianggap sakral dan ada pula yang profan (biasa saja).

Kelemahan ke-3. 

Akal hanya memahami simbol (kata-kata) suatu objek, namun tidak mampu mengerti secara langsung hakikat simbol tersebut. Intuisilah yang mampu memahaminya. Contoh, akal mampu memahami "makan" sebagai aktivitas simbolik, tapi takkan bisa mengerti rasa makanan tersebut. Intuisilah yang mengerti rasa dari aktivitas makan secara langsung. Itulah kenapa, orang kenal semua kata "martabak" secara simbolis, namun rasa antara martabak satu dengan lainnya berbeda-beda sesuai intuisi masing-masing.
Untuk menutupi kelemahan akal tersebut, manusia dibekali oleh Allah hati yang menjadi sumber intuis sehingga sempurna perangkat ilmu pada diri manusia. Dengan hati, manusia bisa memahami seseorang dgn suara, atau dengan melihat matanya.  Akal hanya mengerti sesuatu dalam lingkup kesadaran. Sementara hati (intuisi) bisa memasuki alam bawa sadar (alam ghaib). Inilah yang diterima oleh para nabi via hati dengan potensi khusus yang dikaruniakan oleh Allah. Maka, hati layaknya sebuah radar yang mampu berkomunikasi dg makhluk gaib di sekitarnya. Seperti komunikasi dengan "malaikat" ; jika imannya lagi kokoh. Atau, berkomunikasi dengan setan jika imannya melemah. Karena hati bak radar, maka terkadang ia mampu menangkap sinyal lagit begitu nyata, betapapun redupnya sinyal itu versi akal. Inilah yang dikenal dengan lammah dalam hadits. 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِلشَّيْطَانِ لَمَّةً بِابْنِ آدَمَ وَلِلْمَلَكِ لَمَّةً فَأَمَّا لَمَّةُ الشَّيْطَانِ فَإِيعَادٌ بِالشَّرِّ وَتَكْذِيبٌ بِالْحَقِّ وَأَمَّا لَمَّةُ الْمَلَكِ فَإِيعَادٌ بِالْخَيْرِ وَتَصْدِيقٌ بِالْحَقِّ فَمَنْ وَجَدَ ذَلِكَ فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مِنَ اللَّهِ فَلْيَحْمَدْ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ اْلأُخْرَى فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ثُمَّ قَرَأَ الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمْ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ َالاَيَةَ

Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya setan memiliki bisikan pada manusia, malaikat juga memiliki bisikan. Bisikan setan  menjanjikan keburukan dan mendustakan kebenaran. Sedangkan bisikan malaikat  menjanjikan kebaikan dan mempercayai kebenaran. Barangsiapa mendapatkannya, maka ketahuilah bahwa itu dari Allah Azza wa Jalla, kemudian hendaklah dia memuji Allah Azza wa Jalla . Dan barangsiapa mendapatkan yang lain, maka hendaklah dia berlindung kepada Allah Azza wa Jalla dari setan yang dilaknat”. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِالْفَحْشَآءِ

Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir) ( al-Baqarah/2: 268) [HR. Tirmidzi, no. 2988, dishahîhkan oleh syaikh al-Albâni]

Sebagai penutup, hati mampu mengenal objeknya lebih akrab dan secara langsung. Ia mengerti manis bukan via buku atau cerita, tapi langsung mencicipinya. Cinta tidak dimengerti oleh akal. Hatilah yang merasakan hakikat cinta itu secara langsung, walaupun hati tidak mampu mengungkapkan perasaan cinta itu tanpa melalui kata dan narasi yang serba tunduk pada "aturan" bahasa yang serba rasional. 

Pengetahuan hati (intuisi) hadir pada diri seseorang. Seolah tak ada lagi batas dan jarak  antara seseorang dengan objeknya. Akal bisa jadi mengukur sesuatu secara jarak yang begitu jauh, tapi dekat secara hati (intuisi). Demikian pula sebaliknya. Inilah makna ungkapan Ibnul Qayyim al-Jauziyah, "Secara jarak (akal), kita dengan Allah jauh. Tapi dengan hati kita sebenarnya sangat dekat." Atau, kata beliau lagi, "Kita menuju Allah itu dengan hati. Maka, takwa itu pada dasarnya takwa hati, sebelum takwa lisan dan takwa fisik". Wallahu a'lam. 

Catatan :

  • 1. Islam menyatukan antara dua kutub ekstrim dalam Efistemologi pengetahuan. Yaitu antara filsafat idealisme (mitsaliyah) dengan filsafat realitas (waqi'iyyah)
  • 2. Batasan "rasional" dan "intuisi" ini, klo dalam Islam tetap mengikuti standar Al-Qur'an dan Sunnah; Biar tidak liar. Jadinya, Ilham dll nanti ada pembahasan khusus dlm akidah Islam.

Selasa, 31 Maret 2020

0 komentar:

Post a Comment

Categories

About Us

There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form.

Contact Form