Rabu, 27 Desember 2017

Etos Kerja Seorang Muslim - Majelis Ta'lim Bina Ilmu & Amal ARITA

Kajian Masjid Landmark Ust. Idrus Abidin Asmaul Husnah (2)

RASIONALITAS AL-QUR’AN DALAM DUNIA DEBAT

RASIONALITAS AL-QUR’AN DALAM DUNIA DEBAT
Alih Bahasa : Ust. Idrus Abidin, Lc., M.A.

Al-Qur’an memiliki banyak keunggulan dan beragam keistimewaan dalam sisi arguemntasi logis. Namun, pada kesempatan ini, saya hanya menyebutkan beberapa yang saya anggap paling istimewa sejauh yang saya bisa rangkum dari beberapa sumber.
1.    Semua kandungan al-Qur’an bernilai mukjizat; ungkapannya yang ringkas (iyjaz) termasuk mukjizat, ungkapannya yang panjang (ithnab) pun termasuk mukjizat, kosa katanya mukjizat, metode ungkapannya mukjizat, rangkaian kata dan kalimatnya mukjizat. Semua itu adalah mukjizat. Demikian pula argumentasi, permbuktian dan penjelasannya… pasti tidak ada ucapan yang bisa mencapai tingkat akurasi dan nilai kemujizatannya. Perbedaan antara al-Qur’an dengan ucapan orang paling hebat dari kalangan manusia, yang paling unggul kemampuannya memberi penjelasan, seperti halnya perbedaan antara Sang Pencipta dan mahluk-Nya; karena ia merupakan perbandingan antara ucapan Sang Pencipta dengan ungkapan mahluk-Nya.[1]
Debat Qur’ani merupakan mukjizat sebagaimana kemukjizatan al-Qur’an itu sendiri. Artinya, kemukjizatan debat Qur’ani berasal dari kemukjizatan al-Qur’an. Sedangkan al-Qur’an merupakan mukjizat pada setiap sisi perdebatan, baik sisi akurasi bahasanya yang singkat padat sehingga memuaskan pendengar karena kesesuaiannya dengan batas pemahaman audiens (balagah), sisi pemilihan kata-katanya yang tidak menggunakan kosa kata asing (fashahah), sisi petunjuk-petunjuknya (dalil) dan aspek bukti-bukti rasiona yang diajukan (burhan/demonstratif) serta hal lain yang terkait. Sangat mustahil ada manusia yang mampu menantang, mengimbangi, apalagi mengalahkan debat al-Qur’an. Sehingga seseorang mampu mengoreksi atau menentang atau mengimbanginya dalam hal kebenaran makna, ketepatan ungkapan, keindahan gaya bahasa, pencapaian tujuan dan maksud yang dikehendaki-Nya. Abu Bakar al-Baqillani rahimahullah pernah berkata ketika membahas seputar sisi kemukjizatan al-Qur’an, “Makna-makna yang terkandung dalam al-Qur’an dalam mengungkapkan syari’at dan hukum dan dalam berargumentasi ketika hendak menegaskan prinsip-prinsip mendasar agama (ushuluddin) dan menolak kalangan pengingkar wahyu, menggunakan ungkapan yang sangat menarik; dengan keserasiannya antara satu dengan yang lainnya dalam tingkat kelembutan dan keahlian, menunjukkan bahwa manusia tidak akan ada yang mampu melakukannya”. [2]
Al-Qur’an telah mempropokasi kalangan bangsa Arab agar melakukan perlawanan dengan menghadirkan semua bentuk dan alasan agar mereka berani menghadapi al-Qur’an, padahal bersastra adalah merupakan tabiat mereka secara alami, sedang al-Qur’an juga turun dengan bahasa Arab. Al-Qur’an juga menantang mereka pada keahlian tertinggi yang sering kali mereka bangga-banggakan (ini tentunya tantangan tertinggi), mendorong mereka sekuat tenaga pada banyak ayat dalam al-Qur’an untuk melakukan perlawanan. Bahkan al-Qur’an bertahap dalam menawarkan penantangan -dalamrangka mengimbangi mereka- sehingga mereka ditantang untuk membuat yang serupa al-Qur’an, lalu turun hingga sepuluh surat atau dengan satu surat yang terpendek sekali pun, namun mereka tidak bisa sama sekali, sekali pun mereka bekerjasama sekuat tenaga untuk tujuan tersebut. [3]
al-Qur’an menghadapi kaum musyrikin dengan menantang, mendebat keyakinan-keyakinan mereka, menyudutkan dengan hujjah maksimal dan argument yang menekuk, tapi mereka tidak bisa membalas dan tak mampu juga mengelak. Al-Zarkasyi berkomentar seputar kisah al-Walid bin al-Mugirah dan kedatangan Quraisy kepadanya agar menjadi perwakilan untuk menemui nabi, “Walid bin Mugirah merupakan salah satu tokoh Qurasiy dan salah seorang tokoh sastrawan pada zaman itu. Namun, ketika mendengar al-Qur’an dibacakan oleh Rasulullah, lidahnya kelu, jiwanya mengerut, retorikanya hilang, argumennya berantakan, badanya menggigil, kelemahannya nyata, dan akalnya tidak  fokus, [4] hingga ia mengungkapkan kesimpulan yang sangat terkenal, “Sungguh isinya sangat manis (halawah), atasnya sangat indah penuh pesona (thalawah), bawahnya melimpah tak terkira (mugdiq), atasnya dipenuhi buah dan bunga (mutsmir). Sungguh sangat unggul dan tidak bakalan bisa terkalahkan”. [5]
al-Qur’an memiliki pengaruh yang sangat hebat terhadap jiwa manusia. Sehingga orang-orang kafir dan kalangan menyimpang menganggapnya sebagai sihir, padahal dia bukan sihir. Mereka semua menghindar agar tidak mendengarkan al Qur’an. Allah berfirman
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ
Dan orang-orang yang kafir berkata: "Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka". (QS Fushshilat : 26)
Sebagaian mereka mengucapkan kata-kata yang jujur seputar al-Qur’an, sekali pun mereka terpaksa, seperti halnya yang dilakukan oleh al-Walid bin Mugirah dan selainnya. Allah berfirman seputar orang-orang Nasrani,
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آَمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آَمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَىٰ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ ۖ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ
"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". Hal itu disebabkan karena di antara mereka itu terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri." Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s. a. w.). (QS al-Maidah : 82-83)
Allah juga berfirman seputar kalangan jin
وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا ۖ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَىٰ قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ
Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: "Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)". Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: "Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. (QS al-Ahqaf  :29-30)
Argumentasi al-Qur’an senatiasa berlaku sepanjang waktu dengan tingkat kebenaran, kekuatan pengaruh, daya argumentasi maksimal disertai cakupan yang menyeluruh. Hujjahnya senanntiasa kekal selama bumi dan langit ini ada. Berlaku secara umum kepada semua manusia sekali pun mereka berbeda zaman, berlainan keadaan dan beragam tingkat intelektualitas. Kekekalan dan cakupan yang menyeluruh ini diperoleh dari kekelan risalah dan komprehensitasnya secara umum. Allah berfirman,
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ
Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua (QS al-A’raf 158)
Juga firman-Nya
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (QS Saba’ : 28)
Rasulullah pun pernah bersabda, “Tidak ada seorang nabi pun kecuali diberikan mukjizat yang mengarahkan manusia mengimaninya. Sungguh mukjizat yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan Allah kepadaku. Dengan itu, aku berharap sayalah yang paling banyak pengikutnya pada hari kiamat. [6]
Sehingga tidak terbayangkan bahwa ada seseroang –pada suatu zaman atau pada sebuah tempat- berani menentang dan menolak kepastian al-Qur’an atau ragu terhadap kebenarannya. Sedang manusia bias jadi memiliki kemampuan arguemntasi yang kuat sehingga menjadi hujjah bagi sebagian orang. Namun seiring denga berjalannya waktu, masyarakat bisa membuktikan kelemahan dan kerancuan atau sisi kelemahannya. Misalnya, pendapat filosof yang mengatakan bahwa tidak mungkin ada suara atau gambar yang bisa bertahan dalam dua waktu. Mereka menjadikan ini sebagai alasan untuk menolak dan menafikan sifat-sifat Allah. Kalangan ulama dan penuntut ilmu sudah mengerti sisi kerancuannya ketika itu. Sedang ulama belakangan makin membuktikan kesalahannya dengan bukti-bukti empiris, tentunya setelah ditemukannya alat-alat yang bisa digunakan untuk merekam suara dan gambar serta alat-alat serupa.
Sedang hujjah al-Qur’an akan senantiasa kokoh mengalahkan semua jenis argumentasi. Waktu, tempat dan manusia mana pun tidak akan ada yang mampu merubah kenyataan itu.   
2.    Salah satu karakteristik debat Qur’ani adalah korespondensinya dengan akal dan jiwa sekaligus. Sehingga mendatangkan nilai rasionalitas dan kenikmatan rasa secara bersamaan dan dalam tingkat yang sepadan, yang tidak akan mungkin ditemukan pada diri manusia, baik dia seorang intelektual, ahli sya’ir maupun ahli hikmah, yang bisa mengarahkan kedua hal tesebut secara bersamaan sehingga mampu mendatangkan suatu ungkapan yang mengandung nilai pengetahuan rasional dan keindahan bahasa sekaligus. Jika kedua hal itu ada pada diri seseroang maka keduanya tidak berfungsi secara maksimal dan terjadi hanya secara bergiliran. Setiap kali satu sisi kokoh maka sisi yang lain akan melemah. Sehingga pengaruh ucapannya berkurang secara drastis. Setiap kita merasakan pertentangan antara kekuatan rasa ketika nuansa rasionalitas menguasai pemikiran kita. Demikian pula sebaliknya.
Siapa pun mengamati secara seksama ungkapan orang-orang, baik dari kalangan filosof, kalangan ahli hikmah ataupun para sastrawan, mereka tidak menemukan kecuali keunggulan di satu sisi dan kelemahan di sisi lain. Kalangan ahli hikmah misalnya, mereka akan menyuguhkan hasil pemikirannya dan intisari pemahamannya sebagai nutrisi akal anda tetapi mereka gagal memberikan rasa sebagai asupan jiwa dan kepuasan batin (wujdan).
Sedang kalangan sastrawan, mereka mampu megutak-atik rasa dan memainkan jiwa anda, namun mereka tidak peduli apakah yang mereka ungkapkan itu kesesatan, petunjuk, kebenaran atau sekedar khayalan. Tampak mereka serius, padahal mereka sedang bercanda. Seolah mereka menangis penuh jeritan, padahal mereka sebenanrnya tak mengerti tangisan, mereka tampak menari, tapi sebenanrnya tidak. Sungguh benar apa kata Allah
وَالشُّعَرَۤاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ في كُلِّ وَادٍ يَهيمُونَ وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ إِلَّا الَّذينَ اٰمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللهَ كَثيرًا وَانْتَصَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا
“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap- tiap lembah dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)? kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezhaliman. Dan orang-orang yang zhalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS Asy-Syu’araa’, 224-227)
Karena itulah, tidak ditemukan adanya seseorang yang mampu memenuhi kepuasan akal kecuali ia gagal memuaskan jiwa dan rasa. Atau dia mampu memberikan kenikmatan jiwa tapi gagal menyuguhkan kenikmatan rasa. Sedang al-Qur’an, Allah telah menggabungkan kedua kehebatan itu di dalamnya ; kekuatan argumentasi rasional demonstaratif hingga tarap kepuasan maksimal, bahkan menohok para professor intelektual rasional maupun kalangan pembesar filosof, kekuatan rasa dan kelembutan jiwa sehingga memuaskan pembesar sastrawan. Itulah firman Allah yang maha agung. Ia tidak fokus ke suatu hal lalu gagal dari sisi yang lain. Dialah yang maha mampu untuk berinteraksi dengan akal dan hati sekaligus dengan satu ungkapan, dengan menyatukan antara kebenaran dan keindahan bahasa sekaligus. Perhatikan misalanya firman-Nya
لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ
Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. (QS al-anbiyaa : 22)
Perhatikan secara mendalam bagaimana bisa menyatu dalam tujuh kata antara, ketajaman preposisi yang sangat meyakinkan, dengan tingkat kejelasan, serta ketajaman deskriftif  yang menunjukkan pertentangan dan kerusakan yang maha dahsyat (bagi bumi dan langit seandainya ada tuhan selain Allah); yang mana, jika dicari padanannya dari ungkapan kalangan filosof dari semua zaman tentu mereka tidak bisa kecuali dengan bahasa yang serba panjang disertai dengan kekeringan rasa, sebagaimana tampak sangat jelas pada argumentasi saling menjegal (dalil tamanu’) yang dideskrifsikan oleh kalangan teolog Muslim. Lalu mereka menjadikan standar ini sabagai dasar argumentasi, namun sayang mereka salah. Perhatikan pula ayat berikut yang mengisahkan seputar Yusuf a.s
وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۚ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ ۖ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ
Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke sini". Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik". Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. (QS Yusuf : 23)
Bagaimana bisa dari celah ayat ini keluar bukti-bukti dmonstratif dan nasehat yang super lembut, yang menusuk jiwa. Perhatikanlah bagaimana diadu antara tiga belitan Iblis: kedududkan istimewa sang wanita (bangsawan), tertutupnya pintu dan kedudukan Yusuf yang rendahan sebagai pembantu atau pegawai domestik untuk sang wanita bangsawa, dengan tiga nada kesucian ; keteguhan memegang iman kepada Allah, sifat amanah dan larangan menzahalimi. Sebuah peraduan (muqabalah) yang menggambarkan dari kisah yang menarik ini debat dan pertentangan keras antara tentara Allah dan pasukan syaithan, lalu meletekkannya di hadapan orang yang berakal sehat pada dua daun timbagan agar memenangkan pilihan yang benar, lalu meneggelamkan opsi setan. 
3.    Salah satu karakteristik debat Qur’ani adalah bahwa dalihnya memiliki kepastian dari sisi keberadaanya, sebagaimana al-Qur’an memiliki status serupa. Karena teksnya ada melaui sistem mutawatir yang mengandung pengetahuan yang meyakinkan sekaligus mendasar. Tidak ada keraguan dan tidak ada perkiraan pada aspek kepastian dalilnya. Sebagimana tidak ada keraguan dan tidak ada perkiraan pada status keberadaan teksnya. Ini dari aspek keberadaan. Demikian pula halnya dari aspek makna dan penunjukannya. Dalil-dalil debatnya juga bernilai pasti karena tujuannya adalah menegaskan kaedah-kaedah keyakinan (akidah), menegaskan dalil-dalil dan bukti-bukti seputar isu-isu akidah tersebut dan menolak logika lawan debat. Itu semua merupakan tujuan utama keberadaan al-Qur’an. Karena itu, maknanya harus sangat jelas, petunjuknya mesti kuat, tujuannya mesti sangat detil agar supaya berfungsi sebagai hidayah bagi orang-orang yang tersesat, menekuk argument para pembangkang, sekaligus sebagai hujjah bagi seluruh manusia. Makanya, tidak ada pertentangan antara petunjuk dengan bukti-bukti yang diajukannya, sebagaimana firman Allah yang menegakan
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS an-Nisaa 82)
Dan tidak ada kelemahan sedikit pun pada kekuatan argumentasi al-Qur’an dan pada kejelasan hujjahnya, sebagaimana informasi dari Allah,
وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ
Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. dan sesungguhnya Al Quran itu adalah kitab yang mulia. (QS Fushshilat :  41-42)
Tidak ada seorang pun di masa lalu dan masa sekarang yang dikenal pernah mengajukan dalil yang benar dan hujjah yang kuat sebagai bentuk penentangan terhadap dalil-dalil dan hujjah al-Qur’an. Malah sebaliknya, yang terdengar adalah ketidakmampuan dan ketidakberdayaan mereka melakukan hal tersebut. Yaitu, manakala mereka menyatakan bahwa al-Qur’an itu adalah sihir dan sya’ir. Padahal, mereka sadar sepenuhnya bahwa al-Qur’an tidak demikian. Sebagaimana kesimpulan Walid bin Mugirah sebelumnya.
Bahkan, mereka yang diklaim al-Qur’an akan terpanggang api nereka, seperti Abu Lahab dan Walid bin Mugirah, tidak ada yang berani menyatakan al-Qur’an itu pembohongan dengan membuktikan kelemahan hujjahnya dan memaparkan kerancuannya –padahal mereka sangat bersemangat untuk menantangnya-
Karena itulah, Abdullah ar-Razi berkata –padahal dia termasuk ilmuan yang menguasai filsafat- pada akhir umurnya, “Saya sudah memikirkan secara mendalam metode argumentasi ilmu kalam dan metode filsafat, saya melihat itu semua tidak akan menghilangkan dahaga dan tidak pula menyembuhkan penyakit. Saya meyakini metode terbaik adalah manhaj al-Qur’an. Bacalah dalam hal penegasan sifat Allah
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
“Yang Maha Penyayang di atas ‘Arsy (singgasana) berada.” (QS Thaha : 5)
إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ۚ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَمَكْرُ أُولَٰئِكَ هُوَ يَبُورُ
Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur. (QS Fathir : 10)
Bacalah dalam hal penafian kelemehan dari Allah ayat berikut
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ
 Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. (QS asy -syuraa 11)
وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا
sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.  (QS Thaha : 110)
sungguh, siapa pun yang telah merasakan seperti pengalamanku maka dia akan menyimpulkan seperti kesimpulanku ini”. [7]
4.    Keistimewaan dan keunggulan argumentasi logis al-Qur’an jika dibandingkan dengan logika Yunani dan logika ahli teologi, bisa ditinjau dari banyak sisi. Yang paling utama adalah :
a. Al-Qur’an turun untuk memberi petunjuk kepada semua jenis manusia. Semua kandungan argumentasi al-Qur’an ditujukan untuk semua level manusia dengan beragam tingkat intelektual dan jangkauan perasaan mereka. Hal ini bertentangan dengan metode para filosof dan ahli kalam dalam hal debat dan argumentasi. Mereka tidak akan bisa dimengerti kecuali oleh kalangan masyarakat tertentu saja; karena adanya ketidakjelasan dan kerancuan dalam berargumentasi serta penjelasan-penjelasan yang sangat panjang dan melelahkan.[8]
b. Al-Qur’an tidak menggunakan metode filosof dan ahli kalam serta istilah-istilah khusus mereka; baik pada bagian mukaddimah (preposisi) dan kesimpulan ketika berargumen dengan sesuatu yang berstatus umum untuk menghasilkan kesimpulan yang parsial pada Qiyas Syumul[9] atau berargumen dengan salah satu bagian terhadap bagian lain pada kasus Qiyas Tamtsil[10] atau dalam berargumen dengan bagian khusus kepada yang umum pada kasus Qiyas Istiqra’[11] karena : [12]
1)   Al-Qur’an menggunakan bahasa Arab dan metode penuturannya pun mengikuti pola bahasa Arab. Metode ini merangkum kedalaman makna dan penggambaran yang sangat detail (akurat) dengan kejelasan makna serta akurasi rangkaian kata dan kalimat, tanpa adanyan kesalahan dalam bentuk uslub ; yang bisa menghidupkan hati dan mengembangkan pengetahuan serta mengarahkan pendangan tanpa mengaitkannya dengan istilah-istilah filsafat yang terhitung jelimet.[13] “Metode paparan al-Qur’an dalam berargumentasi dan mengarahkan rasio dan rasa dalamrangka memahami hakikat terdalam sangat mudah, menyeluruh dan ringkas…kepada semua yang belajar pada al-Qur’an dan semua da’i yang menyebarkan prinsip dan ajaran-ajarannya, hendaklah mereka meniru dan menerapkan metode al-Qur’an dengan pendekatan yang menjauhkan kendala-kendala peristilahan dari pemaparannya yang indah sehingga maknanya tidak tenggelam pada kedalaman istilah-istilah filosofis.” [14]
2)   Karena membangun argumentasi berdasarkan pada fitrah yang mencakup apa yang terlihat dan dapat dindera tanpa menggunakan jalur pemikiran murni yang berliku-liku, jauh lebih besar efeknya dan tinggi nilai argumentasinya.
3)   Karena meninggalkan pemaparan yang lebih jelas (al-Qur’an dan Sunnah) lalu memilih paparan yang serba detil namun gelap (logika filsafat) termasuk kategori rancu yang tidak mudah dimengerti kecuali orang-orang tertentu. Padahal, cara itu bertentangan dengan tujuan syari’at berupa memberikan panduan bagi manusia dan menjelaskan kebenaran kepada mereka. Al-Zarkasyi rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah bahwa al-Qur’an mengandung semua jenis bukti-bukti logis (demonstrasi) dan petunjuk-petunjuk (dalil). Tidak ada bukti, dalil, pembagian dan pembatasan sesuatu dari yang umum secara rasio maupun berdasarkan agama kecuali kitab Allah (al-Qur’an) sudah membahasnya. Hanya saja, Allah mengungkapkannya melalui cara bertutur orang-orang Arab tanpa mengikuti alur yang sangat teliti, yang digunakan oleh para teolog (mutakkalimin). Hal ini karena dua pertimbangan :
§  Firman Allah, “Tidaklah kami mengutus seorang rasul kecuali dengan bahasa kaumnya agar sang nabi itu bisa menjelaskan wahyu itu kepada mereka.” (QS. Ibrahim: 4).
§  Orang yang cenderung menggunakan argument yang sangat detail dan bertele-tele (filosof) adalah mereka yang tidak mampu menegakkan argumen dengan cara yang ringkas. Tentu orang yang mampu memberikan pemahaman dengan sesuatu yang lebih jelas dan dapat dimengerti oleh masyarkat secara umum; tidak akan memilih cara yang kurang jelas, yang tidak dipahami kecuali oleh kalangan tertentu saja. Maka Allah mengungkapkan argumentasi-Nya untuk menegakkan hujjah kepada mahluk-Nya dengan cara yang paling ringkas, mencakup segala hal, termasuk yang paling tersembunyi sekali pun. Agar kalangan umum bisa memahami dengan ungkapan seringkas itu, hujjah-hujjah yang bisa memuaskan mereka sekaligus membuat mereka menerima argumentasi tersebut. Pada saat yang sama, kalangan intelektual bisa mendapatkan ilmu yang setarap dengan kemampuan berpikir mereka…”[15]
c.  Argumentasi al-Qur’an menunjukkan sesuatu dari sisi zatnya. Sehingga argumentasi dan debat al-Qur’an senantiasa menunjukkan hal-hal tertentu (spesifik). Seperti nama-nama dan sifat-sifat Allah, malaikat, nabi, rasul, kitab suci, Arasy, kursi, surga dan neraka, serta peristiwa yang terjadi antara para nabi dengan kaumnya berupa kisah-kisah dan peristiwa khusus yang spesifik. Demikian pula informasi yang diberikan oleh Allah dan rasul-Nya berupa hal-hal masa depan dll, semuanya merupakan hal sepesifik dan tidak termasuk hal-hal yang berkategori umum, yang tidak ada wujudnya kecuali dalam pikiran, yang tidak memustahilkan adanya keserupaan padanya, seperti halnya pemaparan filosof dan argumentasi logis mereka. Proposisi-proposisi (silogisme) yang mereka kembangkan, yang mereka anggap bukti demonstaratif hanyalah sesuatu yang bersifat umum dan tidak menunjukkan sesuatu yang bersifat spesifik.
d. Metode pemaparan al-Qur’an lebih tinggi dibanding retorika (khithabah) dan lebih unggul dibanding logika Aristoteles dan siapa pun yang mengikuti metodenya. Tampak al-Qur’an mengandalkan hal-hal yang indriawi atau sesuatu yang dianggap swabukti, yang tidak mungkin diragukan oleh orang yang sehat akalnya. Di sana tidak ditemukan istilah-istilah filosofis, namun tidak mengurangi ketajaman pemaparan, kekuatan argumentasi dan kebenaran semua yang tercakup di dalamnya; baik itu premis-premisnya  maupun konklusi yang ditawarkan. Anda akan melihat beberapa karakter metode retorika yang mendatangkan contoh yang sempurna, namun susah untuk disebut megikuti metode retorika….Apa pun yang dikatakan orang seputar argumentasi al-Qur’an, intinya bahwa al-Qur’an memiliki metode argumentasi yang mengungguli bukti demonstratif kalangan filosof dan khayalan yang diharapkan memberikan kepuasan serta bukti-bukti retoris.” [16]
Dengan ini diketahui kesalahan orang yang sangat mendewakan logika, yang mengira bahwa al-qur’an menggunakan metode demonstratif, metode retorika (khithobiyah) dan metode debat (jadal). Ini artinya bahwa al-Qur’an mengandung metode argumentasi filosof. Mereka beralasan dengan firman Allah,

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Ajaklah masyarakt menuju Allah dengan hikmah, nasehat yang baik, dan debatlah mereka denagn cara yang baik.” (QS an-Nahl ayat 125)
Ibnu Taimiyah rahmahullah menolak anggapan ini dengan menyatakan, “Anggapan bahwa al-Qur’an sesuai dengan rumusan (prinsip metodologis) mereka tentu tidak benar. Jika ada yang mengatakan, “Tidak ada keraguan bahwa ajaran Rasulullah berupa hikmah, nasehat dan debat lebih jauh berbeda dengan ucapan para filosof ketimbang perbedaannya dengan ucapan kalangan Yahudi dan kalangan Nasrani. Tapi yang kami ingin katakan  adalah bahwa 3 hal yang termaktub di dalam al-Qur’an berupa demonstrasi (burhan) yang benar, retorika  (khutbah) yang tepat dan debat (jadal) yang akurat, sekali pun tidak seperti yang dimaksudkan oleh bangsa Yunani. Karena filsafat tidak membahas masalah materi (tetapi hanya sebatas ide saja), tetapi tujuannya adalah bahwa ketiga hal tersebut mirip dengan ketiga hal yang ada dalam fisalafat Yunani.
Jika ada yang keberatan dan berkata, hal ini juga salah, karena retorika menurut filosof Yunani adalah argumentasi yang premis-premisnya tersusun dari hal-hal yang sudah masyhur, baik sebagai ilmu murni atau pun ilmu yang meyakinkan (karena adanya objeknya). Sedang retorika (wa’az) dalam al-Qur’an maknanya adalah perintah, larangan, motivasi (targib) dan pencegahan (tarhib), seperti firman Allah
وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ  خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا وَإِذًا لآتَيْنَاهُمْ مِنْ لَدُنَّا أَجْرًا عَظِيمًا وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا
Dan sekiranya mereka benar-benar melaksanakan perintah yang diberikan, tentu hal itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), 67. dan jika demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, 68. Dan pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan yang lurus. (QS an-Nisaa : 66-67)
dan seperti firman-Nya, “Apa yang dinasehatkan”, yakni apa yang diperintahkan. Juga bahwa dalam al-Qur’an tidak ditemukan ayat yang berbunyi :
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَالجَدلْ
Artinya, serulah (manusia) kepada jalan tuhanmu dengan hikmah, nasehat yang baik dan debat.
Yang ada adalah
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ
Ajaklah masyarakt menuju Allah dengan hikmah, nasehat yang baik, dan debatlah mereka
Hal ini karena manusia memiliki 3 kondisi; apakah ia mengenal kebenaran dan mengamalkannya atau hanya mengetahui kebenaran tapi tidak diamalkan atau memang mengingkarinya. Yang paling baik tentu yang mengenal kebaikan sekaligus mengamalkannya. Kedua, dia mengetahui kebenaran, tapi jiwanya (syahwatnya) menolak dan tidak sepakat untuk emngamalkannya. Ketiga, orang yang tidak mengetahui kebenaran sekaligus menolaknya. Orang yang berada pada kondisi pertama, dialah yang diajak dengan hikmah. Karena hikmah artinya pengetahuan yang benar yang disertai pengamalan. Manusia ideal adalah yang mengetahui kebenaran sekaligus mengamalkannya, seingga mereka diajak dengan hikmah. Kedua, orang yang yang mengenal kebaikan tapi syahwatnya menolak beramal. Orang sperti ini dinasehati dengan nasehat dan cara yang baik. Inlah kedua cara yan gdirekomendasikan; hikmah dan nasehat. Mayoraitas manusia membutuhkan kedua cara ini. Jiwa memang memiliki syahwat yang terkadang menolak kebenaran,sekali pun ia mengenalnya. Makanya, manusia membutuhkan nasehat yang baik dan hikmah. Sehingga wajib berdakwah dengan kedua cara ini.
Adapun debat (jadal), tentu tidak dijadikan sarana dakwah. Karena debat hanya sebagai sarana menolak orang-orang yang nyiyir. Jika ada orang yang menolak kebenaran, barulah dia didebat dengan cara yang elegan. Karena itulah, Allah berfirman, “Debatlah mereka”. Allah menjadikan perdebatan ini sebagai kata kerja sebagaimana firman-Nya, “Ajaklah”. Bias disimpulkan bahwa perintah-Nya untuk berdakwah dengan penuh hikmah dan nasehat yang baik dan perintah-Nya pula untuk berdebat dengan cara yang paling baik. Dia berkata seputar debat, “Dengan debat yang paling baik”, dan tidak mengatakan dengan cara yang hanya baik saja, sebagaimana perintah-Nya pada masalah nasehat. Hal ini karena debat berisi pembelaan dan suasana emosi yang cenderung tinggi, sehingga dibutuhkan cara yang paling baik agar pembelaan dan saling silang pendapat berjalan dengan baik. Nasehat tidak memiliki makna pembelaan seperti halnya perdebatan. Selama seseorang menerima hikmah atau pun nasehat atau menerima keduanya sekaligus, tentu tidak perlu ada perdebatan. Namun, ketika dia tidak menerima, barulah didiebat dengan cara yang paling baik….” [17]
e.  Al-Qur’an tidak berargumen dalam debatnya dengan preposisi yang sekedar diterima oleh lawan debat semata, sebagaimana yang ada pada metode debat para filosof. Tetapi al-Qur’an menggunakan permasalahan dan preposisi yang diterima oleh semua orang dan mencapai tarap demonstratif. Jika sebagian manusia menerimanya dan sebagian lagi menolaknya, maka al-Qur’an menunjukkan dalil yang menunjukkan kebenarannya, seperti firman Allah,
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَىٰ بَشَرٍ مِنْ شَيْءٍ ۗ قُلْ مَنْ أَنْزَلَ الْكِتَابَ الَّذِي جَاءَ بِهِ مُوسَىٰ نُورًا وَهُدًى لِلنَّاسِ ۖ تَجْعَلُونَهُ قَرَاطِيسَ تُبْدُونَهَا وَتُخْفُونَ كَثِيرًا ۖ وَعُلِّمْتُمْ مَا لَمْ تَعْلَمُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ ۖ قُلِ اللَّهُ ۖ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ
Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: "Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia". Katakanlah: "Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya)?" Katakanlah: "Allah-lah (yang menurunkannya)", kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya. (QS al-An’am : 91).
Pada ayat ini, terdapat informasi bahwa manakala lawan debat mengakui kenabian Musa dari kalangan ahli kitab beserta kalangan yang mengingkarinya yang berasal dari kaum musyrikin, maka ayat meyebutkan firman-Nya
قُلْ مَنْ أَنْزَلَ الْكِتَابَ الَّذِي جَاءَ بِهِ مُوسَىٰ
Katakanlah: "Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa  (QS al-An’am : 91).
Allah telah menjelaskan bukti-bukti yang menunjukkkan kebenaran Musa pada banyak tempat dalam al-Qur’an. [18]
5.    Bentuk lain dari spesifikasi dan karakter debat dalam al-Qur’an adalah bahwasanya jika ia hendak mendebat lawan, hal itu dilakukan dengan cara termudah namun memiliki tingkat akurasi yang kokoh sehingga lawan debat tidak memiliki kesempatan menolak dan melawan, tetapi menerima konsekwensi perdebatan dengan penuh kerelaan. Contohnya adalah pemaparan al-Qur’an seputar kisah Ibrahim a.s ketika ia mendebat orang yang menklaim memiliki sifat rububiyah. Allah berfirman,
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ ۖ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي
Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS al-Baqarah 258)
Metode al-Qur’an dalam mendebat lawan dengan cara termudah banyak ditemukan dalam al-Qur’an, diantaranya :
a)      Menantang lawan debat (tahaddi). Hal ini seperti Allah menantang kaum kafir Qurasiy agar membuat karya serupa dengan al-Qur’an, kemudian ditrunkan menjadi sepuluh surat, lalu ditrunkan menjadi hanya satu ayat saja.
b)      Menyerang lawan debat dengan kata-katanya sendiri dengan menegaskan bahwa argumennya itu malah mematahkan dirinya sendiri, bukan menegaskan atau membela pendapatnya. Contohnya adalah ucapan orang-orang munafik sebagaimana Allah informasikan dalam firman-Nya,
لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ ۚ
"Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya". (QS al-Munafiqun 8)
وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. (QS al-Munafiqun 8)
Allah menerima ucapan mereka bahwa yang kuat akan mengusi yang lemah. Namun siapakah orang yang kuat yang akan mengusir yang lemah ?! tentu yang kuat itu makasudnya adalah Allah, rasul-Nya dan orang-orang beriman.
c)      Menyepakati sebagian premis-premis yang dibangun oleh lawan debat, lalu melanjutkan premis tersebut dengan sebuah kesimpulan yang mematahkan argument lawan itu sendiri. Contohnya adalah firman Allah
قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ قَالُوا إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا تُرِيدُونَ أَنْ تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتُونَا بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ وَمَا كَانَ لَنَا أَنْ نَأْتِيَكُمْ بِسُلْطَانٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Berkata rasul-rasul mereka: "Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan)mu sampai masa yang ditentukan?" Mereka berkata: "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) kami dari apa yang selalu disembah nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami, bukti yang nyata".  Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: "Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal. (QS Ibrahim 10-11)
Para rasul itu menerima premis-premis dan alasan penolakan kaumnya terhadapnya, tetapi mereka (para rasul) itu mengoreksi kesimpulannya dengan berkata,
وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ
akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. (QS Ibrahim 10-11)[19]
6.    Termasuk salah satu karakteristik debat dalam al-Qur’an adalah bahwasanya satu permasalahan yang hendak dijelaskan, terkadang diungkapkan melalui banyak cara. Contohnya, masalah kebangkitan setelah kematian, terkadang disampaikan dengan cara informatif yang dikokohkan dengan suatu sarana penegas (sumpah), sebagaimana firman-Nya,
زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا ۚقُلْ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ ۚوَذَٰلِكَ عَلَى الَّهِ يَسِيرٌ
Orang-orang yang kafir mengatakan, bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: "Tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS at-Tagabun 7)
Terkadang juga disampaikan secara informatif berdasarkan pada kejadian nyata, sebagaimana firman-Nya
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati". Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS al-Baqarah 260)
Terkadang pula disampaikan dalam bentuk debat dengan kalangan penentang hari kebangkitan, seperti firman Allah
أَوَلَمْ يَرَ الإنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ (٧٧) وَضَرَبَ لَنَا مَثَلا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ  (٧٨) قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ (٧٩) الَّذِي جَعَلَ لَكُمْ مِنَ الشَّجَرِ الأخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنْتُمْ مِنْهُ تُوقِدُونَ (٨٠) أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ بَلَى وَهُوَ الْخَلاقُ الْعَلِيمُ (٨١) إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (٨٢) فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (٨٣
Dan tidakkah manusia memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, ternyata dia menjadi musuh yang nyata! 78. Dan dia membuat perumpamaan bagi kami; dan melupakan asal kejadiannyadia berkata, "Siapakahyang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh?" 9.Katakanlah (Muhammad), "Yang akan menghidupkannya ialah Allah yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk, 80. yaitu Allah yang menjadikan api untukmu dari kayu yang hijau, maka seketika itu kamu nyalakan (api) dari kayu itu.”81. Dan bukankah (Allah) yang menciptakan langit dan bumi, mampu menciptakan kembali yang serupa itu (jasad mereka yang sudah hancur itu)? Benar, dan Dia Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. 82. Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka jadilah sesuatu itu. 83. Maka Mahasuci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kamu dikembalikan. (QS Yasin 73-77)
Demikianlah salah satu metode argumentasi logis al-Qur’an. Sebuah masalah diungkapkan dengan beragama cara dengan tujuan agar makin menambah efek kepuasaan terhadap lawan debat dan memberikan banyak peluang hidayah sehingga dapat disesuaikan dengan kecenderungan setiap orang, sekali pun berbeda-beda tujuan mereka dan beragam tingkat intelektualitasnya. Setiap orang akan menemukan dalam al-Qur’an argument yang bisa memuaskan jiwanya, menuntunya kepada kebenaran atau sekedar menghilangkan keraguan serta kebingungannya.
7.    Bentuk lain dari karaktrerisitik debat qur’ani adalah bahwa al-Qur’an seringkali menunjukkan kepada lawan debatnya rasionalitas murni (aqal sharih). Rasio adalah alat paling dibanggakan oleh lawan debat. Sedang al-Qur’an tidak pernah takut pada argumentasi rasional. Karena selamanya –kalau benar dan jelas- tidak akan bertentangan dengan prinsip-prinsip keimanan. Bahkan, al-Qur’an senantiasa mendorong untuk terus berpikir dan melakukan pengamatan serta memberdayakan akal hingga tahap yang paling maksimal. Allah berfirman,
قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍ ۖ أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَىٰ وَفُرَادَىٰ ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا ۚ مَا بِصَاحِبِكُمْ مِنْ جِنَّةٍ ۚ إِنْ هُوَ إِلَّا نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ
Katakanlah: "Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras. (QS saba’: 46)
قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَمَا تُغْنِي الْآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ
Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman". (QS Yunus : 101)
Ada prinsip rasional yang tidak mungkin diperdebatkan lagi seperti keharusan menyatukan semua hal yang sama dan membedakan semua yang beragam, menyatukan hal-hal yang serupa dan memberikan status hukum kepada cabang sesuai hukum asal dan dasarnya dll. Karena itulah, Allah mencela orang-orang yang berdebat tanpa modal argumentasi, baik dari buku yang mumpuni atau pun dari rasio yang benar. Allah menegaskan
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ
Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya, (QS al-Hajj : 8)
Kita mendapatkan banyak ayat yang menuntut agar kita komitmen dengan petunjuk dan hasil kesimpulan akal –tentunya sangat sesuai dengan kesimpulan syari’at- diantaranya firman Allah
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? (QS al-Baqarah: 44)
Alah juga berfirman mengeritisi pengakuan mereka yang menisbatkan diri kepda nabi Ibrahim
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تُحَاجُّونَ فِي إِبْرَاهِيمَ وَمَا أُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ إِلَّا مِنْ بَعْدِهِ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ هَا أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ حَاجَجْتُمْ فِيمَا لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَٰذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا ۗ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ
Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir? Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman. (QS Ali Imran 65)
Nabi Ibrahim a.s. menyatakan kebodohan orang-orang yang menyembah selain Allah yang tak memberi nilai manfaat dan tidak pula menunjukkan kemampuannya mendatangkan bahaya. Beliau menuntut mereka agar menggunakan akalnya
قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?" Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami? (QS al-Anbiyaa : 66)
Kandungan debat Qur’an terhadap prinsip-prinsip mendasar akal murni menjadikannya sebagai hujjah untuk seluruh manusia. Terutama mereka yang terdidik secara utuh dalam gembelengan studi logika dan filsafat atau mereka-mereka yang berafiliasi kepada beragam mazhab keagamaan yang mereka anggap sebagai benar, yang mana, mereka tidak akan beralih kepada yang lain kecuali karena menemukan kepuasan baru. Itulah yang dimiliki oleh debat Qur’ani untuk mereka yang berkategori demikian. Namun itu, jika mereka siap menanggalkan ta’ashub dan sikap keras kepala. 
8.    Bentuk lain dari karakteristik debat qur’ani adalah bahwa tujuan utamanya yaitu memberikan panduan hidayah kepada masyarakat. Itulah semangat utamanya. Tujuan sekaligus cita-cita terbesaarnya. Hal ini berbeda dengan tukang debat, yang memungkinkan mereka memiliki tujuan jelek, seperti keinginan untuk dianggap hebat, sehingga menjadi sebab terjadinya kerusakan di alam ini dan tujuan lain yang telah disebutkan dalam pembahasan seputar perdebatan yang berkategori jelek.
Karena itulah, anda akan melihat al-Qur’an mengakui kebenaran yang ada pada pihak lawan, dengan penuh sopan santun dan sportivitas yang maha agung. Ini terlihat pada firman Allah ketika berbicara seputar ratu Saba’
قَالَتْ إِنَّ الْمُلُوكَ إِذَا دَخَلُوا قَرْيَةً أَفْسَدُوهَا وَجَعَلُوا أَعِزَّةَ أَهْلِهَا أَذِلَّةً ۖ
Dia berkata: "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; (QS al naml  34)
Karena hal ini yang dominan terjadi pada banyak raja-raja, maka Allah mengakui,
وَكَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ
Dan memeng demikian yang mereka (para raja itu) perbuat. (QS al naml  34)
Dalam debat Qur’ani terdapat metode mundur atau cara mengalah hingga tarap menyamakan diri dengan pihak-pihak yang salah terhadap suatu hal yang diperdebatkan. Allah berfirman
وَإِنَّا أَوْ إِيَّاكُمْ لَعَلَىٰ هُدًى أَوْ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. (QS saba’ 24)
dan contoh lain yang umumnya manusia merasa enggan untuk mundur atau mengalah.
Debat al-qur’an tidak semata-mata bertujuan untuk menekuk dan memojokkan lawan debat, tetapi umumnya mengarahkan semua peserta debat kepada hidayah, menuntun mereka menuju kebenaran, mengarahkan pandangan mereka kepada fakta-fakta, dan kandungan alam berupa petunjuk kebenaran dan hakikat keimanan.[20] Itulah kenapa debat al-qur’an disebut-sebut menggunakan cara terbaik (debat plus) dan mengarahkan kaum mukiminin menggunakan metode debat yang sama. Jika ditemukan adanya nada-nada keras dan tegas kepada lawan debat dalam al-Qur’an, maka hal itu bukan karena masalah metode dakwah dan cara umum yang digunakan al-Qur’an. Akan tetapi, hal itu disebbabkan oleh factor tertentu yang memang ada pada diri lawan debat; yaitu ketidaktundukannya kepada kebenaran yang terpampang sgat jelas di hadapannya, dia tidak menggunakan akalnya secara tepat dalam menerima penjelasan yang berjubel dengan beragam bukti, bermacam-macam hujjah yang sangat jelas dan sikap-sikap serupa yang menjurus kepada bentuk pembangkangan. Pengeculian inilah yang bisa dipahami dari firman-Nya
وَلا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ
Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka (QS al-Ankabut : 46)
Prinsip dasar debat al-Qur’an adalah sebagai alat penuntun hidayah bagi mereka yang tersesat, peringatan bagi yang sedang lalai, penagajaran kepada mereka yang tidak tahu, petunjuk bagi yang meminta pengarahan, pemutus bagi jiwa pembangkang yang mencoba mengembangkan sikap mbalelonya sekaligus memutus bahayanya yang bisa merusak orang lain.
Atas dasar inilah sehingga debat al-Qur’an dengan kalangan kaum musyrikin umumnya debat hidayah dan petunjuk (pengarahan) termasuk menyalahkan anggapan-angapan kelairu mereka. Sedang debat al-qur’an dengan kalangan ahli kitab bernuansa menyalahkan dan menyudutkan (ilzam) karena mereka menyembunyikan ilmu yang telah mereka pahami. Sedang debat al-qur’an dengan kalangan kaum muanafik, tampak nuansa keras sangat dominan disertai dengan nada  ancaman serta teguran. Berikut beberapa contoh yang bisa ditampilkan :
A.  Debat al-Qur’an terhadap kaum pagan (musyrik)
إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ عِبَادٌ أَمْثَالُكُمْ ۖ فَادْعُوهُمْ فَلْيَسْتَجِيبُوا لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ أَلَهُمْ أَرْجُلٌ يَمْشُونَ بِهَا ۖ أَمْ لَهُمْ أَيْدٍ يَبْطِشُونَ بِهَا ۖ أَمْ لَهُمْ أَعْيُنٌ يُبْصِرُونَ بِهَا ۖ أَمْ لَهُمْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۗ قُلِ ادْعُوا شُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ كِيدُونِ فَلَا تُنْظِرُونِ إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ ۖ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَكُمْ وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ إِنْ تَدْعُوهُمْ إِلَى الْهُدَىٰ لَا يَسْمَعُوا ۖ وَتَرَاهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ وَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ
Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka mmperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar. Apakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu ia dapat berjalan, atau mempunyai tangan yang dengan itu ia dapat memegang dengan keras, atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat, atau mempunyai telinga yang dengan itu ia dapat mendengar? Katakanlah: "Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)-ku. tanpa memberi tangguh (kepada-ku)". Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh. Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri. Dan jika kamu sekalian menyeru (berhala-berhala) untuk memberi petunjuk, niscaya berhala-herhala itu tidak dapat mendengarnya. Dan kamu melihat berhala-berhala itu memandang kepadamu padahal ia tidak melihat. (QS al-A’raf : 194-198)
Ini adalah model debat yangf cenderung tenang sekali pun berisi nada penantangan, menekuk dan sedikit menyalahkan lawan debat.
B.  Debat al-Qur’an dengan kalangan ahli kitab.
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تُحَاجُّونَ فِي إِبْرَاهِيمَ وَمَا أُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ إِلَّا مِنْ بَعْدِهِ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ هَا أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ حَاجَجْتُمْ فِيمَا لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir? Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. (QS Ali Imran : 65-67)
Di sini kita memperhatikan adanya nada meyalahkan lawan debat (ahli kitab) dan memojokkan mereka karena mereka sebanarnya mengatahui hal yang diperdebatkan, tapi mereka dengan sengaja menyembunyikannya.
C.  Debat al-qur’an terhadap kaum munafikin.
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِنْ لَا يَشْعُرُونَ وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ ۗ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَٰكِنْ لَا يَعْلَمُونَ وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ
Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka: "Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan". Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman". Mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman". Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok". Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. (QS al-Baqarah : 8 - 16)
Debat dengan orang-oran munafik tampak nada-nada keras sangat dominan, karena mereka kafir dengan hatinya sejkali pun mengunmukkan keiamanan denga lidah mereka sebagai upaya pengelabuan dan rasa takut dari pedang-pedang Islam.
9.    Salah satu model debat qur’ani adalah terkdang menggunakan gaya berkisah yang menarik perhatian lawan debat, terutama ketika tema debat seputar nabi yang mereka kenal dan mereka klaim sebagai pengikut dan pengaumnya. Sehingga hujjah menggunakan lisan sang nabi, sehingga hal itu memiliki efek kuat, nada memojokkan yang lebih tinggi dan menekuk argument lawan debat.
Dengan adanya dalil atau argument melalui penututran sang nabi yang diakuai otoritasnya oleh lawan debat; seperti nabi Ibrahim a.s., bagi kalangan bangsa Arab, nabi Musa a.s., bagi kalangan bangsa Israel, sangat memberikan efek kekuatan melebihi kehebatan dalil dan hujjah itu sendiri. Sehingga hujjah makin tegak dari dua sisi; kekauatan argument secara mandiri dan dari sisi ucapan sang nabi yang terpercaya, yang diakui otoritasnya dan diklaim sebagai panutan yang disegani.[21] Contoh kongkritnya, firman Allah yang berbunyi :
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku". Dan (lbrahim a. s.) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu. (QS al-Zukhruf : 26 – 28)
Kadang juga kisah tertentu berbentuk wasiat yang disampaikan sang nabi kepada ummat dan keturunannya. Sehingga lawan debat memahami bahwa dia mengkhianati sang rasul –yang mereka klaim sebagai anutannya- dalam hal wasiatnya dan mereka belum melaksanakan waasiat yang dimaksud.  Allah menegaskan
وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ ۚ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam". Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (QS al-Baqarah : 130-133)
Bahkan terkadang dalil dan arguemtasi bisa saja diungkapkan dalam bentuk penuturan hwan ternak , sehingga sedikit banyak memberikna nuansa lain, tetapi efektif menarik perhatian, sehingga makin menambah kekuatan iman pada hal yang tadinya sempat diingkari oleh mereka yang diberikan karunia akal pikiran oleh Allah Swt. Sebagai contohnya, seperti hujjah yang diungkapkan oleh burung Hud-Hud di zaman kekuasaan raja Sulaiman a.s. allah berfirman
وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لَا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ لَأُعَذِّبَنَّهُ عَذَابًا شَدِيدًا أَوْ لَأَذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطْتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ أَلَّا يَسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُخْفُونَ وَمَا تُعْلِنُونَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ۩
Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: "Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang". Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Tuhan Yang disembah kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai 'Arsy yang besar". (QS an-Naml : 20 -26)
10.    Ciri lain debat Qur’ani adalah adanya pengulangan pada beberapa tempat. Tetapi pengulangan ini sekedar menunjukkan keragaman, namun tetap tidak serupa. Karena itu, jika diperhatikan dengan seksama dan diadakan perbandingan antara kedua jenis perdebatan itu, pasti tampak perbedaannya. Karena memang keragaman itu dimaksudkan untuk tujuan berbeda, sesuai dengan tema yang sedang dibahas. Hal ini jelas pada sesi-sesi perdebatan antara nabi-nabi dengan komunitas kaumnya masing-masing. Sehingga, sebenarnya tidak ada pengulangan apa pun di dalam al-Qur’an. Dalam artian, pengulanagan dengan kesamaan cara pemaparan, cara pelaksanaan, kesamaan tujuan dan kesamaan orang. Yaitu pengulanagan debat dengan kesamaan secara total. Hal seperti ini tidak ada sama sekali dalam al-Qur’an. Tetapi pengualangan itu terjadi dengan pertimbangan tertentu dan dengan argemantasi tertentu pula, yang tidak seperti pertimbangan dan argumentasi yang sama di tempat lain. Hal ini sama seperti layaknya Allah, rasul-Nya dan kitab-Nya menamainya dengan beragam nama. Yang mana, setiap nama menujukkan makna yang berbeda denga nama-nama yang lain. Di sini tidak ada pengulangan sama sekali. Yang ada hanya keragaman. Makanya, Allah menamakan diriNya dengan al-Malik, al-Quddus, as-Salam, al-Mukmin, al-Muhaimin, al-Aziz, al-Jabbar, al-Mutakabbir, al-Khaliq, al-Mushawwir dan nama-nama lain yang serupa. RasulNya pun dinamai dengan Muhammad, Ahmad, Hasyir, Aqib, Muqaffa. Sedang kitabNya dinamai al-Qur’an, al-Furqan, al-Bayan, al-Huda, asy-Syifaa, an-Nuur, ar-Ruh, dll. Setiap nama menunjukkan makna yang tidak terkanadung pada nama-nama yang lain, padahal tetap merujuk kepada satu zat semata.[22] Hal yang sama dikatakan kepada perdebatan yang terulang pada beberapa tempat dalam al-Qur’an. Dengan adanya kesamaan orang-orang yang terlibat dalam sebuah perdebatan, tetapi perdebatan itu berbeda dari sisi pemaparan, pelaksanaan dan tujuan. Hal ini karena perbedaan kategori dan argumentasi yang dipaparkan pada masing-masing perdebatan. Inilah salah satu keunikan dan keistimewaan debat Qur’ani, karena memang itu merupakan firman Allah yang Mahatahu dan Mahamengerti.
11.    Umunya perdebatan itu memancing terjadinya luapan emosi dan rasa dendam. Sikap yang membuat peserta debat semakin berbeda dan menunjukkan permusuhan. Akhirnya, keseimbangan rasio peserta debat terganggu sehingga susah menguasai pikiran mereka. Sehingga peserta debat menjadi terkadang buta dalam suasana perdebatan dan menunggu kesempatan untuk mematahkan musuh setiap saat. Atas dasar inilah, Rasulullah mengingatkan, “Orang hebat itu bukanlah mereka yang mampu menghempaskan lawan ketika bergulat. Tetapi orang yang hebat adalah mereka yang mampu menguasai dirinya ketika sedang marah.” [23]
Al-Qur’an dalam setiap perdebatannya, baik perdebatan itu melalui lidah salah saorang wali-Nya; rajakah ataukah dia seoragn nabi atau salah seorang hamba yang shaleh atau orang yang dipercaya Allah untuk mendebat lawan dengan berusaha mengalahkannya dengan kekuatan hujjah, sangat jauh dari hal-hal yang merecoki pikiran, meracuni keseimbangan rasio sehingga menyebabkan lemahnya orang yang terlibat dalam perdebatan dan membuat yang bersangkutan merasa benci dan seolah ingin menelan lawan debat. Allahlah yang memberikan dukungan (ta’yid) terhadap para wali-Nya dengan hujjah yang kokoh dan menguatkan mereka dengan bantuan yang serba hebat. Allah berfirman seputar nabi-Nya
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).. (QS an-Najm : 3-4)
إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ
Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat) (QS al-Mukmin : 51)
Sedang bentuk-bentuk pertolongan Allah adalah adanya pengokohan hati, dukungan moral, penegasan hujjah dan kemenengan terhadap orang yang mendebatnya.adapun jika salah satu peserata debat adalah Allah maka sungguh cukuplah Allah yang maha menyaksikan segala hal, maha mewakili segala hal dan mahamempertimabangkan segala sesuatu. Dialah yang
يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. (QS al-Mukmin : 19)
وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا
Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah? (QS an-Nisaa : 87)
وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا
dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati peubahan pada sunnah Allah. (QS al-Ahzab : 62)
وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلًا
dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu. (QS Fathir 43)
سُنَّتَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ فِي عِبَادِهِ ۖ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْكَافِرُونَ
Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir. (QS al-Mukmin : 85)

Sumber :  Manhaj al-Jadal wa al-Munazharah Fii Taqrir Masa’il al-I’tiqad, karya : Dr. Utsman ‘Ali Hasan.







[1] Lihat : al-Mu’jizah al-Kubraa, Abu Zahrah, hal. 343.
[2] Kitab al-I’jaz, hal. 42.
[3] Lihat : al-Burhan fi Ulum al-Qur’an, al-Zarkasyi, vol. 2, hal. 108-110.
[4] Lihat : al-Burhan fi Ulum al-Qur’an, al-Zarkasyi, vol. 2, hal. 110.
[5] Lihat : al-Burhan fi Ulum al-Qur’an, al-Zarkasyi, vol. 2, hal. 110-111.
[6] HR Bukhari 9/3 (fath al-Bari), kitab Fadha’il al-Qur’an, bab, kaifa nazala al-wahyu wa awwalu ma nazal, no. 4981
[7] Dar’u Ta’arud al-‘Aql wa al-Naql, vol. 1, hal.160, wa ar-Raddu ‘ala al-Manthiqiyyin, hal. 321.
[8] Lihat : Min Asrar al-Balaqah. Mahmud Syaikhun. Hal. 223.
[9] Qiyas Syumul : keikutsertaan semua bagian pada suatu hukum umum dan ketercakupannya dalam ketetapan hukum tersebut. Lihat : ar-Radd ‘ala al-Manthiqiyyin, hal. 364.
[10] Qiyas Tamstil : menetapkan hukum pada suatu kasus karena hukum tersebut berlaku pada kasus yang lain karena adanya factor (alasan) yang sama. Hal ini disebut cabang yang diberikan status hukum dan sesuautu yang diperoleh darinya hukum asal atau permisalan. Sedang alasan dan factor yang melatarbelakangi hukum tersebut adalah adanya kesamaan alasan dan sebab. Inilah yang dimaksud Qiyas Ushuli atau Qiyas Syar’i. Lihat : Kasyyaf Isthilahat al-Funun, jilid 5, hal. 1193-1194, al-Mu’jam al-Falsafi (Maj’ma al-Lughah al-Arabiyah) , hal. 55.
[11] Istiqraa : menetapkan hukum pada kasus umum karena hukum tersebut berlaku pada bagian-bagiannya atau seluruh anggotanya; baik pada semua bagian yang disebut istiqra tam, atau pada sebagian besar anggotanya yagn dikenal dengan istilah istiqraa masyhur, dengan berpegang pada prinsip kepastian (hatmiyah). Seperti ketika kita mengatakan, “Setiap burung memiliki dua sayap.” Lihat : al-Mu’jam al-Falsafi, Shaliba, jilid 1, hal.71-72.
[12] Lihat : Mabahits Fi Ulum al-Qur’an, al-Qaththan, hal. 299-300.
[13] Lihat : Minhaj al-Jadal, al-Alma’i, hal. 416-417
[14] Al-Qur’an al-“Azhim, ‘Urjun, hal. 283-284. Dengan sedikit penyesuaian
[15] Al-Burhan Fii Ulum al-QUr’an, hal. 24. Lihat pula : Mu’tarik al-‘Aqran, al-Suyuthi, jilid 1, hal. 456.
[16] Al-Mukjizah al-Kubraa, Abu Zahrah, hal. 372-373.
[17] Al-Radd ‘ala al-Mathiqiyyin, hal. 467-468.
[18] Lijat : Majmu al-Fatawaa, vol. 19, hal. 165-166
[19] Lihat : al-Mu’jizah al-Kubraa, hal. 385-386.
[20] Lihat : al-Mu’jizah al-Kubraa, Abu Zahrah, hal. 381.
[21] Lihat : al-Mu’jizah al-Kubraa, hal. 374-375.
[22] Lihat : Majmu Fatawaa Ibnu Taimiyyah, vol. 19, hal. 167 – 168.
[23] HR Muslim, 4/2014, kitab al-Bir wasshilah, bab fadl man yamlik nafsahu inda al-aghadab…