الأربعاء، 27 ديسمبر 2017

CINTA ALLAH, SPIRIT UTAMA HIJRAH



CINTA ALLAH, SPIRIT UTAMA HIJRAH
Oleh. Ust. Idrus Abidin, Lc., M.A.

Hijrah adalah sebuah bentuk perubahan orientasi hidup ; dari syirik menuju tauhid, dari pengaruh setan menuju petunjuk Islam, hingga dari kesesatan dan kebencian Allah menuju taufik, cinta dan ridha-Nya. Ketika manusia belum menjadikan Allah sebagai tujuan hidupnya, maka pasti akan terombang-ambing dalam mengarungi kehidupan. Dia menganggap bahwa hidup sekedar memenuhi selera, mengasah talenta, mengejar cita-cita. Ujungnya hanya materi belaka. Dalam benaknya, spiritual tak berperan apa-apa dalam menggapai bahagia dan mengundang kesuksesan. Padahal, agama mengajarkan, semakin manusia lepas dari petunjuk Allah, lalu mereka merasa sukses menggapai harapan dan cita-citanya, maka sebetulnya dia masuk perangkap setan. Yaitu lalai dalam waktu yang panjang tanpa pernah merasa butuh kepada agama sebagai jalan menuju puncak kesuksesan. Itulah istidraj yang diajarkan oleh al-Qur’an.
Mengenal Allah, Tangga Menuju Kesuksesan.
Sukses versi Islam adalah keberhasilan dalam menggapai harapan dan rasa beruntung karena terhindar dari hal-hal yang tidak diharapkan, yang disertai dengan kecintaan tinggi kepada Allah.  Kecintaan yang mendasari adanya kesuksesan ini dilukiskan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah sebagai berikut, “Cinta kepada Allah, mengenal-Nya (dengan memahami kandungan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna), selalu berzikir kepada-Nya, merasa tenang dan damai (ketika mendekatkan diri) kepada-Nya, mengesakan-Nya dalam mencintai, takut, berharap, berserah diri dan mendekatkan diri (kepada-Nya), dengan menjadikan semua itu satu-satunya yang menguasai pikiran, tekad dan keinginan seorang hamba, inilah surga dunia (yang sebenarnya) dan kenikmatan yang tiada taranya (jika dibandingkan dengan) kenikmatan (dunia). Inilah penyejuk hati hamba-hamba yang mencintai Allah dan (kebahagiaan) hidup orang-orang yang mengenal-Nya. Seorang hamba akan menjadi penyejuk (penghibur) hati bagi manusia sesuai dengan begaimana hamba tersebut merasa sejuk hatinya dengan (mendekatkan diri kepada) Allah. Maka barangsiapa yang merasa sejuk hatinya dengan (mendekatkan diri kepada) Allah maka semua orang akan merasa sejuk hatinya ketika mereka bersamanya. Barangsiapa yang tidak merasa sejuk hatinya dengan (mendekatkan diri kepada) Allah maka jiwanya akan tercurah sepenuhnya kepada dunia dengan penuh penyesalan dan kesedihan” (Kitab al-Wabil ash-Shayyib, hal. 70).
Terpesona dengan Kebaikan dan Kesempurnaan Allah, Jalan Menuju Cinta-Nya.
Kecintaan mahluk kepada sesuatu berasal dari rasa kagum terhadap kebaikan dan kesempurnaannya. Allah adalah pemilik segala kebaikan dan semua bentuk kesempurnaan. Kebaikan, kekuasaan, pesona dan keindahan Allah terangkum dalam rububiyahNya. Rububiyah yang menjelaskan kehebatanNya dalam mencipta, senantiasa mengurusi semua ciptaanNya hingga mereka mendapatkan semua hak-haknya secara adil. Baik dengan memuliakan mereka dengan surgaNya atau pun menghinakan mereka dalam siksaan neraka. Kebaikan dan pesona Allah dalam rububiyah ini secara detail dipaparkan dalam bentuk nama-nama dan sifat-sifatNya yang sangat indah. Sehingga hamba mencintai-Nya dengan sangat dalam hingga sampai tahap menghambakan diri secara total dan dengan penuh keikhlasan kepadaNya.
Pesona rububiyah ini juga menegaskan nama Allah al-Jamil (Yang Mahaindah) al-Wadud (Maha mencintai mahluk-Nya), al-Rahman (Mahapengasih) dan al-Rahim (Mahapenyayang). Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di menjelaskan makna al-Wadud ini dengan menegaskan, “al-Wadud berarti bahwa Allah mengajak hamba-hamba-Nya untuk mencintai-Nya dengan (memperkenalkan kepada mereka) sifat-sifat-Nya yang maha indah, berbagai karunia-Nya yang sangat luas, kelembutan-Nya yang tersembunyi dan berbagai macam nikmat-Nya yang tampak maupun tidak. Maka Dialah al-Waduud yang berarti al-waaddu (yang mencintai) dan (juga) berarti al-mauduud (yang dicintai). Dialah yang mencintai para wali dan hamba yang dipilih-Nya, dan merekapun mencintai-Nya, maka Dialah yang mencintai mereka dan menjadikan dalam hati mereka kecintaan kepada-Nya. Lalu ketika mereka mencintai-Nya Diapun mencintai (membalas cinta) mereka dengan kecintaan (yang lebih sempurna) sebagai balasan (kebaikan) atas kecintaan (tulus) mereka (kepada-Nya).
Maka semua karunia dan kebaikan berasal dari-Nya, karena Dialah yang memudahkan segala sebab untuk menjadikan hamba-hamba-Nya cinta kepada-Nya. Dialah yang mengajak dan menarik hati mereka untuk mencintai-Nya. Dialah yang mengajak hamba-hamba-Nya untuk mencintai-Nya dengan menyebutkan (dalam al-Qur’an) sifat-sifat-Nya yang mahaluas, agung dan indah. Yang mana, semua itu akan menarik hati-hati yang suci dan jiwa-jiwa yang lurus. Karena sesungguhnya hati dan jiwa yang bersih secara fitrah akan mencintai (sifat-sifat) kesempurnaan.
Dan Allah  memiliki (sifat-sifat) kesempurnaan yang lengkap dan tidak terbatas. Masing-masing sifat tersebut memiliki keistimewaan dalam (menyempurnakan) penghambaan diri (seorang hamba) dan menarik hati mereka untuk (mencintai)-Nya. Kemudian Dia mengajak hamba-hamba-Nya untuk mencintai-Nya dengan berbagai macam nikmat dan karunia-Nya yang agung, yang dengan itu Allah menciptakan, menghidupkan, memperbaiki keadaan dan menyempurnakan semua urusan mereka. Bahkan dengan itu Allah menyempurnakan (pemenuhan) kebutuhan-kebutuhan pokok, memudahkan urusan-urusan, menghilangkan semua kesulitan dan kesusahan, menetapkan hukum-hukum syariat dan memudahkan mereka menjalankannya, serta menunjukkan jalan yang lurus kepada mereka…
Maka semua yang ada di dunia ini, yang dicintai oleh hati dan jiwa manusia, yang lahir maupun batin, adalah (bersumber) dari kebaikan dan kedermawanan-Nya, untuk mengajak hamba-hamba-Nya agar mencintai-Nya. Sungguh hati manusia secara fitrah akan mencintai pihak yang (selalu) berbuat baik kepadanya. Maka kebaikan apa yang lebih agung dari kebaikan (yang Allah  limpahkan kepada hamba-hamba-Nya)? Kebaikan ini tidak sanggup untuk dihitung jenis dan macamnya, apalagi satuan-satuannya. Padahal setiap nikmat (dari Allah ) mengharuskan bagi hamba untuk hati mereka dipenuhi dengan kecintaan, rasa syukur, pujian dan sanjungan kepada-Nya” (Kitab Fathur Rahimil Malikil ‘Allam, hal. 55-56).
Indikasi Cinta Kepada Allah.
Kecintaan melahirkan tanda-tanda yang merupakan wujud nyata dari kecintaan itu sendiri. Beberapa ciri kecintaan adalah selalu mengingat yang dicintai, mengaguminya, sering menyebut-nyebut namanya, rela dan siap berkorban untuknya dan penuh rasa khawatir dan harap terhadap yang dicintai. Indikasi demikian muncul setelah adanya upaya untuk mengenal. Dengan perkenalan inilah cinta dengan beragam manifestasinya beserta indkasinya bisa terlihat.
§  Sering Mengingat yang Dicintai.
Rasa cinta yang diliputi kekaguman akan berefek pada seringnya seseorang mengingat yang dicintai. Orang beriman adalah orang yang memiliki cinta yang diliputi kekaguman dan pengagungan terhadap Allah Swt. "Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah." (QS al-Baqarah [2] : 165). Kecintaan inilah yang menggetarkan hatinya ketika nama sang kekasih disebutkan, karena memang hatinya terpaut dengan-Nya dan selalu mengisi relung jiwanya.
§  Kagum Terhadap yang Dicintai.
Cinta Allah memang akan membuat seseorang mengagumi-Nya. Kekaguman biasanya lahir dari kehebatan sesuatu. Dan tidak pelak  lagi bahwa Allah-lah pemilik segala kehebatan. Karenanya, kekagumana hanyalah pantas ditujukan kepada-Nya. Kekaguman yang melahirkan kesiapan untuk menghambakan diri kepada-Nya. Kekaguman inilah yang melahirkan pujian terhadap yang dicintai. Karenanya, Allahlah merupakan Zat yang harus dipuji sebagaimana Ia memuji dirinya sendiri dan mengharapkan para pecinta-Nya untuk memuji-Nya pula.
§  Rela (ridha) Terhadap yang Dicintai.
Cinta yang menggejala pada seseorang akan melahirkan keridha'an terhadap kekasihnya. Orang beriman juga demikian keadaanya terhadap Allah Swt. Keridhaan inilah yang membuat mereka melakukan perintah Allah dengan penuh keikhlasan. Karena kerelaan seperti ini merupakan tanda cinta, Allah Swt. menegaskan pentingnya mencari keridha'an-Nya. Keridhaan Allah lahir setelah sebelumnya orang mukmin pun merelakan Allah sebagai Zat yang dicintainya. Allah Swt. menegaskan, "Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya". (QS. Al-Bayyinah [98]: 8).
§  Siap Berkorban.
Siap berkorban merupakan konsekwensi cinta seseorang terhadap pihak yang dicintai. Sejauh manapun kecintaannya terpatri pada kedalaman sanubarinya, maka sejauh itulah kesiapannya berkorban. Dalam Islam, kesiapan berkorban terhadap Allah berwujud pada pembelaan, advokasi dan menda'wahkan Islam sebagai way of life di tengah peradaban manusia. Allah Swt. menerangkan kesiapan para pecinta-Nya untuk berkorban demi kejayaan Islam dan kaum muslimin, "Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya Karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya". (QS. al-Baqarah [2]: 207).
§  Merasa Khawatir (khauf) Jika yang Dicintai Marah Kepadanya.
Cinta menghasilkan perasaan khawatir bagi sang pecinta jika sendainya sang kekasih merasa tidak senang dengan tindak tanduk yang ditampilkanya. Rasa khawatir ini muncul sebagai akibat dari harapannya yang begitu besar untuk mendapatkan keridha'an kekasihnya. Ketika seorang muslim selalu khawatir jika perbuatannya banyak yang tidak pantas kepada Allah, maka itu artinya mereka merasakan betapa besar cinta dan harapannya terhadap keridhaan Allah kepadanya. Sehingga dalam berdo'a pun mereka tetap merasakan sikap demikian.
§  Mengharap Keridhaan (raja') Sang Kekasih.
Keridhaan sang kekasih merupakan tujuan utama sang pecinta sejati. Berbagai hal dilakukanya dalam rangka mencapai keridhaan yang menyampaikannya kepada rahmat-Nya. Orang mukmin adalah mereka-mereka yang mentargetkan rahmat Allah sebagai ujung kecintaanya kepada Allah. Rahmat yang lahir dari keridhaan Allah terhadap para pecinta-Nya.
§  Mentaati Kehendak Sang Kekasih (tha'ah).
Orang mukmin adalah orang yang mengobarkan kecintaan kepada Allah Swt. dalam sanubarinya. Cinta mereka inilah yang menjadi faktor utama kenapa mereka sangat mentaati aturan-aturan yang ditetapkan oleh Allah Swt. Kesiapan untuk mematuhi segala aturan yang diterapkan oleh sang kekasih merupakan wujud nyata kecintaan yang menggelora dalam sanubari  orang-orang beriman.


Mutiara Do’a
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ
“Ya Allah, Saya memohon agar dapat mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu dan mencintai amal yang dapat mendekatkan diriku kepada cinta-Mu. (HR. Tirmidzi no. 3235 dan Ahmad 5: 243, dan Dishahihkan al-Albani).

BAHAYA DOSA DAN MAKSIAT

Dosa dan maksiat adalah benalu yang menghalangi manusia untuk mendapatkan kesucian fitrahnya. Padahal, kebahagiaan tidak pernah bisa dirasakan kecuali melalui fitrah suci dan ketaatan kepada Allah. Karena itulah, manusia perlu mengenal dampak buruk dosa dan maksiat terhadap pribadi, masyarakat dan seluruh penduduk bumi ini. Beberapa diantaranya adalah :
1.      Dosa Menghalangi Ilmu dan Pemahaman.
Kebaikan manusia berawal dari ilmu dan pemahaman yang benar terhadap diri dan hal-hal yang ada di sekitarnya. Hal-hal tersebut seperti pemahaman tentang Allâh, manusia, kehidupan, akhirat dan hakikat-hakikat besar lainnya. Ketika manusia terlumuri oleh noda dosa, maka semua hakikat tersebut di atas pasti luput dari dirinya. Ia senantiasa lalai hingga tahap melupakan dan tidak mengenal dirinya sendiri. Umur terbuang begitu saja tanpa ada tujuan hidup yang jelas. Kebahagiaan yang dicari tak kunjung tiba di depan mata, apalagi terasa di hati.

MUSLIM UTUH TANPA TAHUN BARU



MUSLIM UTUH TANPA TAHUN BARU

Oleh : Ust. Idrus Abidin, Lc.. M.A
Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah al-Manar (STIS) Jakarta

Pendahuluan.
Kehidupan manusia di bumi ini bermula dari otoritas tauhid dan hidayah yang dikembangkan oleh Nabiyullah Adam a.s. beserta istrinya, Hawwa. Seiring dengan gerak zaman, mulai terjadi penyimpangan sehingga datanglah era mitos dan zaman kegelapan. Lalu Allah mengutus kembali seorang nabi atau pun rasul untuk mengembalikan manusia kepada agama. Demikianlah Islam memandang sejarah kehidupan. Awalnya adalah fase agama lalu disusul oleh masa-masa mitos, di mana masyarakat menjauh dari agama. Mereka terkungkung dalam segala bentuk tradisi, keyakinan, dan budaya yang menyimpang.
Termasuk produk budaya sekuler yang hari ini menjadi bagian dari komsumsi masyarakat dunia tanpa terbatasi lagi oleh sekat-sekat agama, budaya dan keyakinan adalah perayaan momen-memen tahun baru. Masyarakat keluar ke pantai-pantai, tempat pelesiran, hingga ke kampung-kampung dengan perasaan bahagia dan ceria, disertai dengan kemeriahan bunyi terompet dan kilauan kembang api. Bahkan disertai pula dengan hingar bingar  konser dan alunan musik. Lalu bagaimana Islam memandang perayaan tersebut ?
Islam, Puncak Hidayah.
Islam adalah agama yang menjadi standar kebenaran normatif. Direkomendasikan oleh Pemiliki Alam semesta ini sebagai agama resmi di dunia dan di akhirat. Dari sejak Adam hingga era masing-masing- nabi dan Rasul, Islamlah yang menjadi tugas kenabian dan kerasulan mereka. Bahkan, ketika berhadapan dengan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), yang juga merupakan ajaran Allah di zamannya, tetap saja Islam yang didukung secara total dalam beragam ayat-ayat al-Qur’an. Lihatlah surat al-Baqarah ayat 41 tentang perintah agar bani Israel mengimani al-Qur’an dengan ikut serta melaksanakan shalat dan membayar zakat. Juga perhatikan betapa Allah mengeritisi klaim sepihak Yahudi yang merasa tidak akan masuk neraka kecuali beberapa hari (al-Baqarah ayat 80). Intinya, baru sebatas surat al-Baqarah saja, Allah sudah menjelaskan sejarah penyimpangan, sikap keras kepala dan kebobrokan ahlak Yahudi dan kaum Nasrani; baik pada  zaman nabi Musa hingga yang sezaman dengan Rasulullah Saw.
Bahkan, Rasulullah sendiri sebagai pemimpin agama terakhir ini, dilarang keras mengikuti hawa nafsu jelek Yahudi dan Nasrani, apalagi agama yang bukan dari kalangan ahli kitab. Jika langkah-langkah Yahudi dan Nasrani ini dikuti oleh Rasulullah, padahal sudah jelas pengarahan Allah kepadanya, Allah mengancam tidak akan lagi menjadi pengarah, penunjuk, penasihat (wali) dan penolong (nashir) bagi Rasulullah. Sebuah bahasa keras yang bernada ancaman. Pantaslah Allah senantiasa menegaskan, “Masuklah ke dalam Islam secara total dan jangan sekali-kali mengikuti langkah-langkah syetan. Karena setan adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (QS al-Baqarah: 208)
Artinya, sebagai muslim yang benar kita harus merasa puas dan merasa cukup dengan aturan dan pengarahan Islam. Kita tidak boleh merasa rendah diri dengan tradisi dan budaya yang telah diajarkan secara langsung oleh Allah dan rasul-Nya. Bahkan, seharusnya kita merasa bangga dengan status keislaman dan semua ajaran-ajaran yang ada di dalamnya.
Larangan Menyerupai Agama dan Budaya Lain
Karena Islam merupakan standar mutlak kebenaran, muslim dilarang menyerupai tradisi yang ada di luar Islam. Karena sikap meniru budaya dan tradisi agama lain akan mengakibatkan lahirnya rasa kasihsayang dan kecintaan kepada sang pemilik kebudayaan tersebut. Padahal, Islam melarang kita berkasihsayang dengan pihak-pihak yang memusuhi Islam. (Lihat QS al-Mujadilah ayat 22). Terkait tahun baru, minimal ada beberapa alasan yang bisa dijadikan dasar penolakan, misalnya :
·      Perayaan tahun baru menjadi sarana mencampuradukkan antara yang hak dan yang batil.
·      Mengandung propaganda yang mengarahkan kepada kekufuran, kesesatan dan fermisivisme.
·      Merayakan tahun baru berarti meniru tradisi dan budaya non muslim. Padahal, Rasulullah telah melarang kita meniru tradisi non Muslim. “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud. Dishahihkan oleh al-Albani dalam kitab Irwa’ul Ghalil no. 1269)
·      Bahkan dari sejak awal Rasulullah menegaskan keharusan berislam dan mewanti-wanti akan adanya generasi yang merasa rendah diri sehingga mudah mengikuti tradisi agama lain tanpa sikap kritis. Beliau pernah menginformasikan, “Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah, “Apakah mereka itu mengikuti tardisi Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Kalau bukan mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari no. 7319)
·      Melakukan amalan tanpa ada tuntunan dan petunjuk dari Islam. Padahal Rasulullah menegaskan, “Barang siapa yang mengada-adakan amal dalam agama ini padahal bukanlah bagian dari agama maka amal tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
·      Terjerumus dalam perzinahan. Betapa malam tahun baru seringkali dimanfaatkan oleh muda mudi, bahkan orang-orang yang sudah berkeluarga sebagai peluang untuk berhubungan seks dengan pasangan yang tidak halal. Padahal, peluang perzinahan ini senantiasa terbuka sekali pun manusia tidak terlibat dalam percampuradukan antara lelaki dan perempuan (ikhtilat). Rasulullan bersabda, Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)
·      Mengganggu ketertiban umum. Dalam Islam, wilayah publik adalah ruang yang tidak boleh begitu saja digunakan tanpa izin dari masyarakat umum. Makanya, Rasulullah melarang ummatnya sering nongkrong di pinggir jalan. Apalagi, pada malam tahun baru, suara-suara keras terompet hingga suara bising petasan begitu menggema. Padahal mengganggu muslim lainnya adalah terlarang sebagaimana sabda Rasulullah, “Seorang muslim adalah mereka yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain.” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 41)
·      Melakukan pemborosan. Padahal Allah Swt. telah berfirman, “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. al-Israa’: 26-27)
·      Merayakan tahun baru termasuk membuang-buang waktu. Padahal waktu sangat dibutuhkan untuk hal yang bermanfaat dan bukan untuk hal yang sia-sia. Nabi telah memberi nasehat mengenai mutu dan kualitas keislaman seseorang, “Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah kemampuannya meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih wa Dha’if  Sunan Tirmidzi). Seharusnya seseorang bersyukur kepada Allah dengan nikmat waktu yang telah Dia berikan. Mensyukuri nikmat waktu bukanlah dengan merayakan tahun baru. Namun mensyukuri nikmat waktu adalah dengan melakukan ketaatan dan ibadah kepada Allah. Itulah hakikat syukur yang sebenarnya. Orang-orang yang menyia-nyiakan nikmat waktu seperti inilah yang Allah cela  dalam firman-Nya,“Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?” (QS. Fathir : 37).
Reformasi Budaya
Pada saat Rasulullah memimpin peradaban Islam di Madinah, beliau melakukan langkah-langkah reformasi di segala bidang. Termasuk di antaranya penegasan status amalan islami tanpa ada unsur keserupaan dengan budaya dan kebiasaan non muslim. Hal ini bisa dilihat pada bebarapa kasus berikut :
·      Disyari’atkannya makan sahur. Kalangan ahli kitab juga diwajibkan pada zamannya untuk puasa. Namun puasa mereka tidak disertai dengan anjuran makan sahur. Makan sahur sebelum puasa murni sebagai ciri khas ajaran Islam sebagai upaya membedakannya dengan tradisi Yahudi dan Nasrani. Rasulullah bersabda, “Pembeda antara puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah dalam hal makan sahur.” (HR. Muslim no. 1096)
·      Dianjurkannya mencukur kumis dan memelihara jenggot agar bisa menyelisihi tradisi kaum musyrikin. Sabda Rasulullah, Selisihilah orang-orang musyrikin: cukurlah kumis dan peliharalah jenggot”. (HR. al-Bukhari, no. 5553 dan Muslim, no. 259)
·      Larangan menjadikan kuburan para pembesar sebagai tempat ibadah (masjid). Sabda Rasulullah, “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menjadikan kubur-kubur para nabi dan orang-orang Saleh mereka sebagai masjid. Ketahuilah, janganlah kalian menjadikan kubur-kubur sebagai masjid, karena sesungguhnya saya melarang kalian dari hal tersebut”. (HR. Muslim no. 532)
·      Peralihan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah.
·      Penetapan idul fitri dan idul Adha sebagai hari raya resmi kaum muslimin dan pelarangan terhadap perayaan lain seperti perayaan tahun baru. Anas bin Malik bercerita, “Ketika Rasulullah Saw. tiba di kota Madinah dan mereka memiliki dua hari yang mereka rayakan tiap tahun dengan beragam perlombaan, maka Rasulullah Saw. bertanya “Dua hari apakah ini?”, mereka menjawab: “Kami dahulu sering mengadakan perlombaan pada  kedua hari itu  di masa jahiliah. Beliau bersabda, “Sungguh Allah Swt. telah menggantikan hari raya kalian itu dengan dua hari raya yang jauh lebih baik, yaitu hari raya idul fitri dan hari raya idul adha.” (HR. Ahmad)
Dengan beberapa contoh tersebut, makin jelas bagi kita urgensi mengenal dan komitmen dengan produk budaya kita sendiri. Selain beberapa bentuk reformasi sistem ibadah tersebut di atas, juga perlu adanya pemahaman seputar penanggalan dan penetapan waktu dalam tradisi Islam. Jika non muslim menetapkan standar penanggalan berdasarkan perputaran matahari maka Islam menjadikan siklus bulan sebagai standar penanggalan. Bedanya, bulan memiliki perbedaan besar kecil setiap malam sehingga mudah ditebak tanpa harus melihat kalender. Bedanya lagi, jika pada sistem matahari, jam 00.00 ditetapkan pada pukul 24.00, maka peralihan tanggal dan istilah pagi mulai dari tengah malam. Pantas kalau jam 1 malam disebut sebagai awal jam pertama. Semantara dalam Islam, awal pergantian tanggal dimulai dari waktu magrib. Sehingga jam 00.00 Islam adalah pas pukul 18.00. Seharusnya, berdasarkan aturan Islam, pukul 19.00 baru jam 1 dalam perhitungan waktu keislaman. Belum lagi ditambah dengan kalender hijriah dan pemahaman makna hari dalam Islam. Dalam Islam, hari ahad adalah hari pertama. Bukan akhir pekan seperti yang dipahami masyarakat hari ini. Semua itu perlu reformasi pemahaman dan sikap dari kita kaum muslimin. Sehingga keislaman kita menjadi utuh tanpa tercampur budaya lain yang jelas-jelas menyelisihi budaya asli Islam. Wallahu a’lam.

Categories

About Us

There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form.

نموذج الاتصال