Thursday, April 18, 2019

Manfaat Tadabbur dengan Penciptaan Langit

Manfaat Tadabbur dengan Penciptaan Langit

➖➖➖➖➖➖➖📒

(Serial ke-7 Fenomena Keagungan dan Kehebatan Rububiyah Allah di Alam Raya)

By. Idrus Abidin.

♻♻♻♻♻♻♻♻♻

Area langitMu yang sangat luas memancing nalarku untuk terus bertanya penuh rasa penasaran, hikmah apa yang bisa kupetik dari langit yang serba mewah? Kutemukan bahwa hikmah mulia yang memberiku rasa puas dan nilai spiritual adalah : 

1⃣ Penciptaan Langit Jauh lebih Unik Dibanding penciptaan Manusia. 

Sebagai manusia, kami sering kali lalai dan ogah untuk taat dan patuh kepadaMu. Padahal, langit dengan sejumlah kerumitannya tetap saja patuh sepenuhnya pada aturan dan takdirMu. (QS al-Mukmin [40] : 57) Walaupun kuakui, takdirMu terhadap langit murni sebagai takdir kauni (alam dan sistem yang tak memiliki kehendak dan pilihan). Sedang takdirMu padaku berpadu antara takdir kauni dan takdir syar'i. Takdir yang mengatur syari'at dan tata aturan kehambaanku padaMu sebagai makhluk dengan kemampuan memilih; antara taat penuh cinta dan maksiat tak tahu diri. Maka dengan nada penuh pertanyaan retoris, Engkau menegur kami penuh ketegasan, "Apakah engkau Merasa wahai manusia sebagai makhluk yang paling sulit dicipta ataukah langit justru jauh lebih susah ?! Allah Ta'ala telah meninggikan langit dan menyempurnakan kejadiannya. Malamnya dibuat gelap gulita, sedang siangnya berbalut dengan terang benderang (QS an-Nazi'at [79] : 27-29)

2⃣ Argumentasi langit merupakan langkah ke-2 para nabi setelah berargumen dengan fitrah dalam tugas dakwah mereka. 

Karena begitu agungnya penciptaan langitMu, para nabi dan rasul pun berargumen dengannya dalam dakwah mereka. Argumentasi langit mereka tempuh setelah fitrah kami tertutupi oleh noda pekat dosa dan maksiat. Dengan harapan, fakta-fakta keunikan langit itu menembus kesadaran spiritual kami dan menyentak kelalaian berkepanjangan jiwa kami yang telah lama ditimpa kemarau panjang kesyirikan, keringnya kemunafikan dan lumpur kekafiran. Maka pantaslah, ketika kami tak mengerti dan tak sadar pula, Engkau menceritakan argumen nabi dalam kitab suciMu, "Apakah Allah Ta'ala pantas diragukan?! Bukankah Dia pencipta langit dan bumi? Yang senantiasa mengajak kalian agar kalian mendapatkan pengampunan dari dosa-dosa kalian?! Bahkan Dialah yang menunda (azabNya dari kalian sekalipun dosa kalian sudah menggunung) dan memberi kesempatan (umur) kepada kalian hingga masa tertentu. (QS Ibrahim [14] : 10)

3⃣ Langit Mencerminkan nasehat dan karenanya Allah Ta'ala menyuruh manusia mentadabburinya.

Karena nasehat adalah substansi Islam, maka semua hal yang memberi taujih, ta'dib dan pendidikan; termasuk fenomena langit Engkau arahkan kami untuk banyak-banyak mencari nasehat dan cerminan darinya. Dengan penuh pengarahan, Engkau menuntun kami, "Lihatlah apa yang ada di langit dan di bumi !!! (Sebagai bukti kekuasaan dan kebesaranKu). Walaupun nasehat dan bukti-bukti tersebut tidak berbekas dalam jiwa orang-orang yang tidak berbekal iman". (QS Yunus [10] : 101)

4⃣ Orang-Orang yang aktif memperhatikan penciptaan langit dan bumi agar imannya terus bertumbuh (Ulul Albab), dipuji terus oleh Allah Ta'ala. 

Karena diriMu bisa kukenal melalui tulisan dan bacaan (Qur'an) serta pengamatan terhadap fenomena ciptaanMu seperti langit dll, maka pujianMu terus Engkau tunjukkan kepada mereka yang aktif meneliti, sering-sering mengamati, terus meneropong bentuk-bentuk rububiyahMu di alam sekitar. Sehingga mereka menjadi manusia yang sensitif hatinya terhadap petunjuk, ketaatan dan kecintaan padaMu (Ulul Albab). Yaitu kalangan kami yang senantiasa mengingatMu dalam segala kondisi, pada setiap jengkal ruang, di segala bidang kehidupan. Tatkala mereka berdiri, duduk dan saat mereka berbaring. Namun, terus terpikir olehnya hikmah di balik penciptaan langit, bumi, siklus pergantian siang dan malam. Hingga mereka berkesimpulan, sungguh tidak ada kekurangan dalam setiap detil ciptaanMu ya Allah. Maha suci diriMu dari kekurangan. Maka, jauhkanlah kami dari api neraka akibat lalai dariMu. (QS. Ali Imran [3] : 191)

5⃣ Celaan terhadap orang-orang kafir yang tidak memahami nilai argumentasi dan nasehat yang terdapat di langit dan semua struktur alam semesta. 

Mereka yang bebal hati, indera dan semua perangkat pengetahuannya, sehingga tidak memahami maksud dan tujuan langitMu dicipta, bumiMu diadakan dan kehidupan ini terjadi Engkau cela sebagai orang buta, tuli, bebal, bisu bahkan mati suri. Dengan tegas Engkau berondong mereka dengan pertanyaan penuh selidik. Pertanyaan teguran yang tak butuh jawaban. Tapi hanya butuh pengakuan salah ; taubat dan istighfar. "Tidakkah orang kafir memperhatikan secara seksama langit yang ada di atas mereka ?! ; bagaimana kami menciptakannya dengan posisi  serba tinggi, dilengkapi dengan beragam hiasan indah menarik hati layaknya planet, bintang, matahari dan bulan. Kami lengkapi pula dengan fitur-fitur canggih seperti penerangan tanpa ada sedikitpun celah dan kekurangan. Bumi dihamparkan sedemikian rupa agar cocok untuk ditempati hidup tanpa sesak napas dan himpitan cuaca ekstrim. Dikuatkan dengan paku raksasa seperti gugusan pegunungan. Bahkan, tetumbuhan yang beragam jenis menghiasi bumi dengan warna warni menarik nan alami. Semua itu bisa membuka mata, menjewer telinga bebal dan menyentuh hati orang-orang yang berhati lembut. (QS Qaaf [50] : 6-8)

6⃣ Penegasan bahwa langit dan bumi diciptakan dengan tujuan dan maksud yang jelas. Sekaligus penolakan terhadap anggapan bahwa langit dan bumi tercipta tanpa kesengajaan, tak bertujuan serta tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Untuk menegaskan tujuan di balik setiap unit ciptaanMu, Engkau menggunakan 2 metode. Keduanya adalah ciri khas argumentasi wahyuMu yang kami kenal lewat tuturMu dalam kitab suci. Pertama, Metode penegasan (kalimat positif) tanpa diawali oleh kata tidak atau bukan. Seperti penegasanMu, "Allahlah yang menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang jelas dan dengan penuh kesengajaan. Dan, pada penciptaan langit dan bumi itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang beriman". (QS al-Ankabut [29] : 44)
Kedua, metode penafian (nafy) dengan kata tidak atau bukan. Engkau menafikan dengan tegas bahwa, "Tidaklah kami ciptakan langit dan bumi beserta isinya kecuali dengan tujuan yang jelas dan dengan penuh kesengajaan. Sungguh hari kiamat pasti datang, maka maafkanlah orang-orang yang bersalah (seperti kamu berharap dimaafkan Allah di hati kiamat nanti)." (QS al-Hijr [15] : 85)

Artinya, alam semesta ini beserta setiap perangkat dan semua fasilitasnya tidaklah Engkau adakan sekedar sebagai mainan; tanpa maksud dan tujuan. Seolah semuanya ada sekedar hiburan dan senda gurau semata. Padahal, semuanya dicipta dengan tujuan maksimal. Melalui proses :

📝‌ Perencanaan matang (qadar) berdasarkan pengetahuanMu  yang maha sempurna.
📝 ‌Pencatatan secara seksama oleh pena khususMu di papan istimewa (lauh Mahfudz)
📝 ‌Perizinan dariMu sendiri.
📝‌ Penciptaan secara real di dunia nyata dengan tanganMu dan firmanMu (Kun fayakun)

Sebuah proses kesengajaan yang mendasari keberadaan setiap makhlukMu, kesengajaan dan maksud dan tujuan khusus yang terus mengawal keberlangsungannya hingga tetap fokus pada tujuan, maksud dan kebenaran yang dituju. 

✒ ‌Kebenaran yang menjadi pencetus awalnya adalah kesengajaanMu dalam menciptakannya dengan pengetahuanMu yang mencakup segala hal dan hikmahMu yang tak diragukan kecuali orang-orang yang miskin kemanusiaan.

✒‌ Sedang kebenaran yang terus mengawal proses keberlangsungan dan menyertai setiap langkahnya adalah hikmah, maslahat dan manfaat yang Engkau benamkan padanya dan semua isyarat dan tanda-tanda yang menunjukkan diriMu dengan segala sifat dan karakter keagunganMu. 

✒ ‌Sedang tujuan utamaMu dalam penciptaan alam semesta adalah : 

📌 1. Tujuan awal bagi hambaMu : agar mereka mengenalMu sebagai penciptanya dan tunduk patuh padaMu dengan penuh kecintaan. 
📌 2. Tujuan akhir untuk hambaMu pula  adalah : agar Engkau memberikan mereka nikmat tak terkira dan tak berbatas dengan penuh kasih sayangMu bagi mereka yang berkembang sesuai dengan tujuan penciptaan. Dan, mengadili mereka yang melenceng dan tersesat dari tujuan; dengan keadilanMu yang berpadu terus dengan kebijaksanaan dan kasih sayangMu.

Maka, Engkau selalu menegaskan tujuan, hikmah dan manfaat ini secara mutlak pada 3 kategori :

♻ A. Tujuan penciptaan langit dan bumiMu adalah dalam rangka mengesakan diriMu. "Allah menciptakan langit dan bumi dengan sengaja dan untuk sebuah tujuan yang jelas. Sungguh Allah maha tinggi dari sekutu rendah yang disandingkan manusia denganNya." (QS. an-Nahl [16] : 3)

♻ B. Hari kiamat, keadilan dan balasan. "Allah menciptakan langit dan bumi dengan sengaja dan tujuan yang benar agar semua manusia dan jin diberikan penghargaan dan balasan sesuai dengan perbuatan mereka tanpa ada sedikitpun yang dirugikan." (QS al-Jatsiyah [45] : 22)

♻ C. Makhluk menunjukkan DiriMu sebagai penciptanya.  "Sungguh pada Penciptaan langit dan bumi serta perputaran siang dan malam;  terdapat bukti-bukti keagungan Allah bagi orang-orang yang berhati bersih". (QS Ali Imran [3] : 290)

Maka, kesimpulan besarMu untuk kami  dengan nada pertanyaan retoris yang berpadu dengan teguran kerasMu adalah

أفَحَسِبْتُمْ أَنَّما خَلَقْناكُمْ عَبَثاً وَ أَنَّكُمْ إِلَيْنا لا تُرْجَعُونَ    فَتَعالَى اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لا إِلهَ إِلاَّ هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَريمِ

Apakah kamu menyangka bahwa itu semua Kami ciptakan dengan sia-sia, dan  kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami ?! Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenamya. Tidak ada Tuhan yang pantas disembah melainkan Dia. Tuhan penguasa 'Arsy yang mulia. (QS. al-Mukminun [23] : 115)

Semoga kami terus Engkau jaga dengan syari'atMu ya Allah. Sebagaimana para nabi, Shiddiqin, syuhada dah orang-orang shaleh Engkau jaga dengan baik. Aamiin. 

Jakarta, 20 Maret 2019.

🌷🌷🌷🌵🌵🌵🍄🍄🍄

Ikuti update status nasehat dari kami via :

1. FB : Idrus Abidin
3. YouTube Channel : Gema Fikroh.
4. Telegram Channel : Gemah Fikroh.

Langit Melukiskan Allah Sebagai Pencipta dan Pengaturnya.

Langit Melukiskan Allah Sebagai Pencipta dan Pengaturnya. 

(Serial ke-6 Seputar Keagungan dan Kehebatan Allah di Alam Raya)

By. Idrus Abidin.

Setelah kutelusuri kehebatanMu pada fitrah suciku, fenomena awan dan hujan, biji-bijian dan tumbuhan serta dunia manusia;  kini kucoba menengadah ke langit dengan harapan agar kuperoleh alasan lain untuk senantiasa mencintai zatMu,  mengharap ridhaMu dan takut pada siksaMu. Ternyata, langit itu menyimpan rahasia-rahasia spiritual yang membuka tabir harapan, mengandung nuansa masa depan yang penuh keceriaan dan melukis kehebatanMu tiada terkira. 

Makna Istilah Langit.

Langit adalah simbol ketinggian. Dihuni oleh para malaikatMu yang tak kenal maksiat. Bahkan, ketika mikraj Rasulullah bertemu dengan nabi-nabiMu terdahulu pada tiap-tiap tingkatan langit. Maka langit adalah area yang luas dan tinggi. Memiliki 7 tingkatan dan dilengkapi dengan pintu-pintu. Ketika al-Fatihah dibawa turun oleh salah satu malaikatMu, Jibril alaihissalam sedang duduk bersama nabi. Lalu terdengar suara gemuruh, sehingga Jibril menengadah ke langit. Maka, komentar beliau, "Inilah salah satu pintu langit yang baru hari ini terbuka. Lalu dari celahnya keluarlah salah satu malaikat yang belum pernah turun ke bumi sebelumnya. Dengan segera dia datang menyalami Rasulullah dan berkata, "Berbahagialah wahai Rasulullah dengan dua cahaya yang diberikan secara khusus padamu. Belum ada seorang nabi dan rasul pun yang pernah diberikan cahaya yang sama sebelum kamu; awal pembuka Al-Qur'an (al-Fatihah) dan penutup surat Al-Baqarah". (HR Bukhari)

Kandungan Argumentasi Langit.
 
Sungguh langitMu begitu agung kandungannya. Sehingga ia merangkum dua jenis argumentasi yang luar biasa. Pertama, argumentasi Wahyu yang mengisi batin kami dengan nuansa keimanan. Kedua, argumentasi rasional yang memuaskan indra kami dengan bukti-bukti kehebatanMu dan bekas-bekas keagunganMu. Maka, dengan enteng Engkau bertanya dengan nada retoris, "Siapakah penguasa tujuh susun langit dan siapa pula penguasa Arasy yang begitu besar?! (QS al-Mukminun : 86)

Argumentasi Wahyu.

Wahyu memberi kami informasi valid bahwa langit itu, secara hirarkis mencakup : 
1. Allah.
2. Arasy.
3. Air (ma'a)
4. Kursy (tempat kedua telapak kaki Allah)
5. Langit ke-7
6. Langit bumi. 

Keimanan kami sungguh tergugah membayangkan luasnya makna spiritual langitMu. Susunan hirarkis langitMu, di mana Arasy adalah makhluk terbesar;  kami dapatkan dari informasi nabiMu, "Jika kalian minta sesuatu kepada Allah maka mintalah surga Firdaus. Sungguh surga Firdaus itu adalah tingkatan surga terbaik dan tertinggi. Di atasnya terdapat Arasy Allah." (HR Bukhari)
Tentang gambaran besarnya masing-masing makhlukMu yang terdapat di langit itu kami peroleh dari informasi Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menuturkan, "Sungguh tujuh susun langit dan tujuh susun bumi beserta semua isinya jika dibandingkan dengan besarnya Kursi maka kisarannya seperti uang koin di tengah hamparan luas yang tak bertepi. Sedang kursi dengan segala isinya, jika dibandingkan dengan Arasy Allah; hanya seperti uang koin yang berada di tengah hamparan tanah yang tak terbatas." (HR Baihaqi dan Abu Nuaim)
Sedang jarak masing-masing makhluk langit itu kami temukan gambarannya dari penuturan Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu, ia melukiskan, "Jarak antara langit dunia dan langit di atasnya kisaran  perjalanan 500 tahun. Jarak antar masing-masing langit sekitar perjalanan 500 tahun. Jarak antara langit ke-7 dengan Kursi juga sejauh perjalanan 500 tahun. Jarak antara Kursi dan Air juga sejauh perjalanan 500 tahun. Arasy berada di atas Air. Sedang Allah berada di atas Arasy. Sungguh tidak ada perbuatan kalian yang tersembunyi dari Allah." (HR Ibnu Khuzaimah dalam kitab at-Tauhid. Dishahihkan oleh Ibnu Qayyim dalam kitab Ijtima  al-Juyusy Al-Islamiyah).

Argumentasi Rasional Langit dalam Penuturan Al-Quran. 

LangitMu mengandung argumentasi rasional yang membuat imajinasi kami senantiasa menyadari kebesaranMu. Bahwa dia bukanlah sekedar hamparan ketinggian tanpa nilai-nilai spiritual; seperti keyakinan picik kaum sekuler, kaum pagan dan semua orang-orang kafir. Indra kami menatap langit awalnya hanya sekedar materi. Namun dengan penuturan wahyuMu yang serba rasional; kami terpacu mendalami apa yang telah Engkau lakukan pada langit itu. Sehingga nalar rasional kami mengantarkan kepada keimanan sesuai nuansa langit yang serba spiritual itu. 

Dicipta, Diatur, Ditinggikan dan Diurus Sepenuh Cinta.

Qur'anMu menuturkan bahwa Engkaulah sang pencipta langit tanpa butuh tiang-tiang penyangga. Dan Engkau pula yang meninggikan bangunan langit. Lalu Engkau bersemayam di atas Arasy. Matahari dan bulan Engkau tundukkan demi kenyamanan manusia di bumi; dengan peredaran yang bersifat konstan dan pasti. Engkaulah yang mengatur segala kejadian dan Engkau pula yang menjelaskan bukti-bukti keagunganMu beserta kekuasaanMu di segala penjuru. HarapanMu, agar kami; manusia dan jin meyakini adanya hari pertemuan denganMu (QS ar-Ra'ad [13]: 2)

Engkaulah dengan kasihsayangMu (Rauf Rahim) yang memegang semua benda-benda langit sehingga tidak jatuh menimpa bumi, kecuali jika Engkau mengizinkan hal itu terjadi kelak pada hari kiamat (QS Al-Hajj [22] : 65) Bahkan diinformasikan dalam sebuah riwayat bahwa tiada hari kecuali langit minta izin agar bisa menimpa manusia dan jin yang ingkar padaMu. Demikian pula laut, ia senantiasa meminta perkenanMu agar bisa menenggelamkan makhlukMu yang lancang  padaMu. Namun Engkau tetap memegang kuat-kuat langit itu agar tidak jatuh menimpa bumi. Sekalipun, jika langit dan bumi itu lenyap dan hancur; tentu tidak akan ada yang mampu menahannya dari kehancuran kecuali diriMu. Itulah bentuk kebijakan (Halim) dan ampunanMu (Gafur). (QS Fathir [35] : 41)
Sungguh dengan ketinggian dan keagunganMu, Engkau tidak pernah merasa capek mengurusi langit dan bumi (QS Al-Baqarah [2] : 255) Karena langit dan bumi dalam genggamanMu, hanya seperti biji sawi yang ada di tangan kami. Demikian informasi Ibnu Abbas radhiyallahu anhu yang pernah kami baca (Tafsir Thabari QS az-Zumar [39] : 67) Sedang Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu menuturkan, ada seorang pendeta Yahudi menemui Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan melaporkan, wahai Muhammad, kami membaca bahwa Allah Ta'ala menggenggam semua langit dengan satu jar, demikian pula seluruh bumi. Pepohonan pun dengan satu jari, air dan semuanya dengan satu jari pula. Lalu Allah Ta'ala berkata, "Sayalah sang Maharaja !", Maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tertawa  hingga tampak gigi gerahamnya karena mengiyakan ucapan sang pendeta. Lalu Rasulullah membacakan firman Allah  : 
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعاً قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kananNya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS Az-Zumar [39]: 67). (HR Bukhari, no. 4811)

Dirancang, Dibentuk, Diluaskan dan Dihiasi Sesuai Kehendak Ilahi. 

Langit Engkau rancang sepenuh jiwa dengan pengetahuanMu yang mencakup masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Sehingga tidak akan ada kekurangan, tak mungkin ada celah dan kesalahan. Apalagi sekedar main-main tanpa ada maksud dan tujuan di balik ciptaanMu. Dengan tanganMu, Engkau kelola penciptaan itu dari awal dan senantiasa mengawasi dan mengawal keberlangsungannya; termasuk perluasan dan pengembangannya secara konstan setiap saat (QS az-Zariyat [51] : 47) Maka ketika Engkau bertanya secara retoris kepada kaum ingkar dan kafirin itu, "Tidakkah mereka memperhatikan dengan seksama langit yang ada di atas mereka; bagaimana kami menciptakannya dengan penuh kesempurnaan dan bagaimana kami hiasi langit dengan hiasan yang begitu indah, bahkan hingga tak ada celah kekurangan dan tiada sedikit pun kerusakan. Walau hanya sekedar retakan kecil?!" (QS Qaaf [50] : 6) Hiasan yang Engkau tambahkan ke langit itu berupa lampu-lampu (bintang gemintang) di satu sisi. Namun, di sisi lain, Engkau jadikan lampu-lampu itu sebagai alat dan sarana pelempar jin setan yang mencoba menembus batas-batas langit untuk mencuri berita; seperti yang pernah mereka lakukan dulu sebelum diutusnya Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. Siksa itu masih di dunia ini dengan lemparan yang menyakitkan bagi kalangan setan jin. Di akhirat, siksa neraka tetap saja tersedia jika mereka tak bertaubat di dunia (QS al-Mulk [67] : 5) 

Demikianlah secuil ilmu yang kami peroleh dari informasi Qur'an dan hadits nabiMu; seputar makna spiritual dan kandungan rasional hamparan langitMu yang tinggi dan besar nan agung. Sebuah informasi yang menguatkan sendi-sendi keimanan dan otot-otot ketakwaan kami. Semoga iman kami senantiasa kuat dan kokoh dengan siraman fakta-fakta kehebatan dan keperkasaanMu. Allahumma Aamiin. 

Citayam, 14 Maret 2019.

🌷🌷🌷🌵🌵🌵🍄🍄🍄

Ikuti update status nasehat dari kami via :
1. FB : Idrus Abidin
3. YouTube Channel : Gema Fikroh.
4. Telegram Channel : Gemah Fikroh.
Daya Tarik Ketuhanan Dalam Islam.

By. Idrus Abidin.

Keindahan senantiasa menarik bagi siapa pun. Daya tarik Allah tersimpul pada nama-Nama-Nya yang indah. Di sana terkandung sifat dan perbuatanNya yg secara substansial terangkum dalam sebuah istilah yg disebut rububiyah. Terbentuklah satu bagian tauhid yg disebut tauhid rububiyah. Yaitu istilah yg merangkum semua perbuatan Allah terhadap seluruh mahlukNya. Dari mulai penciptaan (iyjad), hingga pengaturan (tadbir), pengarahan (tarbiyah), bahkan sampai ke tahap pemenuhan nikmat2 surgawi. 

Rububiyah ini berdiri kokoh di atas 2 pilar utama. Pertama, cakupan rububiyahNya yang menyeluruh terhadap seluruh alam. Kedua, segala bentuk ihsanNya kepada seluruh alam itu dgn segenap hikmahNya yg sangat agung. 

Adapun karakteristik rububiyahNya, sungguh sangat dlm dan maha luas. Berawal dari kekayaanNya secara mutlak sehingga tidak membutuhkan siapa pun dan apa pun. Tapi, selainNya membutuhkan diriNya setiap detik, setiap waktu dan pada setiap ruang-ruang keberadaan. 

Kebutuhan mahluk pertama yg menjadi prioritas Allah adalah penciptaan (Khaliq) dan pengaturan (tadbir) seluruh mahlukNya. Sehingga dgn tegas Dia bertanya secara retoris, "Siapakah yg memberikan kalian rezeki dr langit dan bumi!?, Siapakah yg menguasai mata dan telinga. Dan, siapa pula yg mengadakan kehidupan dari kematian dan sebaliknya?! Bahkan, siapa sebenarnya yg mengatur segala kejadian di alam ini?!", Tentulah mereka berkata, ' Allah," ( (QS. Yunus: 31). Itulah salah satu bentuk rububiyahNya.

Penciptaan sekaligus pengaturan ini menegaskan bahwa Dialah pemilik asli segala yg ada. Sebuah kepemilikan yg menegaskan kekayaanNya. Dia tidak butuh siapa pun, apalagi seorang anak, tidak bersekutu dlm hal kepemilikan, tidak butuh penolong karena adanya kehinaan dan karenya, Dialah yg harus diagungkan seutuhnya (QS al-israa: 111)

Selanjutnya, Dia dikenal pula dgn kemampuanNya melakukan apa pun  (fa'al lima yurid) sesuai dgn pengetahuan dan kebijaksanaanNya yg tidak mengenal kezaliman; dgn harapan, segala bentuk keadilan merata bagi seluruh mahlukNya. Bahkan, diatas keadilan itu, Allah mempersembahkan ihsanNya yg tiada tara.

Salah satu bentuk kebebasanNya dalam berbuat adalah memberi (mu'thi) rahmat dan nikmat kepada siapa pun hambaNya yg dipandang layak dan mencegah (mani') Rahmat dan rezeki itu dari siapa pun. 

Di tanganNyalah segala jenis manfaat (nafi') dan Dia pula yg memegang semua bentuk bahaya (dharr). Kemuliaan berada dalam genggamanNya (muiz) Sedang kehinaan (muzill) dikalungkan kpd pendurhaka (QS Ali Imran: 26) Bahkan, terangkatnya (rafi') derajat manusia dan jin atau pun mereka terjerembab kepada kerendahan (khafid) jg bagian dr kebijakanNya. 

Akhirnya, rububiyah ini mengandung 3 makna. (1). Bahwa Dia ada secara zat, (2). Bahwa Dia berbuat tanpa intervensi siapapun, dan (3) Bahwa dia memiliki ketetapan (qadha') takdir (qadar). Perbuatan manusia Dialah yg menciptakannnya. Namun, perbuatan manusia takkan terjadi tanpa izinNya. Sekalipun, itu tidak berarti menapikan perbuatan mahluk. 

Ya Allah, didiklah kami dgn rububiyahMu hingga kami pantas melihat wajahMu. Amin.
Penciptaan Manusia Pertama (Adam alaihissalam dan Hawa) Bukti Keagungan dan Kehebatan Allah.  (Serial ke-5 Tauhid Rububiyah)

By. Idrus Abidin.

Kuterus mencari dasar argumen dan bukti-bukti valid tentang keberadaan dan hak-hakMu untuk disembah ya Rab. Kudapatkan bahwa Adam dan Hawa sebagai manusia pertama yang Engkau adakan; bahkan dengan tanganMu sendiri, ternyata juga membuktikan kepantasanMu disembah dengan penuh keikhlasan. 

Tanah; Asal Muasal Penciptaan Adam.

Karena memang Adam Engkau takdirkan sebagai Khalifah Pertama di bumiMu, maka fisiknya pun Engkau cipta dari bumi (tanah). Dari tanahlah kamu dicipta, ke tanahlah kamu dikebumikan (setelah mati) dan dari tanah pula kalian akan dibangkitkan. Demikian bunyi firmanMu. (QS Thaha : 55) Hanya dari tanah Engkau tunjukkan mukjizat dan kehebatanMu mencipta Adam, sebagaimana dari huruf-huruf Hijaiyah Engkau merangkai Qur'an sebagai mukjizat terakhir kitab suciMu. 

Tanah (turab) dengan beragam istilah dan jenisnya menjadi asal usul penciptaan Adam (lihat QS ar-Rum : 20). Air juga salah satu unsur penciptaan Adam (QS al-Furqan : 54). Ketika tanah bercampur air maka jadilah lumpur (thin) (QS Shad : 37-38). Lumpur itu juga kadang Engkau sebut saripati tanah (sulalah min thin) sebagai mana firmanMu dalam QS 23: 12. Lalu berproses menjadi tanah kering (shalshal) layaknya tembikar (fakkhar). Padahal, sebelumnya hanya lumpur hitam (hama'in Masnun) (QS al-Hijr : 28 dan ar-Rahman : 14-16), lalu dilanjutkan dengan peniupan ruhMu, maka terbentuklah Adam dengan sempurna. Dari tiada jadi ada; dari tak tahu menjadi mengetahui. Malaikat pun Engkau suruh bersujud sebagai penghargaan terhadap Keahlian dan keunggulan Adam dari sisi ilmiah (QS al-Hijr : 29)

Postur Asli Adam (Manusia Pertama)

Sesuai takdirMu yang penuh hikmah, Adam tercipta dengan tinggi badan sekitar 24 meter. Rasulullah Saw menuturkan, sebagai mana laporan Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang dirilis imam Bukhari, "Allah menciptakan Adam dengan tinggi 60 hasta. Lalu Allah memerintahkan Adam agar menyalami malaikat dengan salam dan mendengar jawaban mereka. Itulah ucapan sapaan bagimu dan seluruh keturunanmu. Maka, sapa Adam, Assalamualaikum. Malaikat pun menjawab, assalamualaikum warahmatullah. Malaikat, kata Rasulullah, menambahkan ucapan Warahmatullah. Siapa pun masuk surga, maka posturnya seperti Adam as. Namun, manusia akan terus menyusut (hingga akhir zaman)". Demikian titah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Jika per hasta itu sekitar 40 cm x 60 hasta maka hasilnya 24 meter. Itulah postur Adam awalnya. Namun seiring dengan waktu, manusia dan semua makhluk menyusut, termasuk bumi dll. Walaupun alam semesta ini terus mengalami perluasan/pengembangan secara konstan (QS az-Zariyat : 47). Sebuah informasi kenabian yang sangat realistis karena manusia saja secara normal sekarang umumnya kisaran 1,55 hingga 2 meteran. Artinya, sepanjang hidup manusia, penyusutan terjadi pada posturnya hingga 22 meter lebih. Walaupun, ketika masuk surga nantinya, mereka akan normal kembali seperti postur asli manusia pertama; Adam alaihissalam. 

Tulang Rusuk Adam Menjadi Hawa.

KehebatanMu dalam mencipta berlanjut kepada Hawa. Dari tulang rusuk Adamlah Engkau ciptakan Hawa sebagai pasangan (istri). Sehingga proses regenerasi manusia selanjutnya berlangsung melalui mekanisme perkawinan. Maka atas dasar ini, Engkau mengarahkan manusia agar mereka bertakwa. Karena mereka Engkau cipta awalnya dari satu jiwa (Adam), termasuk istrinya Hawa. Dari situlah Manusia; laki maupun perempuan mengalami diaspora luar biasa (QS an-Nisaa : 1) Bahkan, atas nama tulang rusuk ini, Engkau nasehati kaum Adam agar lembut kepada kaum Hawa yang serba baper (bawa perasaan). Dengan perasaan itu, mereka seringkali bengkok; karena itulah tabiat asli kaum Hawa. Jika dipaksa lurus, maka ujungnya hanya patah. Patah itu maksudnya kata sang Rasul, "Engkau menceraikannya". (HR. Muslim)

Namun rasa itu membuat kaum Hawa mampu menjalani peran sebagai pelayan dan mitra utama suami dan perawat generasi. Sebuah kerjaan, apabila dilimpahkan kepada kaum Adam, maka sehari layaknya seperti satu tahun bahkan lebih. Karena kaum Adam berwatak rasional; terkadang tak menimbang rasa dan kelembutan yang menjadi tabiat/ciri kaum Hawa.  Walaupun, kata seorang bijak, jika talak di tangan istri, maka semua kaum lelaki pasti menjadi korban perceraian.... hehehe.  (Sungguh Allah mahabijak. Di balik kekurangan pasti ada kelebihan. Kelebihan itulah modal masing-masing pasangan untuk saling melengkapi. Itulah hukum ketergantungan)

Regenerasi Manusia. 

Dengan Adam dan Hawa, serial kehidupan manusia dan kemanusiaan bermula. Amanah ketuhanan harus berlanjut demi sebuah ujian ketaatan dan pemberian karunia tak terhingga di akhirat kelak. Maka regenerasi di dunia manusia mutlak adanya mengikuti prosedur dan tahapan kekuasaan dan ketetapan takdir Allah berikut : 
 
1. ‌Tanah (penciptaan awal Adam)
2. ‌Campuran mani laki dan perempuan (nuthfah).
3. ‌Segumpal darah mirip seperti lintah (alaqah)
4. ‌Segenggam daging (mudgah)
5. ‌Tulang atau rangka (izham)
6. ‌Proses pembungkusan tulang dengan daging atau otot (kisaul izham billahm)
7. ‌Fetus dan janin yang jelas (nasy'a)
(Lihat QS al-Mukminun : 12-14).

Rasulullah pun, lewat Wahyu yang diterima, menjelaskan proses ini dengan penetapan takdir dan keterlibatan malaikat dalam proses regenerasi ini. 

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قالَ: حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ: إنَّ أَحَدَكُم يُجْمَعُ خلقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ، فَوَاللهِ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ غُيْرُهُ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا. (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ)

Dari Abu ‘Abdir-Rahman ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menuturkan kepada kami, dan beliau adalah ash-Shadiqul Mashduq (orang yang benar lagi dibenarkan perkataannya), beliau bersabda, ”Sesungguhnya seorang dari kalian diproses penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (bersatunya sperma dengan ovum), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama itu pula. Kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu pula. Kemudian seorang Malaikat diutus kepadanya untuk meniupkan ruh di padanya, dan diperintahkan untuk menulis empat hal, yaitu menuliskan rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya. Maka demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Dia, sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal sehasta, tetapi catatan (takdir) mendahuluinya lalu ia beramal dengan amalan ahli neraka, maka dengan itu ia memasukinya. Dan sesungguh, salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal sehasta, tetapi catatan (takdir) mendahuluinya lalu ia beramal dengan amalan ahli surga, maka dengan itu ia memasukinya”. (HR Bukhari dan Muslim)

Demikianlah penuturanMu dan penjelasan nabiMu terkait proses penciptaan ayah dan ibu kami; Adam dan Hawa. Semoga kami terus menyadari karunia penciptaan, keagungan dan kekuasaanMu yang senantiasa eksis hingga kelak di surgaMu. Semoga jiwa ini terus mengerti arti dan makna di balik setiap perintah dan semua ketetapan takdirMu. Sehingga kami menjadi hamba yang berbakti penuh cinta, beribadah penuh harap dan taat penuh rasa takut kepadaMu hingga akhir hayat. Aamiin.

Citayam, 7 Maret 2019.

🌷🌷🌷🌵🌵🌵🍄🍄🍄

Ikuti update status nasehat dari kami via :
1. FB : Idrus Abidin
3. YouTube Channel : Gema Fikroh.
4. Telegram Channel : Gemah Fikroh.

Ibadah; Bukti Kehidupan Jiwa dan Eksistensi Iman Manusia.


By. Idrus Abidin.

Banyak pedalaman yang telah dihuni manusia, tanpa ada sekolah, tak ada rumah sakit dan tak ada pasar. Namun, tidak ada pedalaman yang telah dihuni manusia tanpa tempat ibadah. Artinya, ibadah merupakan kebutuhan fitrawi manusia. Bahkan, ibadah merupakan kebutuhan eksistensial dan tujuan dari adanya wujud ini. Demi mendapatkan kebaikan dan terhindar dari keburukan, ibadah menjadi kebutuhan dasar manusia agar senantiasa terhubung dengan sumber segala  kebaikan dan tameng seluruh keburukan ; Allah Ta'ala. 

Allah Maha Kaya; Tak Butuh Ibadah Manusia.

Manusia tak hidup hatinya tanpa iman. Maka iman adalah tuas pengungkit ibadah. Iman bertumpu pada masalah-masalah ghaib. Sedang hal ghaib yang paling ghaib adalah Allah dan hari akhirat. Surga, neraka, kuburan, pahala, dosa, malaikat, jin, setan dll adalah masalah ghaib yang masuk dalam pembahasan iman. Untuk semua itu Allah menurunkan kitab suci, mengutus rasul, menugaskan malaikat, menjelaskan akhirat, qadha dan Qadar dll. Allah mengurus semua kebutuhan seluruh makhluk tanpa ada kebutuhan kepada mereka. Semua itu dilakukan oleh Allah murni sebagai wujud rasa cinta dan bentuk kasih sayangNya pada semua makhluk. Di saat yang sama, manusia menyembah Allah karena besarnya kebutuhan mereka padaNya. Maka tak heran, ahli spiritual seperti Ibnul Qayyim al-Jauziyah pernah berucap, "Bukanlah sesuatu yang istimewa dan mengagumkan jika manusia menyembah Allah, karena memang manusia sangat butuh padaNya. Tapi yang sungguh mengagumkan dan istimewa adalah ketika Allah mengurus seluruh makhlukNya, padahal Allah sendiri tidak membutuhkan mereka semua."

Matahari Menyinari, Tanpa Butuh Apa pun Dari Manusia. 

Layaknya matahari menyinari bumi, tapi matahari sendiri tak butuh apa pun dari bumi. Namun bumilah yang butuh pancaran sinar matahari, mengharap terangnya bulan, menunggu kucuran hujan. Maka jangan heran, dengan bekal cinta dan kasih sayang, seorang ibu mampu mengurus belasan anak. Tapi belasan anak tak mampu mengurus walau hanya seorang ibu. Itulah rahasia cinta dan makna dari sebuah pengorbanan. Jika makhluk Allah saja demikian, tentu Allah jauh lebih dari itu. (Qiyas Aulawi). 

Contoh lain, jika kita butuh ahli bangunan untuk sebuah proyek. Sedang kita mengetahui adanya 2 atau beberapa ahli bangunan yang handal. Namun, dari sekian ahli bangunan yang ada, ada seorang ahli bangunan yang tak tertandingi karena keahliannya. Sementara biaya dan ongkos kerja mereka sama, lalu kita lebih memilih ahli bangunan yang mana?! Tentu kita memilih yang paling ahli; kata-katanya didengar, tuntunannya dipenuhi, sekali pun menuntut biaya, waktu dan pengorbanan lebih dari kita. Semua itu menunjukkan bahwa mencari sesuatu yang sempurna, terutama dalam hal Tuhan yang pantas disembah, merupakan fitrah suci manusia. Jika demikian, lalu bagaimana dengan Allah yang maha sempurna, baik diri sisi perbuatan, sifat, nama dan zatNya. Maka, pantaslah jika kita menerima sepenuhnya apa pun yang dipilih untuk kita (Islam dan semua syari'atNya) dan tujuan hidup (ibadah dan tawakkal) yang telah ditentukan sebagai arah dan fokus hidup kita. Karena Dialah zat paling sempurna dari sisi karakteristik pribadi (sifah zatiyyah) seperti hidup yang tak mengenal kematian, ilmu yang tak dibatasi oleh kebodohan, kekuasaan yang tak mengenal kelemahan, kasih sayang yang tak mengenal kezhaliman. Dia pula yang zat yang paling sempurna dari sisi karakteristik perbuatan (sifat fi'liyah) seperti mengampuni jika Dia mau, mengazab bila Dia mau, menerima taubat mereka-mereka yang pantas, mengadili mereka yang pantas untuk diadili. Jika Allah demikian sempurnaNya, pantaskah kita cuek terhadap perintahNya dan tidak peduli pada semua laranganNya?! 

Ibadah; Bentuk Ihsan Allah kepada Makhluk.

Dengan ibadah, manusia senantiasa menjaring semua jenis kebaikan dari Allah. Karena mereka yang senantiasa beriman, beribadah, taat dan patuh penuh cinta akan mendapatkan kucuran karunia dan kasih sayang lebih dari Allah (Ihsan dan rububiyah khusus). Itulah makna rahim Allah. Namun, mereka yang tidak taat dan tak patuh, apalagi jauh dari cinta Allah, cukup bagi mereka karunia material. Wahyu, rasul, mubaligh dan semua karunia hidayah, di akhirat kelak hanya menjadi bumerang. Karena mereka tidak berkembang secara spiritual. Mereka hanya mengenal Allah sebagai Rabb yang dimintai fasilitas duniawi. Tapi Allah sebagai Zat yang harus disembah; dicintai, diharap dan ditakuti azabNya, tidak dipedulikan sama sekali. Padahal itulah rahasia wujud dan tujuan keberadaan makhluk di dunia ini.

Dengan IhsanNya, Allah terus menerus menebar manfaat dan menjauhkan bahaya dari semua makhlukNya. Karena di antara bentuk kesempurnaan Allah adalah terwujudnya semua bentuk kesempurnaan dan keagungan sifat dan namaNya itu pada diri semua makhluk. Jika semua makhluk tunduk patuh padaNya dengan penuh rasa cinta, tanpa adanya pilihan dan kebebasan; tentu efek dan pengaruh kesempurnaan itu tidak terjadi pada diri mereka. Bila semua makhluk tak ada yang berdosa, tidak ada yang zhalim dan tidak ada yang menyimpang, lalu bagaimana bisa kita mengetahui kasih sayang, ampunan, kelembutan dan keadilan sang maha pencipta?! Bila tidak ada yang taat dengan tingkat tertinggi layaknya para nabi dan rasul, lalu dari mana kita mengetahui hidayah khusus, kasih sayang lebih dan hidayah Taufik yang ditebar Allah kepada mereka?! Bahkan, para nabi dan rasul itu diproteksi dari kesalahan-kesalahan dan dosa (ma'sum) sebagai bentuk karunia khusus Allah bagi manusia terpilih dan layak untuk itu. 

Ibadah, Jalan Kesempurnaan dan Kebahagiaan Manusia Satu-Satunya.

Itulah cara Allah memuliakan hamba-hambaNya yang taat dan patuh penuh cinta. Itulah hamba yang amanah dalam setiap pilihan-pilihan mereka. Amanah yang pernah ditawarkan kepada langit, bumi dan pegunungan. Namun mereka semua menolak amanah itu dan manusialah yang menerimanya. Yaitu, amanah untuk memilih antara taat atau maksiat. Memilih yang halal di saat ada peluang memilih yang haram. Memilih jujur manakala ada peluang berbohong. Memilih benar saat ada peluang bersalah. Sebuah amanah yang berat untuk dipertanggungjawabkan secara penuh dan dilaksanakan dengan sempurna. Namun manusia menerimanya sekalipun sadar sangat berat untuk memenuhi tuntutan-tuntunannya. Karena mereka adalah makhluk lemah dari sisi ilmu dan semangat. Sehingga kesalahan mutlak terjadi. Maka, manusia berusaha untuk meminimalkan kesalahan dengan selalu berdoa agar diarahkan, dibimbing, dibantu, ditunjuki, diurusi oleh Allah sang maha pembimbing dan maha pengarah (Maulanaa). Manusia terus memohon ampunan, meminta perkenaan dan keridhaan sang pencipta langit dan bumi. Tentunya disertai pengangungan, pujian, sanjungan dan pemuliaan kepada zat yang maha agung, maha terpuji, maha tersanjung dan maha mulia. 

Jika saja seorang raja/ presiden mengurus rakyatnya dengan penuh kasih sayang, disertai keadilan, dibuktikan dengan tersebarnya kemakmuran, lalu kira-kira apa yang pantas dilakukan oleh rakyat terhadap presiden dan rajanya kalau bukan pujian, sanjungan, penghormatan dan penghargaan?!  Sehingga kesimpulannya bahwa Allah menyuruh kita ibadah sama sekali bukan karena butuh pada hambaNya, tapi murni karena tabiat hubungan kita denganNya menuntut hal demikian. Maka, tak mengherankan jika tabiat hubungan itu berupa pernyataan penghambaan secara total dengan ucapan iyyaka na'budu (hanya Engkau yang kami sembah) dan kebutuhan total kepadaNya dengan ucapan iyyaka nasta'in (hanya kepadaMu kami minta bantuan). Itulah rangkaian tugas utama manusia yang menunjukkan ketergantungan mereka kepada Allah secara total; ibadah dan tawakkal. Semoga kita amanah dalam ibadah dan tawakkal serta jauh dari khianah pada keduanya. Aamiin.

Depok, 28 Februari 2019

🌷🌷🌷🌵🌵🌵🍄🍄🍄

Ikuti update status nasehat dari kami via :
1. FB : Idrus Abidin
3. YouTube Channel : Gema Fikroh.
4. Telegram Channel : Gemah Fikroh.

Biji-Bijian dan Tumbuhan Menunjuk Allah Sebagai Sang Maha Pencipta

Biji-Bijian dan Tumbuhan Menunjuk Allah  Sebagai Sang Maha Pencipta.

(Serial Ke-4 Mengenal Kebesaran dan Keagungan (rububiyah) Allah Ta'ala)

Oleh. Ust. H. Idrus Abidin, Lc., M.A

Jika awan dan hujan bercerita banyak seputar keagungan dan kekuasaanMu, kini biji-bijian dan tumbuhan pun ikut bercerita tentang betapa besar keterlibatanMu mengadakan mereka dari ketiadaan. Mengawal mereka sedikit demi sedikit; setiap saat, sepanjang kehidupan duniawi. Sehingga biji-bijian dan tumbuhan ini menjadi bukti (ayat) kehebatanMu. Tadinya, bumi ini kering kerontang. Tanpa kehidupan dan seolah ia mati secara total. Namun, dengan guyuran hujan maka kehidupan di bumi mulai tampak. Biji-bijian yang tadinya tidak memiliki kemampuan bertumbuh tiba-tiba berkecambah dengan tunas yang menyibak tanah hingga keluar dari bumi untuk memulai kehidupan baru. Kehidupan yang nantinya dinikmati hasilnya oleh manusia sebagai makanan bergizi. Lama kelamaan, biji-bijian yang berkembang itu membentuk kebun-kebun kurma,  kebun anggur dan taman-taman yang serba indah; yang didukung oleh aliran mata air yang melimpah. Supaya manusia bisa menikmati buah-buahan segar dan hasil usaha dari cucuran keringat mereka. Namun demikian, dengan banyaknya nikmat yang difasilitasi oleh Allah di bumi ini, masih saja banyak manusia tidak mengerti rasa syukur dan cara berterima kasih kepadaMu (lihat QS Yasin : 33-36)

Reproduksi dalam Dunia Tumbuhan dan Tanaman

Terjadinya proses reproduksi dalam Dunia Tumbuhan dan semua makhlukMu berawal dari pasangan yang telah Engkau cipta pada setiap jenis makhluk (lihat QS Yasin : 36). Dengan pasangan yang ada mereka berkembang biak lewat perkawinan. Tumbuhan yang mulai mengeluarkan bunga dan serbuk sarinya, ketiup angin sehingga serbuk atau butik pejantan  bertemu dengan serbuk dan butik betinanya. Tak lama kemudian, terbentuklah buah yang mengandung biji baru untuk kelangsungan reproduksi pada tahap berikutnya. Itulah firmanMu yang menegaskan bahwa Engkaulah satu-satuNya yang  mengeluarkan kehidupan dari kematian dan mengeluarkan kematian dari kehidupan (lihat QS al-an'am : 95) Maksudnya, biji yang dihasilkan buah dalam kondisi mati, lalu hidup bertumbuh dengan izinMu. Lalu biji ini tumbuh mekar hingga berbuah dengan biji baru yang masih mati. Demikianlah siklus reproduksi itu berlangsung dalam dunia tumbuhanMu.

Terkadang perkawinan di dunia tumbuhan terjadi karena ulah makhlukMu yang lain, yang sedang sibuk/asyik mencari nektar dari tumbuhan ke tumbuhan lainnya atau dari bunga ke bunga lain. Tanpa sadar, kaki-kaki mungil mereka membawa serbuk pejantan. Ketika hinggap di betina tumbuhan terjadilah perkawinan secara alami. Sungguh maha terpuji dan maha suci Engkau mengatur siklus reproduksi dalam dunia tumbuhan yang sungguh serba alami (fitrawi).  Bahkan, Kehidupan tumbuhan dan tanaman juga sangat dipengaruhi oleh kesuburan tanah (lihat QS al-A'raf : 58) Dalam kondisi subur, tumbuhan berkembang dengan penuh semangat (vitalitas) dan geliat yang serba menakjubkan. Sedang ketika tanah yang menjadi media bertumbuh itu tidak subur, maka tumbuhan itu tampak merana karena kurangnya asupan gizi yang memadai. Kesuburan tanahMu ini umumnya di dataran tinggi yang mendapatkan curah hujan yang intensif. PegununganMu begitu subur sesuai isyarat firmanMu (lihat QS Al-Baqarah : 265)

Siklus Kehidupan Tumbuhan; Gambaran Kehidupan Dunia yang Serba Ringkas dan Sementara.

Dunia tumbuhan dengan gambaran rububiyahMu padanya, tak ada bedanya dengan kehidupan duniawi yang sangat sementara. Bahwa kehidupan dunia seperti air yang membasahi bumi. Tumbuh subur menjadi sumber makanan bagi manusia dan hewan. Ketika bumi bersolek karena indahnya formasi tanaman dan taman-tamannya, tukang-tukang kebun pun yakin sepenuhnya akan memanen hasil maksimal dari keindahan tersebut. Tapi, musibah terkadang merusak harapan2 dan keyakinan indah petani. Tumbuhan yang tadinya indah, porak poranda seolah habis disabit; hancur seolah kemaren tak tumbuh penuh pesona. Demikian pula dunia. Sungguh sangat indah. Namun, ketika kematian sudah tiba dunia yang tadinya indah; hanya seperti bangkai tak berharga (lihat QS Yunus : 24)

Biji-bijian; Perumpamaan Nilai Sedekah.

Bijian dan tumbuhan pun menjadi bahan perumpamaan dan gambaran nyata dalam standar real pahala sedekah. Mereka yang dengan penuh ketulusan mengeluarkan kontribusi sedekah; pahalanya seperti biji yang menumbuhkan 7 bulir. Tiap bulir menghasilkan 100 biji. Sehingga, 700 pahala berhak diterima oleh ahli sedekah.  Begitulah kepemurahanMu ya Allah kepada hamba yang taat padaMu dalam kegiatan sedekah (lihat QS Al-Baqarah : 265) 

Tumbuhan, Perumpamaan Akan Adanya Hari Kiamat.

Kehidupan kedua di hari kiamat seringkali Engkau gambarkan layaknya bumi yang mati. Namun, dengan hujan yang menyirami, tumbuhan dengan penuh semangat bertumbuh tiada kira. Begitupula manusia di saat kiamat tiba. Hanya dengan tiupan sangkakala kedua, manusia bangkit dengan segera; tanpa kecuali. Demikianlah cerita biji dan tumbuhan akan kebesaran dan keagunganMu di dunia mereka. Sehingga Engkaulah satu-satuNya yang pantas dicinta, diharap penuh suka cita dan ditakuti sepenuhnya;  dalam naungan ibadah. Semoga kami senantiasa terpesona dengan keindahan dan keteraturan di dunia makhlukMu. Aamiin.

Depok, 25 Februari 2019.

🌷🌷🌷🌵🌵🌵🍄🍄🍄

Ikuti update status nasehat dari kami via :
1. FB : Idrus Abidin
3. YouTube Channel : Gema Fikroh.
4. Telegram Channel : Gemah Fikroh.

Thursday, February 21, 2019

Seluruh Makhluk Menunjuk Allah Sebagai Sang Pencipta Tunggal

(Serial Ke-3 Mengenal Kebesaran dan Keagungan (rububiyah) Allah Ta'ala)


Detik demi detik kumengembara di dunia maya dan dunia nyata demi mencari bukti-bukti keberadaan, kebesaran dan keagunganMu ya Allah. Ternyata di setiap sudut-sudut pandangan, pada semua ruas-ruas alam semesta; terdapat hamparan makhlukMu, yang senantiasa tersenyum menggambarkan tentang diriMu sebagai penciptanya. Dari tiada mereka ada. Dari ada kemudian terus berkembang; sedikit demi sedikit, dari waktu ke waktu hingga yang kecil meremaja. Yang dewasa Kian menua; hingga ketuaan itu berbalik ke asalnya; ketiadaan. Itulah identitas asli makhlukMu. Sedang Engkau sang pencipta mereka; tidak mengenal ketiadaan. Engkaulah sang wujud yang wajib adaNya. Sedang makhlukMu ada walaupun hanya sebatas kemungkinan semata.

Tazkiyatunnafs (Tasawuf) dan Psikologi Modern; Sisi Persamaan dan Perbedaan.

Ilmu dalam Islam tidak mengenal dikotomi; dunia akhirat, lahir batin, teks konteks, normatif historis dll. Islam selalu melihat fakta secara komprehensif. Terutama fakta akhirat dan dunia, jiwa dan raga, langit dan bumi. Kesan dikotomis ilmu pengetahuan berawal dari pandangan sekuler yang melihat segala hal dari sisi material dan kekinian semata (duniawi). Maka tak heran, ilmu hasil racikan dunia sekuler hanya sebatas pada Persfektif duniawi. Termasuk dalam ilmu jiwa. Psikologi adalah ilmu modern terkait dengan jiwa. Masuk dalam ranah ilmu sosial yang banyak digunakan untuk terapi mental. Bahkan hingga ke tahap pendekatan klinis (psikiater).

Wednesday, February 13, 2019

Pertanyaan Retoris Allah, Mengusik Fitrah Suci (Serial ke-2 Mengenal Keagungan dan Kebesaran Allah)

Mengenal segala bentuk perbuatan dan  segala sifat-sifatMu  yang tersimpul dalam  rububiyahMu adalah jalanku mengenal keagungan, kehebatan dan kebesaranMu. Dengan fitrah suci, kuketahui keberadaanMu dan segala bentuk rububiyahMu dalam lingkup alam semesta ini. Kuberharap dengan pengetahuan itu, aku makin teguh menegaskan uluhiyahMu dengan ibadah dan do'a, cinta dan tawakkal.

Islam, Fiksi dan Imajinasi.

Istilah fiksi lagi ramai karena dijadikan delik aduan untuk melaporkan Rocky Gerung karena menganggap kitab suci sebagai fiksi. Hal ini dianggap penodaan agama oleh pihak tertentu. Sehingga mereka berusaha menggiring nalar publik untuk minimal membenci bahkan kalau perlu memenjarakan yang bersangkutan.
Bagaimana pemikiran Islam melihat fiksi dan imajinasi ini?

Wednesday, January 30, 2019

Agama, Bahasa, Filsafat dan Sains & Teknologi (Peradaban)

Hidup ini sebenarnya hanyalah ruang perwujudan keyakinan dan penegasan keberpihakan. Jika berdasarkan pada nilai-nilai langit termutakhir maka disebutlah agama Wahyu. Namun bila lahir dari pikiran bijak seseorang dianggap sebagai agama bumi (rekayasa). Agama selama ini selalu dianggap sebagai biang pertengkaran. Karena hal2 yang bersifat ideologis seringkali diyakini sebagai sumber kebahagiaan tertinggi manusia. Maka tidak heran, manusia siap mempertahankan semua yang dianggapnya prinsip dan sarana menggapai bahagia. 

Makna Kejujuran (Amanah) dan Pengamanan Allah Terhadap makhlukNya (Al-Mukmin).

Salah satu nama dan sifat Allah yang ditemukan penyebutannya hanya sekali dalam al-Qur'an adalah al-Mukmin. Namun, kandungan makna terhitung luas dengan cakupan menyeluruh. Karena mencakup dua makna utama berupa kejujuran Allah dalam memenuhi seluruh janji-janjiNya (amanah) dan PengamananNya terhadap seluruh makhluk. 

Secara bahasa, al-Mukmin berasal dari kata dasar  Arab (tsulatsi) amana, ya'manu, yang berarti mengamankan. Sedang makna derivasinya (ruba'i) berupa amana, yu'minu, mukmin yang berarti percaya terhadap kejujuran dan amanah pihak tertentu.

Sunday, January 20, 2019

Mati, Gelap, Buta, Tuli, Bisu, Bodoh; Identitas Utama Kekafiran.

Jika niat, keinginan, harapan dan semangat adalah citra muslim maka segala pencetus, motivasi, dorongan dan cita yang lahir bukan karena dan untuk Allah hanyalah kesia-siaan. Itulah fatamorgana. Tampak seolah harapan dan solusi serta tujuan yang sudah lama dicari dan dirindukan. Tapi sejatinya hanya bayangan, utopia, tipuan mata dan belitan iblis. Demikian realitas kehidupan manusia ingkar dan pelaku syirik serta pengasong kekufuran. 

Museum Kemakmuran Dua Masjid Suci di Kota Makkah.

Salah satu sisi lain kegiatan umroh adalah city tour untuk mengenal kota Makkah dan Madinah lebih dekat. Umrah terakhir (Desember 2018) kami ajak jama'ah menikmati benda-benda bersejarah terkait pengelolaan dua masjid suci; Haram dan Nabawi yang berlokasi di kota Makkah. Disebut Ma'ridh Imaratu Al-Haramain al-Syarifain. Di sini, kami menikmati bekas-bekas peninggalan masa lalu masjidil haram dan masjid Nabawi dari abad
ke abad.


Thursday, January 10, 2019

Makna Kekuasaan, Penjagaan, Penjaminan Dan Monitoring Allah Swt. (Al-Muhaimin)

Mendalami makna, hikmah dan rahasia di balik nama dan sifat-sifat Allah merupakan kenikmatan spiritual luar biasa bagi manusia. Karena sedang terkait langsung dengan zat yang maha sempurna, bebas dari segala bentuk kekurangan. Jika umumnya nama dan sifat-sifat Allah terulang beberapa kali dalam Al-Qur'an dan Sunnah, maka nama al-Muhaimin hanya ditemukan sekali, walaupun cakupan maknanya begitu luas.

 هُوَ اللَّهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ…

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan. (QS al-Hasyr : 23)

Niat, cita-cita, keinginan, harapan dan impian; hasil Iman dan Takwa.

Tidak ada manusia hidup tanpa keinginan dan cita-cita. Bahkan, kehidupan manusia ditandai oleh semangat, harapan dan keinginan besarnya. Tanpa harapan, cita2 dan semangat,  manusia hanyalah patung hidup;  keberadaannya tak memberi nilai dan manfaat untuk kehidupan. Ujungnya, ia hanya dianggap onggokan sampah kehidupan.

Manusia, Dari Tiada Menjadi Ada.

Layaknya semua makhluk, manusia berasal dari ketiadaan. Hiduplah yang membuatnya memiliki identitas keberadaan. Gerak adalah identitas hidup. Dengan gerak, kehidupan sedang mengarah kepada kemajuan. Sedang diam adalah indikator kematian. Karenanya, bahagia manusia begitu sangat terasa ketika diam (istirahat) sejenak setelah keringat bercucuran dalam sebuah cita-cita dan demi  secercah harapan. Gerak ini terus mengokohkan keberadaan dan  kehidupannya. Sehingga ia menjadi mahluk yang keberadaannya sangat diharapkan  dan kedatangannya sangat dinanti . 

Pujian (Tahmid), Permohonan Ampunan (Istighfar) dan Do'a.


Hidup ini sudah jamak dipahami sebagai ujian. Bentuknya berupa ibadah ketika terkait dengan Allah. Tanggung jawab bila itu berkenaan dengan Akhirat. Ujian jika itu mengenai kehidupan. Adil dan Ihsan saat berhubungan dengan makhluk, terutama manusia sebagai khalifah. Eksplorasi tanpa henti demi wujudnya kemudahan ibadah, tanggung jawab, ujian, adil dan ihsan; jika ia berkaitan dengan alam semesta. 

Ketaatan Berbalut Cinta.

Karena puncaknya adalah ibadah, maka turunannya pun sama. Atas dasar inilah semua bentuk hubungan itu berlangsung. Dulu, kini dan nanti. Ibadah yang isinya adalah kepatuhan terhadap perintah dan larangan. Namun, bukan itu saja. Tapi harus ditemani oleh cinta sebagai tuas penggerak. Namanya ikhlas. Cinta tanpa kepatuhan hanyalah  hoaks. Karena cinta itu selalu butuh pengorbanan (tadhiyah).

Mandiri ; Semangat Utama Islam.

Islam adalah agama kemandirian. Tidak dikenal adanya perwakilan dalam hal ibadah dan isti'anah, tanpa upaya pribadi dan mandiri secara berkelanjutan untuk masuk surga dan terhindar dari neraka. Rasulullah berfungsi mengajarkan ummat tata cara masuk surga dan menghindari neraka dengan petunjuk praktis dan praktek secara langsung. 

Pada dasarnya, Islam memang agama keahlian, bukan sekedar ikut-ikutan. Karena, ikhlas itu terkait ketulusan manusia kepada Allah; sesuai tingkat pengetahuan dan kesadaran akan kekuasaan, kehebatan dan pengetahuanNya yang meliputi segala hal. Juga sebab mengikuti Rasulullah itu butuh pemahaman tentang siapa beliau, apa yang diajarkan, apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang. Termasuk apa yang dilakukan beliau sebagai hamba dalam lingkup pribadi, suami, ayah, tokoh masyarakat, panglima perang, ekonom, pemimpin negara dll.

Saturday, December 22, 2018

Membenci Syari'ah, Berbuah Maksiat Dan Berpotensi Azab. (Refleksi Singkat Awal Surat al-Jatsiyah)

Allah dengan kasih sayangNya telah berbuat maksimal (Ihsan) demi kemaslahatan manusia dan jin; dunia akhirat. Namun, karena fitrah yang telah mati, manusia membenci asal-usulnya, berani menentang penciptanya, lari dari aturan syariatNya.

Padahal, bumi dan  beserta isinya adalah bukti paling nyata tentang adanya sebuah kekuatan mahadahsyat yang telah mengadakan, dan terus mengatur segala kejadian serta mengarahkan setiap peristiwa. (QS al-Jatsiyah : 1-6) Keteraturan alam semesta adalah cerminan Allah yang mengatur syari'at. Yang pertama disebut takdir kauni (alam) sedang kedua disebut takdir syar'i. Percaya adanya alam semesta, sejatinya mengantarkan kepada iman pada syari'atNya. Itulah semestinya.

Pantaslah jika para penentang yang lupa diri dan tak tau terimakasih; berani tanpa pertimbangan; memusuhi simbol-simbol utama Islam beserta semua pendukungnya. Mereka sebenarnya mendengar petuah dan ancaman Allah dalam kitab suci akhir zaman.

 Tapi apa mau dikata!!!. Mereka telah terkubur jiwanya dalam fisik yang selalu maksiat, berlumur dosa setiap saat, di mana pun ada saat; di tempat apa pun mereka berada. Pantaslah kalau Allah mengunci mati hati mereka. Mengancam dengan segudang azab neraka. Bahkan, sebetulnya, pengingkaran itu pun sudah neraka. Karena dipastikan, setiap hati (fitrah) yang tidak suci, tentu tak bakalan merasakan kucuran khusyu', tak mungkin menikmati limpahan karunia spiritual dan pasti jauh dari basuhan energi iman.

Ujungnya, mereka diperdaya setan, dikelabui dengan janji-janji manis yang tak mungkin ada realisasinya, sampai kapan pun. Akhirnya, sihir jadi ilmu pengetahuan, seperti Yahudi masa lalu. Filsafat jadi tumpuan, layaknya iblis hingga kini (iblis berumur panjang). Jika melihat syari'at; dijadikanlah bahan olok-olokan, bahan nyinyiran, jualan politik dan bahan aduan. Bagi mereka, kritis sama kedutaan Saudi wajib aini, pembantaian Muslim Uighur biarkan saja. Tapi giliran kezaliman Israel terhadap bangsa Palestina mereka diam seribu bahasa. Kedutaan China tak ada kata demo, apalagi minta pengusiran.

Kata Allah tentang mereka ini, neraka sedang menunggu dan mengintai, semua kegiatan mereka tak akan ada yang bisa menyelamatkan dari azab, begitupun semua pembela2 (thogut) yang mereka puja. (QS al-Jatsiyah : 6-10). Kecuali jika mereka taubat dan kembali menata ulang perbaikan diri.

Semoga mereka sempat bertaubat dan mengumpulkan kita dengan mereka di surgaNya kelak.  Amiiiin.


By. Idrus Abidin.
Madinah Nabawiyah, 22 Desember 2018.

Khusyu', Puncak Kejernihan Iman.


Khusyu' adalah kondisi saat keagungan Allah tersingkap begitu mengagumkan dalam jiwa manusia. Biasanya hadir saat kita banyak bermuhasabah dengan bacaan-bacan islami, nasehat-nasehat spiritual. Saat kita melanglang buana dalam Rububiyah, mentadabburi nama-nama dan sifat-sifat Allah; hingga hati terpesona dalam uluhiyahNya. Cinta makin nambah, optimisme akan rahmatNya kian tiada Tara. Bahkan, potensi AzabNya tergiang-ngiang di telinga hingga kita mengucurkan air mata. 

Subuh di Jum'at ini, di waktu Madinah mulai saat jam 05.30. Imam dengan syahdunya melantunkan surah sajadah. Seolah bacaan itu mengaduk-aduk jiwa, dengan beragam fakta keesaan Rububiyah, fenomena uluhiyah hingga ancaman untuk mereka yang tak mau berubah; dari maksiat ke tha'ah, dari khianah jadi amanah, hingga jiwa tak lagi durhaka. 

Bahkan kiamat dihadirkan, saat ahli maksiat baru mau taat, ketika pendosa baru yakin atas semua titah rabbul 'alamin. Namun, apa daya, iman itu tak lagi bermakna. Yaah.... mereka dilupakan Allah secara sempurna. Karena telah lalai dan lupa diri dari Allah saat di bumi ini. Berlarian mereka kepingin keluar dari neraka. Tapi kata Allah, mereka ditarik kembali ke kerak neraka. Naudzubillah.

Fakta bahwa penentang di masa lalu telah hilang. Ada yg ditelan bumi layaknya Qarun. Ada pula yang ditenggelamkan laut dengan kejam. Hujan banjir yang menyapu bersih pelaku dosa. Bahkan, suara pekak yang mematikan. Semua itu tidak menjadi pelajaran bagi mereka yang lalim dan lalai. Terus saja mereka mereproduksi maksiat, melawan mereka yang masih taat. 

Akhirnya, ketika semua gambaran penduduk surga beserta amalan dan potensi surganya diangkat;  hati ikut bersujud saat ayat 15 tiba, diikuti sujud fisik semua jamaah; seketika.

Fenomena iman dan gambaran maksiat itu belum berakhir. Di rakaat kedua, sang imam memilih surah al-Insan. Dibuka dengan pertanyaan retoris yang menyayat hati. Bukankah dulu manusia mati (tidak ada)?!, Lalu diadakan dari mani, untuk sebuah ujian imani.

Maka kata Allah, dengan telinga dan mata pun mereka dibekali. Agar jalan sesat dan Jalur taat pun tak lagi tertutupi; oleh  syubhat dan kepungan syahwat. Surga pun beserta pesona nikmatnya dibahas sedemikian rupa beserta amalan-amalan penghuninya. Tak henti rasanya hati ini berkata, jadikan aku bagian dari mereka ya Allah. 

Pelayan Mereka saja adalah remaja-remaja, yang jika ditatap dengan mata kepala; seolah Kilauan nikmat tak biasa itu layaknya permata lu'lu yang bertaburan. Pesona kerajaan Allah yang agung telah melingkupi mereka, hingga dengan menatap mereka saja sudah melarutkan kita dalam nikmat tiada kira. Itulah balasan Allah padamu atas dedikasi amal dan usahamu yang disyukuri Allah. Maka sabarlah dalam jalan ini dan jangan sesekali kamu dengar apa lagi taat pada mereka para pendosa dan penikmat kekufuran.....(QS al-Insan : 22-24). 


By. Idrus Abidin.
Madinah Nabawiyah;  Jum'at, 21 Desember 2018.

Categories

About Us

There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form.

Contact Form