Tuesday, June 25, 2019

Menyelami Makna dan Totalitas Ibadah. (Saatnya Kita Jadi Ahli Ibadah)







 By. Idrus Abidin.

Ibadah adalah istilah yang begitu akrab di telinga kita. Ia adalah ketaatan dan kepatuhan yang menyatu dengan rasa cinta kepada Allah. Itulah ibadah secara bahasa. Taat dan patuh tanpa rasa cinta kepada Allah bukanlah ibadah. Seperti ketaatan dan kepatuhan orang munafik. Mereka kehilangan cinta Allah yang disebut ikhlas. Maka, Islam mereka hanya permukaan tanpa substansi iman. Secara komprehensif, Ibadah adalah sebuah istilah yang merangkum segala hal yang dicintai dan diridhai oleh Allah; baik ucapan atau pun perbuatan; lahir maupun batin. 

Mau Ibadah Kita Diterima Allah ? Penuhi Syaratnya. 

Ibadah adalah substansi keislaman kita. Tanpa ibadah Islam kita hanya sebuah kepalsuan. Agar Islam itu utuh ibadahlah isinya. Diterimanya ibadah kita bukti benarnya Islam kita. Agar ibadah diterima, harus memenuhi dua syarat utama : (1). Ikhlas kepada Allah, (2). Ikuti cara ibadah Rasulullah. Ikhlas adalah intisari kalimat tauhid; la Ilaha Illallah. Sedang mengikuti prosedur ibadah Rasulullah adalah wujud syahadat; Muhammadun Rasulullah. Maka, la Ilaha Illallah, Muhammadun Rasulullah merupakan kunci ibadah. Jika ikhlas saja, tanpa mengikuti Rasulullah ibadah pasti tidak diterima Allah. Seperti ibadahnya Yahudi dan Nasrani. Tidak ada ibadah yang sah di luar jalur Rasulullah. Maka, tidak ada pula jalan ampunan selain ajaran beliau. Di luar ajaran Islam hanya langkah-langkah setan yang menyesatkan; tanpa ibadah, tiada ampunan dan bukan jalur menuju Allah. Islam adalah totalitas ibadah yang dibenci setan; baik kalangan manusia maupun kelompok jin. Maka, berislam secara total merupakan konsekwensi logis kalau kita mau diterima amal ibadahnya. (Al-Baqarah 208)

Bagaimana Supaya Ibadah Kita Ikhlas?

Ikhlas adalah pencetus awal, penggerak yang senantiasa diharapkan mengawal setiap kegiatan dan menyampaikan kita kepada Allah. Ikhlas adalah wujud totalitas cinta manusia kepada Rabnya. Agar ikhlas ini tercipta dan terjaga, tiga hal berikut mutlak adanya :

(1). Cinta Allah. Dengan hadirnya cinta akibat pengenalan manusia terhadapNya melalui nama dan sifatNya yang senantiasa berderet pada setiap ayat dalam Al-Qur'an dan pada umumnya penuturan Rasulullah, maka ikhlas akan senantiasa bernapas panjang dalam hati setiap insan; tentunya dengan izin dan Taufik dari Allah.

(2). Harapan yang tinggi terhadap Rahmat Allah. Semua yang ada di sekitar kita dan diri kita adalah bagian kecil dari rahmatNya. Apa yang diinginkan oleh seluruh manusia ada semua di sisiNya. Bahkan banyak hal yang dimiliki Allah sebagai rahmatNya belum kita mengerti sehingga tidak mungkin terbetik dalam jiwa dan angan manusia. Itulah surga.

(3). Takut terhadap azabNya. azabNya tiada terkira. Walaupun rahmatNya mengalahkan azabNya. AmpunanNya lebih luas dibanding keadilanNya. Jika KeadilanNya itu disegerakan Allah di dunia ini, takkan ada manusia dan jin yang bisa hidup lama setelah mereka balig. Karena jika dosa dan maksiat berbalas langsung, manusia akan punah tanpa bisa berkembang biak via pernikahan. Namun, Dia lebih banyak mengampuni daripada mengazab. Itulah kebijakan ilahi yang menjadi rahmat yang membuat lalai para pecundang. Seolah Allah tidak tahu menahu kezaliman dan kesesatan mereka. Padahal, itu hanya ampunan sementara. Ia hanya siaran tunda. Tetap saja ada batasnya. Hanya Allah yang maha tahu kapan saatnya; penundaan itu berakhir murka.

Di al-Fatihah, bismillah dan Al-Hamdulillah wujud cinta Allah. Ar-Rahman dan ar-Rahim adalah bukti harapan terhadap rahmatNya. Maliki yaumiddin merupakan rasa takut terhadap azabNya; terutama di akhirat kelak. Kira-kira jika semua pilar ibadah (ikhlas) ini sudah terpenuhi, lalu pernyataan apa yang pantas setelahnya?! Hanya iyyaka na'budu (hanya Engkau yang  pantas kami sembah, ya Allah)

Ibadah Khusus (mahdah) dan ibadah umum (gairu mahdah). 

Ibadah khusus seperti shalat, puasa, zakat dll punya prosedur khusus pula; Ikhlas dan mengikuti petunjuk Rasulullah. Prinsip dasarnya adalah dalam hal ibadah haram adanya kreativitas. Berbeda dengan ibadah umum, hukum asalnya adalah kreativitas manusia sendiri, selama tidak ada larangan dan kezaliman terhadap diri dan orang lain. Ibadah umum cukup dengan niat, maka kebiasaan itu (adat) segera menjadi ibadah. Makan misalnya, hatimu cukup engkau tujukan agar dengan makan, fisikmu kuat dalam ketaatan. Lalu baca basmalah, maka itulah ibadahmu. Tapi jangan pakai tangan kiri, nanti menyerupai setan. Setelah selesai, jangan lupa baca Al-Hamdulillah. Tidur lain lagi. Dengan berharap agar tidur, engkau kuat ibadah setelah bangun, lalu bismika allahumma ahya wa amutu, kamu baca. Apalagi jika kiblat di hadapanmu, bagian kanan kau tindih dan kiri di bagian atas, maka sempurnalah ibadah tidur itu. Terutama jika disertai wudhu dan do'a setelah bangun; Al-Hamdulillah alladzi ahyani ba'da maa amatani wailahin nusyur. Demikian seterusnya. 

Cakupan Ibadah.

Ibadah mencakup diri manusia seutuhnya. Berawal dari hatinya yang penuh dengan keterbukaan menerima hidayah Allah. Sehingga Allah dibenarkan sebagai Rabb dengan semua nama dan sifatNya. Akhirnya, Dia menjadi satu-satunya Tuhan yang harus disembah. Hati demikian akan percaya adanya hari Keadilan; kiamat namanya. Para nabi dan rasul, kitab suci dan ketetapan takdir; semuanya diterima sebagai keyakinan yang disebut iman. Karena hati sedemikian adanya, lisan akhirnya bersyahadat; siap mewujudkan ibadah lisan dengan segala jenisnya. Hati yang dipenuhi iman, lisan basah dengan zikir, tentu fisik mewujudkan keyakinan dan ucapan itu pada setiap yang mungkin dilakukan. Shalat, puasa, zakat dan haji termasuk amalan fisik utama dan unggulan.

Hati, lisan dan perbuatan menjadi ibadah pribadi seutuhnya. Dengan keluarga, ia menjadi pribadi dengan sejuta manfaat. Ekonominya jauh dari riba, kecurangan dan semua jenis penipuan. Pendidikannya berbasis rabbaniyah; tak ada demarkasi antara ilmu dunia dan ilmu akhirat. Politiknya berbasis kejujuran, Keadilan, bahkan bernuansa Ihsan. Maka utuhlah dia dalam ibadah dan dalam keislaman; berkembang dalam keimanan, hingga berhasil mendaki puncak tertinggi ketakwaan. Itulah perjalanan ibadah yang melewati jalur keislaman, keimanan dan keihsanan. Semoga kita termasuk bagian dari golongan ahli ibadah dengan kucuran ampunan dan keridhaan dari Allah Ta'ala. Allahumma amiiiin. 

Depok, 15 Mei 2019 (Tengah malam) 

🌷🌷🌷🌵🌵🌵🍄🍄🍄

Ikuti update status nasehat dari kami via :

1. Telegram Channel : Gemah Fikroh.
2. YouTube Channel : Gema Fikroh.
4. Facebook Sudah Full Pertemanan.

Sejarah Puasa Lintas Peradaban Samawi.



By. Idrus Abidin.

Puasa adalah paket ibadah langit (samawi) yang telah ada sejak zaman dahulu. Persis seperti shalat, zakat, qurban, haji dll. (QS al-Maidah : 48 dan Al-Baqarah : 183). Fungsinya secara vertikal menguatkan sensitivitas ketakwaan dan rasa syukur atas karunia dan nikmat ilahi.  Secara sosial kemasyarakatan, puasa berperan sebagai daya rekat yang menghubungkan tali kekeluargaan antara muslim dengan keluarganya secara nasab dan mengokohkan ikatan keislamannya dengan sesama muslim dalam ikatan ukhuwah dan persaudaraan. Karena demikian adanya, puasa memiliki latar belakang sejarah dalam lintas peradaban agama samawi. Yahudi dan Nasrani adalah kalangan ahli kitab yang tentunya akrab dengan tradisi ini, seandainya mereka tidak menyimpang dari jalur shiratal Mustaqim. Berdasarkan sejarahnya, puasa melalui 4 tahapan sebelum kita mengenal tradisi puasa sebagai mana yang kita praktekkan hari ini. 

1. Puasa hari-hari putih (ayyamul bidh) dan 10 Muharram (Asyuraa'). 

Sejak Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau beserta kalangan sahabat membiasakan diri puasa 3 hari berturut-turut setiap bulan hijriah; hari ke-13, 14 dan 15. Rutinitas ini diiringi dengan puasa Asyuraa' yang telah menjadi budaya dalam internal kaum Yahudi di kota Madinah di sekitar wilayah Khaibar. Puasa yang mereka lakukan sebagai wujud rasa syukur terhadap bebasnya nabiyullah Musa beserta kaum muslimin di zamannya dari kejaran Fir'aun dan bala tentaranya. Puasa hari-hari putih sendiri, berdasarkan informasi valid yang dituturkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya, sudah ada sejak nabiyullah Nuh alaihissalam. 

2. Puasa Secara Opsional.

Memasuki tahun ke-2 hijriah di Madinah, beberapa bulan setelah pengalihan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka'bah di kota Makkah, perintah puasa; tepatnya di bulan sya'ban turun agar kaum muslimin memulai tradisi baru di bulan Ramadhan. Maka dengan suka rela mereka berpuasa pada tahun tersebut sesuai puasa kalangan ahli kitab; jika magrib tiba, mereka berbuka dengan riang gembira. Namun, jika mereka tidur atau ketiduran, baik sebelum atau setelah waktu isya maka mereka terhitung mulai imsak (puasa) hingga magrib berikutnya. Namun, model puasa seperti ini masih bersifat opsional. Karena siapa pun yang merasa tidak sanggup, boleh membatalkan puasanya dengan melakukan fidyah sebagai ganti puasa. Maka tidak heran, ketika perang Badar terjadi; ketika itu bertepatan dengan tahun ke-2 hijriah saat awal puasa ramadhan diperintahkan, ada sebagian sahabat yang fidyah puasa dan ada juga tetap puasa. Sekalipun fidyah dijadikan solusi opsional, tetap saja Allah mengutamakan puasa dibanding fidyah ini (QS Al-Baqarah : 184). Terutama kalangan muda yang masih segar dan jiwa masih kokoh. Tapi apa pun alasannya, tahapan ini memberikan penegasan betapa Allah memberlakukan setiap aturan syariat baru melalui serangkaian tahapan agar memudahkan hambaNya (at-tadarruj fit tasyri').

3. Puasa Secara Mutlak Tanpa Sahur. 

Setelah jama'ah kaum muslimin baru tersebut melaksanakan tradisi puasa di bulan mulia, sejumlah masalah terjadi. Ada yang kadang masih makan dan minum padahal sudah tidur. Ada juga yang masih berhubungan intim dengan pasangan sahnya setelah tidur di malam hari. Umar bin Khattab radhiyallahu anhu termasuk yang melanggar larangan bermesraan dengan pasangan di malam hari ramadhan setelah salah satu dari suami istri tertidur. Maka, di pagi hari, Umar langsung menemui Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melaporkan kesalahannya dengan penuh penyesalan sekaligus menanyakan solusinya. Namun, ketika itu langit belum memberikan solusi dan jawaban tertentu. 

Salah seorang muslim bersuku Anshar bernama Shirmah al-Anshari pulang dari kebunnya. Di rumah, ia menunggu waktu berbuka dan istrinya sedang mencari makanan untuk berbuka. Ternyata, karena kecapekan sehari bekerja, ia tertidur hingga lewat waktu Magrib. Saat istrinya datang, makanan tidak bisa lagi dinikmati. Maka, ia melanjutkan puasa hingga hari berikutnya. Tampak kepayahan menyeruak di wajahnya karena puasa 2 hari berturut-turut tanpa makan dan minum (seperti puasa wishal).  Dengan beragam kejadian ini, dengan Rahmat dan kasih sayangNya, Allah memberikan keringanan (rukhsah). Kaum muslimin diizinkan makan minum dan juga berhubungan suami istri di malam hari hingga waktu azan subuh berkumandang. Bahkan, sahur pun dianjurkan dengan janji berkah bagi yang melakukannya demi kemudahan puasa. Keringanan ini bisa dibaca di surat Al-Baqarah ayat 187. Bahkan, Allah menyebutkan bahwa mereka yang mengkhianati diri sendiri dengan makan dan minum serta berhubungan suami istri padahal sudah tidur di malam hari ; diketahui oleh Allah. Namun, Allah mengampuni (tawwab) mereka sekalipun hanya dengan penyesalan hati dan mencari solusi seperti Umar. Juga Allah memaafkan mereka ('afaa anhum) tanpa syarat, tapi murni karena kelembutan dan kebijakan Allah Ta'ala. 

4. Puasa Sesuai Yang Berlaku Sekarang. 

Dengan adanya keringanan ini, hanya kaum muslimin yang memiliki tradisi sahur dan tidak berpuasa di malam hari. Ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani, tidak mendapatkan karunia dan keberkahan sahur sebagai mana yang dinikmati kaum muslimin sejak era Rasulullah hingga akhir zaman. Itulah salah satu makna dari kemudahan dan kekhususan ajaran Islam dibanding agama serumpun ; Yahudi dan Nasrani. Selain kemudahan puasa, muslim juga mendapatkan perlakuan khusus seperti dihalalkannya shalat di seluruh penjuru bumi (bukan hanya di tempat ibadah saja seperti ahli kitab), dibolehkannya tayammum sebagai pengganti wudhu dalam kondisi tertentu, dihalalkannya harta rampasan perang (ganimah) dll. Semoga kemudahan ini juga bagian dari kemudahan kita terhindar dari neraka dan kemudahan masuk surgaNya. Aamiin. 

Stasiun Citayam, 5 Mei 2019. 

🌷🌷🌷🌵🌵🌵🍄🍄🍄

Ikuti update status nasehat dari kami via :
1. FB : Idrus Abidin
3. YouTube Channel : Gema Fikroh.
4. Telegram Channel : Gemah Fikroh.

Ramadhan, Puasa dan Nilai-Nilai Sosial.

Ramadhan, Puasa dan Nilai-Nilai Sosial. 

By. Idrus Abidin.

Siklus tahunan berupa ramadhan dan puasa sebentar lagi membersamai kita. Rindu untuk mendapatkan peluang ampunan, kesempatan memperbanyak pundi-pundi amal dan membebaskan diri dari ancaman neraka kian terbuka. Tak lupa do'a dan harapan untuk bertemu kembali ramadhan sudah sejak lama dilantunkan. "Berkahi kami ya Allah di bulan Rajab dan sya'ban dan sampaikan kami ke bulan ramadhan." Itulah lafaz do'a yang banyak dipanjatkan sebagai wujud dari kerinduan iman.

Momen Penguatan Hablun Minallah.

Ramadhan adalah peluang emas untuk kokohnya ikatan cinta dengan sang maha penguasa alam semesta. Semua hidayah berupa kitab suci; dari lembaran-lembaran suhuf nabiyullah Ibrahim, Taurat nabiyullah Musa, Zabur, Injil nabiyullah Isa dan Qur'annya nabiyullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam turun di bulan Ramadhan. Maka, surat cinta Allah ini mengajak setiap hamba agar senantiasa terkoneksi secara langsung dengan Allah Ta'ala. Pada bulan ini, Manusia diminta membangun keakraban dan  kedekatan khusus dengan Al-Qur'an. Sehingga bisa mengokohkan rasa cinta dan ketaatan mereka pada sang ilahi. Rasa syukur atas karunia petunjuk diwujudkan dengan ibadah total. Puasa di siang hari dan taraweh di malam hari; termasuk qiyamullail beserta lantunan tilawah. Semua itu bermuara; selain pada rasa syukur, juga pada takwa yang kian mekar. 

Dengan kedekatan kepada Allah, manusia diharapkan makin merasakan nilai tanggung jawab. Bahwa sebagai hamba, ia harus berkontribusi besar terhadap keislaman dan kemanusiaan. Berusaha untuk hidup mandiri penuh tawakkal dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar tanpa kenal lelah; selama itu memang murni lillah. 

Kesempatan Besar Mewujudkan Hablun Minannas. 

Dengan modal semangat dan harapan akan keridhaan Allah, kedekatan dengan sesama manusia kian diwujudkan. Tidak rela jika lingkungan keluarga besar dan lingkungan sekitar terjauhkan dari ketaatan dan hidayah. Tidak puas sebelum kaum lemah dan semua yang termarjinalkan mendapatkan kepedulian. Walau tidak selamanya dalam bentuk materi dan keuangan. Tapi cukup dengan distribusi zakat dari komunitas kompleks sendiri ditambah infaq dari mereka yang memang serba berkecukupan. 

Ukhuwah Kian Erat Ikatannya.

Di ramadhan seperti ini, nuansa kebersamaan begitu nyata. Di masjid ketika jama'ah dan tarawehan bersama. Juga ketika ngumpul di sore hari demi untuk berbuka dengan sesama rekan kerja atau dengan keluarga di rumah sendiri. Bahkan, di setiap masjid-masjid, tak jarang adanya memobilisasi buka puasa rutin bersama dengan kolak, kurma dan penganan khas Indonesia. Ketika musim  i'tikaf datang, remaja dan kalangan dewasa meramaikan masjid-masjid besar di ibukota dan kota-kota besar lainnya. Beragam kegiatan bersama dilakukan. Ada pembentukan kelompok, tilawah bersama, sip-sipan mengambil jatah makan sahur atau makan malam dan bahkan tausiyah atau Taujih rutin setelah duhur dan Azhar selain taklim dan kajian resmi mesjid pelaksana i'tikaf. Semua itu tentu menciptakan jejaring ukhuwah dan siklus kerja sama demi masa depan diri dan jama'ah yang diharapkan jauh lebih baik. 

Empati Terhadap Kaum Marjinal Meninggi.

Puasa adalah praktek secara langsung demi merasakan beratnya lapar dan haus, selain bentuk ketaatan kepada aturan Allah Ta'ala. Dengan lapar dan haus, setiap pribadi muslim merasakan betapa perlunya berempati kepada mereka yang lapar dan hausnya tidak dibatasi oleh waktu subuh hingga magrib, seperti layaknya muslim  yang berkecukupan. Tapi rasa haus dan lapar itu berlangsung sepanjang tidak adanya makan dan minum yang halal. Seperti yang dialami oleh mereka yang hidup di gerobak-gerobak kardus dengan istri serta anak-anaknya. Pemandangan yang tak pernah terlihat di wilayah pedesaan terpencil sekalipun. Tapi di ibu kota seperti Jakarta dan kota-kota besar lainnya, hal itu adalah pemandangan lazim harian. Bahkan, deretan gerobak itu seolah serentak meramaikan trotoar di ibu kota; terutama saat musim i'tikaf telah tiba. Mereka berderet di tengah malam dengan penyinaran seadanya dari pendar lampu jalan. Sesekali tampak adanya orang-orang yang mengulurkan bantuan; ada yang berupa makanan siap saji, sejumlah uang hingga lembaran pakaian. Itulah yang memancing mereka memenuhi jalan-jalan besar ibu kota; tingginya empati muslim perkotaan di ramadhan, terutama musim i'tikaf. 

Egaliter Makin Terasa.

Sikap kebersamaan menjadi sesuatu yang tampak, khususnya saat distribusi zakat fitrah kepada mereka yang memenuhi standar maksimal. Di pagi hari ketika takbir iedul Fitri menggema, dipastikan tidak ada yang bersedih; karena kebutuhan pokok berupa makan untuk beberapa hari dan pakaian baru sudah terjamin.  Anak yatim-piatu bahkan terkadang mendapatkan voucher belanja yang disponsori oleh lembaga zakat dari para Muhsinin dan donatur tetap masing-masing yayasan. Dengan itu semua,  egoisme yang biasanya menjangkiti kaum kaya seolah luntur oleh kepedulian dan empati. Kesombongan menjadi masa lalu yang telah ditangisi karena taubat telah dimengerti. Bahwa nilai kemuliaan tak selalu pada pangkat dan materi, tapi utamanya pada takwa yang sudah mulai dipelajari. 

Saat Kaum Papa Merasa Tak Sendiri Lagi.

Ramadhan akhirnya betul-betul menghubungkan tali kasih dan kepedulian terhadap sesama manusia atas nama Allah Ta'ala. Keadilan sosial dengan penuh ketulusan diwujudkan melalui ibadah ritual bernama puasa dan zakat fitrah disertai infaq dengan beragam bentuknya. Sehingga setiap hara raya berarti hari bahagia untuk semua komponen ummat Islam. Semoga semua itu merupakan perkembangan yang menggambarkan bahwa ramadhan tidak lagi sekedar ritual tahunan; namun juga rasa syukur dan ketakwaan yang dirasakan pula manfaatnya oleh mereka yang termarjinalkan. Aamiin.

Stasiun Manggarai, 30 April 2019.

🌷🌷🌷🌵🌵🌵🍄🍄🍄

Ikuti update status nasehat dari kami via :
1. FB : Idrus Abidin
3. YouTube Channel : Gema Fikroh.
4. Telegram Channel : Gemah Fikroh.

Thursday, April 18, 2019

Saksi Kebenaran (Keadilan dan Keihsanan) Via Pencoblosan (Pilpres).



By. Idrus Abidin.

Jadilah saksi Allah yang adil dan jujur serta menjunjung tinggi kebenaran. Demikian salah satu pesan ketuhanan dlm Al-Qur'an. Kebenaran (tauhid) yang telah disaksikan sendiri oleh Allah kebenarannya. Lalu malaikat dan para ulama dijadikan saksi Kebenarannya pula. Termasuk kebenaran Islam. (QS Ali Imran : 18-19)

Kebenaran dan kesaksian terhadapnya itu telah diwariskan setiap generasi ke generasi berikutnya hingga saat ini di negeri kita, Indonesia. Pencoblosan hari ini adalah bagian dari persaksian atas kebenaran itu. Kebenaran yang banyak diselewengkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dengan istilah takwil dan beragam istilah lain yang subtansinya penyelewengan dari kebenaran. Banyak orang tertipu dengan istilah-istilah yang tampak keren, tapi sebenarnya adalah penipuan dari orang-orang blm merasa tertipu. Penyelewengan dari kebenaran ini minimal ada empat kategori : (1). Kufur, (2). Fasiq, (3). Maksiat, (4). Murni kesalahan. 

Kesaksian tentang kebenaran Allah dan keesaanNya serta kebenaran Islam, termasuk kemaslahatan Islam dalam pilpres kali ini mencakup empat makna sekaligus :

(1). Pengetahuan dan keyakinan tentang kebenaran objek persaksian. 

(2). Pernyataan dan ungkapan tentang kebenaran tersebut.

(3). Pengumuman kepada orang sekitar kita akan kebenaran yg telah diketahui, yakini dan nyatakan, baik dengan ucapan ataupun perbuatan (sikap)

(4). Menerima konsekuensi logis kebenaran dlm seluruh perangkat diri (jiwa, lidah dan raga) dan semua sektor kehidupan (ibadah, sosial, pendidikan, politik dll) demi terwujudnya kebenaran, keadilan dan Keihsanan. 

Artinya, segala iman dan Islam kita beserta semua ucapan dan perbuatan kita adalah kesaksian terhadap pengetahuan dan keyakinan, ungkapan dan pernyataan, ajakan dan seruan serta kesiapan menerima konsekuensi dari semua itu. 

Kini, pada hari ini, kesaksian tentang siapa diantara 2 calon presiden yang kita ketahui, yakini, nyatakan, hingga kita info dan kampanye kan via lisan, sikap, tulisan, di media sosial; cetak dan online, bahkan kita wajib dan haruskan untuk keluarga, teman dan seluruh jaringan yang ada, telah dilakukan. Wilayah kita hanyalah usaha dan ikhtiar. Hasilnya hanya dominasi Allah. Dan Allah maha jujur terhadap segala janji-janjinNya. Ketika kemenangan bukan di pihak kita artinya ada yg salah dengan usaha kita; bukan pada prinsip kita insya Allah. Atau karena kecurangan yang akan dipertanggungjawabkan oleh pihak pelaksana. Namun, keberpihakan kepada yang benar itulah yang utama. Semoga diridhai dan dimenangkan Allah sekalipun dengan usaha kita yang bisa jadi belum maksimal. Aamiin. 

Pasir putih, Depok, 17 April 2019.

🌷🌷🌷🌵🌵🌵🍄🍄🍄

Ikuti update status nasehat dari kami via :
1. FB : Idrus Abidin
3. YouTube Channel : Gema Fikroh.
4. Telegram Channel : Gemah Fikroh.

Allah Menunjukkan DiriNya Kepada Manusia.

 

By. Idrus Abidin.

Sekali pun suasana dlm masa tenang dan fitnah tiada henti  diproduksi kaum ahli hoax, namun kita tetap perlu mengasah prinsip keimanan kita. Terutama mengenal Allah (ma'rifatullah) sebagai mana Allah sendiri menjelaskan diriNya dlm 3 kategori besar :

1. Allah sebagai yang melakukan segala hal untuk seluruh makhluk; dari menciptakan mereka, mengurus, mengarahkan, mengatur, mendidik, dll.  Ini disebut rabbul a'lamiin. Konsekwensi Tuhan sebagai pendidik, maka Dia Mengutus orang khusus (nabi dan rasul) dengan bekal kitab suci untuk menjelaskan ketetapan/aturanNya. Ada yg bersifat ketetapan (takdir) alam yg bersifat pasti seperti siklus matahari dan bulan dsb. Ada pula yang bersifat ketetapan bersikap terhadap Tuhan (ibadah khusus seperti shalat dsb), sikap terhadap sesama manusia dan seluruh makhluk dengan maksud menyampaikan keadilan dan kebaikan (Ihsan) kepada mereka. Terhadap kehidupan sebagai ujian pengabdian kepada Nya. Terhadap alam semesta untuk dipelajari agar terlihat Bukti-bukti kehebatan dan kebesaranNya sekaligus menemukan prinsip utama untuk dijadikan pengetahuan sains dan teknologi. Ketetapan bersikap inilah yang disebut agama (takdir syari'at). Dari sisi ini, Allah dikenal dg istilah tauhid rububiyah. 

2. Allah yang memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang menjelaskan lebih detail tentang perbuatan-perbuatanNya sebagai Rabb (Asmaul Husna). Ini ada 2 kategori besar : (a) Allah dengan sifat zatNya yg maha hidup (Al Hayy), tanpa berawal dari sesuatu dan berakhir pada suatu masa. Kesempurnaan hidupNya terbukti bahwa Dia tidak mengantuk dan tidak tertidur. Dia melek terus dan senantiasa mengurusi seluruh makhlukNya tanpa kenal lelah. Krn hidup Allah sempurna, maka sifat zatNya yg lain sempurna. Seperti maha mengetahui segala hal; dulu, sekarang dan yg akan datang. Maha mendengar, maha melihat, dll. (b). Allah dengan perbuatanNya yang sibuk mengurus seluruh makhlukNya (qayyum). Ini tergantung kehendak Allah. Contoh, mengampuni jika Dia mau, menyiksa jika Dia mau dst. Kategori ini disebut tauhid asma wa sifaf dalam ilmu Tauhid.

3. Tuhan yang harus disembah (Allah). Sebagai konsekwensi dari Allah mengurus segala hal untuk makhluk, maka tentu makhluk harus berterima kasih dan bersyukur dlm bentuk memuji (Al-Hamdulillah) memahasucikan (subhanallah), meminta do'a, meminta bantuan dll. Inilah yang disebut ibadah. Dlm ilmu tauhid disebut tauhid uluhiyah.

Intinya, Allah sebagai subyek yang melakukan segala hal sebagai bentuk cinta dan kasihNya kepada seluruh makhlukNya, maka Dia akan menjadi obyek yang seharusnya dipuji, disucikan (disembah) dengan beragam Sikap hati yang jauh dari syirik, lidah dg pujian dan fisik dengan melaksanakan semu perintah Nya dan menjauhi segala laranganNya. Wallahu a'lam.

Grafik Perkembangan Iman dan Taqwa.



By. Idrus Abidin.

Sebagaimana fisik berkembang dengan pasti jika tercukupi menu dan kebutuhannya, seiring dengan perputaran  waktu, iman dan takwa pun demikian. Jiwa kita akhirnya terus akan bertanya, untuk apa kehidupan ini dan akan ke mana tempat berakhirnya?! Maka, jiwa pun memasuki petualangan spiritual untuk berusaha memastikan keamanan dan jaminan masa depannya. 

Awalnya Kupikir Hanya Cukup dengan Shalat.

Di awal masa-masa balig, kita mengira surga itu bisa digapai dan neraka bisa dihindari cukup dengan Shalat 5 waktu. Itulah garansi awal dan harga surga dalam benak kita ketika itu. Bahkan, sebagian saudara muslim kita menjaga identitas Islamnya hanya dengan Jum'atan tiap pekan. Tidak lebih. Surga dan neraka blm banyak mereka pertimbangkan seperti mereka yang menganggap shalat adalah jembatan menuju surga. Shalat pun diprioritaskan, walau dengan perjuangan yang tiada terkira. Namun, seiring dengan ceramah agama yang masih terbatas kita dengar; lewat mimbar-mimbar khutbah di hari Jum'at, radio-radio yang kebetulan kita dengar saat-saat setelah shalat subuh tiap ramadhan. Ditambah ceramah tarawih dan Khutbah Iedul Fitri dan Iedul Adha, sadarlah kita masih banyak amalan wajib yang belum kita amalkan sebagai tameng neraka dan sarana menuju surga. 

Ternyata Harus Melaksanakan Semua Amalan Wajib.

Puasa ramadhan termasuk amalan wajib itu. Umumnya, bagi mereka yang shalat 5 waktu, puasa Ramadhan pasti ikut dijaga. Walaupun, banyak yang  puasa ramadhan, tapi belum tentu shalat 5 waktu. Dengan ilmu seadanya, terkadang jiwa ini bertanya, kenapa banyak orang rajin shalat tarawih tiap malam dengan rakaat maksimal hingga 23, siangnya dihiasi dengan puasa, tapi orangnya tidak shalat 5 waktu?! Bukankah tarawehan hanya sunnah sementara shalat 5 waktu bersifat wajib? Begitulah pertanyaan sederhana timbul di benakku, saat belum mengerti banyak seputar keislaman, di masa lalu. 

Selain puasa, zakat pun termasuk kewajiban. Walaupun hanya zakat fitrah. Zakat harta dari penghasilan belum banyak dimengerti. Pajak bumi dan bangunan lebih sering ditunaikan dibanding zakat penghasilan ini. Sebab utamanya adalah minimnya pengetahuan keislaman. Bagitulah pemahaman seputar Islam berkembang dengan sangat lambat di jiwa kita. Namun, petualangan hidup belum berhenti di sini. Semakin hari, informasi seputar Islam masih terus memanjakan telinga kita. Bahwa surga yang seluas langit dan bumi itu masih perlu amalan tambahan; ibadah Sunnah namanya. 

Amalan Wajib Saja Belum Cukup.

Merasa surga itu makin menarik, sementara neraka makin terasa menakutkan, padahal amalan wajib telah dirutinkan. Maka, amalan sunnah pun direncanakan. Shalat rawatiblah yang diharapkan bisa menutupi borok-borok shalat wajib.  Namun, berasa itu pun belum cukup. Masih perlu puasa Sunnah, terutama Senin atau Kamis atau Senin dan Kamis sekalian. Bahkan, kalau kuat juga puasa ayamul bidh di setiap tgl 13, 14, 15 tiap bulan hijriah. 

Infaq berupa uang atau pun tenaga dan pikiran (keahlian) tak lupa diamalkan demi memuaskan semangat iman dan gelora ketakwaan. Sampai-sampai perlu sedikit memaksakan diri agar tilawah harian menjadi budaya keislaman, walau hanya 1, 2, dan 3 halaman. Apalagi jika masih kuat sesekali baca do'a pagi dan petang (Ma'tsurat). 

Ternyata Butuh Ilmu yang Cukup. 

Dengan sejumlah amalan itu, kita mengira bahwa rasa khawatir akan ancaman neraka dan peluang untuk menjadi penduduk surga sudah sedikit terjamin. Namun ternyata, kita sadar bahwa butuh ilmu keislaman yang cukup untuk bisa memastikan amalan-amalan kita sesuai standar diterimanya amal; ikhlas dan sesuai petunjuk dan pengarahan Rasulullah. Sesuai syahadat yang telah kita persaksikan. Sumpah yang telah kita ucapkan dan janji setia yang pernah kita ungkapkan. 

Ilmu inilah yang mengarahkan kita kepada kemandirian dlm banyak hal. Termasuk mandiri masuk surga dan terhindar dari neraka. Ilmu yang merubah kita dari sekedar muslim biasa menjadi mukmin berdaya. Bahkan potensial menjadi Muhsin yang penuh pesona. Ilmu yang menguatkan Azam kita untuk lebih baik dari sebelumnya. Ilmu yang mengajarkan bahwa amalan tidak sekedar berharap nikmatnya fasilitas surga dan terjauhkan dari amukan siksa neraka, tapi lebih dari itu. Bahwa keridhaan dan kecintaan Allah perlu dinomorsatukan sehingga Allah Ridha dan mencintai kita; agar amalan-amalan itu benar-benar berfungsi sebagai tameng (takwa) dari keburukan dan sarana (wasilah) menuju kebaikan.

Demikianlah grafik Perkembangan Iman dan Taqwa kita. Semoga terus bertumbuh secara maksimal; terutama di saat-saat kita memang sedang berada diambang jemputan ajal. Aamiin. 

Stasiun Manggarai, 9 April 2019. 

🌷🌷🌷🌵🌵🌵🍄🍄🍄

Ikuti update status nasehat dari kami via :
1. FB : Idrus Abidin
3. YouTube Channel : Gema Fikroh.
4. Telegram Channel : Gemah Fikroh.

Berteman Dengan Calon Penduduk Surga.



By. Idrus Abidin.

Lingkungan adalah area di mana seseorang terlibat sebagai bagian komunitas. Setiap lingkungan memiliki hukum dan budayanya sendiri-sendiri. Hukum dan budaya yang dibentuk oleh sponsor atau pribadi yang memiliki daya tarik sosial dan keunggulan leadership. Yaitu orang-orang yang memiliki kemampuan manajerial berupa perhatian, kesetiaan, sikap supel dalam bergaul dan kesiapan untuk saling menanggung. Intinya, seorang sosok yang membuat nyaman orang-orang sekitarnya dg sejumlah kepribadian unggulan. 

Kita Adalah Hasil Lingkungan dan Komunitas Kecil Keluarga. 

Keluarga adalah komunitas awal tempat kita bertumbuh dan belajar mengenal banyak hal. Dengan perangkat pengetahuan yang kita miliki, sejumlah adat istiadat dan cara bersikap ikut menjadi bagian kepribadian kita. Maka,  kata seorang ahli, kita adalah anak biologis dan ideologis lingkungan dan komunitas keluarga. 

Dari lingkungan Biologis Menuju Keluarga Ideologis. 

Awalnya kita secara alami berkembang bersama budaya dan ideologi keluarga. Namun sering dengan lingkungan pergaulan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya, yang terus meluas; kita pun memiliki standar baru dalam bersikap. Terutama hal-hal yang bersifat spiritual. Dalam lingkup keislaman, bisa jadi awalnya kita tradisionalis. Islam yang kita pahami hanya shalat 5 waktu dan perayaan hari-hari besar Islam. Tapi karena pengaruh media sosial dan media realitas, akhirnya kita mendapat info keagamaan baru yang lebih modernis. Bahwa Islam itu adalah apa kata Allah, rasul-Nya dan teladan generasi terbaik.
Islam yang diwarisi memang beda dengan Islam yang dipelajari. Islam hasil belajar adalah Islam hasil usaha sendiri yang diperjuangkan dengan penuh keringat. Sehingga jati diri kita menyatu dengan Islam normatif yang memang ditradisikan oleh manusia terbaik; Rasulullah shalallahu alaihi wasallam beserta sahabat, tabiin dan generasi pelanjut mereka yang unggulan. Dengan itu, Islam kita memiliki afiliasi kekeluargaan di tingkat ideologis dengan keluarga keimanan internasional (alamiah). Di sana, yang ada hanya murni Islam. Adapun budaya yang berbeda antar negara, suku, bangsa dan komunitas; hanyalah ciri alami yang tidak melampaui identitas utama Islam. 

Komunitas Duniawi, Gambaran Komunitas Ukhrawi. 

Jika pertemanan dalam keluarga ideologis ini terus diperjuangkan dengan tingkat konsistensi tinggi, tidak mustahil kita masuk dalam kategori pembaharu yang terlibat menawarkan solusi real bagi kehidupan kebangsaan kita. Maka, tidak hanya lingkungan masjid yang diramaikan. Tapi terus bergerak menawarkan kemakmuran iman, takwa dan ekonomi kepada pasar-pasar, lembaga pendidikan, lembaga adat hingga ke tingkat politik. Di titik ini, beragam tuduhan pasti akan berseliweran dari ideologi berbeda yang tidak siap bersaing secara sehat. Bukan karena benarnya mereka dibenci. Tapi karena mengancam keberadaan status quo  yang terlanjur nikmat di kursi kekuasaan. 

Semua teman, lingkungan dan keluarga kita adalah cerminan dari jati diri kita yang sebenarnya. Mereka semua menentukan corak keberagamaan kita, sebagai mana kita ikut terlibat mewarnai hidup dan keislaman mereka. Maka tak salah, teman duniawi kita adalah cerminan teman ukhrawi kita. Sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam suatu ketika, "Engkau akan bertemu dan berkumpul di akhirat kelak dengan orang-orang yang engkau cintai di dunia." Sudahkah cinta kita bersemi dengan pribadi-pribadi yang potensial masuk surga?! Wallahu a'lam. 

Depok, 6 April 2019. 

🌷🌷🌷🌵🌵🌵🍄🍄🍄

Ikuti update status nasehat dari kami via :
1. FB : Idrus Abidin
3. YouTube Channel : Gema Fikroh.
4. Telegram Channel : Gemah Fikroh.


Categories

About Us

There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form.

Contact Form