الأربعاء، 15 يوليو 2020

MANHAJ

MANHAJ
(Metode Berpikir [Studi]; Antara Klaim, Fakta dan Norma [Ideal]. 

By. Idrus Abidin.
__________________

Islam bukan sekedar membawa ajaran kebenaran di tingkat petunjuk pada setiap detil kehidupan (Masa'il). Dari hati, lisan, perbuatan; pribadi, keluarga, lingkungan sosial makro, hingga level negara. Tapi, Islam juga menekankan metode atau manhaj yang tepat, moderat, profesional dan proporsional (Wasa'il). Metode inilah yang disebut manhaj, shirat, sunnah, thariqah, Fiqih dll. Yang mana, substansinya adalah mengetahui dan mengamalkan sesuatu dengan cepat dan tepat (ash-Shirat al-Mustaqim). Terutama dalam hal jalan menuju surga dan terhindar dari neraka dengan cinta Allah (mahabbah). Itulah paket visi misi (konsep dan praktek dunia akhirat) dalam keislaman kita. Walaupun terkadang ada orang dan atau kelompok sudah benar secara manhaj, tapi karena ekstrim dalam klaim kebenaran (truth claim) akhirnya menyimpang juga. Kokohiyun kiri kanan terinfeksi penyakit ini (Takabbur), walaupun belum tentu merasa dan tersadar telah tertipu oleh perangkat lunak iblis ini (talbis iblis). Nadzubillah. 

Di tingkat teori (manhaj), memang kita bisa ideal. Tapi di tataran praktis kita kadang gagal. Karena dalam dunia praktis, kita terlibat secara rasa dan rasio. Intuisi dan nalar kita berduet dan berkolaborasi, walaupun sisi rasa kadang menyeret kita menjauh dari sikap sportif yang menjadi tuntunan akal (idealisme). Itulah manusia dan sikap manusiawinya yang selalu rentan dengan lumpur kesalahan. Sementara, di level teori, kita umumnya terlibat sebatas rasio dan nalar kita. Mungkin itulah hikmah kenapa kita diminta terkadang mengambil jarak dari realitas kehidupan praktis untuk merenungi kembali sisi idealisme kita dengan qiyamullail, i'tikaf dll. Termasuk masa-masa lock down karena covid-19 seperti sekarang. 

Sebenarnya bukan itu inti tulisan ini. Maunya sih ngomongin metode bayani dan burhani dalam tradisi studi Islam kita. Walaupun orang juga kadang abai dengan metode akhlaqi, terutama jika pendekatan diperluas ke ranah Tasawuf. Intinya, dalam eksplorasi pengetahuan Islam telah terbentuk 3 manhaj dan metodologi ilmiah dalam sejarah intelektual kita. Ketiganya adalah : [1]. Metode Irfani. [2]. Metode Burhani. [3]. Metode Akhlaqi. 

1. Metode Irfani (Sufi).

Adalah manhaj studi keislaman yang bertumpu pada teks-teks syari'at dengan pendekatan intuisi (rasa dan hati) yang lebih dominan. Termasuk royal menggunakan tafsir isyari atau makna batin teks-teks keagamaan. Sehingga mengalihkan makna tekstual kepada makna batin tersebut lazim dilakukan dengan alasan adanya tuntunan (qarinah). Takwil akhirnya menjadi konsekwensi yang tak terhindarkan. Baik di ranah Akidah, Fiqih dan Tasawuf. Bahkan, Fiqih dibagi lagi dengan hakikat, syar'iat dan thariqat. Namun, kalau di ranah Tasawuf, yang dimasukkan ke dalam kategori ini biasanya adalah Tasawufnya Rabi'ah al-Adawiyah yang bertumpu pada keikhlasan (cinta/mahabbah). Walaupun abai terhadap 2 paket lainnya; sisi harapan (raja') dan rasa takut (khauf) [wa'ad dan waid]. Maka tidak heran, demi menegaskan fokus mazhab ini kepada keikhlasan, keluarlah statement  bermasalah di mata Ahlu Sunnah (thariqah mu'tabarah). Yaitu, prinsip internal mereka yang berbunyi, "Siapa yang menyembah Allah karena berharap surga atau karena takut neraka, maka ia tergolong musyrik." Akhirnya, kalangan sahabat, tabi'in dll ikut dianggap syirik hanya dengan prinsip ekstrim seperti ini. Padahal, paket Tazkiyatunnafs [Tasawuf] yang lurus manhajnya mengakomodir cinta Allah, penuh harap dan rasa takut dalam lingkup keikhlasan. Itulah manhaj yang tepat. Disebut oleh intelektual belakang dg istilah Neo Tasawuf yang banyak dijelaskan prinsip-prinsipnya oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyah dg merujuk jalan rohani yang telah ditunjukkan oleh guru spiritual beliau ; Ibnu Taimiyah rahimahullah.

2. Metode Burhani (Falsafi).

Adalah sebuah metode studi Islam yang mengandalkan kekuatan rasio dalam mencerap ilmu pengetahuan. Keunggulannya adalah kemampuan menghasilkan pengetahuan konseptual (kata yang berfungsi sebagai istilah) dan pemahaman preposisi (kalimat yang berwujud pengertian). Sehingga kata meja dijadikan simbol benda yang berkaki empat yang berfungsi sebagai sarana belajar, alat makan dan hiasan di ruang tamu. Demikian pula manusia, yang dilihat oleh akal bukan personalnya per item; Zaid, Umar, Utsman, tapi sisi kemanusiaannya. Ini contoh pengetahuan konseptual yang menjadi tumpuan metode Burhani. Sedang pengetahuan preposisi adalah ilmu tentang sesuatu melalui kalimat sempurna. Seperti manusia itu bagus atau manusia itu jelek. Bagus jelek dalam kalimat ini adalah predikat yang disandangkan kepada subyek (manusia dalam contoh ini). Pengetahuan konseptual disebut tashawwur dalam logika Arab. Sedang pengetahuan preposisi disebut tashdiq dalam filsafat Arab.
Umumnya filosof muslim mengandalkan metode ini dg beragam kecenderungan mereka. Sehingga mereka menjadi pelanjut Platonisme atau Aristotelianisme dalam peradaban Islam. Sehingga ilmu filsafat dianggap ilmu hikmah agar tidak mudah dicurigai oleh intelektual muslim yang beraliran lain; terutama aliran Akhlaqi. Dialektik antara imam Ghazali dg Tahafut al-Falasifahnya  dengan imam Ibnu  Rusyd dengan Tahafut at-tahafutnya di masa lalu mencerminkan permasalahan internal di kalangan pecintah hikmah model ini. Bahkan di ranah Akidah, metode ini telah melahirkan polarisasi mendalam dg munculnya aliran menyimpang; Khawarij, Syi'ah, Jahmiyah, Muktazilah dll. Semuanya berlindung di balik istilah takwil yaitu menundukkan persfektif Wahyu di bawah pengarahan rasio yang terbatas. Akhirnya, mereka mereduksi Tuhan dg beragam cara; walaupun dg maksud mensucikanNya dari kelemahan. Ada yang menafikan semua sifat-sifatNya. Ada yang menafikan sifat informatif (khabariyah) saja. Adapula yang menganggap sifat-sifat Allah itu sama dan persis dg sifat-sifat makhluk dll. Alasan mereka semua sama; mensucikan Allah dari keserupaan dan kemiripan dengan makhluk (tanzih). Tapi karena lalai dari metode Al-Qur'an dan Sunnah, akhirnya akal dan rasio yang dianggap memproduksi bukti-bukti burhani itu malah menghasilkan perdebatan dan pertentangan luar biasa. Itu di bidang akidah. 

Di bidang Tasawuf, metode ini menghasilkan Mazhab Falsafi yang menjadi cikal bakal wahdatul wujud dan wahdatus Syuhud. Sehingga Tuhan bukan lagi yang ada dalam keimanan kita. Tapi Tuhan ahli wahdatul wujud itu sudah bereinkarnasi dalam tubuh para diri setiap wali. Pandangan yang melebihi jeleknya keyakinan Kristen yang menyatakan, Tuhan bereinkarnasi secara khusus pada diri Yesus.
3. Metode Akhlaqi.
Yaitu metode yang fokus dengan makna-makna yang terkandung dalam lahiriah teks dengan menghindari sikap boros dalam pemberdayaan takwil. Harapannya, menghindari sikap berlebihan dalam pemberdayaan rasio dan rasa bahkan dalam penggunaan teks-teks syari'at sehingga keluar dari rel moderat dan sikap profesional serta harapan untuk tetap konsisten pada jalur profesional (Ihsan/itqan). Mereka tidak anti terhadap intuisi yang dibangun kelompok Bayani dg rasa dan hati mereka. Mereka juga tidak memusuhi rasio dan Burhan yang dikembangkan oleh filosof. Tapi mereka hanya kritis terhadap sikap ekstrim kelompok Bayani dalam pemberdayaan intuisi serta rasa mereka. Sebagaimana mereka kritis pula dengan gaya ekstrim pendapuk Burhan nalar dan logika. Yang mana, menurut Mazhab Akhlaqi ini, rasio, rasa, intuisi dan logika itu telah mereduksi wahyu. Akibatnya, akal dan rasa dimutlakkan, sedang Wahyu dinisbikan (relatif). Karena bagi kelompok Akhlaqi ini, apabila teks Wahyu benar tidak mungkin kontradiksi dengan apapun. Baik itu Wahyu di internal sendiri (Qur'an dengan Qur'an. Hadits dg Qur'an. Hadits dg hadits), rasio (ilmu pengetahuan, realitas [sejarah], Maslahat) dan rasa (hakikat, thariqat, ilham, kasyf, karamah). Kalau pun terasa masih ada kontradiksi, paling pemahaman akal harus diperiksa; benarkah atau terjadi kegagalan dalam memahami maksud teks-teks syari'at. Kalau terbukti makna teks itu pasti, maka akurasi dan penyelarasan (jam'u) mutlak dilakukan. Kalau masih bermasalah, maka tarjih dg memilih yang dianggap paling kokoh sebagai yang terpilih (bisa versi Wahyu, bisa juga versi rasio) harus dilakukan ; tentunya dengan memastikan kronologis sejarah sehingga yang terakhir akan megabrogasi (nasikh) makna pertama. 

Artinya, metode Akhlaqi ini berusaha mengakomodasi dan menyelaraskan semua sarana keilmuan (berita [Wahyu], Indra, rasio, dan rasa tanpa menihilkan makna berita valid yang dibawa oleh syari'at. Sehingga qath'i dan zhanni proporsional. Agar bayani dan burhani berkolaborasi. Semua itu adalah upaya agar mutlaq muqayyad, aam khas, dan syari'at hakikat dll; bekerja sama secara moderat dalam manhaj keislaman kita; teoretis maupun praktisnya. Inilah yang kami upayakan dalam beragam kegiatan dakwah; lisan, tulisan dan pengajaran. Satu lagi, dalam dunia debat, seringkali metode Bayani itu disamakan dg metode agitasi (khithabiyah) yang satu arah, sehingga dianggap lemah ketika berhadapan dengan metode Burhani. Padahal, metode Burhani Al-Qur'an dan Sunnah jauh melebihi kemampuan manusia yang dianggap paling cerdas di alam ini. Karena ini merupakan perbandingan antara Allah dan hambaNya (Qiyas ma'al Fariq). Akhirnya, telinga, akal dan rasa dan semua Indra harus patuh pada Qur'an dan Sunnah. Sehingga telinga, akal, rasa dan Indra cukup sebagai sarana pengetahuan. Jangan sampai menjadi referensi yang menyaingi apalagi menentukan pemaknaan Qur'an dan Sunnah. Dalam kondisi terakhir, Qur'an dan Sunnah jadi makmum, sedang telinga, akal, rasa dan Indra menjadi imam. Nauzubillah. Hanya perpecahan ujungnya. Padahal segala sesuatu, pemutusi adalah Qur'an dan Sunnah serta ijma' ulama al-ummah. Sekian. Maaf, rada-rada serius dan relijius 😅. Mugi-mugi bawa arti dan inspirasi 😍; walaupun hanya lewat literasi dan panduan narasi. Wallahu a'lam.

0 komentar:

إرسال تعليق

Categories

About Us

There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form.

نموذج الاتصال