الأربعاء، 15 يوليو 2020

Syubhat Rasional Seputar Ketinggian Zat Allah dan Jawabannya.

Syubhat Rasional Seputar Ketinggian Zat Allah dan Jawabannya.

By. Idrus Abidin.

Sebelum menjawab syubhat rasional yang menjadi basis penolakan terhadap keyakinan bahwa Allah bersemayam secara zat di atas Arasy, perlu ditegaskan bahwa kaum muslimin berkonsensus bahwa Allah menyandang atribut kesempurnaan  sehingga pantas dipuji (tahmid) dan bebas dari indikasi/unsur  kelemahan serta  kekurangan (tasbih). Makanya Allah harus disucikan dan dipuji sekaligus. Hanya saja, terjadi perbedaan perspektif terhadap ketinggian Allah secara zat ini. 

Bagi kalangan Salaf, menegaskan (itsbat) makna tekstual ketinggian Allah secara zat tidak berpretensi buruk dan tidak menimbulkan konsekwensi tasybih dan tajsim, seperti banyak dituduhkan pihak-pihak tertentu. Makanya, mereka menegaskan ketinggian Allah secara zat, selain ketinggian Allah secara posisi, martabat, keagungan dll. Namun, grup studi teologis lainnya menafikan makna ketinggian zat tersebut dan hanya mengakui ketinggian posisi (uluwul manzilah), martabat (uluwul makanah wal martabah) dan kedudukan Allah ta'alaa (uluwul asy-Sya'n).  Mereka  menganggap, menegaskan ketinggian Zat bagi Allah menimbulkan aroma kemiripan dengan atribut makhluk (tasybih). Belum lagi konsekwensi  logis bernuansa buruk (lawazim aqliyah mazmumah) seperti menganggap Allah berfisik (jism), bertempat (tahayyuz), menyandang arah tertentu (jihah) dan berkonotasi pembatasan terhadap keagunganNya (mahdud). Tentu Allah maha suci dari atribut demikian. Karena kalau Dia berfisik berarti Allah terdiri dari beragam unsur dan beberapa bagian (tarkib). Jika terbagi dan berunsur berarti saling membutuhkan. Jika Allah bertempat berarti Allah terbatas. Bila Allah bersemayam berarti Dia bertempat. Jika bertempat berarti Dia butuh kepada tempat. Sejak dulu Allah ada tanpa tempat, maka pastinya Dia kondisiNya sekarang seperti dulu yang tak bertempat itu. 

Jawaban untuk syubhat rasional beraroma filosofis dan dialektik ini adalah :

Bahwa kita sepakat kalau Allah harus disucikan dari segala bentuk kekurangan dan semua indikasi kelemahan (tanzih). Termasuk memahasucikan Allah dari kemiripan dengan makhluk (tasybih). Kita hanya berbeda sikap pada cakupan dan batasan dari prinsip tanzih ini. Menurut kami, dalam hal ini minimal terdapat 3 kecenderungan. 2 terhitung ekstrim dan hanya 1 kelompok yang moderat (washatiyah). 

A. Kelompok ekstrim yang menolak secara total atau sebagian besar identitas dan atribut (sifat) ketuhanan Allah dg menggunakan konsep tanzih ini hingga tarap maksimal. Bahkan, mereka menolak keras agar Allah jangan pernah diidentifikasi berdasarkan karakteristik keberadaan (wujud) atau kehidupan (hayat). Ketika ditanya seputar karakteristik Allah, mereka menggunakan terminologi penafian/peniadaan secara total dalam jawabannya. Mereka akan berkata, "Allah tidak perlu diidentifikasi ada atau tiada. Dia bukanlah sifat ('ardh) dan bukan pula perangkat (Jauhar), tidak hidup dan tidak mati." Dengan jawaban tersebut, kelompok ekstrim ini menganggap dirinya terhindar dari sikap menyerupakan Allah dengan makhluk (tasybih). Padahal, sadar atau tidak, mereka terjatuh dalam sikap yang jauh lebih buruk; mengeliminasi teks-teks syari'at (muatthhilah) dari makna dasarnya. Bahkan sebelum itu juga, mereka terperosok dalam kubangan ahli tasybih (musyabbihah); karena mengkategorikan Allah sebagai zat yang tidak jelas keberadaanNya (mumtana'at), tak ada eksistensiNya (ma'dumat) dan mustahil wujudNya (muhalat)

 B. Kelompok ekstrim lain yang menghapus prinsip kesucian Allah (tanzih) dari berbagai kekurangan. Sehingga, mereka menyerupakan Allah dengan makhluk secara total atau pada bagian-bagian tertentu. Mereka berani mengatakan, "Tangan Allah seperti tanganku dll."

Kelihatannya, kelompok inilah yang pantas disebut mujassimah (menganggap Allah berfisik seperti makhluk) juga musyabbihah (menyerupai makhluk). Bahkan, kalangan ahlul Sunnah Atsariyah menganggap kelompok ini sebagai mujassimah dan musyabbihah sekaligus. 

C. Kelompok Moderat. Inilah kecenderungan umum ulama Ahlu Sunnah Atsariyah. Mereka menegaskan dan menetapkan karakteristik/atribut bagi Allah dengan tetap menafikan keserupaan dengan makhluk (tasybih). Sikap inilah yang ditegaskan oleh ayat yang mensucikan Allah dari beragam kekurangan secara umum yang berbunyi ; Laisa kamitslihi syai (tidak ada yang serupa dengan Allah), sekaligus menegaskan penetapan atribut Allah secara spesifik dengan firmanNya : wahuwa as-Sami' al-'Alim (Dialah yang maha mendengar dan maha melihat). Kelompok Moderat ini mengamalkan ayat tersebut secara sempurna. Adapun kedua kelompok ekstrim sebelumnya, mereka hanya mengamalkan separuh ayat. Yang pertama menafikan identitas dan atribut Allah secara total atau sebagian, sebagaimana bagian awal ayat. Lalu lalai dari penetapan sifat-sifat Allah secara detail, sebagai mana yang ada di akhir ayat. Sedang kelompok kedua, menegaskan identitas dan atribut Allah secara total (sebagai mana yang ada di ujung ayat) tanpa mengindahkan ayat pensucian (tanzih) yang ada di awal ayat. 

Sebagai konsekwensi dari jalur moderat yang dipilih Ahlu Sunnah Atsariyah, mereka kemudian menetapkan batasan penafian (tanzih) dan penegasan (itsbat) secara proporsional (moderat). Atribut dan karakteristik (sifat)  ketuhanan Allah tetap ditegaskan sebagaimana yang Allah dan rasulNya informasikan. Namun, indikasi keserupaan dengan makhluk tetap dinafikan sedemikian rupa. Seperti menegaskan bahwa Allah bersemayam tapi tidak seperti layaknya manusia. Allah juga memiliki pendengaran namun tidak seperti pendengaran makhlukNya. Allah juga mengetahui tapi tidak seperti pengetahuan makhluk. Demikianlah prinsip akidah yang diimani oleh para sahabat, tabi'in dan kalangan berikutnya. Imam Ishaq bin Rahaweh (Rahuyah) menegaskan, "Tasybih itu terjadi jika ada yang mengatakan ; tangan Allah seperti tanganku. Atau telingaNya seperti telingaku. Itulah tasybih sepenuhnya. 
Adapun jika dia mengatakan, tangan, pendengaran dan pandangan tanpa menunjukkan unsur kaifiah dan tanpa menyebut kata-kata seperti, tentu hal demikian bukan tasybih."

Nuaim bin Hammad al-Khuzai selaku guru senior imam Bukhari rahimahumullah menjelaskan metode moderat ini dengan berkata, "Siapapun menyerupakan Allah dengan makhlukNya tentu sudah kafir. Namun, siapa pun menafikan/mengingkari karakteristik/atribut yang Allah sandangkan untuk diriNya juga sudah termasuk kalangan kafir. Sedangkan atribut dan identitas yang Allah sandangkan untuk diriNya, demikian pula rasulNya; bukanlah tasybih". Karenanya, bukanlah tasybih jika ada yang menegaskan ilmu Allah selama ilmu yang dimaksud sesuai dengan kemuliaanNya. Kemampuan yang setara dengan keagunganNya. Kehendak yang sepadan dengan kehebatanNya. Bersemayam setarap dengan kebesaranNya. Tasybih itu terjadi jika ada yang berkata, ilmuNya seperti pengetahuan kita. KemampuanNya  serupa dengan kemampuan kita. Adapun jika sifat ketuhanan Allah ditegaskan sebagaimana Allah dan rasulNya sendiri menegaskannya dengan tetap menafikan kemiripan atau menegaskan sisi perbedaan antara keduanya; tentu itu bukanlah tasybih sama sekali. 

Konsekwensi Logis-Rasional Beraroma Buruk dan Jawabannya. 

Adapun tuduhan bahwa menegaskan makna lahiriah teks-teks Qur'an dan Sunnah, termasuk Allah bersemayam di atas Arasy akan berefek pada indikasi Allah berfisik (jism), bertempat (tahayyuz) dan berarah (jihah) dll, maka hal seperti ini bisa dijawab secara global dan secara komprehensif (total/terperinci) seperti berikut : 

1. Jawaban global.

Yang jelas Allah menggambarkan bahwa diriNya bersemayam di atas Arasy; sangat tinggi dan terpisah dari seluruh makhluk. Tentu kami sangat menerima dg penuh kepercayaan dan keimanan terhadap informasi tersebut. Namun kami diam terkait konsekwensi logis-rasional yang dipertimbangkan kelompok teologis lain. Konsekwensi logis-rasional tersebut tidak menjadi pembahasan dan pertimbangan kami karena hal demikian tidak disinggung oleh syariat sama sekali. Bahkan, syariat diam dan tidak membahasnya sedikit pun. Dalam syari'at, kita tidak menemukan penegasan (itsbat) atau penafian (nafy) terhadap istilah fisik, arah, tempat, keterbatasan dll terkait dengan atribut dan karakteristik Allah. Tentu mendiamkan hal-hal yang didiamkan dan tidak dipertimbangkan oleh syariat jauh membawa keselamatan dan kemaslahatan akidah dan ibadah; terutama pemikiran dan peradaban serta persatuan kaum muslimin. 

2. Jawaban Komprehensif.

Jawaban model komprehensif ini merinci secara total konsekwensi rasional buruk yang dituduhkan. Seperti, jika fisik yang Anda maksud adalah zat yang bangkit dengan sendiriNya dan sangat mandiri serta tidak butuh pada makhlukNya maka tanpa ragu kami katakan, itulah yang kami tegaskan dan kami dukung. Bahkan pendapat seperti itu kami promosikan dalam setiap tulisan, propaganda dan keyakinan kami. Kami hanya tidak menggunakan istilah fisik. Karena istilah itu tidak kami temukan dalam penuturan syari'at. Namun jika yang dimaksud fisik adalah bagian-bagian tertentu yang saling membutuhkan maka makna seperti itulah yang kami tidak bisa terima dan kami nafikan secara maksimal. Hanya saja, kami tetap meyakini bahwa menafikan makna fisik seperti itu tidak harus menafikan  identitas ketinggian Allah secara zat. Bahkan kami memandang pendapat antum bahwa meyakini Allah berada secara zat di atas Arasy menimbulkan konsekwensi rasional buruk berupa indikasi fisik, tempat, arah dan keterbatasan; itu semua berawal dari sikap kalian sendiri yang menganggap keyakinan seperti itu sebagai bentuk menyerupakan Allah dengan makhlukNya (tasybih). Artinya, bersemayamNya Allah di atas Arasy kalian tuduh sebagai sama dengan perilaku makhluk. Lalu antum simpulkan, semua yang bersemayam pasti berfisik, sedang Allah tidak berfisik; jika demikian, Allah berarti bukan fisik dan tidak berfisik. Menurut kami, dasar berpikir demikian tidak tepat karenanya hasilnya pun menurut kami salah. Allah kan zat unik yang tidak mungkin ada makhluk apa pun yang setaraf dengan diriNya. Karenanya, bersemayamNya tidak akan mungkin pernah mirip apalagi serupa dengan makhluk. 

Selanjutnya, pendapat yang mengatakan bahwa menetapkan makna istiwa berarti menetapkan arah (jihah) dan karenanya membatasi keagungan Allah pada arah tertentu. Maka, kami menegaskan bahwa istilah arah (jihah) juga tidak dianggap dan tidak disebut serta tidak dipertimbangkan oleh Qur'an dan Sunnah sedikit pun. Karenanya, istilah seperti itu kami harus eksplorasi maksudnya. Jika makna jihah di sini adalah tempat keberadaan yang berkategori makhluk, tentu Allah harus disucikan hal demikian. Allah jelas-jelas tidak mungkin bereinkarnasi (hulul) dengan makhluk apa pun sehingga berujung pada keyakinan wahdatul wujud. Kemudian, jika yang dimaksud arah di sini adalah sekedar identifikasi tempat yang tidak berkonsekuensi pembatasan; tentu makna demikian didukung dan diterima oleh kami, Ahlu Sunnah Atsariyah. Namun, dg keyakinan demikian kami tidak merasa melanggar dan menyelisihi kebenaran paten yang sudah kokoh sebelumnya dan juga meyakini tidak ada konsekwensi buruk berupa pembatasan terhadap keagunganNya. Bahkan, menegaskan makna seperti ini termasuk konsekuensi logis rasional positif, seperti yang kami jelaskan pada status FB ini sebelumnya. 

Istilah pembatasan (had) pun tidak kami temukan dalam teks induk syariat. Penegasan dan penafiannya sama sekali tak disinggung oleh Allah dan rasulNya. Jadinya, kami harus mempertanyakan dulu maksud si pembuat istilah ini. Jika maksud dari menafikan arah adalah bahwa Allah tak terbatasi oleh makhluk dan tidak bereinkarnasi padanya, tentu makna demikian tak bermasalah. Itu adalah istilah netral yang tak perlu didebat dan dipersoalkan. Jika makna yang dimaksud adalah bahwa manusia terbatas dan tidak mungkin mengenal Allah secara total, tentu ini juga pemaknaan yang tepat. Namun jika yang dimaksud dengan menafikan batasan di sini adalah bahwa Allah tidak berpisah dari makhluk dan tidak independen darinya; tidak di dalam atau di luar alam, maka kami anggap ini pernyataan orang yang sedang mengigau (hadzayan), ngawur dan rada miring (gila). Tentu makna seperti ini kami tolak mentah-mentah. Bahkan, pernyataan demikian sangat menafikan keberadaan dan zat Allah sekaligus. Makanya, pernyataan demikian mengidentifikasi Allah dengan atribut ketiadaan;  sama sekali tidak mengindikasikan dan menyisakan ruang bagi keberadaan Allah. Abdullah bin Mubarak rahimahullah pernah ditanya, dengan cara apa kami bisa mengenal Allah ?, Maka beliau menjawab, "Bahwa Allah bersemayam di atas Arasy dan terpisah dari makhlukNya." Setelah itu, masih ada yang minta penjelasan tambahan, dengan berkata; 'dengan pembatasan tertentu (bihadd) ? Maka, beliau menjawab, "Ia. Tentunya dengan pembatasan yang hanya diketahui oleh Allah sendiri. Dan, seperti dimaklumi bersama bahwa tidak ada siapa pun yang mampu mengetahui ilmu Allah secara komprehensif (total)."

Dengan penjelasan ini, kami berharap tuduhan musyabbihah dan mujassimah yang sering dituduhkan ke Ahlu Sunnah Atsariyah bisa berkurang. Bahkan klo perlu, bisa diminimalisir sedemikian rupa agar terjadi rekonsiliasi antar Mazhab teologis Ahlu Sunnah di Indonesia, terutama antara Asy'ariyah dan Atsariyah. Harapannya, energi kita tidak habis oleh sesuatu yang bersifat ijtihad; mana yang paling mewakili persfektif utama referensi Islam (orisinil) dan mana yang terpolusi oleh pemikiran luar (dakhil/syubhat). Minimal penjelasan kami ini bisa menetralisir kesalahpahaman dan optimis bisa membangun jembatan kolaborasi untuk saling memahami dan bersama-sama bergandengan tangan memajukan bangunan peradaban Islam. Sekali pun sadar sepenuhnya, jurang perbedaan senantiasa ada. Namun tak perlu diperluas dan diperdalam.  Pluralisme agama: No. Pluralisme Kelompok internal Islam: Yes. Wallahu a'lam. 

Depok, senin, 24 Februari 2020.

0 komentar:

إرسال تعليق

Categories

About Us

There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form.

نموذج الاتصال