الاثنين، 6 يوليو 2020

Iman

Iman
(Serial pertama Oase Keimanan Dalam Nalar Intelektual Ibnul Qayyim)

By. Idrus Abidin.

Salah satu alim ulama yang dikenal ketajaman analisanya seputar masalah iman pada banyak karya tulisnya adalah imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah. Pada serial kali ini, kami berusaha menghadirkan kilas-kilas keimanan tersebut dari hasil goresan pena beliau yang telah disistematika secara apik oleh Prof Dr. Umar Sulaiman al-asyqar dalam kitab al-Iman Billah (Wahah al-Iman 'Inda Ibnul Qayyim al-Jauziyah 1).
Pengertian Iman.

Iman dalam madrasah teologi Islam menjadi ajang perdebatan antar masing-masing Mazhab; termasuk dalam internal Ahlu Sunnah sendiri. Keragaman persfektif seputar iman tersebut telah kami ringkas dalam "Sikap Moderat dan Profesional Ahlu Sunnah Atsariyah Seputar Keimanan." Di sini, tulisan fokus pada persfektif Ibnul Qayyim seputar hal tersebut dengan beragam argumentasi kokoh yang menjadi ciri khas beliau dalam banyak karya-karyanya. Inti pendapat beliau seputar iman secara istilah adalah perpaduan antara ucapan dan perbuatan. Yang mana, baik ucapan maupun perbuatan masing-masing terbagi dua :
✍️ Pertama, ucapan yang mencakup ucapan hati berupa keyakinan dan ucapan lisan berupa syahadat.
✍️ Kedua, perbuatan yang terbagi dalam dua kategori. Perbuatan hati berupa niat dan keikhlasannya serta perbuatan fisik seperti shalat, puasa dll.
Kepercayaan dengan hati dan ucapan dg lisan belum cukup tanpa adanya bukti-bukti fisik (perbuatan) berupa amal shaleh.
Ada yang mengatakan, iman itu cukup pengetahuan dan keyakinan dalam hati. Perbuatan tidak termasuk dalam cakupan iman. Anggapan seperti ini ditolak oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyah dengan beberapa argumentasi berikut :

1. Iblis sebagai pionir utama keburukan.

Dalam hal pengetahuan dan keyakinannya terhadap Allah, iblis tidak dianggap bermasalah sama sekali. Iblis sangat sadar akan keagungan dan kemuliaanNya. Meyakini adanya hari kiamat, surga dan neraka (QS al-Hijr : 36). Namun, dengan penuh kesadaran,  iblis memilih kekafiran akibat kesombongannya yang serba akut. Sehingga pengetahuan dan keyakinannya tidak memberi nilai apapun dalam lingkup keimanan. Juga tidak membebaskannya dari laknat dan ancaman neraka. Kekafiran Iblis ini termasuk dalam kategori kufur keras kepala (kufur 'inad) ; bukan kufur karena kebodohan (jahl) semata. 

2. Fir'aun. 

Nabiyullah Musa alaihissalam berkata kepadanya, "Sungguh engkau sangat mengetahui bahwa Taurat yang kumiliki (beserta 9 bukti kemukjiatan lainnya) tidak mungkin diturunkan oleh selain Allah. Itulah bukti-bukti valid kenabianku (bashair)." (QS al-Israa : 102). Namun, Taurat serta beberapa bukti-bukti valid kenabian Musa alaihissalam diingkari secara langsung oleh Fir'aun sekali pun sebenarnya Fir'aun  sendiri beserta kaumnya meyakini dalam jiwa terdalam mereka (fitrah) kebenaran hal tersebut. Namun, keyakinan fitrawi itu ditutupi oleh sikap zhalim dan kesombongan ('uluw). Maka, kekafiran Fir'aun sama statusnya dengan kekafiran Iblis; keduanya kafir karena keras kepala ('inad). Sama sekali bukan karena ketidaktahuan atau karena faktor kebodohan. (QS an-Naml : 13-14).

3. Kalangan Ahlu Kitab (Yahudi dan Nasrani).

Mereka dengan penuh sikap keras kepala menolak al-Qur'an dan kerasulan nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bukan karena tidak mengetahui kebenarannya. Namun murni karena sikap sombong (keras kepala) dan kezaliman yang tiada terkira. (QS Ali Imran : 70-71). Sehingga kalangan ahlul kitab tidak bermasalah secara konsep pengetahuan iman. Permasalahan mereka ada pada sikap sombong dan keangkuhan. Sama seperti sikap sombong iblis dan Fir'aun. Naudzubillah.

Ke-3 argumentasi tersebut ditegaskan Ibnul Qayyim al-Jauziyah. Sekalipun, Masih banyak fakta-fakta serupa yang disodorkan oleh beliau. Namun, beliau menutup argumentasinya  dengan kenyataan bahwa orang-orang kafir ketika melihat siksaan neraka secara langsung sangat berharap dikembalikan lagi ke dunia karena menyesal dengan penolakan dan sikap kufur serta congkak mereka selama di Dunia. Mereka berharap menjadi mukmin yang baik (jujur) agar terhindar dari azab neraka. Tapi Allah menyatakan, sekalipun mereka dikembalikan ke dunia lagi, setelah mereka melihat secara langsung azab neraka, sikap mereka tidak akan pernah berubah. Tetap saja mereka akan melanggar aturan-aturan syari'atNya (QS al-An'am : 27-28). 

Demikianlah sedikit cuplikan iman dalam nalar Ibnul Qayyim al-Jauziyah. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Bahwa iman adalah perpaduan apik antara keyakinan hati, ucapan lisan dan perbuatan fisik. Wallahu a'lam.

Rabu, 1 Januari 2020 waktu pesawat. (Jeddah To Jakarta).

0 komentar:

إرسال تعليق

Categories

About Us

There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form.

نموذج الاتصال