الاثنين، 6 يوليو 2020

Koreksi Terhadap Pernyataan Prof. Quraish Shihab.

Koreksi Terhadap Pernyataan Prof. Quraish Shihab.

By. Idrus Abidin.

Beberapa hari ini, Ust. Prof Dr. Quraish Shihab rutin tampil di Indosiar menasehati kita seputar hikmah di balik Covid-19. Sungguh inisiatif Indosiar tersebut patut diapresiasi. Prof Quraish Shihab adalah salah satu nara sumber bermutu dalam studi keislaman (dengan segala kelemahan manusiawi yang beliau miliki). Belum lagi tampilan kecil di sudut Tv Indosiar yang mengingatkan masyarakat tiap hari akan dekatnya bulan suci Ramadhan. Itu semua patut dihargai. 

Namun, ada sedikit pernyataan beliau perlu koreksi dan perbaikan. Beliau menyatakan, 'Islam (terkadang) mendahulukan kemanusiaan daripada keberagamaan." Pernyataan ini merupakan dasar untuk menyimpulkan legalitas dan dukungan beliau terhadap fatwa MUI dan sikap pemerintah yang meminta warga beribadah di rumah; dengan tidak berjamaah 5 waktu di masjid. Cukup azan (sebagai informasi masuknya waktu shalat) dan perwakilan kecil yang shalat jama'ah di masjid agar azan tetap berkumandang. Juga supaya fardhu kifayah tetap berlangsung. Termasuk Jum'atan diganti duhuran. 

Mungkin maksud beliau hafizhahullah, DALAM KONDISI DARURAT, Islam mendahulukan kemanusiaan daripada keberagamaan. Seperti ketika nyawa terancam, sementara tidak ada makanan lain untuk bertahan hidup kecuali daging babi. Artinya, pernyataan beliau berusaha menetralisir kesalahpahaman orang-orang yang membenturkan antara ibadah (keberagamaan) dengan rasa takut dari covid-19. Sebatas itu, pernyataan beliau lurus-lurus saja. Namun, peryataan demikian seringkali dimanfaatkan kalangan muslim liberal untuk membenturkan fakta keislaman dengan filsafat Realisme, Positivisme, dll untuk kepentingan buruk. 

Kalau persfektif ana yang terbatas, seharusnya dikatakan, dalam kondisi darurat, Islam mengizinkan manusia beribadah secara pribadi di rumah masing-masing. Sehingga tidak ada kesan kontradiksi antara agama (Islam) dan kemanusiaan. 

Keberagamaan (Islam) itulah yang menyatu dengan kemanusiaan. Istilahnya, rabbaniah-insaniyah. Islam menyatu dengan kemanusiaan secara utuh. Tidak ada pemisahan, tidak ada kontradiksi. Adanya hanya kompromi, akurasi dan sinergi. Hanya Allah yang mampu melakukan itu. Menyatukan langit dan bumi serta dunia akhirat dalam sebuah visi misi yang komprehensif dan proporsional. Islam itu menyatukan semua yang berpasangan (berlawanan) dalam sebuah harmoni (tauhidi). Tidak seperti pemikiran sekuler, liberal, materialistik dan rasional kebablasan; yang seringkali mempertentangkan banyak hal. Langit dan bumi. Laki dan perempuan. Idealisme dan realisme.

Selama Islam ini dipahami dengan baik, in syaa Allah efeknya pasti baik dunia akhirat.  Bahkan, itulah salah satu perbedaan karakteristik antara Allah dan hambaNya.  Makhluk berpasangan, sedang Allah unik, istimewa dan esa. Tidak butuh istri, anak dan apapun dan siapapun. Itulah makna tauhid. Sementara makhluk itu berpasangan (zaujiyah). Maksudnya, dalam kondisi darurat pun, Islam senantiasa Rabbani dan insani sekaligus. 

Catatan :

Anggaplah perbedaan ini tidak substantif, tapi hanya sebatas perbedaan istilah saja (khilaf lafdzi). Atau ini hanya perbedaan variatif (tanawwu), bukan perbedaan kontradiktif (thadad). Wallahu a'lam.

Menurut antum gimana gaes ? 

Depok, 2 April 2020 (Kamis, 8 Sya'ban 1441 H)

0 komentar:

إرسال تعليق

Categories

About Us

There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form.

نموذج الاتصال