Rabu, 07 Maret 2012

HARAMNYA HASAD.



Sumber : Syarah Riyadhusshalihin
 Syekh Shaleh al-'Utsaimin

Alih Bahasa : Idrus Abidin

Yaitu berharap agar nikmat yang didapatkan seseorang hilang darinya, baik itu nikmat dunia atau pun nikmat agama.
            Allah ta'ala berfirman (QS.An-Nisaa' : 54).
            Di sini juga terdapat hadis Anas yang dibahas pada bab sebelumnya.§

(1577)[1] عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : "إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ اْلحَسَدَ يَأْكُلُ اْلحَسَنَاتِ كَمَاتَأْكُلُ النَّارُا ْلحَطَبَ-أَوْقَالَ-الحَشَبَ". رواه أبودود.

1577. Dari Abu Hurairah  Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "hati-hatilah kalian dengan hasad karena hasad menghancurkan kebaikan sebagaimana api menghancurkan kayu bakar -atau beliau mengatakan- rerumputan" (HR.Abu Daud).

PENJELASAN.
           
            Imam Nawawi mengatakan dalam kitabnya Riyadhusshsholihin, bab diharamkannya Hasad. Hasad adalah kebencian seseorang terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah ta'ala kepada orang lain, baik berupa ilmu atau harta atau keluarga atau kedudukan atau yang lainnya. Hasad termasuk dosa besar dan termasuk karakter orang-orang yahudi -Naudzu Billah- sebagaimana firman Allah ta'ala tentang mereka (QS.Al-Baqarah : 109), Allah ta'ala juga berfirman {Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah Telah berikan kepadanya?} artinya, apa-apa yang diberikan oleh Allah ta'ala berupa karunia. {Sesungguhnya kami Telah memberikan Kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan kami Telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar}(QS.An-Nisaa' : 54). Rasulullah mengingatkan kita tentang hasad dan menjelaskan bahwa ia bisa menghancurkan kebaikan sebagaimana api menghancurkan rerumputan -atau beliau mengatakan- kayu bakar.
            Kemudian hasad memiliki unsur penentangan terhadap takdir Allah ta'ala, karena orang yang dengki tidak rela dengan qadha' dan qadar Allah ta'ala. Maksudnya, ia tidak rela Allah ta'ala memberikan orang tersebut harta atau memeberinya keluarga atau memberinya ilmu. Makanya ditemukan padanya unsur penentangan terhadap Qadha' dan Qadar Allah ta'ala. juga rasa dengki menjadi bara dalam hati seseorang –Wal'iyadzu Billah-. setiap kali Allah ta'ala memberikan nikmat kepada hambanya maka hati pun ikut terbakar -Wal Iyadzu Billah-., di mana jika Allah ta'ala memeberikan nikmat kepada hamba-Nya maka ia akan tampak selalu bingung dan cemberut. Hasad bisa saja menghasilkan penentangan dan permusuhan terhadap orang yang mendapatkan nikmat Allah ta'ala. Bahkan bisa jadi ia menebarkan kesan jelek tentang yang bersangkutan dan mengatakan dia begini dan begitu. Bisa saja ia salah atau benar, tetapi tujuan utamanya adalah mendengki orang tersebut akibat nikmat yan diperolehnya. Bisa jadi permusuhan itu bentul-betul terjadi darinya kepada saudaranya sesama muslim. Kemudian hasad tidaklah bisa menolak nikmat Allah ta'ala terhadap hamba-Nya. Betapa pun Anda dengki dan menentang, maka Anda tidak dapat menghalangi takdir Allah ta'ala terahadap hamba-Nya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, "Ketahuilah jika manusia bersatu untuk mencelakaimu maka mereka tidak akan bisa mencelakaimu kecuali denganssuatu yang telah Allah ta'ala tetapkan untukmu". Kalau tidak ada ketetapan dari Allah ta'ala maka mereka tidak bisa membahayakan engkau. Seharusnya bagi orang yang menemukan rasa dengki dalam dirinya terhadap seseorang maka hendaknya ia mempertebal ketakwaannya kepada Allah ta'ala sambil menghina dirinya dengan mengatakan, "Bagaimana engkau dengki terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah ta'ala kepada orang lain?. Bagaimana engkau membenci nikmat yang dikaruniakan oleh Allah ta'ala kepada hamba-Nya?. Ia berkata (dalam hati), "Bagaimana jika nikmat itu diberikan kepadanya maka apa ia suka jika ada orang lain yang mendengkinya dan menghinanya?" sambil menghina jiwanya sendiri. Juga ia seharusnya mengatakan kepada jiwanya, "Jika engkau mendengki dan membenci apa-apa yang dikaruniakan Allah ta'ala, maka itu tidaklah menyakiti orang yang engkau hasad kepadanya, tetapi itu hanyalah menyakiti orang yang dengki tersebut". Dengan hal demikianlah seharusnya ia menghina dirinya sendiri hingga ia mampu menghilangkan hasad dari dirinya. Ketika itulah ia bisa merasa tentram, tenang, tidak lagi cemberut, dan tidak lagi merasa dongkol. "Ya Allah! Tunjukkanlah akhlak dan sikap yang baik kepada kami, yang tidak ada yang mampu menunjuki kami kepadanya melainkan Engkau. Jauhkanlah sikap buruk dari kami, sikap yang tidak ada yang saggup menjauhkannya dari kami kecuali Engkau".
 

 LARANGAN MEMATA-MATAI DAN MENCURI DENGAR ORANG-ORANG YANG TIDAK SUKA JIKA DIDENGARKAN KATA-KATANYA.
           

            Alla ta'la berfirman (QS.Sl-Hujurat : 12) juga firman Allah ta'ala (QS.Al-Ahzab : 58).

(1578عَنْ أَبِي هُرَيْرَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّْمَ قَالَ :  إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَ بُ اْلحَدِيْثِ، وَلَاتَحَسَّسُوْا، وَلَاتَجَسَّسُوْا، وَلَاتَنَافََسُوا، وَلَاتَحَاسَدُوا، وَلَاتَبَاغَضُوا، وَلَاتَدَابَرُوا، وَكُونُواعِبَادَاللهِ إِخْوَانًا كَمَاأَمَرَكُمْ اللهُ، اَلمُسْلِمُ أَخُو اْلمُسْلِمِ، لَايَظْلِمُهُ، وَِلَايَخْذُلُهُ، وَلَايَحْقِرُهُ، اَلتَّقْوَى هَهُنَا،اَلتَّقْوَى هَهُنَا-وَيُشِيُر إِلََى صَدْرِهِ-بِحَسَبِ امْرِإٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ اْلُمْسلِمَ، كُلُّ اْلمُسْلِمِ عَلََى اْلمُسْلِمِ حَرَامً : دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ، إِنَّ اللهَ لَايَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادَكُمْ وَلَاإِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ (وَأَعْمَالِكُمْ)"   وفي رواية : "لَاتَقَاطَعُواوَلَاتَدَابَرُواوَلَاتَبَاغَضُوا، وَلَاتَجَسَّسثوا ولَاتَحَسَّسُوا، وَكُونُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا".   وفي رواية : "لَاتَهَاجَرُواوَلاَيَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ". رواه مسلم بكل هذه الروايات، وروي البخاري أكثرها.

1578.[2] Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Tinggalkanlah sikap mengira-ngira karena mengira-ngira adalah kebohongan yang nyata. Janganlah saling memata-matai, jangan saling mencari kelemahan,, jangan saling melombai, jangan saling mendengki, jangan saling membenci dan jangan saling memutuskan silaturahmi. Jadilah kalian hamba Allah ta'ala yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan oleh  Allah kepada kalian. Muslim adalah saudara bagi sesama muslim. Ia tidak menzhaliminya, tidak menhinanya, dan tidak memAndang enteng kepadanya. Ketakwaan itu berada di sini. Ketakwaan itu berada di sini (beliau menunjuk dadanya). Cukuplah seseorang dianggap berbuat jelek jika memAndang hina sesamanya. Seorang muslim terhadap muslim lainnya diharamkan : darahnya, kehormatannya, dan hartanya. Sungguh Allah ta'ala tidak memAndang keeolokan jasmani dan penampilan kalian, tetapi Ia melihat hati dan perilaku kalian".       
            Pada riwayat lain disebutkan, "Jaganlah kalian saling membenci, saling mendengki, saling menghindari, dan saling memutuskan silaturahmi. Jadilah kalian hamba Allah ta'ala yang bersaudara".
            Pada riwayat lain disebutkan pula, "Jangan saling berdiam dan janganlah sebagian kalian menawar barang yang sedang ditawar oleh orang lain". Muslim meriwayatkan semua riwayat di atas. Tetapi Bukhari meriwayatkan mayoritas hadits-hadits tersebut.

PENJELASAN.

            Penulis berkata dalam kitabnya (Riyadhussholihin) "Bab haramnya memata-matai sesama". Tajassus adalah seseorang memata-matai saudaranya sesama muslim agar dapat menemukan aibnya, baik dengan cara langsung dengan melibatkan diri secara langsung dalam rangka memata-matai, dengan harapan dapat memperoleh aib maupun kelemahan, atau dengan menggunakan alat yang dapat merekam suara, atau dengan melalui telepon. Segala sesuatu yang membuat seseorang dapat memperoleh aib dan kelemahan saudaranya, maka semuanya termasuk prilaku tajassus. Prilaku itu diharamkan, karena Allah ta'ala berfirman (QS.Al-Hujurat : 12) di sini Allah ta'ala melarang tajassus. Ketika tajassus menyakiti muslim sesamamu, maka penulis Rahimahullah melanjutkan hujjahnya dengan ayat yang sama, yaitu firman-Nya (QS.Al-Ahzab : 58) karena prilaku Tajassus memiliki efek menyakitkan. Orang yang dimata-matai merasakan efek itu, bahkan mengakibatkan permusuhan dan kebenciaan, dan juga menjadikan seseorang membebani dirinya dengan sesuatu yang tidak seharusnya ia lakukan. Anda akan menemukan orang yang suka memata-matai orang lain –naudzu billah- kadang berada di sini dan kadang di sana. kadang melihat ke sini dan kadang melihat ke sana. Ia telah menyiksa dirinya demi menyakiti orang lain. Kita memohon kepada Allah ta'ala agar menjauhkan kita dari sikap demikian. Termasuk dalam kategori ini adalah orang yang suka memata-matai rumah orang lain. Maksudnya termasuk kategori tajassus adalah perbuatan suka memata-matai rumah orang lain. Ia berdiri di depan pintu untuk menguping pembicaraan orang lain kemudian mengembangkan prasangka buruk dan tuduhan yang tidak memiliki sumber yang jelas. Kemudian penulis mengangkat hadits Abu Hurairah radiyallahu Anhu dengan berbagai jenis periwayatannya yang mayoritas telah kita lewati. Tetapi di antara yang paling penting adalah "Jauhilah kalian prasangka, karena prasangka adalah seburuk-buruknya pembicaraan". Pernyataan ini sejalan dengan firman Allah ta'ala yang berbunyi, "Wahai orang-orang yang beriman ! jauhilah kalian banyak dari prasangka" tetapi pada ayat ini, Allah ta'ala hanya mengatakan, "Jauhilah  kalian banyak dari prasangka" dan tidak mengatakan "Seluruh perasangka" karena perasangka yang dibangun di atas hal-hal yang tidak bermasalah merupakan tabiat manusia. Jika mereka menemukan indikasi kuat yang dapat memunculkan prasangka baik atau tidak baik maka tentu manusia akan menerima indikasi tersebut. Dan itu tidaklah bermasalah. Tetapi prasangka yang tidak-tidaklah yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Dan beliau menjelaskan bahwa itu adalah perkataan yang paling banyak mengandung kebohongan. Di dalamnya juga terdapat permasalahan yang belum disinggung oleh Nabi, yaitu sabda beliau yang berbunyi, "Jadilah kalian hamba Allah ta'ala yang bersaudara sebagaimana yangdiperintahkan kepada kalian". Maksudnya bahwa manusia harus menjadi saudara yang benar bagi saudaranya, dengan makna yang benar-benar sejalan dengan ukhuwwah. Ia tidak menjadi musuh baginya. karena sebagian orang, jika terdapat interaksi dengan sesama saudaranya, lalu timbul prasangka antara mereka berdua dalam muamalah itu maka ia memAndangnya sebagai musuh. Ini tidak boleh. Seharusnya manusia menjadi saudara bagi sesamanya dalam rangka berkasih sayang, saling akur, tidak menyakitinya, berusaha membela kehormatannya dan tindakan lain yang merupakan tuntunan persaudaraan. "Seorang muslim adalah saudara bagi sesamanya kaum muslim. Ia tidak menzhaliminya, tidak memAndang enteng dan tidak mendustakannya".[3] Hadits ini juga telah kita bahas sebelumnya. Beliau berkata,"Ketakwaan tempatnya di sini, sedang beliau menunjuk dadanya"[4] maksudnya hati. Jika hati diliputi dengan ketakwaan, maka jasmani pun diliputi dengan nuansa ketakwaan. Karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Jika hati benar maka semua jasmani menjadi baik". Sebagian orang yang Anda larang melakukan suatu perbuataan, misalnya Anda mengatakan memotong jenggot adalah haram, maka ia mengatakan kepada Anda, "ketakawaan tempatnya di sini". Mana ketakwaan itu ? jika hati bertakwa maka pasti jasmani juga ikut menampakkan ketakwaan. Maksudnya, seAndainya hati telah merasakan ketakwaan maka jasmani pun ikut menampakkan ketakwaan. Sebagian orang Anda nasehati karena begitu panjangnya celanannya. Anda menemukan pakaiaanya melebihi mata kaki, lalu Anda nasehati, maka ia akan mengatakan kepada Anda, "ketakwaan tempatnya di sini". lalu mana ketakwan itu ? jika Anda memiliki ketakwaan dalam hati Anda maka tentu Anda menampakkan efek ketakwaan itu pada perkataan dan prilaku Anda. Karena jika hati telah baik maka anggota tubuh pun ikut menjadi baik. Hanya saja sebagian manusia –Naudzu billah- suka mendebat dengan cara yang bathil layaknya orang-orang kafir. Mereka berdebat dengan kebatilan dengan maksud menghancurkan kebenaran. Namun demikian perdebatannya yang batil itu tidaklah tersembunyi bagi orang yang memiliki bashirah. Ia mengetahui bahwa perdebatan yang dilAndasi kebathilan itu tidaklah memiliki dasar, bahkan ia merupakan kebathilan. Hadits yang disebutkan oleh penulis dengan lafazhnya ini pantas dijadikan panduan baginya dan dijadikan pedoman yang mengarahkan langkahnya serta menjadi lAndasan yang layak untuk membangun hidup di atasnya. Karena hadits di atas mencakup banyak prilaku yang jika manusia dapat menghindarinya maka ia akan mendapatkan kebaikan yang begitu banyak. Hanya Allahlah yang dapat memberi kita Taufiq-Nya.

(1579) وعن معاوية رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : إنك إناتتبعت عورات المسلمين أفسدتهم أو كدت أن تفسدهم". حديث صحيح رواه أبوداود بإسناد صحيح.

(1579)[5] Dari Muawiyah Radhiyallahu Anhu ia berkata, "Saya pernah menengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkata, "Jika Anda selalu memata-matai kelemahan orang-orang muslim maka Anda akan merusak mereka atau hampir saja Anda merusak mereka". Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang shahih.
(1580) [6]  وَعَنْ ابنِِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ أُوْتِيَ بِرَجُلٍ فَقِيْلَ لَهُ : هَذَا فُلَانٌ تَقْطُرُ لِحْيَتُهُ خَمْرًا، فَقَالَ : إِنَّا قَدْ نُهِيْنَا عَنِ التَّجَسُّسِ، وَلَكِنْ إِنْ يَظْهَرْ لَنَا شَيْءٌ، نَأْخُذْ بِهِ. حديث حسن صحيح، رواه أبو داودبإسناد على شرط البخاري و مسلم.
(1580) Dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhu bahwa dihadapkan kepadanya seseorang, tiba-tiba ada yang berkomentar, "Ini adalah si fulan yang jenggotnya berlumuran dengan Khamer". Ibnu Mas'ud berkata, "Kita dilarang untuk memata-matai orang lain, tetapi jika ada yang tampak kepada kita maka tentu kita mempertimbangkannya". Hadits ini hasan dan shahih. Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim.



[1] Dhaif : Dhaiful Jami' (2197) Dan Silsilah Ad-Dhaifah (1902) dan Dhaif Abu Daud karya Al-Albani rahimahullah (1048)
[2]  Shahih Bukhari (6064), Shahih Muslim (2563,2564).
[3]  Telah ditkhrij pada pembahasan sebelumnya.
[4]  Shahih Muslim (2564) dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.
[5]  Shahih Al-Jami' (2295) dan Shahih Abu Daud karya Al-Albani Rahimahullah (4088).
[6]  Shahih Abu Daud karya Al-Albani Rahimahullah (4090).

0 comments:

Poskan Komentar