الثلاثاء، 25 يونيو 2019

Kekuatan Ilmu.



By. Idrus Abidin.

Ilmu ada kekuatan yang menggerakkan semangat; baik ke arah dunia maupun menuju negeri akhirat. Ilmu adalah isi hati yang menjadi niat dan semangat, bahkan azam yang mendahului kesempatan. Saat jiwa manusia hadir di tempat tujuan sebelum fisiknya secara real benar-benar ada di ruang yang direncanakan. Itulah iman dan keyakinan. 

Ilmu adalah keadilan yang mengisi hati manusia sehingga mereka memahami diri sebagai makhluk lemah di hadapan Allah yang maha segalanya. Manusia pun menjadi makhluk yang penuh ketulusan kepada penciptanya. Memuji dan memahasucikan Allah dengan hatinya, dengan lidahnya beserta seluruh amalan dan aktivitas fisiknya. Mereka pun dengan tulus mengemis petunjukNya menuju jalan lurus; mengiba ridhaNya agar mereka mendapatkan Taufiq dan kemudahan dalam misi ibadah dan praktek ketakwaan. 

Dengan ilmu, Allah diesakan. Melalui ilmu pun Rasulullah ditaati dan didengarkan. Orang tua dihargai dengan bakti dan dengan sejumlah manfaat yang diperoleh dari keshalehan. Itu pula nilai dan fungsi Ilmu. Kalangan senior dihormati dan dimuliakan serta digugu dalam hal keilmuan dan keahlian. Yunior disayangi dan diarahkan dengan penuh harapan sebagai penerus estapet kehidupan duniawi dan ukhrawi sekaligus. Begitulah ilmu berperan. Tidak menghasilkan manusia baperan karena merasa punya hak untuk dihormati, dihargai dan dilayani. Apalagi berharap disembah layaknya Fir'aun atas nama klaim ketuhanan dan berhala kehidupan.

Bahkan adil dan jujur terhadap kesalahan sendiri sehingga kita bisa merasakan kerugian dengan menyesali kekeliruan; itu semua adalah hasil dari ilmu itu sendiri. Itulah taubat, istighfar, kesadaran dan rasa tahu diri yang menjadi ciri manusia beriman. Kita jadi mengerti kekurangan dan kelemahan akibat pengetahuan yang menjadi standar dan alat ukur muhasabah dan kritik diri. Akhirnya, kita berusaha melangkah dengan sejumlah perbaikan-perbaikan setiap saat. Harapannya, diri ini mengarah kepada kesempurnaan sejauh yang bisa dicapai oleh manusia biasa seperti kita ini. Walaupun sadar sepenuhnya bahwa kesempurnaan hanya milik Allah dan rasul-Nya. Kesalahan dan kelemahan adalah identitas resmi diri sang hamba yang tak mungkin terkurangi kecuali dengan semangat ilmu dan taufiq dariNya. 

Keadilan terhadap objek studi dan penelitian sehingga rumus dan prinsip yang mengatur alam semesta menghasilkan pengetahuan sains yang berfungsi ganda. Pertama, menyibak keteraturan alam semesta sehingga bernilai guna untuk pengembangan sains dan teknologi. Inilah kemudahan sarana hidup manusia yang diharapkan dimaksimalkan demi ketaatan dan ibadah. Kedua, bukti keagungan dan kehebatan rububiyah Allah yang menguatkan keyakinan dan kepercayaan terhadap otoritas ketuhananNya; Sang penentu kejadian dan peristiwa (qadar) sesuai rencana dan kebijaksanaan (qadha). Berdasarkan pada pengetahuan Allah yang menyeluruh, tanpa mengenal lupa, lalai apalagi zhalim. Itulah makna ilmu. 

Bahkan, mengerti hukum-hukum yang mengatur kehidupan masyarakat manusia berdasarkan pada peristiwa sejarah masa lampau dan peradaban yang telah silih berganti mengisi hidup manusia; juga hasil bentangan ilmu. Bahwa siapa pun yang taat dan patuh penuh cinta kepada Allah berarti merekalah khalifah dan penerus estafet khilafah yang secara resmi mendapatkan mandat untuk mengelola hidup ini dengan prinsip keadilan dan lautan kasih sayang. Agar hujjah dan semua bentuk argumen keagamaan dalam Islam sampai ke umumnya manusia di bumi ini. Sehingga mereka, khususnya yang kafir dan fasiq, tak lagi punya sedikit argumen, di akhirat kelak, demi membela dan menutupi segala kebejatan mereka. Itu semua hasil pengetahuan yang disebut hidayah dalam Islam. 

Dari mana kita mengenal keadilan dari buramnya kezhaliman kalau bukan dari ilmu?! Apa mungkin kecurangan diketahui jika kita tidak dikenalkan makna kejujuran oleh sang ilmu?! Mungkinkah khianat berbeda dengan amanah seandainya ilmu berhenti memberikan pengarahannya?! Dari mana benar salah, baik buruk dan semua kegelapan yang tersibak oleh indahnya mentari ilmu bisa terwujud jika pohon pengetahuan tidak lagi menaungi kita dengan rindang dan sejuknya pemahaman?! Semua itu karena Allah Sang al-'Aliim al-Khabir mengucurkan pengetahuanNya lewat Wahyu kepada setiap nabi. Menjelaskannya melalui lisan dan semua petunjuk praktis para nabi. Akankah kita menjadi warasatul anbiyaa dengan semua identitas ini?! Ataukah kita menjadi kacung iblis yang bernikmat ria di bawah tipuan dan kibulan Iblis yang memesona tiada tara?! 

Jiwa,  lisan dan perbuatan serta sikap kitalah kuncinya. Karena manusia tergantung dari isi hati, hiasan lisan dan keindahan budi dan akhlaknya. Bukan semata-mata isi tas dan tampilan jas serta kemegahan yang membelalakkan jiwa para penyembah dunia. 

Kota Haram, 12 Juli 2019. 

🌷🌷🌷🌵🌵🌵🍄🍄🍄

Ikuti update status nasehat dari kami via :

1. Telegram Channel : Gemah Fikroh.
2. YouTube Channel : Gema Fikroh.
4. Facebook Sudah Full Pertemanan.

0 komentar:

إرسال تعليق

Categories

About Us

There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form.

نموذج الاتصال