الثلاثاء، 25 يونيو 2019

Harap-Harap Cemas dalam Bingkai Cinta; Dalam Perjalanan Menuju Allah.


By. Idrus Abidin.

Hidup ini adalah episode ke-2 dalam perjalanan kita menuju keabadian (Rihlatul Khulud). Fokus masa depan dengan penuh konsistensi adalah ciri mukmin sejati. Masa lalu yang menyedihkan itu telah dibasuh dengan air mata penyesalan. Karena dosa bukan lagi status terkini para pecinta Allah. Taat adalah kendaraan resmi yang terus memuncak gasnya, seiring ilmu dan keimanan yang terus menyala. Itulah bahan bakar dalam perjalanan ini. Stagnan atau diam di tempat tanpa progres dunia dan akhirat adalah kerugian terkini yang perlu disesali; dengan segera. Karena itu berarti, indahnya masa depan akhirat mulai kabur oleh polusi kelalaian. Hati merasa cukup dengan dunia, popularitas, materi dan kursi empuk kuasa. Malas untuk ibadah tak lagi terhindarkan. Dunia kembali berkilau di hati. Naudzubillah. Gaji di tempat kerja menjadi satu-satunya kenikmatan. Sementara ibadah hanya beban yang menyesakkan jiwa. Bagi mereka yang telah merasakan nikmatnya khusyuk dalam ibadah, tilawah dan amal sosial serta pesona dakwah; kondisi ini layaknya musim kering yang mengancam jiwa. Harapan akan datangnya musim semi dengan rintik hujan keimanan dan guyuran semangat takwa; dinanti dan diusahakan dengan langkah pasti. Tidak betah rasanya mereka berlama-lama dalam ketidakpastian dan kekeringan fitrah suci. Walaupun, mereka mengerti fluktuasi iman adalah tabiat kehidupan. Tak mungkin mereka menghindarinya selama roda kehidupan masih terus berputar. 

Optimisme, Mutlak dalam Kehidupan Dunia Akhirat (Harapan).

Optimisme adalah tuas kehidupan yang tak boleh sepi dari bahan bakar motivasi. Bisa jadi harapan duniawi, tapi seharusnya tak luput dari dominasi nikmat masa depan ukhrawi. Mata boleh saja terkagum oleh indahnya pesona dan godaan duniawi. Tapi hati tidak boleh rabun akhirat, sehingga jiwa tak mengangkasa menuju Arasy Allah. Selama optimisme ini menyalakan mesin kehidupan, sejauh itu pula iman tetap memandang indah senyuman ghaib akhirat. Betapa indahnya pesan takwa. Bahwa jika engkau rindu bersamaku menuju indahnya keabadian, jadikanlah Allah visi utamamu. Ibadah akan terus menyertai hidupmu dengan asupan energi iman sehingga sang takwa menjadi statusmu secara resmi. Di akhiratlah Allah memberikan keadilanNya. Tak mungkin pelaku dosa disamakan dengan pecinta takwa. Di sana, minimal 10x lipat emas sepenuh langit dan bumi menjadi hakmu.  Potensi nikmat itu hingga 700 x lipat emas sepenuh bumi dan langit. Bahkan untuk para nabi, tak lagi terbatasi oleh kelipatan angka-angka duniawi. Itulah nilai iman dan takwamu di masa depan. Dunia ini totalnya hanya senilai air laut yang menempel pada benang yang kau rendam. Sediiiiikit sekali; maka jangan pernah terperdaya oleh kinclongnya pesona dunia. Cukuplah dunia ini sebagai tempat mewujudkan misi sebagai ahli ibadah, misi sebagai penegak keadilan dan marketing Ihsan kepada seluruh makhluk. Juga tak lupa mengeksplorasi alam ini dengan penelitian dan penemuan, sehingga alam tunduk dan siap menjadi alat yang memudahkan kita dalam mewujudkan visi dan misi ini. 

Rasa Takut dan Khawatir, Penyeimbang dari Terperdaya (Gurur) dan Sikap Kepedean ('Ujub).

Sekalipun umumnya iman, ibadah dan takwa telah terwujud lewat karunia hati, baiknya tutur kata yang memuji dan memahasucikan Allah, serta fisik yang tetap istiqamah di jalanNya. Namun jangan pernah terpedaya; merasa seolah surga sudah pasti engkau huni. Kapling surga seolah telah kamu ukur dengan ibadah dan takwamu. Kamu menjadi over Kepedean (ujub) sehingga tidak terkendali; tampil sebagai perwakilan Allah untuk manusia. Merasa seperti pendeta kaum Nasrani; berhak memberi stempel surat taubat dan pengampunan Allah kepada manusia. Bahkan, mengklaim nabi Isa alaihissalam meninggal sebagai tumbal dan tameng pengaman untuk mereka semua dari amukan azab dunia, kobaran siksa kubur dan jilatan api neraka. Mereka lalu tak pernah merasa takut akan dosa. Padahal mereka diliputi oleh maksiat dan pelanggaran. Mereka merasa yakin dan percaya dengan full optimisme bahwa surga tinggal menunggu waktu. Bahkan, dalam doktrin Yahudi, jika pun mereka masuk neraka, paling 40 hari; sejumlah hari penyembahan nenek moyang mereka terhadap sapi betina; saat nabi Musa menerima taurat di gunung Tursina, Mesir. Padahal, keterpedayaan dan over kepedean itu tipuan Iblis yang meninabobokan mereka dalam kelalaian, dosa dan maksiat. Mereka akhirnya tidak kenal taubat, tidak mengerti kenapa harus minta ampunan dengan lisan kepada Tuhan. Apalagi tersadar tentang makna berbenah diri terus menerus agar taat dalam keseimbangan; antara rasa penuh harap dan pentingnya rasa takut. Padahal, tidak ada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang yang penuh kerugian. Sungguh tepat pengarahan Allah dalam firmaNya, 

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَن يَأْتِيَهُم بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ (97) أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَن يَأْتِيَهُم بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ (98) أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ 

Apakah penduduk kota dan semua warga bumi merasa aman dari serangan azabKu saat tengah malam; ketika mereka terlelap dalam tidur nyenyak?! Ataukah mereka merasa aman dari ancaman siksaanKu, ketika mereka sedang lalai dalam hiburan di pagi hari?! Apakah mereka terus merasa aman dari siksaan Allah?! Sungguh, tidak ada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang rugi (QS al-A'raf : 97-99)

Di sinilah tersimpan sebuah rahasia, kenapa seorang muslim ketika takut kepada Allah justru tidak menjauh dariNya. Tapi malah mendekat kepada rahmatNya dengan taubat dan istighfar serta perbaikan diri terus menerus. Makin tinggi takwa makin mawas diri manusia dari keterpedayaan (gurur) dan kepercayaan diri berlebihan ('ujub). Belum lagi jika manusia sadar bahwa tidak ada tempat dan zaman di mana manusia bisa bersembunyi dan menjauh dari Allah. Semua kolong langit dan satuan waktu di bumi ini, berada di bawah kendali Allah. Jika di sini kita tidak bertaubat, di akhirat nanti pasti pengadilan dan keadilan Allah berlaku secara mutlak. Itulah kenapa, dalam banyak ayat, Allah senantiasa mengingatkan, "KepadaKulah kalian pasti kembali". "KepadaNyalah kalian akan dikembalikan". Termasuk ancaman Allah akan adanya hari akhirat, "Takutlah suatu hari ketika kalian dikembalikan kepada Allah. Lalu semua perbuatan kalian dibalas seadil-adilnya dan kalian tak mungkin terzhalimi sedikit pun." 

Salah satu sisi yang membuat khawatir seorang mukmin terus menerus adalah iman dan amalnya yang belum tentu diterima baik oleh Allah. Demikian pula dosa-dosanya, mereka belum mendapatkan kepastian, apa Allah telah mengampuni atau belum. Semua itu dengan secercah hikmah, bahwa rasa penuh harap akan terus memacu perjalanan muslim dengan gas iman, takwa dan amal shaleh. Sementara, rasa takut menahan mereka dari ujub dan gurur. Itulah perpaduan ragaban wa rahabaa. Atau khaufan wa thama'aa dalam banyak ayat Al-Qur'an. 

Semuanya Harus Karena Cinta PadaNya. 

Baik harapan maupun rasa takut harus didasari cinta kepada Allah. Jika tidak, orang Munafik hanya menikmati rasa takut kepada orang muslim saja. Takut pada Allah tidak mereka hiraukan. Yang ditakutkan pun hanya sebatas  terbongkarnya keaslian dan identitas kemunafikan mereka. Maka tak heran, mereka sangat malas shalat. Tidak banyak menyebut nama Allah. Padahal ciri pecinta sejati, yang dicintainya selalu menjadi buah bibir. Kerjaan mereka hanya pencitraan (riya') agar kemunafikan itu tertutup rapat. (QS an-Nisaa: 142). Tujuannya supaya mereka masih bisa mendapatkan keuntungan duniawi di balik topeng dan citra dirinya sebagai muslim. Akhirnya, shalat mereka di sisi Ka'bah dianggap oleh Allah sebagai siulan dan tepuk tangan semata (QS al-Anfal : 35).

Sedang harapan yang bukan karena Allah hanya bersifat materi dan duniawi sekali. Sesuatu yang membuat manusia menjadi kafir dan tidak bisa mengerti rahmat Allah. Ataupun dimengerti, namun manusia terlalu mengharap rahmat dan ampunanNya tanpa mengikuti aturan dan syariat resmi yang telah diatur sedemikian rupa oleh Allah sendiri. Di sinilah batas kecerdasan dan kebodohan berlaku. Bagi yang cerdas, ia senantiasa mengukur kesesuaian dirinya dengan Islam lalu bersungguh-sungguh berkarya untuk kepentingan akhirat. Sementara orang bodoh, terbawa oleh hawa nafsu (maksiat). Namun, berharap besar mendapatkan ampunan dan kasih sayangNya. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menegaskan :

الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

”Orang cerdas adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang lemah (bodoh) adalah yang mengikuti hawa nafsunya tapi berharap ampunan Allah Ta’ala (tanpa berusaha taat)“. (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah).
Semoga kita tetap terus mengejar Rahmat Allah, berlindung dari azabNya dengan cinta maksimal kepadaNya. Aamiin. 

Bandara Jeddah, 14 Juni 2019.

0 komentar:

إرسال تعليق

Categories

About Us

There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form.

نموذج الاتصال