الأربعاء، 22 فبراير 2012

CORAK AL-TAFSIR AL-QAYYIM KARYA IBN AL-QAYYIM AL-JAWZIYYAH OLEH ASEP RISAL


Resume Tesis
Oleh Idrus Abidin


BAB I
PENDAHULUAN
           
Kebutuhan ummat Islam untuk memahami Islam menjadi landasan utama adanya usaha penafsira al-Qur'an dari sejak zaman Rasulullah saw hingga sekarang. Berbagai jenis tafsir telah lahir pada medan keilmuan mengikuti alur pemikiran yang berkembang saat masing-masing penafsir memulai debut ilmiahnya dalam kancah penafiran. Pada abad ke-7 misalnya, Ibnu Qayyim ikut meramaikan kancah penafsiran dengan menuliskan beberapa aspek terkait dengan beberapa ayat al-Qur'an yang dikemudian hari dikumpulkan dalam sebuah buku dengan nama Al-Tafsir Al-Qayyim oleh Uwais An-Nadawi, salah seorang pecinta karya-karya Ibnu Qayyim.
Ibn al-Qayyim menulis banyak buku. Tidak kurang dari 66 buku telah lahir dari kepiawaiannya dalam ilmu-ilmu keislaman. Secara umum karya-karya tersebut menebarkan spirit pembaharuan guna merespon dan memberikan reaksi terhadap status quo yang berlangsung sepanjang kekuasaan Mamluk. Ibn al-Qayyim menyampaikan tafsir al-Qur'an yang tersebar dalam beberapa karyanya –karena ia tidak menulis secar khusus dalam satu buku tafsir- dan jika diamati, tafsir-tafsirnya itu disampaikan melalui deskripsi yang sangat detail  serta bahasa yang sangat elegan yang secara umum meluapkan semangat pembaharuan, cendrung merespon serta memberikan reaksi atas relaitas sosio-historis umat Islam..
Tafsir-tafsir ibn al-Qyyim nampaknya bercorak adabi ijtima'iy. Corak adabi-nya ditandai dengan tutur bahasa yang indah, bahkan kerap kali untuk menafsirkan suatu ayat ia menyertakan beberapa narasi yang sangat puitis. Sedangkan corak ijtima'iy-nya ditandai dengan kecendrungan tafsirnya yang sangat responsif-reaktif terhadap perkembangan sosio-historis yang terjadi. Misalnya, pada bagian tafsirnya Ibn al-Qayyim menyatakan penolakannya terhadap beberapa paham keagamaan tertentu, seperti paham "Nafy al-Shifat" dari kelompok jahmiyah yang dipandangnya sebagai sesat.
Sedangkan pada bagian tafsirnya yang lain, Ibn al-Qayyim menyatakan kesetujuannya atau penerimaannya terhadap pandangan keagamaan ulama-ulama tertentu, terutama gurunya, yaitu Ibnu Taimiyyah. Pada bagian tafsir lainnya Ibn al-Qayyim al-Jawziyah memperkenalkan wacana keagamaa baru yang mungkin dikembangkannya dalam rangka pembaharuan ummat islam. Di bidang tashawwuf misalnya, Ibn al-Qayyim menggagas beberapa pokok pemikiran yang dinilai oleh para ahli sebagai wacana pemikiran neo sufisme.
Adapun masalah pokok yang hendak diungkap dalam penelitian ini adalah menyangkut corak atau ittijah tafsir Ibn al-Qayyim. Maka jawaban-jawaban spesifik yang ingin diungkap adalah menyangkut masalah-masalah yang dirumuskan sebagai berikut :
·         Adakah unsur-unsur penolakan, penerimaan dan perluasan wacana dalam kitab al-Tafsir al-Qayyim yang berindikasi merespon atau bereaksi terhadap perkembangan sosio-historis umat Islam ? Dan bagaimanakah unsur-unsur tersebut disampaikan oleh Ibn al-Qayyim ?
·         Dengan mengkaji unsur-unsur tafsir sebagaimana dimaksud pada point 1 di atas, dapatkah dikatakan bahwa tafsir Ibn al-Qayyim bercorak Adabiy Ijtima'iy ?
Studi ini adalah suatu penilitian yang menggunakan metode sejarah dengan mengambil jenis penilitian bibliografis. Dikatakan sebagai metode sejarah kerena penelitian ini secara umum begerak melalui perspektif historis, hal mana aktifitas dan hasil karya Ibn al-Qayyim dalam bidang tafsir al-Qur'an tujuh abad yang lalu akan segera dikaji.
Studi ini dikatakan penelitian jenis bibliografis karena penulis akan memperlakukan tafsir ayat-ayat pilihan karya Ibn al-Qayyim sebgai data mengenai pandangan dan pemahaman mufassir masa lampau yang dapat diiterpretasi serta digeneralisai. Metode sejarah dengan jenis penelitian bibliografis adalah penelitian untuk mencari, menganalisa, membuat interpretasi serta generalisasi fakta-fakta yang merupakan pendapat para ahli dalam suatu masalah atau suatu organisasi. Penelitian ini mencakup hasil pemikiran dan ide yang telah ditulis oleh para pemikir dan para ahli.
Langkah-langkah dari penelitian dan studi ini mengikuti apa yag telah dirumuskan oleh Moh. Nazir tentang langkah-langkah penelitian dengan metode sejarah, yaitu : (1) Mendefinisikan dan merusmuskan masalah yang terkait dengan aktifits keilmuan Ibn al-Qayyim dalam tafsir, terutama meyangkut apa yang mempengaruhi kecendrungan penafsirannya terhadap beberapa ayat pilihan; (2) Merumuskan tujuan penelitian; (3) Merumuskan hipotesis; (4) Mengumpulkan data yang berasal dari sumber primer dan sumber-sumber sekunder; (5) Mengevaluasi data-data yang telah dikumpulkan dengan melaukan kritik internal maupun eksternal; (6) Melakukan interpretasi serta generalisasi  atas data-data tersebut melalui pendekatan ilmu Tafsir al-Qur'an; dan (7) Mempersiapkan laporan penelitian.

BAB II
LATAR BELAKANG PERSONAL IBN AL-QAYYIM
AL-JAUZIYYAH

Nama asli Ibn al-Qayyim adalah Muhammad bin Abi Bakr ibn Ayyub ibn Sa'ad ibn Harits al-Zur'i al-Dimasyqi Abu Abdillah Syams al-Din. Beliau lahir di desa Azra, Damaskus pada tanggal 7 Shafar 691 H., bertepatan dengan tahun 1292 M. Masa hidupnya  hanyalah 60 tahun, karena pada tanggal 13 Rajab 751 H., bertepatan dengan tahun 1350 M. Ibn Al-Qayyim al-Jauziyyah wafat di Damaskus.
Beliau berasal dari keluarga yang relijius serta cinta ilmu. Ia kemudian tumbuh dewasa dan menjadi terkenal sebagai seorang yang sangat alim, penulis produktif, rendah hati dan taat beribadah. Sehingga sebagian ulama cenderung menilainya sebagai soerang shufi yang shaleh. Dalam berbagai tulisannya beliau memperlihatkan akhlak keulamaaan yang tinggi dengan kecintaannya yang meluap-luap terhadap kebenaran dan ketawadhuannya yang semakin membuktikan kualitas, integritas  serta otoritsnya sebagai seorang ulama.
Pengalaman pendidikan Ibn al-Qayim al-Jauwziyyah dimulai dan terutama dibimbing oleh banyak ulama Hanbaliyah terkemuka di madrasah yang dikelolah oleh ayahnya sendiri, Abu Bakr ibn Ayyub al-Zur'I, yaitu Madrasah al-Jauziyah. Madrasah yang bertempat di al-Buzuriyyah, Damsyik dan menjadi pusat Pendidikan Islam mazhab Hanbaliyah ini didirikan oleh Muhy al-Din Yusuf ibn Abi al-Farj Abd al-Rahman ibn Ali ibn Muhammad ibn Ali ibn Ubaidillah ibn al-Jawzi al-Qarsyi al-Bakri al-Baghdadi al-Hanbali.
Diantara sekian gurunya yang banyak mempengaruhi manhaj dan pandangan keagamaan Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah adalah Ibn Taimiyah. Pertemuan dengan gurunya itu terjadi ketika Ibn al-Qayim al-Jauwziyyah mendengar bahwa Ibn Taimiyah pulang dan hendak bermukim lagi di Damaskus, yakni pada tahun 712 H., setelah sebelumnya Ibn Taimiyah diusir dari Mesir akibat counter pemikiran yang begitu gencar dilakukannya atas paraktik-praktik tasawuf yang berkembang di Mesir karena dinilainya sehagai bid'ah dhalalah, yakni menyimpang dari ajaran al-Qur'an dan al-Sunnah. Sejak itulah Ibn al-Qayim al-Jauwziyyah bertemu dan menjadi murid Ibn Taimiyah selama kurang lebih dari 16 tahun. Kepada ulama besar yang kemudian menjadi guru tetapnya itulah ia mempelajari berbagai disipilin ilmu, terutama tafsir, hadits, fiqh, fara'id dan ilmu kalam.
Pada masa Ibn al-Qayim, kehidupan Islam juga diwarnai dengan semakin berkembangnya aliran-aliran kongkrit di bidang kalam,. Diantara aliran kalam yang paling berpengaruh adalah Mazhab Asy'ariah yang banyak tersebar di Irak dan sekitarnya berkat pemikiran yang diusung oleh al-Gazali. Sedangkan di Mesir mazhab ini dikembangkan oleh sultan Shalahuddin al-Ayyubi dan penguasa-penguasa dinasti Ayyubiyah berikutnya. Adapun di Maghrib, mazhab ini dikembangkan oleh pengusa Daulah Al-Muwahhidin bernama Muhammad ibn Tumar.
Aliran mazhab lain yang berkembang pada masa Ibn Al-Qayyim al-Jauziyyah adalah Mazhab al-Rafidhah dan Syi'ah di khurasan dan Irak. Di Khurasan pun berkembang mazhab al-Karamiyyah. Dan kemudian di Yaman berkembang Mazhab Zaidiyah. Paham keislaman yang mendapat respon serta reaksi keras dari Ibn Al-Qayyim al-Jauziyyah adalah jabariah. Paham tesebut berkeyakinan bahwa manusia tidak mempunyai pilihan dalam perbuatannya dan segala sesuatu terjadi jika Allah menghendakinya. Perbuatan Tuhan tidak mempunyai hikmah atau sebab dan tujuan. Semua yang ada semata-mata tercipta karena-Nya. Paham Islam lainnya yang direspon serta dikkritisi oleh Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah dalam berbagai tulisannya adalah paham Qadariah. Berbeda dengan jabariyah, paham ini mengingkari pengaruh kekusaaan dan kehendak Allah terhadap perbuatan makhluk-Nya dan menolak nama dan sifat Allah. Disamping tersebar dalam tafsirnya, Ibn Al-Qayyim al-Jauziyyah secara khusus menulis buku Syifa' al-Alil yang di dalamnya di bahas kritik beliau terhadap paham Jabariyah dan Qadariah.
Di samping diwarnai oleh perkembangan di bidang filsafat Islam, terutama filsafat Ibn Sina dan Al-Farabi, pada periode ini kehidupan Islam diwarnai pula oleh berkembangnya aliran-aliran Tasawuf, antara lain Tasawuf Falsafinya Muhyi al-Din Ibn Arabi dan Umar Ibn al-Farid. Adapun aliran-aliran thariqat yang berkembang pada periode tersebut antara lain : Al-Qadiriyah dari Abdul Qadir al-Jaelani, Al-Suhrawardiyah oleh Abdul Qadir Syuhrawardi, Al-Rifaiyyah dari Ahmad al-Rifa'I al-Husaini, Al-Dasuqiyyah dari Ibrahim al-Dasuqi, Al-Mawawiyah dari Jalaluddin Rumi, Al-Akbariyah dari Muhy al-Din ibn al-Arabi, Al-Syadzaliyah dari Abul Hasan al-Syadzili dan thariqat al-Naqsyabandiah dari Muhammad ibn Baha'u al-Din Naqsyaband.
Tabel Tentang
Aspek Personal, Sejarah dan Peradaban yang Melatar Belakangi  
Aktifitas Ibn al-Qayyim dalam Penulisan Buku-buku keislaman.

NO
ASPEK
LATAR BELAKANG
AKTIVITAS PENULISAN
1
personal
Masa hidup Ibn al-Qayyim : 691-751 H.
Berlangsung antara tahun 691 hingga 751 H.


Berasal dari keluarga yang relejius pendidik serta cinta ilmu
Mencerminkan etos keilmu- an serta keulamaan yang kuat.


Cerdas, shalih, gemar membaca dan mengoleksi banyak buku.
Tulisannya memancarkan komitmen keislaman yang kokoh, ketajaman pikiran, kehalusan bahasa, keluasan ilmu, dan kemajuan gagasan.


Mengusai disiplin ilmu fiqhi, ushul fiqhi, tafsir, hadits, kalam, tasawwuf, dll.
Tulisanya membahas bidang ilmu fiqhi, ushul fiqhi, tafsir, hadits, kalam, tasawwuf, dll.


Berkarir sebagai ulama, mufti dan pendidik.
Tulisannya secara umum mendorng suatu pencerahan pemikiran, pelurusan agama, pengkaderan umat atau ulama dan pengembangan wacana.

Historis
Ibn al-Qayyim hidup pada masa Dinasti Mamluk yang berkuasa pada 648-793 H. Dan berpusat di Mesir, yakni sejak masa kepemimpinan  Ashraf Khalil (689-693 H) hingga Nasir al-din al-Hasan (748-752H.)
Menulis hingga tahun 691 hingga 751 H. (selama hidup)


Hidup dan berkarir sebagai ulama pada Pasca Kepemim pinan Baybers (658-689 H) dan Qalawun (678-689 H) ; yakni di era penguasa-penguasa Mamluk yang korup dan menimbulkan isntabilitas sosial politik serta ekonomi. 
Tulisannya memancarkan respon serta reaksi yang kuat atas status quo negara yang korup yang menyebabkan kondisi sosial politik serta ekonomi menjadi tidak stabil


Hidup pada pasca kejatuhan Baghdad ke tangan Mongol dan pusat pemerintahan Islam pindah ke Mesir di bawah kepemimpinan Mamluk
Tulisannya memancarkan respon serta reaksi yang kuat atas sejarah Umat Islam Pasca Kejatuhan Dinasti Abbasiyah di Baghdad.

Peradaban
Hidup pada pasca kehancuran peradaban Islam yang berpusat di Bagdad dan ketika pusat peradaban Islam bepindah ke Mesir dan Syam.
Tulisannya memancarkan respon serta reaksi yang kuat atas peradaban umat Islam yang berpusat di Mesir  dan Syam pasca kehancuran peradaban islam yang berpusat di Baghdad.


Kehidupan politik, sosial ekonomi pasca kepemimpinan Baybers dan Qalawun sangat kacau
Tulisannya memancarkan
respon serta reaksi yang kuat terhadap kondisi sosial, politik, serta kehidupan ekonomi yang kacau..


Mesir dan Syam, tempat Ibn al-Qayyim lahir dan hidup, menjadi pusat perkembangan  ilmu dan berkumpulnya para ulama.
Menulis dalam konteks perkembangan ilmu-ilmu keislaman dan pertemuan para ulama dari berbagai latar belakang madzhab pemikiran dan idiologi politik.


Tradisi keterbukaan dan kebebasan menyampaikan pendapat yang dibangus pada masa kepemimpinan Baybers masih berlangsung
Suasana tersebut sangat kondusif bagi Ibn al-Qayyim untuk produktif menulis bahkan menghasilkan tidak kurang dari 66 judul buku.


Tradisi keilmuan semakin elitis akibat hubungan dekatnya dengan para pengusa Mamluk
Tulisannya memancarkan respon seerta reaksi yang keras atas status quo ulama.


Gejala taassub mazhab muncul dan semakin mengkristal di antara para ulama serta pengikutnya sebagai akibat warisan sejarah skisme islam masa lalu, juga sebagai akibat kebijakan pengusa Mamluk yang melaksanakan politik lokalisasi, sentralisasi dan elitisi basis-basis pendidikan mazhab-mazhab Islam.
Gagasan pembaharuan yang disampaikan dalam banyak tulisannya mendapat tanta- ngan keras mayoritas mazhab ulama Syam dan Mesir. Dan akibat tulisannya Ibn al-Qayyim pernah dipenjara.


Kehidupan keagamaan pun diwarnai dengan muncul dan semakin menggumpalnya gejala taqlid buta pada umat Islam
Tulisannya  memancarkan semangat pembaharuan yang meluap-luap atas kondisi umat yang jumud seperti itu.


Diwarnai pula dengan muncul dan dan semakin berkembangnya paham-paham dan praktik-praktik keislaman baik dalam bidang teologi, filsafat, maupun tasawwuf
Tulisannya memancarkan res pon, reaksi atas paham-paham Islam yang dipan- dangnya tidak sejalan de- ngan ajaran Islam, antara lain beberapa paham aliran Mu'tazilah, Jahmiyah dan aliran-aliran tasawwuf tertentu.

BAB III
TAFSIR AL-QUR'AN PADA ZAMAN IBN AL-QAYYIM
AL-JAUZIYYAH
Tradisi tafsir al-Qur'an dan permasalahannya pada masa Ibn al-Qayyim al-Jauziyah adalah merupakan kelanjutan dari tradisi yang berkembang pada masa sebelumnya. Dari aspek presentsi, pada masa itu sebenarnya masih menggunakan dua cara, yaitu cara periwayatan dan pembukuan. Presentsi tafsir dengan periwayatan dapat dikataka kurang berkembang pada masa ini karena beberapa faktor. Pertama, jarak antara masa Nabi dan masa Ibn al-Qayyim sangat lama kedua, sebagian ulama pada masa Ibn al-Qayyim al-Jauziyah lebih cenderung menafsirkan al-Quran berdasarkan sumber-sumber teriwayatkan yang diperesentasikan dengan cara pembukuan. Ketiga, sebagian ulama lainnya lebih cenderung menfsirkan al-Qur'an berdasarkan sumber-sumber lain, baik riwayat-riwayat israiliyyat, filsafat Helenisme Yunani, bahkan berdasarkan pikiran dan perasaan mufassir sendiri.
Perkembangan tradisi tafsir pada masa Ibn al-Qayyim al-Jauziyah juga diwarnai dengan munculnya berbagai pendekatan, misalnya pendekatan bahasa, pendakatan hukum islam, pendekatan teologi, pendekatan sosiologis, pendekatan filosopis, pendekatan sains, pendekatan sejarah dan pendekatan tasawwuf
Dari aspek manhaj, pada masa itu yang berkembang adalah tafsir dengan cara analisis serta relatip berwatak parsial (tahlili), tafsir dengan cara memberikan penjelasan makna secara singkat dan global (ijmali) dan tafsir dengan cara memberikan perbandingan antara berbagai ayat atau antar berbagai wacana tafsir (muqaran).
Adapun permaslahan tafsir yang mencul ketika itu adalah : Pertama, munculnya kontraversi tafsir antara tafsir terpuji dengan tafsir tercela. Kedua, munculnya penyimpangan-penyimpangan tafsir akibat muncul tafsir bi al-ra'yi dan tafsir bi al-isyari. Ketiga, munculnya aliran-aliran tafsir, baik yang berlairan teologi ataupun maupun yang beraliran fiqih.
Di samping permasalahan di atas, hal yang juga penting disinggung terkait dengan aktifitas penafsiran Ibn al-Qayyim al-Jauziyah adalah peran gurunya, Ibn Taimiyah terhadap kecendrungan tafsirnya. Berdasarkan analisa penulis bahwa aspek yang berpengaruh terhadap hal ini adalan : Pertama, aspek manhaj penafsirannya, yaitu sama-sama menerapkan manhaj salafi. Kedua, aspek sumber penafsirannya, yaitu sama-sama merupakan tafsir bil-ma'tsur. Ketiga, aspek kecendrungannya. Dari segi tujuan penafsirannya cenderung merupakan tafsir unsur ive-reaktif ; sedangkan dari segi pendekatannya cenderung teologis. Keempat, aspek wacana serta isu-isu sentral yana dibahasnya, terutama issu-issu teologis.

BAB IV
CORAK TAFSIR IBN AL-QAYYIM AL-JAUZIYYAH

Ditinjau dari segi penafsirannya, dapat dikatakan bahwa Ibn al-Qayyim tidak mengambil sumber tafsir kecuali tafsir yang bersumberkan  pada nash al-Qur'an dan al-Sunnah, atau pada riwayat-riwayat yang datang baik dari kalangan sahabat, tabi'in maupun tabi; tabi'in.
Hanya saja sulit bagi penulis untuk mengkaji metode apa yang secara konsisten yang dipergunakan oleh Ibn al-Qayyim dalam manafsirkan al-Qur'an. Mengigngat empat metode tafsir terkenal –seperti metode tahlili, ijmali, muqaran dan mauwdhu'i- yang sering diidentifikasi para kritikus tafsir al-Qur'an, semuanya tidak bisa dipergunakan secara konsisten untuk mengkategorisasi metode tafsir Ibn al-Qayyim.
Pada beberapa tempat Ibn al-Qayyim menfsirkan al-Qur'an dengan metode tahlili, tetapi pada tempat lainnya beliau meggunakan metode muqaran atau maudhu'i. Hal ini tampaknya akibat dari tafsirnya yang disampaikan berdasarkan tema yang sedang dibahasnya pada kitab yang sedang ditulisnya.
Namaun demikian, hal lain yang dilakukan Ibn al-Qayyim ketika manfsirkan al-Qur'an, selain tafsir ma'tsur adalah : Pertama, ketika manfsirkan ayat-ayat al-Qur'an yang terkait dengan prinsip-prinsip aqidah, Ibn al-Qayyim selalu berpegang pada makna lahiriah ayat al-Qur'an. Meski demikian, elaborasi tafsirnya sangat luas dan mendalam. Kedua, ketika menafsirkan ayat yang maknanya mutasyabihat Ibn al-Qayyim senantiasa men-ta'wilkan-nya dengan pendekatan dan caranya sendiri. Ketika menafsirkan kata " "ثم استوى على العرش الرحمن Ibn al-Qayyim tidak terjebak pada apologi kebahasaan. Ibn al-Qayyim tidak mempokuskan perhatiannya pada kata "استوى" sebagaimana halnya banyak dilakukan oleh banyak mufassir. Perhatian Ibn al-Qayyim justru tecurah pada kata " الرحمن ".
Segi yang sebenarnya sangat menarik untuk dikaji dari tafsir ibn al-Qayyim adalah masalah kecendrungan tafsirnya yang sangat khas. Tujuan dan pendekatan tafsirnya cenderung memperlihatkan bahwa dirinya sangat peduli pad akehidupan social keagamaan umat Islam. Dan karena itu Ibn al-Qayyim hendak menyampaikan tanggapan-tanggapan dan penolakan-penolakan tertentu atas persoalan yang tengah berkembang pada di tengah kehidupan umat Islam pada masa hidupnya.
Dalam hal ini penulis banyak menemukan pendekatan yagn dilakukan oleh Ibn al-Qayyim dalam penafsirannya. Ia tidak pokus pada sebuah pendekatan sehingga menghasilan tafsir special. Namun demikian, dalam tafsir ayat-ayat serta surat-surat tertentu dalam al-Qur'an, misalnya dalam surat al-Fatihah, pendekatan Ibn al-Qayim adalah cenderung teologis. Karena dalam tafsir tersebut Ibn al-Qayyim memulai pembahasan dengan mengemukakan asumsi-asumsi teologis yang diyakininya.
Sekalipun beliau ahli hukum islam, namun dalam tafsir ayat-ayat hukum, pendekatan yang fiqh Ibn al-Qayyim ternyata kurang menonjol. Yang terasa justru pendekatan filsafat hukumnya, hal mana asperk-aspek hukum lebih banyak disorot segi hikmahnya, yaitu hikmah dibalik hukum dan bukan segi hukumnya.
Hal yang sangat terasa disampikan oleh Ibn al-Qayyim melalui ayat-ayat yang ditafsirkannya adalah bahwa ia sedang merespon bahkan dalam beberapa pendapat tafsir ia menunjukkan reaksinya perkembangan status Quo Negara, ulama, umat dan sejarah islam yang tengah terjadi pada saat itu. Dalam hal ini penulis sampai pada sebuah kesimpulan bahwa dari segi tujuannya tafsir-tafsir –paling tidak sebagian tafsir- Ibn al-Qayyim adalah cendrung responsif dan atau rektif. Asumsi penulis ini didasarkan pada beberapa indikasi yang dapat dibaca dari tafsir Ibn al-Qayyim yaitu :
1.      Adanya unsur penerimaan, persetujuan, atau pembelaan; disebut nsure afiliasi;
2.      Adanya unsur perluasan wacana keislaman; disebut unsur perluasan; dan
3.      Adanya unsur penolakan, ketidaksetujuan atau penentangan; disebut counter pemikiran.

 
BAB V
KESIMPULAN.

Adapun kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut :
·         Penafsiran Ibn al-Qayim al-Jauziyah, terutama yang tercermin dalam kitab Al-Tafsir Al-Qayyim, diwarnai oleh unsur-unsur penerimaan, perluasan dan unsur penolakan.
ü  Unsur penerimaan : (a) disampaikan sebagqi wujud komitmen untuk melandaskan penafsiran hanya pada sumber-sumber teriwayatkan (tafsir bi al-ma'tsur); (b) disampaikan dengan cara pengambilan beberapa sumber tafsir;
ü  Unsur perluasan : (a) disampaikan sebagai wujud komitmen pembaharuan umat; (b) disamapaikan dengan elaborasi tafsir, baik berupa argumentasi tafsir maupun berupa wacana keagamaan baru.
ü  Unsur penolakan : (a) disampaikan sebgai wujud komitmen mengguliran gerakan Taharrur al-Zhanniyat; (b) unsur ini sangat menonjol, terutama berkenaan dengan penolakan secara kritis terhadap paham-paham keagamaan yang dianut beberapa aliran Islam, antara lain : Paham kelompok al-bathiliin, paham nafy al-Shifat-nya golongan Jahmiyah, paham Jabariyah, paham Qadariyah paham sparatis kelompok Rafidhah dan paham dari aliran-alira tasawuf tertentu; (c) unsur ini disamapaikan dengan cara menguraikan dengan penalaran-penalaran  tafsir yang tidak hanya didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan naql (ma'tsur) dan logika deduktif (ma'qul), tetapi disasarkan juga pada pertimbangan sosio-historis;
·         Corak tafsir Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah adalah Adabiy Ijtimaiy. Hal ini didasarkan pada beberapa indikator berikut :
ü  Unsur-unsur penerimaan, perluasan dan penolakan mengindikasikan respon dan reaksi yang sangat kuat dari ibn al-Qayyim terhadap perkembangan sosio-historis yang terjadi, terutama pada masa kehidupannya;
ü  Internalisasi nila-nilai al-Qur'an untuk pembaharuan kehidupan umat Islam, ditafsirkan dengan analitis serta deskripsi kebahasaan yang sangat kritis,  detail dan elegan;
ü  Karena cenderung menjelaskan al-Qur'an berdasarkan ketelitian ungkapan-ungkapan yang disusun dengan bahasa yang lugas dengan menekankan tujuan pokok diturunkannya al-Qur'an, lalu berupaya mengaplikasikannya pada tatanan sosial, maka tafsir Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah secara nyata memiliki ciri-ciri tafsir dengan corak Adabiy Ijtima'iy.

0 komentar:

إرسال تعليق

Categories

About Us

There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form.

نموذج الاتصال