Wednesday, December 27, 2017

MUSLIM UTUH TANPA TAHUN BARU



MUSLIM UTUH TANPA TAHUN BARU

Oleh : Ust. Idrus Abidin, Lc.. M.A
Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah al-Manar (STIS) Jakarta

Pendahuluan.
Kehidupan manusia di bumi ini bermula dari otoritas tauhid dan hidayah yang dikembangkan oleh Nabiyullah Adam a.s. beserta istrinya, Hawwa. Seiring dengan gerak zaman, mulai terjadi penyimpangan sehingga datanglah era mitos dan zaman kegelapan. Lalu Allah mengutus kembali seorang nabi atau pun rasul untuk mengembalikan manusia kepada agama. Demikianlah Islam memandang sejarah kehidupan. Awalnya adalah fase agama lalu disusul oleh masa-masa mitos, di mana masyarakat menjauh dari agama. Mereka terkungkung dalam segala bentuk tradisi, keyakinan, dan budaya yang menyimpang.
Termasuk produk budaya sekuler yang hari ini menjadi bagian dari komsumsi masyarakat dunia tanpa terbatasi lagi oleh sekat-sekat agama, budaya dan keyakinan adalah perayaan momen-memen tahun baru. Masyarakat keluar ke pantai-pantai, tempat pelesiran, hingga ke kampung-kampung dengan perasaan bahagia dan ceria, disertai dengan kemeriahan bunyi terompet dan kilauan kembang api. Bahkan disertai pula dengan hingar bingar  konser dan alunan musik. Lalu bagaimana Islam memandang perayaan tersebut ?
Islam, Puncak Hidayah.
Islam adalah agama yang menjadi standar kebenaran normatif. Direkomendasikan oleh Pemiliki Alam semesta ini sebagai agama resmi di dunia dan di akhirat. Dari sejak Adam hingga era masing-masing- nabi dan Rasul, Islamlah yang menjadi tugas kenabian dan kerasulan mereka. Bahkan, ketika berhadapan dengan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), yang juga merupakan ajaran Allah di zamannya, tetap saja Islam yang didukung secara total dalam beragam ayat-ayat al-Qur’an. Lihatlah surat al-Baqarah ayat 41 tentang perintah agar bani Israel mengimani al-Qur’an dengan ikut serta melaksanakan shalat dan membayar zakat. Juga perhatikan betapa Allah mengeritisi klaim sepihak Yahudi yang merasa tidak akan masuk neraka kecuali beberapa hari (al-Baqarah ayat 80). Intinya, baru sebatas surat al-Baqarah saja, Allah sudah menjelaskan sejarah penyimpangan, sikap keras kepala dan kebobrokan ahlak Yahudi dan kaum Nasrani; baik pada  zaman nabi Musa hingga yang sezaman dengan Rasulullah Saw.
Bahkan, Rasulullah sendiri sebagai pemimpin agama terakhir ini, dilarang keras mengikuti hawa nafsu jelek Yahudi dan Nasrani, apalagi agama yang bukan dari kalangan ahli kitab. Jika langkah-langkah Yahudi dan Nasrani ini dikuti oleh Rasulullah, padahal sudah jelas pengarahan Allah kepadanya, Allah mengancam tidak akan lagi menjadi pengarah, penunjuk, penasihat (wali) dan penolong (nashir) bagi Rasulullah. Sebuah bahasa keras yang bernada ancaman. Pantaslah Allah senantiasa menegaskan, “Masuklah ke dalam Islam secara total dan jangan sekali-kali mengikuti langkah-langkah syetan. Karena setan adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (QS al-Baqarah: 208)
Artinya, sebagai muslim yang benar kita harus merasa puas dan merasa cukup dengan aturan dan pengarahan Islam. Kita tidak boleh merasa rendah diri dengan tradisi dan budaya yang telah diajarkan secara langsung oleh Allah dan rasul-Nya. Bahkan, seharusnya kita merasa bangga dengan status keislaman dan semua ajaran-ajaran yang ada di dalamnya.
Larangan Menyerupai Agama dan Budaya Lain
Karena Islam merupakan standar mutlak kebenaran, muslim dilarang menyerupai tradisi yang ada di luar Islam. Karena sikap meniru budaya dan tradisi agama lain akan mengakibatkan lahirnya rasa kasihsayang dan kecintaan kepada sang pemilik kebudayaan tersebut. Padahal, Islam melarang kita berkasihsayang dengan pihak-pihak yang memusuhi Islam. (Lihat QS al-Mujadilah ayat 22). Terkait tahun baru, minimal ada beberapa alasan yang bisa dijadikan dasar penolakan, misalnya :
·      Perayaan tahun baru menjadi sarana mencampuradukkan antara yang hak dan yang batil.
·      Mengandung propaganda yang mengarahkan kepada kekufuran, kesesatan dan fermisivisme.
·      Merayakan tahun baru berarti meniru tradisi dan budaya non muslim. Padahal, Rasulullah telah melarang kita meniru tradisi non Muslim. “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud. Dishahihkan oleh al-Albani dalam kitab Irwa’ul Ghalil no. 1269)
·      Bahkan dari sejak awal Rasulullah menegaskan keharusan berislam dan mewanti-wanti akan adanya generasi yang merasa rendah diri sehingga mudah mengikuti tradisi agama lain tanpa sikap kritis. Beliau pernah menginformasikan, “Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah, “Apakah mereka itu mengikuti tardisi Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Kalau bukan mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari no. 7319)
·      Melakukan amalan tanpa ada tuntunan dan petunjuk dari Islam. Padahal Rasulullah menegaskan, “Barang siapa yang mengada-adakan amal dalam agama ini padahal bukanlah bagian dari agama maka amal tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
·      Terjerumus dalam perzinahan. Betapa malam tahun baru seringkali dimanfaatkan oleh muda mudi, bahkan orang-orang yang sudah berkeluarga sebagai peluang untuk berhubungan seks dengan pasangan yang tidak halal. Padahal, peluang perzinahan ini senantiasa terbuka sekali pun manusia tidak terlibat dalam percampuradukan antara lelaki dan perempuan (ikhtilat). Rasulullan bersabda, Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)
·      Mengganggu ketertiban umum. Dalam Islam, wilayah publik adalah ruang yang tidak boleh begitu saja digunakan tanpa izin dari masyarakat umum. Makanya, Rasulullah melarang ummatnya sering nongkrong di pinggir jalan. Apalagi, pada malam tahun baru, suara-suara keras terompet hingga suara bising petasan begitu menggema. Padahal mengganggu muslim lainnya adalah terlarang sebagaimana sabda Rasulullah, “Seorang muslim adalah mereka yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain.” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 41)
·      Melakukan pemborosan. Padahal Allah Swt. telah berfirman, “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. al-Israa’: 26-27)
·      Merayakan tahun baru termasuk membuang-buang waktu. Padahal waktu sangat dibutuhkan untuk hal yang bermanfaat dan bukan untuk hal yang sia-sia. Nabi telah memberi nasehat mengenai mutu dan kualitas keislaman seseorang, “Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah kemampuannya meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih wa Dha’if  Sunan Tirmidzi). Seharusnya seseorang bersyukur kepada Allah dengan nikmat waktu yang telah Dia berikan. Mensyukuri nikmat waktu bukanlah dengan merayakan tahun baru. Namun mensyukuri nikmat waktu adalah dengan melakukan ketaatan dan ibadah kepada Allah. Itulah hakikat syukur yang sebenarnya. Orang-orang yang menyia-nyiakan nikmat waktu seperti inilah yang Allah cela  dalam firman-Nya,“Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?” (QS. Fathir : 37).
Reformasi Budaya
Pada saat Rasulullah memimpin peradaban Islam di Madinah, beliau melakukan langkah-langkah reformasi di segala bidang. Termasuk di antaranya penegasan status amalan islami tanpa ada unsur keserupaan dengan budaya dan kebiasaan non muslim. Hal ini bisa dilihat pada bebarapa kasus berikut :
·      Disyari’atkannya makan sahur. Kalangan ahli kitab juga diwajibkan pada zamannya untuk puasa. Namun puasa mereka tidak disertai dengan anjuran makan sahur. Makan sahur sebelum puasa murni sebagai ciri khas ajaran Islam sebagai upaya membedakannya dengan tradisi Yahudi dan Nasrani. Rasulullah bersabda, “Pembeda antara puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah dalam hal makan sahur.” (HR. Muslim no. 1096)
·      Dianjurkannya mencukur kumis dan memelihara jenggot agar bisa menyelisihi tradisi kaum musyrikin. Sabda Rasulullah, Selisihilah orang-orang musyrikin: cukurlah kumis dan peliharalah jenggot”. (HR. al-Bukhari, no. 5553 dan Muslim, no. 259)
·      Larangan menjadikan kuburan para pembesar sebagai tempat ibadah (masjid). Sabda Rasulullah, “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menjadikan kubur-kubur para nabi dan orang-orang Saleh mereka sebagai masjid. Ketahuilah, janganlah kalian menjadikan kubur-kubur sebagai masjid, karena sesungguhnya saya melarang kalian dari hal tersebut”. (HR. Muslim no. 532)
·      Peralihan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah.
·      Penetapan idul fitri dan idul Adha sebagai hari raya resmi kaum muslimin dan pelarangan terhadap perayaan lain seperti perayaan tahun baru. Anas bin Malik bercerita, “Ketika Rasulullah Saw. tiba di kota Madinah dan mereka memiliki dua hari yang mereka rayakan tiap tahun dengan beragam perlombaan, maka Rasulullah Saw. bertanya “Dua hari apakah ini?”, mereka menjawab: “Kami dahulu sering mengadakan perlombaan pada  kedua hari itu  di masa jahiliah. Beliau bersabda, “Sungguh Allah Swt. telah menggantikan hari raya kalian itu dengan dua hari raya yang jauh lebih baik, yaitu hari raya idul fitri dan hari raya idul adha.” (HR. Ahmad)
Dengan beberapa contoh tersebut, makin jelas bagi kita urgensi mengenal dan komitmen dengan produk budaya kita sendiri. Selain beberapa bentuk reformasi sistem ibadah tersebut di atas, juga perlu adanya pemahaman seputar penanggalan dan penetapan waktu dalam tradisi Islam. Jika non muslim menetapkan standar penanggalan berdasarkan perputaran matahari maka Islam menjadikan siklus bulan sebagai standar penanggalan. Bedanya, bulan memiliki perbedaan besar kecil setiap malam sehingga mudah ditebak tanpa harus melihat kalender. Bedanya lagi, jika pada sistem matahari, jam 00.00 ditetapkan pada pukul 24.00, maka peralihan tanggal dan istilah pagi mulai dari tengah malam. Pantas kalau jam 1 malam disebut sebagai awal jam pertama. Semantara dalam Islam, awal pergantian tanggal dimulai dari waktu magrib. Sehingga jam 00.00 Islam adalah pas pukul 18.00. Seharusnya, berdasarkan aturan Islam, pukul 19.00 baru jam 1 dalam perhitungan waktu keislaman. Belum lagi ditambah dengan kalender hijriah dan pemahaman makna hari dalam Islam. Dalam Islam, hari ahad adalah hari pertama. Bukan akhir pekan seperti yang dipahami masyarakat hari ini. Semua itu perlu reformasi pemahaman dan sikap dari kita kaum muslimin. Sehingga keislaman kita menjadi utuh tanpa tercampur budaya lain yang jelas-jelas menyelisihi budaya asli Islam. Wallahu a’lam.

Friday, January 27, 2017

Hubungan Manusia dengan Allah, Idrus Abidin, Lc., MA

NUANSA BAHAGIA DALAM DEKAPAN DAN NAUNGAN CINTA ILAHI Oleh : Idrus Abidin, Lc., M.A



NUANSA BAHAGIA

DALAM DEKAPAN DAN NAUNGAN CINTA ILAHI
Oleh : Idrus Abidin, Lc., M.A
A.      Makna Bahagia.
Bahagia dalam bahasa Arab dikenal dengan sebutan sa’adah. Kata ini terbentuk dari kata saida, yas’adu, sa’dan dan sa’adah. Sa’adah ini artinya bahagia yang merupakan lawan dari kata syaqawah (sengsara). Sedang kata sa’ada, yusa’idu, musa’dah mengandung makna membantu dan membahagiakan. Yakni, membantu seseorang dengan sesuatu yang bisa membuatnya bahagia. Sehingga tak mengherankan jika lengang dan sayap disebut sa’id dalam bahasa Arab. Karena dengan lengang (sa’id), manusia terbantu dan dimudahkan dalam bekerja. Dan, dengan adanya sayap  (sa’id), burung terbantu untuk terbang.
Dari analisis kebahasaan ini tampak makna sa’adah adalah kebaikan, keridhaan, keberkahan, kepuasan dan pertumbuhan. Juga mengandung makna bantuan, kerja keras dan kerjasama. Berdasarkan makna ke-2 ini, penulis al-Mu’jam al-Wasith menganalisa bahwa sa’adah adalah, “Bantuan Allâh kepada manusia untuk mendapatkan kebaikan. Dan, lawannya adalah syaqawah.”[1] Beberapa kamus al-Qur’an (Mu’jam al-Alfazh al-Qur’an) pun memberikan pengertian bahwa sa’adah adalah bantuan Allâh kepada manusia untuk mendapatkan kebaikan. Dari sinilah firman Allâh yang berbunyi, Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga.” (QS Hud [11]: 108). Dan firman-Nya, “Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia.” (QS Hud [11]:105). [2] Dengan demikian, bahagia secara kebahasaan bisa diartikan sebagai perwujudan kenikmatan dan kebaikan dengan cara bekerja lebih efektif disertai kerja sama yang kreatif.
Bahagia yang diartikan sebagai wujudnya perasaan senang dan tenang akibat adanya bantuan Allâh ini menjadi poros pemaknaan ulama terhadap istilah bahagia menurut Islam. Rahifah Musa Qudurah Ibrahim misalnya menyimpulkan pendapat mayoritas mufassir tentang pengertian bahagia dalam tesisnya yang berjudul “as-Sa’adah fi al-Qur’an: Dirasah Maudhuiyyah.” Yaitu bahwa kebahagiaan duniawi ada pada wujudnya bantuan Allâh kepada manusia untuk memperoleh kebaikan, kenikmatan dan keluasan rezeki; dalam kondisi keimanan mereka kepada Allâh dan sikap mereka dalam mengikuti ajaran Rasululullah Saw. Kebahagiaan duniawi seperti inilah yang akan mengarahkan kepada kebahagiaan ukhrawi yang hakiki, yang berwujud pada peluang untuk kekal di dalam sorga sesuai dengan ketetapan takdir yang sejalan dengan makna hadits, “Berbuatlah, karena semua orang akan dimudahkan sesuai dengan tujuannya diciptakan.” [3]
Bantuan Allâh ini bisa diperoleh dengan keimanan, sehingga kebahagiaan versi Islam sangat melekat dan terkait secara utuh dengan tingginya tingkat keimanan seseorang atau sekelompok orang. Khawajah Aniq Ahmad menulis hubungan antara kebahagiaan dengan keimanan yang bisa mendatangkan ketenangan jiwa di kala senang dan susah dengan menegaskan, “Kebahagiaan sebenarnya adalah rasa (tentram dan ketenangan) yang dititipkan oleh Allâh kepada hamba-hamba-Nya yang shaleh; yang dijadikan karunia bagi mereka, yang menjadi sarana untuk menenangkan jiwa; sekali pun mereka sedang berada dalam kesempitan, kesusahan, keletihan dan kecapean. Setiap kali kehidupan dunia terasa sempit bagi mereka dan masalah sedang menghimpit, namun mereka senantiasa bertambah kuat, semakin kokoh dan merasa tenang. Mereka adalah manusia yang paling lapang dadanya, paling nikmat jiwanya, paling baik hidupnya. Semua itu mereka dapatkan akibat dari keimanan mereka kepada Allâh dan keridhaan mereka terhadap ketentuan (qada’) dan ketetapan (qadar) Allâh Swt.
Jika seseorang beriman dengan ketetapan Tuhannya maka hilanglah dukanya dan mencairlah rasa sakit dan keluhannya, sehingga ia merasakan ketenangan jiwa. Hatinya menjadi lapang sekali pun sibuk dengan setumpuk problem, yang bisa jadi termasuk yang tidak ia senangi dan membuatnya marah. Semua itu bisa terjadi karena kesadaran dan keimanannya bahwa masalah itu masih menyimpan misteri; apakah ia megandung potensi baik ataukah potensi buruk; dan apa-apa yang akan terjadi setelahnya berupa harapan ataukah kesedihah. Juga karena kesadarannya bahwa itu semua berada di tangan Allâh yang Maha Hebat dan Maha Bijak. Semua itu sama sekali tidak berada di bawah kendali manusia. Sehingga ia bertawakkal kepada Tuhannya dan merasa tenang dengan-Nya. Akhirnya, keadaannya makin baik dan lebih bagus. Juga hilang pula kesedihan dan kekhawatirannya. Keimanannya medatangnkan keceriaan, kebahagiaan, kegembiraan, kehidupan yang baik dan kepuasan batin. [4]
Syaikh Dr. Abdul Rahman bin Mualla al-Luwaihiq menegaskan, “Bahagia adalah perasaan internal yang dirasakan manusia pada kedalaman hatinya, yang bewujud pada ketenangan jiwa, kepuasan batin, keluasan hati, ketentraman rasa; sebagai hasil dari istiqamah secara lahiriah dan bathiniah yang didorong oleh kekuatan iman. Bukti-bukti pendukungnya adalah al-Qur;an dan Sunnah. Firman Allâh,
﴿ مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ﴾
Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (QS an-Nahl [16]: 97). Juga firman-Nya:
﴿ فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى * وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا ﴾
Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, (QS Thaha [20]: 123-124).
Juga hadits Rasulullah yang berbunyi, “Kekayaan itu bukanlah pada banyaknya harta, tetapi kekayaan itu ada pada kekayaan jiwa.” [5]
Keimanan akan menghasilkan ketakwaan. Sebagaimana telah dijelaskan pada buku kami, “Jalan Takwa” bahwa semua orang bertakwa pasti beriman. Namun tidak semua orang beriman pantas disebut orang bertakwa. Maka, keimanan dan ketakwaan juga menentukan adanya bantuan Allâh sehingga hati manusia bisa merasakan kebahagiaan lebih utuh.
Syaikh Dr. Sulaiman ar-Ruhaili mengaitkan keimanan dan ketakwaan ini dalam menggapai kebahagiaan. Beliau menulis, “Sungguh kebahagiaan itu ada  di dalam hati orang-orang bertakwa dan amal shaleh yang murni. Siapa pun yang berikan oleh Allâh taufik untuk bertakwa maka Allâh akan memberikannya hati yang bertakwa, yang dengannya ia bisa berhenti pada batas-batas yang diharamkan Allâh sehingga ia tidak melanggarnya. Ia juga bersikap dengan ketakwaan dalam kewajibannya sehingga ia tidak melampaui batas; dan diberikan amal shaleh maka sungguh ia telah dikaruniai kebahagiaan. Hal demikian karena kebahagiaan –wahai ikhwah sekalian- merupakan ketenagna jiwa. Sedang hati berada di antara jari jemari Allâh yang dibolak-balikkan sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Jadi, kebahagiaan merupakan karunia dari Allâh yang diberikan kepada hamba-Nya yang shaleh. Sedang hamba yang beriman akan hidup penuh kebahagiaan. 
Namun apakah ini berarti mereka tidak diuji?! Tidak tentunya. Mereka akan diuji sesuai kadar keimanan mereka. “Orang yang paling tinggi ujiannya adalah para nabi; lalu yang mirip dengan mereka; seseorang diuji sesui kadar keimanannya.” Tetapi ujian itu lebih baik menurut mereka sehingga mereka merasa tenang. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Sungguh mengagumkan kondisi orang-orang beriman. Semua keadaannya baik. Jika mereka ditimpa kebaikan maka merka bersyukur. Namun jika ditimpa masalah, mereka bersabar. Itulah yang terbaik menurut mereka. Tidak ada kondisi demikian kecuali hanya pada orang-orang beriman.”  La ilaha illallâh. Bagaiman Anda hidup? Bisa dalam kondisi baik maupun dalam keadaan susah. Bagi orang mukmin, semua itu baik bagi mereka sehingga mereka senantiasa dalam kebahagiaan. Orang mukmin bahgia di dunia ini karena Allâh Swt memberikan mereka ketenangan dan rasa cukup. Rasulullah Saw bersabda: [6]
مَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ
Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allâh akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allâh akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.[7]
Jadi, terdapat semi kesepakatan di kalangan ulama bahwa kebahagiaan itu merupakan pemberian Allâh sehingga harus dicari kepada pemiliknya dengan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan dalam al-Qur’an dan Sunnah. Hal ini ditegaskan oleh ayat berikut:
هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ لِيَزۡدَادُوٓاْ إِيمَٰنا مَّعَ إِيمَٰنِهِمۡۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيما
Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allâh-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allâh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS al-Fath [48]: 4)
B.       Bahagia sebagai Manifestasi Iman dan Takwa; Merupakan Buah Ibadah.
Iman dan takwa tidak diragukan lagi menjadi basis utama dan sarana mendasar dalam rangka menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Karena dengan hal itu bantuan dan perkenaan Allâh sehingga rasa tentram, nyaman, tenang dan damai serta segala turunan kebahagiaan bisa terasa dalam jiwa manusia. Wujud dari keimanan dan ketakwaan ini tampak dengan jelas pada ibadah yang menjadi hak mutlak Allâh Swt. Karena demikian adanya, maka tepat kiranya kalau ibadah ini menjadi awal dan standar analisa untuk memetakan koridor kebahagiaan.
Ibadah adalah kesatuan antara 3 pilar utama Islam;

  • Cinta Allâh Swt. (mahabbatullah)
  •  Mengharap rahmat-Nya (raja’)
  • Takut azab-Nya (khauf)

Sedang bahagia juga merupakan buah (hasil) dari kesatuan dari ke-3 pilar utama ibadah tersebut di atas, yaitu:

  • Ketentraman jiwa dan ketenangan rasa terhadap Allâh  (mahabbatullah);
  • Karena menyadari dan mengharap keluasan rahmat-Nya (raja’);
  • Dan, karena merasa takut dan cemas dari murka dan siksaan-Nya (khauf), serta berharap terhindar darinya.

Jadi, Ibadah adalah proses dan wujud kecintaan manusia yang berpadu dengan kepatuhan kepada Allâh. Sedang bahagia adalah hasil sekaligus buah dari ibadah itu sendiri. Dengan demikian, dipastikan bahwa hanya Ahli ibadah saja yang bisa merasakan nikmatnya kebahagiaan abadi dan lezatnya kenikmatan hakiki.
Abdullah bin Mubarak pernah berkata, “Penduduk bumi keluar dari kolong dunia ini padahal mereka belum pernah merasakan kenikmatan terbaik yang ada padanya.” Lalu ada yang bertanya kepada beliau, ‘memang kenikmatan terbaik apa yang ada padanya?, kata beliau, “Mengenal Allâh (ma’rifatullah) dengan baik.” (Hilyatul Auliyaa/hal. 167, jilid. 8)
Seorang shaleh dan ahli ibadah pernah sesumbar, “Jika kenikmatan penduduk surga seperti yang kurasa saat (beribadah) ini, pasti mereka mahluk paling bahagia.” Itulah makna pernyataan Ibnu Taimiyah rahimahullah yang berbunyi, “Di dunia ini ada surga, jika belum dirasakan oleh seseorang, saya khawatir surga sesungguhnya takkan pernah berada di pelupuk matanya.” Bahkan pada kesempatan lain beliau pernah berkata, “Jika para tiran dari kalangan raja dan penguasa; penikmat kelezatan duniawi itu mengetahui nilai kebahagiaan yang ada di hati kami, seperti yang mereka cari selama ini, tentu mereka akan membunuh kami agar kenikmatan itu bisa direnggut dan dirampas dari hati kami ini.”
Bahagia yang diinginkan dan diangankan Islam adalah kebahagiaan yang berbalut kecintaan dan kasih sayang Allâh Swt. Bisa jadi sesuatu itu dipandang baik dan diyakini membahagiakan oleh banyak orang. Namun jika diukur berdasarkan ketentuan dan kecintaan kepada Allâh, hal tersebut ternyata berpotensi mengancam bahkan menghilangkan nilai kenikmatan itu sendiri. Misalnya, seperti pandangan orang-orang Barat dan non Muslim, ketika melihat wanita muslimah bercadar atau berjilbab atau berkerudung, mereka menganggap pakaian mereka itu mengekang kebebasan dan menggerahkan perasaan. Padahal, bagi seorang muslim dan muslimah, yang memendam cinta dan ketaatan kepada Allâh, justru mereka melihat kebahagiaan itu ada pada fakta sebaliknya. Mereka meyakini bahwa tampilan para wanita bule yang merasa cukup dengan sekedar kain tipis (baju you can see), yang mereka kenakan untuk menutupi aurat utama mereka itulah yang pantas merusak kebahagiaan, yang dicari dan kenikmatan jiwa yang diharapkan oleh kalangan ahli ibadah dan pecinta Allâh, seperti mereka.
Dengan contoh sederhana ini saja tampak bahwa kebahagiaan yang diangankan dan dinginkan oleh banyak orang tidaklah seragam definisinya dan belum tentu bisa disepakati bersama pemaknaannya. Yang jelas, faktor utama kebahagiaan ternyata banyak dipengaruhi oleh nila-nilai keyakinan dan persfektif yang menjadi acuan atau kacamata seseorang dalam memandang dan menetapkan kriteria kebahagiaan. Sejauh mana tingkat akurasi dan kebenaran acuan dan kacamata yang menjadi sarana meneropong kebahagiaan tersebut maka se-real itu pula kebahagiaan ditemukan dalam diri masing-masing kelompok.
Islam sebagai agama kebahagiaan tidak rela jika manusia mencari kebahagiaan selain pada dirinya sendiri (Islam). Menduakan Islam dengan ideologi lain dalam hal yang bersifat prinsipil (akidah), sama saja menduakan Allâh dalam hal yang sama. Padahal Allâh sudah mengajarkan kita dengan prinsip pasti; lakum dinukum waliyadiin (untukmu agamamu dan untukku agamaku). Bagaimana mungkin kebahagiaan bisa terasa jika yang dipinta tidak memilikinya?! Sementara pemilik hakikat kebahagiaan tidak digubris sama sekali, karena pencari kebahagiaan itu tertutupi mata, telinga, hati, rasio dan semua sarana pengetahuannya dari sumber utama kebahagiaan (Allâh). Itulah rekayasa setan dalam memperbudak pecinta hawa nafsu dan pencuri kebahagiaan.  
Perbedaan sisi pandang dalam memaknai kebahagiaan antara masing-masing orang, masyarakat, bangsa, Negara dan ideolagi (agama) ini membuat prioritas dan pensikapan terhadap hal-hal yang dipandang membahagiakan menjadi beragam dan berbeda pula. Contoh, bagi yang memandang wanita yang berpakaian tipis sebagai bagian dari kebahagiaan, mereka berpendapat bahwa tipisnya pakaian merupakan bukti gerahnya suasana dan panasnya cuaca. Sehingga berpakaian tipis bagi masyarakat Eropa dan sebagian besar wanita penduduk Amerika dan Asia yang masih kafir, bertujuan agar tidak menimbulkan rasa panas dan gerah. Ketika mereka menghindari pakaian tebal di saat suasana sedang panas dan cuaca terasa menyengat dianggap sebagai kebahagiaan itu sendiri bagi mereka.
Padahal, bagi kaum muslimin yang meyakini kewajiban menutup aurat dengan cadar (orang-orang beriman), jilbab atau pun kerudung, memandang bahwa panas secara fisik itu tidaklah bermasalah selama tidak melanggar ketentuan syari’at dan membuat mereka dibakar oleh sengat panasnya neraka pada hari kiamat kelak. Di samping itu, persfektif muslim juga menganalisa dan melihat bahwa pakaian tipis yang tidak menutupi semua bagian aurat, malahan berpotensi memancing syahwat para lelaki hidung belang. Sehingga wanita yang berpakaian demikian merasa was-was dan tidak pernah merasa nyaman karena merasa risih dengan pandangan orang-orang bernafsu kepadanya. Walau pun hal seperti ini juga dipengaruhi oleh faktor dan konstruk budaya dan kebiasaan warga sekitar.
Di wilayah non muslim, seperti di Eropa, Amerika, dan Sebagian wilayah Asia, tentu berpakaian minim sudah menjadi tradisi. Sehingga lelaki pun tidak terlalu merasa tertarik dengan aurat yang dipertontonkan.[8] Karena bagi mereka, hal demikian serasa biasa dan lumrah, serta bukan lagi sesuatu yang luar biasa. Bahkan, ketika mereka menemukan wanita dengan ciri khas kemuslimahan; dengan pakaian tertutup dan tebal di wilayah mereka, mereka segera berkesimpulan: wanita-wanita itu terpenjara dan tidak memiliki akses kebebasan apa pun sama sekali. Terpenjara dengan pakaian tebal dan tidak adanya kebebasan berpakaian minim sebagaimana non muslim, berarti bukti hilangnya kebahagiaan. Padahal, wanita muslimah memakai pakain itu justru merasa bebas dan merasa bahagia luar biasa.  Itulah fungsi idealisme (agama/akidah) dalam memandang sesuatu.
Contoh lain adalah, adanya dua ibu rumah tangga yang berbincang tentang karirnya sebagai profesional di perkantoran dengan temannya, seorang ibu yang menjadikan profesi utamanya mengasuh anak, mengurus rumah dan suami.
Profesional kantoran   :  Jadi sekarang ente ga kerja? Kok bisa sih? Ga bosan?
Profesional rumah tangga:  Kerja kan tidak harus tiap hari ke kantor! Gue masih bisa kerja di rumah sambil ngurus anak, rumah dan suami.
Profesional kantoran   : Nah….langsung aja deh! Sayang aja sih, lulusan UI cuman ngurus anak.
Profesional rumah tangga: Justru hebat dong. Anak saya diurus ama lulusan UI. Bandingkan anak ente yang diasuh lulusan SD.
Profesional kantoran   :  * Senyum kecut. *
Yaaah…sungguh menggelikan. Sebuah budaya kerja yang telah mapan dan menjadi standar kebenaran dan kemapanan, tapi harus bertekuk lutut di hadapan profesi yang dianggap “rendahan” sekali pun pelakunya adalah orang kuliahan.
Contoh lain yang menghibur dan membuat kita tertawa geli seperti berikut. Di pesawat ada Pastur dan Pak Kyai duduk sebaris, Lalu datang pramugari.
Pramugari        : “Hallo tuan-tuan, ada yang mau sampanye?”
Pastur              : “Iya, terima kasih nona. Tolong 2 gelas ya... Ayo Pak Kyai, kita rayakan
                        pertemuan ini dengan minum sampanye!!”
Kyai                : “Saya teh hangat saja!!”
Pastur             : "Waaah... Pak Kyai jangan sungkan-sungkan! Jarang-jarang lho kita
                       minum sampanye bareng-bareng”
Kyai                : “Maaf Pak Pastur, agama saya melarang minum alkohol!!”
                       Pastur terdiam sambil menenggak sampanye.
Pastur             : “Waaah sayang sekali Pak Kyai, barang enak begini tidak suka...”
                            Pak Kyai hanya menghela nafas.
Sampai di Bandara, mereka berjalan ke tempat penjemputan. Dari kejauhan datang 4 wanita cantik dan muda, sambil memanggil Pak Kyai.
Wanita             : “Abah.. Abah.. Selamat datang...... “ *Muach... muach..... sambil cium
                       tangan*
Pastur             : “Putri nya cantik-cantik ya... kuliah semua?"
Kyai                : “Ooooh.. Mereka istri-istri saya, kenalkan Pak Pastur….Lho... Pak Pastur
                        tidak ada istri yang jemput?”
Pastur             : “Hmmm... Saya tidak punya istri. Agama saya melarang saya menikah..
                       “ *sambil menghela nafas*
Kyai                : “Waah...sayang sekali, enaaaakk begini, kok Pak Pastur tidak suka.. “
Dengan sedikit perbandingan antara dua persfektif dalam memandang kebahagiaan dan kesenangan ini saja tersingkap dengan jelas bahwa ada sesuatu yang kelihatan memberatkan, tapi ternyata orang-orang yang melakukannya dengan pertimbangan idealisme tinggi malah merasa bahagia karenanya. Sedang tampak pula ada sesuatu yang dianggap membahagiakan hanya karena dianggap simpel, tapi ternyata itulah musibah yang sesungguhnya.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah:  Siapa dari kedua pihak tersebut di atas yang benar-benar pantas bahagia di dunia ini, apalagi di akhirat kelak? Jawaban singkatnya; kedua belah pihak berhak dan pantas bahagia. Walau pun orang yang berbahagia karena nilai-nilai ideal dan keyakinan yang mereka perjuangkan akan lebih kekal kebahagiaanya. Karena dia melakukannya dengan pertimbangan tanggung jawab yang tinggi dengan kandungan ibadah yang tidak perlu diragukan lagi. Itulah idealisme yang menjadi pilar kebahagiaan hakiki. Di sinilah kita lihat jauhnya jangkauan kebahagiaan dalam Islam, sejauh jangkauan tabiat agama Islam itu sendiri yang mencakup dunia dan akhirat, lahir dan batin, ibadah dan kerja serta material dan spiritual dalam satu kesatuan yang utuh.


[1] Al-Mu’jam al-Wasith, Ibrahim Musthafa, Ahmad Hasan az-Zayyat, Hamid Abdul Qadir dan Muhammad Ali an-Najjar, (al-Maktabah al-Islamiyah: Turki), vol. 1-2, tth, hal. 430
[2] Lihat: Mufradat al-Fazh al-Qur’an, ar-Ragib al-Asfahani, hal. 410-411.
[3] As-Sa’adah fi al-Qur’an, Rahifah Musa Qudurah Ibrahim, hal. 12 (Tesis dalam bentuk PDF: al-Jami’ah al-Islamiyah Gazzah, Filestin) diajukan kepada Fakultas Usuluddin, bagian Tafsir dan Ulum al-Qur’an.
[4] http://www.alukah.net/sharia/0/95983/#ixzz3uUqOJZqh, Khawajah Aniq Ahmad, Atsar al-Iman bi Allah fi Tahqiq as-Sa’adah.
[5] Mafhum as-Sa’adah fi al-Islam, Dr. Abdul Rahman Mualla al-Luwaihiq, al-Alukah.net.
[7] HR. Tirmidzi no. 2465. Musnad Ahmad, no. 21590. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if dan syawahid-nya atau penguatnya pun dha’if. Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dalam kitab Silsilah ash-Shahihah, 2/670. Syaikh al-Arnauth pun menshahihkan hadits ini.      
[8] Menurut kami, dengan adanya kebebasan berpakaian secara total seperti yang disebutkan maka muncullah banyak penyimpangan seksual di Negara-negara non Muslim. Seperti gay, lesbi dan penyimpangan seksual serupa. Alasannya, karena kaum lelaki merasa tidak tertarik lagi dengan betis, paha dan dada yang terbuka dari kalangan wanita. Justru yang membuat mereka tertarik adalah bagian tubuh sesama lelaki yang jarang terlihat akibat terbungkus oleh pakain tebal dan serba tertutup.  Sementara kaum wanita mereka pun bosan dengan lelaki karena terlalu sering bergonta-ganti pasangan. Ujuangya, mereka mencari sensasi seksual tak biasa dari sesamanya, kaum wanita. Naudzubillah. Semoga kita terjaga dari penyimpangan seksual dan seluruh efek  negatifnya. Amin

Categories

About Us

There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form.

Contact Form