السبت، 22 ديسمبر 2018

Khusyu', Puncak Kejernihan Iman.


Khusyu' adalah kondisi saat keagungan Allah tersingkap begitu mengagumkan dalam jiwa manusia. Biasanya hadir saat kita banyak bermuhasabah dengan bacaan-bacan islami, nasehat-nasehat spiritual. Saat kita melanglang buana dalam Rububiyah, mentadabburi nama-nama dan sifat-sifat Allah; hingga hati terpesona dalam uluhiyahNya. Cinta makin nambah, optimisme akan rahmatNya kian tiada Tara. Bahkan, potensi AzabNya tergiang-ngiang di telinga hingga kita mengucurkan air mata. 

Subuh di Jum'at ini, di waktu Madinah mulai saat jam 05.30. Imam dengan syahdunya melantunkan surah sajadah. Seolah bacaan itu mengaduk-aduk jiwa, dengan beragam fakta keesaan Rububiyah, fenomena uluhiyah hingga ancaman untuk mereka yang tak mau berubah; dari maksiat ke tha'ah, dari khianah jadi amanah, hingga jiwa tak lagi durhaka. 

Bahkan kiamat dihadirkan, saat ahli maksiat baru mau taat, ketika pendosa baru yakin atas semua titah rabbul 'alamin. Namun, apa daya, iman itu tak lagi bermakna. Yaah.... mereka dilupakan Allah secara sempurna. Karena telah lalai dan lupa diri dari Allah saat di bumi ini. Berlarian mereka kepingin keluar dari neraka. Tapi kata Allah, mereka ditarik kembali ke kerak neraka. Naudzubillah.

Fakta bahwa penentang di masa lalu telah hilang. Ada yg ditelan bumi layaknya Qarun. Ada pula yang ditenggelamkan laut dengan kejam. Hujan banjir yang menyapu bersih pelaku dosa. Bahkan, suara pekak yang mematikan. Semua itu tidak menjadi pelajaran bagi mereka yang lalim dan lalai. Terus saja mereka mereproduksi maksiat, melawan mereka yang masih taat. 

Akhirnya, ketika semua gambaran penduduk surga beserta amalan dan potensi surganya diangkat;  hati ikut bersujud saat ayat 15 tiba, diikuti sujud fisik semua jamaah; seketika.

Fenomena iman dan gambaran maksiat itu belum berakhir. Di rakaat kedua, sang imam memilih surah al-Insan. Dibuka dengan pertanyaan retoris yang menyayat hati. Bukankah dulu manusia mati (tidak ada)?!, Lalu diadakan dari mani, untuk sebuah ujian imani.

Maka kata Allah, dengan telinga dan mata pun mereka dibekali. Agar jalan sesat dan Jalur taat pun tak lagi tertutupi; oleh  syubhat dan kepungan syahwat. Surga pun beserta pesona nikmatnya dibahas sedemikian rupa beserta amalan-amalan penghuninya. Tak henti rasanya hati ini berkata, jadikan aku bagian dari mereka ya Allah. 

Pelayan Mereka saja adalah remaja-remaja, yang jika ditatap dengan mata kepala; seolah Kilauan nikmat tak biasa itu layaknya permata lu'lu yang bertaburan. Pesona kerajaan Allah yang agung telah melingkupi mereka, hingga dengan menatap mereka saja sudah melarutkan kita dalam nikmat tiada kira. Itulah balasan Allah padamu atas dedikasi amal dan usahamu yang disyukuri Allah. Maka sabarlah dalam jalan ini dan jangan sesekali kamu dengar apa lagi taat pada mereka para pendosa dan penikmat kekufuran.....(QS al-Insan : 22-24). 


By. Idrus Abidin.
Madinah Nabawiyah;  Jum'at, 21 Desember 2018.

0 komentar:

إرسال تعليق

Categories

About Us

There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form.

نموذج الاتصال