الثلاثاء، 24 يناير 2012

KLAIM SYI’AH TENTANG KEKHALIFAAN ALI PASCA WAFATNYA RASULULLAH DAN JAWABAN AHLU SUNNAH TEHADAPNYA (Bag.4)

 Alih Bahasa : Idrus Abidin.

Ia kemudian mengklaim bahwa Abu Bakar adalah orang bodoh dengan mengatakan : pada kesempatan ini, sejarah telah menginformasikan kepada kita bahwa Imam Ali adalah orang paling pintar dikalangan sahabat. Bahkan mereka semua bertanya kepada Ali tentang persoalan besar yang mereka hadapi. Kitapun tidak menemukan bahwa Ali pernah bertanya kepada salah seorang diantara mereka, bahkan Abu Bakar sendiri mengatakan : Allah swt tidak membiarkan aku menghadapi masalah besar kecuali Ali selalu bersamaku.[1]

        Saya menjawab : ini adalah kebohongan yang nyata, apa ada hadis shahih yang membuktikan hal itu ?. Ahlu Sunnah Wal Jama'ah sepakat bahwa sahabat pAling pintar adalah Abu Bakar kemudian Umar. Bahkan ijma ulama tentang hal ini terambil dari kalangan para sahabat. Tidak ada keterangan sama sekAli bahwa Abu Bakar mendapatkan ilmu dari Ali, tapi yang sudah jelas bahwa Alilah yang pernah bertanya kepada Abu Bakar, sebagaimana hadis asma binti al hakam al-fazari ia berkata :  saya pernah mendengar Ali pernah berkata : saya beranjak dewasa ketika saya mendengar hadis dari Rasulullah saw, lalu Allah memberikan manfaat kepadaku dengan hadis itu. Jika ada seseoang menyampaikan hadis kepadaku, saya minta ia bersumpah agar aku bisa menerima  hadisnya. Ali berkata : Abu Bakar memberitahuku – dan betapa jujur Abu Bakar- ia berkata : saya mendengar Rasulullah saw bersabda :
ما من عبد يذنب ذنبا ثيحسن الطهور ثم يقور فيصلي ركعتين ثم يستغفر الله غفر الله له ثم قرأ هذه الآية : والذين إذا فعلوا فاحشة.........
Tiada seorang hamba yang berbuat dosa lalu ia berwudhu dengan baik kemudian melaksanakan shalat dua rakaat kemudian ia minta ampun kepada allah swt niscaya allah akal mengampuninya. Kemudian Abu Bakar membaca ayat : dan orang-orang yang apabila berbuat dosa………[2]
        Demikian pula Ali mengambil pendapat Abu Bakar tentang  peperangan dengan orang yang tidak mau membayar zakat dan keikut sertaan Ali dalam perang tersebut. Imam muslim dalam shahinya dan Imam Ahmad dalam musnadnya meriwayatkan hadis yang sangat panjang, diantaranya sabda Rasulullah saw yang berbunyi :
فإن يطيعوا أبا بكرو عمر يرشدوا
"jika mereka mentaati Abu Bakar dan Umar niscaya mereka mendapat petunjuk"[3]
     dan riwayat dari Ibnu abbas, ia berfatwa dengan kitAbullah,jika ia tidak mendapatkan didalamnya, maka dengan sunnah rasululllah saw, jika tidak, pasti dengan pendapat Abu akar dan Umar. Ibnu abbas tidak berbuat demikian terhadap Usman dan Ali, padahal Ibnu abbas adalah lautan ilmu bagui ummat islam dan menara ilmu pada zamannya. Tapi tetap saja berfatwa dengan pendapat keduanya dan mengutamakan pendapat mereka. Bahkan Rasulullah saw sebagimana sudah masyhur telah mendoakan Ibnu abbas dengan mengatakan :
اللهم فقهه ثي الدين و علمه التاويل
" ya Allah, jadikanlah ia ahli dalam masalah agama  dan ajarkan ia rahasia ilmu"[4]
        ini merupakan bukti dalamnya pemahaman Abu Bakar asshiddiq r.a. bahkan tidak ada riwayat sedikitpun uyang menjelaskan bahwa ia pernah menyalahi nash yang shahih, sedangkan Umar dan Ali pernah menyalahi nash yang shahih dalam beberapa masalah karemna hadis tentang hal itu belum sampai kepadanya. Masalah ini sangat dikenal oleh mereka yang punya sedikit pengetahuan dan mengambil pendapat ulama. Pada shahih Bukhari dan muslim terdapat  hadis dari  Abu said alhudri ia berkata bahwa Abu Bakarlah yang pAling luas pengetahuannya tentang hadis Rasulullah saw.[5] Ibnu hazm menuturkan dalam kitabnya ( alfaslu fi almilAli wa al-ahwa wa al-nihl )
sebuah perkataan yang sangat berharga dalam masalah ini dengan terpaksa saya utarakan disini karena sangat panjang dan penting pula. Abu Muhammad (Ibnu hazm) orang –orang rafidah berdAlih bahwa Alilah sahabat yang pAling tinggi ilmunya , ia melanjutkan : perkataan ini sangat dusta, karena kedalaman ilmum sahabat hanya bisa diketahui dengan salah satu dari dua hal
1 banyaknya hadis yang diriwayatkan dan fatwa – fatwanya
2. seringnya Rasulullah saw menugaskannya dengan tugas-tugas tertentu.
     Karena sangat mustahil jika Rasulullah saw menugaskan seseorang yang tidak berilmu. Hal ini adalah bykti nyata akan keilmuannya yang begitu dalam. Ketika kita menelusuri sejarah kita dapati Rasulullah saw mengangkat Abu Bakar sebagai Imam shalat ketika beliau sedang sakit  padahal pembesar- pembesar sahabat ada ketika itu saperti : Ali, Umar, Ibnu masud, dll. Belum lagi penyerahan kota madinah kepada Abu Bakar ketika Rasulullah saw keluar untuk berperang. Padahal kita tahu bahwa wewenang ini dipikul untuk menjaga penduduk madinah baik para wanitanya maupun mereka-mereka yang yang berhalangan ikut perang , olehnya itu harus kita akui bahwa Abu Bakarlah yang pAling memahami seluk beluk shalat dan tata caranya. Kita mendapati Rasulullah saw menugaskan Abu Bakar untuk menguras masalah zakat dari sini kita berkesimpulan bahw ia menguasai pula masalah zakat sebagaimana sahabat yang lain .saya tidak mangatakan beliau pAling tau tentang hal itu, karena Rasulullah saw pun pernah menugaskan sahabat-sahabat yang lain mengurusinya. Padahal kita tau Rasulullah saw tidak menugaskan seseorang kecuAli ahli dalam bidang tersebut. Sebagai bukti, hadis-hadis tentang masalah zakat yang harus diterima dan dilaksanakan adalah hadis dari Abu Bakar yang jalurnya dari Umar. Adapun dari jalur Ali , hadis tersebut tumpang tindih. Bahkan diantara perawinya ada yang tidak diakui olah ulama, yaitu:
"bahwa setiap 25 unta zakatnya sebanyak 5 kambing" 
     begitupun Rasulullah saw menugaskan Abu bkar memimpin kafilah haji. Ini membuktikan bahwa belialah yang pAling menguasai masalah haji dibanding sahabat lainnya dan haji merupakan rukun islam. Kitapun mendapati rasululllah saw menugaskan bu bakar sebagai pasukan tempur, dengan itu kia tahu bahwa beliau mengenal maslah jihadsebagaimana yang dikeatahui oleh sahabat yang lain. Karena itu pengetahuan Abu Bakar tentang masalah jihad sma dengan pengetahuan Ali dan semua komandan pasukan yang pernah ditugaskan oleh rsulullah saw , tidak kurang dan tidak lebih. Jika sudah jelas keutamaan Abu Bakar dibanding dengan Ali tentang msalah shalat, zakat, haji dan lesetaraannya dlam masalah jihad  yang merupakan intu dari ajaran islam. Kemudian kita dapati Rasulullah sawsering kAli duduk bercengkrama dengan Abu Bakar hingga ia banyak melihat hokum yang dditerapkan oleh rasullah. Bahkan fatwa Abu Bakar lebih banyak  dari apa yang disaksikan oleh Ali. Dengan demikian sudah pasti Abu Bakarlah lebih tahu tentang hal itu. Apa masih  ada lagi cabang ilmu yang Abu Bakar tidak unggul dan sulit tertandingi.  Dengan itu batallah klaim mereka tentang keunggulan Ali dalam keilmuan. Alhamdulillah.
      Ibnu Hazm melanjutkan : tuduhan bahwa kami menjatuhkan posisi  sahabat dari  kemuliannya dan menempatkannya lebih dari posisinya itu tidak lagi mengarh kepada kami ,kareana jika kami melenceng dari Ali maka kami menjadi pengikut khawarij-naudzu billahi min zAlik- padahal Allah sudah mencegah kami dari kesestan ekstrimissme. Jika kami berlebih-lebihan terhadap Ali maka kami tergAbung dalam kafilahh syi ah. Padahal allah telah melindungi kami dari kebohongan nyata tersebut. Jadi mereka-merka yang melendceng dari Ali dan berlebih-lebihan terhadapnyalah yang tertuduh akibat penyimpangannya itu. Setelah itu ,oang-orang yang merasa loyal terhadap islam-padahal tidak- tidak bisa lagi membangkan dengan berkilah bahwa Alilah puncak ilmu dari kalangann sahabat.
      Jika mereka mengatakan  : Rasulullah saw telah menugaskan Ali sebagai qadi' di Yaman, maka kami jawab : betul. Akan tetapi kehadiran Abu Bakar ketika Rasulullah saw menyelesaikan setiap permasalahan lebih memperkokoh keilmuannya dibanding dengan Ali yang berada di yaman.  Rasulullah sawpun pernah menugaskan Abu Bakar tergAbung dalam satuan tempur. Olehnya itu , keilmuan Abu Bakar sama dengan keilmuan Ali dalam hal tersebut. Bahkan sudah jelas bahwa Abu Bakar dan uamar pernah berfawa pada zaman Rasulullah saw, beliaupun tahu tentang itu. Tentu saja mustahil mereka dibiarakan berfatwa tanpa pengakuan kan kedalaman ilmunya dibanding dengan yang lainnya. Rasulullah saw pernah menugaskan orang selain Ali sebagai qadi' di yaman , seperti : muadz bin jabal dan Abu musa al asy' ari. Jadi Ali sebagai qadi' di yaman ditemani oleh beberapa orang diantaranya ; Abu Bakar  dan Umar. Padahal Abu Bakarlah satu-satunya yang mengungguli para sahabat dari segi keilmuan. Sementara orang rafida mengklaim bahwa Alilah sahabat yang pAling tinggi ilmunya.. Ibnu hazm menjawab ; ini hanyalah pengakuan palsu. Buktinya bisa dilihat dari bebarapa segi :
      Pertama : hal itu merupakan penolakan terhadap sabda Rasulullah saw yang berbunyi :
يؤم القوم أقرؤهم فإذاستووا فأقههم فإذاستووا فأقرمهم هجرة
"Yang berhak menjadi Imam adalah yang pAling berilmu, jika kadar keilmuannya sama, maka yang lebih faqih jadi Imam, jika tetap sama, maka yang pAling pertama hijrah."
    Kitapun menjumpai Rasulullah saw mengangkat Abu Bakar menjadi Imam ketika beliau sakit beberapa hari . padahal Ali ada diantara para sahabat dan dilihat oleh Rasulullah saw tiap pagi dan petang, tetapi Rasulullah saw tetap melihat Abu Bakar pAling berhak menempati posisi itu. Jadi terbuktilah bahwa dialah yang pAling berilmu, ahli fiqhi dan pAling pertama hijrah. Bahkan mungkin saja orang yang tidak menghapal Alquran secara lancar lebih faqih dan lebih hebat dibanding orang yang hafalannya diluar kepala,hal ini diungkap karena Abu Bakar, Umar dan Ali belum menghafal semua isi Alquran, akan tetapi kita yakin akan kedalaman ilmunya karena Rasulullah saw mengangkatnya menjadi Imam padahal Ali bin Abi Thalib ada di situ. Hal ini sebagai bukti bahwa Abu Bakar lebih hebat daripada Ali dan tentu saja Rasulullah saw tidak mengangkat seseorang yang kurang berilmu sementara ada yang lebih hebat darinya. Dengan ini terjawablah kebohongan mereka tentang hal ini. Alhamdulillah.[6] dari pemaparan tadi jelaslah bahwa Abu Bakarlah  yang memiliki kejernihan hati akan keilmuan dibanding Ali.
       At-Tijani mengatakan: ketika Abu Bakar ditanya tentang arti kata "al ab" didalam firman Allah swt        
وفاكهة وأبا (عبس :31)
Ia menjawab: Langit mana yang menaungiku dan bumi mana lagi tempatku berpijak jika aku mengatakan sesuatu dari Al quran padahal saya tidak mengetahuinya.[7]
        Saya katakan: 1. Hadits ini ditulis oleh Ibnu katsir, diriwayatkan oleh Ibrahim dari Abu Bakar dan hadits ini ternyata lemah karena sanadnya terputus antara Ibrahim dan Abu Bakar.2. kalaupun hadits ini sahih tidak berarti bahwa Abu Bakar tidak tahu arti kata "Al abbu " karena maknanya jelas sekAli,yaitu : jenis tumbuh –tumbuhan sebagaimana firman Allah (surah abasa ;27-31) tetapi Abu Bakar tidak bisa menjelaskan hakikat tumbuhan tersebut,dengan kata lain beliau tidak tahu bentuknya, jenisnya dan aslinya. Inilah  maksud dari perkataan beliau. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bahwa Umar bin khattab membaca di atas mimbar "wafakihatan waabba" kita telah mengetahui bahwa artinya adalah tanaman tetapi alabba belum kita ketahui, kemudian Umar sadar dan berkata kepada dirinya sendiri: ah..ini termasuk memaksakan diri wahai Umar.[8]
     Karena itulah, menurut ahli tafsir kata "al-abba" adalah sejenis tanaman. Mujtahid , said bin jubair dan Abu mAlik berkata; "alabbu " adalah rerumputan. Mujtahid,Hasan, Qatadah dan Ibnu Zayd berkata: "al-abbu" makanan hewan sebagaimana "alfakiha" ( buah- buahan makanan manusia ). Atha' menjelaskan : semua tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di atas tanah semuanya masuk dalam kategori "alabbu" . Addahhak berkata : semua yang tumbuh diatas tanah selain buah-buahan termasuk dalam kategori "al-abbu".[9]
      Jadi artinya sangat jelas yaitu : semua yang tumbuh ditanah. Tetapi sahabat tidak menjelaskan bentuk dan jenisnya. Ini tidak menujjukkan ketidak tahuan meraka. Seandainya saja Rasulullah saw menjelaskan jenisnya tentu sahabat mengetahuinya.
     


[1]  Tsumma Ihtadaitu, hal.145-146.
[2]  Sunan Abi Daud Bab : bagian dari bab witir, No.1521. lihat juga shahih Abu daud No, 1346.
[3]  Syarah sahih muslim, bab : Mesjid dan tempat shalat. No. 681.
[4]  Al-Minhaj, jilid 7 hal. 503.
[5]  Shahih Bukhari, bab : Sholat. No. 484. lihat pula Al-Minhaj jilid 7 hal. 508.
[6]  Al-Faslu fii Al-MilAli Wan Nihal karangan Ibnu Hazm jilid 4 hal. 212-215.
[7]  Tsumma Ihtadaitu, hal. 146.
[8] Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam kitab SyuAbul Iman, Bab : memuliakn Al-Qur'an, hal. 424 dengan sanad yang shahih. Juga  diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak jilid 2 hal.514  kemudian berkomentar, hadis ini shahih sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim, teetapi mereka tidak meriwayatkannya. Az-Zahabipu8n menyepakatinya.
[9]  Tafsir Ibnu Katsir jilid 4 hal.504.

0 komentar:

إرسال تعليق

Categories

About Us

There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form.

نموذج الاتصال