الجمعة، 26 سبتمبر 2014

Muhasabah Kehidupan



Idrus Abidin, Lc., M.A
Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah (STIS) Al-Manar Jakarta

Hakikat Kehidupan

Kutemukan bahwa hakikat hidup ada pada hidupnya hati. Bahkan hidupku terasa penuh makna ketika hatiku betul-betul hidup. Shalatku menjadi khusyu, perasaan dan pikiranku terasa bahagia, jiwaku terasa optimis. bahkan rutinitas harianku terasa ibadah bagiku. Karena kusadar dengan penuh pertimbangan kalau aku melakukannya hanya karena Allah. Tetapi aku harus tetap dan senatiasa berhati-hati serta terus menerus mawas diri agar jangan terpedaya oleh nikmat-nikmat-Nya. Karena bahagia berlebihan itu salah demikian pula kesedihan yang berlebihan. Nikmatnya keseimbangan (tawazun) tampak nyata dalam diri orang-orang shaleh. Kekayaannya bukan pada miliknya secara lahiriah, tapi hakikat kekayaannya ada pada kepuasannya secara batiniah. Siapa pun merasa cukup (kaya) dengan Allah maka hatinya akan benar-benar merasakan kecukapan (kekayaan dan kepuasan hati) yang sebenarnya. Kemiskinan bukan karena kurangnya harta tapi karena kurangnya iman dan takwa.  

Sumber Kehidupan Hati

Kurasakan bahwa sumber utama kehidupan hati adalah Allah Yang Maha hidup. Dari-Nyalah kudapatkan kehidupan secara fisik bahkan kehidupan hatiku; hakikat diriku.  Kuyakini dengan pasti, jika aku melupakan-Nya maka aku pun akan melupakan diriku (Lihat QS al-Hasyr ayat 19). Karena diriku kukenal karena Dia mengenalkannya padaku. Untung saja, sekali pun aku lalai dari-Nya, tetap saja Dia tidak lalai dariku. Aku masih ingat makan, minum, menikah, megurus anak, dll. Itulah karunian-Nya yang lupa aku syukuri.  Walau pun sebetulnya saya lupa diriku ketika aku lalai dari shalat; terlambat melaksanakannya dan ketika melaksankannya pun tetap saja aku cuman ingat kepentinganku dan lalai dari-Nya. Betapa zhalimnya diriku dan betapa bodohnya daku. Sampai seperti kacang lupa kulitnya.
Bagaimana jadinya kalau Allah biarkan aku lupa diriku lebih dari sekarang. Hingga kulupa makan, kulupa minum hingga kulupa istri dan anak-anakku dan semua orang dan semua apa-apa yang ada di sekitarku. Bukankah itu kegilaan sempurna buatku?! Bagiku itu azab dunia yang sangat hebat, walau pun itu sebenarnya lebih baik dan lebih pantas untukku. Karena, jika aku gila berarti aku tidak berdosa saat aku tidak shalat, tidak puasa, tidak haji, dll.

Musibah: Bagian dari Teguran dan Kasih Sayang Allah.

Kalau aku terus lalai dan melupakan-Nya, padahal; rasioku sehat, badanku bugar, perasaanku kekar, telingaku aktif dan mataku berfungsi, maka argo dosa dan maksiat tak akan pernah berhenti, walau sejenak. Kusadari atau tidak, pasti argo itu bekerja dan terus bekerja, merekam jejak kelalaian dan kealpaanku dari-Nya. Bisa jadi aku mendapatkan musibah akibat kelalaianku itu. Tapi aku harus tetap yakin, Allah tidak membenciku dengan kiriman musibah itu. Karena aku diciptakan dengan kasih sayang-Nya dan aku tidak diciptakan oleh-Nya untuk disiksa dan diazab. Tapi Ia menciptakanku agar rahmat-Nya sampai kepadaku.
Karena itu, kurasakan kalau musibah yang menimpaku adalah peringatan dan kasihsayang-Nya padaku. Agar aku tidak terus melupakan-Nya dan lalai berkepanjangan dari-Nya. Sehingga ibadahku tidak seperti musim kemarau yang kering dari air kekhusyu’an dan siraman keimanan serta sepi dari belaian spiritual yang mengenyangkan. Aku khawatir jika teguran dan kasih sayang itu tidak kurespon dengan baik, aku akan mendapatkan musibah lebih besar lagi. Yaitu kelalaian yang bertumpuk-tumpuk hingga hatiku gelap gulita; tak tembus cahaya hidayah. Padahal cahaya hidayah itu senatiasa melingkupiku setiap waktu, tapi aku sendirilah yang menolaknya setiap kali aku bertemu. Aku terkadang bagaikan ikan dalam air (kehidupan), mengimpikan air (kehidupan) di luar sana. Padahal di luar sana tidak ada air (kehidupan) lebih baik dari airku (hidupku) saat ini. Itulah bentuk kelalaianku. Ampuni hamba-Mu, berikan petunjuk-Mu, karena kesesatan senantiasa menjadi pilihanku, padahal cahaya hidayah terang benderang di hadapanku, Wahai Rab-Ku. Amin. 

Proses Hidupnya Hati.

Kudapatkan bahwa proses hidupnya hati bermula dari bacaanku tentang diri-Nya dalam kitab tauhid dan akidah serta fikih dan ahlak.  Kulihat bahwa itu semua dan seluruh hakikat kehidupan; dunia maupun akhirat ada dalam kitab pusaka bernama al-Qur’an dan manual pendukung utama disebut Sunnah Nabi. Kutelusuri setiap saat karena kusadar, apa yang kucari dan kubutuhkan semuanya ada pada-Nya. Bahkan kebutuhanku pada-Nya melebihi kebutuhanku kepada makan dan minum, bahkan menikah dan memasayarakat. Karena makanku, sekali pun hanya sebatas 3x sehari, namun jika lebih dari itu bisa jadi aku tertidur atau bahkan makin tersungkur (lalai). Di saat shalatku, yang wajib saja minimal 5x dalam sehari dan semalam. Apalagi kalau kutambahkan dengan, sunnah muakkadah, seperti dhuhaa dan tahajjud. Godaan setan untuk makan dan minum masih bisa kutahan, dibanding godaannya agar aku bermakasiat kepada Tuhanku. Kusadar, kalau makanan rohaniku tidak sekencang godaan setan, kuyakin dialah yang akan menggodaku, sedang aku tak mampu menggodanya masuk Islam; terutama setan manusia. Kebutuhanku kepada-Nya melebihi kebutuhanku kepada diriku sendiri sekali pun. Karena Dialah aku ada dan sebab Dia aku mengerti siapa dan apa diriku sesungguhnya, termasuk segala jenis kebutuhanku untuk kembali kepada-Nya. Kucari dan kupinta semua itu dari-Nya. Bahkan Dia telah memberiku sebelum aku meminta, memberiku lebih baik dari yang kuharap, memberiku lebih cepat dari yang kukira. Dia menerima dariku kebaikan kecil lalu memberiku kenikmatan besar. Sedang aku terkadang mengingkari dan melupakan kebaikan besar-Nya dan besarnya keburukanku senantiasa kutunjukkan pada-Nya, setiap saat di banyak tempat.
Makin kukenal diri-Nya makin kerdil aku rasanya. Makin kutahu tentang-Nya makin malu daku pada-Nya. Sungguh kurasakan betapa tak tahudirinya aku dan betapa lancangnya aku pada-Nya selama ini. Dunia kadang lebih besar di mataku dibanding kebesaran-Nya dalam hatiku. Padahal dunia ini diamanahkan kepadaku agar aku memakmurkannya dengan cahaya keimanan dan semangat kehidupan; dari hatiku yang bercahaya oleh terang-Nya dan jiwaku yang hidup dari kehidupan-Nya. Tapi yang kulakukan malah memenuhi fisik dan rumahku dengan kenikmatan fisik dengan beragam merek dan bermcam-macam model terkini. Sedang hatiku kulapa mengisinya dengan beragam ilmu akidah dan tauhid serta fikih dan ahlak, dengan bermacam-macam model buku terkini. Akhirnya, isi hatiku adalah perabot rumahku dan istri dan anak-anakku. Sehingga hatiku dipenuhi oleh berhala duniawi yang kubikin sendiri dengan segenap jiwa, seluruh usaha dan semua hidupku. Nadzubillah. Bahkan, terkadang aku sendiri menjadi berhalanya; denga meminta orang lain tunduk padaku padahal milikku hanya sebatas fisikku semata. Mereka suka kekayaan fisikku, sedang mereka lupa kalau akulah orang termiskin hatinya di kolong dunia ini. Pantas saja mereka begitu cepat melupakanku saat aku bangkrut. Karena hakikat harapannya ada pada milikku, bukan pada diriku.
Akhirnya, kucemburu kepada ulama dan orang-orang shaleh. Mereka minim harta terkadang, tetapi orang-orang senantiasa mengejarnya dan patuh kepadanya. Dia tidak mengenal bangkrut seperti diriku karena ilmunya ada dalam jiwanya dan kebahagiaannya bukan pada hartanya. Wajah mereka bercahaya padahal mereka tidak pakai pemutih seperti aku. Mereka bahagia padahal tidak sekaya diriku. Ketika sakit, betapa banyak yang mengunjunginya dan betapa banyak orang yang ikut sakit karenanya. Dia dicnitai karena Allah dan dia mencintai mereka karena-Nya. Ketika meninggal, orang-orang menangis hatinya seperti tangisan matanya. Lidah mereka seolah tak pernah keluh medoakan ampunan dan keselamatan untuknya. Padahal, dia sendiri ketika hidupnya, habis-habisan dalam da’a mengharap ampunan dan keselamatan dari-Nya. Padahal modalnya menghadap Allah dengan iman dan amal shalehnya; jelas terpampang di mataku. Sedang aku, tak didoakan ampunan dan keselamatan oleh banyak temanku karena diriku saja malas meminta ampunan dan kesalamatan kepada-Nya. Padahal, modalku menghadapi kematian baru berupa rumah, mobil, istri dan anak-anak yang terkesan mewah. Amalku? Tak begitu jumawa. Itulah  salah satu kerugianku. Anehnya, terkadang aku belum bisa menyesali apalagi bertaubat sebelum mati. 

Tak Mempan Nasehat, Tanda Matinya Hati.

Kutemukan, matinya hati karena lalai dari al-Qur’an. Diantara fungsi al-Qur’an, menghidupkan hati yang telah lama mati. Layaknya hujan yang membasahi bumi hingga tanaman tumbuh kembali. Hatiku rasanya telah mati, menganggap seruan al-Qur’an tak mempan lagi. Karena di hatiku ada selubung (kekafiran) yang tidak kumengerti sama sekali. Sedang telingaku, saluran ilmuku, terasa ada yang menutupi (setan). Orang-orang yang mengeja al-Qur’an padaku kuanggap berjarak jauh dariku. Kukira ada didinding yang membatasi kami. Kumerasa tidak akrab dengan mereka, karena kami beda energi. Aku api panas menyengat sedang mereka air sejuk menyegarkan. Betapa takutnya aku dari mereka; seperti takutnya api dari air.
Akhirnya, aku mengalah dan tak punya asa. Karena merasa tertekan dan tak berdaya. Sedang hatiku masih tak menerima. Aku pun menyerahkan segala hidupku kepada kata terserah. “Silahkan azab aku saja,” kataku. “Aku sungguh tak tahan mendengar petuahmu wahai pembawa al-Qur’an. Silahkan engkau urus sendiri dirimu dan tinggalkan aku”, demikian titahku.  kutak tahan rusanya mendengar ancaman kekafiran dan tidak tertarik pula diriku mengharap ridha dan ampunan dari  Rab-ku.
Al-Qur’an kembali berseru padaku; pemilik hati yang mati. “Apakah engkau mengingkari Tuhan yang menciptakan bumi dalam dua masa?! Lalu engkau jadikan tandingan dan sekutu untuk-Nya. (tunduk patuh kepada selain-Nya dalam syubhat dan syahwat) Padahal engkau pun sangat menyakini dalam fitrahmu yang terdalam, bahwa Dialah Pencipta dan Penguasa seluruh alam semesta!” Dia pulalah yang menegakkan gunung-gunung, sehingga bumi tidak bergetar; melemparkan engkau tanpa sadar, ke mana pun ia bergoyang; saat menari dan berdansa. Dia pula yang menumbuhkan tanaman dan buah-buahan di atas bumi itu sebagai makanan pokok yang mengenyangkan engkau dan memberkatinya sehingga tumbuh berkembang, tanpa pernah berpantang. Sehingga engkau merasa cukup dengan kebutuhan gizimu”. Setelah itu, Dia pula yang berkata kepada langit dan bumi; milik-Nya sendiri “Patuhi perintah-Ku, kalian mau atau tidak!”Tidak ada opsi lain bagi langit dan bumi, sementara aku diberikan pilihan. Tinggal aku amanah atau khianat, bersyukur atau kufur. Bumi dan langit lalu dihiasai oleh Allah dengan perabotnya; bintang gemintang diantaranya. Agar langit tampak indah dan setan kalau macam-macam dilempar dan dibakar dengannya.
Namun, aku tak bergeming oleh hujjah dan argumen rasional. Petuah yang mencoba mengguah rasio dan fitrahku, yang tertimbun di balik gumpalan syubhat dan syahwatku. Hatiku masih mati sehingga terkubur oleh fisikku sendiri. Kini, al-Qur’an memggunakan bahasa ancaman dan peringatan padaku. “Jika memang engkau masih ngeyel, ingatlah petir yang telah meyambar kaum ‘Ad dan kaum Tsamud. Ketika datang kepada mereka nabi-nabi utasan Allah agar mereka jangan pernah tunduk patuh dan menyembah kecuali kepada yang berhak: Allah ta’ala”.  Namun, aku menolak keras. Bahkan, aku meminta nabi yang datang itu agar mengikutsertakan malaikat yang akan menegaskan pengakuannya. Sungguh, permintaan yang tidak akan pernah tercetus kecuali dariku yang berhati mati. Demikianlah kaum ‘Ad. Mereka benar-benar kafir dan menyombongkan diri tanpa bukti sama sekali; kecuali argumen klise tanpa prestise, “Emang siapa yang lebih hebat dari kami?!”(sehingga kami diancam dan ditakut-takuti). Enatah kenapa, aku juga terkadang merasa, “Siapa yang lebih hebat dariku!?,” karena kesombonganku. Aku berani nantang. Padahal Allah yang kuhadapi. Betapa lancangnya aku…..
Allah menjawab perasaanku, dengan jawaban serupa kepada mereka yang dulu mati hatinya seperti aku, “Bukankah Allah, Sang Pencipta mereka, jauh lebih kuat!?” Akhirnya, angin kencang nan naas itu berhembus beberapa hari, sebagai azab agar mereka tau rasa. Padahal, siksaan akhirat jauh lebih membara.. Sama saja dengan kaum Tsamud. Mereka juga sama ngeyelnya. Hidayah diberikan tapi mereka milih kekufuran. Hidayah mereka tukar dengan kesesatan, sebagaimana ampunan mereka tukar guling dengan azab. Jadilah mereka sengsara, dalam penderitaan tiada tara.  Sunggub keder juga aku akhirnya.  Naudzubillah. Jauhkan daku dari mereka dan azab yang menimpa mereka ya Allah. Kini kusadar, telah lama lalai dari-Mu. Sehingga hatiku sepi dari hidayah dan kakiku berat melangkah, menuju sorga; ampunan-Mu yang tiada tara.  

1 komentar:

Categories

About Us

There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form.

نموذج الاتصال