الأربعاء، 27 أغسطس 2014

Nuansa Kasih Sayang Allah dalam Kehidupan: Makna Islam Sebagai Rahmatan Lil 'Alamin

Oleh : Idrus Abidin, Lc., M.A
Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syari'ah (STIS AL-MANAR) Jakarta.


Pendahuluan.
Sungguh kita pantas berbahagia saat ini juga dan tidak perlu berlama-lama dalam lindasan kesedihan dan linangan air mata, karena potensi rahmat Allah begitu sangat luas dan meliputi segala sesuatu. Bahkan rahmat dan karunia Allah ini tidak hanya sebatas yang bisa dipandang dan dilihat oleh mata kita, tetapi limpahan  karunia dan potensi harapan itu terbentang luas di segala sektor kehidupan sesuai dengan luas dan tak terbatasnya Allah Swt.  Mata kita hanya mampu melihat dan memandang hal-hal yang terjaring olehnya dan sering kali menipu kita. Karena yang jauh tampak kecil, padahal hakikatnya besar. Sementara yang lurus tampak bengkok hanya karena objek yang dilihat berada pada kedalaman air. Dengan demikian, kita sering kali salah ketika mengukur kebahagiaan hanya semata-mata pada fakta yang terlihat.
Salah satu bentuk kesalahan itu adalah mana kala kita melihat orang lain bahagia karena rumah mereka jauh melebihi rumah kita sekian kali lipat. Mobil yang mereka miliki jauh lebih berkelas sementara kita baru sekedar mempunyai motor. Itu pun dimiliki dengan system kredit dan bekas pakai orang lain. Terlihat juga oleh kita bahwa anak-anak mereka sukses besar, bahkan ada yang bekerja di perusahaan multi nasional, berkantor di luar negeri dengan gaji besar. Semua itu secara pandangan mata seolah kebahagiaan itu sendiri. Padahal itu barulah sarana yang belum tentu benar-benar membahagiakan hati yang punya. Kalau memang demikian hakikatnya, lalu kenapa artis dengan sejumlah kemewahan yang disebutkan, dengan popularitas yang luar biasa, ditambah lagi dengan aktivitas mereka yang terkait langsung dengan dunia hiburan,  namun banyak di antara mereka defresi berlebihan. Tampak bahagia di layar kaca, namun hantinya menjerit kesakitan behind the scan. Bahkan tidak sedikit di antara mereka bunuh diri di saat bermandikan popularitas dan berkutat di tengah nyamannya fasilitas.  Berikut 2 contoh  artis Hollywood yang meninggal bunuh diri di tengah glamour kemewahan.
Artis pertama bernama Justin Pierce. Justin Pierce adalah seorang aktor yang lahir di London pada tanggal 21 Maret 1975. Pada awalnya dia adalah pemain skateboard. Suatu hari, dia ditemukan oleh Larry Clark, yang merupakan seorang sutradara film. Justin kemudian berperan sebagai Casper dalam film Kids pada tahun 1995. Setelah itu, dia berhasil membintangi sederet film lainnya. Tapi kesuksesan rupanya tidak membuatnya bahagia. Pada tanggal 10 Juli 2000, Justin ditemukan gantung diri di salah satu hotel di Las Vegas.
Artis Hollywood kedua yang bunuh diri adalah Dana Plato. Terlahir dengan nama Dana Michelle Stain pada tanggal 7 November 1964 di California. Perannya sebagai Kimberly pada serial televisi Diff’rent Strokes telah membuat Dana terkenal. Setelah itu, sederet film berhasil diperankan oleh Dana, salah satunya The Six Million Dollar Man, di mana dia berperan sebagai Bionic Woman. Tapi ternyata semua itu tidak membuatnya bahagia. Pada tanggal 8 Mei 1999, dia ditemukan tewas overdosis di RV milik ibunya di Oklahoma. [1]
Selain itu, artis Bollywood juga banyak bunuh diri di tengah kemewahan dan popularitasnya. Di sini, kami tampilkan 2 artis yang juga bisa menjadi contoh. Yang pertama seorang artis bernama Kuljeet Randhawa. Kuljeet Randhawa adalah model dan aktris yang telah memenangkan kontes Gladrags dan populer dalam perannya dalam acara TV Kohinoor. Pada tanggal 8 Februari 2006, Randhawa gantung diri di apartemennya di Juhu. Dalam catatan bunuh diri, Kuljeet menyatakan bahwa ia mengakhiri hidupnya karena tidak mampu mengatasi kompleksitas kehidupan.
Artis Bollywood kedua bernama Jiah Khan. Jiah Khan menjadi pusat perhatian pada tahun 2007 dengan film debutnya, Nishabd. Pasalnya, dalam film tersebut dia beradu akting dengan aktor legendaris Bollywood Amitabh Bachchan. Dia mendapat nominasi Filmfare Best Debutan untuk Ram Gopal Varma film. Ia memainkan peran sebagai seorang remaja yang tergila-gila dengan pria cukup tua untuk menjadi ayahnya. Jiah ditemukan tergantung di apartemennya di Sagar  Building Sangeet di Juhu, kawasan elite bagian barat laut Mumbai pada tanggal 3 Juni 2013. [2]
Yang tak kalah menarik untuk kita sebutkan di sini adalah artis-artis Korea yang belakangan ini menarik banyak perhatian kalangan muda Indonesia. Sehingga muncullah artis-artis yang seoalah mengikuti trend artis-artis Korea tersebut. Sebutlah misalnya Cherry Belle. Tampilannya di layar kaca dan di tempat lain sering kali membuat banyak kalangan muda terhipnotis. Seolah kebahagiaan bisa diperoleh dengan tampilan mereka yang menghibur. Tapi, pada kenyataannya mereka sebagai kuli hiburan ternyata tidak merasa terhibur oleh perannya dalam dunia keartisan dan hiburan. Seperti yang dialami 2 artis Korea berikut.
Artis pertama bernama Song Ji Seon. Pada tanggal 23 Mei 2011 Song Ji Seon bunuh diri dengan melompat dari lantai 19 apartemennya di Seoul. Uniknya, sebelum dia merencanakan bunuh diri, presenter ini sempat menulis di twitter agar polisi bergegas ke tempat tinggalnya, tapi dia kemudian menganulir postingan pertamanya. Setelah disediliki, tampaknya Song bunuh diri karena cinta. Dia mengaku punya skandal asmara dengan pemain bisbol profesional, Im Taehoon (23). Namun Im membatahnya dan Song sakit hati. Im Taehoon pun sempat dikecam publik.

Artis kedua bernama Chae Dong Ha. Pada tanggal 27 Mei 2011 dia bunuh diri juga. Ini kasus termutakhir. Chae Dong Ha ditemukan gantung diri di kediamannya. Mantan personel SG Wannabe ini dikabarkan bunuh diri karena depresi akibat mantan manajernya meninggal dunia dua tahun lalu akibat menghirup gas di sebuah kamar hotel. Chae Dong Ha telah menulis pesan kepada manajernya, yang berbunyi, “Ini adalah saat yang lebih menarik daripada ciuman pertamaku. Manajer pertamaku. Temanku, dan saudaraku. Pada saat aku bertemu orang itu, aku telah menerima isi seluruh dunia. Pada 9 Juni 2009, ia tidak lagi di sisiku. Setengah hatiku masih hilang. Masih. ‘Hyung, Anda harus bahagia, oke? Janji padaku bahwa Anda akan bahagia …’”  [3]
Demikianlah beberapa sisi tampilan lahiriah yang tampak oleh mata seolah wujud kebahagiaan, namun sebenarnya malah pemiliknya tersiksa di tengah seluruh fasilitas dan populartas tersebut. Kondisi seperti ini sebenarnya sudah diingatkan oleh Allah dalam al-Qur’an sejak 14 abad yang lalu. Orang-orang kafir dan munafik tampak secara duniawi lebih bahagia dan lebih menarik, bahkan di mata kaum muslimin se3kali pun. Namun kenyataan sebebanrnya tidak berbanding lurus dengan apa yang tampak di mata.  Lihatlah peringatan ALlah terhadap sarana dan prasarana kehidupan yang dimiliki orang kafir dan orang munafik di zaman Rasulullah berikut:
Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. (QS at-Taubah [9]: 55) [4]
Apa yang tampak oleh mata hanyalah fenomena dan sarana kebahagiaan. Sedang kebahagiaan itu sendiri ada pada hati yang merasa tentram dan tenang oleh pengakuan dan celupan karunia dan nikmat Allah.  Allah Swt. menegaskan betapa luasnya cakupan rahmat-Nya dalam salaah satu ayat al-Qur’an
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. (QS. al-A’raf [7]: 156)
Dalam kondisi bagaimana pun juga mahluk senantiasa berada dalam karunia dan nikmat Allah selama masih berada dalam dekapan kehidupan duniawi. Karena segala apa yang ada pada dirinya dan sekitarnya adalah wujud dari karunia Allah. Dalam kondisi sakit, miskin, berkekurangan, ditimpa musibah dll, nikmat itu senantiasa ada walaupun dianggap berkurang dari kadar sebelumnya. Kita tentu kurang bijak jika pemberian yang kita dapatkan kita hanya ingin agar senantiasa bertambah tanpa pernah bersiap kalau pemberian itu berkurang. Padahal, makna kenikmatan dan kebahagian serasa tampak begitu menggiurkan dan nilainya akan berasa besar jika apa yang dinikmati sekali-kali jauh dari jangkauan. Bukankah kemudahan ada setelah kesuliatan, siang tampak terang setelah gelapnya malam, langit begitu indah karena ada bumi yang membersamainya!?
Tabiat kehidupan adalah berpasangan. Karenanya, jika kenikmatan itu ada maka rasa sengsara dan perih akibat ujian dan cobaan pasti menjadi realitas kehidupan. Hidup ini tidak selamanya untuk dinikmati tapi pada dasarnya harus diperjuangkan. Hasil perjuangan dalam rangka mengejar dan menggapai harapan itulah yang menyimpan potensi kebahagiaan. Bahkan, prosesnya pun bisa dinikmati apabila berjalan sesuai dengan harapan dan cita-cita. Jika kita hanya berharap kenikmatan tanpa perjuangan berarti seolah kita memaksa hidup ini menjauh dari tabiat mendasarnya. Naudzubillah. Padahal, kita tidak punya kemampuan untuk memaksa dunia agar mempersembahkan kenikmatan itu pada diri kita. Hati yang merasakan nikmat itu malahan bersemayan dalam diri kita sendiri, tapi kadang kita tak berdaya untuk mengendalikannya dan mengisinya dengan secuil kebahagiaan dan mencongkel darinya tumpukan kesengsaraan. Dialah yang pantas kita todong agar bersabar terhadap musibah dan ketetapan takdir yang meyesakkan dada, lalu bersyukur atas segala nikmat yang masih ada dengan beragam ketaatan dan ketakwaan.
Dunia ini adalah hamparan karunia dan nikmat Allah. Orang kafir dan ahli maksiat sekalipun kadang dibiarkan semena-mena di sini dan tidak diazab dengan segera, karena tidak sesuai dengan rahmat Allah dan kasihsayang-Nya.[5]  Kalau bukan karena kasih sayang Allah maka hidup manusia di dunia ini tidak akan berlangsung lama dan tidak akan beranak-pinak dan beranakketurunan. Karena, jika setiap dosa dan kesalahan harus disikapi dengan adil di dunia ini oleh Allah maka tidak akan ada mukallaf yang bisa hidup dalam jangka waktu yang lama. Allah Swt. menegaskan:
وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهْرِهَا مِن دَابَّةٍ وَلَٰكِن يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا
Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan perbuatannya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk melata pun. Akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. (QS. Fathir [ 35]: 45)
Selain itu, Allah Maha Penyabar (as-Shabur). Konsekwensi dari Kemahasabaran Allah adalah penangguhan siksaan supaya ada waktu penyesalan dan taubat bagi para pendosa. Kasih sayang yang berwujud kesabaran dan sikap pemaaf ini adalah merupakan perintah Allah yang juga sering ditegaskan. Rasulullah dan seluruh ummatnya juga diharapkan senantiasa menjadi mahluk yang penuh kasih sayang, pemaaf dan penuh kesabaran. Dalamrangka itu, Allah memerintahkan kita agar senatiasa bertasbih dan bersabar terhadap ketetapan dan keputusan Allah Swt. (QS Thaha [20]: 130).
Dalam kategori yang sama, Allah menyuruh kita bersabar dan bertasbih (mensucikan-Nya dari segala kelemahan dan kekurangan) sekaligus memuji kesempurnaan dan keagungan-Nya saat hinaan dan siksaan dialami para hamba-hamba-Nya. [6] Jadi, dunia sebagai ladang rahmat Allah ini begitu luas sehingga pemaafan dan penangguhan azab juga merupakan bentuk lain dan bagian utama dari kasih sayang-Nya yang agung. Nerakalah nantinya yang akan menjadi tempat keadilan ditegakkan, walapun rahmat Allah makin melimpah di surga-Nya.

Beberapa Bentuk Rahmat Allah di Dunia.
Allah Swt. terkadang menyebut beberapa nikmat-Nya seperti hujan, al-Qur’an, rasul-rasul yang diutus dengan menggunakan kata rahmat. Karena memang segala sesuatu berasal dari rahmat Allah Swt. Hal ini seperti kita jumpai dalam al-Qur’an. Tentang hujan, Allah menyebutkan:
وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. (QS al-A’raf [7]: 57).
Tentang rezeki sebagai rahmat Allah dinyatakan:
وَإِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاءَ رَحْمَةٍ مِنْ رَبِّكَ تَرْجُوهَا فَقُلْ لَهُمْ قَوْلًا مَيْسُورًا
Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rezeki (rahmat) dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas. (QS al-Israa [17]: 28).
Tentang al-Qur’an sebagai rahmat, Allah tegaskan:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
 Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (QS an-Nahl [16]: 89).
Tentang kerasulan nabi Muhammad Saw. sebagai rahmat untuk seluruh alam, dijelaskan oleh ayat berikut:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS al-Anbiyaa [21]: 107).
Bahkan sorga Allah yang maha luas tersebut disebutkan sebagai bentuk rahmat Allah Swt.:
وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya. (QS Ali Imran [3]: 107).
يُدْخِلُ مَنْ يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِ وَالظَّالِمِينَ أَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
Dia memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya (surga). Dan bagi orang-orang lalim disediakan-Nya azab yang pedih. (QS al-Insan [76]: 31).
Jadi, jika dipandang dari persfektif duniawi, kita diciptakan, bergerak, hidup, beraktifitas, mendapatkan peringatan melalui para rasul dan media petunjuk berupa kitab suci, itu semua adalah bentuk kasih sayang Allah Swt. Belum lagi ditambah dengan kebebasan selama hidup ini. Apalagi jika kebebasan yang dimaksud nantinya baru mulai diperhitungakan dari aspek dosa maupun pahala setelah kita sampai pada masa akil balig. Ditambah lagi pembatasan-pembatasan lain setelah kita balig seperti terpaksa, gila, pingsan, ketiduran yang disebutkan oleh Rasululah dalam salah satu sabdanya, sebagaimana penuturan Aisyah r.a.,
رُفِعَ القَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ : عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَكْبُرَ، وَعَنِ المَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ أَوْ يُفِيقَ
“Pena pencatat amal dan dosa diangkat dari tiga hal ; dari orang yang sedang tertidur hingga ia bangun, dari orang gila hingga sadar dan dari anak-anak hingga ia akil balig. [7]
Sedang terkait dengan sifat rahim Allah terhadap orang beriman, dengan memberikan taufiq kepada mereka sehingga mereka merasakan nilai keimanan dan amal shaleh, hal yang tidak dimiliki oleh orang-orang kafir, maka dapat kita tunjukkan beberapa ayat berikut :
وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
Dan sungguh Allah Swt. sangat menyayangi orang-orang beriman (QS al-Ahzab [33]: 43)
Salah satu wujud sifat rahim Allah terhadap kaum beriman adalah bahwa Allah memberikan rahmat dan para malaikat-Nya memohonkan ampunan bagi mereka supaya Allah menge-luarkannya dari gelapnya kekafiran menuju cahaya iman dan taqwa. Allah Swt. berfirman:
هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (QS al-Ahzab [33]: 43).
Bahkan, dengan karunia dan rahmat Allah lah kita bisa mencerap nikmatnya iman, menatap terangnya cahaya syari’at, membersihkan jiwa dan fisik dari noda dan maksiat. Sehingga keimanan dan segala getarannya, keislaman dengan semua fenomenanya, ahlak dengan sekumpulan pesona dan keindahannya bisa kita peroleh dengan penuh kilaun rasa, kepuasan rasio dan kelegaan batin.
Lihatlah betapa peringatan Allah agar kita senantiasa menjauh dari langkah-langkah setan yang gemar memesonakan keburukan dan menampilkannya di hadapan kita layaknya keindahan yang bersolek di hadapan para pecinta dunia. Mereka berusaha mengecoh kaum beriman dengan keindahan yang fana dan serba terbatas itu, sehingga menjauh dari nikmatnya cahaya hidayah dan taufik.  Allah dengan rahmat dan kasih sayang-Nya mengingatkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَن يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيم
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS an-Nuur [24]: 21)
Syekh as-S’adi rahimahullah menjelaskan, “Setelah Allah melarang dosa penyebaran berita bohong dan efeknya dalam kekacauan masyarakat muslim secara khusus, Allah menegaskan larangan dari segala dosa secara umum dengan firman-Nya, Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Yakni, jalan-jalan dan was-was yang mereka timbulkan. Langkah-lagkah setan mencakup semua dosa yang terkait dengan hati, lisan dan badan. Dia antara bentuk kebijaksanaan Allah adalah ketegasan-Nya dalam menjelaskan ketetapan hukum dan aturan, berupa larangan mengikuti langkah-langkah setan. Hikmahnya adalah penegasan dari bahaya yang terkandung pada larangan berupa keburukan serta alasan untuk meninggalkannya dengan berfirman, “Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia,” Yakni, setan senantiasa  Menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji.” Yakni, hal-hal yang dianggap keji oleh rasio dan syari’at  berupa dosa-dosa besar beserta kecendrungan sebagian jiwa kepadanya. “Dan yang mungkar.” Yakni, hal-hal yang ditolak oleh akal dan tidak dikenal olehnya. Sungguh maksiat yang merupakan bagian dari langkah-langkah setan tidaklah keluar dari cakupannya. Sehingga Allah menghalau hamba darinya sebagai wujud karunia agar mereka senatiasa mensyukuri dan mengigat-Nya. Karena yang demikian itu merupakan upaya perlindungan dari lumuran keburukan dan kehinaan. Sehingga dia antara bentuk kebaikan Allah kepada mereka adlah adanya larangan agar menjauh dari dosa dan maksiat itu, sebagaimana larangan dari menenggak racun yang mematikan dan yang sejenisnya. 
Firman Allah, “Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya,” Yakni, tidak akan ada siapa pun yang bisa terbebas dari mengikuti langkah-langkah setan. Karena setan senantiasa berusaha keras bersama seluruh pasukannya untuk mengajak kepadanya dan senantiasa menampilkan keburukan itu sangat memesona dalam pandangan mata. Sementara, jiwa sangat cenderung kapada keburukan dan senatiasa mengarahkan kepadanya, sedang kekurangan dan kelemahan senatiasa menguasai hamba dari segala aspeknya, semenatara keiman tidak begitu kuat cengkeramannya dalam hati. Sendainya manusia kosong dari keimanan sedang kencendrungan kepada keburukan itu senantiasa ada maka tidak akan ada yang bisa terbebas dan tersucikan dari dosa dan makisat dengan senantiasa berkembang baik dalam lingkup amal shaleh. Karena kesucian dan keterbebasan dari kemaksiatan mengandung makna kesucian dan keberkahan. Hanya saja, karunia dan rahmat-Nya berketetapan agar orang-orang tertentu di antara kalian bisa tersucikan dan terbebas dari balutan dosa dan maksiat. Karenanya, di antara do’a yagn senatiasa dipanjatkan oleh Rasulullah saw adalah:
اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا
“Ya Allah, berikanlah jiwaku ini potensi ketakwaannya. Dan sucikanlah ia dengan baik. Engkaulah yang terbaik dalam mensucikannya. Engkaulah penguasa dan tuannya.”
Karena itulah, Allah berfirman, “Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya,” yakni, siapa pun yang tampak darinya upaya untuk membersihkan diri dengan tazkiyatunnafs. Karena itu pula Allah berfirman, “Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [8]    
Pada surat an-Nur ini, setelah Allah menerangkan fitnah yang menyebar akibat adanya desas desus yang disebarkan oleh kawanan orang-orang munafik, tanpa sengaja seorang sahabat bernama Masthah, keponakan Abu Bakar as-Shiddq r.a sendiri, ikut terlibat dalam penyebaran berita bohong tersebut dengan sekedar mengatakan, “Katanya sih begitu.” tatkala mendengar selentingan berita itu.  Maka tak disangkal, Abu Bakar r.a. sebagai ayah Aisyah r.a. bersumpah untuk memberhentikan santuan yang selama ini diberikan kepada si Masthah.  Namun sikap marah dan memboikot kebaikan yang selama ini dilakukan, ternyata ditegur oleh Allah dan diarahkan kembali agar beliau memaafkan dan melanjutkan kembali santunanya kepada Masthah tersebut. Sikap itu merupakan bentuk kasih sayang yang diajarkan dan dicintai oleh Allah Swt. Teguran Allah kepada Abu Bakar berbunyi:
Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS an-Nuur [24]: 22)
Bentuk lain dari sifat rahim Allah terhadap kaum beriman adalah ampunan yang senantiasa tercurah kepada mereka. Allah berfiraman:
لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Sesungguhnya Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka itu.  Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, (QS at-Taubah [9] : 117). [9]
Sifat rahim yang kemudian berwujud pada datangnya ampunan Allah demikian, dijelaskan oleh Rasulullah Saw. dalam salah satu hadits qudsi berikut berdasarkan penuturan Abu Hurairah r.a,
 (( أذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْباً ، فَقَالَ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي ، فَقَالَ الله تَبَاركَ وَتَعَالَى : أذنَبَ عبدي ذَنباً ، فَعَلِمَ أنَّ لَهُ رَبّاً يَغْفِرُ الذَّنْبَ ، وَيَأْخُذُ بالذَّنْبِ ، ثُمَّ عَادَ فَأذْنَبَ ، فَقَالَ : أيْ رَبِّ اغْفِرْ لِي ذَنْبي ، فَقَالَ تبارك وتعالى : أذنَبَ عبدِي ذَنباً ، فَعَلِمَ أنَّ لَهُ رَبّاً ، يَغْفِرُ الذَّنْبَ ، وَيَأْخُذُ بالذَّنْبِ ، قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي فَلْيَفْعَلْ مَا شَاءَ))
“Jika seseorang berdosa, lalu ia berdo’a : Ya Allah ampunilah dosaku, maka Allah akan berkata: hamba-Ku berdosa dan ia sadar bahwa ada Allah yang akan mengampuni dosanya. Lalu ia melakukan hal yang sama hingga ia berdosa lagi, kemudian ia berdo’a : Ya Allah, ampunilah dosaku, maka Allah akan berkata : hamba-Ku berdosa dan ia sadar bahwa ada Allah yang akan mengampuni dosanya. Sungguh Aku telah mengampuni dosa-dosa hamba-Ku. Maka silahkan ia melakukannya (selama ia tetap minta ampunan. Pen).[10] [11]
Tentang sifat Allah Yang Maharahman dengan cakupan makna yang begitu luas tersebut dapat kita temukan makna-makna serupa dalam al-Qur’an. Seperti ayat-ayat berikut:
ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمَنُ
Kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, (QS al-Furqan [25]: 59)
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas 'Arsy. (QS Thaha [20]: 5).
Maksudnya bahwa Allah Yang Maharahman menyebar rahmat-Nya dari wilayah mulia, yaitu Arasy. Dengan demikian, rahmat tersebut menyeluruh dan mencakup semua mahluk. Salah satu contoh rahmat tersebut Allah tunjukkan pada pergerakan burung yang mengepakkan sayapnya saat terbang. Bukti kasih sayang dan kekuasaan Allah ini dijadikan sebagai argumen untuk orang-orang kafir agar mereka mau beriman dan beribadah hanya kepada-Nya semata :
أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَافَّاتٍ وَيَقْبِضْنَ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا الرَّحْمَنُ
Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu. (QS al-Mulk [67] : 19).[12]
Artinya bahwa, untuk sekedar bergerak saja, mahluk membutuhkan kasih sayang Allah Swt. Gerak dan diam yang biasanya menjadi ciri kehidupan, ternyata membutuhkan rahmat Allah Swt. untuk memfungsikannya dalam kehidupan ini.  Demikian pula semua gerak organ-organ  kita yang lain, yang berfungsi dengan baik dan sempurna sesuai program yang telah dibenamkan Allah Swt. dalam fisik kita yang serba canggih dan terkadang belum terpecahkan rahasianya oleh ilmu ilmu-ilmu sains modern. Kalaulah bukan karena rahmat Allah maka tidak ada yang bisa berfungsi dengan baik. Sekedar contoh, orang yang terserang penyakit strok, maka ia seolah melupakan semua cara menggerakkan fisiknya dengan normal. Sehingga untuk mengangkat kakinya saja tidak bisa, apalagi untuk mengarahkannya ke tempat tertentu yang biasanya ia lakukan secara refleks ketika normal. Bahkan, untuk kasus semacam ini, terkadang seseorang ingin ke kanan secara rasa dan pikiran, tapi kakinya malah bergerak ke arah yang berbeda. Naudzbillah.
Di sinilah letak nikmat Allah yang tidak akan pernah terhitung oleh jumlah dan angka-angka, yang seharusnya kita syukuri sebagai manusia dengan kepatuhan terhadap perintah dan larangan-larangan-Nya.  Karena itulah, Rasulullah senatiasa berpesan kepada salah seorang sahabatnya bernama Muadz bin Jabal agar tidak pernah lupa untuk membaca, “Ya Allah, mudahkanlah aku untuk mengingat dan mensyukuri segala nikmatMu.” pada riwayat yang dilaporkan oleh Muadz bin Jabal r.a., bahwasanya Rasulullah Saw. memegang tangannya lalu berkata,
« يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ ». فَقَالَ « أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ ».
 “Wahai Muadz, demi Allah, saya mencintaimu. Demi Allah, saya mencintaimu”. Beliau melanjutkan, “Saya  menasehatimu wahai Muadz agar jangan meninggalkan setiap kali selesai shalat untuk membaca: “Ya Allah, mudahkanlah aku untuk senantiasa mengingat dan mensyukuri segala nikmat-Mu serta memperbaiki kualitas ibadah kepada-Mu.” Muadz melanjutkan nasehat ini kepada as-Shanabihiy, sedang as-Shanabihiy melanjutkan nasehat ini kepada Abu Abdul Rahman.[13]
Untuk mengakses bentuk-bentuk rahmat Allah yang begitu luas, Allah menunjukkan beberapa di antaranya dalam surah ar-Rahman:
الرَّحْمَنُ (1) عَلَّمَ الْقُرْآنَ (2) خَلَقَ الْإِنْسَانَ (3) عَلَّمَهُ الْبَيَانَ (4) الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ (5) وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ (6) وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ (7) أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ (8) وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ (9) وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ (10) فِيهَا فَاكِهَةٌ وَالنَّخْلُ ذَاتُ الْأَكْمَامِ (11) وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُ (12) فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (13)      
(1). (Tuhan) Yang Maha Pemurah, (2). Yang telah mengajarkan Al Qur'an. (3). Dia menciptakan manusia, (4). Mengajarnya pandai berbicara. ( 5). Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. (6). Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya. (7). Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). (8). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. (9). Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. (10). Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk (Nya). (11). di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. (12). Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya. (13). Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. Ar-Rahman [55] : 1-12) [14]
Salah satu bentuk kasih sayang Allah di dunia ini adalah sikap-Nya sebagai Yang Maha Pengampun lagi Maha Pemaaf. Sifat ini terangkum dalam 3 nama yang sering dilekatkan sendiri oleh Allah terhadap diri-Nya. Ketiganya adalah al-Ghaffaar, al-Ghafuur dan al-Afuww. Ketiga nama ini merupkan bentuk kasih sayang Allah terhadap seluruh mahluk-Nya, terutama terhadap jin dan manusia yang sering kali melakukan pelanggaran dan penentangan. Supaya nuansa kasih sayang Allah makin terasa dalam jiwa dan raga kita, marilah kita mencoba menelusuri kedalaman makna ketiga sifat Allah ini. Yang terpenting untuk dipahami bersama sidang pembaca yang dirahmati Allah adalah bahwa jika sifat ini hendak diurutkan berdasarkan kesempurnaan maknanya dan penggunaannya dalam al-Qur’an maka susunannya seperti disebutkan sebelumnya. Sehingga sifat al-Afuww menjadi yang terdalam dengan cakupan yang menyeluruh dan komprehensif. Setelah itu adalah sifat al-Ghafuur kemudian menyusul sifat al-Ghaffar. Kita mulai dari al-‘Afuww, lalu membandingkan sisi-sisi persamaan dan perbedaannya dengan al-Ghaffar dan al-Ghafuur.

Allah Sebagai al-‘Afuww.
Kalimat 'afaa, secara bahasa –sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa kamus bahasa Arab- memiliki dua makna. Pertama, memberi dengan penuh kerelaan. Ini seperti ungkapan, "A'thaituhu min maali 'afwan", maknanya: aku beri dia sebagian dari hartaku yang berharga dengan penuh kerelaan tanpa diminta. Hal Ini senada dengan firman Allah Swt.
وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ
"Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan"." (QS. Al-Baqarah: 219) sehingga nafkah itu dikeluarkan dengan penuh keridhaan karena memang tidak disiapkan  untuk keperluan tertentu. Wallahu a'lam.
Kedua, al-izalah (menghilangkan/menghapus). Seperti kalimat, "'Afatir riihu al-atsara" artinya: angin telah menghilangkan/menghapus jejak. Contoh nyata terdapat dalam catatan sirah nabawiyah (sejarah perjalanan hidup Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam) tentang perjalanan hijrah. Saat beliau bersembunyi di gua Tsur bersama Abu Bakar, adalah Asma' binti Abu Bakar membawakan makanan untuk keduanya. Maka terdapat dalam catatan:  
فأمر غلامه أن يعفوآثار أقدام أسماء حتى لا يعرف الكفار طريق النبي
"Maka ia memerintahkan budaknya agar menghilangkan/menghapus jejak kaki Asma' sehingga orang-orang kafir tidak tahu jalur yang ditempuh oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam."
Sedangkan sebagai nama dan sifat Allah, Al-’Afuww bermakna, zat yang Maha menghapuskan dosa-dosa dan memaafkan perbuatan-perbuatan maksiat tanpa harus diminta, sekali pun yang bersangkutan berhak mendapatkan siksaan. Sifat “memaafkan” dan “mengampuni” ini adalah termasuk sifat-sifat tetap (sifah tsubutiyah) dan senantiasa terus-menerus ada pada zat Allah (yang Maha Mulia). Pengaruh dan efek sifat-sifat ini senantiasa meliputi semua makhluk-Nya dalam terangnya siang dan gelapnya malam. Karena sifat “memaafkan” dan “mengampuni” yang dimiliki-Nya meliputi semua makhluk, seluruh dosa dan segala bentuk perbuatan maksiat. Padahal, mestinya perbuatan dosa dan maksiat yang dilakukan manusia menjadikan mereka ditimpa berbagai macam siksaan. Akan tetapi pemaafan dan pengampunan Allah menghalangi turunya siksaan tersebut. Allah Swt.  berfirman:
وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهْرِهَا مِن دَابَّةٍ وَلَٰكِن يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا
 “Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan perbuatan (dosa) mereka, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melatapun, akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya” (QS Faathir: 45).
Inilah titik kesempurnaan sifat pemaaf Allah Swt, yang mana kalau bukan karena pertimbangan kasih sayang dan pemaafan-Nya ini niscaya Dia tidak akan meninggalkan dan membiarkan di atas permukaan bumi ini suatu makhluk melata pun yang dapat hidup lebih lama dibanding tingkat pelanggaran dan dosanya.
Sifat al-‘Afuww (memaafkan) ini mencakup dua macam kategori utama:
1)    Yang pertama: pemaafan-Nya yang bersifat umum bagi semua orang yang berbuat maksiat, dari kalangan orang-orang kafir maupun selain mereka. Yaitu dengan tidak menimpakan siksaan yang telah ada sebab-sebabnya, yang seharusnya menjadikan mereka terhalangi dari kenikmatan duniawi yang mereka rasakan. Padahal mereka menentang Allah dan mencela-Nya dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya, menyekutukan-Nya dan melakukan berbagai macam penyimpangan. Namun demikian, Allah tetap memaafkan dengan menangguhkan siksaa-Nya, memberi rezki dan menganugerahkan berbagai macam nikmat duniawi; lahir dan batin kepada mereka semua. Makna ini sebagaimana Allah Swt. berfirman,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Al-Syuura: 30)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat ini, “Apa saja yang menimpamu wahai manusia dari berbagai jenis musibah, sesungguh itu disebabkan kesalahan-kesalahan yang telah engkau lakukan. (dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)). Maksudnya, dari kesalahan-kesalahan yang terjadi sehingga Allah tidak membalas (menghukum) kalian karena kesalahan-kesalahan tersebut, tetapi Dia memaafkanya.” Kemudian beliau menyebutkan firman Allah, “Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia karena sebab perbutan mereka, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun.” (QS. Faathir: 45)
2)     Yang kedua: Pemaafan dan pengampunan-Nya yang bersifat khusus bagi orang-orang yang bertaubat, meminta ampunan dan berdoa dalam rangka menghambakan diri kepada-Nya. Demikian pula bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat-Nya dengan musibah-musibah yang menimpa mereka. Maka semua orang yang bertaubat kepada-Nya dengan taubat nashuh, pasti Allah akan mengampuni dosa apapun yang dilakukannya. Baik dosa itu berupa kekafiran, kefasikan maupun beragam maksiat lainnya. Semua dosa tersebut termasuk dalam cakupan firman Allah Swt,
قُلْ ْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS az-Zumar: 53).
Dengan demikian, terdapat tiga kandungan makna dalam nama Allah “Al-'Afuww” ini. Yaitu, menghilangkan dan menghapuskan, lalu ridha, kemudian memberi. Sehingga Allah Swt. menghilangkan, menghapuskan dosa-dosa hamba-Nya dan bekas-bekas dosa tersebut. Lalu Allah meridhai mereka. Kemudian setelah meridhai, Dia memberi yang terbaik (maaf) tanpa mereka memintanya sendiri.
Kata al-‘Afuww merupakan bentuk yang lebih tinggi (sigah mubalaghah) dari kata ‘afwu dan ‘aafiy. Karena al-‘Afuww berarti mengampuni setiap saat dan setiap waktu. Jika kita sedang membaca al-Quran dan mendapati kata al-‘Afuww, perhatikanlah bahwa kata ini selalu beriringan dengan dosa-dosa besar. Mungkin karena makna inilah, Rasulullah Saw. mengajarkan ummatnya agar selalu berdoa di malam lailatul qadar dengan menyebut nama al-‘Afuww ini. Diriwayatkan dari Aisyah r.a., “ Aku bertanya, Ya rasul, bagaimana pendapatmu ketika aku mengetahui bahwa malam itu adalah malam lailatul qadar, do’a apa yang mesti kupanjatkan? ”Rasul pun mengucapkan doa:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“YaAllah, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Mulia, Engkau jualah yang mencintai ampunan, maka ampunilah aku.” (HR. Tirmidzi, n0. 3513, an-Nasa’i, no. 7712. Syaikh al-Albani menshahihkannya dalam kitab Shahih at-Tirmidzi).

Perbedaan antara al-'Afuww (Maha Pemaaf) dan al-Ghaffar (Maha Pengampun)
Pada dasarnya, semua nama Allah sangat baik dan mengandung makna-makna utama yang sangat dalam dan luas cakupannya. Kedua nama Allah yang maha indah ini memang memiliki makna yang hampir sama, meskipun nama Allah ‘al-Afuww memiliki makna yang lebih mendalam. Karena “pengampunan” mengisyaratkan arti as-sitru (menutupi), sedangkan “pemaafan” mengisyaratkan arti al-mahwu (menghapuskan) yang artinya lebih mendalam jangkauannya dalam penghapusan dosa. Karena maghfirah adalah ampunan dosa, sekalipun dosa itu pada hakikatnya masih ada. Dosa tersebut hanya ditutupi oleh Allah di dunia ini. Dan, di akhirat nanti dosa itu juga ditutupi dari pandangan makhluk. Sehingga Allah tidak menyiksa seseorang dengan dosa tersebut, walaupun dosa itu masih tetap  ada.
Adapun maaf (al-‘Afuww), bermakna bahwa dosa yang dilakukan hamba sudah tidak ada lagi. Seolah-olah, seorang pendosa tidak pernah melakukan kesalahan apa pun dan di mana pun. Karena dosa itu telah dihilangkan dan dihapuskan, sehingga bekasnya saja tidak lagi terlihat. Dilihat dari sisi ini, maka pemberian maaf lebih istimewa dan lebih luas cakupan maknanya dibanding magfirah (pemberian ampunan). Meskipun demikian, kedua nama Allah ini jika disebutkan sendiri-sendiri, maknanya tetap mencakup keseluruhan arti tersebut.
Boleh jadi seseorang melakukan dosa-dosa kecil dan ia tidak banyak ibadah di Lailatul Qadar, lalu ia datang pada hari kiamat dan mendapati Allah sebagai Maha Pengampun (al-Ghafur). Sehingga nanti dosa-dosa itu akan ditampakkan dan ia disuruh mengakuinya. Berbeda dengan orang yang -boleh jadi- melakukan dosa besar, lalu ia bertaubat, giat ibadah di Lailatul Qadar, maka di hari kiamat ia memperoleh maaf. Sehingga Allah sebagai Sang Maha Pemaaf (al-‘Afuww), tidak lagi menyebutkan kesalahan-kesalahannya, karena sudah dihapuskan ketika di dunia mau pun di akhirat. Adapun al-Ghafur (Maha Pengampun), terkadang dosanya masih disebut dan ditampakkan, namun Allah tidakmenyiksa/menghukum mukallaf karenanya.
Perbedaan kedua sifat ini, tampak lebih jelas dalam dua hadits berikut ini: Pertama, hadits tentang datangnya seorang hamba pada hari kiamat, lalu Allah Swt. berfirman kepadanya, "Wahai hamba-Ku, mendekatlah!" Maka hamba tadi mendekat. Lalu Allah menurunkan tabir penutupnya, dan bertanya padanya, "Apakah kamu ingat dosa ini? Apakah kamu ingat dosa itu?" -Dan ini menunjukkan bahwa bekas dosa itu masih ada dalam catatan amal-. Lalu hamba tadi menjawab, “Ya, masih ingat wahai Rabb.” Hamba tadi mengira akan binasa. Lalu Allah berfirman padanya, “(Jangan khawatir) karena Aku telah tutupi dosa itu di dunia, maka pada hari ini Aku beri ampunan atas dosa –dosamu itu.”  Ini adalah maghfirah (al-Ghafuur / al-Ghaffar).
Sedangkan al-'Afuww (pemaafan atas dosa), maka Allah akan berfirman pada hari kiamat kepada seseorang yang telah dimaafkan-Nya, “Wahai fulan, Sesungguhnya Aku telah ridha kepadamu karena perbuatanmu di dunia, Aku telah ridha kepadamu dan memaafkanmu, maka pergilah dan masuklah ke dalam surga.”

Perbedaan antara al-'Ghafur dan al-Ghaffar
 Menurut Imam Ghazali, al-Ghafuur adalah (يغفر الذنوب العظيم) atau mengampuni dosa- dosa besar (kualitas dosa). Sedangkan al-Ghaffar adalah (يغفر الذنوب الكثير) atau mengampuni dosa-dosa yang sangat banyak (kuantitas dosa-dosa). Sehingga al-Ghafur lebih sempurna dan menyeluruh cakupan pengampunannya. Ada juga ulama lain yang menjelaskan perbedaan kedua kata itu dengan menegaskan bahwa al-Ghafuur adalah mengampuni dosa dari masa lalu hingga masa mendatang (من الماضي الى المستقبل), sedangkan al-Ghaffar mengampuni dosa dari masa kini hingga masa mendatang (من الحاضر الى المستقبل)

Beberapa Bentuk Pengampunan dan Pemaafan Allah Swt.
Sebagai bentuk dari sifat Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim, maka muncullah sifat pengampun dan pemaaf-Nya. Dari kesemua sifat-sifat ini sehingga wujudlah beberapa efek dan pengaruh langsung pemaafan dan pengampunan-Nya ini bagi ummat Islam dengan memberikan keringanan dalam bersuci dengan tanah (debu) sebagai pengganti air ketika tidak mampu menggunakan air (tayammum).
Termasuk dalam cakupan dan bentuk pemaafan dan pengampunan Allah adalah saat Dia membukakan pintu taubat dan kembali kepada-Nya bagi orang-orang yang berbuat dosa. Bahkan Dia sendiri menyeru mereka untuk bertaubat dan menjanjikan pengampunan bagi dosa-dosa mereka. Juga termasuk bentuk pemaafan dan pengampunan-Nya adalah bahwa seandainya seorang mukmin datang menghadap-Nya di akhirat nanti dengan membawa beban dosa sepenuh bumi, tapi dia tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, maka Dia akan memberikan pada hamba-Nya itu pengampunan  sepenuh bumi ini pula.
Termasuk (bentuk) pemaafan-Nya adalah bahwa perbuatan baik dan amalan shaleh bisa menghapuskan perbuatan buruk dan dosa. Allah Swt. berfirman,
إنَّ الحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan buruk” (QS Huud:114).
Dan Rasulullah Saw. bersabda, “Ikutkanlah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka niscaya perbuatan baik itu akan menghapuskan (dosa) perbuatan buruk tersebut”. HR at-Tirmidzi, no. 1987 dan Ahmad (5/153). Hadits ini dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani.
Demikian juga termasuk salah satu bentuk pemaafan-Nya adalah bahwa semua musibah yang menimpa seorang hamba pada diri, anak maupun hartanya, itu semua  akan berfungsi dan berperan dalam menghapuskan dosa-dosa, khususnya jika hamba itu mengharapkan pahala dari musibah tersebut dan menunaikan sikap sabar dan ridha dengan takdir Allah Swt. yang menimpa dirinya.
Dan termasuk bentuk pemaafan-Nya yang begitu agung adalah bahwa hamba-Nya selalu menentang perintah-Nya dengan melakukan berbagai macam maksiat dan dosa besar, tapi Dia selalu berlaku lembut dan memberikan maaf-Nya kepada mereka. Lalu kemudian Dia melapangkan dada hamba-Nya itu untuk bertaubat kepada-Nya, lalu Dia menerima taubatnya. Bahkan Allah Swt. sangat bergembira dengan taubat hamba-Nya padahal Dia Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Padahal ketaatan orang-orang yang taat tidak akan memberi manfaat bagi-Nya sedikit pun. Sebagaimana kemaksiatan orang-orang yang berbuat maksiat tidak akan merugikan diri-Nya sama sekali. [15] Sekian. Wallahu A’lam



[1] http://segiempat.com/aneh-unik/mistis/daftar-artis-hollywood-yang-memilih-untuk-bunuh-diri/
[2] http://showbiz.liputan6.com/read/610300/hidup-mewah-6-artis-bollywood-tewas-bunuh-diri
[3] http://forum.detik.com/daftar-artis-terkenal-korea-yang-mati-karena-bunuh-diri-t295992.html
[4] Pernyataan yang sama Allah tegaskan kembali pada ayat 85 pada surat at-Taubah.
[5] Namun demikian, orang kafir dan pelaku maksiat tidak boleh merasa bahwa sikap Allah dan kesabaran orang beriman itu adalah kelemahan dan bisa jadi membuat mereka merasa tidak diawasi oleh Allah Swt. Jeda dan waktu yang diberikan, kalau tidak diberdayakan untuk bertaubat, maka bahayanya lebih hebat lagi karena akan menumpuk dosa dan maksiat. Firman Allah:
 وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan. (QS Ali ‘Imran [3]: 178).
Senada dengan ayat di atas, Allah menegaskan kembali dalam firman-Nya
وَلاَ تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلاً عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الأَبْصَارُ   مُهْطِعِينَ مُقْنِعِي رُؤُوسِهِمْ لاَ يَرْتَدُّ إِلَيْهِمْ طَرْفُهُمْ وَأَفْئِدَتُهُمْ هَوَاء
Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang lalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong. (QS Ibrahim [14]: 42-43).

[6] Lihat misalnya akhir surat ath-Thariq ayat 15-17 yang menegaskan perintah Allah agar memberikan jedah bagi oang-orang kafir yang membuat makar dan siksaan terhadap kaum beriman di Makkah. Setelah itu, di awal surat al-A’la Allah memerintahkan agar kaum muslimin yang dihina dan disiksa agar banyak bertasih.  Lihat: At-Tafsir al-Maudhu’i Lisuari al-Qur’an al-Karim, Tim Ahli Tafsir dan Ulumul Qur’an di bawah supervisor: Prof. Dr. Musthofa Muslim,  (Universitas Sharjah), Jilid 9, cet., Th. 1431 H / 2010 M., hal. 109., sebagaimana dikutip dari karya al-Biqa’i, Nuzm ad-Durar fi Tanasub al-Aiy wa as-Suar. Wallahu a’lam.
[7] HR Tirmidzi, No.4398. Hadits ini telah dishahihkan oleh Syaikh al-Albani.
[8]  Taisir al-Karim al-Rahman Fii Tafsir Kalam al-Mannan, Syaikh Abdul Rahman Nashir as-Sa’di, (Dar as-Sunnah: Kerajaan Saudi ‘Arabiyah), cet. 1, th. 1425 H./2005 M., hal. 564.
[9] Lihat: Tafsir Adhwa’ al-Bayan fi Iydhahi al-Qur’an bi al-Qur’an, Syaikh Muhammad al-Amin al-Syinqithy, (Makkah al-Mukarramah: Dar ‘Alam al-Fawaid), cet. 1, th. 1426 H, hal.49.
[10] HR Bukhari dan Muslim.
[11] Untuk lebih jauh mengenal luasnya ampunan Allah terhadap hamba-hamba-Nya, terutama terkait dengan ampunan, dapat dilihat pada tulisan kami yang berjudul: 1000 Jalan Menuju Taubat, (Penerbit al-Kautsar: Jakarta), cet.1, th. 1434. H. / 2013 M. Pada buku kami, Energi Spiritual al-Fatihah, (Penerbit: Dapur Buku), cet.1, th. 2013,  juga terdapat ulasan lanjutan pada Bab 2 tentang  keagungan  rahmat Allah.
[12] Lihat: Tafsir Adhwa’ al-Bayan fi Iydhahi al-Qur’an bi al-Qur’an, Syaikh Muhammad al-Amin al-Syinqithy, (Makkah al-Mukarramah: Dar ‘Alam al-Fawaid), cet. 1, th. 1426 H., hal.48.
[13] HR Abu Daud, Bab: al-Istigfar, no.1524. HR. Ahmad bin Hanbal, no. 947 dalam kitab Musnad-nya, Bab: Hadits Muadz bin Jabal.
[14] Analisa ringkas tentang kandungan rahmat dan kasih sayang Allah dalah surat ar-Rahman akan kita ulas bersama pada entri khusus di buku ini insya Allah.
[15] Diolah dari beragam sumber: al-‘Afuww: yang Maha Pemaaf, Badru Tamam, http://www.fiqhislam.com/index.php?, al-‘Afuww, Yang Maha Pemaaf, Abdullah Taslim, Lc., M.A., http://muslim.or.id/aqidah/al-afuw-yang-maha-pemaaf.html, Perbedaan Maaf dan Ampunan Allah, http://www.voa-islam.com/read/aqidah/2013/07/30/26079/perbedaan-maaf-ampunan-allah, Perbedaan al’Afuww, al-Ghaffar dan al-Ghafur, Novita Ungu, http://novitaungu.blogspot.com/2013/07/perbedaan-al-afuww-al-ghafur-dan-al.html.

0 komentar:

إرسال تعليق

Categories

About Us

There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form.

نموذج الاتصال