2
SURAT AL-BAQARAH
“MEMAKMURKAN BUMI DENGAN IBADAH (IMARAH & KHILAFAH): ANTARA KELOMPOK YANG ISTIQAMAH DENGAN KELOMPOK YANG MENYIMPANG”
Oleh: Idrus Abidin.
1. NAMA SURAT.
Surat ini dinamai dengan al-Baqarah yang dapat diartikan sebagai ”sapi betina”. Penamaan ini didasarkan pada kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah Swt. kepada Bani Israil (ayat 67 sampai 74). Dalam konteks kisah ini, Al-Quran menggambarkan sifat orang-orang Yahudi pada umumnya yang suka membantah, keras kepala, dan gemar mencari-cari alasan.[1]
Al-Baqarah adalah surat kedua di dalam Al-Quran setelah QS Al-Fatihah. Al-Baqarah merupakan surat terpanjang sekaligus surat yang memiliki jumlah ayat paling banyak, yaitu 286 ayat yang tercakup dalam tiga juz kurang. Selain menjadi surat terpanjang dan terbanyak jumlah ayatnya, Al-Baqarah pun memiliki ayat yang terpanjang dalam Al-Quran, yaitu ayat 282 yang menceritakan tentang utang piutang.
Menurut para ulama tafsir, hampir keseluruhan ayat di dalam al-Baqarah diturunkan di Madinah, khususnya pada masa awal tahun Hijriyah, kecuali ayat 281 yang turun di Mina pada saat peristiwa Haji Wada’ (ibadah haji terakhir yang diikuti oleh Rasulullah Saw). Dengan demikian, surat al-Baqarah dapat dikatagorikan sebagai surat Madaniyyah.
Kisah penyembelihan sapi mengandung pelajaran penting yang menjadi alasan penamaan surat ini dengan al-Baqarah:
a. Perlunya menjaga orisinalitas akidah dan larangan mengistimewakan sesembahan apapun selain Allah, seperti memuliakan sapi betina.
b. Penjelasan sikap keras kepala kaum Yahudi dalam melaksanakan perintah.
c. Perlawanan, penghinaan dan ketidaktaatan Kaum Yahudi kepada para Nabi.
d. Menjelaskan tabiat asli kaum Yahudi yang haus darah dan gemar membekingi kemaksiatan
e. Menghidupkan orang mati.[2]
Mengingat kalangan Yahudi sangat gemar dengan materi dan aspek duniawi, maka mereka begitu susah memahami hal-hal yang bersifat maknawi (keimanan terhadap hari kebangkitan) dan ajaran moral yang terkndung dalam rukun iman. Sehingga mereka diberikan bukti-bukti valid bagaimana Allah menghidupkan manusia dari kematian, di antaranya:
a. Menghidupkan Bani Israil setelah mereka meninggal secara berkelompok, karena sengatan petir (ayat 56)
b. Menghidupkan orang yang dibunuh oleh kemanakannya lalu diperintah untuk menyembelih sapi untuk dipukulkan ke sang mayat agar hidup kembali (ayat 73)
c. Dihidupkannya orang-orang yang melarikan diri dari kematian secara berkelompok (ayat 243)
d. Dihidupkannya orang yang melewati sebuah kota yang hancur lebur akibat perang saudara beserata kendaraan tunggannya (ayat 259)
e. Kisah nabi Ibrahim dengan burung yang dihidupkan kembali (ayat 260).[3] [4]
Selain al-Baqarah, surah ini memiliki nama lain, di antaranya:
Pertama, As-Sanâm atau puncak. Al-Baqarah dinamai al-Sanâm karena ia adalah puncak dari segala tuntunan Islam. Surat ini dinamai As-Sinâm karena di dalamnya banyak diungkapkan prinsip-prinsip akidah atau pengesaan Allah. Kita paham bahwa tidak ada yang paling tinggi kedudukannya dalam hidup orang-orang beriman kecuali mengagungkan kalimah Lâ ilâha ilallâhu dan keyakinan akan datangnya Hari Pembalasan. Di dalam surat ini pun, Allah Swt menetapkan sejumlah hukum yang tidak disebutkan pada surat-surat lainnya.
Kedua, al-Zahra’ atau terang benderang, karena ia dapat memberi petunjuk yang jelas lagi terang benderang kebenarannya. Siapapun yang mau membuka hati dna pikirannya, niscaya akan dapat melihat dan merasakan jelasnya kebenaran yang terkandung di dalamnya.
Ketiga, Fusṭāṭ al-Qur’ān, karena fusṭāṭ adalah kota tempat masyarakat berkumpul, maka Surah al-Baqarah mencakup hukum-hukum dan nasihat-nasihat yang sangat banyak, yang tidak disebutkan dalam surah-surah lainnya.[5]
Akhlak dan tabiat Bani Israil digambarkan secara sempurna melalui kisah sapi betina:
a) Mereka cenderung menumpahkan darah, bahkan terhadap para nabi. Dalam kisah sapi betina terdapat isyarat tentang pembunuhan seseorang, dan tidak diragukan bahwa pembunuhan tidak sejalan dengan amanah kekhalifahan; malaikat pun pernah mempertanyakan keberadaan khalifah di bumi yang menumpahkan darah.
b) Mereka suka berdebat dan tidak mudah mematuhi perintah. Mereka berulang kali membantah Musa terkait perintah penyembelihan sapi betina, bahkan mengejeknya, sehingga ucapan mereka menunjukkan kebodohan.
c) Mereka bersifat pagan, tauhid tidak meresap dalam hati mereka. Karena itu mereka menyembah anak sapi ketika Musa pergi menghadap Tuhannya. Maka datanglah perintah penyembelihan sapi betina untuk meruntuhkan keyakinan mereka terhadap pengagungan anak sapi.
d) Penegasan Al-Qur’an atas kisah ini menunjukkan kerasnya hati mereka hingga tidak lagi memiliki kebaikan. Kemudian hal itu dibandingkan dengan tabiat kaum Muslimin dalam keimanan mereka.[6]
2. URUTAN BERDASARKAN KRONOLOGIS TURUNNYA SURAT-SURAT AL-QUR’AN
Al-Baqarah merupakan surah pertama yang diturunkan di Madinah — dan telah diriwayatkan adanya ijma‘ terkait hal tersebut. Surah ini terhitung sebagai surah ke-86, setelah al-Muṭaffifīn dan sebelum Āl ‘Imrān. Proses turunnya berlangsung sejak awal masa Madinah hingga penutup seluruh Al-Qur’an — menurut pendapat mayoritas ulama — dengan firman Allah pada ayat 281 di dalamnya.[7]
3. TEMA UTAMA
Beragam bahasa yang digunakan kalangan ulama dalam mengungkapkan tema utama surat al-Baqarah, di antaranya:
A. Metode & tata cara melaksanakan peran kekhalifaan di bumi.[8]
B. Menyiapkan umat Islam untuk memakmurkan bumi dan menegakkan Islam disertai penjelasan tentang pembagian manusia dengan penjelasan seputar intisari keimanan dan kandungan utama syariat.[9]
C. Menegakkan dan mengembangkan masyarakat Islami berdasarkan prinsip ibadah dan ketakwaan kepada Allah.[10]
D. Penjelasan tentang al-ṣirāṭ al-mustaqīm secara menyeluruh dan sempurna, baik dalam hal yang harus diambil maupun yang harus ditinggalkan, serta penjelasan tentang kemuliaan orang yang berpegang teguh padanya dan buruknya keadaan orang yang berpaling darinya (Abu Ja‘far ibn al-Zubayr al-Gharnāṭī)
E. Menegakkan bukti nyata bahwa al-Qur’an adalah petunjuk yang mengalir dalam setiap pernyataan, dan hal terbesar yang ditunjukkan adalah iman kepada yang gaib, yang mencakup iman kepada akhirat; pusatnya adalah iman kepada kebangkitan, yang pada gilirannya berporos pada iman kepada yang gaib (Burhān al-Dīn al-Biqā‘ī)
F. Sebagian besar maksud surah ini terbagi menjadi dua bagian: bagian yang menegaskan keunggulan agama Islam dibanding agama-agama sebelumnya, keagungan petunjuknya, serta prinsip-prinsip penyucian jiwa; dan bagian yang menjelaskan syariat agama ini bagi para pengikutnya serta perbaikan masyarakat mereka (Al-Ṭāhir ibn ‘Āshūr)
G. Mayoritas ulama kontemporer hampir sepakat bahwa poros utama surah ini berkisar pada tema khilāfah di bumi, beserta syarat-syaratnya dan orang-orang yang layak memegang dan menyadangnya.[11]
Berdasarkan beberapa tema yang disimpulkan oleh kalangan ulama tersebut di atas, maka tema utama yang lebih konprehensif menurut kami adalah metode memakmurkan bumi dengan ibadah: antara kelompok yang konsisten dalam kebenaran (shirat mustaqim) dengan kelompok yang menyimpang (magdhub alaihim wala dhallin).[12]
Ini berarti bahwa surat al-Baqarah menjelaskan secara detil kegagalan kaum Yahudi dalam mengemban amanah kenabian dan kepemimpinan serta penegasan terkait keberhasilan kaum Muslimin dalam memantaskan diri untuk mengemban tugas sebagai khalifah di bumi ini dengan penuh amanah dan konsistensi yang tinggi.[13]
4. KETERKAITAN SURAT AL-BAQARAH DENGAN SURAT AL-FATIHAH.
Mengingat bahwa surat al-Fatihah fokus kepada hubungan personal seorang hamba dengan Allah antara kelompok yang berada di atas jalan lurus (kaum Muslimin) dan kelompok yang menyimpang (Yahudi, Nasrani dan kaum pagan) maka surat al-Baqarah fokus menjelaskan sebab-sebab kegagalan bani Israel mendapatkan amanah kekhalifaan dan alasan di balik pemecatan mereka dari kekhalifaan. Jika surat al-Fatihah membagi manusia menjadi 4 golongan, yaitu: kaum yang mendapatkan keridhaan dan ampunan Allah (kaum Muslimin), kelompok yang dibenci dan dilaknat oleh Allah (Yahudi), kaum yang tersesat (Nasrani) padahal mereka mendapatkan bekal kitab suci (ahlu kitab), dan kaum yang dipastikan dibenci, disesatkan dan dilaknat oleh Allah karena lebih berpedoman pada kitab suci yang mereka reka sendiri melalui orang suci atau budaya. Maka, surat al-Baqarah memetakan manusia terkait sikap mereka kepada al-Qur’an menjadi tiga. Pertama, orang-orang bertakwa. Kedua, orang-orang kafir dan Ketiga, orang-orang munafik.
Dengan demikian, bisa dipastikan bahwa kehidupan di bumi ini hanya diarahkan dan dikuasai secara bergantian, berdasarkan rahmat dan kebijaksanaan Allah, oleh 4 pemain utama, yaitu: Pertama, kaum Muslimin. Kedua, Yahudi. Ketiga, Nasrani. Keempat, kaum paganisme. Walaupun, yang paling keras sikapnya terhadap kaum Muslimin adalah kalangan Yahudi dan kalangan kaum pagan (QS al-Maida: 82). Hal tersebut terbukti di sepanjang sejarah Islam, terutama di kota Madinah saat Rasulullah Saw. berdakwah. Karena itu, Sayyid Quthb rahimahullah menjelaskan, “Surah ini memuat sejumlah tema, namun poros utama yang menyatukan semuanya adalah satu poros ganda, di mana dua garis utama di dalamnya terikat sangat erat. Dari satu sisi, surah ini berputar di sekitar sikap Bani Israil terhadap dakwah Islam di Madinah, bagaimana mereka menyambutnya, menghadapi Rasulnya, dan berinteraksi dengan komunitas Muslim yang baru tumbuh di atas dasar itu; serta segala hal yang berkaitan dengan sikap tersebut, baik antara Yahudi dan kaum munafik, maupun antara Yahudi dan kaum musyrik.
Dari sisi lain, surah ini berkisar seputar sikap komunitas Islam pada masa awal pertumbuhannya, serta persiapannya untuk memikul amanah dakwah dan khilafah di bumi, setelah surah ini menegaskan penolakan Bani Israil untuk memikul amanah tersebut, pelanggaran mereka terhadap perjanjian Allah, dan pencabutan kehormatan mereka sebagai pewaris sejati Ibrahim, pemilik agama hanif pertama. Surah ini juga memberikan pencerahan kepada komunitas beriman dan membebaskannya dari keraguan yang menyebabkan Bani Israil kehilangan kehormatan agung itu. Semua tema surah ini berputar di sekitar poros ganda tersebut.[14]
Keterkaitan lain adalah bahwa ketika kita diajarkan untuk berdoa meminta agar diarahkan menunju jalan yang lurus, maka surat al-Baqarah langsung menjadi jawaban Allah terhadap do’a tersebut. Karena al-Qur’an memang menjadi panduan bagi orang-orang bertakwa untuk meniti jalan yang lurus agar tersebebas dari penyimpangan.[15] [16]
5. KEUTAMAAN SURAT
Al-Baqarah memiliki beberapa keutamaan, di antaranya:
A. Pengusir setan
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan, sesungguhnya syetan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah di dalamnya.”[17]
B. Puncak al-Qur’an
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:
إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ سَنَامًا وَسَنَامُ الْقُرْآنِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ، وَإِنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَمِعَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ تُقْرَأُ خَرَجَ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي يُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ»
Sesungguhnya segala sesuatu memiliki puncak, dan puncak Al-Qur’an adalah surah Al-Baqarah, dan sesungguhnya setan jika mendengar surah Al-Baqarah dibaca maka ia akan keluar dari rumah yang dibaca di dalamnya surah Al Baqarah”. [18]
C. Malaikat Ikutserta Mendengarkan Bacaan Surat al-Baqarah
Dari Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu; Ketika ia membaca surah Al-Baqarah di suatu malam tiba-tiba kuda yang terikat di sampingnya bergerak. Maka ia diam dan kudanya pun diam. Kemudian ia membaca lagi dan kudanya bergerak lagi, lalu ia diam dan kudanya pun diam lagi. Kemudian ia membaca lagi dan kudanya bergerak lagi maka ia beranjak. Dan saat itu anaknya yang bernama Yahya dekat darinya dan ia khawatir akan mengenainya. Ketika ia memindahkan anaknya ia mengangkat kepalanya ke langit sampai ia tidak melihatnya. Pada pagi harinya ia menceritakan kejadian tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Rasulullah berkata:
اقْرَأْ يَا ابْنَ حُضَيْرٍ، اقْرَأْ يَا ابْنَ حُضَيْرٍ،
“Bacalah wahai Ibnu Hudhair, bacalah wahai Ibnu Hudhair” Usaid bekata: Aku khawatir ya Rasulullah kuda itu akan menginjak Yahya karena ia dekat darinya, lalu aku mengankat kepala ke langit dan aku beranjak menujunya, kemudian aku mengangkat kepala ke langit dan aku melihat seperti naungan yang ada seperti lampu, lalu aku keluar sampai aku tidak melihatnya lagi. Rasulullah berkata:
وَتَدْرِي مَا ذَاكَ؟»
“Tahukah kamu apa itu?” Usaid menjawab: Tidak! Rasulullah bersabda:
تِلْكَ المَلاَئِكَةُ دَنَتْ لِصَوْتِكَ، وَلَوْ قَرَأْتَ لَأَصْبَحَتْ يَنْظُرُ النَّاسُ إِلَيْهَا، لاَ تَتَوَارَى مِنْهُمْ
“Itu adalah malaikat yang turun untuk mendengar suaramu, dan seandainya engkau membacanya terus maka orang-orang akan melihatnya di pagi hari dan tidak terhalang dari mereka” [19]
Selain keutamaan surat al-Baqarah secara utuh dalam satu surah, juga terdapat keutamaan ayat-ayat tertentu dalam surat al-Baqarah, seperti keutamaan ayatul kursi:
D. Ayat Yang Paling Agung Karena Mengandung Sifat-sifat Allah Yang Mulia
Dari Ubaiy bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya:
يَا أَبَا الْمُنْذِرِ، أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟»
“Wahai Abu Al-Mundzir, apakah kamu tahu ayat apa dari kitabullah yang kamu hafal yang paling agung?” Ubaiy menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Rasulullah beratanya lagi:
يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟»
“Wahai Abu Al-Mundzir, apakah kamu tahu ayat apa dari kitabullah yang kamu hafal yang paling agung?” Ubaiy menjawab:
اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ} [البقرة: 255]
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya) … [Al-Baqarah:255] Maka Rasulullah menepuk dada Ubaiy dan berkata:
وَاللهِ لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِرِ
“Demi Allah, Allah memudahkan ilmu untukmu wahai Abu Al-Mundzir”.[20]
Dari Ibnu Al-Asqa’ radhiyallahu ‘anhu; Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi suffah (tempat orang miskin) kaum Muhajirin, lalu seorang menanyai Rasulullah: Ayat apa dalam Al-Qur’an yang paling agung? Rasulullah menjawab:
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ} [البقرة: 255] ”
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur …”. (Al-Baqarah:255)[21]
E. Baca ayat Al-Kursiy setelah salat fardhu penyebab masuk surga
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاةٍ مَكْتُوبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلا أَنْ يَمُوتَ
Dari Abu Umamah -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca ayat Kursi pada tiap akhir shalat wajib maka tidak ada yang menghalanginya memasuki surga kecuali kematian.”[22]
F. Bacaan Ayat Al-kursiy Sebelum Tidur Terjaga Dari Setan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Setan berkata kepadanya:
إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ، لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ
Jika kamu beranjak ke tempat tidurmu maka bacalah ayat Al-Kursiy, karena kamu akan selalu mendapat penjagaan dari Allah, dan syaitan tidak akan mendekatimu sampai pagi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abu Hurairah:
صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ذَاكَ شَيْطَانٌ»
“Ia jujur kepadamu dan ia adalah pembohong, dia itu adalah setan”.[23]
G. Merupakan Cahaya dan Dimudahkan Terkabulnya Do’a Dengan Membaca Ayat dalam 2 Surat Tersebut
Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma berkata: Ketika Jibril ‘alaihissalam duduk di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia mendengar suara dari atas lalu mengangkat kepalanya dan berkata:
هَذَا بَابٌ مِنَ السَّمَاءِ فُتِحَ الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ “
“Ini adalah suara pintu langit yang dibuka hari ini dan tidak akan dibuka selamanya kecuali hari ini”. Kemudian turun malaikat, lalu Jibril berkata:
هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ إِلَى الْأَرْضِ لَمْ يَنْزِلْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ “
“Ini adalah malaikat yang turun ke bumi dan tidak akan turun kecuali hari ini!” Lalu malaikat itu memberi salam dan berkata:
أَبْشِرْ بِنُورَيْنِ أُوتِيتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ: فَاتِحَةُ الْكِتَابِ، وَخَوَاتِيمُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ، لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلَّا أُعْطِيتَهُ
“Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu yang tidak diberikan kepada nabi sebelum kamu: Surah Al-Fatihah dan penutup (akhir) surah Al-Baqarah, kamu tidak membacanya kecuali engkau akan diberi (atas do’a yang terkandung dalam ayat-ayat-nya)“.[24]
H. Menunjukkan Komitmen Umat Muhammad Terhadap Segala Ketatapan Allah.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dituruni ayat:
لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ} [البقرة: 284]
Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. [Al-Baqarah:284] Ayat ini terasa berat bagi sahabat Rasulullah maka mereka mendatangi Rasulullah kemudian belutut dan berkata: Ya Rasulullah kami telah dibebani dengan amalan yang kami mampu seperti salat, puasa, jihad, dan sedekah. Dan engkau telah dituruni ayat ini yang kami tidak mampu menjalankannya. Rasulullah bersabda:
أَتُرِيدُونَ أَنْ تَقُولُوا كَمَا قَالَ أَهْلُ الْكِتَابَيْنِ مِنْ قَبْلِكُمْ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا؟ بَلْ قُولُوا: سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ “
Apakah kalian mau mengatakan seperti yang dikatakan oleh umat dua kitab (taurat dan injil) sebelum kalian “kami dengar dan kami membangkang”? Akan tetapi katakanlah:“Kami dengar dan kami taat.” (mereka berdoa): “Ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” Mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (mereka berdoa): “Ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” Setelah mereka menerimanya dan terus mengucapkannya maka Allah menurunkan setelahnya ayat:
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ}
Rasul Telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (mereka berdoa): “Ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” [Al-Baqarah:285] Setelah mereka melakukan itu, Allah menasakh (menghapuskan hukum) ayat sebelumnya kemudian Allah ‘azza wa jalla menurunkan ayat:
لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا} [البقرة: 286] ” قَالَ: نَعَمْ “
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah“. [Al-Baqarah:286] Allah berfirman: “Iya aku kabulkan”.
رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا} [البقرة: 286] ” قَالَ: نَعَمْ “
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami“. [Al-Baqarah:286] Allah berfirman: “Iya aku kabulkan”.
رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ [البقرة: 286] ” قَالَ: نَعَمْ “
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya“. [Al-Baqarah:286] Allah berfirman: “Iya aku kabulkan”.
وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ [البقرة: 286] ” قَالَ: نَعَمْ ”
“Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” [Al-Baqarah:286]. Allah berfirman: “Iya aku kabulkan”. [25]
I. Diturunkan Pada Malam Mi’raj Ke Langit
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
فَأُعْطِيَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثًا: أُعْطِيَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ، وَأُعْطِيَ خَوَاتِيمَ سُورَةِ الْبَقَرَةِ، وَغُفِرَ لِمَنْ لَمْ يُشْرِكْ بِاللهِ مِنْ أُمَّتِهِ شَيْئًا، الْمُقْحِمَاتُ
Pada saat mi’raj di sidratul muntaha Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi tiga hal: Ia diberi salat lima waktu, penutup surah Al-Baqarah, dan diampuni dosa-dosa umatnya yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun. [26]
J. Diturunkan dari Gudang Terpendam di bawah Al-Arsy
عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ كِتَابًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِأَلْفَيْ عَامٍ أَنْزَلَ مِنْهُ آيَتَيْنِ خَتَمَ بِهِمَا سُورَةَ الْبَقَرَةِ وَلَا يُقْرَأَانِ فِي دَارٍ ثَلَاثَ لَيَالٍ فَيَقْرَبُهَا شَيْطَانٌ
Dari An-Nu’maan bin Basyiir -radhiyallahu ‘anhu-, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menulis kitab sejak dua ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi, Allah menurunkan darinya dua ayat yang menjadi penutup surat Al-Baqarah. Tidaklah keduanya dibaca di dalam rumah selama tiga malam kemudian syetan berani mendekatinya.”[27]
K. Diberikan kecukupan
عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ
Dari Abu Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah dalam suatu malam, kedua ayat itu telah mencukupinya.”[28]
L. Salah Satu Dari Tujuh Surah Terpanjang Yang Menempati Kedudukan Kitab Taurat[29]
Dari Watsilah bin Al-Asqa’ radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أُعْطِيتُ مَكَانَ التَّوْرَاةِ السَّبْعَ، وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الزَّبُورِ الْمَئِينَ ، وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الْإِنْجِيلِ الْمَثَانِيَ ، وَفُضِّلْتُ بِالْمُفَصَّلِ
Aku diberi as-Sab’u (tujuh surah terpanjang dalam Al-Qur’an) yang senilai kitab Taurat. Dan aku diberi Al-Maiin (surah-surah yang jumlah ayatnya seratus atau mendekati) yang sebanding kitab Zabur, dan aku diberi Al-Matsaniy (surah-surah antara Al-Miin dan Al-Mufashshal) yang nilainya setingkat Injil, dan aku diberi keistimewaan dengan Al-Mufashshal (surah Qaaf sampai surah An-Naas)”. [30]
M. Mengandung Nama Allah Yang Paling Agung, Jika Dipakai Berdo’a Maka Akan Dikabulkan
Dari Asma’ binti Yaziid radhiyallahu ‘anha; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اسْمُ اللَّهِ الْأَعْظَمُ فِي هَاتَيْنِ الْآيَتَيْنِ {وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ} [البقرة: 163]، وَفَاتِحَةِ سُورَةِ آلِ عِمْرَانَ: {الم اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ} [آل عمران: 2]
“Nama Allah yang paling agung ada di dua ayat ini: “Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”(Al-Baqarah:163), dan pada pembukaan surah Ali Imran: “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya” (Ali Imran:2). [31]
N. Yang Menghafalnya Akan Memeroleh Kedudukan Yang Tinggi Dan Berhak Menjadi Pemimpin
Anas radhiyallahu ‘anhu berkata:
كَانَ الرَّجُلُ إِذَا قَرَأَ: الْبَقَرَةَ، وَآلَ عِمْرَانَ، جَدَّ فِينَا – يَعْنِي
Dulu jika seseorang menghafal surah Al-Baqarah dan Ali Imran maka ia sangat mulia di sisi kami. [Musnad Ahmad: Sahih]
Usman bin Abi Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu berkata:
استعملني رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنا أصغر الستة الذين وفدوا عليه من ثقيف ، وذلك أني كنت قرأت سورة البقرة
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikanku pemimpin padahal aku adalah yang paling muda dari enam orang yang menemui Rasulullah dari kaum Tsaqiif. Itu karena sesungguhnya aku telah menghafal surah Al-Baqarah.[32]
O. Mengundang Berkah, Pelindung Dan Pembela Di Hari Kiamat; Sekaligus Penangkal Sihir
Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ، اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ، وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ، فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ، تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا، اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ، فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ، وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ، وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ».
Bacalah Al-Qur’an karena ia datang di hari kiamat sebagai pembela bagi yang membacanya. Bacalah Az-Zahrawain (dua cahaya) yaitu surah Al-Baqarah dan Ali ‘Imran, karena keduanya datang di hari kiamat seperti dua awan putih atau dua naungan atau dua kerumunan burung sebagai pembela bagi yang membacanya. Bacalah surah Al-Baqarah, karena membacanya adalah berkah, meninggalkannya adalah kerugian, dan tidak mampu dilawan oleh penyihir“. [33]
Dari An-Nawwas bin Sam’aan Al-Kilaabiy radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يُؤْتَى بِالْقُرْآنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَهْلِهِ الَّذِينَ كَانُوا يَعْمَلُونَ بِهِ تَقْدُمُهُ سُورَةُ الْبَقَرَةِ، وَآلُ عِمْرَانَ»
“Al-Qur’an didatangkan pada hari kiamat bersama orang-orang yang mengamalkannya di dunia didahului oleh surah Al-Baqarah dan Ali ‘Imran“
An-Nawwas berkata: Dan Rasulullah memberi tiga perumpamaan yang aku belum lupa, Rasulullah bersabda:
كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ ظُلَّتَانِ سَوْدَاوَانِ بَيْنَهُمَا شَرْقٌ، أَوْ كَأَنَّهُمَا حِزْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ، تُحَاجَّانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا»
“Keduanya seperti dua awan putih atau dua naungan hitam diantara keduanya ada cahaya, atau keduanya seperti dua kerumunan burung yang melebarkan sayapnya, keduanya datang membela orang yang mengamalkannya“.[34]
Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تَعَلَّمُوا الْبَقَرَةَ ؛ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ، وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ، وَلَا يَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ . تَعَلَّمُوا الْبَقَرَةَ، وَآلَ عِمْرَانَ ؛ فَإِنَّهُمَا هُمَا الزَّهْرَاوَانِ يَجِيئَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُجَادِلَانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا ”
Pelajarilah surah Al-Baqarah, karena menguasainya adalah berkah dan meninggalkannya adalah kerugian, dan tidak mampu dilawan oleh penyihir. Pelajarilah surah Al-Baqarah dan Ali ‘Imran, karena keduanya adalah cahaya yang datang di hari kiamat, keduanya seperti dua awan putih atau dua naungan atau keduanya seperti kumpulan burung yang berkumpul membentangkan sayap, keduanya membela orang yang menguasai kedua surah itu“.[35]
6. POKOK BAHASAN
Surat al-Baqarah diturunkan di Madinah untuk menjawab berbagai persoalan yang muncul di tempat hijrahnya Nabi saw tersebut. Fakta sejarah membuktikan bahwa Madinah yang ditempati Nabi saw ditempati oleh sebuah masyarakat yang sangat heterogen. Di sana terdapat orang-orang Yahudi, Nashrani, kaum Muslimin yang berasal dari berbagai kabilah, dan sejumlah kecil orang Nashrani, ada pula kaum musyrikin. Di antara kaum Muslimin pun ada yang sudah mantap keimanannya, ada yang belum mantap keimanannya, bahkan terdapat orang-orang munafik.
Dengan demikian, persoalan yang dihadapi Rasulullah Saw. di Madinah jauh lebih kompleks dibandingkan ketika berada di Makkah, karena menyangkut aspek sosial, ekonomi, politik, budaya, militer, pendidikan, dan sebagainya. Dengan melihat gambaran ini saja, jangan heran apabila QS Al-Baqarah termasuk surat yang sangat kompleks kandungannya karena di dalamnya ”merangkum” semua jawaban atas permasalahan yang dihadapi Nabi Muhammad saw. di Madinah dalam rentang waktu sepuluh tahun.
Beberapa pokok bahasan surat al-Baqarah di antaranya adalah:
a) Tema yang menguraikan permasalahan akidah. Di dalam Al-Baqarah, terdapat ayat-ayat yang menceritakan tentang Zat Allah, malaikat, setan, iblis, hari Kiamat, sifat-sifat kaum beriman, dan sejenisnya.
b) Tema yang menguraikan pandangan orang Yahudi dan kekeliruan-kekeliruan mereka, serta nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepada mereka.
c) Tema yang menguraikan tentang hukum-hukum. Kita akan menemukan di dalam Al-Baqarah uraian tentang shalat, zakat, puasa, haji, peperangan, riba, perkawinan, perceraian, iddah, haidh, utang piutang, perjanjian, hukum qishash, hukum halal dan haram, kewajiban menunaikan amanat, hukum mengubah kitab-kitab Allah, hukum sumpah, hukum mencari nafkah, hukum wasiat orangtua, dan sebagainya.
d) Tema yang menguraikan tentang kisah-kisah. Di dalam surat ini kita akan mendapati beberapa kisah tentang Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan tentu saja kisah tentang Bani Israil.
Jika pokok bahasan al-Baqarah disusun secara lebih terstruktur maka berikut ini adalah salah satu penjabaran ulama, yang mana tema pokoknya terdiri dari tiga bahasan yang diawali dari: [36]
1. Mukaddimah, mencakup dua kategori
A. Fungsi alqur’an sebagai hidayah (manhaj) dan sikap manusia terhadapnya (mukmin, kafir dan munafik),
B. Seruan umum mengikuti al-Qur’an (manhaj); prinsip dasar dan tujuannya disertai dengan contoh penerapan pada kisah nabi Adam (Sejarah Awal Praktek Hidayah (manhaj)
2. Pokok Pembahasan, Mencakup Dua Kategori :
A. Alasan Di Balik Eliminasi Bani Israel Dari Kenabian Dan Kepemimpinan.
a) Peringatan Dan Teguran. (Ayat 40-48)
Mengingatkan Bani Israil dengan kemuliaan nasab mereka, nikmat Allah yang berlimpah kepada mereka, mengingatkan janji setia (baiat) yang pernah mereka lakukan berkali-kali, teguran terhadap seruan mereka agar mengikuti kebeneran sekalipun mereka sendiri menyeleweng dan mengingatkan seputar tanggungjawab akhirat.
b) Sikap Bani Israil Terhadap Kenabian Musa A.S (Ayat 49-79)
Menegaskan secara detail nikmat Allah kepada mereka ketika berada di Mesir, baik berupa nikmat fisik dengan keselamatan dari kejaran Fir’aun dengan terbelahnya lautan, maupun nikmat psikis seperti penerimaan taubat mereka sekali pun mereka selalu melakukan keselahan secara membabi buta. Nikmat fisik mencakup pula makanan dan minuman yang disusul dengan pembangkangan seperti melanggar kehormatan hari sabtu dan bersikap keras kepala dalam perintah penyembelihan sapi.
c) Sikap Yahudi Di Zaman Rasulullah Saw. (Ayat 75-123).
Mengingatkan kaum muslimin agar tidak berharap banyak kepada mereka, karena sikap mereka di masa lalu dan masa mendatang, menjawab klaim sepihak mereka dan menejlaskan kedengkian dan dendam kesumat mereka kepada kaum muslimin.
d) Risalah Nabi Ibrahim dan Koreksi Terhadap Klaim Ahli Kitab (Ayat 124 – 141)
Menjelaskan tentang kepemimpinan nabi Ibrahim dan kesalahan yahudi dan nasrani dalam menisbatkan diri kepadanya. bahwasanya hubungan dengan beliau tidak cukup hanya dengan fisik semata tanpa disertai penisbatan secara psikis berupa sikap amanah dalam mengikuti risalah dan ketaatan secara total, juga nabi ya’qub tidaklah diwasiatkan kecuali mengikuti kebenaran (Islam), lalu disusul dengan pembahasan seputar pembangunan ka’bah.
e) Pemindahan Kiblat Dan Kepemimpinan Kepada Ummat Islam (Ayat 146-162).
Menyiapkan kaum muslimin untuk membawa beban risalah dengan jihad dan kesabaran saat kaum pagan makkah memblokir kaum muslimin dari kota Makkah dan sekitarnya.
B. Karakteristik Penting Yang Dimiliki Ummat Islam Sehingga Layak Dipercaya Sebagai Pengembang Amanah Kenabian dan Kepemimpinan Setelah Era Yahudi dan Nasrani.
Menghubungkan kaum muslimin dengan otoritas tauhid, dan menerangkan seputar metodologi talaqqi dari manhaj Allah dengan penegasan bahwa penghalalan dan pengharaman murni berada di bawah pengarahan Allah.Kemudian disusul dengan contoh penyimpangan ahlu kitab dalam hal ini. Dengan demikian, jiwa kaum muslimin telah siap menerima perintah dan larangan. maka tak heran jika ayat-ayat seputar al-bir (kebaikan) mengoreksi seutuhnya kesalahan kaum Yahudi.
a. Penjelasan global seputar jenis-jenis kebaikan (al-birr) (ayat 178-203)
b. Manusia percontohan dan nasehat-nasehat ketuhanan (ayat 204-220)
c. Seputar hukum-hukum keluarga (ayat 221-242)
d. Kisah orang-orang yang dihidupkan dan dimatikan seketika dan kandungan ibrahnya (ayat 243-260)
e. Seputar Infak; adab dan golongan yang berhak menerimanya (ayat 261-274)
f. Menjaga harta dari kesia-siaan dan hal-hal yang diharamkan (ayat 275-283)
7. PENUTUP
Demikianlah kita melihat bahwa Surah al-Baqarah membina seorang Muslim di atas iman dan takwa. Surah ini dimulai dengan dorongan untuk beriman kepada Allah dan beramal dengan takwa, menjelaskan keadaan manusia, serta menegaskan bagaimana seharusnya seorang Muslim bersikap. Ia juga mengingatkan umat Islam tentang keadaan umat-umat terdahulu, baik yang lurus maupun yang menyimpang, agar mereka mengambil pelajaran dari apa yang menimpa umat-umat tersebut. Surah ini menampilkan banyak hukum dan kewajiban syariat yang harus dijalankan umat dalam kehidupan mereka, dan ditutup dengan janji Allah bahwa Dia tidak membebani mereka lebih dari kemampuan mereka, serta mengajarkan mereka Doa yang dipanjatkan kepada Allah agar diangkat darinya segala yang terlupa dan yang keliru, serta beban-beban berat yang dahulu dipikulkan kepada umat-umat sebelumnya. Juga permohonan ampunan, maghfirah, dan rahmat dari Allah ‘Azza wa Jalla.[37]
[1] Jaʿfar Sharafuddīn, Al-Mawsūʿah Al-Qurʾāniyyah: Khaṣāʾiṣ Al-Suwar, Vol. 5.
[2] Team Penulis, Al-Tafsīr Al-Mawḍūʿī Li-Suwar Al-Qurʾān Al-Karīm, Vol. 4.
[3] Aḥmad ʿAbd Allāh al-Ṭhawīl, Muḥtawayāt Suwar Al-Qurʾān Al-Karīm, 1st ed. (Riyad: Madār al-Waṭan li al-Nashr, 2013).
[4] Team Penulis, Al-Tafsīr Al-Mawḍūʿī Li-Suwar Al-Qurʾān Al-Karīm, Vol. 4.
[5] Dr. Muḥammad ʿAbd al-ʿAzīz ʿUmar Nāṣif, Biṭāqat Al-Taʿrīf Bi-Suwar Al-Muṣḥaf Al-Sharīf.
[6] Team Penulis, Al-Tafsīr Al-Mawḍūʿī Li-Suwar Al-Qurʾān Al-Karīm, Vol. 4.
[7] Aḥmad ʿAbd Allāh al-Ṭhawīl, Muḥtawayāt Suwar Al-Qurʾān Al-Karīm.
[8] Team Penulis, Kharāʾiṭ Dhihniyyah Li Tabsīṭ Fahm Maʿānī Suwar Al-Qurʾān Al-Karīm.
[9] Team Penulis Markaz al-Tafsīr li al-Dirāsāt al-Qurʾāniyyah, Al-Mukhtaṣar Fī Tafsīr Al-Qurʾān Al-Karīm, 4th ed. (Riyad: Markaz al-Tafsīr li al-Dirāsāt al-Qurʾāniyyah, 2017).
[10] Dr. Muḥammad ʿAbd al-ʿAzīz ʿUmar Nāṣif, Biṭāqat Al-Taʿrīf Bi-Suwar Al-Muṣḥaf Al-Sharīf.
[11] Team Penulis, Al-Tafsīr Al-Mawḍūʿī Li-Suwar Al-Qurʾān Al-Karīm, Vol. 4.
[12] Team Penulis.
[13] Dr. Muḥammad ʿAbd al-ʿAzīz ʿUmar Nāṣif, Biṭāqat Al-Taʿrīf Bi-Suwar Al-Muṣḥaf Al-Sharīf.
[14] Sayyid Quṭb, Fī Ẓilāl Al-Qurʾān, 23rd ed. (Kairo: Dar al-Syuruq, 2003), https://dn721309.ca.archive.org/0/items/noor-book.com-2_20240529/Noor-Book.com فی ظلال القرآن سید قطب 2 .pdf.
[15] Dr. Ibrahim ’Ali as-Sayyid ’Ali Isa, Keutamaan Surah-Surah Al-Qur’an, 1st ed. (Jakarta: Shara Publisher, 2010).
[16] Nur Fajri Romadhan, Qur’an Mapping.
[17] HR. Muslim no. 782; Sunan Abu Dawud no. 2042; Jaami’ At-Tirmidziy no. 2877; Musnad Ahmad no. 7762
[18] HR. Al-Hakim: Hasan.
[19] HR. Bukhari dan Muslim.
[20] HR. Muslim.
[21] HR. Abu Daud: Sahih
[22] Sunan an-Nasa’i al-Kubraa no. 9848. Dihasankan oleh Syaikh Muqbil Al-Wadi’i rahimahullah dalam Shahihul Musnad no. 478, dan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaniy rahimahullah dalam Nata’ijul Afkar 2/294.
[23] HR. Bukhari dalam Fathul Bari (IV/487)
[24] HR. Muslim.
[25] HR. Muslim.
[26] HR. Muslim.
[27] HR. at-Tirmidzi, no. 2882; Musnad Ahmad no. 17947; Sunan Ad-Darimiy no. 3387] – Hasan. Dihasankan al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam Nata’ijul Afkar 3/275 serta dishahihkan Syaikh al-Albaniy dalam Shahih At-Targhib no. 1467.
[28] HR. Bukhari, no. 5010
[29] Tujuh surah yang terpanjang dalam al-Qur’an: Al-Baqarah, Ali ‘Imran, An-Nisa’, Al-Maidah, Al-An’am, Al-A’raf, dan Yunus.
[30] HR. Ahmad: Sahih.
[31] HR. Abu Daud: Hasan.
[32] Dalail An-Nubuwah karya Al-Baihaqiy: Hasan.
[33] HR. Muslim, no. 1337.
[34] HR. Muslim, no. 1338.
[35] HR. Ahmad, no. 21872 dan 21897 serta ad-Darimi, no. 3257: Sahih.
[36] Team Penulis, Al-Tafsīr Al-Mawḍūʿī Li-Suwar Al-Qurʾān Al-Karīm, Vol. 4.
[37] Prof. Dr. ʿAlī bin Sulaymān al-ʿUbayd, Maqāṣid Suwar Al-Qurʾān Al-Karīm.
0 komentar:
Post a Comment