الجمعة، 9 نوفمبر 2018

MAKNA KESUCIAN ALLAH DARI SEGALA KELEMAHAN DAN KEKURANGAN (AL-QUDDUS WA AS-SALAM)

Oleh. Ust. H. Idrus Abidin, Lc., M.A
Allah adalah zat yang maha sempurna. KesempurnaanNya dipuji dengan tahmid dan dengan semua nama dan sifatNya. Itulah pujian yang menegaskan (itsbat) kesempurnaanNya. Namun, hal itu belum cukup. Masih perlu ditegaskan lagi dengan menapikan (nafy) segala bentuk kekurangan dan kelemahan dariNya. Itulah tasbih. Sehingga kesempurnaan itu utuh dari dua sisi: pertama,  sisi penegasan (itsbat) atas segala bentuk dan jenis keistimewaan Allah. Kedua, sisi penafian semua bentuk kekurangan dan segala jenis kelemahan dariNya. 
Contoh nyata seputar konsep ini adalah kalimat tauhid yang berbunyi, La Ilaha Illallah. La Ilaha adalah penafian segala jenis tuhan yang disembah. Sedang Illallah merupakan penegasan Allah sebagai satu-satuNya yang pantas dan berhak disembah. 
Subhanallah wabihamdih dan subhanallah Walhamdulillah masuk dalam kategori ini. Keduanya menggabungkan sisi penafian dan penegasan terhadap kesempurnaan Allah. Yang mana, subhanallah merupakan bentuk memahasucikan Allah dari beragam aib. Sementara Alhamdulillah menegaskan semua bentuk keistimewaan yang dimilikiNya. Termasuk bentuk kesucian Allah dari beragam kelemahan yang sering kali dinisbatkan orang-orang kafir dan kaum pagan kepadaNya adalah dengan menamai diriNya dengan al-Quddus dan as-Salam. 
Secara bahasa, al-Quddus merupakan bentuk kata bahasa Arab yang  mengandung arti paling dan sangat (sigah mubalagah). Jika disebutkan secara umum, al-Quddus menunjuk 2 arti. Pertama, bermakna suci. Kedua, bermakna berkah. Sehingga al-Quddus bisa diartikan sangat suci dan penuh kesucian atau sangat berkah dan penuh keberkahan.
Baitul Maqdis diartikan sebagai rumah suci sekaligus rumah yang penuh berkah. Rumah suci karena dengan mengunjunginya untuk ibadah manusia beroleh kesucian dari dosa dan maksiat. Disebut berkah karena Allah menegaskan keberkahannya dalam surat al-Israa ayat 1. 
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Jibril pun disebut Ruhul Qudus. Karena dia memiliki kesucian jiwa atau membawa Wahyu, termasuk Al-Qur'an sebagai sarana kesucian manusia di bumi ini. Dia pun menjadi siklus keberkahan dalam lingkup keislaman. 
Keberadaan Nama al-Quddus dalam Al-Qur'an dan as-Sunnah. 
Nama al-Quddus terlacak keberadaannya dalam Al-Qur'an hanya pada 2 tempat. 
1.    Surat al-Hasyr ayat 23
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
2.    Surat al-Jum'ah ayat 1.
يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ
Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Keduanya tampak selalu berpadu dengan nama Allah yang lain, yaitu al-Malik (Sang Raja, Penguasa alam semesta). 
Raja manusia umumnya selalu diliputi kelemahan dan kekurangan dari sisi zat, sifat dan perbuatannya. Untuk menutupinya, mereka butuh para pendukung setia, tentara yang kuat lagi solid serta peran serta para menteri yang menjadi partner kerjanya. Selain itu, kebijakannya sering kali diliputi kezhaliman dan sangat membutuhkan semua hal yang diinginkan manusia normal. Kerajaannya mudah berpindah tangan ke penguasa lain. Mudah kena penyakit dan semua potensi kelemahan. Termasuk di sini sering melakukan hal-hal yang tidak direncanakan. Atau merencanakan sesuatu tapi tidak mampu mewujudkannya. 
Adapun Allah sebagai raja dan penguasa yang menamai diriNya dengan al-Quddus, tentu suci dan bersih dari semua kelemahan tersebut. Suci ZatNya, bersih perbuatanNya dan mulia semua sifatNya. Tidak pernah dan tidak akan mungkin menzhalimi siapa pun; kapan pun dan di mana pun. Semua aturan dan syari'atNya penuh dengan keadilan, bersendikan kebaikan dan diliputi keberkahan serta full manfaat di setiap zaman pada semua tempat.
Di dalam as-Sunnah, nama al-Quddus juga senantiasa berpadu dengan al-Malik. Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata,
فَإِذَا فَرَغَ قَالَ عِنْدَ فَرَاغِهِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ يُطِيلُ فِي آخِرِهِنَّ
“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai dari witirnya, beliau membaca ‘subhaanal malikil qudduus (sebanyak tiga kali)’, beliau memanjangkan di akhirnya.” (HR. An-Nasa’i no. 1700, Ibnu Majah no. 1182. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Dari Ibnu ‘Abdirrahman bin Abza, dari bapaknya, ia berkata,
وَكَانَ يَقُولُ إِذَا سَلَّمَ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثًا وَيَرْفَعُ صَوْتَهُ بِالثَّالِثَةِ
“Jika mengucapkan salam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca, ‘Subhaanal malikil qudduus’ sebanyak tiga kali lalu beliau mengeraskan suaranya pada ucapan yang ketiga.” (HR. An-Nasa’i no. 1733 dan Ahmad 3: 406. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)
وعنْ عائشةَ رضي اللَّه عنْهَا  أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم كانَ يَقُولُ في رُكوعِهِ وسجودِهِ : « سُبُّوحٌ قدُّوسٌ ربُّ الملائِكةِ وَالرُّوحِ » رواه مسلم
Dari Aisyah radhiallahu 'anha bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasalam mengucapkan dalam ruku' dan sujudnya: "Subbuhun quddusun Rabbul malaikati warruh - Maha Suci dan Maha Bersih, yaitu Tuhan semua malaikat serta Jibril." (HR Muslim)
Makna al-Quddus Secara Istilah.
Berdasarkan makna istilahnya, nama al-Quddus diartikan sebagai Zat yang maha suci dari sekutu, istri, anak dan semua bentuk keburukan, terbebas dari beragam kelemahan dan segala hal yang bertentangan dengan kesempurnaan Allah SWT. Karena nama ini menggunakan pola kata sangat dan paling (sigah mubalagah) maka nama al-Quddus ini menunjukkan pula besarnya (kimmiyah) kesucian Allah dari beragam bentuk (kaifiyah) kekurangan. 
Makna as-Salam Secara istilah.
as-Salam adalah nama Allah yang berasal dari kata as-Salim yang artinya selamat. Maksudnya adalah bahwa Allah terbebas (selamat) dari semua aib dan beragam model kelemahan. Dari sisi ini, tidak tampak perbedaan antara as-Salam dengan al-Quddus. 
Penggunaan Kata as-Salam secara bahasa.
Dengan kata as-Salam ini, Allah menamai Lailatul Qadar. Karena Lailatul Qadar menyimpan potensi keselamatan dan kebebasan dari kemurkaan Allah dan ancaman neraka. Demikian pula Allah menamai surga dengan Darussalam. Ucapan para penghuni nya pun jaga adalah as-Salam begitu pula pujian Allah kepada mereka adalah as-Salam. 
Penjabaran Nama dan Kandungan as-Salam.
Karena nama as-Salam mengandung banyak makna, maka bisa diperluas cakupannya. Misalnya, sebagai yang maha hidup (Al-Hayy), maka kehidupanNya bebas (selamat) dari kematian, ngantuk dan tidur. Maha kuasa (al-Qadir) sehingga selamat dari rasa capek dan keletihan serta lesu. Maha tahu (al-Aliim) sehingga terbebas dari kebodohan, lupa dan kelalaian. Demikianlah seterusnya.
Keridhaan Allah terbebas dari kemarahan. KelembutanNya merupakan bentuk keterbebasan dari balas dendam. KehendakNya merupakan bentuk keselamatan dari sikap memaksa. FirmanNya bebas dan selamat dari kebohongan dan ketidakadilan. FirmanNya Sungguh berada di atas puncak kesempurnaan dan penuh dengan nuansa keadilan serta diliputi oleh Kasih sayang. JanjiNya bersih dari kepalsuan. 
Allah maha suci dari adanya makhluk yang mendahului keberadaanNya. Bersih dari kemungkinan adanya makhluk setelahNya. Tidak ada apa pun yang mungkin berada di atasNya, sebagaimana Dia suci dari keberadaan makhluk di bawahNya. Dialah yang berada di atas puncak segala hal. Dia pula yang mendahului segalanya. Segala sesuatu dikuasai olehNya. Pemberian dan pencegahanNya  suci dari kemungkinan salah alamat. 
PengampunanNya bersih dari unsur ketakutan atau ketidakmampuan mendapatkan hak-hakNya secara penuh, sebagaimana manusia memaafkan karena ketidakmampuannya mengambil hak-haknya dari pihak lain yang lebih kuat. Semua bentuk rahmat, kasih sayang, kelembutan, kebaikan, kedermawanan, perhatian kepada para hambaNya, ingatanNya kepada mereka suci dari rasa butuh dan rasa takut kepada makhlukNya. Semua itu dilakukan Allah; as-Salam dan al-Quddus murni karena kasih sayang yang diliputi pengampunan dan rasa cinta. Kesimpulannya, bahwa Allah terbebas (selamat) dari berbagai bentuk kelemahan dan ketidaksempurnaan. 
Efektivitas Keimanan Kepada al-Quddus dan as-Salam.
Setiap bentuk keimanan kepada nama dan sifat Allah pasti menghasilkan efek keyakinan dan konsekwensi logis, yang bisa menjadi pelajaran berharga bagi manusia. al-Quddus dan as-Salam ini menegaskan kepada kita bahwa : 
1.    Allah Maha Suci Dari Semua Aspek. Di Antara Sisi Kesuciannya Adalah : 
a)   Maha Suci Dari Sekutu.
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْوَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia". (QS al-Ikhlas : 1-5)
b)   Maha Suci Dari Istri Dan Anak 
وَأَنَّهُ تَعَالَىٰ جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا
Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak. (QS al-Jin :  3)
c)    Maha Suci Dari Ngantuk Dan Tidur Serta Kematian. 
d)   Maha Suci Dari Kezhaliman.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا
Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. (QS an-Nisaa : 40)
عَنْ أَبي ذرٍّ الغِفَارْي رضي الله عنه عَن النبي صلى الله عليه وسلم فيمَا يَرْويه عَنْ رَبِِّهِ عزَّ وجل أَنَّهُ قَالَ: (يَا عِبَادِيْ إِنِّيْ حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِيْ وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمَاً فَلا تَظَالَمُوْا،
Dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau meriwayatkan dari Allah ‘azza wa Jalla, sesungguhnya Allah telah berfirman: “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan (berlaku) zhalim atas diri-Ku dan Aku menjadikannya di antaramu haram, maka janganlah kamu saling menzhalimi. (HR Muslim, no. 2577)
e)    Maha Suci Dari Kebohongan  
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ ۗ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah? (QS an-Nisaa : 87)
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا ۚ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا
Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah? (QS an-Nisaa : 122)
f)    Maha Suci Dari Kesalahan Dan Lupa.
قَالَ عِلْمُهَاعِندَ رَبِّى فِى كِتٰبٍ ۖ  لَّا يَضِلُّ رَبِّى وَلَا يَنسَى
Dia (Musa) menjawab, “Pengetahuan tentang itu ada pada Tuhanku, di dalam sebuah Kitab (lauh mahfuudhz), Tuhanku tidak akan salah ataupun lupa; (QS Thaha : 52)
g)    Maha Suci Dari Kemiskinan Dan Kebakhilan. 
وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ
Orang-orang Yahudi berkata: "Tangan Allah terbelenggu", sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. (QS al-Maidah : 64)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ وَقَالَ يَدُ اللَّهِ مَلْأَى لَا تَغِيضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَقَالَ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَدِهِ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ وَبِيَدِهِ الْمِيزَانُ يَخْفِضُ وَيَرْفَعُ 
Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah Azza wa Jalla berfirman: 'Berinfaklah, maka aku akan berinfak kepadamu.' Dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Sesungguhnya tangan Allah terisi penuh, pemberian-Nya siang maupun malam tidak pernah menguranginya." Juga beliau bersabda: "Tidakkah kalian melihat bagaimana Allah telah memberikan nafkah (rezeki) semenjak Dia mencipta langit dan bumi. Sesungguhnya Allah tidak pernah berkurang apa yang ada pada tangan kanan-Nya." Beliau bersabda: "Dan 'Arsy-Nya ada di atas air, di tangan-Nya yang lain terdapat neraca, Dia merendahkan dan meninggikan." (HR. Bukhari)
h)   Maha Suci Dari Keserupaan Dengan Makhluk 
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat. (QS asy-Syuraa : 11)
2.    Tidak Ada Yang Bisa Menyerupai Kesucian Allah. 
Ada banyak alasan yang bisa menjelaskan kesucian Allah yang tak tertandingi ini : 
a)   Kesucian Allah Utuh Dan Sempurna, Sedang Kesucian Makhluk Terbatas. 
Kesucian manusia hanya pada kondisi tertentu dan pada aspek tertentu pula. Sesuci apa pun makhluk tetap saja  sesuai dengan batas kemanusiaan dan kemahlukanya yang memang tetap terbatas. Di saat manusia shalat dan dalam kondisi berwudhu, ia bisa bertahan dalam kesucian. Namun, dalam kondisi jima atau buang hajat, mereka tidak lagi suci. Saat dalam ketaatan dan ibadah, manusia dalam kondisi suci. Tapi, setelah itu,  mereka kembali berlumuran dosa dan maksiat. Inilah makna sabda nabi
وَعَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ» . رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ والدارمي
Dari Anas Radhiyallahu Anhu berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda; “Setiap Anak keturunan Adam (Manusia) pasti memiliki kesalahan / dosa, dan sebaik-baik orang yang bersalah yaitu bertaubat.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, Darimi. Dihasankan oleh ibnu hajar dalam Bulughul Maram dab dihasankan pula oleh Al-Albani dalam Takhrij Al-Misykah (2/724))
Bisa jadi manusia menjaga kesuciannya dengan menjaga diri dari meminta-minta. Tapi dia akan senantiasa butuh dan berharap kasih sayang Allah SWT. Berbeda dengan Allah, Dia senantiasa suci sepenuhnya, dari semua arah dan pada semua aspek. Bersih dari segala macam aib, kelemahan dan semua jenis kekurangan. 
b)   Kesucian Allah Berlaku Selamanya, Sedang Kesucian Makhluk Berbatas Waktu. 
Kesucian makhluk berawal dari sebuah titik awal  dan akan berakhir pada suatu saat nantinya. Keberadaan mereka didahului oleh ketiadaan. Akhirnya pun berporos pada kematian. Kesucian makhluk bermula dari ketiadaan, bahkan sebelum sampai ke tahap suci, mereka tetap diliputi kotoran dan kekurangan. Sehingga terbukti bahwa manusia suci sebatas waktu dan kondisi tertentu.
عَنْ بُسْر بْنِ جحَاش الْقُرَشِيِّ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَصَقَ يَوْمًا فِي كَفِّهِ، فَوَضَعَ عَلَيْهَا أُصْبُعَهُ، ثُمَّ قَالَ: "قَالَ اللَه عَزَّ وَجَلَّ: ابْنَ آدَمَ أنَّى تُعجِزني وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ مِثْلِ هَذِهِ؟ حتى إِذَا سَوّيتك وَعَدَلْتُكَ، مَشَيْتَ بَيْنَ بُرْدَيْنِ وَلِلْأَرْضِ مِنْكَ وَئِيدٌ، فجَمَعت ومَنعت، حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِي قلتَ: أتصدقُ، وأنَّى أوانُ الصَّدَقَةِ".
Dari Bisyr ibnu Jahhasy Al-Qurasyi, bahwa di suatu hari Rasulullah Saw. meludah pada telapak tangannya sendiri, lalu meletakkan telunjuknya pada ludahnya itu seraya bersabda: Allah Swt. berfirman, "Hai anak Adam, mana bisa engkau selamat dari (azab)-Ku, Aku telah menciptakanmu dari sesuatu seperti ini (hina seperti ludah ini). hingga manakala engkau telah Kusempurnakan bentukmu dan Aku jadikan engkau berdiri tegak, lalu engkau dapat berjalan dengan mengenakan sepasang kain burdahmu, sedangkan di bumi engkau telah mempunyai tempat kuburan, kemudian kamu menghimpun harta benda dan enggan memberinya. Hingga manakala roh sampai di tenggorokanmu, baru kamu katakan, "Aku akan bersedekah, " maka di manakah masa untuk bersedekah (saat itu)?" (HR Ahmad  dan selainnya; dihasankan syaikh al-Albaniy dalam ash-Shahiihah)
Diinformasikan bahwa ada seorang raja yang sedang berjalan di wilayah kekuasaannya. Lalu dia melihat ada seseorang yang duduk di bawah sebuah pohon. Ketika sang raja lewat, orang itu tidak menyambut sang raja sedikit pun. Maka, dia pun menegur orang itu seraya berkata, "Engkau tidak mengenalku?!," Orang itu menjawab, "Tentu saya mengenalmu. Engkau berasal dari mani yang kotor. Engkau pun akan berakhir sebagai bangkai yang busuk. Selama hidupmu pun engkau selalu membawa kotoran dalam perutmu. 
Adapun kesucian Allah, maka ia tetap berlaku sepanjang waktu. Tidak didahului oleh ketiadaan dan kekurangan serta tidak mungkin terciderai oleh kelemahan dan aib. Belum lagi, Allah tidak berakhir pada suatu masa dan tidak pula mengenal kebinasaan. 
3.    Mensucikan Allah Diwujudkan Dengan Mengikuti Syari'atnya. 
Selain menegaskan kesucian Allah dan memujiNya dengan nama dan sifatNya, juga dilaksanakan melalui serangkaian ibadah, sesuai petunjuk syari'at, yang dilandasi oleh keyakinan yang benar, ucapan yang baik serta amalan yang shaleh. Itulah hal-hal yang diridhai  Allah. Allah berfirman : 
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (QS Al-Baqarah : 30)
a)        Memahasucikan Allah Dengan Tauhid Dan Keimanan Yang Baik Dan Benar. 
Tauhid dan keimanan merupakan sarana utama untuk memahasucikan Allah. Demikian pula upaya mengeliminasi semua jenis sekutu yang diangkat oleh mahluk sebagai rival Allah dalam aspek peribadatan. Termasuk pula disini upaya menafikan semua keburukan dan hal-hal yang tidak pantas, yang dinisbatkan orang-orang kafir dan kaum pagan kepada Allah. Ketika Rasulullah ditanya seputar dosa terbesar, beliau menjawab, "Engkau membuat tandingan untuk Allah dalam hal ibadah, padahal hanya Dia yang menciptakan mu," pada hadits berikut :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ ؟ قَالَ: أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ. قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ: أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ قَالَ: ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ: أَنْ تُزَانِيَ حَلِيْلَةَ جَارِكَ. وَأَنْزَلَ اللَّهُ تَصْدِيْقَ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَالَّذِينَ لاَ يَدْعُوْنَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ الآيَةَ.
Dari Abdullah (bin Mas’ud), dia berkata, “Saya pernah bertanya, ‘Wahai Rasûlullâh, dosa apakah yang paling besar ?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Engkau menjadikan bagi Allâh tandingan padahal Dia yang telah menciptakanmu”.Saya bertanya lagi, ‘Kemudian apalagi ?’ Beliau menjawab, ‘Engkau membunuh anakmu karena takut makan bersamamu (karena engkau takut miskin).’Saya bertanya lagi, ‘Kemudian apalagi ?’ Beliau menjawab, ‘Engkau berzina dengan istri tetanggamu’.Kemudian Allâh Azza wa Jalla menurunkan ayat membenarkan perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : (Dan mereka yang tidak menyeru (menyembah) tuhan yang lain bersama Allâh…) (HR. Muslim, no. 2754)
Syirik merupakan bentuk penghinaan dan pengkhianatan terburuk kepada Allah. Dalam sebuah hadits qudsi, melalui lisan  nabiNya, Allah menjelaskan
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، وَشَتَمَنِي وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، فَأَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ: لَنْ يُعِيدَنِي كَمَا بَدَأَنِي، وَلَيْسَ أَوَّلُ الْخَلْقِ بِأَهْوَنَ عَلَيَّ مِنْ إِعَادَتِهِ، وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ: اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا، وَأَنَا الْأَحَدُ الصَّمَدُ، لَمْ أَلِدْ وَلَمْ أُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لِي كُفُوًا أَحَدٌ"
Diriwayatkan dari Abi Hurairah r.a., bahwasanya Nabi bersabda, telah Berfirman Allah ta'ala: Ibnu Adam (anak-keturunan Adam/umat manusia) telah mendustakanku, dan mereka tidak berhak untuk itu, dan mereka mencelaku padahal mereka tidak berhak untuk itu, adapun kedustaannya padaku adalah perkataanya, “Dia tidak akan menciptakankan aku kembali sebagaimana Dia pertama kali menciptakanku (tidak dibangkitkan setelah mati)”, adapun celaan mereka kepadaku adalah ucapannya, “Allah telah mengambil seorang anak, (padahal) Aku adalah Ahad (Maha Esa) dan Tempat memohon segala sesuatu (al-shomad), Aku tidak beranak dan tidak pula diperankkan, dan tidak ada bagiku satupun yang menyerupai”. (HR Bukhari dan an-Nasa'i)
Inilah alasan kenapa keimanan kepada Allah menjadi ibadah yang paling unggul. 
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ فَقَالَ إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ حَجٌّ مَبْرُورٌ
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang Islam, manakah yang paling utama? Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: Iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Lalu ditanya lagi: Lalu apa? Beliau menjawab: Al Jihad fi sabilillah (berperang di jalan Allah). Lalu ditanya lagi: Kemudian apa lagi? Jawab Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: haji mabrur. (HR. Bukhari)
b)       Memahasucikan Allah Dengan Hati.
Hati merupakan pusat perhatian Allah kepada hambaNya.  Makanya, hati perlu dibersihkan sehingga layak dan pantas mendapatkan perhatian Allah SWT. 
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”. (HR. Muslim dalam kitab Al Birr Wash Shilah Wal Adab, bab Tahrim Dzulmin Muslim Wa Khadzlihi Wa Ihtiqarihi Wa Damihi Wa ‘Irdhihi Wa Malihi, VIII/11, atau no. 2564 (33))
Amalan-amalan hati yang menjadi sarana penting untuk memahasucikan Allah seperti  upaya berpositif thinking Kepada Allah, mencintaiNya dengan penuh ketulusan, merasa takut kepadaNya, tawakkal, mencintai nabiNya dan para pecintaNya dari kalangan orang-orang shaleh, membersihkan hati dari nifak, riya', syahwat yang tidak benar agar hati bersih untuk mensucikan Allah SWT. 
يَوْمَ لاَ يَنْفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُونَ  إِلاَّ مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيم
(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, (QS asy-Syuaraa : 88 - 89)
c)        Memahasucikan Allah Dengan Perbuatan Baik. 
Seperti membersihkan fisik dengan thaharah agar pantas untuk menghadap kepada Allah, membaca Al-Qur'an dan berdiri penuh kepatuhan dalam melakukan shalat. Shalat mengandung ucapan-ucapan tasbih, takbir dan ucapan yang ditujukan untuk mengagungkan Allah. Demikian pula ketika seseorang ruku' dan sujud, manusia senantiasa bertasbih penuh pengagungan kepada kebesaran dan kesucian Allah SWT.  Maka tidaklah mengherankan jika shalat membersihkan hamba dari kerak dosa-dosa dari dua sisi : 
Pertama, shalat merupakan sarana kesucian dari jeratan dosa di masa lalu. 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا »
“Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667)
Kedua, Mencegah terjadinya perbuatan buruk bagi orang-orang yang rajin shalat, yang banyak merajalela di sekitar masyarakat. 
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS al-Ankabut : 45)
Zakat pun demikian. Ia memperbaiki kualitas harta yang dinfakkan di jalan Allah. Rasulullah pernah menegaskan 
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : ﴿ إِنَّ اللهَ تَعَالىَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّـبًا وَ إِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ  يَآ أَ يُّهَا الرُّسُلُ}بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ فَقَالَ تَعَالىَ :   يَآ أَ} ، وَقَالَ : {كُلُوْا مِنَ الطَّـيِّبَاتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحًا  {يُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَـيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ  . ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلىَ السَّمَاءِ يَا رَبُّ يَا رَبُّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْـبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنىَّ يُسْـتَجَابُ لَـهُ ﴾ رَوَاهُ مُسْلِمٌ 
Dari  Abu Hurairah  : “Sesungguhnya telah berkata : Bersabda Rasulullah Allah itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mu’min sesuai dengan apa yang diperintahkan kepada Rasul-Rasul, maka Allah telah berfirman : “Hai Rasul-Rasul, makanlah kamu dari semua yang baik-baik dan beramallah kamu dengan amalan yang shalih”(QS. 23:51). Dan telah berfirman : “Hai orang-orang beriman, makanlah kamu dari apa-apa yang baik yang telah Kami rezkikan kepadamu”(QS. 2 : 172). Kemudian beliau menyebutkan seorang laki-laki yang telah jauh perjalanannya, dia berambut kusut penuh dengan debu, dia menadahkan kedua tangannya ke langit dan berkata : Wahai Tuhan, Wahai Tuhan, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dikenyangkan dengan barang yang haram, maka bagaimana ia akan diterima permintaannya ?”.  (HR. Muslim)
Di samping itu, zakat juga mensucikan jiwa dari keburukan, terutama dari sikap Bakhil dan egoisme serta sikap cuek yang berlebihan. 
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS at-taubah : 103)
Demikianlah makna kemahasucian Allah dari beragam kelemahan yang bertentangan dengan kesempurnaanNya. Wallahu a'lam. 

Makkah, Rabu, 29 Agustus 2018.

Sumber Referensi : 
1.    Syarh wa Tafshil Li Asma ar-Rabb al-Jamil, Syekh Amin al-Anshari, https://kalemtayeb.com/quran/item/1480
2.    Syarh al-Asmaullah al-Husnaa, al-Quddus wa as-Salam, https://dorar.net/aqadia/612
3.    Syarh al-Asmaullah al-Husnaa, al-Quddus, http://alrashedoon.com/?p=1342

0 komentar:

إرسال تعليق

Categories

About Us

There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form.

نموذج الاتصال